Vous êtes sur la page 1sur 6

ABORSI DALAM PP NO.

61 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI,


DALAM PERSPEKTIF PERBANDINGAN HUKUM

Anak adalah dambaan orang tua sekaligus amanah Allah SWT. Dia merupakan penyejuk
mata dan harapan bagi orang tua dan keluarga dimasa depan dunia maupun di negeri abadi
yaitu akhirat. Anak merupakan kebanggaan sekaligus ujian. “Dijadikan indah dalam
pandangan manusia, kecintaan kepada apa apa yang diinginkan berupa wanita, anak anak,
harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan dan hewan ternak
dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik. ( TQS Ali Imran :14)[1]. Oleh karena itu agama menjadikan keberadaan anak
sebagai upaya pelestarian /pemeliharaan jenis manusia didahului oleh sebuah ikatan yang kuat
( mitsaqan ghalizha) melalui gerbang pernikahan. Kehadiran anak menjadi sesuatu yang
didambakan dan dinanti nanti keluarga besar dan padanya tempaan pendidikan terbaik
diberikan sehingga sempurnalah kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup setiap insan.

Namun, saat ini kehadiran anak seringkali bersifat kontraproduktif dengan tujuan
dihadirkannya ia didunia. Adanya janin dalam kandungan dianggap sebagai aib. Alih alih
disambut oleh keluarga, justru keberadaannya disembunyikan, dikhawatiri bahkan tak sedikit
yang ingin segera melenyapkannya dari rahim ibunya. Aborsi. Sebuah fenomena besar bahwa
dalam dasawarsa terakhir data aborsi mengalami angka yang fantastis. Data tahun 2013 yang
dilansir oleh Statistik PBB menunjukkan bahwa 16 juta remaja dibawah usia 18 tahun telah
melahirkan dalam setahun dan diantaranya sebanyak 3,2 juta remaja menjalani aborsi yang
tidak aman. Kehamilan di kalangan gadis remaja sering kali diakibatkan oleh diskriminasi,
pelanggaran hak, pendidikan yang tidak layak, dan hubungan seks secara paksa. Sementara
itu di Indonesia rata-rata jumlah remaja usia 15-19 tahun yang melahirkan dalam rentang
waktu antara tahun 2007 -2012 melonjak tajam. Tahun 2007 rata-rata kelahiran pada
remaja adalah 35 per 1.000 kelahiran, sedangkan tahun 2012 menurut Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) jumlahnya menjadi 45 per 1.000 kelahiran.
Angka pernikahan dini meningkat menyebabkan jumlah kelahiran di tingkat remaja semakin
melonjak. Menurut katagori United Nations Development Economic and Social Affairs
(UNDESA) 2011, Indonesia menempati peringkat ke-37 sebagai negara dengan jumlah
perkawinan dini terbanyak di dunia. Sekitar 46 persen remaja berusia 15-19 tahun belum
menikah sudah berhubungan seksual Dan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
2010 menyatakan bahwa 46% perempuan Indonesia menikah sebelum berusia 20 tahun[2].

Keadaan ini menyebabkan pemerintah tergerak untuk menerbitkan regulasi terkait kesehatan
repoduksi yang tertuang dalam PP ( Peraturan Pemerintah) No.61 tahun 2014 tentang
Kesehatan Reproduksi . PP ini merupakan amanat dari UU No. 36/2009 tentang kesehatan.
Didalamnya terdapat pasal yang mengatur tentang aborsi sebanyak sembilan pasal
dan juga mengatur permasalahan kesehatan ibu ( 23 pasal).

Keberadaan PP ini cukup menimbulkan polemik. Menurut menkes Nafsiah Mboi keberadaan
PP ini sangat penting. Pasalnya , perempuan korban perkosaan umumnya harus menanggung
beban psikologis sekaligus ekonomis. Ia harus menghidupi anak yang dilahirkan dan
konsekuensi sebagai korban kekerasan seksual yang sering mendapatkan cercaan dari
masyarakat. Menteri pemberdayaan perempuan Linda Gumelar juga mendukung PP ini
dengan alasan bahwa perempuan korban perkosaan pada umumnya mengalami trauma
panjang.

Sementara itu sebagian kalangan menolak PP tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh
Kapolri, KPAI hingga ketua IDI. Umumnya penolakan tersebut dengan alasan bahwa PP ini
bisa disalahgunakan hingga bisa menumbuhsuburkan pergaulan bebas dan bertentangan
dengan KUHP tentang kejahatan terhadap nyawa serta melanggar sumpah dokter dan kode
etik kedokteran.

PP No 61 tahun 2014 Dalam Polemik

Peraturan Pemerintah nomor 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi memberikan


legalitas terhadap tindakan aborsi bagi korban perkosaan. Pemerintah telah mengeluarkan
PP ini sebagai amanat UU kesehatan No.36/2009. Pelegalan aborsi yang mengacu pada UU
Kesehatan No. 36/2009[3] , khususnya pasal 75 ayat (1) menyatakan bahwa, “setiap orang
dilarang melakukan aborsi terkecuali berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan
akibat perkosaan yang dapat menimbulkan trauma psikologis bagi korban perkosaan”.

Penjabaran UU No. 36/2009 ini tampak dalam beberapa pasal terkait aborsi dalam PP No.
61/2014 ini, diantaranya yang perlu untuk dikritisi adalah sebagai berikut:

Pasal 26

(1) Setiap perempuan berhak menjalani kehidupan seksual yang sehat secara aman, tanpa
paksaan dan diskriminasi, tanpa rasa takut, malu, dan rasa bersalah.

(2) Kehidupan seksual yang sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kehidupan
seksual yang:

a. terbebas dari infeksi menular seksual;

b. terbebas dari disfungsi dan gangguan orientasi seksual;

c. terbebas dari kekerasan fisik dan mental;


d. mampu mengatur kehamilan; dan

e. sesuai dengan etika dan moralitas.

Pada pasal ini, tampak adanya nuansa liberal dengan adanya kebebasan bagi perempuan untuk
menjalani kehidupan seksual tanpa rasa takut dan diskriminasi. Pasal ini akan menjadi pasal
karet yang bisa melindungi perilaku pergaulan bebas, mengingat kondisi masyarakat
Indonesia cenderung permisiv dalam berperilaku termasuk dalam tata pergaulan. Artinya,
pasal ini mengabaikan aspek sosiologis masyarakat Indonesia dalam berperilaku yang
cenderung mengikuti barat secara buta. Indonesia merupakan surga pornografi kedua
setelah Rusia berdasarkan data Assosiated Press (AP) ( tahun 2011). Dampak paling terlihat
adalah maraknya pergaulan bebas dan tingginya angka aborsi. Memang benar bahwa salah
satu esensi dari PP ini adalah komitmen pemerintah untuk memberikan perangkat hukum
terhadap kesehatan reproduksi, termasuk kaitannya dengan hak ( kebebasan) perempuan
untuk menentukan kehamilan yang terjadi pada dirinya. Semangat ini pulalah yang mendasari
legalisasi aborsi , karena perempuan pada kondisi kedaruratan medis atau korban perkosaan
tetap memiliki hak untuk tidak melanjutkan kehamilannya serta layak untuk difasilitasi.

Pasal 31

Dalam pasal 31 PP no 61 tahun 2014 dinyatakan bahwa:

(1) Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan:

A. indikasi kedaruratan medis; atau

B. kehamilan akibat perkosaan.

(2) Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya
dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung
sejak hari pertama haid terakhir.

Pasal 33

Pasal 33 ayat (1,2) menyebutkan bahwa,”Penentuan adanya indikasi kedaruratan medis


dilakukan oleh tim kelayakan aborsi, paling sedikit dari 2 orang tenaga kesehatan yang
diketuai oleh dokter yang memiliki kompetensi dan kewenangan. [4]

Pasal 34

(1) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf b
merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

(2) Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan:

a. usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan, yang dinyatakan oleh surat
keterangan dokter;dan

b. keterangan penyidik, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan perkosaan.
Beberapa pasal dalam PP No 61/2014 tentang Kesehatan reproduksi yang memfasilitasi
aborsi bagi korban perkosaan ini berpotensi menimbulkan polemik dalam
masyarakat. Sejumlah kelompok yang tidak setuju mempermasalahkan legalisasi praktik
aborsi karena sama saja dengan menghilangkan hak hidup seseorang. Alasan pelaku adalah
korban pemerkosaan, tidak bisa menjadi legitimasi bagi tindakan aborsi. PP ini justru bisa
berpotensi menjadi celah untuk melakukan aborsi dengan alasan atau berpura-pura sebagai
korban pemerkosaan. Karena itu, legalisasi aborsi bagi wanita korban pemerkosaan dinilai
kurang tepat.

Pemerintah terjebak kepada solusi kuratif daripada preventif apalagi komprehensif untuk
menangani maraknya aborsi , pergaulan bebas dan kehamilan tak diinginkan. Solusi ini adalah
solusi yang dilematis karena secara kontekstual kondisi carut marutnya tata pergaulan di
Indonesia sudah tidak terhindarkan lagi. Secara normatif hadirnya PP ini menggambarkan
kekaburan konsep aturan kesehatan reproduksi karena tidak berpijak pada basis empiris
masyarakat secara tepat. Hal ini menjadikan pertanyaan, untuk kepentingan apa dan siapakah
peraturan ini dibuat?

Dalam PP ini satu sisi perempuan korban perkosaan mungkin sedikit tertolong, namun
sesungguhnya ada dampak lain yang jauh lebih buruk. Dampak buruk tersebut mencakup
aspek psikologis, medis maupun sosial. Dampak psikologis aborsi sesungguhnya tidak bisa
dipandang ringan. Berdasarkan penelitian, aborsi dapat menimbulkan berbagai dampak
dan resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika
dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia tidak merasakan apa-apa. Informasi ini sangat
menyesatkan . Ada dua macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi, yaitu:

1. Resiko kesehatan dan keselamatan fisik

2. Resiko gangguan psikologis.

Resiko kesehatan dan keselamatan fisik

Secara medis, wanita yang melakukan aborsi akan mengalami kondisi sangat buruk pada saat
aborsi maupun pasca melakukan aborsi. Sebagaimana dijelaskan dalam buku ‘Facts of Llife”
oleh Brian Clowes, PhD yang akan dialami perempuan dalam aborsi adalah:[5]

a. Kematian mendadak karena pendarahan hebat

b. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal

c. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan

d. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)

e. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak
berikutnya

f. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)

g. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)


h. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)

i. Kanker hati (Liver Cancer)

j. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada
anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya

k. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)

l. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)

m. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

Resiko gangguan psikologis

Sementara itu secara psikologis, resiko yang akan dihadapi perempuan yang melakukan
aborsi adalah gejala “Post-Abortion Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS.[6]Gejala
tersebut antara lain:

a. Kehilangan harga diri (82%)

b. Berteriak-teriak histeris (51%)

c. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)

d. Ingin melakukan bunuh diri (28%)

e. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)

f. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan
bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.[7]

Hal lain yang juga merupakan masalah serius adalah masalah keamanan pada para wanita
secara sosial. Para pelaku perkosaan bebas melenggang dan justru mendapatkan jalan keluar
karena toh korban akan mendapat rehabilitasi melalui aborsi legal tersebut. PP tentang aborsi
ini juga akan melegalkan pergaulan bebas yang pada akhirnya akan merusak generasi.

Alasan syariah dalam peraturan ini, yakni rujukan fatwa MUI No.4/2005 tentang Aborsi,
bahwa aborsi hanya dapat dilakukan pada usia kehamilan maksimal 40 hari dihitung sejak
hari pertama haid terakhir.[8] tentu saja tidak serta merta membuat produk hukum pemerintah
ini bisa dikatakan islami. Pasalnya, persoalannya bukan semata dilihat dari kacamata fiqh
tentang kapan masanya janin boleh digugurkan, atau semata mata kemaslahatan untuk
menolong korban pemerkosaan. Namun juga harus dipertimbangkan landasan , jiwa, tujuan
hingga dampaknya bagi masyarakat dan bangsa. Karena kenyataannya sebelum aborsi
dilegalkanpun, pergaulan bebas sudah begitu maraknya.

Dafpus

[1] Departemen agama RI,Alquran dan terjemahannya, ( Kudus: menara Kudus. 1427 H)

[2] http:/www.indonesiaucanews.com
[3] http:// e-report.alkes.kemkes.go.id/../ UU_No 36 tahun 2009

[4] http://hukumonline.com/../PP-no-61-tahun 2014

[5] Clowes, Brian., The facts of life : An Authoritative Guide to Life and family, Human life
International ,( 1997)

[6] ibid

[7] http://www.aborsi.org

[8] Http:// repository.usu.ac.id/handle/fatwa MUI no 4 tahun 2005