Vous êtes sur la page 1sur 3

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah,


keluarga, dan para sahabatnya.

Pada dasarnya, wanita hamil dan menyusui termasuk yang terkena khitab perintah shaum (puasa)
dalam ayat shiyam, QS. Al Baqarah: 183. Namun, apabila mereka khawatir atas bahaya bagi
dirinya atau janin dan anak susuannya bila tetap berpuasa, maka dibolehkan untuk berbuka (tidak
berpuasa).

Ibnu Hazm rahimahullah dalam al-Muhalla mengatakan, “Dan orang hamil, menyusui, dan orang
tua renta, semuanya termasuk orang yang terkena khitab perintah puasa. Maka puasa Ramadlan
hukumnya wajib bagi mereka. Namun jika wanita menyusui khawatir terhadap anak susuannya
karena sedikitnya susu dan hilangnya air susu karena itu dan anak tersebut tidak memiliki orang
yang menyusuinya lagi selain wanita tadi atau tidak mau menerima puting susu selainnya; atau
wanita hamil khawatir terhadap janinnya; atau orang tua sudah tidak mampu lagi berpuasa
karena tuanya, maka mereka semua boleh berbuka (tidak puasa) . . . “ (Al-Muhalla: 4/411)

Jadi apabila wanita hamil dan menyusui mampu melaksanakan puasa pada bulan Ramadlan, ia
wajib menunaikannya. Namun, jika tidak mampu atau takut dan khawatir akan kesehatan
dirinya, janin atau bayi yang disusuinya, ia boleh tidak puasa. Dan ketakutan/kekhawatiran ini
bukan semata angan-angan dan anggapan belaka yang dibuat-buat, tetapi karena data dan
pengalaman yang sudah-sudah, atau berdasarkan saran dokter ahli.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‫ام‬ ِ ‫ص ْو َم أ َ ْو‬
َ ‫الص َي‬ ِ ‫ام ِل َو ْال ُم ْر‬
َّ ‫ضعِ ال‬ ِ ‫سافِ ِر َو ْال َح‬
َ ‫ص ََلةِ َو َع ْن ْال ُم‬ ْ ‫سافِ ِر ش‬
َّ ‫َط َر ال‬ َ ‫ض َع َع ْن ْال ُم‬
َ ‫َّللاَ َع َّز َو َج َّل َو‬
َّ ‫ِإ َّن‬

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan keringanan bagi musafir untuk tidak
mengerjakan separoh shalat. Dan memberikan keringanan bagi musafir, wanita hamil dan
menyusui untuk tidak berpuasa.” (HR.Abu Dawud no. 2408, al-Tirmidzi no. 715, an-Nasai no.
2315, dan Ibnu Majah no. 1667. Hadits ini dishahihkan oleh Al-albani dalam Shahih Abi Dawud
no. 2083 dan Shahih Ibni Majah no. 1667)

Di kalangan fuqaha’, tidak ada perbedaan pendapat mengenai dibolehkannya wanita hamil dan
menyusui untuk tidak berpuasa apabila khawatir janin yang dikandungnya akan terkena
mudharat. Begitu pula wanita yang menyusui, apabila takut bayinya akan binasa.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan, dari Ibnu Abbas radliyallaahu
‘anhuma mengenai firman Allah Ta’ala,

َ ٌ‫َو َعلَى الَّذِينَ ي ُِطيقُونَهُ فِدْيَة‬


‫ط َعا ُم ِم ْس ِكين‬

“ . . . Dan untuk orang-orang yang sangat berat baginya untuk mengerjakan puasa, hendaklah ia
membayar fidyah berupa member makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184) beliau berkata,
“Ayat itu merupakan rukhshah (keringanan) bagi orang tua renta baik laki-laki maupun
perempuan yang keduanya merasa berat mengerjakan puasa agar berbuka dan memberi makan
seorang miskin pada setiap harinya. Begitu pula wanita yang mengandung dan menyusui, apabila
keduanya khawatir.”

Jadi apabila wanita hamil dan menyusui mampu melaksanakan puasa pada bulan Ramadlan, ia
wajib menunaikannya.

Namun, jika tidak mampu atau takut dan khawatir akan kesehatan dirinya, janin atau bayi yang
disusuinya, ia boleh tidak puasa.

Apa yang harus mereka lakukan?

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsrinya menyebutkan 4 pendapat di kalangan ulama
mengenai wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena khawatir akan kesehatan
dirinya atau anaknya. Pertama, keduanya membayar fidyah, dan mengqadla (mengganti pada
hari lain) puasanya. Kedua, membayar fidyah saja tanpa qadla’. Ketiga, wajib mengqadla’ tanpa
membayar fidyah. Keempat, berbuka tanpa harus qadla’ dan fidyah.

Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Al-Mulakhas al-Fiqhi (1/392) menyebutkan, bagi wanita hamil
apabila tidak mampu berpuasa dia boleh berbuka dan mengqadla’ (mengganti pada hri lain)
puasanya. Kedudukannya seperti orang yang sakit dalam firman Allah,

‫سفَر فَ ِعدَّة ٌ ِم ْن أَيَّام أُخ ََر‬


َ ‫فَ َم ْن َكانَ ِم ْن ُك ْم َم ِريضًا أ َ ْو َعلَى‬

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS.
Al-Baqarah: 184)

Dan bersamaan dengan qadla’ tadi, dia wajib membayar fidyah dengan memberi makan seorang
miskin pada setiap harinya apabila berbukanya tadi disebabkan kekhawatiran atas bayinya.
Pendapat ini didasarkan pada fatwa Ibnu Abbas dan lainnya dari kalangan sahabat sebagaimana
yang dinukil Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma’ad: 2/29,

“Ibnu Abbas dan yang lainnya dari kalangan sahabat berfatwa mengenai wanita hamil dan
menyusui apabila khawatir atas anaknya: agar keduanya berbuka dan memberi makan seorang
miskin pada setiap harinya; memberi makan menempati maqam puasa.” Maknanya, menempati
kedudukan pelaksanaan puasa, dengan tetap wajib mengqadla bagi keduanya. (Al-Mulakhas al-
Fiqhi: 1/392)

Imam al-Bukhari dalam penafsiran ‫ أَيَّا ًما َم ْعد ُودَات‬menukil pendapat Imam al-Hasan al-Bashri
Ibrahim mengenai wanita menyusui dan hamil, apabila keduanya khawatir (takut) atas diri
keduanya atau anaknya: “Keduanya berbuka kemudian mengqadla.”

Terdapat fatwa dari Lajnah Daimah (10/226) tentang wajibnya qadla bagi wanita hamil,
“Adapun wanita hamil, maka wajib baginya berpuasa waktu hamilnya kecuali apabila dia
khawatir bila tetap berpuasa akan membahayakan dirinya atau janinnya, maka diberi rukhsah
(keringanan) baginya untuk berbuka dan mengganti setelah melahirkan dan suci dari nifas.”
Tentang perintah fidyah didasarkan pada riwayat dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar radliyallaahu
‘anhuma pernah ditanya tentang wanita hamil apabila dia khawatir terhadap anaknya dan
berpuasa sangat berat baginya, lalu beliau berkata,

ْ ُ ‫ت ُ ْف ِط ُر َوت‬
َ ‫ط ِع ُم َم َكانَ ُك ِل يَ ْوم ِم ْس ِكي ًنا ُمدًّا ِم ْن ِح ْن‬
‫طة‬

“Wanita itu boleh berbuka dan memberi makan orang miskin sebanyak satu mud setiap harinya
(disebut juga dengan fidyah).” (HR. Malik dan al-Baihaqi). Wallahu Ta’ala a’lam.
(PurWD/voa-islam.com)
Sumber : Voaislam

Vous aimerez peut-être aussi