Vous êtes sur la page 1sur 12

Dampak Tata Kelola Perusahaan, Modal Intelektual Islam dan Kinerja Keuangan Islam terhadap

Bank Islam Bisnis yang Berkelanjutan

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak Corporate Governance Islam,
intellectual capital dan kinerja keuangan Islam terhadap bisnis yang berkelanjutan di bank-bank
Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder, periode 2010-
2015. Sampel menggunakan metode sensus dengan jumlah sampel adalah 9 bank syariah.
Analisis data uji menggunakan partial least square yang didukung oleh wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Tata Kelola Perusahaan Islam memiliki dampak yang
signifikan terhadap kinerja keuangan syariah, (2) Modal intelektual Islam memiliki dampak yang
signifikan terhadap kinerja keuangan syariah, (3) Tata Kelola Perusahaan Syariah tidak
berpengaruh signifikan terhadap bisnis yang berkelanjutan, ) Modal intelektual Islam memiliki
dampak signifikan terhadap bisnis yang berkelanjutan, (5) Kinerja keuangan syariah memiliki
dampak yang signifikan terhadap bisnis yang berkelanjutan, (6) Kinerja keuangan syariah
sepenuhnya memediasi dampak Tata Kelola Perusahaan terhadap bisnis yang berkelanjutan, (7)
kinerja keuangan Islam Sebagian memediasi dampak modal intelektual Islam terhadap bisnis
yang berkelanjutan.

Kata kunci: Tata Kelola Perusahaan Islam, Modal Intelektual Islam, Kinerja Keuangan Syariah,
Bisnis yang Berkelanjutan

1. PERKENALAN

Perkembangan bank syariah di Indonesia cukup signifikan, hal ini disebabkan legalisasi hukum
perbankan syariah pada tahun 2008 yang menjadi faktor pendorong pertumbuhan bank syariah di
indonesia. Untuk memenuhi Asean Economic Community Banking pada tahun 2020 persaingan
industri jasa keuangan akan semakin ketat, dimana bank syariah dituntut untuk terus tumbuh.
Merefleksikan kejadian krisis moneter yang terjadi pada 1997-1999 dimana pada saat itu 71 bank
umum telah dilikuidasi dan berlanjut pada tahun 2001 sebanyak 18 bank umum juga harus
dilikuidasi (Setyani, 2010). Salah satu alasannya adalah lemahnya penerapan tata kelola
perusahaan di bank-bank di Indonesia yang berakibat pada menurunnya kinerja perusahaan.

Tata kelola perusahaan dalam perspektif Islam senantiasa menghubungkan semua konsep yang
berkaitan dengan perilaku dalam tata kelola bisnis dengan hal rohani. Ini adalah konsekuensi dari
kepercayaan seorang Muslim kepada Allah SWT, seperti yang dinyatakan dalam surat Al
Baqarah: 282. Dari paragraf di atas dapat disimpulkan bahwa Islam sangat intens mengajarkan
penerapan prinsip-prinsip seperti 'is, tawazun, mas 'uliyah, akhlaq, shiddiq, amanah, fathanah,
tablighi, hurriyah, ihsan, wasathan, aqidah, ijabiyah, dan raqabah (Junusi, 2012). Berdasarkan
uraian di atas dapat dipastikan bahwa Islam jauh di depan lahirnya corporate governance sebagai
acuan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di dunia. Pentingnya tata kelola perusahaan di
perbankan syariah mencerminkan hasil penelitian oleh Chapra dan Habib (2002) yang
menyatakan bahwa penerapan praktik tata kelola perusahaan belum dilaksanakan dengan baik.
Pentingnya kepatuhan syariah adalah hasil penelitian yang menyatakan bahwa 62% responden
yang terlibat dalam survei yang dilakukan di 14 bank syariah di Bahrain, Bangladesh dan Sudan
menyatakan bahwa mereka akan mentransfer dana ke bank syariah lain jika dugaan pelanggaran
Syariah telah berjalan . Hal ini menunjukkan bahwa penerapan GCG akan dapat meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah.

Secara umum, kinerja keuangan bank konvensional dan bank syariah diukur dengan rasio
profitabilitas seperti: Return on asset (ROA), return on equity, return on investment dan net
interest margin. Hameed et al. (2004) membuat pengukuran kinerja keuangan bagi bank syariah
dengan rasio rasio bagi hasil (PSR) dan kinerja zakat. Penggunaan PSR digunakan karena
sebagian besar kontrak pembiayaan bank syariah di luar negeri didominasi oleh kontrak
mudharabah (bagi hasil), sedangkan di Indonesia, menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan pada
bulan Mei 2016, jumlah pembiayaan dengan kontrak murabahah adalah 61 Musharaka sebesar
31,7% dan kontrak mudharabah sebesar 7,29% sehingga untuk mengukur kinerja keuangan bank
syariah di Indonesia akan lebih tepat dengan menggunakan rasio murabahah. Beberapa penelitian
yang mengungkapkan pentingnya tata kelola perusahaan berkaitan dengan kinerja perusahaan
seperti: Rehman dan Mangla (2012); Mohammed dan Fatimoh (2012) dan Aggarwal (2013)
memutuskan bahwa tata kelola perusahaan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap
kinerja keuangan.

Globalisasi membimbing perusahaan untuk melakukan pembaharuan dengan berpikir secara


global dan bertindak secara lokal, inovasi teknologi yang mempercepat aktivitas dengan segala
keterbatasan dan keuntungan untuk membuat persaingan di dunia bisnis semakin kompetitif.
Pengembangan perusahaan yang dikendalikan oleh informasi dan pengetahuan, membawa
perhatian pada modal intelektual. Perusahaan akan melakukan segala upaya untuk mencapai
setiap tujuan yang telah direncanakan sebelumnya dan salah satu upaya dalam mencapai tujuan
perusahaan adalah untuk meningkatkan modal intelektual yang terdiri dari tiga komponen utama,
yaitu: Modal manusia (HC), modal struktural (SC), dan modal relasional.

Bollen et al. (2005) menjelaskan bahwa modal intelektual telah dipandang sebagai bagian
integral dari perusahaan dalam proses penciptaan nilai, dan semakin berperan penting dalam
mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan. Modal intelektual didefinisikan sebagai
aset tidak berwujud yang mencakup teknologi, informasi pelanggan, nama merek, reputasi dan
budaya perusahaan yang sangat berharga untuk daya saing perusahaan. Dalam lingkungan bisnis
modern, modal intelektual dianggap sebagai aset strategis terpenting bagi kesuksesan perusahaan
(Rezaei, 2014).
Menurut Pulic (1998) tujuan utama ekonomi berbasis pengetahuan adalah menciptakan nilai
tambah (VA). Untuk bisa membuat VA membutuhkan ukuran modal fisik dan intelektual yang
tepat. Studi tentang modal intelektual pada awalnya dilakukan oleh Bontis dkk. (2000), yang
meneliti dampak intellectual capital terhadap kinerja industri jasa dan industri non-jasa di
Malaysia. Hasil pengujian diperoleh bahwa ada dampak positif yang signifikan dari SC terhadap
kinerja bisnis. Ulum (2013) melakukan penelitian untuk menciptakan ukuran modal intelektual
di bank syariah, dan hasil penelitiannya dikenal dengan modal intelektual Islam.

Tata kelola perusahaan dan modal intelektual juga ditunjukkan sebagai variabel yang dapat
mempengaruhi keberlanjutan perusahaan (Hashim et al., 2015; Akhtar et al., 2015). GCG
diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan melalui manajemen berdasarkan
prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi dan keadilan (Cadbury
Committee, 1992).

Keberlanjutan adalah keseimbangan antara orang-planet-profit, yang dikenal sebagai konsep


triple bottom line (TBL). Kesinambungan terletak pada pertemuan antara tiga aspek masyarakat-
sosial; lingkungan planet; dan ekonomi keuntungan (Elkington, 1998). Salah satu implementasi
bisnis yang berkelanjutan dapat diwujudkan dalam Corporate Social Responsibility (CSR). CSR
dalam prespektif Islam harus bisa merefleksikan prinsip-prinsip Islam dengan memprioritaskan
maslahah (kesejahteraan masyarakat), oleh karena itu bank syariah dalam menjalankan usahanya
seharusnya tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, namun harus berusaha memperbaiki
kesejahteraan sosial dan melindungi kebutuhan masyarakat. secara keseluruhan (Dusuki dan
Abdullah, 2005). Dalam kegiatan bisnis, Islam menuntut keadilan yang diarahkan pada hak
orang lain, hak lingkungan sosial, hak alam semesta. Dengan demikian, keseimbangan alam dan
keseimbangan sosial harus dijaga seiring dengan operasi bisnis.

Beberapa hasil penelitian mengenai dampak tata kelola perusahaan terhadap keberlanjutan tidak
konsisten dari para peneliti. Hasil Sari dan Marsono (2013); Janggu dkk. (2014); Hashim dkk.
(2015) dan Ahmad (2015) menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan berdampak positif
signifikan terhadap bisnis yang berkelanjutan. Penelitian yang membingungkan oleh Aras dan
Crowther (2008) menyatakan bahwa tidak cukup untuk membuktikan bahwa GCG akan
memastikan bahwa perusahaan akan berkelanjutan. Hasil penelitian Azis (2014), menyatakan
bahwa tata kelola perusahaan tidak berdampak pada pengungkapan laporan keberlanjutan di
Indonesia. Penelitian Hashim dkk. (2015) menyatakan bahwa keberadaan dewan pengawas
syariah tidak berdampak pada praktik keberlanjutan.

Modal Intellectuail diindikasikan sebagai variabel yang dapat mempengaruhi keberlanjutan suatu
perusahaan, dapat dikatakan bahwa intellectual capital adalah pengetahuan dan informasi yang
dapat menciptakan efisiensi nilai tambah untuk menghasilkan kekayaan bagi perusahaan
(Stewart, 1997). Penelitian Dzemyda dan Jurgelevicius (2014), menunjukkan bahwa modal
intelektual dapat mengubah struktur ekonomi suatu negara dan memiliki dampak pembangunan
berkelanjutan suatu negara. Penelitian Akhtar dkk. (2015) menyatakan bahwa pengetahuan dan
inovasi dari dimensi modal intelektual memiliki dampak dalam menciptakan UKM yang
berkelanjutan.

Profitabilitas menjadi satu ukuran bagi investor dalam melakukan investasi karena profitabilitas
merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan menghasilkan
laba. Profitabilitas dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada
investor. Dilling (2009), menyatakan bahwa perusahaan dengan karakteristik profitabilitas tinggi
dan pertumbuhan jangka panjang yang kuat akan berdampak pada bisnis keberlanjutan
perusahaan. Sejalan dengan penelitian Maskun (2013) menyatakan bahwa tingkat leverage,
ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh signifikan dan positif terhadap pengungkapan
CSR, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini sejalan
dengan penelitian Nawaiseh (2015) bahwa kinerja keuangan perusahaan berdampak positif
signifikan terhadap pengungkapan CSR.

2. TINJAUAN LITERATUR

2.1. Tata Kelola Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan

Pentingnya tata kelola perusahaan di perbankan syariah mencerminkan hasil penelitian Chapra
dan Habib (2002) menyatakan penerapan tata kelola perusahaan di beberapa lembaga keuangan
syariah di dunia Muslim dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah.
Implementasi tata kelola perusahaan di bank syariah sangat penting dilakukan, tidak hanya untuk
menumbuhkan eksistensi bank syariah Islam tapi juga untuk menjaga citra bank syariah di depan
umum.

Penelitian Rehman dan Mangla (2012) menunjukkan bahwa ada dampak signifikan dari tata
kelola perusahaan terhadap kinerja sektor perbankan. Research Mohammed (2012) menunjukkan
GCG akan berdampak pada kinerja bank.

2.2. Modal Intelektual atas Kinerja Keuangan

Modal intelektual dianggap sebagai aset strategis terpenting bagi kesuksesan perusahaan (Rezaei,
2014). Menurut Pulic (1998) tujuan utama ekonomi berbasis pengetahuan adalah menciptakan
VA. Untuk bisa membuat VA membutuhkan ukuran modal fisik dan intelektual yang tepat.

Bontis dkk. (2000) menyatakan bahwa ada dampak positif SC yang signifikan terhadap kinerja
bisnis. Penelitian Kamath (2007); Tan et al. (2007); Ulum dkk. (2008); Rehman dkk. (2011);
Menyatakan bahwa modal intelektual memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kinerja
keuangan perusahaan.

2.3. Tata Kelola Perusahaan untuk Bisnis yang Berkelanjutan


GCG diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan melalui manajemen
berdasarkan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi dan keadilan dan
keadilan. Cadbury Committee (1992) sustainability adalah keseimbangan antara peopleplanet-
profit, yang dikenal dengan konsep TBL. Kesinambungan terletak pada pertemuan antara tiga
aspek masyarakat-sosial; lingkungan planet; dan ekonomi keuntungan (Elkington, 1998).

Ada ketidakkonsistenan hasil kajian corporate governance terhadap keberlanjutan. Penelitian


Sari dan Marsono (2013); Janggu dkk. (2014) dan Ahmad (2015) menyatakan bahwa tata kelola
perusahaan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap bisnis keberlanjutan. Hasil
penelitian yang berbeda oleh Aras dan Crowther Research (2008), Azis (2014), menyatakan
bahwa tata kelola perusahaan tidak berdampak pada kualitas laporan kelestarian corporate
governance di Indonesia. Hasil Hashim et al. (2015), menyatakan bahwa keberadaan dewan
pengawas Syariah tidak berdampak pada praktik keberlanjutan.

2.4. Modal Intelektual untuk Bisnis yang Berkelanjutan

Modal intelektual diindikasikan sebagai variabel yang dapat mempengaruhi perusahaan


keberlanjutan, dapat dikatakan bahwa intellectual capital adalah pengetahuan dan informasi yang
dapat menciptakan efisiensi nilai tambah untuk menghasilkan kekayaan bagi perusahaan
(Stewart, 1997). Penelitian Dzemyda dan Jurgelevicius (2014) menyatakan pentingnya aset tak
berwujud di perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aset tidak berwujud yang terdiri
dari modal intelektual, HC dan modal sosial dapat mengubah struktur ekonomi negara dan
berdampak pada keberlanjutan suatu negara. Penelitian Akhtar dkk. (2015) menyatakan bahwa
pengetahuan dan inovasi dari dimensi intellectual capital memiliki dampak dalam menciptakan
UKM yang berkelanjutan.

2.5. Kinerja Keuangan untuk Bisnis yang Berkelanjutan

Profitabilitas menjadi satu ukuran bagi investor dalam melakukan investasi, karena profitabilitas
merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan memperoleh laba.
Profitabilitas digunakan untuk menginformasikan investor. Dilling (2009), menyatakan bahwa
perusahaan dengan karakteristik profitabilitas tinggi dan pertumbuhan jangka panjang yang kuat
akan berdampak pada kelangsungan bisnis perusahaan. Hal ini sesuai dengan penelitian Maskun
(2013) yang menyatakan bahwa leverage, ukuran perusahaan dan profitabilitas memiliki dampak
positif dan signifikan terhadap pengungkapan CSR. Studi ini sejalan dengan penelitian Nawaiseh
(2015), yang menyatakan bahwa kinerja keuangan yang ditunjukkan oleh ROA menunjukkan
dampak positif yang signifikan terhadap pengungkapan CSR.

3. METODE

3.1. Populasi, Sampel, dan Sumber Data


Kriteria untuk menentukan populasi penelitian ini adalah bank syariah yang menerbitkan
Corporate Governance Report, laporan tahunan dan laporan keuangan untuk periode 2010-2015.
Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode sampling sensus, jumlah sampel dalam
penelitian ini adalah 9 bank syariah.

Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan GCG, laporan tahunan dan laporan
keuangan untuk periode 2010-2015. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam teknik
dokumentasi penelitian ini.

Berdasarkan hubungan variabel yang digunakan dalam penelitian dan perumusan masalah,
penelitian ini menggunakan teknik analisis data parsial least square (PLS) yang didukung oleh
wawancara mendalam.

3.2. Definisi Operasional

3.2.1. Tata Kelola Perusahaan

Tata kelola perusahaan dalam perspektif Islam menghubungkan semua konsep yang berkaitan
dengan perilaku dalam tata kelola bisnis dengan masalah spiritual dengan berpegang pada
prinsip-prinsip tata kelola perusahaan: Transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi
dan keadilan.

3.2.2. Modal intelektual Islam

Modal intelektual adalah pengetahuan yang dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan
dengan memberikan kontribusi yang dapat memberikan nilai tambah dan kegunaan yang berbeda
bagi perusahaan. Menurut Ulum (2013) modal intelektual Islam, VA dibangun dari akun
pendapatan Syariah, yaitu pendapatan bersih untuk kegiatan syariah dan nonoperasi syariah.

3.2.3. Kinerja keuangan Islam

Kinerja perusahaan adalah deskripsi kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan
alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan
yang mencerminkan kinerja pekerjaan pada periode tertentu.

Bank-bank syariah di Indonesia lebih banyak didominasi oleh skema murabahah daripada
musyarakah, dan mudharabah. Penelitian ini mengembangkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Hammed dkk. (2004) Penelitian ini menggunakan rasio murabahah untuk mengukur kinerja
keuangan bank syariah.

4. HASIL
4.1. Pengukuran Model Luar
Pengujian goodness of fit pada model luar dapat dilakukan dengan tiga pengukuran yaitu
validitas konvergen, validitas diskriminan dan reliabilitas komposit (Tabel 1).
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pengukuran indikator untuk variabel corporate
governance telah melewati uji validitas konvergen, validitas diskriminan dan reliabilitas
komposit (Tabel 2).
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pengukuran indikator variabel modal intelektual
syariah telah melewati validitas konvergen, validitas diskriminan dan reliabilitas komposit
(Tabel 3).
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pengukuran indikator variabel Kinerja Keuangan
syariah telah melewati validitas konvergen, validitas diskriminan dan reliabilitas komposit
(Tabel 4).
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pengukuran indikator untuk variabel bisnis yang
berkelanjutan telah melewati validitas konvergen, validitas diskriminan dan reliabilitas komposit.

Tabel 1: Hasil variabel unidimensionality Tata Kelola Perusahaan Syariah (X1)

Indicator Koefisien Standard error t‑statistics Composite reliability AVE


X1.1←PTDK 0.9565 0.0168 57.0682
X1.2←PTD 0.9737 0.0110 88.6873
X1.3←KPTK 0.8153 0.0668 12.2050
X1.4←PTDPS 0.7942 0.0799 9.9342
X1.5←PPSY 0.9750 0.0098 99.2602
X1.6←PBK 0.8292 0.0655 12.6654 0.9840 0.8489
X1.7←PFKB 0.9468 0.0256 37.0537
X1.8←PFAI 0.9502 0.0232 40.8982
X1.9←PFAE 0.9737 0.0110 88.6873
X1.10←BMPD 0.9579 0.0196 48.9268
X1.11←TLI 0.9359 0.0308 30.4208
Table 2: Results unidimensionalitas variable intellectual capital of Islami (X2)

Indicator Koefisien Standard error t‑statistics Composite reliability AVE


X2.1←HC 0.8368 0.0375 22.3348 0.8866 0.7228
X2.2←SC 0.8589 0.1572 5.4633
X2.3←CE 0.8546 0.1584 5.3960
HC: Human capital, SC: Structural capital

Table 3: Results unidimensionalitas variable Islamic financial performance (Y1)

Indicator Koefisien Standard error t‑statistics Composite reliability AVE


Y1←Murabahah ratio 1.000 0.0000 10.000 1.000 1.000

Table 4: Results of unidimensionality of business continuous variables (Y2)


Indicator Koefisien Standard error t‑statistics Composite reliability AVE
Y2.1←Economic
performance 0.9839 0.0080 122.3065
Y2.2←Social performance 0.9510 0.0241 39.4068 0.9793 0.9403
Y2.3←Enviromental
performance 0.9739 0.0131 74.2700

Table 5: Calculation results R2

Information R2
Y1 0.651
Y2 0.482

4.2. Pengukuran Model Dalam


Pengujian model struktural dalam analisis PLS disebut goodness of fit model dalam bentuk nilai
relevansi prediktif (Q2). Hasil perhitungan R-square dijelaskan sebagai berikut pada Tabel 5.
Berdasarkan Tabel 5, nilai Q2 relevansi-prediktif (Q2) dapat dihitung sebagai berikut:
Q2 = 1− (1− R12) (1− R22 )
Q2 = 1- (1-0.651) (1-0.482) = 0,819 = 81,9 %
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai Q2 relevansi-prediktif (Q2) yaitu sebesar 81,9%
menunjukkan bahwa model yang dibangun baik dan model yang dibangun sesuai untuk
pengujian hipotesis.
Hasil pengaruh uji hipotesis antara variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6 dan 7
berikut.
Table 6: Recapitulation results of study

Influence of
between variables Path coefficient t‑statistics P‑value Information
X1→Y1 0.4493 3.2664 0.001 Significant
X2→Y1 0.4314 3.3135 0.001 Significant
X1→Y2 0.1103 0.7914 0.429 No significant
X2→Y2 0.3805 2.0375 0.042 Significant
Y1→Y2 0.2695 2.1109 0.035 Significant

4.3. Uji Hipotesis


1. Pengaruh langsung Tata Kelola Perusahaan Syariah terhadap kinerja keuangan syariah
Pengaruh langsung Tata Kelola Perusahaan Syariah (X1) terhadap kinerja keuangan syariah (Y1)
dapat dibuktikan pada nilai koefisien korelasi sebesar 0,4493 dan nilai t-statistik yang lebih besar
dari t-tabel (3,2664> 1,960) dengan P <0,05 ( 0,001 <0,05) sehingga dikatakan bahwa Tata
Kelola Perusahaan Syariah memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kinerja keuangan
syariah.
2. Pengaruh langsung modal intelektual syariah terhadap kinerja keuangan syariah
Pengaruh langsung modal intelektual syariah (X2) terhadap kinerja keuangan syariah (Y1) dapat
dibuktikan pada nilai koefisien korelasi sebesar 0,4314 dan nilai t-statistik yang lebih besar dari
t-tabel (3,3135> 1,960) dengan nilai P lebih kecil dari 0,05 (0,001 <0,05) sehingga dikatakan
modal intelektual syariah memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kinerja keuangan
syariah.
3. Pengaruh langsung Corporate Governance terhadap bisnis yang berkelanjutan
Pengaruh langsung kinerja keuangan syariah (X1) terhadap bisnis berkelanjutan (Y2) dapat
dibuktikan pada nilai koefisien korelasi 0,10103 dan nilai t-statistik yang lebih kecil dari t-tabel
(0,7914 <1,960) dengan P> 0,05 (0,429 > 0,05) sehingga dikatakan bahwa Tata Kelola
Perusahaan Syariah memiliki dampak namun tidak signifikan terhadap bisnis yang
berkelanjutan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Tata Kelola Perusahaan Syariah yang
baik, namun tidak secara optimal dapat berdampak pada penurunan bisnis yang berkelanjutan,
sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini tidak dapat diterima atau tidak didukung
oleh fakta empiris.
4. Pengaruh langsung modal intelektual Syariah terhadap bisnis yang berkelanjutan
Pengaruh langsung modal intelektual syariah (X2) terhadap bisnis berkelanjutan (Y2) dapat
dibuktikan pada nilai koefisien korelasi 0,3805 dan nilai t-statistik yang lebih besar dari t-tabel
(2,0375> 1,960) dengan P <0,05 (0,042 <0,05) sehingga dikatakan bahwa modal intelektual
syariah memiliki dampak positif yang signifikan terhadap bisnis yang berkelanjutan.
5. Pengaruh langsung kinerja keuangan syariah terhadap bisnis yang berkelanjutan
Pengaruh langsung kinerja keuangan syariah (Y1) terhadap bisnis berkelanjutan (Y2) dapat
dibuktikan pada nilai koefisien korelasi 0,2695 dan nilai t-statistik yang lebih besar dari t tabel
(2.1109> 1.960) dengan P <0,05 (0,035 <0,05) sehingga dikatakan kinerja keuangan syariah
memiliki dampak positif yang signifikan terhadap bisnis yang berkelanjutan.
6. Pengaruh tidak langsung Tata Kelola Perusahaan Syariah melalui kinerja keuangan syariah
terhadap bisnis yang berkelanjutan
Efek tidak langsung dari Tata Kelola Perusahaan Syariah (Y1) terhadap bisnis yang
berkelanjutan (Y2) dapat dibuktikan berdasarkan nilai efek langsung dari Tata Kelola
Perusahaan Syariah (X1) terhadap kinerja keuangan syariah (Y1) untuk (Y1) terhadap bisnis
berkelanjutan (Y2) yaitu 0,2695 (signifikan), dan hal-hal yang mempengaruhi Tata Kelola
Perusahaan Syariah (X1) pada bisnis berkelanjutan (Y2) menunjukkan nilai sebesar 0,1103
(tidak signifikan). (Y1) melalui kinerja keuangan syariah (Y1) yaitu sebesar 3,698> 1,96 dengan
P = 0,429. Dengan demikian bisa dikatakan kinerja keuangan syariah (Y1) merupakan mediasi
penuh.
7. Pengaruh tidak langsung modal intelektual syariah melalui kinerja keuangan syariah terhadap
bisnis yang berkelanjutan
Pengaruh tidak langsung modal intelektual syariah (X2) dengan mediasi dari kinerja keuangan
syariah (Y1) terhadap bisnis berkelanjutan (Y2) dapat dibuktikan berdasarkan nilai koefisien dari
efek langsung modal intelektual syariah (X2) terhadap kinerja keuangan syariah (Y1) yaitu
sebsesar 0,4314. Secara signifikan, koefisien pengaruh langsung kinerja keuangan syariah (Y1)
terhadap bisnis berkelanjutan (Y2) adalah sebsesar 0,2695 (signifikan), dan koefisien efek
langsung modal intelektual syariah (X2) terhadap bisnis berkelanjutan (Y2 ) menunjukkan nilai
koefisien sebesar 0,3805 (signifikan). Dari uji Sobel, diketahui bahwa koefisien pengaruh tidak
langsung modal intelektual syariah (X2) terhadap bisnis berkelanjutan (Y2) melalui kinerja
keuangan syariah (Y1) adalah 2,148> 1,96 dengan nilai P yaitu 0,042. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa kinerja keuangan syariah (Y1) merupakan mediasi parsial.
5. DISKUSI
5.1. Pengaruh langsung Tata Kelola Perusahaan Syariah terhadap kinerja keuangan syariah
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Rehman dan Mangla (2012), Aggarwal (2013)
dan Ghaffar (2014) menyatakan bahwa tata kelola perusahaan berpengaruh signifikan terhadap
kinerja keuangan perusahaan. Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian Asrori (2014)
menyatakan bahwa dewan pengawas syariah (DPS) dan kepatuhan syariah memiliki dampak
positif yang signifikan terhadap kinerja bank syariah seperti yang diukur oleh kinerja rasio
keuangan syariah.
Penelitian ini didukung oleh hasil wawancara dengan praktisi bank syariah "A" yang mengatakan
bahwa GCG berdampak pada kinerja keuangan bank syariah.
Table 7: Results of test mediation variables: Coefficient indirect effect with sobel test

Indirect effect Coefficient direct effect Sobel test >1.96 Information


X1→Y1→Y2 X1→Y1=0.449 Y1→Y2=0.270 3.698 Full mediation
X2→Y1→Y2 X2→Y1=0.431 Y1→Y2=0.270 2.148 Partial mediation

5.2. Pengaruh Langsung Modal Intelektual Syariah Terhadap Kinerja Keuangan Syariah
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Ulum (2013) menyatakan bahwa modal
intelektual memiliki hubungan positif terhadap kinerja keuangan dimasa depan. Penelitian ini
juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Firer dan Williams (2003) yang menyatakan
bahwa modal intelektual memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Penelitian ini didukung oleh hasil wawancara dengan praktisi bank syariah "B" yang mengatakan
bahwa modal intelektual terdiri dari HC, SC dan modal karyawan yang berpengaruh terhadap
kinerja keuangan bank syariah
5.3. Pengaruh Langsung Tata Kelola Perusahaan Syariah terhadap Bisnis yang Berkelanjutan
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hashim et al. (2015) menyatakan bahwa keberadaan
dewan pengawas syariah tidak berdampak pada praktik keberlanjutan. Aras dan Crowther (2008)
menyatakan bahwa tidak cukup untuk membuktikan bahwa GCG akan menjamin bahwa
perusahaan akan berkelanjutan. Namun, hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian oleh
Sari dan Marsono (2013), Janggu dkk. (2014) dan Ahmad (2015) menyatakan bahwa tata kelola
perusahaan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap bisnis keberlanjutan.
Penelitian ini didukung oleh hasil wawancara dengan praktisi bank syariah "A". Hasil
wawancara dengan praktisi bank syariah dilakukan untuk mendapatkan informasi bahwa
keberadaan Dewan Pengawas Syariah di bank syariah hanya sebagai pelengkap objek di institusi
bank syariah. Jika dibiarkan akan berdampak pada citra bank syariah yang pada akhirnya akan
berdampak pada keberlanjutan bank syariah di masa depan.
5.4. Pengaruh Langsung Modal Intelektual Syariah terhadap Bisnis yang Berkelanjutan
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Dzemyda dan Jurgelevicius (2014)
menunjukkan bahwa aset tidak berwujud yang terdiri dari modal intelektual, HC dan Modal
Sosial dapat mengubah struktur ekonomi suatu negara dan dampak keberlanjutan suatu negara.
Penelitian oleh Akhtar dkk. (2015) menunjukkan modal intelektual memiliki dampak positif
yang signifikan terhadap UKM usaha yang berkelanjutan.
Penelitian ini didukung oleh wawancara dengan para praktisi di bank syariah "D" yang
mengatakan HC, SC dan modal karyawan berdampak pada keberlanjutan bank syariah.
5.5. Pengaruh Langsung Kinerja Keuangan Syariah terhadap Bisnis yang Berkelanjutan
Penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Nawaiseh (2015) menyatakan bahwa kinerja
perusahaan memiliki dampak positif terhadap pengungkapan CSR. Penelitian Maskun (2013)
menunjukkan pengaruh yang signifikan, ukuran perusahaan dan profitabilitas yang signifikan
terhadap pengungkapan CSR, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Penelitian ini didukung oleh wawancara dengan praktisi bank syariah "A" yang mengatakan
bahwa bank syariah sangat diperlukan untuk menjaga kinerja keuangan. Karena kinerja
keuangan yang tepat bisa memberi peluang bagi bank syariah untuk terus tumbuh, berkembang
dan berkelanjutan.
5.6. Pengaruh Tidak langsung Tata Kelola Perusahaan Syariah melalui Kinerja Keuangan
Syariah terhadap Bisnis yang Berkelanjutan
Penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Aras dan Crowther (2008) menyatakan bahwa tidak
cukup untuk dapat membuktikan bahwa GCG akan menjamin bahwa perusahaan akan
berkelanjutan. Penelitian oleh Azis (2014) menyatakan bahwa tata kelola perusahaan tidak
mempengaruhi kualitas pengungkapan laporan keberlanjutan perusahaan di Indonesia.
Penelitian ini didukung oleh hasil wawancara dengan praktisi bank syariah "C" yang mengatakan
bahwa penerapan tata kelola perusahaan yang tepat berdampak pada kinerja keuangan bank
syariah yang pada akhirnya berdampak pada kelangsungan bisnis bank syariah.
5.7. Pengaruh Tidak Langsung Modal Intelektual Syariah Melalui Kinerja Keuangan Syariah
terhadap Bisnis yang Berkelanjutan
Penelitian ini sesuai dengan penelitian oleh Dzemyda dan Jurgelevicius (2014) yang
menunjukkan bahwa aset tidak berwujud dapat mengubah struktur ekonomi suatu negara dan
dampak keberlanjutan pembangunan suatu negara. Penelitian Akhtar dkk. (2015) menyatakan
modal intelektual memiliki dampak dalam menciptakan UKM yang berkelanjutan.
Penelitian ini didukung oleh hasil wawancara dengan praktisi bank syariah "B" yang mengatakan
bahwa pentingnya modal intelektual untuk keberlanjutan bank syariah. Adanya modal intelektual
yang terjaga baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dapat meningkatkan kinerja keuangan
perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan bisnis bank syariah yang
berkelanjutan.
6. KESIMPULAN
Implementasi corporate governance menjadi keharusan bagi bank syariah, dengan penerapan tata
kelola perusahaan yang optimal dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memberikan
citra yang baik bagi bank syariah, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja keuangan dan
keberlanjutan dari bank syariah. Modal intelektual Syariah dapat meningkatkan kinerja keuangan
syariah. Adanya modal intelektual dapat memberi nilai tambah bagi bank syariah dan dapat
berdampak pada peningkatan kinerja keuangan dan kelangsungan usaha bank syariah.
Implementasi Tata Kelola Perusahaan Syariah yang tidak optimal dapat berdampak pada
kelangsungan bisnis bank syariah. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya implementasi tata kelola
perusahaan yang tepat dengan benar, namun harus dilaksanakan secara optimal agar berdampak
pada bisnis bank syariah yang berkelanjutan.