Vous êtes sur la page 1sur 12

DERMATITIS KONTAK IRITAN

A. TEORI MEDIS
1. Pengertian

Dermatitis kontak ( dermatitis venenata ) merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap


unsure – unsure fisik, kimia, atau biologi. Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang sering
bersifat ekzematosoa dan disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah bahan yang iritatif
atau alergenik. Dermatitis kontak adalah peradangan oleh kontak dengan suatu zat tertentu,
ruamnya terbatas pada daerah tertentu dan seringkali memiliki batas yang tegas.

2. Penyebab

Zat – zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak melelui 2 cara yaitu :

1) Iritasi ( dermatitis iritan )


2) Reaksi alergi ( dermatitis kontak alergika )

1) Sabun detergen dan logam – logam tertentu bisa mengiritasi kulit setelah
beberapa kali digunakan.
2) Penyebab dermatitis kontak alergika

Kosmetika : Cat kuku, penghapus cat kuku, deodorant, pelemban lotion


sehabis bercukur, parfum, tabir surya.

3) Senyawa kimia ( dalam perhiasan ) : nikel

Tanaman : Racun IVY ( tanaman merambat ) racun pohon ek, sejenis


rumput liar, primros.

4) Obat – obat yang terkandung dalam kritim kulit : antibiotic ( penisilin,


sulfonagnid, neomisin ), autihistamin ( defenhidramin )
5) Zat kimia yang digunakan dalam pengelolaan pakaian.

3. Manifestasi klinik

Gejala dermatitis kontak mencakup keluhan :

a. Gatal – gatal
b. Rasa terbakar
c. Lesi kulit ( vesikel )
d. Edema yang diikuti oleh pengeluaran secret
e. Pembentukan krusta serta akhirnya mongering dan mengelupas kulit.

Reaksi yang berulang – ulang dapat disertai penebalan kulit dan perubahan pigmentasi. Invasi
sekunder oleh bakteri dapat terjadi pada kulit yang mengalami ekskoriasis karena digosok atau
digaruk. Biasanya tidak terdapat gejala sistemik kecuali jika erupsinya tersebar luas.

181 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
4. Patofisiologi

Dermatitis Kontak Iritan

Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh
bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, dalam
beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui
membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan
rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam
arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi
pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system kinin. Juga
akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan
histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan
menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis
protein.

Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya mediator- mediator.
Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu
dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.
Ada dua jenis bahan iritan yaitu :

1. Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir
semua orang,
2. Iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak
berulang-ulang. Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan
dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut.

Dermatitis Kontak Alergi


Pada dermatitis kontak alergi, ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yang menyebabkan
timbulnya lesi dermatitis ini yaitu :

1. Fase Sensitisasi

Fase sensitisasi disebut juga fase induksi atau fase aferen. Pada fase ini terjadi sensitisasi
terhadap individu yang semula belum peka, oleh bahan kontaktan yang disebut alergen kontak
atau pemeka. Terjadi bila hapten menempel pada kulit selama 18-24 jam kemudian hapten
diproses dengan jalan pinositosis atau endositosis oleh sel LE (Langerhans Epidermal), untuk
mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang berada di epidermis, menjadi komplek
hapten protein.
Protein ini terletak pada membran sel Langerhans dan berhubungan dengan produk gen HLA-
DR (Human Leukocyte Antigen-DR). Pada sel penyaji antigen (antigen presenting cell).

Kemudian sel LE menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks Limfonodus regional dan
terjadilah proses penyajian antigen kepada molekul CD4+ (Cluster of Diferantiation 4+) dan
molekul CD3. CD4+berfungsi sebagai pengenal komplek HLADR dari sel Langerhans,
sedangkan molekul CD3 yang berkaitan dengan protein heterodimerik Ti (CD3-Ti),
merupakan pengenal antigen yang lebih spesifik, misalnya untuk ion nikel saja atau ion
kromium saja. Kedua reseptor antigen tersebut terdapat pada permukaan sel T. Pada saat ini
telah terjadi pengenalan antigen (antigen recognition).
Selanjutnya sel Langerhans dirangsang untuk mengeluarkan IL-1 (interleukin-1) yang akan
merangsang sel T untuk mengeluarkan IL-2. Kemudian IL-2 akan mengakibatkan proliferasi
sel T sehingga terbentuk primed me mory T cells, yang akan bersirkulasi ke seluruh tubuh
meninggalkan limfonodi dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak berikut dengan alergen
yang sama. Proses ini pada manusia berlangsung selama 14-21 hari, dan belum terdapat ruam
pada kulit. Pada saat ini individu tersebut telah tersensitisasi yang berarti mempunyai resiko
untuk mengalami dermatitis kontak alergik.

182 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
2. Fase elisitasi

Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul pajanan kedua dari antigen yang sama dan
sel yang telah tersensitisasi telah tersedia di dalam kompartemen dermis. Sel Langerhans akan
mensekresi IL-1 yang akan merangsang sel T untuk mensekresi Il-2. Selanjutnya IL-2 akan
merangsang INF (interferon) gamma. IL-1 dan INF gamma akan merangsang keratinosit
memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang langsung beraksi dengan
limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid. Eikosanoid akan mengaktifkan sel mast dan
makrofag untuk melepaskan histamin sehingga terjadi vasodilatasi dan permeabilitas yang
meningkat. Akibatnya timbul berbagai macam kelainan kulit seperti eritema, edema dan
vesikula yang akan tampak sebagai dermatitis.

Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu proses
skuamasi, degradasi antigen oleh enzim dan sel, kerusakan sel Langerhans dan sel keratinosit
serta pelepasan Prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibat stimulasi INF
gamma. PGE-1,2 berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegah kontak sel T
dengan keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan dengan memperlambat
puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen, diduga histamin berefek merangsang
molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Dengan beberapa mekanisme lain, seperti sel B dan
sel T terhadap antigen spesifik, dan akhirnya menekan atau meredakan peradangan.

5. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis gangguan integument yaitu :

a. Biopsi kulit

Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil cintih jaringan dari kulit
yang terdapat lesi.

Biopsi kulit digunakan untuk menentukan apakah ada keganasan atau infeksi yang
disebabkan oleh bakteri dan jamur.

b. Uji kultur dan sensitivitas

Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus, bakteri, dan jamur pada kulit.

Kegunaan lain adalah untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebut resisten


pada obat – obat tertentu.

Cara pengambilan bahan untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat pada lesi
kulit.

c. Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus

Pemeriksaan kulit perlu mempersiapkam pencahayaan khusus sesuai kasus. Factor


pencahayaan memegang peranan penting.

d. Uji tempel

Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi.

Untuk mengetahui apakah lesi tersebut ada kaitannya dengan factor imunologis.

183 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
Untuk mengidentifikasi respon alergi

Uji ini menggunakan bahan kimia yang ditempelkan pada kulit, selanjutnya dilihat
bagaimana reaksi local yang ditimbulkan.

Apabila ditemukan kelainan pada kulit, maka hasil nya positif.

6. Pencegahan

Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari berkontak dengan bahan yang telah
disebutkan di atas. Strategi pencegahan meliputi:

a. Bersihkan kulit yang terkena bahan iritan dengan air dan sabun. Bila
dilakukan secepatnya, dapat menghilangkan banyak iritan dan alergen dari
kulit.
b. Gunakan sarung tangan saat mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk
menghindari kontak dengan bahan pembersih.
c. Bila sedang bekerja, gunakan pakaian pelindung atau sarung tangan untuk
menghindari kontak dengan bahan alergen atau iritan.

7. Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mengistirahatkan kulit yang sakit dan melindunginya
terhadap kerusakan lebih lanjut. Riwayat sakit yang rinci harus dianamnesia. Kemudian iritan
yang menyebabkan didentifikasi dan dihilangkan, iritasi local harus dihindari, dan pemakaian
sabun umumnya tidak dilakukan sebelum terjadi kesembuhan banyak preparat dianjurkan
penggunaannya untuk meredakan dermatitis. Umumya lotion yang netral dan tidak
mengandung obat dapat dioleskan pada bercak – bercak eritema ( inflamasi kulit ) yang kecil.
Kompres yang sejuk dan basah juga dapat dilakukan pada daerah dermatitis vesikuler yang
kecil. Remukan halus es yang ditambahkan pada air kompres kerapkali memberikan efek
antipruritus. Kompres basah biasanya membantu membersihkan lesi eozema yang
mengeluarkan secret. Kemudian preparat krim atau salep yang mengandungsalah satu jenis
kostikoateroid dioleskan tipis – tipis. Mandi dengan larutan yang mengandung obat dapat
diresepkan, untuk dermatitis dengan daerah – daerah lesi yang lebih luas. Pada dermatitis yang
menyebar luas, pemberian kortokosteroid jangka pendek dapat diprogramkan.

B. TEORI KEPERAWATAN

 Pengkajian

1. Aktivitas / Istirahat

Tanda : Penurunan kekuatan, tahanan, Perubahan tonus

2. Sirkulasi

Tanda : pembentukan edema jaringan

3. Integritas Ego

Gejala : Pekerjaan, masalah tentang keluarga

Tanda : ansietas, menarik diri

4. Eliminasi

184 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
Tanda : Diuresis ( setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi
)

5. Makanan / Cairan

Tanda : edema jaringan umum

6. Neurosensori

Tanda : perubahan orientasi, perilaku

7. Nyeri / kenyamanan

Gejala : nyeri pada kulit

8. Pernapasan

Gejala : terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama

9. Keamanan

Tanda : adanya destruksi jaringan.

 Diagnosa keperawatan

1. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan


dengan perubahan fungsi barier kulit

Sasaran : pemeliharaan integritas kulit

Hasil yang diharapkan :

 Mempertahankan integritas kulit


 Tidak ada laserasi
 Tidak ada tanda – tanda cedera termal
 Tidak ada infeksi
 Memberikan obat topical yang diprogramkan
 Menggunakan obat yang diresepkan sesuai jadwal.

185 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri:

1. pantau keadaan kulit pasien


2. Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya  Mengetahui kondisi kulit untuk
cedera termal akibat penggunaan kompres hangat dilakukan pilihan intervensi yang tepat
dengan suhu yang terlalu tinggi dan akibat cidera  Penderita dermatosis dapat mengalami
panas yang tidak terasa ( bantalan pemanasan, penurunan sensitivitas terhadap panas.
radiator )

HE:
 Banyak masalah kosmetika pada
1. Anjurkan pasien untuk menggunakan kosmetik dan hakekatnya semua kelainan malignitas
preparat tabir surya. kulit dapat dikaitkan dengan
kerusakan kulit kronik.
kolaborasi  Penggunaan anti histamine dapat
mengurangi respon gatal serta
1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti mempercepat proses pemulihan
histamine dan salep kulit

2. Nyeri dan yang berhubungan dengan lesi kulit

Sasaran : peredaan ketidaknyamanan

Hasil yang diharapkan :

 Mencapai peredaan gangguan rasa


 Mengutarakan dengan kata – kata bahwa gatal telah reda
 Memperlihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan
 Mematuhi terapi yang diprogramkan
 Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.
 Menunjukkan kulit utuh ; kulit menunjukkan, kemajuan dalam penampilan yang
sehat.

INTERVENSI RASIONAL

Mandiri:

1. Periksa daerah yang terlibat 1. Pemahaman tentang luas dan karakteristik kulit
meliputi bantuan dalam menyusun rencana intervensi.

1. Upaya untuk menemukan penyebab


gangguan rasa nyaman 2. Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk
memberikan kenyamanan.

186 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
2. Mencatat hasil – hasil observasi 1. Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan
secara rinci dengan memakai untuk diagnosisi dan pengobatan. Banyak kondisi kulit
terminology deskriptif. tampak serupa tetapi mempunyai etiologi yang
berbeda. Respons inflamasi kutan mungkin mati pada
pasien lansia.
2. Ruam menyeluruh terutama dengan aeitan yang
mendadak dapat mennjukkan reaksi alergi terhadap
1. Mengantisipasi reaksi alergi yang obat.
mungkin terjadi ; mendapatkan
riwayat pemakaian obat.

1. Rasa gatal diperburuk oleh panas, kimia, dan fisik.


1. Kendalikan factor – factor iritan

2. Pertahankan kelembaban kira – kira 2. Dengan kelembaban yang rendah, kulit akan
60 % ; gunakan alat pelembab. kehilangan air.

1. Pertahankan lingkungan dingin 1. Kesejukan mengurangi gatal


1. Gunakan sabun ringan ( Dove ) atau
sabun yang dibuat untuk kulit
sensitive ( Neutrogena, Avveno ).
2. Lepaskan kelebihan pakaian atau 2. Upaya ini mencakup tidak adanya larutan detegen, zat
peralatan di tempat tidur. pewarna atau bahan pengeras.
3. Cuci linen tempat tidur dan pakaian
dengan sabun ringan 1. Meningkatkan lingkungan yang sejuk

1. Sabun yang keras dapat menimbulkan iritasi kulit.

1. Hentikan pemajanan berulang


terhadap detergen, pembersih, dan
pelarut. 2. Setiap substansi yang mneghilangkan air, lipid atau
protein dari epidermis akan mengubah fungsi barier
kulit.

1. Gunakan tindakan perawatan kulit


untuk mempertahankan integritas
kulit dan meningkatkan
kenyamanan pasien.
3. Kulit merupakan barier yang penting yang harus
dipertahankan keutuhannya agar dapat berfungsi
dengan benar.
1. lakukan kompres penyejuk dengan
air suam – suam kuku ataukompres
dingin guna meredakan rasa gatal.

1. Penghisapan air yang bertahap dari kasa kompres akan

187 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
menyejukkan kulit dan meredakan pruritus.

1. Atasi kekeringan ( serosis )


sebagaimana dipreskripsikan.

2. Kulit yang kering dapat menimbulkan daerah


dermatitis dengan kemerahan, gatal, deskuamasi dan
pada bentuk yang lebih berat, pembengkakan,
pembentukan lepuh, keretakan dan eksudat.

Kolaborasi:

1. Oleskan lotion dan krim kulit segera


setelah mandi

3. Hidrasi yang efektif pada stratum korneum mencegah


1. Gunakan terapi topical seperti yang gangguan lapisan barier pada kulit.
dipreskripsikan.

1. Tindakan ini membantu meredakan gejala


1. Anjurkan pasien untuk menghindari
pemakaian salep ayau lotion yang
dibeli tanpa resep dokter.
2. Jaga agar kuku selalu terpangkas. 1. Masalah pasien dapat disebabkan oleh iritasi atau
sensitisasi karena pengobatan sendiri.

1. Pemotongan kuku akan mengurangi kerusakan kulit


karena garukan.

3.perubahan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus

Sasaran : Pencapaian tidur yang nyenyak.

Hasil yang diharapkan :

 Mencapai tidur yang nyenyak


 Melaporkan peredaan rasa gatal
 Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat
 Menghindari konsumsi kafein pada sore gari dan menjelang tidur pada malam hari.
 Mengenali tindakan untuk mneingkatkan tidur.
 Mengalami pola tidur / istirahat yang memuaskan.

188 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri :

1. Bantu pasien melakukan gerak badan 1. Gerak badan memberikan efek yang
secara teratur
menguntungkan untuk tidur jika dilaksanakan
pada sore hari.
2. Udara yang kering membuat kulit terasa gatal.
Lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.
1. jaga kamar tidur agar tetap memiliki
ventilasi dan kelembaban yang baik.

Kolaborasi:

1. Cegah dan obati kulit yang kering

1. Pruritus noeturnal mengganggu tidur yang normal.


HE:

1. Anjurkan kepada klien menjaga kulit


selalu lembab 1. Tindakan ini mencegah kehilangan air. Kulit yang
kering dan gatal biasanya tidak dapat
disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.

1. Kafein memiliki efek puncak 2 – 4 jam sesudah


1. Anjurkan klien Menghindari minuman dikonsumsi.
yang mengandung kafein menjelang
tidur di malam hari.
2. Anjurkan klien Mengerjakan hal – hal
1. Tindakan ini memudahkan peralihan dari keadaan
yang ritual dan rutin menjelang tidur. terjaga menjadi keadaan tertidur.

4.Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.

Sasaran : Pengembangan peningkatan penerimaan diri.

Hasil yang diharapkan :

 Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.


 Mengikuti dan turut berpatisipasi dalam tindakan perawatan – mandiri.
 Melaporkan perasaan dalam penegndalian situasi.
 Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.
 Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat.
 Tampak tidak begitu memperhatikan kondisi.menggunakan teknik menyembunyikan
kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan.

189 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
INTERVENSI RASIONAL

Mandiri:

1. Kaji adanya gangguan pada citra diri


pasien ( menghindari kontak mata,
ucapan yang merendahkan diri sendiri,
ekpresi keadaan muak terhadap kondisi 1. Gangguan citra diri akan menyertai setiap
kulitnya ). penyakit atau keadaan yang tampak nyata bagi
2. Identifikasi stadium psikososial tahap pasien. Kesan sesorang terhadap dirinya sendiri
perkembangan. akan berpengaruh pada konsep diri.
2. Terhadap hubungan antara stadium
1. Berikan kesempatan untuk perkembangan, citra diri dan reaksi serta
pengungkapan. Dengarkan ( dengan cara pemahaman pasien terhadap kondisi kulitnya.
yang terbuka, tidak menghakimi ) untuk 3. Pasien membutuhkan pengalaman yang harus
mengekspresikan berduka / ansietas didengarkan dan dipahami.
tentang perubahan citra tubuh.
2. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan 1. Tindakan ini memberikan kesempatan pada
pasien. Bantu pasien yang cemas dalam petugas kesehatan untuk menetralkan kecemasan
mengembangkan kemampuan untuk yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas
menilai diri dan mengenali serta situasi. Ketakutan merupakan unsure yang
mengatasi masalah. merusak adaptasi pasien.
2. Meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.
1. dorong sosialisasi dengan orang lain

5.Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit dan cara – cara menangani kelainan kulit.

Sasaran : Pemahaman terhadap perawatan kulit

Hasil yang diharapkan :

 Memiliki pemahaman terhadap perawatan diri


 Mengikuti terapi seperti yang diprogramkan dan dapat mengungkapkan rasional
tindakan yang dilakukan.
 Menjalankan mandi, pencucian, dan balutan basah sesuai yang diprogramkan.
 Gunakan obat topical dengan tepat
 Memahami pentingnya nutrisi unutk kesehatan kulit.

190 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
INTERVENSI RASIONAL
1. Tentukan apakah pasien mnegetahui (
memahami dan salah mengerti )
tentang kondisi dirinya.
1. Memberikan data dasar untuk mengembangkan
2. Jaga agar pasien mendapatkan rencana penyuluhan.
informasi yang benar ; memperbaiki
kesalahan konsepsi / informasi
3. Peragakan penerapan terapi yang
diprogramkan ( kompres basah ; obat
topical ) 1. Pasien harus memiliki perasaan bahwa ada sesuatu
4. Berikan nasihat kepada pasien untuk yang dapat mereka perbuat. Kebanyakan pasien
menjaga agar kulit tetap lembab dan merasakan manfaatnya.
fleksibel dengan tindakan hidrasi dan 2. Memungkinkan pasien memperoleh kesempatan
pengolesan krim serta lotion kulit. untuk menunjukkan cara yang tepat unutk
melakukan terapi.
3. Stratum korneum memerlukan air agar fleksibilitas
kulit tetap terjaga. Pengolesan krim atau lotion untuk
melembabkan kulit akan memcegah agar kulit tidak
menjadi kering, kasar, retak, dan bersisik.
4. Penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum
seseorang. Perubahan pada kulit dapat menandakan
status nutrisi yang abnormal.
1. Dorong pasien untuk mendapatkan
status nutrisi yang sehat.

6.Resiko infeksi berhubungan dengan lesi, bercak – bercak merah pada kulit

Sasran : tidak adanya komplikasi

Hasil yang diharapkan :

 Tetap bebas dari infeksi


 Mengungkapakn tindakan perawatan kulit yang mneingktakan kebersihan dan
mencegah kerusakan.
 Mengidentifikasi tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan
 Mengidentifikasi efek merugikan dari obat yang harus dilaporkan ke petugas
perawatan kesehatan
 Berpartisipasi dalam tindakan perawatan kulit ( mis : penggantian balutan, mandi )

INTERVENSI RASIONAL
1. Setiap keadaan yang mneggangu status imun akan
1. Miliki indeksi kecurigaan yang memperbesar resiko terjadinya infeksi kulit.
tinggi terhadap suatu infeksi pada
pasien yang system kekebalannya
teganggu.
2. Berikan petunjuk yagn jelas dan rinci
kepada pasien mengenai program 1. Pendidikan pasien yang efektif bergantung pada
terap ketrampilan – ketrampilan interpersonal professional
kesehatan dan pada pemberian instruksi yang jelas
yang diperkuat dengan instruksi tertulis.

191 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t
2. Kompres basah akan menghasilkan pendinginan lewat
pengisatan yang menimbulkan vasokontriksi
1. Laksanakan pemakaian kompres pembuluh drah kulit dan dengan demikian
basah seperti yang diprogramkan mengurangi eritema serta produksi serum.
untuk mengurangi intensitas
inflamasi

192 | r u m a h s a k i t b u d i s e h a t