Vous êtes sur la page 1sur 65

1

Pengertian Fraud
Black’s Law Dictionary :
“embracing all multivarious means which human
ingenuity can devise,and which are resorted to by
one individual / to get an advantage over another /
by false suggestions or suppressions of truth, and
includes all surprise, trick, cunning, or
dissembling, and any unfair way by which /
another is cheated”

2
Pengertian Fraud

John Phillips (Supreme of Justice Australia):


“fraud is a dishonest act, committed by deceitful means,
with criminal intent”

Pengertian Fraud dalam perspektif pengacara:


“ dishonest advantage is obtained by any deceitful
means”
3
Aspek Fraud

 Penipuan
 Tidak jujur
 Niat
 Penyembunyian

4
KATEGORI FRAUD

Yang disidangkan ke pengadilan ( 20%)


investigasi

Yang diketemukan tetapi tidak sampai ke Pengadilan (20%)

Yang tercium tetapi belum diketemukan (60%)

Accountant's Guide to Fraud Detection & Control


Davia,H.R et al 2000 5
Faktor-faktor pendorong terjadinya fraud

Kesempatan

6
Pelaku Fraud

White-collar criminals were considerably older


One survey of fraud prepetrators showed that
the largest group of prepetrators by age was
people 36 to 45 years old
Fraudster tends to have much more stable
family situations.
They were more likely to be active church
members.
They were more educated.
When they were compared with college
students, they differed only slightly.
Pelaku Fraud (report to the nation)

DR.Gilbert Geis Pelaku :Karyawan :58% ,


Management :30 %,Pemilik :12%
Frustated Researcher Nilai kerugian per kejadian:
1993 -1996 Karyawan $60ribu,Managers
$250ribu,Pemilik $1 juta
Pelaku pria : wanita = 4:1
Umur : 35 - 46
Pendidikan : SLTA 42%,S-1 45%,
S-2 13%
Mengapa harus memahami
segitiga fraud?

Sebagai alat pencegahan atau cara


untuk menghindari salah satu dari
3 unsur penyebab fraud, sehingga
fraud dapat dicegah dengan cara
menghilangkan salah satu atau
ketiga unsur dari segitiga fraud.

10
Treadway Commission (National Commission
on Fraudulent Financial Reporting)

• Komite audit independen (mandatory independent


audit committee) menggunakan direktur dari luar
organisasi.
• Piagam tertulis (written charter) yang menetapkan
tugas dan tanggungjawab dari komite audit.
• Komite audit harus mempunyai sumberdaya dan
wewenang yang memadai untuk mengemban
tanggungjawabnya.
• Komite audit harus memperoleh semua informasi
tentang organisasi, waspada, dan efektif.
STATEMENTS ON AUDITING
STANDARDS (SAS) NO 82

 setiap audit harus meningkatkan prospek


dalam mendeteksi kecurangan.
 melakukan tes detail atau prosedur
substantif secara akurat, dengan tidak
menyandarkan diri terhadap tes
pengendalian
 Dalam melakukan audit memasukkan unsur
dadakan (surprise)
STATEMENT ON AUDITING STANDARDS
(SAS) NO. 99

Mengidentifikasi risiko kecurangan dengan:


 Melakukan brainstorming
 Bertanya kepada ke manajemen
 Melaksanakan prosedur analitis.
Fraud Risk Factors
Misstatement from fraudulent financial
reporting

 Faktor risiko karena karakteristik manajemen dan


pengaruhnya terhadap lingkungan pengendalian.
 Faktor risiko karena kondisi industri
 Faktor risiko berhubungan dengan karakteristik
operasi dan stabilitas keuangan.
Penggelapan asset
 Faktor risiko kerentanan atau kemudahan aset
yang bersangkutan diselewengkan (uang kas
jumlah besar, aset berharga mudah dijual,
persediaan berharga dan sebagainya).
 Faktor risiko berkaitan dengan pengendalian
intern.
Penanggungjawab Pencegahan dan
Pendekteksian Fraud

 manajemen,
 pimpinan institusi
 Otoritas lain yang
berkepentingan dalam
pencapaian tujuan suatu
organisasi

16
Peran Auditor dalam Pencegahan dan
Pendekteksian Fraud

Memberikan:
 kontribusi kepada manajemen berupa
peringatan dini terhadap potensi terjadinya
fraud,
 rekomendasi perbaikan terhadap kelemahan
sistem pengendalian yang mengakibatkan
perbuatan fraud terjadi

17
Tanggungjawab Manajemen dalam
Pencegahan dan Pendeteksian Fraud
 Pengembangan lingkungan pengendalian
 Penetapan Tujuan dan Sasaran Organisasi yang
realistis.
 Menetapkan aturan perilaku (code of conduct)
 Mewujudkan dan memelihara kebijakan otorisasi yang
tepat
 Kebijakan, praktik, prosedur, pelaporan dan
mekanisme lainnya untuk memonitor aktivitas dan
menjaga asset khususnya yang memiliki tingkat risiko
tinggi dan bernilai mahal.
 Mekanisme komunikasi informasi-informasi yang
dapat dipercaya serta berkesinambungan
18
Tanggungjawab Manajemen dalam
Pencegahan dan Pendeteksian Fraud
 Pengembangan lingkungan pengendalian
 Penetapan Tujuan dan Sasaran Organisasi yang
realistis.
 Menetapkan aturan perilaku (code of conduct)
 Mewujudkan dan memelihara kebijakan otorisasi yang
tepat
 Kebijakan, praktik, prosedur, pelaporan dan
mekanisme lainnya untuk memonitor aktivitas dan
menjaga asset khususnya yang memiliki tingkat risiko
tinggi dan bernilai mahal.
 Mekanisme komunikasi informasi-informasi yang
dapat dipercaya serta berkesinambungan
19
Pengertian Upaya Pencegahan
Pencegahan fraud adalah upaya yang terintegrasi yang
dapat menekan terjadinya faktor penyebab fraud (fraud
triangle) yaitu :
 Memperkecil peluang terjadinya kesempatan untuk
berbuat kecurangan
 Menurunkan tekanan kepada pegawai agar ia
mampu memenuhi kebutuhannya
 Mengeliminasi alasan untuk membuat
pembenaran/rasionalisasi atas tindak kecurangan
yang dilakukan.

20
Tujuan Pencegahan
a. prevention - dapat mencegah terjadinya fraud secara
nyata pada semua lini organisasi;
b. deterence - menangkal pelaku potensial bahkan
tindakan untuk yang bersifat coba-coba;
c. discruption - mempersulit gerak langkah pelaku
fraud sejauh mungkin;
d. identification - mengidentifikasi kegiatan berisiko
tinggi dan kelemahan pengendalian;
e. civil action prosecution - melakukan tuntutan dan
penjatuhan sanksi yang setimpal atas perbuatan
kecurangan kepada pelakunya.

21
PRASYARAT PENCEGAHAN FRAUD

 Komitmen Manajemen
 Komitmen Pegawai
 Sumber Daya
 Jaringan Kerja

22
PROGRAM DAN PENGENDALIAN
ANTI FRAUD

23
PROGRAM DAN PENGENDALIAN
ANTI FRAUD

• Create and Maintain a Culture of


Honesty & high ethics,
• Evaluating Antifraud Processes
and Controls
• Developing oversight process
“An Honesty Driven Culture Involves
Developing a Positive Work
Environment”
What 6 factors are crucial in creating a culture of
honesty and integrity?

Tone at the
Discipline Top

1 Create positive
6 2 workplace
Environment
Confirm-
ation

5 3
Training
pegawai 4 Hiring &
promoting
employees
What does “tone at the top” mean?
1. Developing &
Promoting a
Company Code of
Ethics

2. Walk the Talk


lingkungan kerja yang positif
 Pengakuan dan sistem penghargaan
(reward) sesuai dengan sasaran dan hasil
kinerja.
 Kesempatan yang sama bagi seluruh
pegawai
 Team berorientasi kebijakan pengambilan
keputusan kolaborasi
 Program kompensasi secara profesional
 Pelatihan secara profesional dan prioritas
organisasi dalam pengembangan karier.
Merekrut dan mempromosikan
pegawai secara proaktif
 Investigasi atas latar belakang individu yang dipertimbangkan untuk jabatan atau
promosi khususnya jabatan yang memerlukan kepercayaan.
 Chek dan rechek pendidikan, sejarah pekerjaan dan referensi pribadi kandidat
 Pelatihan secara rutin untuk seluruh pegawai mengenai nilai-nilai perusahaan dan
aturan perilaku.
 Dalam review kinerja reguler termasuk di antaranya evaluasi kontribusi
pegawai/individu dalam mengembangkan lingkungan kerja yang positif sesuai dengan
nilai-nilai perusahaan dan standar perilaku.
 Terus menerus melakukan evaluasi obyektif atas kepatuhan terhadap nilai-nilai
perusahaan dan standar perilaku, dan setiap pelanggaran ditangani segera.
Informasi yang disampaikan
dalam training

 Tugasnya untuk menyampaikan masalah-


masalah tertentu
 Daftar jenis masalah, termasuk kecurangan
yang terjadi dan yang dicurigai harus
dikomunikasikan dan kalau perlu diberi contoh
yang spesifik
 Informasi bagaimana mengkomunikasikan
masalah tersebut.
CONFIRMATION

Seluruh pegawai termasuk manajemen senior


dan fungsi keuangan, dan bidang-bidang yang
rentan terhadap perilaku tidak etis (penjualan,
pembelian dan marketing) hendaknya
menandatangani aturan perilaku minimal
setahun sekali sebagai penegasan atas
persetujuannya
DISCIPLINE
Cara menangani kecurangan memberikan
pesan yang tegas mengenai kebijakan
pencegahan pada seluruh perusahaan.

• Investigasi yang lengkap segera dilakukan.


• Tindakan yang tepat dan konsisten diambil
terhadap seluruh pelaku.
• Pengendalian yang relevan dinilai dan
ditingkatkan
• Komunikasi dan pelatihan dilaksanakan untuk
menegakkan nilai-nilai perusahaan, aturan perilaku
dan kesadaran pegawai.
What expectations does management
need to communicate?
1. Appropriate Values &
Ethics
2. Fraud Awareness &
Training
3. Consistent Punishment of
Violators
EVALUATING ANTIFRAUD
PROCESSES AND CONTROLS

1. Identifying and Measuring Fraud Risks


2. Mitigating Fraud Risks
3. Implementing and Monitoring
Appropriate Internal Controls
Identifying and Measuring Fraud
Risks

 Penaksiran risiko kecurangan harus mempertim-


bangkan kerentanan entitas dari tindakan kecurangan.
 Apakah ancaman dari risiko tersebut dapat
menghasilkan salah penyajian yang material dan
kerugian yang besar dari organisasi.
 Dalam mengidentifikasi risiko kecurangan perlu
mempertimbangkan sifat organisasi, industri atau
karakteristik spesifik yang mempengaruhi risiko
kecurangan.
Mitigating Fraud Risks

Untuk mengurangi dan mengeliminasi


risiko kecurangan tertentu perusahaan
melakukan perubahan aktivitas dan
prosesnya.
Implementing and Monitoring
Appropriate Internal Controls
Pengendalian internal yang efektif termasuk
dikembangkannya lingkungan pengendalian,
sistem informasi yang efektif dan aman, aktivitas
pengendalian dan monitoring.

Manajemen mengevaluasi implementasi


pengendalian internal yang berkaitan dengan
bidang-bidang yang merupakan risiko lebih
tinggi dari tindakan kecurangan, termasuk
proses penyusunan laporan keuangan.
DEVELOPING AN APPROPRIATE
OVERSIGHT PROCESS

 Audit Committee or Board


of Directors
 Management
 Internal Auditors
 Independent Auditors
KOMITE AUDIT
Menilai apakah manajemen telah mengidentifikasi
risiko kecurangan, termasuk implementasi
program tindakan anti kecurangan.

Pengawasan yang aktif oleh Komite Audit


menegaskan komitmen manajemen menciptakan
budaya anti kecurangan atau tidak ada toleransi
bagi kecurangan (zero tolerance approach).
MANAGEMENT

Manajemen bertanggung jawab mengawasi dan


mengatur aktivitas yang dilakukan pegawai

Manajemen bertanggung jawab dalam


penyusunan laporan keuangan, menetapkan
dan menjaga pengendalian internal
INTERNAL AUDITOR
1. Internal auditor mengevaluasi atau menaksir
risiko kecurangan dan pengendaliannya guna
pemberian saran tindak aksi mengurangi risiko
dan meningkatkan pengendalian.
2. Penaksiran risiko berfungsi sebagai dasar
penyusunan rencana pemeriksaan dan
pengetesan pengendalian internal.
3. Internal auditor secara proaktif melakukan
pemeriksaan untuk meneliti adanya korupsi,
penggelapan aset dan kecurangan dalam
penyusunan laporan keuangan.
INDEPENDENT AUDITOR

Auditor independen membantu


manajemen dan Dewan Komisaris
(Komite Audit) dengan penilaian atas
proses identifikasi, penaksiran dan
respons terhadap risiko kecurangan.
STRATEGI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
FRAUD - 10 ATRIBUT FCP
KEBIJAKAN ANTI FRAUD

STRUKTUR
PERTANGGUNGJAWABAN

PENILAIAN RISIKO FRAUD

KEPEDULIAN PEGAWAI
KEPEDULIAN
PELANGGAN & MASYARAKAT

SISTEM PELAPORAN FRAUD

PERLINDUNGAN PELAPOR

PENGUNGKAPAN KPD
PIHAK EKSTERNAL

PROSEDUR INVESTIGASI

STANDAR
PERILAKU & DISIPLIN
Kebijakan Anti Fraud
 Secara jelas mengkomunikasikan nilai-nilai organisasi dan
kegiatan utama (core business).
 Mengartikulasikan komitmen pimpinan terhadap prinsip-
prinsip di atas.
 Berdasarkan pada filosofi manajemen risiko. Potensi Korupsi
dalam Pelaksanaan Tugas Utama
 Berisi respon yang layak terhadap ancaman yang telah
diidentifikasikan. Tindakan Organisasi dalam menangani
Fraud
 Perangkat Pendukung Kebijakan Terintegrasi (9 Atribut
Program Pencegahan Korupsi).
Struktur Pertanggungjawaban
 Setiap tingkatan manajemen dan mereka perlu dibuat
peduli bahwa tanggungjawab ini melekat pada posisi
mereka dalam hal pencegahan dan pendeteksian fraud.
 Pada berbagai tingkatan manajemen tanggungjawab
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
 Pada tingkat stratejik, tanggungjawab manajemen
untuk mencegah dan mendeteksi fraud harus tercermin
pada rencana organisasi, rencana manajemen, dan
manual operasi.
 Pada tingkat operasional, tanggungjawab manajemen
untuk mencegah dan mendeteksi fraud harus
dicantumkan dalam uraian tugas, edaran, dan prosedur.
Penilaian Risiko Fraud
 Manajemen harus memutuskan bagaimana mengelola risiko. Kajian atas
risiko fraud menghasilkan profil risiko dan informasi yang diperlukan
untuk menyikapi fraud dengan cara yang hemat.
 Kajian risiko kejadian korupsi akan mencakup elemen berikut :
 Mengidentifikasi fungsi-fungsi utama
 Mengkaji dan merangking sifat dan luasnya kerentanan fraud setiap
bidang/fungsi
 Mengidentifikasi bentuk ancaman fraud pada setiap bidang/fungsi
 Mengkaji probabilitas kejadian ancaman yang teridentifikasi
 Manajemen harus selalu mengupdate informasi berkaitan dengan risiko
fraud.
Kepedulian Pegawai
 Pegawai mengetahui lebih banyak dari siapapun bilamana
terdapat kesenjangan, kelemahan dan kegagalan dalam sistem
organisasi.
 Untuk dapat secara aktif dan positif memberi kontribusi pada
pengendalian fraud, pimpinan dan staf perlu :
 Mendorong kultur tempat bekerja yang etis.
 Memahami nilai dan pentingnya personil.
 Memberi kontribusi pada pengendalian atas fraud.
 Mengembangkan pemahaman tentang praktik, sistem, dan
pengendalian yang baik.
 Menjaga praktek terbaik mencegah fraud.
 Mewaspadai tipe kecurangan yang berbeda-beda di tempat kerja dan
bagaimana mendeteksinya.
Kepedulian Pelanggan dan
Masyarakat

 Komunikasi atas informasi mengenai tindakan yang


diharapkan dilakukan dalam hal terdapat fraud yang
diidentifikasi
 manfaat serta peningkatan kinerja sebagai hasil pengendalian
atas fraud bila terdapat informasi dari masyarakat.
Sistem Pelaporan Fraud
 Pemberi informasi kemungkinan merasa kurang nyaman membuat
laporan dimana tidak ada sarana untuk melakukannya.

 Dokumentasi dan distribusi sistem pelaporan akan meminimalisir


ketidakpastian dan memperjelas tanggungjawab karyawan.
Perlindungan Pelapor
Organisasi harus menyatakan komitmen untuk mendukung
dan melindungi pihak yang kurang puas / pemberi
informasi dalam mengidentifikasi kecurangan. Komitmen
tersebut dinyatakan secara tertulis dan didokumentasikan
serta dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang potensial.
Pengungkapan kpd Pihak
Eksternal
 Pimpinan hendaknya menjelaskan bahwa tidak ada pengecualian
untuk melaporkan kejadian fraud kepada penegak hukum. Selain
karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan,
obyektivitas penanganan fraud oleh pihak yang independen akan
lebih terjamin.
 Namun demikian, perlu diatur mekanisme pelaporan kepada pihak
luar.
 Pelaporan kepada pihak luar dapat dilakukan kepada KPK,
Kejaksaan Agung, Kepolisian Negara, BPK, BPKP, Inspektorat
Jenderal sebagaimana dimaksudkan dalam penjelasan pasal 6
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Prosedur Investigasi

Merupakan hal yang sangat penting bahwa apabila


sekali fraud telah terdeteksi, maka harus ditangani dan
diinvestigasi secara kompeten. Setiap kejadian fraud
harus diinvestigasi sebagai dasar melakukan tindakan
lebih lanjut.
DETECTION FRAUD
 Pendeteksian kecurangan meliputi identifikasi
symptoms yang sering mengindikasikan kecurangan
baik yang sedang, akan, atau telah terjadi kecurangan.
 Sedangkan investigasi kecurangan meliputi penentuan
siapa yang melakukan, modus operandi, kapan
kecurangan tersebut dilakukan, apa motivasinya, dan
berapa jumlah uang atau aset lainnya yang diambil.
Tujuan Pendeteksian Fraud
Deteksi fraud adalah suatu persoalan untuk mengetahui :
 Bahwa tindakan fraud telah terjadi (ada).
 Apakah organisasi/perusahaan menjadi korban atau
sebagai pelaku fraud.
 Adanya kelemahan dalam pengendalian intern serta
moral pelaku yang menjadi penyebab terjadinya fraud
 Adanya kondisi lingkungan di organisasi/ perusahaan
yang menyebabkan terjadinya fraud.
 Adanya suatu kesalahan dan ketidak beresan

57
Inductive Methode
 Menggunakan commercial data-mining software, seperti
Audit Command Language (ACL), untuk melihat
kejanggalan-kejanggalan dalam data base.
 Menggunakan Digital Analysis: analytical review (spt
menggunakan Benford’s Law), untuk menemukan adanya
kemungkinan terjadinya kejanggalan atau yang tidak
biasa dalam akuntansi.
Deductive Methode

 Memperoleh pengertian tentang bisnis dan


operasi perusahaan;
 Memperoleh pengertian kecurangan yang
dapat terjadi;
 Menentukan gejala kecurangan yang dapat
dilakukan;
 Menggunakan data base dan sistim informasi
untuk mencari gejala-gejala kecurangan;
 Tindak lanjuti gejala tersebut.
Kecurangan Laporan Keuangan
(Financial Statement Fraud).
 Analisis vertikal, yaitu teknik yang
digunakan untuk menganalisis hubungan
antara item-item dalam laporan laba rugi,
neraca, atau Laporan arus kas dengan
menggambarkannya dalam persentase.
 Analisis horizontal, yaitu teknik untuk
menganalisis persentase-persentase
perubahan item laporan keuangan selama
beberapa periode laporan.
 Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur
hubungan antara nilai-nilai item dalam
laporan keuangan.
Asset Misappropriation
(Penyalahgunaan aset).

pemahaman yang tepat atas pengendalian


intern yang baik dalam pos-pos tersebut
akan sangat membantu dalam
melaksanakan pendeteksian kecurangan.
Asset Misappropriation
(Penyalahgunaan aset).
1. Analytical review
2. Statistic sampling
3. Vendor or outsider complaints
4. Site visit – observation

Elemen dalam struktur pengendalian intern yang


perlu diperhatikan dengan baik, yaitu
Lingkungan pengendalian, Sistem akuntansi,
dan prosedur pengendalian,
Corruption

 The Big Spender  The Sleaze factor


 The Gift taker  The too Succesful bidder
 The Odd couple  Poor quality, higher prices
 The Rule breaker  The one-person operation
 The Complainer
 The Genuine need
Indikator Terjadinya Kecurangan
1. Transaksi yang tidak terotorisasi
2. Pengendalian yang tidak dipatuhi.
3. Kerugian yang sangat mencolok berkaitan
dengan adanya kerugian.
4. Motivasi yang ada di manajemen.

64
65