Vous êtes sur la page 1sur 26

ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL PATOLOGIS

Pada Ny.S Umur 22 Tahun G1,P0,A0 UK 40 Minggu dengan KPD

DI SUSUN OLEH :

1.Febiyanti Mafitasari
2.Imroatul Fauziah
3.Nining Kartiningrum
4.Nur Afni Fitria.A.

AKADEMI KEBIDANAN BHAKTI PUTRA BANGSA

PURWOREJO

Jl.lingkar selatan borokulon banyuurip 54171

Telepon (0275) 3336745; fax :(0275) 312 0274

Website:www.akbid-purworejo.ac.id. E-mail:akbid_purworejo@yahoo.com

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktik Klinik Kebidanan II Dengan judul ASUHAN KEBIDANAN PADA


IBU HAMIL PATOLOGI PADA NY “S” DENGAN KPD DI BANGSAL EDELWIS
RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO.

Telah Di Setujui Pada :

Hari :

Tanggal :

Mengetahui,

Akedemik lahan praktik

( ) ( )

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini
yang allahmdulillah tepat waktunya yang berjudul “KETUBAN PECAH DINI”.

Terima kasih kami ucapkan kepada Pembimbing akademik ,


PembimbingLahanPraktik, kedua orang tua kami serta teman-teman sekalian yang
telah membantu, baik bantuan berupa moral maupun materil, sehingga laporan ini
terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.

Diharapkan tulisan ini bermanfaat untuk menambah informasi dan


pengetahuan bagi kita Dalam penulisan laporan ini kami merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan, baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat
kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan karya tulis ini. Akhir kata
kami ucapkan semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………... i


LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………… .......... ......... ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………..................iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………...................iv
BAB 1 PENDAHULUAN ………………………………………………………..1
1.1 Latar belakang ………………………………………………………………1
1.2 Tujuan ……………………………………………………………………...... 1
1.3 Mamfaat ………………………………………………………………………2
BABIILANDASANTEORI ………………………………………………..……3
BAB III TINJAUAN KASUS …………………………………………………....11
BAB IV PEMBAHASAN
………………………………………………………………………20
BAB V PENUTUP
……………………………………………………………………………...21
5.1 Kesimpulan
………………………………………………………………………………….21
5.2 Saran
………………………………………………………………………………………...21
DAFTAR PUSTAKA
…………………………………………………………………………..22

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehamilan air ketuban merupakan salah satu hal yang sangat penting
bagi kehidupan janin dalam kandungan. Kekurangan atau pun kelebihan air ketuban
sangat mempengaruhi keadaan janin. Oleh karena itu penting mengetahui keadaan
air ketuban selama kehamilan demi keselamatan janin.
Namun dalam kehamilan kadang kala terjadi pecah ketuban sebelum waktunya
atau yang sering disebut dengan ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini merupakan
masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan
terjadinya infeksi sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas
perinatal dan menyebabkan infeksi ibu (sarwono 2008).
Ketuban pecah dini didefenisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum
waktunya melahirkan. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan
mengalami ketuban pecah dini (Sarwono 2008).
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang
bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10 % dari semua kehamilan. Hal yang
menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak
terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar
95 % , sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan
preterm terjadi sekitar 34 % semua kekahiran prematur.
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih
kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih
belum ada, selalu berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat
menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian
perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain
disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang
meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering
dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif .
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif
terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai
terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya
akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini
sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan
tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup.
Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi, karena
ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya
penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora
vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada
ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif
seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi
kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan atau
prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah
yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau
respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru.
Protokol pengelolaan yang optimal harus memprtimbangkan 2 hal tersebut di atas
dan faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang
kurang bulan. Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk
semua kasus KPD, tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis, yang
dapat mengurangi mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang
berat baik pada anak maupun pada ibu.
1.2 Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan ketuban pecah dini?
Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini?
Bagaimana mekanisme terjadinya ketuban pecah dini?
Bagaimana patofisiologi dari ketuban pecah dini ?
Apa saja yang perlu diperiksa untuk menegakkan diagnosa ketuban pecah dini?
Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi dari ketuban pecah dini?
Bagaimana penatalaksanaan dari ketuban pecah dini?
Apa peran bidan dalam menghadapi ketuban pecah dini?
1.3 Tujuan

1. Tujuan umum
Untuk mendeskripsikan asuhan kebidanan pada pasien KPD, mengetahui
penyebab dan tanda-tanda serta gejala KPD
2. Tujuan khusus
a.Mendefinisikan dan menjelaskan terjadinya ketuban pecah dini
b.Mengidentifikasi pemeriksaan yang diperlukan untuk diagnosis
c.Mendiskusikan penanganan tepat dan cepat pada ketuban pecah dini dan
komplikasinya.

1.4 Manfaat

Penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan


mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan
kebidanan pada penderita ketuban pecah sebelum waktunya.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Ketuban Pecah dini


Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan
karion yang sangat erat kaitannya, lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti sel
epitel, sel mesenkim dan sel trofoblas yang terikat erat dalam matriks kolagen.
Selaput ketuban berfungsi mengahasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap
infeksi.
Dalam keadaan normal, selapu ketuban pecah dalam proses persalinan,
ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.
Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu di sebut ketuban
pecah dini pada kehamilan premature. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan
hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini. (sarwono prawirohardjo, 2008)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan setelah ditunggu satu jam belum memulainya tanda persalinan(ilmu
kebidanan,penyakit kandungan, dan KB 2010)
Ketuban merupakan hal yang penting dalam kehamilan karena ketuban memiliki
fungsi seperti:
a.Untuk proteksi janin.
b.Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.
c.Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
d.Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
e.Mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau
diminum yang kemudian dikeluarkan melalui kencing janin.
f.Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban
pecah.
g.Oleh sebab itu perlu untuk mengetahui asuhan apa yang harus diberikan.

2.2 ETIOLOGI
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran
atau meningkatnya tekanan intrauterin. Berkurangnya kekuatan membran
disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain
itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya
adalah sebagai berikut :
1.Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot
leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit
membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin
yang semakin besar.
2.Peninggian tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a.Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b.Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada
kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan
adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya
berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil
sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan
selaput ketuban tipis dan mudah pecah. (Saifudin. 2002)
a.Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan
makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan
menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput
ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan
membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.
(Winkjosastro, 2006)
b.Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus
dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis
adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur.
Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami
distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja.
3.Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4.Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP
(sepalopelvic disproporsi).
5.Korioamnionitis
Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran
organisme vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah
pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan persalinan lama.
6.Penyakit InfeksiAdalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah
mikroorganisme
yang meyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi
menyebabkanterjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam
bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.
7.Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik
8.Riwayat KPD sebelumya
9.Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
10.Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23
minggu
2.3 TANDA GAN GEJALA
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, Cairan ini tidak akan
berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda
duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal”
atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang
banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda
infeksi yang terjadi.

2.4 . Mekanisme ketuban pecah dini


Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus
dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu
terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan
karena seluruh selaput ketuban rapuh.
Terdapat keseimbangan antara sintesis dan degradasi ekstraseluler matrix,
perubahan stuktur, jumlah sel dan katabolisme kolagen menyebabkan selaput
ketuban pecah.
Factor resiko untuk terjadinya ketuban pecah dini adalah:
- Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen
· - Berkurangnya tembaga dan asa askorbikyang berkaitan pertumbuhan struktur
abnormal karena antara lain merokok.
Degradasi kolagen di mediasi matriks metalloproteinase (MMP) yang dihambat
oleh inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease.
Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antara MMP dan TIMP-1 mengarah
pada degradasi proteolitik dari matrix ekstraseluler dan membran janin. Aktivitas
degradasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Pada penyakit periodontitis
dimana terdapat peningkatan MMP, cenderung terjadi ketuban pecah dini.
Selaput ketuban sangat kuat dalam kehamilan muda. Pada trimester 3 selaput
ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ketuban pada hubungannya
dengan pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pada trimester
terakhir terjadi perubahan biokimia pada selaput ketuban.

Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis. Ketuban


pecah dini pada kehamilan prematur disebabkan oleh adanya faktor-faktor eksternal,
misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini prematur sering
terjadi pada polihidramnion, inkompeten serviks, solusio plasenta.(sarwono, 2008).

2.5 Komplikasi
Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia
kehamilan dapat terjadi infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan prematur,
hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden sectio
secarea, atau gagalnya persalinan normal.
- Persalinan prematur
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam
setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam
24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
- Infeksi
Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi
korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya
terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini prematur,
infeksi lebih sering daripada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada
ketuban pecah dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
- Hipoksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban mterjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat
hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat
janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
- Sindrom deformitas janin
Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat, kelainan disebabkan komposisi muka dan anggota badan janin, serta
hipoplasi pulmonas. (sarwono prawirohardjo, 2008)

Penatalaksanaan ketuban pecah dini:


- Pastikan diagnosis
- Tentukan umur kehamilan
- Evaluasi ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin
- Apakah dalam keadaan inpartu, terdapat kegawatan janin
Riwayat keluarga air ketuban berupa cairan jernih keluar dari vagina yang
kadang-kadang disertai tanda-tanda lain dalam persalinan.
Diagnosis ketuban pecah dini prematur dengan inspekulo dilihat adanya
cairan ketuban keluar dari kavum uteri. Pemeriksaan PH vagina perempuan hamil
sekitar 4,5 bila ada caira ketuban PH nya sekitar 7,1-7,3. Antiseptic yang alkalin
akan menaikan PH vagina.
Dengan pemeriksaan ultrasound adanya ketuban pecah dini dapat
dikonfirmasikan denga adanya oligohidramnion. Bila air ketuban normal agaknya
ketuban pecah dapat diragukan serviks.
Penderita dengan kemungkinan ketuban pecah dini harus masuk rumah sakit
untuk diperiksa lebih lanjut. Jika pada perawatan air ketuban berhenti keluar, pasien
dapat pulang untuk dirawat jalan. Bila terdapat persalinan dalam kala aktif,
kotioamnionitis, gawat janin, persalinan diterminasi. Bila ketuban pecah dini dalam
kehamilan prematur, diperlukan penatalaksanaan yang komperhensif. Secara umum
penatalksanaan pasien ketuban pecah dini yang tidak dalam persalinan serta tidak
ada infeksi dan gawat janin, penatalaksanaannya bergantung pada usia kehamilan.
(sarwono prawirohardjo, 2008)
· Diagnosis
Tentukan pecahnya selaput ketuban, dengan adanya cairan ketuban
divagina. Jika tidak ada dapat dicoba dengan menggerakan sedikit bagian terbawah
janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat
dilakukan dengan tes lakmus merah menjadi biru. Tentukan usia kehamilan, bila
perlu dengan pemeriksaan USG. Tentukan ada tidaknya infeksi, tanda-tanda infeksi
adalah bila suhu ibu lebih dari 38 C serta air ketuban keruh dan berbau. Leukosit
darah >15.000/mm. Janin yang mengalami takikardi, mungkin mengalami infeksi
intrauterin. Tentukan tanda-tanda persalinan dan skoring velviks. Tentukan adanya
kontraksi yang teratur. Periksa dalam dilakukan penanganan aktif (terminasi
kehamilan). (sarwono prawirohardjo, 2008)
2.6 PENGARUH KPD
1. TerhadapJanin
Walaupun ibu belum menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin
sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi
(amnionitis,vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan
meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal.
2. TerhadapIbu
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila
terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi
puerpuralis atau nifas, peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan
merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama,
maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi
lainnya.

2.7 PENANGANAN
1. Konservatif
Rawat di rumah sakit
Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, curigai adanya
kemungkinan solusioplasenta. Jika ada tanda-tanda infeksi (demam dan cairan
vagina berbau), berikanantibiotika sama halnya jika terjadi amnionitosis
Jika tidak ada infeksi dan kehamilan< 37 minggu:
Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin
Ampisilin 4x 500mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250mg per oral 3x perhari
selama 7 hari.
Jika usia kehamilan 32 - 37 mg, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri dexametason,
dosisnya IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 x, observasi tanda-tanda infeksi dan
kesejahteraan janin. Jika usia kehamilan sudah 32 - 37 mg dan sudah inpartu, tidak
ada infeksi maka berikan tokolitik ,dexametason, dan induksi setelah 24 jam
2. Aktif
Kehamilan lebih dari 37 mg, induksi dengan oksitosin. Bila gagal Seksio
Caesaria dapat pula diberikan misoprostol 25 mikrogram – 50 mikrogram
intravaginal tiap 6 jam max 4 x. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis
tinggi dan persalinan diakhiri.Indikasi melakukan induksi pada ketuban pecah dini
adalah sebagai berikut :
a.Pertimbangan waktu dan berat janin dalam rahim. Pertimbangan waktuapakah
6, 12, atau 24 jam. Berat janin sebaiknya lebih dari 2000 gram.
b.Terdapat tanda infeksi intra uteri. Suhu meningkat lebih dari 38°c, dengan
pengukuran per rektal. Terdapat tanda infeksi melalui hasil
pemeriksaanlaboratorium dan pemeriksaan kultur air ketuban
Penatalaksanaan lanjutan :
a. Kaji suhu dan denyut nadi setiap 2 jam. Kenaikan suhu sering kali didahului
kondisi ibu yang menggigil.
b. Lakukan pemantauan DJJ. Pemeriksaan DJJ setiap jam sebelum persalinan
adalah tindakan yang adekuat sepanjang DJJ dalam batas normal.
Pemantauan DJJ ketat dengan alat pemantau janin elektronik secara kontinu
dilakukan selama induksi oksitosin untuk melihat tanda gawat janin akibat
kompresi tali pusat atau induksi. Takikardia dapat mengindikasikan
infeksiuteri.
c. Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu.
d. Ketika melakukan pemeriksaan dalam yang benar-benar diperlukan,
perhatikan juga hal-hal berikut:
a.Apakah dinding vagina teraba lebih hangat dari biasa.
b.Bau rabas atau cairan di sarung tangan
c.Warna rabas atau cairan di sarung tangan
d.Beri perhatian lebih seksama terhadap hidrasi agar dapat diperoleh
gambaran jelas dari setiap infeksi yang timbul. Seringkali terjadi peningkatan
suhu tubuh akibat dehidrasi.
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN

Ny.S UMUR 22 TAHUN G1P0A0 USIA KEHAMILAN 40 MINGGU

DI RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO

Tempat Praktik:RSUD STJONEGORO

Tanggal Masuk : 14 Juli 2014

Hari/tanggal :selasa 15 juli 2014

I.DATA SUBYEKTIF

1.Identitas

Nama Ibu :Ny.S Nama Suami :Tn.L

Umur :22 tahun :28 tahun

Suku/Bangsa :Jawa/Indonesia :Jawa/Indonesia

Agama :Islam :Islam

Pekerjaan :IRT :Swasta

Pendidikan :SMA :SMP

Alamat :Kaliraang

2.Alasan Datang

Ibu Mengatakan Rujukan dari Puskesmas dan datang dari IGD dengan
Diagnosa KPD.
3.Keluhan Utama

Ibu mengatakan mengeluarkan Air Ketuban pada tanggal 14 juli 2014 jam
07.30 WIB dan belum merasakan adanya tanda- tanda persalinan.

4.Riwayat Menstruasai

a.Menarche :13 tahun

b.Lama :7 Hari

c.warna :Merah segar

d.Siklus :29 hari

e.Jumlah ganti pembalut :3-4 x/hari, Frekuensi banyak.

f.Keluhan :Tidak ada keluhan

5.Riwayat kehamilan sekarang

a.HPHT : 6 oktober 2013

b.Haid bulan sebelumnya :13 Juli 2013

c.BB Sebelum hamil :48 Kg

d.Gerakan Janin :Teratur

e.Keluhan :

TM I :mual-mual terapi:B6,asam folat

TM II :tidak ada

TM III :tidak ada

f.Obat yang dikonsumsi selama hami (termasuk jamu )

Ibu mengatakan tidak mengonsumsi jamu /obat selain dari kebidanan /


dokter.

g. ANC :Teratur

TM I :Frekuensi 2x

TM II :Frekuensi 3x

TM III :Frekuensi 3x

h.Imunisasi TT :

TT 1 : Capeng
TT 2 : 6 november 2013

TT 3 :8 Desember 2013

TT 4 :12 Febuari 2013

i.Kekhawatiran Khusus :

Ibu mengatakan khawatir dengan kondisi kehamilanya saat ini.

6.Riwayat Kehamilan,Persalinan,Nifas yang lalu

a.Riwayat Kehamilan :GI,P0,A0

Penyulit :tidak ada

b.Riwayat Persalinan :Ibu mengatakan belum pernah mengalami


persalinan.

Penyulit :tidak ada

c.Riwayat Nifas :Ibu mengatakan belum pernah mengalami nifas

Penyulit :tidak ada

7.Riwayat Kesehatan

a.Penyakit yang pernah/sedang di derita (menular,menurun dan menahun)

Ibu mnegatakan tidak pernah atau sedang menderita penyakit menular


seperti (Hepatitisdan ,TBC),menurun (DM,dan Asma),menahun
(hipertensi,jantung).

b.Penyakit yang pernah/sedang di derita keluarga (Menular,menurun dan


menahun)

Ibu mengatakan dari pihak keluarga ibu dan suami tidak pernah atau
sedang menderita penyakit menular seperti( Hepatitis dan TBC),menurun
(DM,Asma),Menahun (Hipertensi,Jantung ).

c.Riwayat Keturunan Kembar

Ibu mengatakan dari pihak keluarga ibu maupun suami tidak ada yang
mempunyai riwayat kembar.

d.Riwayat Alergi Obat

Ibu tidak ada riwayat alergi obat.


8.Riwayat Sosial Ekonomi

a.Riwayat Pernikahan

Umur Waktu menikah :21 Tahun

Lamanya menikah :1 Tahun

Jumlah Anak : belum ada

Perkawinan Ke :1

Status Pernikahan :Sah

b.Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan ibu

Ibu mengatakan ibu dan keluarga sangat senang dengan kehamilan ini
dan sangat di tunggu kehamilan ini oleh keluarga.

c.Riwayat KB

Ibu mengatakan belum pernah menggunakan Alat kontrasepsi apapun.

d.Pengambilan Keputusa dalam Keluarga

Ibu mengatakan keputusan dalam keluarga diambil oleh Suami.

e.Adat Istiadat

Ibu mengatakan didaerahnya masih ada adat istiadat mitoni dan


ngapati.

f.Lingkungan

Ibu mengatakan lingkunganya bersih dan nyaman.

Ibu m mengatakan Memelihara binatang ternak seperti ayam dan sapi.

g.Pengetahuan Ibu

Ibu mengatakan sudah mengetahui tanda bahaya TM III dan tanda-


tanda persalinan.

h.Pola pemenuhan kebutuhan sehari- hari

Kebutuhan Sebelum Hamil Selama hamil Keluhan


Nutrisi
- Makan 3x/hari porsi 3x/hari porsi Tidak ada
sedang banyak
- Minum 6 – 8 gelas / hari 8 – 11 gelas / Tidak ada
Jenis: teh,air putih. hari
Jenis :teh,air
putih susu,
Eliminasi
- BAK 4 – 5 kali/hari 7 – 8 gelas/ hari Tidak ada
,warna kuning Warna kuning
jernih jernih
- BAB 1 – 2 x /hari 1 x / hari Tidak ada
konsistensi konsistensi
lunak,warna kuning lunak,warna
dan bau khas. kecoklatan dan
bau khas.
Istirahat
- Siang Tidak tidur siang 1 jam / hari Tidak ada
- Malam 7 jam / hari 7 – 8 jam / hari Tidak ada
Aktivitas Ibu melakukan Ibu melakukan Tidak ada
pekerjaan rumah pekerjaan rumah
tangga sendiri. tangga di bantu
ole suami.
Personal hygiene Mandi:2x / hari Mandi :2x/ hari Tidak ada
Keramas:3x/minggu Keramas :2 hari Tidak ada
1x

Gosok gigi : 2x / Gosok gigi Tidak ada


hari 3x/hari

Ganti baju:2x / hari Ganti baju Tidak ada


:2x/hari
Rekreasi Kadang – kadang 1 – 2 bulan Tidak ada
sekali
Pola Sex 1-2 x / minggu 1 minggu 1x Tidak ada

II. DATA OBYEKTIF

1.Pemeriksaan Umum

a.Keadaan Umum :Baik

b.Kesadaran :Composmetis

c.Status emosional :Stabil

d.HPL :13 Juli 2014


e.Tanda Vital : TD :110/80 mmhg S : 36℃

N :88 x/menit RR :24 x/menit

f.BB setelah hamil :58 Kg

g.TB :158 cm

h.Lila :24 cm

i.Status Present :

Kepala : rambut warna hitam, kulit kepal bersih

Muka : tidak pucat, tidak ada oedema

Mata : konjungtiva merah muda, sklera putih

Mulut : tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, dan vena


jugularis

Payudara : puting susu menonjol, areola mamae hyperpigmentasi,


payudara tampak bersih

Abdomen : terdapat pembesaran sesuai dengan usia kehamilan,


terdapat linea nigra, tidak ada bekas operasi

Genetalia : terlihat bersih, mengeluarkan lendir bercampur darah,


tidak ada keluhan

Ekstremitas: tidak ada oedema, terpasang infus Rl pada tangan


sebelah kiri

2.Pemeriksaan Obstetri

a.Inspeksi

Wajah / Muka :Tidak bengkak,tidak ada cloasma gravidarum

Mammae /aerola :Puting menonjol,aerolla menghitam

Abdomen :Tidak ada bekas operasi,nampak strie gravidarum

Genetalia :Bersih

b. Palpasi

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis

Payudara : tidak ada kelainan, tidak nyeri tekan, colostrum (-)


Abdomen :

Palpasi Supra pubis :kandung kemih kosong

- Leopold I : TFU : 30 cm, UK: 40 minggu, teraba bokong (bulat,


lunak, tidak melenting)
- Leopold II : bagian kiri ibu teraba punggung janin (panjang, datar, seperti
papan), bagian kianan perut ibu teraba bagian terkecil janin(Ekstremitas)
- Leopold III : Bagian bawah perut ibu Teraba kepala janin (keras, bulat,
melenting)
- Leopold IV :Tangan pemeriksa divergen,Kepala Masuk PAP 4/5 bagian
mc.Donald: TFU:30 cm
TBJ : (30 – 11) x 155 = 2945 gram
c.Perkusi : Reflek Patella (+)
d.Auskultasi :DJJ:146 x / menit,irama : teratur
Punctum Max : di sebelah kiri perut ibu
e.Pemeriksaan Penunjang
- Golongan Darah :
- Protein Urine :
-HB :10,9 (15 juli 2014)
-USG :

f.Pemeriksaan Dalam

- V/U/V :Tenang

- Dinding vagina :Licin

- Porsio :Tebal

- Pembukaan : (-) belum ada pembukaan

III .ASSESMENT

1.Diagnosa Kebidanan

Ny.s umur 22 tahun G1,P0,A0 UK 40 minggu,janin tunggal,hidup,intra uterin


Preskep,Puki dengan KPD.

DS:- Ibu mengatakan bernama Ny.S umur 22 tahun hamil pertama kali.

- Ibu mengatakan haid pertama mens terakhir pada tanggal 8 Oktober 2013
- Ibu mengatakan sudah mengeluarkan cairan (air ketuban) dari lubang jalan
lahir tetapi belum merasakan tanda- tanda persalinan.

DO: Tanda Vital

- TD:110/80 mmhg -S :36℃


- N : 88x/menit - RR :24 x/ menit
Palpasi Leopold:
- Leopold I : TFU : 30 cm, UK: 40 minggu, teraba bokong (bulat,
lunak, tidak melenting)
- Leopold II : bagian kiri ibu teraba punggung janin (panjang, datar, seperti
papan), bagian kianan perut ibu teraba bagian terkecil janin(Ekstremitas)
- Leopold III : Bagian bawah perut ibu Teraba kepala janin (keras, bulat,
melenting)
- Leopold IV :Tangan pemeriksa divergen,Kepala Masuk PAP 4/5 bagian
mc.Donald: TFU:30 cm
TBJ : (30 – 11) x 155 = 2945 gram

2.Masalah :
Ibu mengatakan merasa cemas karena ketuban sudah pecah dan belum ada
tanda – tanda persalinan.
3.Diagnosa Potensial: Infeksi
4.Identifikasi tindakan kebutuhan segera: Kolaborasi dengan dokter.

IV.PLANNING
Hari/Tanggal: Selasa 15 Juli 2014 Jam : 17.30 WIB
1.Beritahu ibu hasil pemeriksaan.
2.Beritahu ibu KIE Ketuban Pecah Dini
3.Observasi DJJ dan beri terapi obat sesuai terapi dokter.
4.Berikan dukungan psikologis
5.Anjurkan Ibu tidur Miring Kiri
6.Pendokumentasian

V.IMPLEMENTASI
Hari / Tanggal :Selasa ,15 Juli 2014 Jam :18.30 WIB
1.Memeritahu ibu hasil pemeriksaan.
TTV : - TD : 110/80 mmHg - RR :24 x/menit
-N : 88 x/menit -S :36℃
DJJ : 146 x/menit
2.Memberitahu Ibu KIE ketuban pecah dini yaitu Kebutuhan yang pecah sebelum
adanya tanda- tanda persalinan.
KPD dapat menyebabkan,Infeksi,Prolaps tali pusat dan Syndrom distress.
Maka dari itu janin perlu pengawasan yang seksama dan harus dilahirkan segera
agar janin tidak mengalami streess dan kematian.
3.Mengobservasi DJJ
Jam :

- Memberikan terapi Obat dan cairan sesuai terapi dokter :


Stimulasi oxytocin 5 IU/500 ml ,RL 40 tpm,
Injeksi ampiciliin 3 x 1 gram
4.Memberikan dukungan psikologis
- Mengajurkan ibu untuk tenang dan selalu berdoa
- mengajurkan keluarga untuk memberi dukungan psikologis
5.Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri agar suplai oksigen ke janin yang lebih
lancar.
6.Melakukan pendokumentasian

VI.EVALUASI
Hari / Tanggal :Selasa,15 Juli 2014
1.Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan.
2.Ibu sudah mengetahui KIE ketuban pecah dini.
3.DJJ sudah di observasi dan sudah di beri terapi obat.
4.Sudah di beri dukungan psikologis.
5.Ibu sudah tidur miring kiri.
6.Sudah dilakukan Pendokumentasian.
CATATAN PERKEMBANGAN

Hari tanggal dan janin Catatan perkembangan Paraf

Selasa, 15 juli 2014 S :Ny.S umur 22 tahun, periksa hamil tanggal


14 juli 2014 jam 07.30. datang belum
merasakan tanda-tanda persalinan
HPHT:8 Oktober 2014
O :KU : baik
Kesadaran :composmetis
TD :110/80 mmHg
N :88 x/menit
S :24 x/meni
Pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai
ujung kaki dalam batas normal tidak ada
kelainan apapun.
Palpasi leopold
- Leopold I : TFU : 30 cm, UK: 40
minggu, teraba bokong (bulat,
lunak, tidak melenting)
- Leopold II : bagian kiri ibu teraba
punggung janin (panjang, datar, seperti
papan), bagian kianan perut ibu teraba
bagian terkecil janin(Ekstremitas)
- Leopold III : Bagian bawah perut ibu
Teraba kepala janin (keras, bulat,
melenting)
- Leopold IV :Tangan pemeriksa
divergen,Kepala Masuk PAP 4/5 bagian
mc.Donald: TFU:30 cm
TBJ : (30 – 11) x
155 = 2945 gram
A :P1 P0 AO uk minggu janin tunggal hidup
intra uteri, preskep PUKA, sudah masuk PAP
divergen 4,5 bagian dengan KPD.
P :Beritahu ibu hasil pemriksaan
Beritahu ibu konseling tentang KPD
Observasi DJJ dan beri terapi obat sesuai
terapi dokter
Berikan dukungan psikologi
Anjurkan ibu tidur miring kiri
pendokumentasian
BAB IV

Kesenjangan Teori

NO Jenis Kesenjangan Teori Praktikan

1.1. Umur Umur dikatakan Pada tinjauan

a. berpengaruh / memiliki kasus Ny. T

resiko jika <20 tahun karena didapatkan usia

alat-alat reproduksi belum Ny. T 23 tahun.

matang dan psikis yang

belum siap dan >35 tahun


. Pembahasan

rentan sekali terjadi Berdasarkan

komplikasi-komplikasi dalam tinjauan teori dan

kehamilan dan perdarahan tinjauan kasus

dalam masa nifas, jadi usia tidak ada

reproduktif (subur) seorang kesenjangan

wanita yang baik dalam karena usia

siklus reproduksi berkisar Ny.Tmasuk

dari usia 20-35 tahun. kedalam usia

(Manuaba,2010; h.75). reproduksi yang

b baik yaitu 23 tahun.


BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda


persalinan dan setelah ditunggu satu jam belum memulainya tanda persalinan.
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intrauterin. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan
oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban
pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri

B. Saran
Di harapkan dalam masa kehamilan di utamakan untuk memeriksakan
kehamilannya apabila ada sesuatu yang tidak wajar dalam kehamilan mendekati
persalinan, di anjurkan untuk segera USG untuk mengetahui keadaan janinya.
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo Sarwono,SpOG,2006 Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga;Jakarta

Winkjosastro,2006 asuhan persalinan normal;jakarta

Penyakit Kandungan dan KB, 2010;Jakarta

Syaifuddin.A.B., Ketuban Pecah Dini dalam Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal,2002.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
Bekerjasama dengan Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi – POGI