Vous êtes sur la page 1sur 31

TRANSPLANTASI ORGAN TUBUH MANUSIA DALAM DUNIA

MEDIS MENURUT HUKUM ISLAM DAN KOMPARASI ANTARA


FATWA MUI DAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

UIN RADEN FATAH PALEMBANG

Mualim
NIM :

PROGRAM
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain

untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai makhluk sosial, tentunya

manusia tidak dapat hidup sendiri. Adanya rasa saling membutuhkan inilah

manusia dengan nalurinya selalu berusaha untuk tolong menolong.

Rasa untuk menolong ini timbul karena manusia sadar kalau suatu

saat ia juga butuh pertolongan orang lain, entah tolong menolong ini

berdasarkan rasa ikhlas atau dengan alasan kemanusiaan. Menolong orang

yang membutuhkan pertolongan, haruslah bersikap netral dengan tidak

membedakan ras, suku dan agama. Siapapun itu harus ditolong, tanpa

kecuali. Misalnya orang yang membutuhkan organ agar dapat melanjutkan

hidup dengan bantuan tenaga medis tentunya.

Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, dunia juga


mengalami perkembangannya di berbagai bidang. Salah satunya adalah
kemajuan di bidang kesehatan yaitu teknik transplantasi organ.
Transplantasi organ merupakan suatu teknologi medis untuk penggantian
organ tubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ dari individu yang
lain. Sampai sekarang penelitian tentang transplantasi organ masih terus
dilakukan.
Sedangkan transplantasi organ yang lazim dikerjakan di Indonesia

adalah pemindahan suatu jaringan atau organ antar manusia, bukan antara

hewan ke manusia, sehingga menimbulkan pengertian bahwa transplantasi

adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh

yang lain atau dari satu tempat ke tempat yang lain di tubuh yang sama.

Transplantasi ini ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tak
berfungsi pada penerima.

Saat ini di Indonesia, transplantasi organ ataupun jaringan diatur dalam

UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Sedangkan peraturan

pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1981

tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi

Alat atau Jaringan Tubuh Manusia. Hal ini tentu saja menimbulkan suatu

pertanyaan tentang relevansi antara Peraturan Pemerintah dan Undang-

Undang dimana Peraturan Pemerintah diterbitkan jauh sebelum Undang-

Undang. (Binchoutan,2008)

Dunia medis akhir-akhir ini mengenal pemindahan organ tubuh

manusia yang dalam ilmu kedokteran lebih dikenal sebagai transplantasi.

Namun melihat fakta yang ada di masyarakat, transplantasi bukan hanya

menjadi solusi dalam usaha pencarian kesehatan, tapi juga menjadi sebuah

masalah baru karena orang yang hendak memberikan organ tubuhnya kepada

orang lain bisa saja terancam nyawanya, bahkan berujung pada kematian.

Dalam pemberitaan di media1 disampaikan bahwa setiap tahun ada sekitar

8.000 orang meninggal karena menunggu transplantasi organ. Jumlah

kebutuhan transplantasi organ meningkat sedangkan ketersediaan kurang.

Berarti dengan memberikan organ tubuh kita kepada orang lain,

dapat diasumsikan2 dengan membunuh diri kita sendiri. Padahal Allah swt

1
http://manado.tribunnews.com/2015/08/16/transplantasi-organ-dari-babi-ke-manusia-
kata-peneliti-solusi?page=3, akses: 4 September 2015.
2
Asumsi, berasal dari bahasa latin assumo, menerima, menarik, memungut, perkiraan,
anggapan, atau pengandaian bahwa sesuatu itu benar. Prof. Komaruddin, Dra. Yooke Tjuparmah
S. Komaruddin, M.Pd., Kamus Istilah: Karya Tulis Ilmiah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 23.
5

melarang hamba-Nya untuk membuhuh dirinya sendiri,3 hal ini berdasar pada

firman Allah dalam al-Qur’an :

.....‫اميحر مكب ناك ﷲ نإ مكسفنأ اولتقت لاو‬4.


.....‫ةكلھتلا ىلإ مكيديأب اوقلت لاو‬23......
Terkait membunuh diri sendiri, Rasulullah saw juga bersabda :

‫ نلايغ نب دومحم انثدح‬, ‫ ةريرھ ىبأ نع حلاص ابأ تعمس لاق شمعلأا نع ةبعش نع دواد وبأ انربخأ‬: ‫نأ‬
‫ لاق ملسو هيلع ﷲ ىلص ﷲ لوسر‬: ‫منھج ران ىف هنطب ىف اھب أجوتي هدي ىف هتديدحف ةديدحب هسفن لتق نم‬
‫ ادبأ اھيف ادلخم ادلاخ‬, ‫ ادبأ اھيف ادلخم ادلاخ منھج ران ىف هاسحتي هدي ىفهمسف مسب هسفن لتق نمو‬, ‫نم ىدرت نمو‬
‫ادبأ اھيف ادلخم ادلاخ منھج ران ىف ىدرتي وھف هسفن لتقف لبج‬5.
Mengingat anjuran untuk berbuat kebajikan dan menolong sesama

namun bisa saja membahayakan diri sendiri itu sangat kontradiktif, maka

diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai hal tersebut demi tercapainya

pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Terlebih ketika pemerintah dalam membangun kesehatan diharuskan

menyelenggarakannya dengan asas perikemanusiaan, yang berdasar

Ketuhanan yang Maha Esa, manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil

3
Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab
membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan.
4
An-Nisā’ [4]: 29.
5
Al-Baqarah [2]: 195.
6
Abi ‘Isā Muḥammad bin ‘Īsā bin Saurah bin Mūsā bin aḍ-Ḍuḥak as-Sulamī aṭ-Ṭirmiżī,
Sunan aṭ-Ṭirmiżī al-Jāmi’ aṣ-Ṣaḥīḥ, Kitāb aṭ-Ṭib, Bāb Mā Jāa fīman Qatala Nafsahu Bisummi au
Gairihi, (Beirūt: Dār al-Ma’rifah, 2002), nomor 2044, hlm. 814.
6

dan merata, perikehidupan dalam keseimbangan, serta kepercayaan akan

kemampuan dan kekuatan sendiri.

Untuk itulah pemerintah yang termasuk manusia berusaha mengatur

lebih lanjut terhadap upaya penggunaan organ tubuh manusia. Dalam

perkembangannya pemerintah di Indonesia telah mengeluarkan peraturan

salah satunya berupa undang-undang kesehatan, yang seiring berjalannya

waktu terus diperbarui.

Dalam undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada

pasal 64 ayat (1), menyampaikan bahwa :

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui


transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat
kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.

Pernyataan yang ditegaskan dalam pasal di atas telah membuktikan

bahwa pemerintah mengatur upaya transplantasi untuk penyembuhan

penyakit dan pemulihan kesehatan.

Disampaikan pula kebolehan melakukan upaya transplantasi ini pada

pasal 123 ayat (1) Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan7,

yang berbunyi sebagai berikut :

Pada tubuh yang telah terbukti mati batang otak dapat dilakukan tindakan
pemanfaatan organ sebagai donor untuk kepentingan transplantasi organ.

Sedangkan upaya teknis pelaksanaan penggunaan organ atau

jaringan tubuh manusia dan transplantasi diatur lebih lanjut dalam peraturan

7
Undang-undang Republik Indonesia, Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
7

pemerintah nomor 18 tahun 1981 tentang bedah mayat klinis dan bedah

mayat anatomis serta transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia.

MUI sebagai lembaga berkumpulnya para ‘alim ulama, juga telah

membahas masalah penggunaan organ tubuh ini yang melahirkan 5 keputusan

fatwa dan 1 ijtima’ keputusan ulama yang berbeda, antara lain :

1. Fatwa tentang wasiat menghibahkan kornea mata.

2. Fatwa tentang pengambilan dan penggunaan katup jantung.

3. Fatwa tentang penggunaan organ tubuh, ari-ari, dan air seni manusia bagi

kepentingan obat-obatan dan kosmetika.

4. Fatwa tentang pengawetan jenazah untuk kepentingan penelitian.

5. Fatwa tentang penggunaan jenazah untuk kepentingan penelitian.

6. Ijtima’ ulama komisi fatwa tentang bank mata dan organ tubuh lain.

Mengingat semangat dari pemerintah dan MUI di atas, maka

penyusun menganggap penting untuk membahas lebih lanjut terkait

penggunaan organ tubuh manusia bagi kepentingan medis yang tertuang

dalam undang-undang kesehatan dan fatwa MUI.

B. Pokok Masalah

Berangkat dari latar belakang di atas, dapat diambil sebuah rumusan

masalah, sebagai berikut :


8

1. Bagaimana ketetapan hukum dari fatwa MUI dan undang-undang tentang

kesehatan dan peraturan pemerintah, yang mengatur upaya Transplantansi

organ tubuh manusia, serta persamaan perbedaannya?

2. Bagaimana ushul fiqh meninjau persyaratan yang harus dipenuhi dalam

fatwa MUI dan undang-undang tentang kesehatan dan peraturan

pemerintah, untuk dapat melakukan upaya Transplantansi organ tubuh

manusia bagi kepentingan medis?

C. Tujuan dan Kegunaan

1. Tujuan

a. Untuk mengetahui ketetapan hukum Transplantansi organ tubuh

manusia dalam fatwa MUI dan undang-undang tentang kesehatan

dan peraturan pemerintah, serta persamaan dan perbedaannya.

b. Untuk mengetahui tinjauan ushul fiqh atas persyaratan yang harus

dipenuhi dalam Transplantansi organ tubuh manusia bagi

kepentiangan medis, pada fatwa MUI dan undang-undang tentang

kesehatan dan peraturan pemerintah.

2. Kegunaan

Kegunaan dalam bidang akademik yang penyusun harapkan

adalah, semoga dapat menjadi tambahan kontribusi dalam kajian

pemikiran hukum Islam tentang Transplantansi organ tubuh manusia, dan

semoga dapat menambah semangat peneliti lain untuk meneliti lebih

lanjut tentang kajian tersebut. Secara pribadi penyusun berharap,


9

penelitian ini dapat menambah ilmu dan wawasan bagi diri penyusun

sendiri.

D. Telaah Pustaka

Kajian mengenai Transplantansi Organ Tubuh Manusia dalam

Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia, yang dalam hal ini

mengacu pada fatwa MUI dan UU undang tentang kesehatan dan peraturan

pemerintah.. belum banyak dilakukan. Dikarenakan penggunaan organ tubuh

manusia di dalam dunia kedokteran merupakan hal yang masih dianggap tabu

oleh masyarakat secara umum, sehingga perlu dipahami dengan baik oleh

masyarakat Indonesia. Meski demikian segenap Ulama dan pemerintah

Indonesia telah berusaha keras untuk dapat menanggapi fenomena tersebut.

Berangkat dari hal di atas tentunya pembahasan ini sangat menarik

untuk dikaji lebih lanjut, untuk itu saya sebagai penyusun ingin menganalisa

hal tersebut dengan menitikberatkan pembahasan pada kajian perbandingan

antara hukum Islam dan hukum positif di Indonesia, khususnya dalam

mencari persamaan dan perbedaannya

Penelitian ini menekankan pada jawaban terhadap polemik yang

terjadi mengenai praktek transplantasi organ tubuh,


10

bukan pada tinjauan perbandingan hukumnya. Dalam penelitian ini

dimaksudkan guna menambah khasanah pemikiran dan kepustakaan

sekaligus sumbangan untuk para pemerhati dan peneliti hukum, khususnya

dalam kajian praktek transplantasi organ tubuh.

Adapun karya penelitian yang lain mengenai organ tubuh, adalah

sebuah karya penelitian dengan judul Transplantasi Organ Tubuh Mayat

(Studi Komparatif UU. No. 23 Tahun 1992, PP. No. 18 Tahun 1981 dan

Hukum Islam). Dalam penelitian ini menitikberatkan bahasannya mengenai,

bagaimana aplikasi transplantasi dari donor mayat menurut UU. No. 23 Tahun

1992, PP. No. 18 Tahun 1981 dan Hukum Islam.

Karya penelitian lainnya berjudul Perlindungan Hukum dan Sanksi

Hukum Mal Praktek dalam Transplantasi Ginjal: Studi Komparasi Hukum

Islam dan Hukum Positif. Dalam penelitian tersebut pembahasan hukumnya

lebih menitikberatkan pada kajian kasus yang melanggar hukum berupa

menyalah gunakan penggunaan organ tubuh manusia berupa ginjal.

Karya lainnya berjudul Konsep al-Qiyas Imam Syafi’i dan

Aplikasinya terhadap Pewasiatan Organ Tubuh. Dalam penelitian ini

pembahasannya lebih menitikberatkan pada uji coba aplikasi dari pendapat

seorang tokoh Ulama, atau masih mendeskripsikan satu pandangan hukum

saja dan bukan penelitian perbandingan hukum.

Karya lainnya berjudul Pengembangan Media Pembelajaran IPA

Berbasis Multimedia Menggunakan Software Ispring Suite 6-2 untuk SD /MI

Kelas V Materi Organ Tubuh Manusia dan Fungsinya. Dalam penelitian ini
11

pembahasan lebih menitikberatkan pada sebuah uji coba media pembelajaran yang

kebetulan menggunakan materi organ tubuh manusia. Jadi obyek penelitiannya

adalah media pembelajaran, bukan kasus hukum dari penggunaan organ tubuh

manusia.

Karya penelitian lainnya berjudul Wakaf Organ Tubuh Manusia dalam

Perspektif Hukum Islam. Dalam penelitian ini penyusun berusaha menjawab sebuah

fenomena masalah wakaf yang mengambil obyek berupa organ tubuh manusia.

Deskripsinya terdiri dari satu tinjauan hukum dan bukan dua atau banyak hukum

yang diperbandingkan.

Dari hasil telaah pustaka di atas, penyusun belum menemukan penelitian

yang membandingkan atara perspektif hukum Islam dan hukum positif di Indonesia

dalam menanggapi fenomena penggunaan organ tubuh manusia bagi kepentingan

medis. Oleh karena itu pada penelitian ini, penyusun akan mengkaji pembahasan

organ tubuh manusia bagi kepentingan medis dalam fatwa MUI sebagai representasi

dari hukum Islam, dan undang- undang nomor tentang kesehatan dan peraturan

poemerintah sebagai representasi dari hukum positif di Indonesia.


BAB II

TINJAUAN UMUM TRANSPLANTASI ORGAN

A. Pengertian Transplantasi Organ Tubuh

Transplantasi berasal dari bahasa Inggris yaitu transplantation,

menurut bahasa, istilah transplantasi ialah to transplant yang berarti to take up

and plant to another (mengambil dan menempelkan pada tempat lain). Atau to

move from one place to another (memindahkan dari satu tempat ke tempat yang

lain). Transplantasi juga berarti pencangkokan.8

1.
Sedangkan menurut istilah, transplantasi organ adalah

transplantasi atau pemindahan seluruh atau sebagian organ

dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat ke

tempat yang lain pada tubuh yang sama. Transplantasi ini

ditujukan untuk menggantikan organ yang rusak atau tak

befungsi pada penerima dengan organ lain yang masih

berfungsi dari donor. Donor organ dapat merupakan orang

yang masih hidup ataupun telah meninggal.9

Berdasarkan hubungan Genetik antara donor dan recipient

(penerima) maka transplantasi di golongkan menjadi tiga bagian :

8
Artikel diakses pada 18 Juni 2009 dari
http://www.slideshare.net/lukmanul/presentasi-12-transplantasi-organ
9
. Artikel diakses pada 13 September 2008 dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Transplantasi_organ

10
11

1. Auto Transplantation, yaitu dimana donor dan penerimanya berasal dari

satu individu. Misalkan seseorang yang diambilkan daging pahanya untuk

menampal pipinya.

2. Homo Transplantation, yaitu transplantasi yang donor dan penerimanya

berasal dari satu individu. Artinya transplantasi ini dari manusia ke

manusia, atau dari binatang ke binatang. Misalkan transplantasi hati dari

satu orang ke orang yang lain.

3. Hetero Transplantation, yaitu transplantasi yang dilakukan dari individu

yang berlainan. Artinya dari organ hewan ke manusia atau sebaliknya.

Misalkan transplantasi katup jantung babi untuk manusia.10

1. Sejarah Transplantasi

Transplantasi, yang merupakan pemindahan organ, sel, dan jaringan

dari satu lokasi ke lokasi lainnya telah dikenal sejak zaman dahulu kala.

Nenek moyang bangsa mesir telah mengenal praktek transplantasi dengan

teknik primitif sekitar tahun 500-700 sebelum masehi.11

Sebagai praktek primitif yang berasal dari abad 700 sebelum

masehi, sejarah mencatat bahwa mereka telah melakukan penyambungan

tulang yang patah pada manusia.

10.
Tim Perumusan Komisi Ahkam, Ahkamul Fuqoha:Solusi
problematika Aktual Hukum Islam. PB.NU cetakan ke 2,
Jakarta, 2007. h. 460
11.
Calne, R. The History and Development Of Organ
Transplantation: Biology and Rejection. Baillieres Clin
Gastroenterol. Canada,September 1994. h.389
12

Pada sekitar abad ke 7 transplantasi organ sudah dilakukan oleh

bangsa india, cina dan mesir. Tercatat dalam beberapa tulisan yang

menjelaskan prosedur untuk beberapa Transplantasi yang sangat mirip

dengan metode modern.12

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin pesat dan

banyaknya ilmuan yang telah menemukan zat kimia yang berhubungan

dengan transplantasi, tidak menutup kemungkinan transplantasi secara

modern dapat dilakukan.

Awal dilakukannya Transplantasi secara modern yaitu ketika

ditemukan zat kimia dalam bidang pembedahan dan antiseptik untuk

operasi pada tahun 1540 oleh ahli kimia Valerius Cordus yang

mensintesiskan eter kemudian dilakukan percobaan pada hewan.

Penggunaan eter untuk operasi menjadi meluas pada pertengahan tahun

1800 berdasarkan literratur Louis Pasteur tentang kemajuan dalam bidang

bakteriologi.13

Alexis Carrel, dikenal sebagai bapak dari percobaan transplantasi

organ karena ia yang pertama kali melakukan teknik vascular. Sebagai

dasar vascular operasi dan transplantasi organ. Transplantasi organ

12.
Artikel diakses pada 18 Juni 2009 dari
http://inventors.about.com/library/inventor
s/bl_history_of_transportation.htm
13
.Artikel diakses pada 28 Agustus 2009 dari en.wikipedia.org/wiki/Valerius_Cordus
13

merupakan sistem yang dibuat oleh Carrel dan Charles Lindbergh sebagai

dasar perkembangan operasi jantung oleh John Gibbon, sehingga

memungkinkannya dilakukan transplantasi jantung yang sebenarnya.14

2. Kemajuan Transplantasi Organ

Pada awal tahun 1960-an, transplantasi organ dari pendonor yang

telah meninggal adalah suatu hal yang mustahil. Donor dari orang yang

masih hidup adalah satu-satunya yang dapat digunakan untuk

ditransplantasikan.

Sebelum ditemukannya alat bantu pernapasan dan sistem

pendukung kehidupan, beberapa menit setelah mekanisme dari keseluruhan

otak tidak berfungsi, pernapasan berhenti dan jantungpun berhenti berdetak.

Berhenti berfungsinya otak diikuti oleh berhenti berfungsinya jantung dan

paru-paru. Hal ini menimbulkan banyak permasalahan. Tetapi dengan

ditemukannya alat bantu pernapasan, berhentinya fungsi otak (kematian

otak) dan berhentinya pernapasan (kematian jantung dan paru-paru) terjadi

dalam waktu yang berbeda.

Selanjutnya, dengan dengan kemajuan teknologi kedokteran yang

sangat pesat dalam bidang pencangkokan, hal ini memungkinkan mengganti

bagian dan organ tubuh lainnya seperti hati, paru-paru, liver, pangkreas,

jantung dan kornea mata, yang berfungsi normal, kemudian rusak atau yang

14
Artikel diakses pada 18 Juni 2009 dari
http://inventors.about.com/library/inventors/bl_history_of_transportat
ion.htm
14

hampir tidak berfungsi sama sekali, dengan organ dan bagian tubuh dari

orang lain melalui pencangkokan.15 Adapun gambar 1. merupakan berbagai

macam organ dan jaringan yang telah berhasil ditransplantasikan

Gambar 1. Organ dan jaringan tubuh yang telah berhasil dintrasnplantasikan

Keterangan gambar

1. Mata (kornea) 7. Usus Vena Paha

2. Paru-paru 8. Kulit

3. Jantung dan 9. Tulang


katup jantung
10. Ginjal
4. Hati
11. Tendon16
5. Pankreas

15
Dr.H.Azhar,LL.M, LL.D. Undang-Undang Pencakokan Organ Tubuh Dan Konsep
KematianDi Jepang. Simbur Cahaya No. 27 Tahun X Januari 2005 h.20-21
Seiring perkembangan zaman yang diikuti perkembangan teknologi

kedokteran, berbagai macam organ dapat di transplantasikan, sehingga

upaya untuk menggati organ tubuh seseorang yang sudah tidahk berfungsi

menjadi semakin mudah.

B. Dampak yang Timbul dari Transplantsi Organ

Pada homo transplantation, kemungkinan dampak yang ditimbulkan ada 3

macam :

1. Apabila donor dan penerimanya saudara kembar yang berasal dari satu sel

telur, maka hampir tidak menyebabkan reaksi penolakan pada golongan

ini hasil transplantasinya serupa dengan hasil auto transplantasi.

2. Apabila donor dan penerimanya adalah saudara kandung atau salah

satunya mempunyai orang tua yang sama, maka kemungkinan ada reaksi

penolakan tapi skalanya kecil.

16
Achmad Muchlisin, Danang Rais, Erdo Deshiant dan Vino Soaduon, The First Identical-Twin Kidney Transplant
Operation. Seminar dilaksanakan pada 23 desember 2004
16

3. Apabila donor dan penerimanya tidak mempunyai hubungan saudara,

maka kemungkinan besar transplantasi akan mengalami penolakan.17

Adanya penolakan organ tersebut terjadi karena di dalam tubuh

manusia terdapat suatu sistem kekebalan tubuh alamiah yang secara

otomatis akan menolak benda asing yang masuk kedalamnya.

Organ tubuh dari pendonor secara otomatis akan langsung ditolak

oleh sistem imun dari tubuh penerima organ. Penolakannya dapat berupa

penggumpalan darah atau tidak berfungsinya organ tersebut yang dapat

mengakibatkan kematian bagi penerima organ.

Seiring dengan kemajuan teknonlogi kedokteran yang kian

canggih, para ilmuwan telah menemukan serum dan obat yang dapat

mengatasi masalah yang timbul akibat Transplantasi organ semakin dapat

diatasi. Begitu juga masalah penolakan benda asing yang masuk kedalam

tubuh penerima organ.

C. Hukum Transplantasi Organ Tubuh

1. Hukum positif di Indonesia

Perkembangan dunia kedokteran yang memungkinkan untuk

melakukan pergantian organ dari satu orang kepada orang lain dengan

tujuan menyelamatkan jiwa orang (pasien) adalah sangat mulia.

17
Tim Perumusan Komisi Ahkam, Ahkamul Fuqoha:Solusi problematika Aktual Hukum Islam. PB.NU cetakan
ke 2, Jakarta, 2007. h. 460-461
17

Tetapi jika perbuatan itu dilakukan untuk mendapatkan

keuntungan atau dengan maksud mamperjual-belikan, maka itu adalah

perbuatan yang sangat tercela. Agar Transplantasi organ tubuh tidak

disalah gunakan, maka hal tersebut diatur dalam undang-undang.

Menurut Undang-undang yang berlaku di Indonesia yaitu pada

Undang-undang nomer 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang dibahas

lebih rinci pada pasal dibawah ini :

Pasal 33

(1) Dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat

dilakukan transplantasi organ dan atau jaringan tubuh, transfuse

darah, implan obat dan atau alat kesehatan serta bedah plastik

dan rekonstruksi.

(2) Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh serta transfusi darah

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan

kemanusiaan dan dilarang untuk tujuan komersial.

(1) Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh

tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan

dilakukan di sarana kesehatan tertentu.

(2) Pengambilan organ dan atau jaringan tubuh dari seorang donor harus

memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan dan ada

persetujuan donor dan ahli waris atau keluarganya.


18

(3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan

Peraturan Pemerintah.

Dengan demikian, Negara memperbolehkan seseorang untuk

melakukan transplantasi organ hanya untuk tujuan penyembuhan penyakit

dan pemulihan kesehatan.

Selain hal tersebut, syarat-syarat lainnya harus terpenuhi

sebagaimana yang tercantum dalam pasal 34 ayat satu dan dua. Sedangkan

untuk ketentuan penyelenggaraaanya, diatur oleh peraturan pemerintah

yaitu Peraturan Pemerintah nomor 18 tahun 1981.

(1) Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia hanya boleh dilakukan

oleh dokter yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan .

(2) Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan

oleh dokter yang merawat atau mengobati donor yang bersangkutan

Pasal 12 :

Dalam rangka transplantasi, penentuan saat mati ditentukan oleh 2 ( dua )

orang dokter yang tidak ada sangkut paut medik dengan dokter yang

melakukan transplantasi

Pasal 16 :

Donor atau keluarga donor yang tidak berhak atas kompensasi material

apapun sebagai imbalan transplantasi


19

Pasal 17 :

Dilarang memperjual belikan alat dan atau jaringan tubuh manusia .

Pasal 18 :

Dilarang mengirim dan menerima alat dan atau jaringan tubuh manusia

dalam semua bentuk dari luar negeri.

Jelaslah bahwa Negara Indonesia tidak melarang seseorang untuk

melakukan transplantasi organ tubuh asal sesuai dengan ketentuan yang

berlaku dan bukan untuk tujuan komersil.

2. Hukum Islam di Indonesia

Bidang kedokteran secara umum termasuk salah satu bidang

keilmuan yang mendapat perhatian cukup besar dari para ulama sejak

masa nabi hingga dewasa ini, termasuk yang terkait dengan

perkembangan teknologinya dari sisi etika dan hukum Islam. Dalam

menentukan hukum, haram-halalnya suatu temuan ilmiah termasuk dalam

bidang kedokteran.

pada masa Nabi, seluruhnya dapat diselesaikan oleh Nabi.

Sedang pada masa berikutnya jika tidak dapat ditemukan dalam sumber

ajaran Islam, al-Quran dan hadis, maka dilakukan ijtihad. Dewasa ini para

ulama dihadapkan pada masalah lebih rumit, karena banyak masalah-

masalah kedokteram yang tidak ada penegasan dalam nash, Alquran dan

Hadis, juga tidak ditemukan keterangannya dalam literatur fikih karena

hal yang serupa belum diformulasikan oleh para pakar fikih (fuqaha)
20

terdahulu, belum terjadi saat itu atau bahkan belum terpikirkan akan

adanya. Di samping itu, juga mulai terkuaknya masalah lain yang terkait

yang harus pula dipertimbangkan dalam menentukan hukumnya.18

Di sisi lain, sekarang hampir tidak ada lagi orang yang

mempunyai otoritas berijtihad secara mandiri karena orang yang

memenuhi prasyarat akademis dan moral yang diperlukan nyaris tidak

dapat dijumpai lagi. Maka yang dilakukan adalah berijtihad secara

kolektif (ijtihad jama'i) melalui lembaga atau organisasi keulamaan.

Padahal secara normatif teoritis, ada interaksi antara perubahan dan

perkembangan teknologi kedokteran dengan perubahan hukum Islam. 19

Setiap peristiwa yang terjadi pasti ada hukum yang mengikatnya,

ada dalil yang menunjukkan atas hukumnya, jika tidak ditemukan secara

jelas dalam nash maka dalil dicari dengan cara berijtihad. Dengan ijtihad,

maka sesulit dan serumit apa pun persoalan yang dihadapi manusia, maka

di situ ada ketentuan hukumnya.

Hukum Islam senantiasa dinamis dan sesuai dengan tuntutan

masa dan tempat, intinya menarik yang bermanfaat serta menghindari

yang mafsadat (Rahmān, 1983). Tujuan akhir ditetapkannya hukum Islam

adalah menjadi rahmat bagi manusia, mewujudkan kemaslahatan yang

18 Zuhroni, Fatwa Ulama Indonesia Terhadap Isu-isu Kedokteran Kontemporer, artikel


diakses pada 10 April 2010 dari
http://www.ptiq.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=34

19 ibid.
21

hakiki, baik di dunia maupun di akhirat (Zahrat, 1995). Ukuran dan

sarana kemaslahatan itu tidak baku dan tidak tak terbatas, ia berubah

seiring dengan perkembangan zaman (Rahmān, 1983).20

Secara metodologis, ulama menetapkan hukum Islam

berdasarkan sumber primer syariat Islam, Alquran dan Hadis, dua sumber

komplementer yang merupakan sub-ordinat (ijmak dan qiyas), kaidah-

kaidah suplementer, meliputi Istihsān (preferensi juristik), Amalan

Penduduk Madinah, al-Mashālih al-Mursalat (kemaslahatan umum),

Istishhāb (aturan kesesuaian), Syar‟ man Qablanā, Madzhab Shahābi,

Sadd al-Dzarī'at (menutup jalan yang dapat menghantarkan terjadinya

kemaksiatan), dan „urf (Khin, 1984; „Umran, 1992). Abd al-Rahim

„Umran menambahkan empat prinsip (kaidah) umum, yaitu: "Watak

dasar segala hal adalah halal kecuali apabila dilarang oleh suatu nash,

tidak memudaratkan dan tidak dimudaratkan, darurat membolehkan yang

dilarang, dan memilih kemudaratan yang lebih kecil (Umran, 1992).21

Hampir seluruh isu kedokteran dan kesehatan yang berkembang

dewasa ini telah mendapatkan fatwa dari Ulama Indonesia. Dilihat dari

segi jumlah topik kedokteran yang telah difatwakan, Bahtsul Masail

tercatat yang terbanyak, diikuti MPKS, MUI, Dewan Hisbah, dan Majlis

Tarjih. Ada dua isu (inseminasi buatan dan transplantasi) direspons oleh

20 Ibid.
21 Ibid.
22

seluruh lembaga fatwa, selebihnya kadang hanya oleh sebagian saja,

bahkan ada yang hanya oleh satu lembaga saja.22

Zuhroni, alumnus PTIQ yang sekarang menjadi dosen di

universitas YARSI menjelaskan bagaimana Penetapan fatwa terhadap

tema kedokteran yang ditetapkan oleh lima lembaga fatwa dari segi

metode atau dasar dalilnya, secara umum dapat digolongkan dalam tiga

tipologi,yaitu:

a. Merujuk pada ketentuan dalam kitab-kitab fikih (kutub mu‟tabarat),

dengan cara tahbīq atau Ilhāq (analogi), dilakukan oleh Bahtsul

Masail.

b. Dengan slogan „kembali kepada Alquran dan Hadis‟ oleh Majlis

Tarjih dan Dewan Hisbah, secara teoritis segala persoalan termasuk

isu-isu modern dapat dijawab dengan kedua sumber tersebut. Namun,

ketika dihadapkan pada realita ternyata tidak terdapat dalam dua

sumber tersebut, maka digunakan metode yang dirumuskan oleh para

mujtahid, seperti istihsān, mashlahat mursalat, sadd al-dzarī'at, dan

sebagainya, termasuk karya-karya fikih masa lalu, namun tidak

dinyatakan secara tegas.

22 Ibid.
23

c. MUI secara umum dapat dianggap sebagai perpaduan plus

antara dua tipologi di atas, bersifat fleksibel dan dinamis,

menggunakan sumber primer dan suplementer dan dinyatakan

secara jelas.23

Secara metodologis, meski tidak berarti meninggalkan sumber-

sumber hukum atau metode pendukung lain yang menguatkannya,

terlepas dari adanya kelaziman menyebutkan metode tersebut atau tidak

tetapi secara aplikatif dapat ditentukan, ada satu metode atau lebih

penetapan hukum yang kuat dan menonjol dijadikan sebagai dasar, yaitu

sebagai berikut:

a. Melalui sumber primer, Alquran dan Sunnah, atau dengan

mengkiyaskannya. Fatwa tentang larangan operasi ganti kelamin

digunakan dalil dengan nash tentang larangan merubah ciptaan Allah

dan menyerupakan diri dengan lain jenis. Proses pemasangan alat

kontrasepsi dalam rahim/vagina atau penanaman zigot dengan

batasan menutup aurat dan larangan melihat aurat, agar

„memejamkan pandangan‟. Keharaman menggunakan jenazah untuk

transplantasi dengan larangan menyakiti jenazah, atau secara spesifik

larangan untuk tidak mematahkan tulang mayit. Transplantasi organ

dan operasi perbaikan kelamin dengan anjuran berobat. Berobat

dengan bahan dari unsur babi atau transplantasi dengan organ babi

tercakup dalam larangan makan babi.

23 Ibid.
24

b. Melalui kaidah-kaidah suplementer, di antaranya:

1) Istihsan atau konsep darurat, seperti terhadap isu tentang donor organ,

transplantasi dengan organ orang mati, bedah mayat untuk pendidikan

kedokteran dan pengadilan, penggunaan obat beralkohol dan organ

babi, aborsi karena alasan medis, darurat.

2) Sadd al-Dzarī‟at digunakan untuk menetapkan haramnya penggunaan

sperma donor, sewa rahim, transplantasi dengan sesama muslim, aborsi

akibat perkosaan yang berakibat depresi berat.

3) Mashlahat Mursalat, dijadikan sebagai argumen halalnya inseminasi

buatan/bayi tabung, bedah mayat, transplantasi organ, dan KB.

4) Istishhāb digunakan karena tidak ada larangan dan perintah

dalam nash maka difahami sebagai bentuk pembolehan, seperti

fatwa tentang isu inseminasi buatan.

5) Melalui kitab-kitab fikih dengan cara men-tathbīq-kannya

atau meng-ilhāq-kannya, seperti haramnya suntik mayat dan

bedah mayat dianalogikan dengan haramnya khitan mayat,

bolehnya bedah mayat untuk pendidikan atau pengadilan,

donor dan
25

transplantasi organ manusia dianalogikan dengan bolehnya

mengeluarkan benda berharga atau bayi dari perut mayat.24

Fatwa tentang transplantasi organ pada prinsipnya seluruh

lembaga fatwa di Indonesia mengharamkan transplantasi organ manusia.

Majlis Tarjih, MUI, dan Dewan Hisbah menambahkan kecuali darurat,

juga termasuk untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan pendidikan

kedokteran.25

Fatwa Bahtsul Masail mengalami pergeseran, awalnya mereka

mengharamkannya secara mutlak namun kemudian direvisi yang

selanjutnya difatwakan dengan dua pandangan, haram secara mutlak dan

jaiz karena darurat.

Dewan Hisbah dan Bahtsul Masail mempersyaratkan

menggunakan organ muslim. Bedanya, Dewan Hisbah sebatas

menyarankan sedangkan Bahtsul Masail mengharuskannya.

Bahtsul Masail dan Dewan Hisbah secara khusus telah

mengeluarkan fatwa yang mengharamkan transplantasi menggunakan

organ babi, kecuali tidak ada pilihan lain. Namun jika ada organ

pengganti, maka Bahtsul Masail mengharamkannya secara mutlak

penggunaan organ babi

24 Ibid.
25 Ibid.
26

Ada beberapa pandangan hukum islam mengenai halal-haramnya

transplantasi organ, oleh agama dijawab dengan merujuk pada sumber

tekstual utama (Qur'an dan hadis) maupun kitab-kitab hukum fikih

dengan mempertimbangkan upaya mempertahankan martabat manusia.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra‟ ayat 70

‫َو ل َ ق َ دْ كَ َّر ْم ن َا ب َ ن ِ ي آ د َ َم َو َح َم لْ ن َا ه ُ ْم ف ِ ي الْ ب َ ِر َو الْ ب َ ْح ِر‬


‫ير‬ٍ ِ ‫ت َو ف َ ضَّلْ ن َا ه ُ ْم عَ ل َ ٰى كَ ث‬ ِ ‫َو َر زَ قْ ن َا ه ُ ْم ِم َن الطَّ ي ِ ب َ ا‬
‫يل‬ ً ‫ض‬ ِ ْ‫ِم َّم ْن َخ ل َ قْ ن َا ت َف‬
Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-
baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Allah SWT mengingatkan umat manusia akan nikmat dan karunia

khusus yang telah diberikan kepada mereka bahwa mereka dimuliakan

dan diberi kelebihan atas makhluk lain. Manusia dikaruniai Allah SWT

sarana pengankutan darat,laut, mereka dilaaruniai rizki, makanan dan


pakaian.
Setelah menggambarkan anugerah-Nya ketika berada di laut dan

di darat. Baik terhadap yang taat maupun yang durhaka, ayat ini

menjelaskan sebab anugerah itu , yakni karena manusia adalah makhluk


27

unik yang memiliki kehormatan dalam kedudukannya sebagai manusia,

baik dia taat maupun tidak.26

Kami lebihkan mereka dari hewan dengan akal dan daya cipta

sehingga menjadi makhluk bertanggung jawab. Kami lebihkan yang taat

dari mereka atas malaikat karena ketaatan manusia melalui perjuangan

melawan setan dan nafsu, sedangkan ketaatan malaikat tanpa tantangan.

Anugerah Allah SWT itu untuk semua manusia, inilah yang

menjadikan Nabi Muhammad SAW berdiri menghormati jenazah seorang

Yahudi. Ketika itu sahabat-sahabat rasul saw menanyakan sikap beliau

itu. Nabi saw menjawab “ Bukankah yang mati itu juga manusia?”27

Dari satu sisi kita dapat berkata bahwa jika Allah melebihkan

manusia atas banyak makhluk hidup berakal, maka lebih-lebih lagi

makhluk hidup tidak berakal. Di tempat lain Al-Qur‟an menegaskan

bahwa alam raya dan seluruh isinya telah ditundukkan Allah untuk

manusia.

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa
yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya

26
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati:
Jakarta 2002. Volume 7 h. 521
27
Ibid., h. 522
28

pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan


Allah) bagi kaum yang berfikir (Q.S. Al- Jatsiyah :13)

Disisi lain kita juga dapat berkata bahwa paling tidak ada dua

makhluk berakal yang diperkenalkan Al-Qur‟an yaitu malaikat dan jin.

Ini berarti manusia berpotensi untuk mempunyai kelebihan disbanding

dengan banyak – bukan semua – jin dan malaikat. Yang penulis (Quraish

Shihab) maksud dengan manusia adalah tentu saja manusia-manusia yang

taat, karena manusia yang durhaka dinyatakan-Nya bahwa

Mereka tidak lain kecuali bagaikan binatang ternak, bahkan lebih buruk (Q.S.
Al-Furqan :44)

Sebagaimana dipahami anugerah Allah SWT dari kata

karramnā/kami memuliakan dan dengan demikian anugerah tersebut tidak

boleh bertentangan dengan hak-hak Allah dan harus selalu berada dalam

koridor tuntunan agama-Nya.28

Pada tafsir lain menyatakan Kemuliaan Allah SWT menjelaskan

bahwa Allah telah memuliakan Adam dengan raut muka yang indah,

potongan yang serasi dan diberi akal agar dapat menerima petunjuk untuk

berbudaya dan berfikir guna mencari keperluan hidupnya, mengelola


28
Ibid., h. 523
kekayaan alam serta menciptaka alat pengangkut di darat, dilaut dan di

udara. Allah juga memberi anak adam kelebihan dan kesempurnaan yang

tidak dimiliki makhluk lain yang diciptakan-Nya.

Dengan demikian seharusnyalah mereka itu tidak mengadakan

Tuhan-tuhan lain yang mereka persekutukan dengan Allah, akan tetapi

hendaknya beribadah hanya kepada Allah SWT.29

29
Al-Qur‟an dan tafsirnya. Proyek penngadaan kitab suci Al-Qur‟an Departeman Agama
Republik Indonesia 1983/1984. Jilid V h. 627