Vous êtes sur la page 1sur 8

Usia Awal Timbulnya Penyakit Pada Subyek Dengan Severe Periodontitis: Studi

Retrospektif 9 Sampai 34 Tahun

Abstrak

Tujuan: Tujuannya adalah untuk menilai secara retrospektif usia awal penyakit pada
kelompok pasien usia 30-45 tahun, didiagnosis dengan severe generalised periodontitis.

Bahan dan Metode: Tujuh puluh empat pasien setuju untuk menjadi bagian dari penelitian
ini. Berkas pasien dan radiografi 42 pasien diambil dari > 80 klinik gigi swasta dan umum.
Dilakukan analisis pada daerah interproksimal di radiografi yang menampilkan Cement-
Enamel Junction (CEJ) yang dapat diidentifikasi dan bone crest (BC) alveolar. Jarak antara
CEJ dan BC diukur, dan dua ambang batas digunakan; ≥ 3 mm dan ≥5 mm. Dilakukan
pencatatan usia terendah pasien di mana pemeriksaan radiografi menunjukkan jarak CEJ-BC
≥3 mm (F3) dan ≥5 mm (F5) di segala sisi. Dan juga dilakukan penilaian usia tertinggi pasien
di mana pemeriksaan radiografi menunjukkan tidak adanya derah dengan CEJ-BC ≥3 mm
(L0).

Hasil: Kumpulan radiografi lengkap termasuk periode sebelum terjadi kerusakan periodontal
(L0) dan stadium penyakit F3, F5 dan pada saat rekruitmen kembali diambil pada 19 pasien.
Gejala awal penyakit periodontal, yaitu interval antara L0 dan F3, terjadi rata-rata antara 22,3
dan 28,1 tahun dan daerah yang menunjukkan kehilangan tulang parah (F5) terdeteksi pada
usia sekitar 32,4 tahun.

Kesimpulan: Severe generalised periodontitis terdapat pada subyek berusia 30 sampai 45


tahun dari sampel yang terkumpul dan utamanya dimulai pada usia antara 22 dan 28 tahun.

PENDAHULUAN

Severe Periodontitis yang ditandai dengan kehilangan perlekatan dan tulang pendukung
adalah penyakit yang umum. Dalam tinjauan sistematis mengenai beban global Severe
Periodontitis, Kassebaum et al. (2014) melaporkan bahwa itu adalah kondisi keenam yang
paling umum di dunia dengan prevalensi keseluruhan 11,2%. Analisis lebih lanjut
menunjukkan peningkatan yang jelas dalam prevalensi Severe Periodontitis pada usia 30 dan
40 tahun, yang dikaitkan dengan puncak kejadian penyakit pada usia 38 tahun. Kassebaum
dkk. (2014) juga melaporkan bahwa tingkat kejadian mulai meningkat pada usia sekitar 20
tahun. Sebagaimana evaluasi cross-sectional tentang prevalensi periodontitis secara
keseluruhan pada populasi orang dewasa > 30 tahun (Eke, Page, Wei, Thornton-Evans, &
Genco, 2012; Eke et al., 2015; Holtfreter, Kocher, Hoffmann, Desvarieux, & Micheelis ,
2010), individu berusia 20 sampai 30 tahun (Lons, Fernandez, Jara, & Baelum, 2001), anak-
anak dan remaja (López, Fernández, Jara, & Baelum, 2001) mengungkapkan bahwa
prevalensi periodontitis lebih tinggi di antara orang yang lebih tua dari pada orang muda,
diasumsikan bahwa periodontitis dimulai sejak usia dini dan berlanjut dari waktu ke waktu
(Thomson, Shearer, Broadbent, Foster Page, & Poulton, 2013). Waktu timbulnya gejala awal
penyakit untuk kelompok rata-rata pasien dengan severe periodontitis, bagaimanapun, tidak
diketahui.

Karena deteksi awal gejala periodontitis didasarkan pada temuan waktu antara
dokumentasi paling awal dalam riwayat kehilangan perlekatan dan tulang dan pemeriksaan
terakhir yang mengungkapkan tidak adanya kehilangan perlekatan dan tulang, penilaian
dibatasi pada evaluasi retrospektif terhadap kejadian yang telah berlalu. Selain itu, besarnya
kehilangan perlekatan dan tulang perlu melebihi batasan teknik pengukuran yang
diidentifikasi dalam protokol klinis dan radiologis saat ini. Jadi, dalam kenyataan klinis, tidak
mungkin untuk secara jelas mendeteksi awal gejala periodontitis. Karena kesulitan yang jelas
untuk menilai titik waktu awal gejala penyakit pada periodontitis, informasi dalam literatur
sangat langka. Pada awal terjadinya periodontitis, misalnya Localized Aggresive
Periodontitis, evaluasi retrospektif pada radiografi pasien mengungkapkan bahwa gejala awal
penyakit termasuk pada gigi sulung (Sjödin, Crossner, Unell, & Ostlund, 1989; Sjödin,
Matsson, Unell, & Egelberg, 1993). ). Penilaian retrospektif Severe Periodontitis pada subyek
berusia 30 sampai 40 tahun, yaitu periode yang ditandai dengan peningkatan prevalensi
(Kassebaum et al., 2014), tidak tersedia.

Akses ke register pasien di bidang kedokteran gigi memberikan kemungkinan khusus


untuk melacak informasi secara retrospektif dari rekam medis pasien dan radiografi, bahkan
di luar ambang batas 10 tahun dari kewajiban arsip yang dibutuhkan dari pihak berwenang.
Dengan menggunakan registrasi Layanan Kesehatan Gigi Umum, Wilayah Västra Götaland,
Swedia dan Badan Asuransi Sosial Swedia (SSIA, Försäkringskassan), tujuan dari penelitian
ini adalah untuk menilai secara retrospektif usia gejala awal penyakit pada sekelompok
pasien, usia 30- 45 tahun, didiagnosis dengan Severe Generalized Periodontitis.

BAHAN DAN METODE

Sebanyak 103 pasien, usia 30-45 tahun, didiagnosis dengan Severe Generalized
Periodontitis. Dengan > 30% kehilangan tulang pada > 30% gigi dan dirawat di Klinik
Periodontik di Gothenburg, Pelayanan Kesehatan Gigi Umum, Wilayah Västra Götaland ,
Swedia, diidentifikasi. Tujuh puluh empat pasien setuju untuk menjadi bagian dari penelitian
ini. Dewan peninjau manusia Universitas Gothenburg menyetujui protokol penelitian dan
pasien menerima informasi tertulis dan menandatangani formulir informed consent sebelum
pendaftaran.

Data dari pemeriksaan klinis yang dilakukan di Klinik Periodontik dikumpulkan dari
file pasien, dan radiografi saat ini diambil. Dengan demikian, bleeding on probing (BoP),
probing pocket depth (PPD), peningkatan mobilitas gigi, keterlibatan furkasi dan jumlah gigi
yang tersisa dicatat bersamaan dengan data kesehatan umum. Informasi tentang riwayat gigi
diperoleh dengan wawancara, dan permintaan untuk file pasien lama dan radiograf dibuat
untuk > 80 klinik gigi swasta dan umum.
Analisis Radiografi

Radiografi digital dan analog intra-oral disertakan. Radiografi digital dianalisis dengan
menggunakan perangkat lunak Romexis® (Planmeca, USA) dan perangkat lunak PACS
(Siemens, Jerman), sedangkan radiografi analog dianalisis dengan menggunakan lensa
pembesar (7x) dengan skala 0,1 mm. Daerah interproksimal pada radiograf yang
menampilkan cement-enamel junction (CEJ) yang dapat diidentifikasi dan puncak tulang
alveolar / Bone Crest (BC) disertakan. Jarak vertikal antara CEJ dan BC diukur, dan dua
ambang batas digunakan; ≥ 3 mm dan ≥5 mm. Jumlah daerah interproksimal yang dinilai dan
usia pasien pada setiap pemeriksaan radiografi dicatat. Usia pasien terendah dimana
pemeriksaan radiografi menunjukkan jarak CEJ-BC ≥ 3 mm dan ≥5 mm di daerah manapun
dicatat dan disebut "first 3 mm" (F3) dan "first 5 mm" (F5). Demikian pula, usia pasien
tertinggi di mana pemeriksaan radiografi menunjukkan tidak adanya daerah dengan CEJ-BC
≥ 3 mm ("Latest 0"; L0) dinilai. Penilaian ganda F3 dilakukan oleh dua pemeriksa (ST-M dan
BC), dan kesepakatan dinyatakan dengan skor Kappa Cohen.

HASIL

Data demografi semua pasien disajikan pada Tabel 1. 74 pasien (sampel penelitian) yang
setuju untuk menjadi bagian penelitian berusia antara 30 dan 45 tahun (rata-rata 38,4 ± 4,0)
pada saat pemeriksaan klinis. Sementara 53% pasien adalah perokok, 8% menggunakan
tembakau tanpa asap. Pada saat pemeriksaan klinis, 12 pasien menderita asma atau berbagai
jenis alergi. Dua orang memiliki diabetes tipe 2, dan satu telah sembuh dari kanker payudara.
Tiga pasien melaporkan penyakit kardiovaskular dengan perdarahan otak, trombosis dan
multiple vault-stenosis. Tiga pasien memiliki hipertonia, dan dua pasien penderita psoriasis.
Empat puluh empat dari 74 pasien tidak melaporkan adanya masalah kesehatan umum. BoP
terjadi pada 74,2 ± 23,9% lokasi, dan frekuensi PPD ≥ 4 mm dan ≥6 mm masing-masing
adalah 58,2% dan 31,7%. Rata-rata, setiap pasien terdapat tiga gigi dengan tingkat
keterlibatan furcation II atau III, sedangkan sekitar empat gigi setiap pasien menunjukkan
mobilitas yang meningkat dengan derajat yang bervariasi. Evaluasi radiografi "akhir", yaitu
yang diperoleh bersamaan dengan pemeriksaan klinis dan pembenaran inklusi pasien dalam
penelitian ini, mengungkapkan bahwa 75% dan 46% daerah interproksimal yang dievaluasi
pada masing-masing CEJ-BC ≥ 3 mm dan CEJ- BC ≥5 mm. Data demografi dan klinis dari
29 pasien yang tidak masuk pada penelitian ini secara keseluruhan serupa dengan yang
dijelaskan untuk 74 pasien yang setuju untuk menjadi bagian dari penelitian ini (Tabel 1).

Data dari file pasien dan radiograf yang mewakili pemeriksaan sebelumnya diperoleh dari 42
(58%) dari 74 pasien. Alasan paling umum untuk tidak adanya informasi riwayat gigi
sebelumnya adalah bahwa waktu yang lama (> 10 tahun) telah berlalu sejak kunjungan
terakhir. Di antara 42 pasien yang memiliki akses terhadap radiograf dan informasi
sebelumnya pada file pasien, 19 pasien memiliki dokumentasi dari periode sebelum tanda-
tanda awal kerusakan periodontal (F3), yaitu CEJ-BC ≥3 mm, sementara 26 pasien
mempresentasikan dokumentasi dari periode sebelum tanda awal kerusakan periodontal parah
(F5; CEJ-BC ≥5 mm). Waktu pengamatan pada 19 pasien adalah 21,6 ± 9,2 tahun; kisaran 9-
34 tahun. Pasien dengan masa dokumentasi 34 tahun menyumbang 25 pemeriksaan radiografi
terpisah dari usia 4-38 tahun. Usia termuda dokumentasi di antara pasien adalah 3 tahun.
Pada 10 pasien, radiograf diambil dari usia ≤ 11 tahun. Serangkaian radiograf dari satu pasien
disajikan pada Gambar 1. Data demografi yang disajikan pada Tabel 1 untuk sub sampel dari
42 pasien (sampel file pasien), dan 19 pasien (sampel target) konsisten dengan yang
dilaporkan untuk sampel penelitian total ( n = 74).

TABEL 1. Data demografi dan klinis pada (i) pasien yang setuju untuk menjadi bagian dari penelitian ini
(sampel penelitian, n = 74), (ii) subsampel pasien dengan radiografi sebelumnya (sampel file pasien, n =
42), (iii) sampel dari pasien dengan radiografi lengkap (sampel target, n = 19) dan (iv) pasien yang tidak
memasuki penelitian (n = 29: 1 meninggal, 27 tidak menanggapi dan menolak undangan untuk menjadi
bagian dari penelitian ini)

Jumlah radiografi yang diperoleh pada masing-masing 9,7 ± 6,6 pemeriksaan di antara
19 pasien dari sampel target bervariasi antara 2 dan 22 dan termasuk proyeksi bite-wing dan
rekaman full-mouth. Jumlah daerah interproksimal yang dinilai pada setiap pemeriksaan rata-
rata 24,4 ± 9,7 untuk bite-wing dan 48,6 ± 9,5 untuk protokol full mouth. Kesepakatan antara
dua pemeriksa dalam penilaian F3 di antara 19 pasien adalah 0,89 (skor Kappa).

Awal periodontitis, seperti yang didefinisikan oleh interval waktu antara usia tertinggi
pemeriksaan radiografi yang menunjukkan tidak adanya kerusakan periodontal (L0) dan usia
terendah CEJ-BC ≥3 mm (F3), terjadi antara 22,3 ± 3,8 dan 28,1 ± 5,3 tahun. Sebagai
tambahan, F3 diamati secara konsisten di beberapa lokasi (37,3 ± 29,1% dari lokasi yang
dianalisis). Tanda awal kerusakan periodontal parah atau Severe Periodontitis (CEJ-BC ≥5
mm; F5) rata-rata terdeteksi pada usia 32,4 ± 5,7 tahun (Tabel 2). F3 tidak terdeteksi pada
gigi sulung. Distribusi usia pasien pada L0, F3, F5 dan pemeriksaan klinis pada saat
rektuitmen kembali diilustrasikan pada Gambar 2. Garis yang menghubungkan usia masing-
masing dari 19 pasien dengan kumpulan data lengkap (warna merah) menunjukkan pola
perbedaan usia yang konsisten antara L0, F3, F5 dan usia saat rekruitmen. Jadi, usia yang
lebih tinggi pada L0 adalah koheren/berbanding lurus dengan usia yang lebih tinggi pada
tahap deteksi penyakit berikut. Pola serupa juga ditemukan pada tahap F3, F5 dan
TABEL 2. Usia pasien (kelompok sasaran, n = 19) menurut ambang CEJ-BC di radiografi (L0, F3, F5).
Mean± SD

pemeriksaan klinis pada saat pemulihan untuk sembilan pasien tambahan dengan ≥9 tahun
dokumentasi retrospektif radiografi (warna biru).

DISKUSI

Studi retrospektif saat ini mengevaluasi radiografi dari pasien dengan severe generalised
periodontitis untuk menilai gejala awal penyakit. Kumpulan radiografi lengkap yang
mewakili periode sebelum kerusakan periodontal (L0) dan stadium penyakit F3, F5 dan saat
pemulihan diambil pada 19 pasien. Gejala awal penyakit terjadi rata-rata antara 22,3 dan 28,1
tahun dan lokasi yang menunjukkan kehilangan tulang parah (F5) terdeteksi pada usia sekitar
32,4 tahun.

Klasifikasi periodontitis yang dibuat pada International Workshop of Periodontal Diseases


tahun 1999 menekankan dua bentuk utama periodontitis yang terjadi pada orang dewasa;
periodontitis kronis dan agresif. Sementara periodontitis kronis digambarkan sebagai bentuk
umum yang ditandai dengan tingkat perkembangan yang lambat, periodontitis agresif
terkenal kurang umum, berkembang dengan cepat dan terjadi terutama pada individu <35
tahun. Dalam konteks ini, menarik untuk diperhatikan bahwa banyak pasien yang termasuk
dalam penelitian ini adalah > 35 tahun pada saat pemeriksaan klinis. Sebagai analisis
radiografi, bagaimanapun, mengindikasikan gejala awal penyakit antara 22 dan 28 tahun,
pasien dari penelitian saat ini dapat diklasifikasikan sebagai kasus periodontitis yang agresif.
Pernyataan ini sesuai dengan Demmer dan Papapanou (2010), yang menyarankan sebuah
strategi untuk menggabungkan usia pasien dan perluasan / keparahan penyakit ini untuk
membedakan antara periodontitis agresif dan kronis.

Temuan tersebut dilaporkan dalam tinjauan sistematis oleh Kassebaum et al. (2014) pada
peningkatan prevalensi yang terlalu tinggi pada usia 30-40 tahun dan puncak kejadian pada
usia 38 tahun nampaknya berkorelasi dengan hasil penelitian ini. Selain itu, temuan pada
awal peningkatan angka kejadian di sekitar usia 20 tahun dilaporkan oleh Kassebaum et al.
(2014) juga menguatkan data yang disajikan dalam penelitian ini.

Konsep penelitian menggunakan desain penelitian longitudinal retrospektif atau prospektif


untuk menentukan gejala awal penyakit pada kelompok pasien yang terdefinisi dengan baik
dengan severe generalised periodontitis adalah sulit dan tidak biasa untuk alasan yang jelas.
Pendekatan longitudinal memerlukan akses radiograf yang menjangkau selama periode waktu
yang cukup. Jangka waktu dalam sampel penelitian saat ini, dengan usia berkisar antara 30
dan 45 tahun, melebihi 10-15 tahun dan pada beberapa pasien mencapai > 30 tahun. Dengan
demikian, 19 pasien mempresentasikan dokumentasi yang memadai selama periode observasi
yang substansial. Meskipun jumlah pasien ini kecil dalam pandangan pendekatan
epidemiologi, namun sampel tersebut memberikan informasi khusus mengenai gejala awal
periodontitis. Dalam konteks ini, harus diingat bahwa peraturan mengenai waktu
penyimpanan file pasien dan radiografi di Swedia dan negara-negara lain dibatasi sampai 10
tahun. Dengan demikian, waktu pengamatan di 19 pasien dengan jelas melampaui batas
waktu 10 tahun ini. Selain itu, sampel target 19 pasien tidak berbeda dengan total sampel
penelitian dari 74 pasien dalam hal data demografi dan klinis.

GAMBAR 1. Radiograf dari pasien wanita pada pendaftaran pertama pada gigi sulung pada usia 3
tahun (a), L0, 20 tahun (b), F3, 25 tahun (c), F5, 32 tahun (d) dan pada pemeriksaan klinis
(baseline), 34 tahun (e)

Studi retrospektif pada pasien dengan periodontitis lanjut seringkali lebih singkat
daripada pada penelitian ini. Dopico, Nibali, dan Donos (2016) dalam penelitian retrospektif
7 tahun mengenai perkembangan penyakit di 66 pasien periodontitis agresif melaporkan
bahwa tingkat kehilangan gigi tahunan tinggi dan lima dari 17 pasien yang awalnya
didiagnosis dengan AgP lokalised berkembang menjadi AgP generalised. Dalam studi
retrospektif lain mengenai perkembangan penyakit pada pasien AgP dan ChP oleh Onabolu,
Donos, Tu, Darbar, dan Nibali (2015), masa follow-up rata-rata hingga 6,6 tahun. Sampel
penelitian dipresentasikan oleh Dopico dkk. (2016) dan Onabolu et al. (2015) tidak hanya
mencakup periode pengamatan retrospektif yang lebih singkat, mereka juga memiliki rentang
usia pasien yang lebih luas daripada penelitian ini. Waktu pengamatan dalam penelitian
longitudinal pada sekelompok besar pasien dengan "gejala periodontitis yang lebih awal"
oleh Gunsolley dkk. (1995) diperpanjang selama 3-4 tahun. Pendekatan prospektif pada
pasien dengan gejala awal periodontitis dini diterapkan pada penelitian sebelumnya dari
kelompok kami (Thorbert-Mros & Berglundh, 2010). Dalam penelitian ini, 11 anak-anak, 7-
13 tahun, dengan localised aggressif periodontitis diperiksa ulang setelah periode 14 sampai
19 tahun. Dilaporkan bahwa dua dari subjek yang diberi tanda periodontitis, yaitu PPD ≥6
mm dan kehilangan tulang 3-4 mm pada beberapa gigi, sementara dua individu lainnya
memiliki sejumlah lokasi dengan tanda-tanda penyakit. Mengingat bahwa pasien tidak
mendapat terapi suportif selama periode 14 sampai 19 tahun, disimpulkan bahwa anak-anak
dengan localised aggressif periodontitis tidak mutlak terjadi kekambuhan periodontitis pada
usia dewasa awal. Usia di mana pasien diperiksa kembali dalam penelitian oleh Thorbert-
Mros dan Berglundh (2010), bertepatan dengan periode usia gejala awal periodontitis yang
diidentifikasi dalam penelitian ini. Dengan demikian, pola penyakit periodontitis yang terjadi
pada anak-anak dapat bervariasi dari itu, mempengaruhi individu pada usia dewasa dini.

GAMBAR 2. Distribusi usia pasien pada L0, F3, F5 dan pemeriksaan klinis pada rekrutmen untuk
sampel target pasien dengan kumpulan data lengkap (n = 19, warna merah). Usia pasien pada F3,
F5 dan pemeriksaan klinis pada perekrutan untuk tambahan sembilan pasien dengan ≥9 tahun
dokumentasi retrospektif pada radiografi (warna biru). Garis abu-abu menghubungkan nilai rata-
rata usia untuk 19 pasien dari kelompok target.

Pendekatan alternatif untuk studi longitudinal dalam penilaian usia yang potensial
untuk gejala awal periodontitis adalah desain cross-sectional tradisional dengan fokus pada
prevalensi periodontitis pada kelompok usia yang berbeda. Holtfreter dkk. (2009) dalam
sebuah studi tentang prevalensi penyakit periodontal pada sampel acak melaporkan bahwa
prevalensi dan tingkat penyakit meningkat seiring bertambahnya usia dan bahwa di antara
subjek pada kelompok usia 20-29 tahun, periodontitis terjadi pada 1% -12% tergantung pada
definisi kasus untuk bentuk penyakit periodontitis sedang dan berat. Thomson dkk. (2013)
dalam sebuah penelitian tentang terjadinya periodontitis pada pasien berusia 26, 32 dan 38
tahun, menyatakan bahwa prevalensi dan tingkat kehilangan perlekatan meningkat seiring
bertambahnya usia. Juga dilaporkan bahwa perubahan lebih jelas terjadi antara 32 dan 38
tahun dibandingkan antara 26 dan 32 tahun dan peningkatan tersebut ditandai oleh lokasi
yang baru terdeteksi dengan kehilangan perlekatan dan tidak ada kemajuan di lokasi
penyakit. Thomson dkk. (2013) juga menunjukkan implikasi klinis dari temuan yang
dilaporkan dan menyatakan bahwa penelitian kecil telah meneliti peralihan antara kesehatan
periodontal dan manifestasi penyakit. Disarankan bahwa masa transisi dalam kehidupan
adalah saat dimana tindakan pencegahan akan memiliki dampak terbesar. Dengan demikian,
hasil temuan dari analisis retrospektif dalam penelitian pada periode kehidupan pasien
dengan periodontitis parah dimana penyakit berawal ini, berkontribusi untuk mengetahui
periode usia kritis untuk intervensi pencegahan yang efektif.