Vous êtes sur la page 1sur 41

NAMA : ANNISA RAHAYU

NIM : 04011181621057
KELOMPOK : B8 (BETA 2016)

A. NYERI ABDOMEN
Nyeri abdomen / nyeri perut merupakan sensasi subjektif tidak menyenangkan yang
terasa di setiap regio abdomen. Nyeri abdomen akut biasanya digunakan untuk
menggambarkan nyeri dengan onset mendadak, dan atau durasi pendek. Nyeri abdomen
kronis biasanya digunakan untuk menggambarkan nyeri berlanjut, baik yang berjalan dalam
waktu lama atau berulang/ hilang timbul. Nyeri kronis dapat berhubungan dengan
eksaserbasi akut (Pierce A. Grace & Neil R. Borley, 2007). Kasus abdominal pain tercatat
5% sampai 10% dari semua kunjungan gawat darurat atau 5 sampai 10 juta pasien di
Amerika Serikat (Graff LG, Robinson D, 2001). Studi lain menunjukkan bahwa 25% dari
pasien yang datang ke instalasi gawat darurat mengeluh nyeri perut (Cordell WH et all,
2002). Diagnosis bervariasi sesuai untuk kelompok usia, yaitu anak dan geriatri. Contoh
nyeri perut pada anak-anak lebih sering disebabkan oleh apendisitis, sedangkan penyakit
empedu, usus diverticulitis, dan infark usus lebih umum terjadi pada bayi (Graff LG,
Robinson D, 2001).
1. Jenis Nyeri Perut
Nyeri perut dapat berupa nyeri viseral maupun nyeri somatik, dan dapat berasal dari
berbagai proses pada berbagai organ di rongga perut atau di luar rongga perut, misalnya di
rongga dada (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
a. Nyeri Viseral
Nyeri viseral terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga
perut, misalnya karena cedera atau radang. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ
perut dipersarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap perabaan, atau
pemotongan. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa
terasa oleh pasien. Akan tetapi bila dilakukan tarikan, regangan atau terjadi kontraksi yang
berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia, seperti pada kolik atau radangakan timbul
nyeri. Pasien yang mengalami nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat
letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menunjuk
daerah yang nyeri (Sjamsuhidajat dkk,2010).
Nyeri viseral memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan embrional organ
bersangkutan. Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut), yaitu lambung,
duodenum, sistem hepatobilier dan pankreas menimbulkan nyeri di ulu hati atau epigastrium.
Bagian saluran cerna yang berasal dari usus tengah (midgut), yaitu usus halus dan usus besar
sampai pertengahan kolon transversum menyebabkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian
saluran cerna lainnya yaitu pertengahan kolon transversum sampai dengan kolon sigmoid
yang berasal dari usus belakang (hindgut) menimbulkan nyeri di perut bagian
bawah.Demikian juga nyeri dari buli-buli dan rektosigmoid (lihat Gambar 2.1A). Karena
tidak disertai rangsangan peritoneum, nyeri ini tidak dipengaruhi oleh gerakan sehingga
penderita biasanya dapat aktif bergerak (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
b. Nyeri somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi saraf tepi,
misalnya regangan pada peritoneum parietalis, dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan
seperti ditusuk atau disayat, dan pasien dapat menunjuk letak nyeri dengan jarinya secara
tepat. Rangsang yang menimbulkan nyeri ini dapat berupa rabaan, tekanan, rangsang
kimiawi atau proses radang (lihat Tabel 2.1 dan 2.2) (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Tabel 2.1. Persarafan sensorik organ perut
Organ atau struktur Saraf Tingkat
persarafan
Bagian tengah diafragma N. frenikus C3-5
Tepi diafragma, lambung, Pleksus seliakus Th 6-9
pankreas, kandung empedu,
usus halus
Apendiks, kolon proksimal, Pleksus Th 10-11
dan organ panggul mesenterikus
Kolon distal, rektum, ginjal, N. splanknikus Th 11-L1
ureter, dan testis kaudal
Buli-buli, rektosigmoid Pleksus S2-S4
hipogastrikus
Gesekan antara visera yang meradang akan menimbulkan rangsang peritoneum dan
menyebabkan nyeri. Peradangannya sendiri maupun gesekan antara kedua peritoneum dapat
menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan inilah yang menimbulkan nyeri kontra
lateral pada apendisitis akut. Setiap gerakan penderita, baik berupa gerakan tubuh maupun
gerakan nafas yang dalam atau batuk, akan menambah rasa nyeri sehingga penderita gawat
perut yang disertai rangsang peritoneum berusaha untuk tidak bergerak, bernafas dangkal
dan menahan batuk (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Tabel 2.2.Letak nyeri somatik
Letak Organ
Abdomen kanan atas Kandung empedu*, hati, duodenum, pankreas,
kolon, paru, miokard
Epigastrium Lambung*, pankreas, duodenum, paru, kolon
Abdomen kiri atas Limpa*, kolon, ginjal, pankreas, paru
Abdomen kanan Apendiks*, adneksa*, sekum, ileum, ureter
bawah
Abdomen kiri bawah Kolon*, adneksa*, ureter
Suprapubik Buli-buli*, uterus, usus halus
Periumbilikal Usus halus
Pinggang/ punggung Pankreas*, aorta, ginjal
Bahu Diafragma*
* Organ yang paling sering menimbulkan nyeri somatik
(Sjamsuhidajat dkk, 2010)
2. Letak Nyeri Perut

Gambar 2.1 Nyeri perut


A. A. (1) nyeri viseral dari lambung, duodenum, system hepatobilier, dan pancreas
(foregut) dirasakan di ulu hati, (2) nyeri dari duodenum sampai pertengahan kolon
transversum (midgut) dirasakan di perut tengah, disekitar pusat, (3) kelainan pada
saluran cerna dari pertengahan kolon transversum sampai sigmoid (hindgut)
menyebabkan nyeri yang dirasakan diperut bagian bawah.
B. B. Kolik empedu pada mulanya mungkin dirasakan di epigastrium atau hipokondrium
kanan, (4) umumnya terdapat nyeri alih ke daerah ujung skapula di punggung (titik
Boas), (5) nyeri dari pelvis renalis dan kolik ureter biasanya dirasakan di genitalia
eksterna dan daerah inguinal.
C. C. Seperti pada gambar B, (4) titik Boas, (6) kelainan organ dan struktur
retroperitoneal seperti pankreas dan ginjal lazim menyebabkan nyeri pinggang, (7)
kelainan uterus dan rektum dirasakan di region sakrum, (8) nyeri alih dari diafragma
dirasakan di bahu.

Gambar 2.2. Nyeri lokal disertai nyeri tekan lokal dan defans muskuler lokal.
Perut kanan atas : (1) abses amuba, (2) kolesistitis akut, (3) perforasi tukak peptik.
Perut kiri atas : (4) cedera atau abses limpa, (5) pankreatitis akut.
Perut kanan bawah : (6) apendisitis akut, (7) adneksitis akut.
Perut kiri bawah : (8) divertikulitis sigmoid, (9) adneksitis akut.
3. Sifat Nyeri
a. Nyeri alih
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah.
Misalnya diafragma yang berasal dari regio leher C3-C5 pindah ke bawah pada masa
embrional sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau peradangan akan
dirasakan di bahu (lihat Gambar 2.1C dan 2.3). Demikian juga pada kolestitis akut, nyeri
dirasakan didaerah ujung belikat (lihat Gambar 2.1B dan 2.1C). Abses dibawah diafragma
atau rangsangan karena radang atau trauma pada permukaan atas limpa atau hati juga dapat
menyebabkan nyeri di bahu. Kolik ureter atau kolik pielum ginjal, biasanya dirasakan
sampai ke alat kelamin luar seperti labium mayor atau testis (lihat Gambar 2.1B). Kadang
nyeri ini sukar dibedakan dari nyeri alih (Sjamsuhidajat, dkk., 2010).

Gambar 2.3 Persarafan diafragma dan bahu, rangsangan pada pleura atau peritoneum dapat
dirasakan sebagai nyeri bahu.
A. Inervasi diafragma dan bahu oleh saraf servikal : (1) saraf C3, C4, dan C5, (2) n.
frenikus.
B. (1) Iritasi n. frenikus dapat dirasakan di bahu : daerah bahu yang disarafi, (2) paru-
paru dan pleura viseralisnya, (3) diafragma dengan pleura parietalis disebelah kranial
dan peritoneum parietalis disebelah kaudal, (4) hepar dan peritoneum viserale, (5)
rongga abdomen.
b. Nyeri proyeksi
Nyeri proyeksi adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensoris akibat
cedera atau peradangan saraf. Contoh yang terkenal ialah nyeri fantom setelah amputasi, atau
nyeri perifer setempat pada herpes zoster. Radang saraf ini pada herpes zoster dapat
menyebabkan nyeri hebat di dinding perut sebelum gejala atau tanda herpes menjadi jelas
dan rasa nyeri ini dapat menetap bahkan setelah penyakitnya sudah sembuh (Sjamsuhidajat
dkk, 2010).
c. Hiperestesia
Hiperestesia atau hiperalgesia sering ditemukan dikulit jika ada peradangan pada rongga
dibawahnya. Pada gawat abdomen, hiperestesia sering ditemukan pada peritonitis local
maupun peritonitis umum (Sjamsuhidajat dkk, 2010). Nyeri peritoneum parietalis dirasakan
tepat pada tempat terangsangnya peritoneum sehingga penderita dapat menunjuk dengan
tepat, dan pada tempat itu terdapat nyeri tekan, nyeri gerak, nyeri batuk, nyeri lepas, serta
tanda rangsang peritoneum lain dan defans muskuler yang sering disertai hiperestesia kulit
setempat (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
d. Nyeri kontinu
Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietale akan dirasakan terus-menerus karena
proses berlangsung terus, misalnya pada reaksi radang. Pada saat pemeriksaan penderita
peritonitis, ditemukan nyeri tekan setempat. Otot dinding perut menunjukkan defans
muskuler, kontraksi dinding perut yang terjadi secara refleks untuk melindungi bagian yang
meradang dari tekanan setempat.
e. Nyeri kolik
Kolik merupakan nyeri visceral akibat spasme otot polos organ berongga dan biasanya
disebabkan oleh hambatan pasase organ tersebut (obstruksi usus, batu ureter, batu empedu,
peningkatan tekanan intralumen). Nyeri ini timbul karena hipoksia yang dialami oleh
jaringan dinding saluran. Karena kontraksi ini berjeda, kolik dirasakan hilang timbul.Fase
awal gangguan pendarahan dinding usus juga berupa nyeri kolik.
Serangan kolik biasanya disertai perasaan mual, bahkan sampai muntah. Saat serangan,
pasien sangat gelisah, kadang sampai berguling-guling ditempat tidur atau di jalan, yang
khas adalah trias kolik yang terdiri atas serangan nyeri perut yang kumatan disertai mual atau
muntah dan gerak paksa (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
f. Nyeri iskemik
Nyeri perut juga dapat berupa nyeri iskemik yang sangat hebat, menetap, dan tidak
menyurut. Nyeri ini merupakan tanda adanya jaringan yang terancam nekrosis. Lebih lanjut
akan tampak tanda intoksikasi umum, seperti takikardia, merosotnya keadaan umum, dan
syok karena resorbsi toksin dari jaringan nekrosis (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
g. Nyeri pindah
Nyeri dapat berubah sesuai dengan perkembangan patologi. Pada tahap awal apendisitis,
sebelum radang mencapai permukaan peritoneum, nyeri viseral dirasakan disekitar pusat
disertai rasa mual karena apendiks termasuk usus tengah. Setelah radang terjadi diseluruh
dinding termasuk peritoneum viserale, terjadi nyeri akibat rangsangan peritoneum yang
merupakan nyeri somatik. Pada saat ini, nyeri dirasakan tepat pada letak peritoneum yang
meradang, yaitu diperut kanan bawah. Jika apendiks kemudian mengalami nekrosis dan
gangrene (apendisitis gangrenosa), nyeri berubah lagi menjadi nyeri iskemik yang hebat,
menetap dan tidak menyurut, kemudian penderita dapat jatuh dalam keadaan toksis (lihat
Gambar 2.4A) (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Pada perforasi tukak peptik duodenum, isi duodenum yang terdiri atas cairan asam
hidroklorida dan empedu masuk ke rongga abdomen yang sangat merangsang peritoneum
setempat. Pasien merasa sangat nyeri ditempat rangsangan itu, yaitu diperut bagian atas.
Setelah beberapa waktu, cairan isi duodenum mengalir ke kanan bawah, melalui jalan di
sebelah lateral kolon asendens sampai ke tempat kedua, yaitu rongga perut kanan bawah,
sekitar sekum. Nyeri itu kurang tajam dan kurang hebat dibandingkan nyeri pertama karena
terjadi pengenceran. Pasien sering mengeluh bahwa nyeri yang mulai di ulu hati pindah ke
kanan bawah. Proses ini berbeda sekali dengan proses nyeri pada apendisitis akut. Akan
tetapi kedua keadaan ini, apendisitis akut maupun perforasi lambung atau duodenum, akan
mengakibatkan peritonitis purulenta umum jika tidak segera di tanggulangi dengan tindak
bedah (lihat Gambar 2.4B) (Sjamsuhidajat dkk, 2010).

Gambar 2.4 Nyeri yang pindah


4. Posisi Pasien
Posisi pasien dalam usaha mengurangi nyeri tertentu dapat menjadi petunjuk. Pada
pankreatitis akut, pasien akan berbaring pada sisi sebelah kiri dengan fleksi pada tulang
belakang, panggul, dan lutut. Kadang penderita akan duduk bungkuk dengan fleksi sendi
panggul dan lutut. Penderita abses hati biasanya berjalan sedikit membungkuk dengan
menekan daerah perut bagian atas seakan-akan menggendong absesnya. Pasien apendisitis
akut yang letaknya retrosekum cenderung berbaring dengan fleksi pada sendi panggul
sebagai usaha melemaskan otot psoas yang teriritasi. Gawat abdomen akibat iritasi pada
diafragma akan menyebabkan pasien lebih merasa nyaman dalam posisi setengah duduk
yang memudahkan bernapas. Pasien peritonitis local atau umum tidak dapat bergerak karena
nyeri, sedangkan penderita kolik terpaksa bergerak-gerak karena nyerinya (Sjamsuhidajat
dkk, 2010).
5. Mekanisme Nyeri
 Reseptor nyeri dan stimulasinya.
Kapasitas jaringan menimbulkan nyeri apabila mendapat rangsangan yang mengganggu,
bergantung pada keberadaan nosiseptor (saraf aferen primer untuk menyalurkan dan
menerima rangsangan nyeri). Ujung-ujung saraf bebas nosireseptor berfungsi sebagai
reseptor yang peka terhadap rangsangan kimiawi yang menimbulkan nyeri. Distribusi
nosireseptor bervariasi di seluruh tubuh, dengan jumlah terbesar terdapat di kulit. Nosiseptor
terletak di jaringan kutis, otot rangka dan sendi. Reseptor nyeri visera tidak terdapat di
parenkim organ internal itu sendiri, tetapi di permukaan peritoneum, membran pleura,
durameter dan pembuluh darah. Saraf perifer terdiri dari tiga tipe akson neuron yang
berlainan: neuron aferen atau neuron sensorik primer, neuron simpatik dan neuron
pascaganglion simpatis. Serat pascaganglion simpatik dan motorik adalah serat aferen
(membawa impuls dari medula spinalis ke jaringan organ efektor). Badan sel dari neuron
aferen primer terletak di akral dorsal N. Spinalis. Setelah keluar dari badan selnya di
ganglion akral dorsal (GAD), akson saraf aferen primer terbagi menjadi dua prosesus: satu
masuk ke kornu dorsalis medula spinalis, dan yang lain mempersarafi jaringan. Serat serat
aferen primer diklasifikasikan berdasarkan ukuran, derajat mielinisasi, dan kecepatan
penghantaran. Serat aferen A-alfa dan A-beta berukuran paling besar dan bermielin serta
memiliki kecepatan hantaran tertinggi. Serta serat ini berespon terhadap sentuhan, tekanan,
dan sensasi kinestetik, namun serat-serat ini tidak berespon terhadap rangsangan yang
mengganggu sehingga tidak dapat diklasifikasikan sebagai nosiseptor. Sebaliknya serat serat
aferen primer A-delta yang bergaris tengah kecil dan sedikit bermielin, dan serat aferen C
yang tidak bermealin akan memberikan respon secara maksimal apabila ada rangsanagan
yang mengganggu (disebut sebagai nosiseptor). Rangsangan nyeri cepat disalurkan melalui
A-delta, dan nyeri lambat melalui serat aferen C (Price and Wilson, 2001).
Penghantar rangsangan nyeri agar bisa dikenali oleh manusia, paling tidak melalui
beberapa mekanisme, yaitu : proses transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi. Transduksi
adalah suatu proses adanya rangsangan yang mengganggu yang menyebabkan depolarisasi
nosiseptor dan memicu stimulus nyeri. Salah satu kemungkinan mekanisme transduksi
adalah pengaktifan nosiseptor oleh zat-zat kimia penghasil nyeri yang dibebaskan ditempat
jaringan. Rangsangan tersebut akan ditransmisikan ke ganglion medula spinalis dan
selanjutnya akan mengalami modulasi di medulla spinalis melalui dua mekanisme : yaitu
control gerbang spina dan jalur ascendens dan dipersepsikan di daerah talamus merupakan
penafsiran nyeri di otak yang selanjutnya akan mmpengaruhi konteks psikologis, perilaku,
dan emosi.
6. Anamnesis
Dalam anamnesis penderita gawat abdomen, perlu ditanyakan dahulu permulaan
timbulnya nyeri (kapan mulai, mendadak atau berangsur), letaknya (menetap, pindah atau
beralih), keparahannya dan sifatnya (seperti ditusuk, tekanan, terbakar, irisan, bersifat kolik),
perubahannya (bandingkan dengan permulaan), lamanya, apakah berkala, dan faktor apakah
yang mempengaruhinya (adakah yang memperingan atau memberatkan seperti sikap tubuh,
makanan, minuman, nafas dalam, batuk, bersin, defekasi, miksi). Harus ditanyakan apakah
pasien pernah mengalami nyeri seperti ini (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Nyeri abdomen dapat berasal dari organ dalam abdomen termasuk peritoneum viseral
(nyeri viseral) atau peritoneum parietal atau dari otot, lapisan dari dinding perut (nyeri
somatik). Pada saat nyeri dirasakan pertama kali, nyeri viseral biasanya nyeri yang
ditimbulkan terlokalisasi dan berbentuk khas. Nyeri yang berasal dari organ padat kurang
jelas dibandingkan nyeri dari organ yang berongga. Nyeri yang berasal dari viseral dan
berlangsung akut biasanya menyebabkan tekanan darah dan denyut jantung berubah, pucat
dan berkeringat dan disertai fenomena viseral motor seperti muntah dan diare. Biasanya
pasien juga merasa cemas akibat nyeri yang ditimbulkan tersebut (Aru W. Sudoyo, dkk,
2009).
Muntah sering ditemukan pada penderita gawat perut. Pada obstruksi usus tinggi,
muntah tidak akan berhenti, malahan biasanya bertambah hebat. Sembelit (konstipasi)
didapatkan pada obstruksi usus besar dan pada peritonitis umum (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Nyeri tekan didapatkan pada letak iritasi peritonium. Jika ada peradangan peritonium
setempat, ditemukan tanda rangsang peritonium yang sering disertai defans muskuler.
Pertanyaan mengenai defekasi, miksi, daur haid dan gejala lain seperti keadaan sebelum
diserang tanda gawat perut, harus dimasukkan dalam anamnesis (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
7. Diagnosis
Seperti telah disebutkan diatas, anamnesis mengandung data kunci yang dapat
mengarahkan diagnosis gawat perut.Sifat, letak, dan perpindahan nyeri merupakan gejala
yang penting. Demikian juga muntah, kelainan defekasi, dan sembelit. Adanya syok, nyeri
tekan, defans muskuler, dan perut kembung harus diperhatikan sebagai gejala dan tanda
penting (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Kadang ditemukan gawat perut dengan penderita yang langsung pingsan. Pingsan dapat
disebabkan oleh nyeri hebat seperti pada awal kolik empedu, perforasi tukak peptik,
obstruksi usus halus akut, perforasi akut apendiks, kehamilan ektopik terganggu, dan
pankreatitis akut. Dalam keadaan ini, selalu harus dipikirkan kemungkinan perdarahan yang
banyak (lihat Gambar 2.6) (Sjamsuhidajat dkk, 2010).

Gambar 2.6 Kolik pada gawat abdomen


(1) Kolik bilier, (2) perforasi tukak peptik duodenum, (3) perforasi tukak peptik
lambung, (4) pankreatitis akut, (5) obstruksi usus halus akut, (6) perforasi apendisitis akut,
(7) kehamilan ektopik terganggu.
Sifat nyeri, cara timbulnya pada permulaan, dan perjalanan selanjutnya sangat penting
untuk menegakkan diagnosis. Nyeri yang timbul mendadak dan tidak tertahankan mungkin
merupakan kolik ureter, kolik empedu, tanda infark jantung, tanda perforasi tukak peptik
atau rupture aorta abdominal. Nyeri hebat yang timbul mendadak kemudian semakin hebat
dapat disebabkan oleh pankreatitis akut, thrombosis vena mesenterika, atau kehamilan
ektopik yang pecah (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Nyeri kolik, yang makin hebat dengan jeda antar serangan, selain disebabkan oleh kolik
ureter dan kolik saluran empedu, mungkin disebabkan oleh pankreatitis (jarang), obstruksi
usus halus, dan kolitis (lihat gambar 2.7) (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Gambar 2.7. Berbagai sifat nyeri yang mulai tiba-tiba dan letaknya
A. Nyeri hebat sekali : (1) kolik bilier, (2) infark jantung, (3) kolik ureter, (4) perforasi tukak
peptik, (5) ruptur aneurisma aorta.
B. Nyeri hebat yang makin berat : (1) pankreatitis akut, (2) trombosis v mesenterika,(3)
kehamilan ektopik.
C. Nyeri menetap : (1) kolesistitis akut, kolangitis akut, hepatitis akut, (2) apendisitis akut,
salpingitis akut (PID), (3) divertikulitis sigmoid, salpingitis akut.
D. Kolik yang makin hebat : (1) awal pankreatitis (jarang), (2) kolitis berat.
a. Nyeri di pusat
Jika terdapat nyeri sentral hebat terpusat diperut, dapat dipikirkan kemungkinan tahap
awal obstruksi usus halus, apendisitis dan pankreatitis, walaupun yang terakhir ini jarang
sekali ditemukan. Jika sewaktu pengamatan terjadi perkembangan klinis, seperti kenaikan
suhu, muntah, atau nyeri tekan lokal, diagnosis akan lebih jelas (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Jika nyeri di pusat yang hebat ini diikuti dengan syok, harus dipikirkan kemungkinan
volvulus usus halus, kehamilan ektopik yang terganggu, pankreatitis akut, oklusi pembuluh
koroner, oklusi vena mesenterika (jarang), atau aneurisma aorta yang robek atau pecah
(jarang) (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
Bila pada penderita ini ditemukan juga defans muskuler, perlu dipikirkan perforasi
tukak peptik atau perforasi dari saluran cerna (Sjamsuhidajat dkk, 2010).
b. Kolik
Nyeri bersifat kolik disertai muntah dan distensi yang makin besar, tetapi tanpa defans
muskuler yang jelas mungkin disebabkan oleh obstruksi usus halus (Sjamsuhidajat dkk,
2010).
c. Nyeri lokal dan rangsang peritoneum lokal
Nyeri setempat disertai nyeri tekan dan defans muskuler ditempat nyeri banyak
penyebabnya, tergantung letak nyeri. Letak kanan atas mungkin disebabkan oleh perforasi
tukak peptik duodenum, abses hati, atau kolesistitis akut. Letak kiri atas mengarah pada
kelainan limpa, sepeti rupture, infark jantung, atau pankreatitis akut (ekor pankreas terletak
dikiri atas dan mencapai hilus limpa). Letak dikanan bawah mengarahkan perhatian pada
apendisitis dan kelainan diagnosis bandingnya, sedangkan pada letak dikiri bawah harus
dipikirkan kemungkinan adneksitis (pelvic inflammatory disease, PID) atau diverticulitis
(sering di Negara barat, terutama pada orang dewasa dan usia lanjut) (Sjamsuhidajat dkk,
2010).
8. Diagnosis Banding
Tabel 2.5.Diagnosis DifferensialNyeri AbdomenBerdasarkan Lokasi
Kuadran Atas Kanan Epigastrik Kuadran Atas Kiri
Kolesistitis Ulkus peptikum Infark Limpa
Kolangitis Gastritis Ruptur Limpa
Pankreatitis GERD Abses Limpa
Pneumonia/ Empiema Pankreatitis Gastritis
Pleurisy/ Pleurodynia Infark Miokard Ulkus Gaster
Abses Subdiaphragmatik Perikarditis Pankreatitis
Hepatitis Ruptur Aneurisma Aorta Abses Subdiaphragmatik
Budd-Chiari syndrome Esofagitis
Kuadran Bawah Kanan Periumbilikus Kuadran bawah Kiri
Apendisitis Apendisitis Awal Divertikulitis
Salpingitis Gastroenteritis Salpingitis
Hernia Inguinalis Bowel obstruction Hernia Inguinalis
Kehamilan Ektopik Ruptur Aneurisma Aorta Kehamilan Ektopik
Nefrolitiasis Nefrolitiasis
Penyakit Peradangan Usus Irritable bowel syndrome
Mesenteric lymphadenitis Penyakit Peradangan usus
Typhlitis
Nyeri Non-Lokalis yang Difus
Gastroenteritis Diabetes
Iskemia Mesenterika Malaria
Bowel obstruction Familial Mediterranean
Irritable bowel syndrome fever
Peritonitis Metabolic diseases
Penyakit Psikiatrik
(Anthony S. Fauci, dkk, 2008)
9. Tatalaksana
Dengan semakin canggihnya pameriksaan baik pemeriksaan radiologi dan endoskopi,
tatalaksana pasien dengan nyeri abdomen juga semakin luas selain terapi farmakologi dan
terapi bedah terapi endoskopi dan terapi radiologi intervensi serta terapi melalui laparoskopi
merupakan modalitas yang biasa dilakukan pada pasien dengan akut abdomen. Beberapa
keadaan nyeri abdomen tindakan operasi bukan merupakan pilihan utama. Keadaan dimana
pendekatan radiologi menjadi pilihan pertama yaitu pada abses hati dimana aspirasi abses
melalui ultrasonografi abdomen harus dilakukan bersamaan dengan terapi antibiotik (Aru W.
Sudoyo, dkk, 2009).
Secara umum pada akhirnya penanganan pasien dengan nyeri abdomen adalah
menentukan apakah pasien tersebut merupakan kasus bedah yang harus dilakukan tindakan
operasi atau jika tindakan bedah tidak perlu dilakukan segera kapan kasus tersebut harus
dilakukan tindakan bedah (Aru W. Sudoyo, dkk, 2009).
B. MEKANISME MUAL DAN NAFSU MAKAN MENURUN
 Mual adalah pengenalan secara sadar terhadap eksitasi bawah sadar pada daerah
medulla yang secara erat berhubungan dengan atau merupakan bagian dari pusat
muntah. Mual disebabkan oleh impuls iritatif yang datang dari gastrointestinal,
impuls yang berasal dari otak bawah yang berhubungan dengan motion sickness, atau
impuls dari korteks serebri untuk mencetuskan muntah. Muntah kadang-kadang
terjadi tanpa didahului perangsangan prodormal mual, yang menunjukkan bahwa
hanya bagian-bagian tertentu dari pusat muntah yang berhubungan dengan
perangsangan mual. Di dalam tubuh kita terjadi peradangan lambung akibat kita
makan-makanan yang mengandung alkohol, aspirin, steroid, dan kafein sehingga
menyebabkan terjadi iritasi pada lambung dan menyebabkan peradangan di lambung
yang diakibatkan oleh tingginya asam lambung. Setelah terjadi peradangan lambung
maka tubuh akan merangsang pengeluaran zat yang disebut vas aktif yang
menyebabkan permeabilitas kapilier pembuluh daran naik, sehingga menyebabkan
lambung menjadi edema (bengkak) dan merangsang reseptor tegangan dan
merangsang hypothalamus untuk mual.
 Hipotalamus dinilai dapat mengatur baik rasa kenyang maupun lapar, dengan
menghasilkan homeostasis berat badan dalam keadaan yang ideal.Hipotalamus
mengintepretasikan dan mengintegrasikan sejumlah besar masukan neural dan
humoral untuk mengkoordinasikan tahapan lapar dengan pengeluaran energi sebagai
respon terhadap keadaan perubahan keseimbangan energi. Sinyal jangka panjang
yang menghubungkan informasi tentang simpanan energi badan, status endokrin, dan
kesehatan umum terutama merupakan masukan humoral. Sinyal jangka pendek,
termasuk hormon usus dan sinyal neuran dari pusat otak lebih tinggi dan usus,
meregulasi tahapan awal dan akhir proses makan. Hormon-hormon yang terlibat
dalam proses inimencakup leptin, insulin, kolesitokinin, grelin, polipeptida YY,
polipeptida pankreas, peptida-1 yang mirip glukagon, dan oxytomodulin. Perubahan
setiap proses humoral atau neuronal inidapat menimbulkan anoreksia.
C. PEMERIKSAAN FISIK UMUM
 Keadaan Umum
Dapat menilai apakah pasien dalam keadaan darurat medik atau tidak.
Keadaan gizi dan habitus.
Habitus : - Atletikus  BB dan bentuk badan ideal
- Astenikus  pasien yang kurus
- Piknikus  pasien yang gemuk
Keadaan gizi  kurang, cukup atau berlebih.
BB dan TB harus diukur sebelum pemeriksaan fisis dilanjutkan.
Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) :
- BB ideal = IMT 18,5 – 25
- BB kurang = IMT < 18,5
- BB lebih = IMT > 25
- OBESITAS = IMT > 30.
 Tingkat kesadaran :
A.
o Kompos mentis :
 Sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan.
 Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik.
o Apatis :
 Pasien tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya.
o Delirium :
 Penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik.
 Gaduh gelisah, kacau, disorientasi, meronta-ronta.
o Somnolen :
 Mengantuk yang masih pulih bila dirangsang.
 Tidur kembali bila rangsangan berhenti.
o Sopor (stupor) :
 Keadaan mengantuk yang dalam
 Dapat bangun dengan rangsangan yang kuat
 Tidak dapat memberi jawaban verbal yang baik
o Koma :
 Penurunan kesadaran berat
 Tidak ada gerakan spontan
 Tidak ada respons terhadap rangsangan nyeri.
B.

 Suhu
Ukur suhu tubuh pasien dengan termometer badan. Sebelum mengukur suhu tubuh
pasien kibaskan termometer hingga ke nilai 35°C atau di bawahnya. Ada beberapa cara
memeriksa suhu :
i. Suhu oral: Termometer dimasukkan di bawah lidah, anjurkan pasien menutup kedua
bibirnya dan tunggu selama 10 menit. Kemudian baca termometer, masukkan
kembali selama 1 menit dan baca kembali. Normal 37 C. Sangat berfluktasi dari dini
hari sampai petang/ malamhari.
ii. Suhu rektal: Termometer dimasukkan ke dalam anus selama 2-5 menit, sebelumnya
olesi termometer dengan pelicin. Hasil biasanya lebih tinggi daripada suhu oral
sekitar 0,4 – 0,5 C.
iii. Suhu axila: Termometer dimasukkan di axila kemudian lengan menutupnya.Tunggu
selama kurang lebih 15 menit. Hasil biasanya lebih rendah dibanding suhu oral yakni
sekitar 1 C.
Suhu tubuh normal  36 – 37 ºC.
Grafik suhu tubuh  3 stadium :
 Stadium inkrementi  suhu tubuh mulai meningkat.
 Stadium fastigium  puncak dari peningkatan suhu tubuh.
 Stadium dekrementi  turunnya suhu tubuh yang tinggi.
 Tekanan Darah
 Diukur dengan tensimeter (sfigmometer)
 Dengan stetoskop terdengar denyut nadi Korotkof :
 Korotkof I  suara denyut mulai terdengar, tapi masih lemah dan akan mengeras
setelah tekanan diturunkan 10-15 mmHg  sesuai dengan tekanan sistolik
 Korotkof II  suara terdengar seperti bising jantung (murmur) selama 15-20 mmHg
berikutnya
 Korotkof III  suara menjadi kecil kualitasnya, lebih jelas dan keras selama 5-7
mmHg berikutnya
 Korotkof IV  suara meredup sampai kemudian menghilang setelah 5-6 mmHg
berikutnya
 Korotkof V  titik dimana suara menghilang  sesuai dengan tekanan diastolik.

Cara mengukur tekanan darah :


1.Persiapan
 Sebaiknya untuk mengukur tekanan darah pasien tidak merokok atau minum
minuman berkafein selama kurang lebih 30 menitsebelum pengukuran dan istirahat
sedikitnya 5 menit sebelum pengukuran.
 Lengan yang diperiksa tidak tertutup pakaian.
 Palpasi arteri brachialis
 Atur posisi lengan sedemikan sehingga arteri brachialis pada fosa antecubital terletak
setinggi jantung (kira-kira sejajar dengan intercosta 4).
 Letakkan manset di tengah arteri brachialis pada lengan kanan, sisi bawah manset
kurang lebih 2,5 cm diatas fosa antecubital. Lingkarkan manset dengan tepat ,
posisikan lengan pasien sedikit flexi.
2. Tentukan dahulu tekanan sistolik palpasi.Caranya, palpasi arteri radialis dekat
pergelangan tangan dengan satu jari sambil pompa manset sampai denyut nadi arteri
radialis menghilang. Baca berapa nilai tekanan ini pada manometer. Itulah tekanan
sistolik palpasi. Lalu kempiskan manset.
3.Sekarang ukur tekanan darah. Letakkan bel stetoskop di atas arteri brachialis. Kunci
bagian pengeluaran udara. Pompa manset sampai kurang lebih 30mmHg diatas
tekanan sistolik palpasi. Kemudian kempiskan dengan membuka kunci pengeluaran
udara perlahan-lahan dengan kecepatan kira-kira 2-3 mmHg/detik. Dengarkan bunyi
ketukan pada stetoskop anda.
Yang disebut tekanan sistolik adalah bunyi ketukan pertama yangterdengar
(Korotkoff I). Yang disebut tekanan diastolik adalah saat bunyi ketukan sama sekali
hilang (korotkoff V).
 Nadi
• Pemeriksaan nadi umumnya dilakukan dgn palpasi a. radialis kanan dan kiri dekat
pergelangan tangan. Lakukan palpasi dengan 2 atau 3 jari. Hitunglah frekuensi
denyut nadi per menit. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah pasien istirahat 5 –
10 menit.
• Tempat lain  a. brakialis, a. femoralis, a. poplitea, a. dorsalis pedis
• Yang perlu diperhatikan :
– Frekwensi denyut nadi
– Irama
– Isi nadi
– Kualitas nadi
– Kualitas dinding arteri
• Frekuensi Nadi :
– Normal  80 x permenit
– Bila > 100 x permenit  takikardia
– Bila < 60 x permenit  bradikardia
• Irama denyut nadi :
– reguler atau ireguler
– pulsus defisit  frekuensi denyut nadi lebih kecil dari denyut jantung.
– pulsus bigeminus  2 denyut nadi dipisahkan oleh interval yang panjang.
– pulsus trigeminus  3 denyut nadi dipisahkan oleh interval yang panjang.
– pulsus alternans  denyut yang kuat dan lemah terjadi bergantian.
• Isi Nadi :
– Cukup
– Kecil  pulsus parvus (pada perdarahan, infark miokard, efusi perikardial, stenosis
aorta
– Besar  pulsus magnus (demam, bekerja keras)
• Kualitas Nadi :
– Bila tekanan nadi besar, pengisian dan pengosongan nadi berlangsung mendadak 
pulsus celer.
– Bila tekanan nadi kecil, pengisian dan pengosongan nadi lambat  pulsus tardus.
• Kualitas dinding arteri :
– Mengeras pada aterosklerosis.
 Frekuensi Pernapasan
Hitunglah jumlah pernapasan dalam 1 menit. Lakukan dengan inspeksi atau
auskultasi.
• Normal  16 – 24 kali per menit dalam keadaan tenang.
• Bila < 16 x/menit  bradipneu
• Bila > 24 x/menit  takipneu
• Pernapasan yg dalam  hiperpneu
• Pernapasan yg dangkal  hipopneu
• Kesulitan bernapas atau sesak napas  dispneu
• Sesak napas bila berbaring , nyaman bila dalam posisi tegak  ortopneu
• Sesak napas malam hari  paroxysmal nocturnal dyspnoe
• Sifat pernapasan :
– Pada wanita  abdomino-torakal  torakal lebih dominan
– Pada laki-laki  torako-abdominal  abdominal lebih dominan
– Kussmaull  cepat dan dalam  pada asidosis metabolik
– Biot  tidak teratur irama dan amplitudonya, diselingi periode apneu
– Cheyne-Stokes  amplitudo mula2 kecil, kemudian membesar dan mengecil
kembali, diselingi periode apneu.
- Biot dan Cheyne-Stokes  pada kerusakan otak.
 VAS (Visual Analogue Scale)

Sumber : Yale University


D. PEMERIKSAAN FISIK KHUSUS (LOKALIS)
INSPEKSI
Mulailah menginspeksi dinding abdomen dari posisi Anda berdiri di sebelah kanan
penderita. Apabila anda akan memeriksa gerakan peristaltik sebaiknya dilakukan dengan
duduk, atau agak membungkuk, sehingga Anda dapat melihat dinding abdomen secara
tangensial. Perhatikanlah :
1. Kulit : apakah ada sikatriks, striae atau vena yang melebar. Secara normal, mungkin
terlihat vena-vena kecil. Striae yang berwarna ungu terdapat pada sindroma Cushing dan
vena yang melebar dapat terlihat pada cirrhosis hepatic atau bendungan vena cava inferior.
Perhatikan pula apakah ada rash atau lesi-lesi kulit lainnya.
2. Umbillikus: perhatikan bentuk dan lokasinya, apakah ada tanda-tanda inflamasi atau
hernia.
3. Perhatikan bentuk permukaan (countour) abdomen termasuk daerah inguinal dan femoral :
datar, bulat, protuberant, atau scaphoid. Bentuk yang melendung mungkin disebabkan oleh
asites, penonjolan suprapubik karena kehamilan atau kandung kencing yang penuh. Tonjolan
asimetri mungkin terjadi karena pembesaran organ setempat atau massa.
4. Simetri dinding abdomen.
5. Pembesaran organ : mintalah penderita untuk bernapas, perhatikan apakah nampak adanya
hepar atau lien yang menonjol di bawah arcus costa.
6. Apakah ada massa abnormal, bagaimana letak, konsistensi, mobilitasnya.
7. Peristaltik. Apabila Anda merasa mencurigai adanya obstruksi usus,amatilah peristaltik
selama beberapa menit. Pada orang yang kurus, kadang-kadang peristaltik normal dapat
terlihat.
8. Pulsasi : Pulsasi aorta yang normal kadang-kadang dapat terlihat di daerah epigastrium.
AUSKULTASI
Perannya relatif kecil. Dengan mempergunakan diafragma stetoskop didengarkan 15
atau 20 detik pada seluruh abdomen seperti pada gambar.3.

Gambar.3. Auskultasi Abdomen


Ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu : • Apakah suara usus ada ? • Bila ada apakah
meningkat atau melemah (kuantitas)? • Perkiraan asal dari suara (kualitas)? Gerakan
peristaltik disebut bunyi usus, yang muncul setiap 2-5 detik. Pada proses radang serosa
seperti pada peritonitis bunyi usus jarang bahkan hilang sama sekali. Bila terjadi obstruksi
intestin maka intestin berusaha untuk mengeluarkan isinya melalui lubang yang mengalami
obstruksi dan saat itu muncul bunyi usus yang sering disebut "rushes". Kemudian diikuti
dengan penurunan bunyi usus gemerincing yang disebut "tinkles," dan kemudian
menghilang. Pada pasca operasi didapatkan periode bunyi usus menghilang. Kemudian
dengarkan bising arteri renalis pada beberapa sentimeter diatas umbilikus sepenjang tepi
lateral otot rektus dan bila ada penyempitan akan terdengar murmur misalnya insufiensi
renal atau pada hipertensi akibat stenosis arteri renalis. Untuk mendengarkan bising arteri
masing-masing sesuai dengan tempatnya seperti pada gambar.4.
Gambar.4. Lokasi masing-masing arteri
PERKUSI
Perkusi berguna untuk orientasi abdomen, untuk memperkirakan ukuran hepar, lien,
menemukan asites, mengetahui apakah suatu masa padat atau kistik, dan untuk mengetahui
adanya udara pada lambung dan usus. Tehnik perkusi yaitu pertama kali yakinkan tangan
pemeriksa hangat sebelum menyentuh perut pasien Kemudian tempatkan tangan kiri dimana
hanya jari tengah yang melekat erat dengan dinding perut. Selanjutnya diketok 2-3 kali
dengan ujung jari tengah tangan kanan seperti pada gambar. 5.

Gambar.5. Perkusi Abdomen.


Lakukanlah perkusi pada keempat kuadran untuk memperkirakan distribusi suara
timpani dan redup. Biasanya suara timpanilah yang dominan karena adanya gas pada saluran
gastrointestinal, tetapi cairan dan faeces menghasilkan suara redup. Pada sisi abdomen
perhatikanlah daerah dimana suara timpani berubah menjadi redup. Periksalah daerah
suprapublik untuk mengetahui adanya kandung kencing yang teregang atau uterus yang
membesar. Perkusilah dada bagian bawah, antara paru dan arkus costa, Anda akan
mendengar suara redup hepar disebelah kanan, dan suara timpani di sebelah kiri karena
gelembung udara pada lambung dan fleksura splenikus kolon. Suara redup pada kedua sisi
abdomen mungkin menunjukkan adanya asites.
Hepar: Untuk menentukan ukuran hati, dikerjakan sebagai berikut: • Mulai perkusi dibawah
payudara kanan pada LMC kanan dan merupakan daerah paru kanan, hasilnya suara sonor
dari paru. • Kemudian perkusi beberapa sentimeter kebawah sampai suara perkusi lebih
pekak dan perhitungan mulai dari titik ini. • Teruskan kebawah sampai ada perubahan suara
perkusi. Titik ini merupakan titik akhir dan kemudian diukur dari titik awal sampai titik
akhir. Panjang ukuran disebut liver span yang mempunyai angka normal 6-12 cm.
Lien: Lien yang normal terletak pada lengkung diafragma, disebelah posterior garis
midaxiler. Suatu daerah kecil suara redup dapat ditemukan di antara suara sonor paru dan
suara timpani, tetapi mencari suara redup lien ini tidak banyak gunanya. Perkusi lien hanya
berguna kalau dicurigai atau didapatkan splenomegali. Apabila membesar, lien akan
membesar ke arah depan, ke bawah dan ke medial, mengganti suara timpani dari lambung
dan kolon, menjadi suara redup. Apabila Anda mencurigai splenomegali, cobalah
pemeriksaan-pemeriksaan berikut :
1. Perkusilah daerah spatium intercosta terbawah di garis axilaris anterior kiri (gambar 7).
Daerah ini biasanya timpanik. Kemudian mintalah penderita untuk menarik napas panjang,
dan lakukan perkusi lagi. Apabila lien tidak membesar,suara perkusi tetap timpani. Apabila
suara menjadi redup pada inspirasi, berarti ada pembesran lien. Walaupun demikian kadang-
kadang terdapat juga suara redup pada lien normal (falsely positive splenic percuission sign)
2. Perkusilah daerah redup lien dari berbagai arah. Apabila ditemukan daerah redup yang
luas, berarti terdapat pembesaran lien. Pemeriksaan perkusi untuk mengetahui adanya
pembesaran lien, dapat terganggu oleh berbagai isi lambung dan kolon, tetapi pemeriksaan
ini dapat menunjukkan adanya pembesaran lien sebelum teraba pada palpasi.

Gambar.7. Perkusi limpa


PALPASI
Palpasi ringan (superficial) berguna untuk mengetahui adanya ketegangan otot, nyeri
tekan abdomen, dan beberapa organ dan masa superficial. Dengan posisi tangan dan lengan
bawah horizontal, dengan menggunakan telapak ujung jari-jari secara bersama-sama,
lakukanlah gerakan menekan yang lembut, dan ringan. Hindarkan suatu gerakan yang
mengentak. Dengan perlahan, rasakan semua kuadran. Carilah adanya masa atau organ,
daerah nyeri tekan atau daerah yang tegangan ototnya lebih tinggi (spasme). Apabila terdapat
tegangan, carilah apakah ini disadari atau tidak, dengan cara mencoba merelakskan
penderita, dan melakukan palpasi pada waktu ekspirasi. Palpasi dalam biasanya diperlukan
untuk memeriksa masa abdomen. Dengan menggunakan permukaan pallar dari ujung jari,
lakukan palpasi dalm untuk mengetahui adanya masa. Tentukanlah lokasinya, ukurannya,
bentuknya, konsitensinya, mobilitasnya, apakah terasa nyeri pada tekanan. Apabila palpasi
dalam sulit dilakukan (misalnya pada obesitas atau otot yang tegang), gunakan dua tangan,
satu di atas yang lain. Masa di abdomen dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :
fisiologi (uterus dalam kehamilan); inflamasi (diverticulitis colon atau pesudocyst pancreas);
vaskuler (aneurisma aorta); neoplastik (uterus miomatosa, karsinoma kolon, atau ovarium);
atau obstruktif (kandung kencing yang teregang).
Mengetahui adanya iritasi peritoneal
Nyeri abdomen dan nyeri tekan abdomen, lebih-lebih bila disertai spasme otot,
menunjukkan adanya inflamasi dari peritoneum parietale. Temukanlah daerah ini setepatnya.
Sebelum melakukan palpasi, mintalah penderita untuk batuk, dan temukanlah rasa sakitnya.
Kemudian lakukanlah palpasi secara lembut dengan satu jari untuk menentukan daerah
nyeri, atau lakukanlah pemeriksaan untuk mengetahui adanya nyeri lepas. Tekan jari Anda
pelan-pelan dengan kuat, kemudian tiba-tiba lepaskan tekanan Anda. Apabila pada pelepasan
tekanan juga timbul rasa sakit (tidak hanya pada penekanan), dikatakan bahwa nyeri lepas
tekan positif. Hepar: letakkan tangan kiri anda di belakang penderita, menyangga costa ke-
11 dan ke-12 dengan posisi sejajar pada costa. Mintalah penderita untuk relaks, dengan
mendorong hepar ke depan, hepar akan lebih mudah teraba dari depan dengan tangan kanan.
Tempatkan tangan kanan Anda pada abdomen penderita sebelah kanan, di sebelah lateral
otot rektus, dengan ujung jari ditempatkan di bawah batas bawah daerah redup hepar.
Dengan posisi jari tangan menunjuk ke atasatau obliq, tekanlah dengan lembut kea rah dalam
dan ke atas. Mintalah penderita untuk bernapas dalam-dalam. Cobalah merasakan sentuhan
hepar pada jari anda pada waktu hepar bergerak ke bawah, dan menyentuh jari Anda.
Apabila Anda merasakannya, kendorkanlah tekanan jari Anda, dan Anda dapat meraba
permukaan anterior hepar penderita. Apabila anda dapat merasakanya, batas hepar normal
adalah lunak, tegas, dan tidak berbenjol-benjol. Besarnya tekanan pada dinding abdomen
pada pemeriksaan hepar tergantung pada tebal-tipisnya otot rektus. Apabila anda susah
merabanya, pindahlah palpasi pada daerah yang lebih dekat ke arcus costa. Pemeriksaan
dapat juga dilakukan dengan teknik mengait. Berdirilah di sebelah kanan penderita.
Letakkanlah kedua tangan Anda bersebelahan di bawah batas bawah redup hepar. Mintalah
penderita untuk bernapas dalam-dalam dengan nafas perut, sehingga pada inspirasi hepar dan
juga lien dan ginjal akan berada pada posisi teraba.

Gambar.8. Cara palpasi


Lien: letakkan tangan kiri Anda untuk menyangga dan mengangkat costa bagian bawah
sebelah kiri penderita. Dengan tangan kanan diletakkan di bawah arcus costa, lakukanlah
tekanan ke arah lien. Mulailah palpasi di daerah yang cukup rendah untuk dapat meraba lien
yang membesar. Mintalah penderita untuk bernapas dalam-dalam, dan cobalah untuk
merasakan sentuhan lien pada ujung jari Anda. Lien yang membesar dapat terlewatkan dari
pemeriksaan (tidak dapat teraba) apabila pemeriksa mulai palpasi pada daerah yang terlalu
ke atas. Perhatikanlah adakah nyeri tekan, bagaimana permukaannya, dan perkirakanlah
jarak antara lien dengan batas terendah dari kosta kiri yang terbawah. Ulangi pemeriksaan
dengan penderita pada posisi miring ke kanan, dengan tungkai fleksi pada paha dan lutut.
Pada posisi ini, gaya gravitasi akan menyebabkan lien terdorong ke depan dan ke kanan,
sehingga lebih mudah teraba.
Ginjal Ginjal kanan: letakkan tangan kiri Anda di belakang penderita, paralel pada costa
ke-12, dengan ujung jari anda menyentuh sudut kostovertebral. Angkat, dan cobalah
mendorong ginjal kanan ke depan. Letakkan tangan kanan Anda dengan lembut pada
kuadran kanan atas, di sebelah lateral dan sejajar terhadap otot rektus. Mintalah penderita
untuk bernapas dalam. Pada waktu puncak inspirasi, tekanlah tangan kanan anda dalam-
dalam ke kuadran kanan atas, di bawah arcus costa, dan cobalah untuk “menangkap” ginjal
diantara kedua tangan Anda. Mintalah penderita untuk membuang napas dan menahan napas.
Pelan-pelan, lepaskan tekanan tangan kanan Anda, dan rasakan bagaimana ginjal akan
kembali ke posisi pada waktu ekspirasi. Apabila ginjal teraba, tentukan ukurannya, dan
ada/tidaknya nyeri tekan.
Gambar.9. Lokasi ginjal dengan pandangan posterior
Ginjal kiri: untuk meraba ginjal kiri, pindahlah ke sebelah kiri penderita. Gunakan tangan
kanan Anda untuk menyanggga dan mengangkat dari belakang, dan tangan kiri untuk
meraba pada kuadran kiri atas. Lakukan pemeriksaan seperti ginjal kanan. Ginjal kiri yang
normal jarang dapat teraba.
Nyeri ketok ginjal: nyeri tekan ginjal mungkin dapat timbul pada pemeriksaan palpasi, tapi
periksalah juga pada daerah sudut costovertebralis. Kadang-kadang tekanan ujung jari dapat
menimbulkan nyeri, tetapi seringkali harus digunakan kepalan tangan untuk menumbuhkan
nyeri ketok ginjal, letakkan satu tangan pada sudut kostovertebra, dan pukullah dengan sisi
unler kepalan tangan Anda.
Pemeriksaan Aorta: tekanlah kuat-kuat abdomen bagian atas, sedikit di sebelah kiri garis
tengah, dan rasakan adanya pulsasi aorta. Pada penderita di atas 50 tahun, cobalah
memperkirakan lebar aorta dengan menekan kedua tangan pada kedua sisi.
McBurney
McBurney adalah perpotongan lateral dan duapertiga dari garis yang
menghubungkan spina iliaka superior anterior kanan dan umbilikus.

(+) : terdapat nyeri tekan pada McBurney's point.


(–) : tidak ada nyeri tekan.
Kuadran kanan bawah (titik Mcburney) harus dipalpasi terakhir setelah pemeriksa
telah mempunyai kesempatan mempertimbangkan respons terhadap pemeriksaan kuadran
yang seharusnya tidak nyeri. Pada kasus apendisitis sebelum radang mencapai permukaan
peritoneum, nyeri viseral dirasakan disekitar pusat disertai rasa mual karena apendiks
termasuk usus tengah. Setelah radang terjadi diseluruh dinding termasuk peritoneum
viserale, terjadi nyeri akibat rangsangan peritoneum yang merupakan nyeri somatik. Pada
saat ini, nyeri dirasakan tepat pada letak peritoneum yang meradang, yaitu diperut kanan
bawah (titik McBurney).
E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
A. Trombosit
Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm3, anak 150.000-450.000 sel/mm3.
 Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam berdarah
dengue, anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000
sel/mm3.
 Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit keganasan,
sirosis, polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian
kontrasepsi oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya,
kecuali jika >1.000.000 sel/mm3.
B. Leukosit
Nilai normal dewasa 4500-10000 sel/mm3, Neonatus 9000-30000 sel/mm3, Bayi sampai
balita rata-rata 5700-18000 sel/mm3, Anak 10 tahun 4500-13500/mm3, ibu hamil rata-rata
6000-17000 sel/mm3, postpartum 9700-25700 sel/mm3
 Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit,
dan sebagainya.
 Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis,
anemia aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue),
keracunan kimiawi, dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain
antiepilepsi, sulfonamid, kina, kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis),
dan beberapa antibiotik lainnya.
C. Hemoglobin
Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil 10-15
gram/dL, anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-27
gram/dL
 Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab
lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia
leukemik, lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-
obatan: obat antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid.
Ambang bahaya adalah Hb < 5 gram/dL.
 Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD
(bronkitis kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia
vera, dan pada penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan:
metildopa dan gentamisin.
D. Tes Urin
Sebelum tes urine dilakukan, Anda diminta untuk mengumpulkan sampel urine sebanyak
60 ml dalam cangkir spesimen. Sampel tersebut kemudian dapat dianalisis di klinik medis
atau dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Tes urine bisa saja dinyatakan
normal apabila urine terlihat berwarna pucat hingga kuning gelap, jernih, berbau seperti
urine biasa, memiliki tingkat pH 4,6-8,01, tidak ada (atau sangat sedikit) sel-sel darah merah
atau putih yang terlihat, serta tidak terdapat bakteri, sel ragi, parasit, atau sel skuamosa.

DAFTAR PUSTAKA
Arief Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W.I., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid
2 Edisi Ketiga. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
CordellWH, KeeneKK, GilesBK, etal: TheHighPrevalenceofPain in Emergency
Medicalcare. Am J Emerg Med 20:165-169, 2002.
DeGowin RL, Donald D Brown.2000.Diagnostic Examination. McGraw-Hill.USA.
Fauci, Antoni, dkk. 2008. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Edisi 17. New York.
Mcgrawhill companies.
Goldberg C.2001.Examination of Abdomen A Practical Guide to Clinical Medicine.
University of Colorado.
Graff LG, Robinson D: Abdominal Pain and Emergency Department Evaluation. Emerg
MedClin North Am 19:123-136, 2001.
Pierce A. Grace & Neil R. Borley, 2007. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EMS
Rathe R.2000.Examination of the Abdomen. University of Florida.
R,Sjamsuhidajat, Wim de jong.2010.Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta: EGC.
Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V.Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.
Analisis Masalah
1. Mitha, 18 tahun, seorang mahasiswa yang tinggal di Palembang datang ke Puskesmas
dengan keluhan nyeri perut hebat sejak 1 hari yang lalu. (VVV)
a. Apa makna nyeri perut hebat sejak 1 hari lalu?
Jawab : Nyeri perut hebat sejak 1 hari lalu itu, tergolong nyeri akut (nyeri yang
berlangsung singkat).
b. Apakah ada hubungan antara umur, jenis kelamin, dengan penyakit yang diderita
Mitha?
Jawab : Penyebab nyeri akut abdomen menurut kelompok umur dan jenis kelamin :
A. Segala usia : apendisitis akut, perforasi usus/lambung, nyeri abdomen non spesifik,
obstruksi usus, penkreatitis akut, kolik ginjal/ureter, dyspepsia, hernia, dan kolesistisis akut/
billier.
B. Anak-anak : invaginasi, radang saluran kemih, hernia, apendisitis akut, gastroenteritis,
mesentric adenitis.
C. Wanita : radang pelvis, radang saluran kemih, kehamilan ektopik, kista ovarium.
D. Usia tua : kanker, vaskular, sebab-sebab medik.
c. Apa saja kemungkinan penyebab nyeri hebat di perut?
Jawab : Kemunginannya :
A. Nyeri hebat sekali : (1) kolik bilier, (2) infark jantung, (3) kolik ureter, (4) perforasi tukak
peptik, (5) ruptur aneurisma aorta.
B. Nyeri hebat yang makin berat : (1) pankreatitis akut, (2) trombosis v mesenterika,(3)
kehamilan ektopik.
C. Nyeri menetap : (1) kolesistitis akut, kolangitis akut, hepatitis akut, (2) apendisitis akut,
salpingitis akut (PID), (3) divertikulitis sigmoid, salpingitis akut.
D. Kolik yang makin hebat : (1) awal pankreatitis (jarang), (2) kolitis berat.
d. Bagaimana mekanisme nyeri perut secara umum?
Jawab : Penghantar rangsangan nyeri agar bisa dikenali oleh manusia, paling tidak
melalui beberapa mekanisme, yaitu : proses transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi.
Transduksi adalah suatu proses adanya rangsangan yang mengganggu yang menyebabkan
depolarisasi nosiseptor dan memicu stimulus nyeri. Salah satu kemungkinan mekanisme
transduksi adalah pengaktifan nosiseptor oleh zat-zat kimia penghasil nyeri yang dibebaskan
ditempat jaringan. Rangsangan tersebut akan ditransmisikan ke ganglion medula spinalis dan
selanjutnya akan mengalami modulasi di medulla spinalis melalui dua mekanisme : yaitu
control gerbang spina dan jalur ascendens dan dipersepsikan di daerah talamus merupakan
penafsiran nyeri di otak yang selanjutnya akan mmpengaruhi konteks psikologis, perilaku,
dan emosi.

2. Nyeri dirasakan terus menerus. Nyeri tidak berkurang meskipun berbaring, sedikit
berkurang jika kaki ditekuk. (VV)
a. Bagaimana klasifikasi nyeri abdomen?
Jawab : Klasifikasi nyeri abdomen :
A. Berdasarkan waktunya : nyeri Akut, dan nyeri kronik.
B. Berdasarkan jenisnya : nyeri viseral, dan nyeri somatik.
C. Berdasarkan sifatnya : nyeri alih, nyeri proyeksi, hiperestesia, nyeri kontinu, nyeri kolik,
nyeri iskemik, nyeri pindah.
b. Apa tipe nyeri yang diderita Mitha pada kasus ini?
Jawab : Kalau berdasarkan waktunya nyeri akut dan berdasarkan jenisnya nyeri
viseral.
c. Mengapa nyeri dirasakan terus menerus?
Jawab : Karena terjadi inflamasi yang merangsang peritoneum.
d. Mengapa nyeri tidak berkurang saat berbaring, tapi sedikit berkurang saat kaki
ditekuk?
Jawab : Dikarenakan nyerinya terdapat pada regio abdomen kuandran kanan bawah,
dan letaknya retrosekum sehingga pada saat kaki ditekuk, sendi panggul berusaha
melemaskan otot psoas yang kemungkinan teriritasi, dan menyebabkan nyeri sedikit
berkurang.
e. Apa komponen anamnesis pada kasus nyeri?
Jawab : Dalam anamnesis penderita gawat abdomen, perlu ditanyakan dahulu
permulaan timbulnya nyeri (kapan mulai, mendadak atau berangsur), letaknya (menetap,
pindah atau beralih), keparahannya, waktu, sifatnya (seperti ditusuk, tekanan, terbakar,
irisan, bersifat kolik), perubahannya (bandingkan dengan permulaan), lamanya, apakah
berkala, dan faktor apakah yang mempengaruhinya (adakah yang memperingan atau
memberatkan seperti sikap tubuh, makanan, minuman, nafas dalam, batuk, bersin, defekasi,
miksi), kulalitas nyeri, intensitas nyeri, harus ditanyakan apakah pasien pernah mengalami
nyeri seperti ini. Jika nyeri tekan didapatkan pada letak iritasi peritonium. Jika ada
peradangan peritonium setempat, ditemukan tanda rangsang peritonium yang sering disertai
defans muskuler. Pertanyaan mengenai defekasi, miksi, daur haid dan gejala lain seperti
keadaan sebelum diserang tanda gawat perut, harus dimasukkan dalam anamnesis.
f. Apa diagnosis banding untuk nyeri (pada kasus ini)?
Jawab : Diagnosis banding berdasarkan regio abdomen kuadran kanan bawah, jenis
kelamin dan usia : Apendisitis, divertikulitis, endometriosis, salpingitis, kehamilan ektopik,
penyakit peradangan usus, typhlitis, kista ovarium.
g. Apa indikasi pemberian obat pereda nyeri pada kasus ini?
Jawab : Toleransi nyeri mengacu kepada lama atau intensitas nyeri yang masih dapat
ditahan oleh pasien sampai secara eksplisit pasien tersebut mengaku dan mencari
pengobatan.

3. Mitha juga merasa mual, namun tidak muntah, nafsu makan menurun. (VV)
a. Bagaimana mekanisme mual, namun tidak muntah?
Jawab : Mual dapat dijelaskan sebagai prasaan yang sangat tidak enak dibelakang
tenggorokan dan epigastrium, sering menyebabkan muntah. Terdapat berbagai perubahan
aktivitas saluran cerna yang berkaitan dengan mual, seperti meningkatnya salivasi,
menurunnya tonus duodenum dan jejenum menyebabkan terjadinya refluks isi duodenum ke
lambung. Mual diakibatkan oleh efek samping dari mediator sitokinin TNF-A yang
merangsang terjadinya mual. Jika seseorang tersebut belum mengonsumsi apapun atau
perutnya kosong maka orang tersebut hanya merasakan mual dan tidak muntah, Karena tidak
ada yang dikeluarkan.
b. Bagaimana mekanisme nafsu makan menurun?
Jawab : Nafsu makan diatur oleh proses-proses metabolic seperti metabolism
karbohidrat, protein serta lipid. Penurunan nafsu makan merupakan akibat dari kerjasama IL-
1 dan TNF-alfa. Keduanya akan meningkatkan leptin dalam sirkulasi menyebabkan negative
feedback ke hipotalamus ventromedial yang berakibat pada penurunan intake makanan.
c. Bagaimana keterkaitan mual dan nyeri perut yang diderita Mitha?
Jawab :

4. Pemeriksaan Fisik (V)


Keadaan umum : Tampak sakit sedang (Berat)
Tanda vital
 Kesadaran : Compos Mentis
 Tekanan darah : 110/70 mmHg
 Frek. Nadi : 126x/Menit
 Frek. Napas : 20x/Menit
 Suhu : 37 °C
 VAS : 8 (nyeri berat)
Pemeriksaan Lokalis : Nyeri tekan regio McBurney (+)
a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik umum?
Jawab : Interpretasi pemeriksaan fisik umum :
No. Komponen Hasil Indikator Keterangan
yang pemeriksaan
diperiksa
1 Tekanan 110/70 mmHg  Hipotensi = Normal
Darah <100/ <60mmHg
 Normal =
100-120/60-80
mmHg
 Hipertensi =
>120/ >80mmHg
2 Respiratory 20x/menit  Normal = Normal
Rate 12-20x/menit
 Takipnea =
>20x/menit
3 Nadi 126x/menit  Bradikardi = Takikardi
<60x/menit
 Normal =
60-100x/menit
 Takikardi =
>100x/menit
4 Suhu 37C  Hipotermia = Normal
<36,4°C
 Normal =
36,4-37,2°C
 Hipertermia /
febris =
>37,2°C
5 Kesadaran Compos mentis Sadar sepenuhnya
6 VAS 8 > 1-3 : nyeri ringan Nyeri berat
> 4-6 : nyeri sedang
> 7-10 : nyeri berat

b. Bagaimana mekanisme dari hasil interpretasi pemeriksaan fisik umum yang tidak
normal?
Jawab :
c. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik lokalis (abdomen regio bawah)?
Jawab : Pada pemeriksaan fisik lokalis seharusnya didapatkan hasil yang negatif (-)
pada nyeri tekan region McBurney, tetapi dikarenakan mendapatkan hasil nyeri tekan region
McBurney (+) itu artinya terdapat nyeri somatik pada region tersebut (tidak normal).
d. Bagaimana mekanisme dari hasil interpretasi pemeriksaan fisik lokalis yang tidak
normal?
Jawab : Kemungkinan awalnya terjadi nyeri viseral dirasakan disekitar pusat disertai
rasa mual. Setelah radang terjadi diseluruh dinding termasuk peritoneum viserale, terjadi
nyeri akibat rangsangan peritoneum yang merupakan nyeri somatik. Pada saat ini, nyeri
dirasakan tepat pada letak peritoneum yang meradang, yaitu diperut kanan bawah (titik
McBurney).
e. Bagaimana cara pemeriksaan fisik umum?
 Jawab : Tingkat kesadaran :
o Kompos mentis :
 Sadar sepenuhnya, baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan.
 Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik.
o Apatis :
 Pasien tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya.
o Delirium :
 Penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik.
 Gaduh gelisah, kacau, disorientasi, meronta-ronta.
o Somnolen :
 Mengantuk yang masih pulih bila dirangsang.
 Tidur kembali bila rangsangan berhenti.
o Sopor (stupor) :
 Keadaan mengantuk yang dalam
 Dapat bangun dengan rangsangan yang kuat
 Tidak dapat memberi jawaban verbal yang baik
o Koma :
 Penurunan kesadaran berat
 Tidak ada gerakan spontan
 Tidak ada respons terhadap rangsangan nyeri.
 Suhu
Ukur suhu tubuh pasien dengan termometer badan. Sebelum mengukur suhu tubuh
pasien kibaskan termometer hingga ke nilai 35°C atau di bawahnya. Ada beberapa cara
memeriksa suhu :
1. Suhu oral: Termometer dimasukkan di bawah lidah, anjurkan pasien menutup kedua
bibirnya dan tunggu selama 10 menit. Kemudian baca termometer, masukkan kembali
selama 1 menit dan baca kembali. Normal 37 C. Sangat berfluktasi dari dini hari
sampai petang/ malamhari.
2. Suhu rektal: Termometer dimasukkan ke dalam anus selama 2-5 menit, sebelumnya
olesi termometer dengan pelicin. Hasil biasanya lebih tinggi daripada suhu oral sekitar
0,4 – 0,5 C.
3. Suhu axila: Termometer dimasukkan di axila kemudian lengan menutupnya.Tunggu
selama kurang lebih 15 menit. Hasil biasanya lebih rendah dibanding suhu oral yakni
sekitar 1 C.
Suhu tubuh normal  36 – 37 ºC.
Grafik suhu tubuh  3 stadium :
 Stadium inkrementi  suhu tubuh mulai meningkat.
 Stadium fastigium  puncak dari peningkatan suhu tubuh.
 Stadium dekrementi  turunnya suhu tubuh yang tinggi.
 Tekanan Darah
 Diukur dengan tensimeter (sfigmometer)
 Dengan stetoskop terdengar denyut nadi Korotkof :
 Korotkof I  suara denyut mulai terdengar, tapi masih lemah dan akan mengeras
setelah tekanan diturunkan 10-15 mmHg  sesuai dengan tekanan sistolik
 Korotkof II  suara terdengar seperti bising jantung (murmur) selama 15-20 mmHg
berikutnya
 Korotkof III  suara menjadi kecil kualitasnya, lebih jelas dan keras selama 5-7
mmHg berikutnya
 Korotkof IV  suara meredup sampai kemudian menghilang setelah 5-6 mmHg
berikutnya
 Korotkof V  titik dimana suara menghilang  sesuai dengan tekanan diastolik.

Cara mengukur tekanan darah :


1.Persiapan
 Sebaiknya untuk mengukur tekanan darah pasien tidak merokok atau minum
minuman berkafein selama kurang lebih 30 menitsebelum pengukuran dan istirahat
sedikitnya 5 menit sebelum pengukuran.
 Lengan yang diperiksa tidak tertutup pakaian.
 Palpasi arteri brachialis
 Atur posisi lengan sedemikan sehingga arteri brachialis pada fosa antecubital terletak
setinggi jantung (kira-kira sejajar dengan intercosta 4).
 Letakkan manset di tengah arteri brachialis pada lengan kanan, sisi bawah manset
kurang lebih 2,5 cm diatas fosa antecubital. Lingkarkan manset dengan tepat ,
posisikan lengan pasien sedikit flexi.
2. Tentukan dahulu tekanan sistolik palpasi.Caranya, palpasi arteri radialis dekat
pergelangan tangan dengan satu jari sambil pompa manset sampai denyut nadi arteri
radialis menghilang. Baca berapa nilai tekanan ini pada manometer. Itulah tekanan
sistolik palpasi. Lalu kempiskan manset.
3.Sekarang ukur tekanan darah. Letakkan bel stetoskop di atas arteri brachialis. Kunci
bagian pengeluaran udara. Pompa manset sampai kurang lebih 30mmHg diatas
tekanan sistolik palpasi. Kemudian kempiskan dengan membuka kunci pengeluaran
udara perlahan-lahan dengan kecepatan kira-kira 2-3 mmHg/detik. Dengarkan bunyi
ketukan pada stetoskop anda.
Yang disebut tekanan sistolik adalah bunyi ketukan pertama yangterdengar
(Korotkoff I). Yang disebut tekanan diastolik adalah saat bunyi ketukan sama sekali
hilang (korotkoff V).
 Nadi
• Pemeriksaan nadi umumnya dilakukan dgn palpasi a. radialis kanan dan kiri dekat
pergelangan tangan. Lakukan palpasi dengan 2 atau 3 jari. Hitunglah frekuensi
denyut nadi per menit. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah pasien istirahat 5 –
10 menit.
• Tempat lain  a. brakialis, a. femoralis, a. poplitea, a. dorsalis pedis
• Yang perlu diperhatikan :
– Frekwensi denyut nadi
– Irama
– Isi nadi
– Kualitas nadi
– Kualitas dinding arteri
• Frekuensi Nadi :
– Normal  80 x permenit
– Bila > 100 x permenit  takikardia
– Bila < 60 x permenit  bradikardia
• Irama denyut nadi :
– reguler atau ireguler
– pulsus defisit  frekuensi denyut nadi lebih kecil dari denyut jantung.
– pulsus bigeminus  2 denyut nadi dipisahkan oleh interval yang panjang.
– pulsus trigeminus  3 denyut nadi dipisahkan oleh interval yang panjang.
– pulsus alternans  denyut yang kuat dan lemah terjadi bergantian.
• Isi Nadi :
– Cukup
– Kecil  pulsus parvus (pada perdarahan, infark miokard, efusi perikardial, stenosis
aorta
– Besar  pulsus magnus (demam, bekerja keras)
• Kualitas Nadi :
– Bila tekanan nadi besar, pengisian dan pengosongan nadi berlangsung mendadak 
pulsus celer.
– Bila tekanan nadi kecil, pengisian dan pengosongan nadi lambat  pulsus tardus.
• Kualitas dinding arteri :
– Mengeras pada aterosklerosis.
 Frekuensi Pernapasan
Hitunglah jumlah pernapasan dalam 1 menit. Lakukan dengan inspeksi atau
auskultasi.
• Normal  16 – 24 kali per menit dalam keadaan tenang.
• Bila < 16 x/menit  bradipneu
• Bila > 24 x/menit  takipneu
• Pernapasan yg dalam  hiperpneu
• Pernapasan yg dangkal  hipopneu
• Kesulitan bernapas atau sesak napas  dispneu
• Sesak napas bila berbaring , nyaman bila dalam posisi tegak  ortopneu
• Sesak napas malam hari  paroxysmal nocturnal dyspnoe
• Sifat pernapasan :
– Pada wanita  abdomino-torakal  torakal lebih dominan
– Pada laki-laki  torako-abdominal  abdominal lebih dominan
– Kussmaull  cepat dan dalam  pada asidosis metabolik
– Biot  tidak teratur irama dan amplitudonya, diselingi periode apneu
– Cheyne-Stokes  amplitudo mula2 kecil, kemudian membesar dan mengecil
kembali, diselingi periode apneu.
- Biot dan Cheyne-Stokes  pada kerusakan otak.
 VAS (Visual Analogue Scale)
Sumber : Yale University
f. Bagaimana cara pemeriksaan fisik lokalis (abdomen)?
Jawab : INSPEKSI
Mulailah menginspeksi dinding abdomen dari posisi Anda berdiri di sebelah kanan
penderita. Apabila anda akan memeriksa gerakan peristaltik sebaiknya dilakukan dengan
duduk, atau agak membungkuk, sehingga Anda dapat melihat dinding abdomen secara
tangensial. Perhatikanlah :
1. Kulit : apakah ada sikatriks, striae atau vena yang melebar. Secara normal, mungkin
terlihat vena-vena kecil. Striae yang berwarna ungu terdapat pada sindroma Cushing dan
vena yang melebar dapat terlihat pada cirrhosis hepatic atau bendungan vena cava inferior.
Perhatikan pula apakah ada rash atau lesi-lesi kulit lainnya.
2. Umbillikus: perhatikan bentuk dan lokasinya, apakah ada tanda-tanda inflamasi atau
hernia.
3. Perhatikan bentuk permukaan (countour) abdomen termasuk daerah inguinal dan femoral :
datar, bulat, protuberant, atau scaphoid. Bentuk yang melendung mungkin disebabkan oleh
asites, penonjolan suprapubik karena kehamilan atau kandung kencing yang penuh. Tonjolan
asimetri mungkin terjadi karena pembesaran organ setempat atau massa.
4. Simetri dinding abdomen.
5. Pembesaran organ : mintalah penderita untuk bernapas, perhatikan apakah nampak adanya
hepar atau lien yang menonjol di bawah arcus costa.
6. Apakah ada massa abnormal, bagaimana letak, konsistensi, mobilitasnya.
7. Peristaltik. Apabila Anda merasa mencurigai adanya obstruksi usus,amatilah peristaltik
selama beberapa menit. Pada orang yang kurus, kadang-kadang peristaltik normal dapat
terlihat.
8. Pulsasi : Pulsasi aorta yang normal kadang-kadang dapat terlihat di daerah epigastrium.
AUSKULTASI
Perannya relatif kecil. Dengan mempergunakan diafragma stetoskop didengarkan 15
atau 20 detik pada seluruh abdomen seperti pada gambar.3.

Gambar.3. Auskultasi Abdomen


Ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu : • Apakah suara usus ada ? • Bila ada apakah
meningkat atau melemah (kuantitas)? • Perkiraan asal dari suara (kualitas)? Gerakan
peristaltik disebut bunyi usus, yang muncul setiap 2-5 detik. Pada proses radang serosa
seperti pada peritonitis bunyi usus jarang bahkan hilang sama sekali. Bila terjadi obstruksi
intestin maka intestin berusaha untuk mengeluarkan isinya melalui lubang yang mengalami
obstruksi dan saat itu muncul bunyi usus yang sering disebut "rushes". Kemudian diikuti
dengan penurunan bunyi usus gemerincing yang disebut "tinkles," dan kemudian
menghilang. Pada pasca operasi didapatkan periode bunyi usus menghilang. Kemudian
dengarkan bising arteri renalis pada beberapa sentimeter diatas umbilikus sepenjang tepi
lateral otot rektus dan bila ada penyempitan akan terdengar murmur misalnya insufiensi
renal atau pada hipertensi akibat stenosis arteri renalis. Untuk mendengarkan bising arteri
masing-masing sesuai dengan tempatnya seperti pada gambar.4.

Gambar.4. Lokasi masing-masing arteri


PERKUSI
Perkusi berguna untuk orientasi abdomen, untuk memperkirakan ukuran hepar, lien,
menemukan asites, mengetahui apakah suatu masa padat atau kistik, dan untuk mengetahui
adanya udara pada lambung dan usus. Tehnik perkusi yaitu pertama kali yakinkan tangan
pemeriksa hangat sebelum menyentuh perut pasien Kemudian tempatkan tangan kiri dimana
hanya jari tengah yang melekat erat dengan dinding perut. Selanjutnya diketok 2-3 kali
dengan ujung jari tengah tangan kanan seperti pada gambar. 5.

Gambar.5. Perkusi Abdomen.


Lakukanlah perkusi pada keempat kuadran untuk memperkirakan distribusi suara
timpani dan redup. Biasanya suara timpanilah yang dominan karena adanya gas pada saluran
gastrointestinal, tetapi cairan dan faeces menghasilkan suara redup. Pada sisi abdomen
perhatikanlah daerah dimana suara timpani berubah menjadi redup. Periksalah daerah
suprapublik untuk mengetahui adanya kandung kencing yang teregang atau uterus yang
membesar. Perkusilah dada bagian bawah, antara paru dan arkus costa, Anda akan
mendengar suara redup hepar disebelah kanan, dan suara timpani di sebelah kiri karena
gelembung udara pada lambung dan fleksura splenikus kolon. Suara redup pada kedua sisi
abdomen mungkin menunjukkan adanya asites.
Hepar: Untuk menentukan ukuran hati, dikerjakan sebagai berikut: • Mulai perkusi dibawah
payudara kanan pada LMC kanan dan merupakan daerah paru kanan, hasilnya suara sonor
dari paru. • Kemudian perkusi beberapa sentimeter kebawah sampai suara perkusi lebih
pekak dan perhitungan mulai dari titik ini. • Teruskan kebawah sampai ada perubahan suara
perkusi. Titik ini merupakan titik akhir dan kemudian diukur dari titik awal sampai titik
akhir. Panjang ukuran disebut liver span yang mempunyai angka normal 6-12 cm.
Lien: Lien yang normal terletak pada lengkung diafragma, disebelah posterior garis
midaxiler. Suatu daerah kecil suara redup dapat ditemukan di antara suara sonor paru dan
suara timpani, tetapi mencari suara redup lien ini tidak banyak gunanya. Perkusi lien hanya
berguna kalau dicurigai atau didapatkan splenomegali. Apabila membesar, lien akan
membesar ke arah depan, ke bawah dan ke medial, mengganti suara timpani dari lambung
dan kolon, menjadi suara redup. Apabila Anda mencurigai splenomegali, cobalah
pemeriksaan-pemeriksaan berikut :
1. Perkusilah daerah spatium intercosta terbawah di garis axilaris anterior kiri (gambar 7).
Daerah ini biasanya timpanik. Kemudian mintalah penderita untuk menarik napas panjang,
dan lakukan perkusi lagi. Apabila lien tidak membesar,suara perkusi tetap timpani. Apabila
suara menjadi redup pada inspirasi, berarti ada pembesran lien. Walaupun demikian kadang-
kadang terdapat juga suara redup pada lien normal (falsely positive splenic percuission sign)
2. Perkusilah daerah redup lien dari berbagai arah. Apabila ditemukan daerah redup yang
luas, berarti terdapat pembesaran lien. Pemeriksaan perkusi untuk mengetahui adanya
pembesaran lien, dapat terganggu oleh berbagai isi lambung dan kolon, tetapi pemeriksaan
ini dapat menunjukkan adanya pembesaran lien sebelum teraba pada palpasi.

Gambar.7. Perkusi limpa


PALPASI
Palpasi ringan (superficial) berguna untuk mengetahui adanya ketegangan otot, nyeri
tekan abdomen, dan beberapa organ dan masa superficial. Dengan posisi tangan dan lengan
bawah horizontal, dengan menggunakan telapak ujung jari-jari secara bersama-sama,
lakukanlah gerakan menekan yang lembut, dan ringan. Hindarkan suatu gerakan yang
mengentak. Dengan perlahan, rasakan semua kuadran. Carilah adanya masa atau organ,
daerah nyeri tekan atau daerah yang tegangan ototnya lebih tinggi (spasme). Apabila terdapat
tegangan, carilah apakah ini disadari atau tidak, dengan cara mencoba merelakskan
penderita, dan melakukan palpasi pada waktu ekspirasi. Palpasi dalam biasanya diperlukan
untuk memeriksa masa abdomen. Dengan menggunakan permukaan pallar dari ujung jari,
lakukan palpasi dalm untuk mengetahui adanya masa. Tentukanlah lokasinya, ukurannya,
bentuknya, konsitensinya, mobilitasnya, apakah terasa nyeri pada tekanan. Apabila palpasi
dalam sulit dilakukan (misalnya pada obesitas atau otot yang tegang), gunakan dua tangan,
satu di atas yang lain. Masa di abdomen dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :
fisiologi (uterus dalam kehamilan); inflamasi (diverticulitis colon atau pesudocyst pancreas);
vaskuler (aneurisma aorta); neoplastik (uterus miomatosa, karsinoma kolon, atau ovarium);
atau obstruktif (kandung kencing yang teregang).
g. Apa itu McBurney?
Jawab : McBurney adalah perpotongan lateral dan duapertiga dari garis yang
menghubungkan umbilikus dan anterior superior illiac spine (ASIS).
h. Bagaimana cara pemeriksaan fisik regio McBurney?
Jawab : Yaitu dengan cara melakukan penekanan terhadap titik McBurney (McBurney's
point) yang terdapat di 2/3 antara umbilikus dan anterior superior iliac spine (ASIS).

i. Apa indikasi pemeriksaan fisik regio McBurney?


Jawab : Pada pemeriksaan fisik khusus (palpasi) kemungkinan ditemukan nyeri tekan
pada regio abdomen kuandran kanan bawah, sehingga menyebabkan dilakukan pemeriksaan
fisik region McBurney.

5. Pemeriksaan Laboratorium (V)


 Hb : 10 g/dl
 Leukosit : 14.500/mm3
 Trombosit : 140.000/mm3
 Urin : dalam batas normal
a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan laboratorium?
Jawab : Interpretasi pemeriksaan laboratorium
Indikator Nilai Normal Nilai Pada Kasus Interpretasi
3
Trombosit 150.000- 140.000/mm Trombositopenia
400.000/mm3
Leukosit 4500-10000/mm3 14.500/mm3 Leukemia
Hb 12-16 gr/dl 10 gr/dl Hb rendah
Urin Dalam batas Normal
normal
b. Bagaimana mekanisme hasil interpretasi yang tidak normal?