Vous êtes sur la page 1sur 19

9 Kesalahan Fatal Dalam Mendidik Anak

Meskipun banyak orangtua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung
jawab yang besar, tetapi masih banyak orangtua yang lalai dan menganggap remeh masalah
ini. Setiap orangtua pasti selalu ingin yang terbaik bagi anaknya.

Banyak hal yang dilakukan agar anak tersebut menjadi manusia yang berguna, bahkan
orangtua selalu mengatakan bahwa anaknya harus lebih baik dari dirinya sendiri dalam
berbagai hal, baik ilmunya, pendidikannya, dan dalam segala hal.

Namun kenyataannya secara sadar ataupun tidak, orangtua sering membuat kesalahan dalam
mendidik putra-putrinya. Bagaimana cara mendidik anak yang benar? Hindari 9 kesalahan
fatal dalam mendidik anak berikut ini.

1. Kurang Pengawasan

Seringkali anak terlalu banyak bergaul di lingkungan yang semu di luar lingkungan keluarga,
dan itu merupakan hal buruk yang seharusnya mendapatkan perhatian dari
orangtuanya. Jangan biarkan anak anda di luar sendirian, karena bagaimanapun anak anda
membutuhkan perhatian anda sebagai orangtua.

2. Gagal Mendengarkan
Banyak orangtua yang terlalu lelah dalam memberikan perhatian pada anak dan cenderung
kurang peduli pada apa yang anak-anak mereka ungkapkan. Misalnya saat seorang anak laki-
laki pulang dengan mata yang terlihat lebam, pada umumnya orangtua langsung menanggapi
kondisi anaknya tersebut dengan berlebihan, mengira-ngira si anak terkena benturan bola,
atau bahkan berkelahi dengan temannya di sekolah. Tetapi faktanya, orangtua tidak pernah
tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga anaknya sendiri yang bercerita.

3. Meluruskan Kesalahan Anak

Orangtua sebaiknya membiarkan terlebih dahulu jika anak melakukan suatu kesalahan,
jangan langsung memvonisnya bersalah, biarkan anak anda belajar dari kesalahannya agar
kesalahan tersebut tidak terulang di lain waktu. Tentu saja apabila kesalahan anak tidak
membahayakan jika dibiarkan terlebih dahulu, namun maksudnya adalah kesalahan kecil
yang membuat anak bisa belajar mengatasinya. Bantu anak anda untuk dapat mengatasi
masalahnya sendiri.

4. Terlalu Berlebihan

Banyak orangtua yang banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Tetapi sangat
sedikit yang meluangkan waktu bersama anaknya. Seorang ibu bisa bermake-up berjam-jam
dan hanya punya sedikit waktu untuk anaknya sendiri. Luangkan waktu yang lebih banyak
untuk mendampingi anak agar dapat memacu dan menumbuhkan kretifitas pada anak.

5. Bertengkar di Hadapan Anak

Perilaku orangtua yang sangat mempengaruhi dan merusak mental anak adalah bertengkar di
hadapan anak. Ketika orangtua bertengkar di hadapan anak, khususnya jika anak anda adalah
anak lelaki, maka nantinya anak tersebut mejadi pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak
dapat menjalin hubungan dengan wanita dengan cara yang sehat sehat.

Sebaiknya jika orangtua sedang bertengkar seharusnya mereka tidak memperlihatkannya


pada anak-anak yang ada di sekitar mereka. Wajar saja bila orangtua bertengkar dan memiliki
perbedaan pendapat pendapat tetapi sebisa mungkin harus dilakukan tanpa amarah, karena
hal itu dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa takut bagi anak.

6. Tidak Konsisten

Anak harus menyadari peran orangtua mereka. Oleh sebab itu orangtua harus konsisten
dengan ucapannya. Cara mendidik anak saat ini sering bertolak belakang antara ucapan dan
perbuatan orangtua. Saat anak meminta jajan makanan yang tidak sehat baginya, orangtua
jelas melarang.

Namun saat anaknya terus saja merengek dan menangis, akhirnya orangtua menyerah dan
memberikan uang pada si anak untuk membeli makanan tersebut. Ini tidak baik bagi
psikologis anak, dalam pikirannya akan tertanam bahwa orangtuanya tidak konsisten. Nanti
jika ia menginginkan hal lain dari orangtuanya, ia akan melakukan hal yang sama dan terus
menerus hingga usianya bertambah.

7. Mengabaikan Kata Hati


Orangtua apalagi seorang Ibu, biasanya mempunyai kepekaan yang tajam tentang anaknya.
Sudah saatnya mereka mendengarkan kata hatinya dalam mendidik anak, jangan sampai
nuraninya dikalahkan oleh hal-hal lain yang dapat menyebabkannya salah dalam mendidik
anak.

8. Terlalu Banyak Nonton TV

Neilsen Media Research melaporkan bahwa anak-anak di Amerika dengan usia 2-11 tahun
menghabiskan waktunya untuk menonton TV 3 jam dan 22 menit dalam sehari. Saya rasa di
Indonesia juga tidak jauh berbeda, bahkan sebagian anak lebih lama dari itu dalam
menyaksikan siaran TV. Terlalu banyak menonton TV akan membuat anak jadi malas dalam
belajar.

Ironisnya, banyak orangtua cenderung membiarkan anak mereka berlama-lama di depan TV,
hal itu mereka lakukan daripada mengganggu aktifitas mereka sebagai orangtua. Jika
demikian, semua acara TV yang negatif dan tidak sesuai dengan usia anak juga akan masuk
pada kepala dan orangtua tidak akan bisa memfilternya. Dampingi anak anda saat menonton
TV dan pilihkan acara yang sesuai dengan usianya dan batasi kegiatannya dalam menonton
TV setiap hari.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi

Anak membutuhkan quality time bersama orangtuanya. Tidak cukup hanya memberi anak
berbagai benda dan mainan yang bisa mereka koleksi. Karena anak juga membutuhkan
orangtua untuk mendengarkan mereka dibandingkan dengan anda memberinya sesuatu dan
diam. Ini berdampak kurang baik bagi psikologis anak.

Itulah 9 kesalahan fatal dalam mendidik anak yang sering dilakukan oleh sebagian orangtua,
baik sadar ataupun tidak. Memang masih banyak kesalahan-kesalahan lainnya yang tidak bisa
dituliskan disini. Namun semoga 9 tips di atas dapat memberikan sedikit masukan untuk anda
agar menjadi orangtua yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.
5 Dampak Bahaya Memberikan Hadiah
Pada Anak

“Nanti Ayah belikan mobil-mobilan kalau pr-nya selesai” Hal seperti ini sudah terkesan
akrab di sekeliling kita. Apakah ini tepat? Apakah benar anak menyelesaikan pr sesuai
harapan kita? Atau hanya mengejar hadiah mobilnya saja?

Kali ini kita tidak membahas budaya memberi hadiah pada saat ulang tahun, tetapi yang akan
kita bahas adalah hadiah sebagai pemicu perilaku baik atau disiplin yang sering
disalahartikan. Dimana hadiah tersebut tidak membentuk perilaku baik, tetapi malah
sebaliknya semakin merusak perilaku.

Di ranah pendidikan karakter, perilaku dibentuk dengan berbagai macam teknik dan
pendekatan. Salah satunya dengan modifikasi perilaku yang menggunakan hadiah dan yang
tidak menggunakan hadiah.

Hadiah menimbulkan rasa senang dan gembira, pertanyaan saya adalah bisakah rasa senang
dan gembira dimunculkan tanpa hadiah? Bisa, dan ada banyak caranya. Banyak orangtua
tidak memahami hal ini, atau bahkan berpikir mengenai hal ini. Memang, hadiah adalah cara
yang paling mudah memunculkan akibat senang, dicintai, diperhatikan dan sejenisnya. Tapi
jika ini diberikan terus, ada dampak bahayanya.

Apa saja 5 dampak buruk dari hadiah?


1. Hadiah biasanya dijanjikan sebelum perilaku yang diharapkan muncul

Hal ini sering digunakan mengontrol atau memanipulasi anak. Sehingga anak tidak
memahami dengan baik alasan mengapa perilaku baik harus dibiasakan muncul, karena anak
hanya terfokus pada hadiah. Lebih parah lagi apabila yang dijanjikan orangtua tidak ditepati,
kadangkala hal ini justru dapat menyebabkan perilaku buruk anak semakin menjadi-jadi.

2. Hadiah sering dianggap global

Maksudnya, saat perilaku baik pada waktu tertentu saja anak dianggap baik. Bisa jadi pada
lain kesempatan anak tidak lagi bersikap baik. Jika ingin sikap baik konsisten, maka hadiah
juga konsisten (hal ini seringkali memberatkan), akibatnya kita mendidik anak yang hanya
bisa menuntut.

3. Hadiah mengajarkan anak untuk fokus diluar dirinya

Hal ini menyebabkan anak kesulitan untuk memahami rasa, dan akibat dari perbuatan baik
yang akan menyenangkan di hatinya. Orangtua perlu mendidik rasa dan emosi anak, seperti
rasa bermakna, percaya diri, dan menghargai diri sendiri saat dia berhasil mencapai sesuatu
yang baik.

4. Seringkali yang menentukan hadiah adalah orangtua

Hal ini menyebabkan ukuran keberhasilan perilaku sering tidak berimbang, hadiah terbaik
hanya untuk perilaku yang sudah dia kuasai, atau sebaliknya. Sehingga level gradasi dalam
pencapaian sering tumpang tindih.

5. Hadiah diberikan jika anak sukses dalam perilaku atau pencapaiannya

Seringkali anak butuh didampingi dalam proses mendapatkan perilaku yang baik, tetapi di
generasi “microwave” ini semua ingin serba instant, dan yang terpenting adalah hasil.
Sehingga secara tidak sadar hal ini mengajarkan anak memanipulasi orangtua, yang penting
perilaku baik sudah muncul, dan anak akan mendapatkan hadiahnya.

Membahagiakan orang lain tidak selalu dengan hadiah, ada banyak cara. Mari kita belajar
untuk mengetahui lebih dalam, bagaimana membentuk karakter anak tanpa hadiah.

Selain hadiah, kita bisa memberikan dukungan, dorongan yang positif bagi anak. Anak akan
merasa bahagia dan dimengerti dengan diberikan dukungan. Mungkin ekspresi anak tidak
seperti orang dewasa, mereka cenderung tenang dan diam, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya
ada perasaan tenang dan nyaman dengan diberinya perlakuan ini.

Seperti bayi yang di belai lembut oleh ibunya, atau digendong, ekspresi wajahnya akan
mudah terbaca kalau dia merasa nyaman. Seperti itulah ekspresi wajah anak saat merasa
tenang dan nyaman dengan dukungan anda. Lebih tenang, tidak cemas, dan tidak merasa
sendiri dalam berupaya yang terbaik bagi dirinya.

Berikut ini adalah keuntungan dari dukungan yang diberikan orangtua atau guru kepada anak
1. Spontan, langsung bisa terjadi saat itu juga

Dukungan akan mengekspresikan secara langsung perasaan dan kepercayaan orangtua


kepada anak. Saat anak merasa dipercaya maka rasa percaya diri anak akan berkembang
dalam dirinya. Saat orangtua memberikan dukungan, ekspresi terlihat jelas.
Jika memberikan hadiah, ekspresi orangtua cenderung tidak terlihat, dan proses komunikasi
akan jauh lebih sedikit.

2. Spesifik dan fokus

Anak akan tahu dengan jelas apa yang harus ditingkatkan, dan bagaimana caranya mencapai
kemajuan yang diperlukan. Anak tidak perlu merasa frustasi untuk mencari-cari cara yang
dapat meningkatkan perilaku baiknya, karena orangtua akan memberikan informasi tersebut
dengan jelas dan detail.

3. Saat diberikan dukungan anak akan merasa nyaman secara emosi

Anak akan merasa diperhatikan, dicintai, dan dimengerti. Dukungan orangtua kepada anak
adalah bentuk upaya untuk mengerahkan segenap kemampuan orangtua dalam bersikap,
berkomunikasi, dan berempati terhadap anaknya agar menjadi pribadi yang terbaik.

4. Dukungan bisa diberikan kapan saja, bahkan saat situasi sulit

Saat situasi anak sedang terasa berat dan sulit, iming-iming hadiah mungkin tidak berguna.
Tetapi sikap percaya orangtua kepada anak, dukungan, dan dorongan akan membuat
anak bisa keluar dari hal-hal yang menyulitkan.

5. Banyak sedikitnya kualitas dukungan tergantung dari antusias anak

Saat anak berantusias maka sedikit dukungan yang diberikan, dan saat kurang berantusias
maka perlu banyak dukungan dan motivasi untuk anak. Dalam memberikan dukungan,
orangtua dapat mengingatkan agar anak mudah memberikan dukungan kepada dirinya
sendiri, ajarkan anak untuk mendukung dirinya sendiri, dan berkata-kata dalam hati. Hal ini
akan mempermudah anak untuk menjadi antusias secara otomatis.
Hindari 5 Ucapan Ini Dalam Mendidik
Anak

Apa yang sering diucapkan oleh orangtua sangatlah penting bagi anak, karena hal itu
nantinya bisa membentuk kehidupan dan masa depan anak. Sayangnya hal ini tidak banyak
diketahui oleh orangtua.

Seringkali orangtua merasa cemas dan frustasi karena ada banyak hal yang dikhawatirkan
terhadap anaknya, seperti nilai akademis, pergaulan, lingkungan sosial, dan tuntutan hidup.
Sehingga kecemasan dalam diri orangtua ini berdampak pada pola komunikasi terhadap
anaknya.

Sebuah penelitian menemukan bahwa bahasa mempunyai pengaruh yang besar ketika kita
berkomunikasi dengan orang lain. Dan cara berkomunikasi yang baik dapat memberikan
dampak positif pada hubungan orangtua dan anak untuk jangka waktu yang panjang.

Begitu pula dengan ucapan negatif, juga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan
anak. Maka dari itu gunakanlah selalu bahasa yang baik ketika mendidik anak. Berikut ini
ada beberapa ucapan yang sebaiknya anda hindari ketika mendidik anda.

1. Begitu saja tidak bisa!


Ini adalah bentuk ucapan yang mewakili rasa frustasi orangtua terhadap anaknya. Seringkali
ucapan seperti inilah yang menbuat mental anak jatuh, sehingga sulit untuk membuatnya
memiliki prestasi tinggi.

Apa yang dirasakan anak pada saat orangtuanya berucap seperti ini? Anak akan merasa tidak
mampu dan tidak berdaya. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Hentikan semuanya,
termasuk proses belajar. Silahkan ambil waktu dan beristirahatlah sejenak, tenangkan emosi
anda, biarkan anak melepas ketegangan.

Sambil anda beristirahat sejenak, pikirkan dengan kreatif pendekatan baru yang dapat
membantu anak anda belajar. Kemudian masuklah kembali ke ruang belajar dengan kondisi
yang lebih rileks dan tenang, bangkitkan semangat dan rasa percaya diri anak dengan penuh
kasih sayang.

2. Kamu ditinggal saja ya!

Ucapan ini lazim dan banyak digunakan orangtua untuk mengancam anaknya, apakah ini
baik? Tergantung kondisinya, ketika berada di rumah bisa jadi merupakan hal yang baik,
karena anda sedang mengajarkan tepat waktu dan disiplin.

Tetapi ketika berada di pertokoan umumnya hal seperti ini tidak akan terjadi, dan anak akan
belajar bahwa orangtua mereka hanya memberikan ancaman kosong. Karena itu sebaiknya
jangan pernah mengatakan kepada anak bahwa anda akan meninggalkan mereka. Solusi
mudahnya adalah buatlah rencana perjalanan sebelum anda berangkat dari rumah.

3. Jangan manja, kamu kan sudah besar!

Ada beda antara anak yang merasa tidak mampu dengan anak yang manja. Sebaiknya anda
tahu betul anak anda sedang malas, manja, atau memang tidak mampu dan membutuhkan
bantuan anda.

Sangat bisa dipahami, bahwa kemandirian dibutuhkan agar anak bisa tumbuh dengan baik,
tetapi untuk mengajarkan kemandirian kepada anak sebaiknya orangtua perlu mengamati
terlebih dahulu, apakah anak sudah mampu atau belum mampu.

Ucapan seperti ini bisa membuat anak tidak datang kepada orangtuanya ketika ada masalah,
dan anak akan mencari orang lain untuk mendapatkan bantuan.

Hal ini akan membuat anak enggan untuk berkomunikasi lebih lanjut. Sekarang ini banyak
anak yang merasa bahwa orangtua bukanlah solusi bagi mereka, semoga ini bukan anda.
Karena akan sangat berbahaya jika anak mencari solusi dari luar yang belum tentu baik.

4. Minta maaf sana!

Ada banyak ucapan serupa yang tujuannya ingin mengajarkan sopan santun, tata krama, dan
etika dalam hidup. Perbuatan baik akan diterima baik jika diberikan dengan contoh, bukan
arahan semata.

Coba bayangkan, lebih mudah mana bagi anak untuk berubah menjadi lebih baik, dengan
hanya menerima perintah atau melihat contoh? Ketika anda memaksa anak untuk meminta
maaf, anda tidak mengajarkan mereka kemampuan sosial. Maka dari itu, akan lebih baik jika
anda memberikan contoh untuk memperkuat perilaku tersebut. Dan yang paling penting,
katakanlah dengan lembut bukan ancaman.

5. Kamu bicara apa sih!

Anak kecil, terutama dengan tipe kepribadian sanguin, akan sangat senang bercerita tentang
banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya. Mungkin bagi orangtua, banyak cerita dari
mereka sebenarnya adalah cerita biasa saja, dan cenderung tidak penting.

Seringkali karena kesibukan dan rutinitas, banyak orangtua yang tidak peduli dalam
sikapnya. Ucapan seperti ini adalah salah satu ungkapan ketidak pedulian orangtua.
Bagaimana jika hal seperti ini masih berlangsung dan sering terjadi? Apa yang akan terjadi
pada diri anak?

Anak akan tumbuh sambil membawa pesan bagi dirinya, bahwa dia bukan orang penting.
Tidak ada rasa percaya diri yang baik dalam dirinya, mereka akan merasa terabaikan dan
tertolak. Dan ketika dewasa, mereka akan mencari perhatian dengan cara yang salah,
membual, dan cenderung menyenangkan orang lain agar diterima.

Sebenarnya tidak ada orangtua yang sempurna, karena itu apabila anda mengucapkan hal-hal
ini secara tidak sengaja, segeralah minta maaf pada mereka. Semoga dengan ini anda
mendapat gambaran yang lebih besar, tentang ucapan-ucapan yang kurang mempedulikan
anak.

Semoga bermanfaat.
Cara Jitu Menumbuhkan Semangat
Belajar Pada Anak

Nah, ini adalah tema yang sering ditunggu-tunggu oleh orangtua dan juga sering banyak
dikeluhkan orangtua. “Kenapa anak saya tidak senang belajar, bermain saja seharian”,
keluh seorang Ibu yang hadir di seminar saya.

Para pembaca, percayakah anda bahwa kehidupan sejati kita manusia adalah seorang
pembelajar? Tetapi kita sering memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan saat anak
belajar (secara tidak sadar) bahkan dulu kita pun mungkin diberikan stimulasi yang salah
sehingga belajar itu tidak menyenangkan.

Misalnya, saat anak kita bayi dan berumur 1 tahun. Dia ingin memasukan semua barang yang
dapat ia pegang ke dalam mulutnya, benar? Nah, yang kebanyakan orang lakukan saat itu
adalah berkata “eh.. itu kotor, tidak boleh” sambil menarik barang tersebut. Sebenarnya ini
adalah perilaku dasar pada saat seorang anak belajar.

Kemudian saat dia mulai bisa berjalan, mulai ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan
sekitar, semakin banyak larangan yang dikeluarkan oleh orangtua ataupun pengasuh.
Mungkin karena lelah menjaga anak seharian, sehingga banyak larangan yang dikeluarkan.
Padahal ini adalah keinginan mereka untuk tahu (belajar) lebih banyak, mengisi database di
otaknya yang masih kosong dan perlu di isi.
Cara Jitu Menumbuhkan Semangat
Belajar Pada Anak
Saat mulai bisa berbicara, bertanya ini dan itu. “Ini apa? Kenapa?” Jawaban yang diterima
“Lha tadi sudah tanya, sekarang tanya lagi, dasar cerewet” mungkin saat itu pengasuh dan
orangtua sedang lelah juga saat menjaganya, sehingga malas dan capek untuk memberikan
penjelasan dan ini adalah proses belajar seorang anak.

Ketika ada barang baru di rumah dan anak ingin memegangnya atau mengetahui lebih dekat,
maka kita orangtua dan pengasuhnya menjauhkan barang tersebut darinya, dengan dalih nanti
rusak karena barang mahal.

Dari sepenggal contoh diatas dimana ini adalah pengalaman nyata dari saya dan beberapa
klien, siapakah yang membuat anak menjadi malas belajar?

Berikutnya ada seorang anak berusia 8 tahun, sebut saja Armand. Orangtuanya sangat
mengeluhkan, bahwa anaknya tidak suka belajar dan sudah mendapat peringatan dari gurunya
jika tidak ada perubahan sikap maka kemungkinan besar Armand tidak naik kelas.

Saat bertemu, saya yakin Armand adalah anak yang luar biasa. Sesaat saya bertanya tentang
hobi dan kesukaannya saat bermain, dengan cepat saya mengetahui anak ini luar biasa. Sebab
setelah saya tanya tentang hobinya ternyata sepak bola, dan tim kegemarannya adalah
Arsenal (Liga Inggris).

Dan Armand hafal seluruh pemain inti dan cadangan Arsenal, berikut pelatih dan asistennya
serta nomor punggung pemain, tanggal ulang tahun pemain serta daftar pencetak goal dan
assist (pemberi umpan) dan point klasemen liga dan urutannya. Luar biasa!! Dalam hati saya,
tidak ada yang salah sama hardware (otaknya), tetapi masalahnya adalah software.

Satu orang anak yang sama, otaknya kalau dibuat belajar pelajaran di sekolah tidak berfungsi
(berhitung, menghafal) tetapi hafal seluruh pemain Arsenal. Apa anak ini bodoh? Tentunya
anda sepaham dengan saya, jawabanya adalah tidak. Anak ini pandai luar biasa. Hanya saja
salah perlakuan sehingga ia malas dan tidak suka belajar.

Lalu apa yang saya lakukan untuk mengubah agar software menjadi baik, dan membuat anak
ini agar mudah belajar? Yang saya perbaiki orangtuanya dahulu, sebab untuk anak seusia
Armand, jika terdapat masalah dalam hidupnya berarti orangtua yang akan membantu untuk
mengatasi masalah anak tersebut.

Saya mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan anak dan sifat dari pikiran anak, serta
pentingnya menomor satukan cinta dalam mendidik anak, yang semuanya akan sangat
panjang jika saya jelaskan disini.

Berikutnya adalah tips bagaimana agar, anak kita menjadi rajin dan mudah sekali belajar dan
sekolah.
1. Saat pulang sekolah tanyakan “Hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini di sekolah?”
Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan di sekolah dan ini secara tidak
langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.

2. Saat anak tidur (Hypnosleep), katakan “Makin hari, belajar makin menyenangkan”,
“Sama halnya dengan bermain, belajar juga sangat menyenangkan”, “Mudah sekali bagimu
untuk belajar (berhitung, menghafal dan lain-lain.)”.

3. Jelaskan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut)
misalnya, dengan mempelajari perkalian, maka saat liburan naik kelas nanti nanti kamu bisa
menghitung berapa harga barang yang akan kamu beli di Singapura, dan kamu bisa
membandingkannya dengan harga di Indonesia. Jika kamu menguasai percakapan dalam
bahasa inggris maka kamu akan sangat mudah berkomunikasi dengan pelatih sepak bolamu
yang dari Thailand.

4. Mintalah guru les pelajarannya (jika ada), sering-sering mengatakan bahwa anak kita
adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh
lebih penting dari pada mengajarkan tehnik-tehnik berhitung dan menghafal yang cepat.
Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru untuk meningkatkan harga diri anak
kita.

5. Jika anak kita masih kecil dan masih suka dibacakan dongeng, bacakan dongeng dengan
posisi memangku dia (dengan posisi yang nyaman, serta memudahkan kita orangtua untuk
memberikan ciuman kasih sayang atau pelukan sayang) tujuannya agar anak mengkaitkan
membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua dan buku adalah hal yang sangat
menyenangkan.

6. Gunakan surat rahasia dari orangtua kepada anak, kita bisa berkata “Nak, Ibu telah
meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan ibu yang tahu isinya. Ibu letakan
dibawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya.” Isinya bisa berupa kata-kata yang
menyemangati anak dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.
Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam
Dunia Pendidikan

“Pendidikan karakter adalah pendidikan untuk 275 juta penduduk Indonesia”

Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:

 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011


 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
 Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM

Sumber : Litbang Kompas

Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas
sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang
membuat hati di dada kita “terhentak” membaca kelakuan para pejabat Negara.

Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah
dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia
dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa
ini.
Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita
dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan
rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya
ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia
pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.

Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di
Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung
jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain
yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh
emotional quotient.

Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang
sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang
mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter
yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan
pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya?

Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas “usia psikologis” pada
anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001.
Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang
berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti
berumur 12 atau 11 tahun. Maaf jika ini mengejutkan dan menyakitkan.

Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya
berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak
“kapok” ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya
menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter
mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk
mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah
sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7
tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan
proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari “diri” itu didalam diri atau diluar diri? “saya
cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah” lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa
tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan di dunia yang sesungguhnya
tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak
mampu didalam dirinya dan seumur hidup terpenjara oleh keyakinannya yang salah.

Baiklah kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan
berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-
sungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta
keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa
membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa
depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri,
tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung
jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi
bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme. Inilah tantangan kita
bangsa Indonesia, sanggup?

Theodore Roosevelt mengatakan “To educate a person in mind and not in morals is to educate
a menace to society.” Artinya, mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan
aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat.

6 Cara Mengatasi Anak Depresi

Suatu hal yang sangat merisaukan hati dan membuat panik setiap orangtua, apabila
mendapatkan anaknya tiba-tiba menunjukkan perubahan sikap dan perilaku secara drastis,
dan tidak lazim atau tidak seperti biasanya. Hal ini perlu diwaspadai, karena bisa saja anak
sedang mengalami depresi atau stres, dimana anak sedang berada dalam kondisi yang tidak
mengenakkan. Berikut ini ada 6 cara untuk mengatasi depresi pada anak yang wajib diketahui
oleh setiap orangtua.

1. Dekatilah Anak Dengan Penuh Kasih Sayang

Jika anak mulai memperlihatkan tanda-tanda depresi, inilah saatnya kita sebagai orangtua
perlu memberi dosis cinta dan kasih sayang yang kuat pada anak. Pada saat kritis tersebut
anak sangat membutuhkan dukungan emosional dengan sentuhan dan pelukan. Dukungan
emosional dapat lebih meringankan bebannya, sebab anak tidak merasa sendiri.

2. Bentuklah Anak Untuk Merasa Lebih Aman dan Nyaman

Untuk menurunkan tingkat kecemasan yang dihayati, anak membutuhkan suasana yang dapat
menyejukkan hatinya. Bila perlu ajak anak ke tempat yang menyenangkan, dan tempat yang
dapat membangkitkan gairah serta semangat hidupnya.

3. Membantu Anak Memahami Permasalahannya

Jika anak sudah mau menceritakan tentang masalah yang menghimpitnya, ini berarti
merupakan pertanda baik. Sudah ada keinginan yang terselip dalam hati anak untuk
mengatasi derita hatinya. Namun kalau anak masih membungkam dan memendam
masalahnya, kita dapat mengetuk pintu hatinya dan memberi dukungan emosional dengan
memeluk anak. Selanjutnya, ajak anak untuk melakukan relaksasi. Fungsi relaksasi ini adalah
untuk mengikis habis beban yang mengganjal dalam hati.

4. Meyakinkan Anak Pada Kemampuan Dirinya

Setelah anak dapat menerima kenyataan yang menimpa dirinya dengan ikhlas, selanjutnya
anak perlu diajak untuk mengembangkan aktivitas lainnya. Khususnya aktivitas yang dapat
mengatasi permasalahan yang telah menghantuinya tersebut. Hal ini penting untuk mencegah
anak kembali menghayati kesedihan hatinya.

5. Kembalikan Semangat Hidup Anak Dengan Positive Thinking

Agar anak tidak terombang-ambing oleh suasana hati yang tidak mengenakkannya, anak
perlu dilatih cara mengembangkan positive thinking. Anak harus dapat melatih diri
menghadapi situasi yang menekan atau menghadapi masalah dengan rasional, sehingga
latihan ini membuat anak mampu menghadapi keadaan yang menekan atau persoalan dengan
lebih memfokuskan pada inti permasalahan, dan berupaya menemukan solusinya.

6. Kembangkan Rasa Percaya Diri Anak

Bangun pengertian anak, bahwa masalah bukan merupakan beban yang harus ditakuti. Anak
tidak boleh memandang rendah kemampuan diri sendiri. Seburuk atau sesulit apa pun kondisi
yang dihadapi, anak masih punya kekuatan dan kemampuan mengatasinya. Tanamkan
keyakinan anak “mampu” menyelesaikan segala bentuk hambatan. Sebab, setiap masalah
pasti ada jalan keluarnya.

Semoga bermanfaat.
Cara Ampuh Mengatasi Persaingan Antar
Saudara

Jika anda mempunyai anak tunggal tentu tidak akan mengalami masalah ini. Tetapi jika anda
mempunyai 2 orang anak atau bahkan lebih, maka ini adalah sesuatu yang bisa membuat
kepala anda pusing, bahkan mungkin bisa membuat anda histeris.

Banyak orangtua sering mengeluhkan, “Saya tidak habis pikir dia itu bisa mengirikan
kakaknya?” atau “Bagaimana dia bisa mengirikan adiknya? Kan saya sudah berlaku adil
terhadap mereka.” Ungkap orangtua pada umumnya.

Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan masalah ini? Persaingan antar saudara mau
tidak mau pasti terjadi. Ini adalah sebuah masalah untuk menunjukkan jati diri dari masing-
masing anak. Setiap manusia bahkan anak-anak ingin dirinya dianggap sebagai sosok
individu yang spesial. Inilah yang terjadi pada anak-anak kita.

Misalkan, seorang kakak dipuji karena ia pandai menggambar atau pandai berhitung. Nah, si
adik tentunya juga ingin dipuji, tetapi bukan terhadap hal yang sama mungkin. Mungkin ia
akan merasa “Saya tidak mungkin bersaing disitu karena kakak saya lebih bagus” atau “Adik
saya lebih bagus.” Maka ia akan mencari bidang yang lain.

Jika anda tidak tanggap terhadap hal ini, inilah yang akan memicu persaingan itu menjadi
semakin sengit. Seringkali orangtua mengatakan “Aduh hebatnya kamu.” Nah, ketika ia
mengatakan ini di depan adik atau kakaknya, maka adik atau kakak tersebut bisa jadi akan
merasa tersinggung “Kenapa dia yang dipuji, kok bukan saya.” Bagaimana mengatasi hal ini?

Sebenarnya sederhana sekali, misalkan anda berhadapan dengan anak nomor 1 dan anda
ingin memuji dia. Anda bisa mengatakan seperti ini “Wah, hebat nih bagus sekali gambar
kamu, sama ya seperti juga gambar adik.” Anda memuji anak anda yang nomor 1, tetapi anda
juga memuji adiknya.

Atau sebaliknya anda berhadapan dengan anak anda yang nomor 2, dan di dekatnya ada anak
nomor 1. Anda mengatakan “Nah, ini nih baru anak mama hebat sama seperti kakaknya.”
Kebanyakan yang dilakukan para orangtua adalah memuji secara personal anak yang
bersangkutan.

Misalkan seorang adik bisa menyelesaikan sebuah tugas dengan baik, kebanyakan orangtua
langsung memujinya “Nah, begitu hebat”. Jika anak anda yang pertama diam, bukan berarti
dia tidak punya perasaan apapun disana. Jika ini sering terjadi dibawah sadarnya dia akan
merasa bahwa “Mama hanya sayan dengan adik, bukan dengan saya.”

Hal ini bisa terjadi, jadi berhati-hatilah terhadap hal tersebut. Jika anda ingin memuji dan ada
anak lain disana, pastikan memuji anak tersebut secara tidak langsung. Jika tidak ada anak
lainnya anda boleh sampaikan pujian anda secara personal pada anak tersebut.

Masalah yang lain adalah karena kurangnya waktu pribadi dengan masing-masing anak.
Suatu hari pada saat selesai sebuah seminar, seorang bapak menghampiri saya dan
mengatakan bahwa dia punya permasalahan untuk mengatasi persaingan antara anak-
anaknya. Dia punya 2 orang anak dan dia mengatakan bahwa dia sudah bersikap adil kepada
mereka semua. Bahkan mereka selalu keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga, tetapi
mengapa hal ini masih bisa terjadi.

Kemudian saya bertanya pada sang bapak ini. “Pak, apakah bapak pernah mengajak salah
seorang anak saja untuk pergi keluar bersama bapak sendiri? Atau mungkin bersama bapak
dan ibu?” Jawabnya “Itu tidak pernah terjadi selama 13 tahun saya menikah dan berkeluarga.
Kita selalu pergi bersama-sama.” Nah, inilah masalahnya “Loh, kok bisa?” Kata bapak itu
terkejut.

Mungkin anda bisa juga mengatakan “Bukankah itu juga hal yang bagus? Keluar bersama-
sama sebagai sebuah keluarga. Bukankah itu menjalin sebuah kebersamaan?” Ya, itu
memang menjalin sebuah kebersamaan, tetapi anak anda juga memerlukan sesuatu yang lain
lagi. Dia ingin dianggap sebagai individu yang spesial.

Ketika anda keluar hanya dengan salah satu anak saja, katakanlah dengan anak nomor 1 saja
kali ini, maka dia akan merasa bahwa dirinya spesial. Ia akan merasa bahwa dirinya adalah
yang diperhatikan untuk saat itu. Lain kali ketika anda keluar dengan anak nomor 2 saja, dan
dia akan merasa bahwa dia juga diperhatikan.

Karena sebagai anak nomor 2, hal yang yang sering terjadi adalah dia akan selau merasa
sebagai nomor 2, karena memang itulah kenyataannya. Dia tidak akan pernah merasakan
kapan jadi nomor 1. Nah, sampai dia tua pun si kakak pasti menjadi nomor 1 dan ia jadi
nomor 2, bukankah seperti itu.
Karena itu anda perlu mengantisipasi perasaan ini, dengan cara menjadikannya nomor 1 pada
satu waktu tertentu. Ajaklah dia keluar, istimewakan dia, buat dia merasa bahwa dirinya
nomor 1. Imbangi dengan sebuah nasihat bahwa kakaknya juga penting.

Katakan kepada anak anda yang nomor 2, misalkan pada saat anda mungkin mengajaknya
makan di luar, “Bagaimana kalau kita belikan kakak makanan kesukaanya?” Disini anda
membuatnya merasa penting, tetapi anda juga membuatnya untuk mempunyai rasa perduli
pada saudaranya sendiri.

Nah, itu adalah hal-hal yang kecil yang dapat anda lakukan, agar persaingan-persaingan
seperti ini tidak mencuat menjadi sebuah isu yang panas di dalam keluarga. Lakukan hal ini
sejak mereka masih kecil.

“Bagaimana kalau anak saya sudah besar?” Anda masih punya waktu untuk melakukannya
sekarang. Perbaiki semuanya dan anda akan melihat hubungan mereka akan jauh lebih baik
lagi, dan sebagai sebuah keluarga akan sangat kokoh dan sangat kuat.