Vous êtes sur la page 1sur 16

1.

JUDUL
Pengaruh variasi penambahan NaOH terhadap pembuatan membrane fly ash pada air asam
tambang.
2. Latar Belakang
Air merupakan bahan alam yang diperlukan untuk kehidupan manusia, hewan dan
tanaman yaitu sebagai media pengangkutan zat-zat makanan, juga merupakan sumber energi
serta berbagai keperluan lainnya (Arsyad, 1989). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan. Umum dan Penataan
Ruang menyebutkan bahwa kebutuhan air rata-rata secara wajar adalah 60 l/orang/hari untuk
segala keperluannya. Kebutuhan akan air bersih dari tahun ke tahun diperkirakan terus
meningkat. Menurut Suripin (2002), pada tahun 2000 dengan jumlah penduduk dunia sebesar
6,121 milyar diperlukan air bersih sebanyak 367 km3 per hari, maka pada tahun 2025 diperlukan
air bersih sebanyak 492 km3 per hari, dan pada tahun 2100 diperlukan air bersih sebanyak 611
km3 per hari.
Masalah utama yang dihadapi berkaitan dengan sumber daya air adalah kuantitas air yang
sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan
domestik yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Kegiatan industri, domestik, dan kegiatan
lain berdampak negatif terhadap sumber daya air, termasuk penurunan kualitas air.Kondisi ini
dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi mahluk hidup yang bergantung pada
sumber daya air (Effendi, 2003).
Penurunan kualitas air tidak hanya dipengaruhi oleh limbah rumah tangga tetapi limbah
industri juga sangat berpengaruh dalam penurunan kualitas air. Oleh karena itu limbah cair
industri terutama perusahaan tambang harus diolah terlebih dahulu sebelum dikembalikan
kelingkungan melalui sungai.
Syarat-syarat Baku Mutu Air Minum
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990 Tanggal : 3 September 1990
Kadar
Maksimum
No Parameter Satuan Keterangan
Yang
Diperbolehkan
1 2 3 4 5

A. FISIKA -
-
1. Bau mg/L
1.000 Tidak berbau
2. Jumlah zat padat terlarut (TDS) Skala
5 -
3. Kekeruhan NTU
- -
4. Rasa -
Suhu udara ± Tidak berasa
5. Suhu oC
3oC -
6. Warna Skala
15
TCU
B. KIMIA
a. Kimia Anorganik mg/L 0,001
1. Air raksa mg/L 0,2
2. Alumunium mg/L 0,05
3. Arsen mg/L 1,0
4. Barium mg/L 0,3
5. Besi mg/L 1,5
6. Fluorida mg/L 0,005
7. Kadnium mg/L 500
8. Kesadahan (CaCO3) mg/L 250
9. Klorida mg/L 0,05
10. Kromium, Valensi 6 mg/L 0,1
11. Mangan mg/L 200
12. Natrium mg/L 10
13. Nitrat, sebagai N mg/L 1,0 Merupakan batas
14. Nitrit, sebagai N mg/L 0,05 minimum
15. Perak - 6,5 – 8,5 dan maksimum
16. pH mg/L 0,01
17. Selenium mg/L 5,0
18. Seng mg/L 0,1
19. Sianida mg/L 400
20. Sulfat mg/L 0,05
21. Sulfida (sebagai H2S) mg/L 1,0
22. Tembaga mg/L 0,05
23. Timbal
Kimia Organik
b.
Aldrin dan Dieldrin
1. mg/L 0,0007
Benzena
2. mg/L 0,01
Benzo (a) pyrene
3. mg/L 0,00001
Chlordane (total isomer)
4. mg/L 0,0003
Coloroform
5. mg/L 0,03
2,4 D
6. mg/L 0,10
DDT
7. mg/L 0,03
Detergen
8. mg/L 0,05
1,2 Discloroethane
9. mg/L 0,01
1,1 Discloroethene
10. mg/L 0,0003
Heptaclor dan heptaclor
11. mg/L 0,003
epoxide
12. mg/L 0,00001
Hexachlorobenzene
13. mg/L 0,004
Gamma-HCH (Lindane)
14. mg/L 0,03
Methoxychlor
15. mg/L 0,01
Pentachlorophanol
16. mg/L 0,10
Pestisida Total
17. mg/L 0,01
2,4,6 urichlorophenol
18. mg/L 10
Zat organik (KMnO4)
95% dari sampel
yang
Jumlah diperiksa selama
C. Mikro biologik per 100 0 setahun.
1. Koliform Tinja ml 0 Kadang-kadang
2 Total koliform Jumlah 0 bolehada
per 100 3 per 100 ml sampel
ml air, Tetapi tidak
berturut-turut
Radio Aktivitas
D.
Aktivitas Alpha
1.
(Gross Alpha Activity) Bq/L 0,1
2.
Aktivitas Beta (Gross Beta Bq/L 1,0
Activity)

Keterangan :
mg = miligram
ml = mililiter
L = liter
Bq = Bequerel
NTU = Nephelometrik Turbidity Units
TCU = True Colour Units Logam berat merupakan logam terlarut
Tambang batubara menghasilkan limbah industry berupa air asam tambang. Dimana air
asam tambang tersebut mengandung zat-zat logam berat yang sangat berbahaya bagi lingkungan
terutama bagi manusia dan hewan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan limbah tersebut.
Usaha-usaha pengendalian dan pengolahan limbah logam belakangan ini semakin
berkembang, yang mengarah pada upayaupaya pencarian metode-metode baru yang murah,
efektif, dan efisien. Metode pemisahan krom dapat dilakukan dengan reduksi, penukaran ion,
adsorpsi menggunakan karbon aktif, elektrolisa, osmosa balik, dan membran filtrasi. Penggunaan
karbon aktif memerlukan biaya yang cukup mahal. Hal ini menyebabkan munculnya keinginan
untuk menemukan material adsorpsi yang dikategorikan low-cost dengan kapasitas yang lebih
baik menjadi adsorben dalam proses adsorpsi (Kurniawanetal dalam Somerville, 2007).
Salah satu adsorben yang dikategorikan sebagai low-cost adsorben adalah fly ash (abu
terbang). Fly ash merupakan hasil sampingan dari sisa pembakaran batubara. Penyumbang
produksi fly ash batubara terbesar adalah sektor pembangkit listrik. Produksi fly ash dari
pembangkit listrik di Indonesia terus meningkat, pada tahun 2000 jumlahnya mencapai 1,66 juta
ton dan diperkirakan mencapai 2 juta ton pada tahun 2006 (Ngurah Ardha, dkk, 2008). Saat ini
sebagian besar fly ash yang dihasilkan hanya terbuang begitu saja.
Dengan adanya beberapa penelitian, kini fly ash juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
campuran beton, penimbun lahan bekas pertambangan, bahan baku keramik dan bata, adsorben
dalam penyisihan parameter limbah logam, dan lain-lain (S.Wang, H, 2006). Beberapa penelitian
telah membuktikan bahwa fly ash sangat efektif dijadikan sebagai low cost adsorben. Menurut
S.Wang, H fly ash yang berasal dari batubara dapat menyisihkan logam Zn2+, Cd2+, Ni2+,
Cu2+, dan Cr6+. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk memanfaatkan fly ash yang
merupakan hasil bahan bakar batubara yang sifatnya sebagai limbah PLTU dapat dimanfaatkan
sebagai pengadsorpsi air limbah tambang yang perlu diolah sebelum dikembalikan ke
lingkungan.

3. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini ialah : a.
Bagaimana pengaruh membrane fly ash terhadap penyerapan logam berat dalam air limbah
tambang ?
b. Bagaimana waktu penyerapan membrane fly ash sebagai adsorben dalam menyerap Fe dan
Mn ?
c. Apa pengaruh derajat keasaman dalam proses penyerapan Fe dan Mn?
d. Bagaimana kinerja penyerapan membrane fly ash dibandingkan dengan membrane fly ash
yang telah diaktivasi terhadap penyerapan Fe dan Mn?
4. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui pengaruh jumlah membrane fly ash terhadap penyerapan logam berat dalam
air limbah tambang
b. Mengetahui pengaruh waktu penyerapan membrane fly ash sebagai adsorben dalam
menyerap Fe dan Mn
c. Mengetahui pengaruh derajat keasaman dalam proses penyerapan Fe dan Mn
d. Mengetahui pengaruh kinerja penyerapan membrane fly ash dibandingkan dengan
membrane fly ash yang telah diaktivasi terhadap penyerapan Fe dan Mn.

5. Manfaat Penelitian
1. Mengetahui cara pengolahan air limbah tambang menjadi air minum dengan cara
memanfaatkan fly ash yang diolah menjadi membrane untuk menghilangkan kandungan
zat – zat logam yang sangat berbahaya.
2. Memanfaatkan limbah hasil produksi dan mengubahnya menjadi lebih bermanfaat dan
memiliki nilai jual dan kualitas yang tinggi.

6. Ruang Lingkup Penelitian


Adapun ruang lingkup pada penelitian ini adalah :
a. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Sriwijaya
Palembang.
b. Sampel air asam tambang dibuat dengan konsentrasi kandungan Fe dan Mn diatas baku mutu
limbah.
c. Fly ash (abu terbang) yang digunakan berasal dari PT. Semen Baturaja yang telah diketahui
spesifikasinya.
d. Fly ash yang digunakan adalah : 10 - 50 gram.
e. pH yang digunakan adalah : 1 - 9
f. Waktu kontak adsorbsi adalah : 10 - 60 menit.
g. Aktivator yang digunakan adalah NaOH.
7. Tinjauan Pustaka
Pembuatan membrane fly ash pada air asam tambang
Air asam tambang atau dalam bahasa asing disebut Acid Mine Drainage merupakan air yang
terbentuk di lokasi penambangan dengan nilai pH yang rendah (pH < 4). Nilai pH yang rendah
pada air asam tambang menyebabkan mudahnya logam-logam tertentu larut dalam air. Hal ini
jika tidak ditangani dengan baik, pada konsentrasi tertentu akan membahayakan lingkungan,
sebab hasil oksida sulfida oleh media air akan terangkut sehingga mencemari
lokasi di sekitarnya.
Adapun dampak negatif dari air asam tambang tersebut adalah :
1.Masyarakat di sekitar wilayah tambang
2.Biota perairan
3.Kualitas air tanah
4.Terhadap bangunan dan alat tambang
Untuk mengatasi masalah di atas , maka perlu dilakukan pengolahan terhadap air asam tambang
agar tidak membahayakan lingkungan disekitarnya. Teknologi pemurnian yang dilakukan adalah
dengan menggunakan membran keramik. Yaitu membran yangdigunakan terbuat dari fly as
tambang batubara.
a. Air Asam Tambang
Air asam tambang (AAT) atau dalam bahasa asing acid mine drainage (AMD) , atau acid rock
drainage (ARD). Dalam industry pertambangan batubara disebut dengan coal mine drainage
(CMD) merupakan air yang terbentuk akibat kegiatan pertambangan terbuka maupun tertutup
(bawah tanah) dimana terjadi reaksi antara air, oksigen, dan batuan-batuan yang mengandung
mineral-mineral sulfide sehingga menyebabkan terjadinya air asam tambang.
b. Pembentukan dan Karakteristik Air Asam Tambang
Air asam tambang timbul apabila mineral-mineral sulfida yang terkandung dalam batuan pada
saat penambangan berlangsung, bereaksi dengan air dan oksigen. Oksidasi pirit (FeS2) akan
membentuk ion ferro (Fe2+), sulfat, dan beberapa proton pembentuk keasaman, sehingga kondisi
lingkungan menjadi asam.
Reaksi Pembentukan Air Asam Tambang
4 Fe + 15 O2 + 14H2O 4 Fe (OH3) + 8 H2SO4
Pyrite + oxygen + water Yellowboy Sulfure Acid
Reaksi antara besi, oksigen dan air akan membentuk asam sulfat dan endapan besi hidroksida.
Warna kekuningan yang mengendap di dasar saluran tambang atau pada dinding kolam
pengendapan lumpur merupakan gambaran visual dari endapan besi hidroksida (Yellowboy). Di
dalam reaksi umum pembentukan air asam tambang terjadi empat reaksi pada pirit yang
menghasilkan ion-ion hidrogen yang apabila berikatan dengan ion-ion negatif dapat membentuk
asam.
Adapun karakteristik kimia dari air asam tambang yaitu:
1) pH rendah (nilainya berkisar antara 1,5 hingga 4).
2) Konsentrasi logam dapat larut tinggi (seperti besi, aluminium, mangan, kadmium, tembaga,
timah, seng, arsenik dan merkuri).
3) Nilai keasaman : 50-15.000 mg/L dan konduktivitas listrik umumnya antara 1000- 20.000
μS/cm.
4) Konsentrasi yang rendah dari oksigen terlarut (< 6 mg/L).
5) Tingkat kekeruhan (turbiditas) atau total padatan tersuspensi yang rendah
c. Sumber-sumber Air Asam Tambang
Air asam tambang dapat terjadi pada kegiatan penambangan baik itu tambang terbuka maupun
tambang dalam, umumnya keadaan ini terjadi karena unsur sulfur yang terdapat di dalam batuan
teroksidasi secara alamiah didukung juga dengan curah hujan yang tinggi semakin mempercepat
perubahan oksida sulfur menjadi asam. Sumber-sumber air asam tambang berasal dari kegiatan
sebagai berikut :
1. Air dari tambang terbuka
2. Air dari pengolahan batuan buangan
3. Air dari lokasi penimbunan batuan
4. Air dari unit pengolahan limbah tailing
d. Kandungan logam yang terdapat pada Air Asam Tambang
Pada pertambangan batubara, kandungan logam yang dimaksud dalam. Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 yaitu besi dan mangan.
1. Besi
Keberadaan besi pada kerak bumi menempati posisi keempat terbesar. Besi ditemukan dalam
bentuk kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada perairan alami dengan pH sekitar 7 dan kadar
oksigen terlarut yang cukup, ion ferro yang bersifat mudah larut dioksidasi menjadi ion ferri.
Pada oksidasi ini terjadi pelepasan elektron. Sebaliknya , pada reduksi ferri menjadi ferro terjadi
penangkapan elektron.
2. Mangan
Mangan adalah kation logam yang memiliki karakteristik kimia serupa dengan besi. Mangan
berada dalam bentuk manganous (Mn2+) dan manganik (Mn4+).
Tabel 1. Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Penambangan Batubara
Kadar
Parameter Satuan
Maksimum
pH 6-9
Residu
Mg/L 400
Tersuspensi
Besi (Fe) Mg/L 7
Mangan (Mn) Mg/L 4

Sumber : Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 113 tahun 2003


e. Media Penyaring Air Asam Tambang
1. Pasir Silika
2. Spons membran
3. Karbon aktif
4. Membran keramik
FLY ASH
Fly ash batubara merupakan limbah samping dari industri PLTU yang tergolong dalam
limbah berbahaya dan beracun. Limbah padat ini dapat dipergunakan untuk bahan dasar
membran keramik dengan harganya relatif murah. Menurut Wardani (2008), jumlah limbah
padat ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pusat listrik berbasis batubara.
Beberapa penelitian telah berhasil memanfaatkan fly ash batubara untuk bahan campuran asphal,
semen, beton, paving, dan batu bata (Lyer and Scott, 2001). Fly ash batubara merupakan abu
terbang sisa pembakaran batubara yang jumlahnya sekitar 80-90% dari total abu sedang jumlah
bottom ash hanya sekitar 10%. Fly ash batubara mengandung SiO2 (52,0%), Al2O3 (31,9%),
Fe2O3(5%), CaO(3%) dan MgO (5%) (Kutchko and Kim, 2006).
Selain itu fly ash juga mengandung mineral minor yang lain seperti magnesium, sulfur,
sodium, potasium dan karbon. Rata-rata ukuran mineral dari fly ash batubara hasil pembakaran
adalah sekitar 0,075 mm (Santoso, 2013). Menurut Li , 2004, Lin and Hsi, (1995), ukuran fly ash
batubara bervariasi dari < 1 um sampai dengan >100 um dengan ukuran partikel dibawah 20 um
dan luas permukaannya adalah berkisar antara 300 – 500 m2/kg, beberapa tipe fly ash
mempunyai luas permukaan kurang dari 200 maupun hingga 700 m2/kg. Mengingat komposisi
dan ukuran fly ash tersebut, maka membran keramik yang berbahan fly ash digolongkan sebagai
teknologi mikrofiltrasi.
Beberapa penelitian telah dilakukan dengan mengolah fly ash sebagai bahan baku pada
pembuatan membran keramik dengan mensubtitusikan zeolit dan clay yang diujicobakan pada
pengolahan air asam tambang (Nasir et. al., 2013; Nasir,et al, 2014). Penelitian tentang subtitusi
fly ash pada clay montmorilonit beserta optimasi komposisi bahan dan suhu pembakaran untuk
membrane keramik jarang dilakukan. Penggunaan fly ash batubara untuk perancangan desain
membran keramik tubular yang digunakan pada pengolahan air gambut dengan karakteristik
kandungan asam, Fe dan Mn yang tinggi masih perlu diperdalam untuk mengetahui kondisi
optimum pembuatan membran keramik. Berdasarkan keadaan tersebut maka perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui komposisi bahan dan teknik pembuatan membran keramik tubular
dari fly ash sehingga dapat digunakan pada unit pengolahan air asam tambang. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji komposisi optimal clay yang dapat disubtitusi oleh fly ash batubara
serta menentukan suhu pembakaran optimal pada proses pembuatan membran keramik.
Pengujian kinerja membran keramik akan menentukan kemampuan membran keramik untuk
pengolahan air asam tambang.
7.1 Abu Terbang (Fly ash) Batubara
Pada pembakaran batubara dalam PLTU, terdapat limbah padat yaitu abu terbang (fly
ash) dan abu dasar (bottom ash). Partikel abu yang terbawa gas buang disebut fly ash, sedangkan
abu yang tertinggal dan dikeluarkan dari bawah tungku disebut bottom ash. Di Indonesia,
produksi limbah abu dasar dan fly ash dari tahun ke tahun meningkat sebanding dengan
konsumsi penggunaan batubara sebagai bahan baku pada industri PLTU. Pembakaran batubara
menghasilkan emisi limbah yang lebih banyak dibandingkan bahan bakar minyak dan gas. Selain
itu, pembakaran batubara juga menghasilkan gas-gas oksida belerang (SOx), oksida nitrogen
(NOx), gas hidrokarbon, karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2) (Harijono, 2006).
Komposisi antara fly ash dan bottom ash tergantung sistem pembakarannya. Dalam
tungku pulverized coal sistem basah antara 45-55%, dan tungku underfeed stoker 30-80% dari
total abu batubara. Fly ash ditangkap dengan electrostatic precipitator (ESP) sebelum dibuang
ke udara melalui cerobong (Firdaushanif, 2007).
Komponen utama dari fly ash batubara adalah silika (SiO2), alumina (Al2O3), dan besi oksida
(Fe2O3). Sisanya adalah karbon, kalsium, dan magnesium. Rumus empiris abu terbang (fly ash)
batubara adalah Si1.0Al0.45Ca0.51Na0.047Fe0.039Mg0.020K0.013Ti0.011. Fly ash batubara
juga memiliki komponen fasa amorf seperti silika (SiO2), alumina (Al2O3) dan komponen fasa
kristalin seperti α-quart (SiO2) dan mullit (2SiO2.3AlO3), hematite (α-Fe2O3) dan magnetit
(Fe3O4) (Tanaka, 2002). Menurut standart ASTM C 168-87 / AASHTO M 295-90, fly ash hasil
pembakaran batubara digolongkan berdasarkan jenis batu bara yang digunakan untuk
pembakaran tersebut. Ada dua jenis fly ash, yaitu:
1) Kelas F
Fly ash ini dihasilkan dari pembakaran batu bara jenis anthrasit atau bituminous.
2) Kelas C
Fly ash ini dihasilkan dari pembakaran batu bara jenis lignit atau sub bituminous. Fly ash
mempunyai sifat-sifat yang sangat menguntungkan di dalam menunjang pemanfaatannya yaitu:
1. Sifat fisik Fly ash merupakan material yang dihasilkan dari proses pembakaran batubara
pada alat pembangkit listrik sehingga semua sifat-sifatnya juga ditentukan oleh komposisi
dan sifat-sifat mineral pengotor dalam batubara serta proses pembakarannya. Dalam
proses pembakaran batubara ini titik leleh abu batubara lebih tinggi dari temperatur
pembakarannya. Dan kondisi ini menghasilkan abu yang memiliki tekstur butiran yang
sangat halus. Fly ash terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat atau
berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil
dari 0,075mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100 sampai 3000 kg/m3 dan luas
area spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara Blaine) antara 170
sampai 1000 m2/kg. Adapun sifat-sifat fisiknya antara lain warnanya abu-abu keputihan
dan ukurannya sangat halus yaitu sekitar 88%.
2. Sifat kimia
Komponen utama dari fly ash yang berasal dari pembangkit listrik adalah silika (SiO2),
alumina (Al2O3), dan besi oksida (Fe2O3), sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium,
dan belerang. Sifat kimia dari fly ash dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar dan
teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan
sob/bituminous menghasilkan fly ash dengan kalsium dan magnesium oksida lebih
banyak daripada bituminus. Namun memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon
yang lebih sedikit daripada bituminous. Fly ash terdiri dari butiran halus yang umumnya
berbentuk bola padat berongga. Ukuran partikel fly ash hasil pembakaran batubara
bituminous lebih kecil dari 0,075 mm. Kerapatan fly ash berkisar antara 2100-3000
kg/m3 dan luas area spesifiknya anatara 170-1000 m2/kg (Firdaushanif, 2007).
7.2 Abu Terbang (Fly Ash) Batubara Sebagai Adsorben
Kandungan utama pada fly ash adalah SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Kondisi silika dan
alumina dalam fly ash yang cukup besar memungkinkan fly ash digunakan timah. Fly ash
dimodifikasi dengan menggunakan Na-P1dan zeolit hidroksi sodalit, perlakuan secara
hidrotermal dengan penambahan NaOH.
Penelitian yang dilakukan Kumar dkk (2014) menunjukkan bahwa baggase fly ash (BFA)
adalah adsorben yang efektif untuk menghilangkan akrilonitril dari larutan. Optimum dosis
adsorben adalah 4 g/l larutan. Keseimbangan antara adsorbat dalam solusi dan pada permukaan
adsorben praktis dicapai dalam 5 jam. Adsorben dari fly ash juga dibuat untuk menghilangkan
merkuri dengan memodifikasi fly ash dan zeolit yang dikenal dengan nama hybrid mesoporous
aluminosilicate sieve (HMAS) (Liu dkk, 2013). Javadian dkk (2013) membuat ZFA (zeolite
based geopolymer that synthesized by coal fly ash) untuk mengadsobsi ion Cd (II), dilihat dari
parameter termodinamika adsorbsi terjadi secara spontan dan endotermis. Penelitian ini juga
menunjukkan bahwa geopolimer berbasis fly ash merupakan alternatif yang baik untuk
menggantikan adsoben yang mahal seperti karbon aktif dalam menghilangkan logam berat pada
limbah dan air limbah.
7.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi adsorbsi
Kecepatan adsorpsi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain (Purnamasari dan
Andayani, 2008) :
1. Konsentrasi
Proses adsorpsi sangat sesuai untuk memisahkan bahan dengan konsentrasi yang rendah dari
campuran yang mengandung bahan lain dengan konsentrasi tinggi.
2. Luas permukaan
Proses adsorpsi tergantung pada banyaknya tumbukan yang terjadi antara partikel-partikel
adsorbat dan adsorben. Tumbukan efektif antara partikel itu akan meningkat dengan
meningkatnya luas permukaan. Kao dkk (2000) melakukan observasi bahwa luas permukaan
yang lebih besar akan mengandung karbon yang besar pula dan ukuran partikel fly ash yang
halus akan semakin besar pula kapasitas adsorpsinya.
3. Suhu
Adsorpsi akan lebih cepat berlangsung pada suhu tinggi, namun demikian pengaruh suhu
adsorpsi zat cair tidak sebesar pada adsorbsi gas.
4. Ukuran partikel
Semakin kecil ukuran partikel yang diadsorpsi maka proses adsorbsinya akan berlangsung lebih
cepat.
5. pH
pH mempunyai pengaruh dalam proses adsorpsi. pH optimum dari suatu proses adsorpsi
ditetapkan melalui uji laboratorium. pH optimum pada adsorpsi ion Cd (II) adalah 5 (Javadian
dkk, 2013).
6. Waktu kontak
Waktu untuk mencapai keadaan setimbang pada proses serapan ion logam oleh adsorben
berkisar antara beberapa menit hingga beberapa jam (Bernasconi, 1995).

8. METODE PENELITIAN
Tahapan penelitian terdiri atas:
1. Studi Literatur
Mencakup studi-studi tertentu untuk memperdalam dan mempertajam teori tentang metode
penyisihan logam Fe dan Mn adsorpsi dan penjelasan fly ash sebagai adsorben.
2. Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Langkah-langkah dalam
pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Persiapan Adsorben
Tahapan ini mengumpulkan fly ash sebagai adsorben dan pemisahan diameter fly ash yang
digunakan.
b. Persiapan Peralatan Penelitian
Bertujuan untuk mempersiapkan alat-alat yang diperlukan dalam penelitian.
c. Survey Lapangan
Bertujuan untuk menentukan lokasi sampling
d. Penentuan Waktu Sampling
Tujuannya untuk menentukan pengambilan sampel pada limbah cair tambang batubara berupa
air asam tambang.
e. Sampling
Pada penelitian ini sampel diambil pada satu titik di outlet pembuangan limbah cair tambang
batubara.
f. Pembuatan Larutan NaOH
Larutan NaOH telah dipersiapkan dengan konsentrasi 0,5 N dalam 1000 ml.
g. Percobaan Optimasi
Percobaan optimasi dilakukan untuk melihat pengaruh lima variasi parameter percobaan yaitu
berat adsorben, pH adsorben, dan waktu kontak.
3. Perlakuan Aktivasi Terhadap Abu Terbang (Fly Ash)
Abu terbang dari PT. Semen Baturaja ditimbang sebesar 15 gram lalu ditambahkan NaOH 0,5 N
sampai 30 ml. Campuran diaduk dengan magnetic stirrer selama 180 menit, dibilas dengan
aquadest sampai pH netral dan dikeringkan dalam oven pada suhu 230 OC selama 3 jam. Setelah
itu abu terbang baru siap dipakai sebagai adsorben.
4. Langkah Kerja
Adapun langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
a. Mencampur air asam tambang dengan fly ash dengan variasi berat fly ash 10, 20, 30, 40, dan
50 gr.

b. Campuran air asam tambang dan fly ash didiamkan dengan waktu kontak 10 sampai 60 menit.

c. Setelah terjadi sedimentasi, diambil sampel dan dilakukan analisa dengan menggunakan
Spektrofotometer AAS.

d. Dilakukan percobaan seperti tahapan di atas dengan variasi pH 1, 3, 5, 7 dan 9 terhadap air
asam tambang.

e. Percobaan diulangi dengan menggunakan abu terbang yang belum diaktivasi.


5. Pembuatan Variasi pH (1, 3, 5, 7, dan 9)
Untuk variasi pH dilakukan dengan cara penambahan larutan basa. Dalam hal ini dipakai
penambahan larutan basa natrium hidroksida (NaOH) untuk pH 7 dan pH 9.
6. Pengolahan dan Analisis Data
Perubahan nilai parameter atau persentase penyisihan masing-masing konsentrasi perlakuan
penggunaan fly ash tehadap parameter air asam. Hasil pengamatan terhadap perubahan nilai
parameter, yaitu berat adsorben, pH,waktu kontak kadar Fe dan Mn akan dibandingkan dengan
baku mutu limbah cair pertambangan.
Perubahan dari masing-masing nilai parameter dibandingkan dengan perlakuan dinyatakan
dengan persentase penyisihan. Untuk mengetahui besarnya persen penyisihan parameter dari air
asam tambang pada pengolahan dengan abu terbang dilakukan analisis air asam tambang
sebelum dan sesudah penambahan fly ash.
DAFTAR PUSTAKA

Afrianita Reri,dkk. Studi Penentuan Kondisi Optimum Fly Ash Sebagai Adsorben Dalam
Menyisihkan Logam Berat Kromium. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND.10(2):104-110 (juli
2015).
Budi Sasongko Endar,dkk. 2014. Kajian Kualitas Air dan Penggunaan Sumur Gali Oleh
Masyarakat di Sekitar Sungai Kaliyasa Kabupaten Cilacap. Program Studi Ilmu Lingkungan
Program Pascasarjana:UNDIP.
Nurhayati Chasri dan Susanto,Tri. Pemanfaatan Fly Ash Batubara Sebagai Bahan Membrane
Keramik Pada Unit Pengolah Air Gambut. Jurnal Dinamika Penelitian IndustrI.vol.26 No.2
tahun 2015.
Peraturan Menteri Kesehatan (nomor: 416/MEN.KES/PER/IX/1990
Tri Lestari Yuliani. 2013. Pemanfaatan Limbah Abu Terbang (Fly Ash) Batubara Sebagai
Adsorben Untuk Penentuan Kadar Gas NO2 Di Udara. Jurusan Kimia Fakultas Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam: Universitas Jember.
Umi Athiyah Novia,Ssanty Elfa. Pembuatan Adsorben Dari Fly Ash Hasil Pembakaran
Batubara Untuk Mengadsorbsi Logam Besi (Fe). Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya