Vous êtes sur la page 1sur 21

KATA PENGANTAR

Dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah SWT, Media Farmasi Vol. 12
No. 1 Tahun 2015 telah terbit.
Pada edisi ini, Jurnal Media Farmasi menyajikan 11 artikel yang
kesemuanya merupakan hasil penelitian. Enam artikel dari luar Fakultas Farmasi
UAD membahas, (1) Formulasi dan evaluasi masker wajah peel-off yang
mengandung kuersetin (2) Pengaruh polivinil pirolidon (PVP) dalam absorpsi
piroksikam (3) Uji perbandingan aktivitas antijamur Pityrosporum ovale dari
kombinasi ekstrak etanol buah belimbing wuluh dan daun sirih (4) Aktivitas
inhibisi α-amilase ekstrak karagenan dan senyawa polifenol (5) Uji antihipertensi
infus kombinasi biji dan rambut jagung (6) Layanan pesan singkat pengingat
meningkatkan kepatuhan minum obat. Lima artikel dari peneliti Fakultas Farmasi
UAD yang membahas tentang : (1) Formulasi emulgel minyak biji bunga
matahari (2) Aktivitas antifungi fraksi etil asetat ekstrak daun pacar kuku (3)
Karakteristik genetik Actinomycetes (4) Simvastatin sebagai hepatoprotektor (5)
Faktor yang diprediksi berpengaruh terhadap pengobatan sendiri.
Harapan kami, jurnal ini dapat bermanfaat bagi pembaca atau menjadi
referensi peneliti lain. Kritik dan saran membangun, senantiasa kami terima
dengan tangan terbuka.

Dewan Editor
66 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

UJI PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIJAMUR Pityrosporum


ovale DARI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BUAH
BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) DAN DAUN SIRIH
(Piper betle) DENGAN KETOKONAZOL 2%

COMPARISON TEST ANTIFUNGAL ACTIVITY OF Pityrosporum


ovale FROM COMBINATION ETHANOL EXTRACT OF
CUCUMBER TREE (Averrhoa bilimbi L.) AND BETEL LEAF
(Piper betle L.) WITH KETOKONAZOL 2%

Siti Sakinah, Nur’aini, Ayu Permata Ratu

Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Tangerang

ABSTRAK

Pityrosporum ovale adalah mikroorganisme yang diduga sebagai penyebab utama


ketombe. Daun sirih mengandung minyak atsiri dimana komponen utamanya
terdiri atas fenol dan senyawa turunannya seperti kavikol, kavibetol, karvakrol,
eugenol, estragol, metileugenol, terpinen, seskuiterpen, fenilpropan, dan tanin.
Daun sirih juga mengandung karoten, tiamin, riboflavin, asam nikotinat, vitamin
C, gula, pati, dan asam amino. Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui efektivitas antijamur dari buah belimbing wuluh terhadap
Pityrosporum ovale. Ekstrak buah belimbing wuluh mengandung flavonoid dan
triterpen saponin. Dilakukan penelitian untuk meningkatkan efek antijamur dari
bahan alam tersebut dengan mengkombinasikan ekstrak daun sirih dan buah
belimbing wuluh terhadap Pityrosporum ovale. Jenis penelitian ini mengikuti
rancangan penelitian eksperimen dengan menggunakan subjek Pityrosporum
ovale dan ekstrak etanol Buah Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) dan Daun
Sirih (Piper betle). Metode yang digunakan dengan potensi antibiotik metode
difusi penentuan zona hambat pada perbandingan 1:1 dengan konsentrasi 1%, 5%,
10%, 15%, dan 20% dibandingkan dengan Ketokonazol 2%. Tahapan penelitian
dimulai dengan determinasi tanaman, pembuatan ekstrak belimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi L.) dan daun sirih (Piper betle) secara maserasi, identifikasi
senyawa metabolit sekunder dengan cara pengujian alkaloid, tannin dan flavonoid,
dilakukan pengenceran ekstrak berbagai konsentrasi, lalu dilakukan uji
konsentrasi hambat minimum (KHM) dibandingan dengan ketoconazole 2%.
Hasil zona hambat paling besar terdapat pada konsentrasi 5% dengan zona hambat
12,0 mm, namun masih kecil dibandingkan dengan ketokonazol 2%.

Kata kunci : buah belimbing wuluh, daun sirih, antijamur, ketokonazole 2%,
Pityrosporum ovale
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 67

ABSTRACT

Pityrosporum ovale is microorganism that is suspected as the main cause of


dandruff. Betel leaf has been known as an antimicrobial and has been widely used
as a natural antiseptic. Betel leaves contain essential oils which the main
component consist of phenol and its derivates such as compounds kavikol,
kevibetol, karvakrol, eugenol, estragol, metileugenol, tertipen, seskutertipen,
fenilpropans and tannins. Betel leaves also contain carotene, thiamine, riboflavin,
nicotinic acid, vitamin C, sugars, starch, and amino acids. Cucumber tree extract
contains flavonoids and triterpene saponins. Antifungal effectiveness of Averrhoa
bilimbi against Pityrosporum ovale has been much research done. This type of
research following the experimental research design using the subject
Pityrosporum ovale and ethanol extract cucumber tree (Averrhoa bilimbi L.) and
betel leaves (Piper betle L.) the method used by the diffusion method of
determining the potential antibiotic inhibition zone at a ratio of 1:1 with a
concentration of 1%, 5%, 10%, 15% and 20% compared with ketoconazole 2%.
Stages of research began with the determination of plants, manufacture of extract
cucumber tree (Averrhoa bilimbi L.) and betel leaf (Piper betel L.) by maceration,
identification of secondary metabolites by means of testing alkaloids, tannins and
flavonoids, extracts of various concentrations of dilution and concentration test
minimum inhibitory (MIC) compared with 2% Ketoconazole. Results of the
greatest inhibition zone contained at a concentration of 5% with inhibition zone of
12.0mm, but still small when compared with ketoconazole 2%.

Keywords : Cucumber tree, betel leaves, antifungal, Ketoconazole 2%,


Pityrosporum ovale

PENDAHULUAN mengenai stratum korneum pada


lapisan epidermis. P. ovale adalah
Pityrosporum ovale adalah
mikroorganisme yang diduga
yeast atau jamur bersel tunggal yang
sebagai penyebab utama ketombe,
merupakan anggota genus
jamur ini sebenarnya merupakan
Malassezia sp, dan termasuk famili
flora normal di kulit kepala, namun
Cryptococcaceae. P. ovale termasuk
pada kondisi rambut dengan kelenjar
penyebab mikosis superfisialis yang
minyak berlebih, jamur ini dapat
68 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

tumbuh dengan subur (Oktaviani, yang penting untuk integritas


2012). membran sel jamur (Puspita, 2010).
Ketombe adalah suatu Seiring berkembangnya
gangguan berupa pengelupasan kulit pengobatan di Indonesia selain
mati secara berlebihan di kulit pengobatan secara medis,
kepala, kadang disertai pula dengan pengobatan tradisional untuk
pruritus (gatal-gatal) dan menghilangkan ketombe juga dapat
peradangan. Penyebab ketombe diketemukan di kalangan
dapat berupa sekresi kelenjar masyarakat. Piper betle L,
keringat yang berlebihan atau merupakan salah satu tanaman obat
adanya peranan mikroorganisme di yang banyak tumbuh di Indonesia
kulit kepala yang menghasilkan dan dikenal dengan nama sirih.
suatu metabolit yang dapat Minyak atsiri yang terdapat pada
menginduksi terbentuknya ketombe daun sirih terkandung senyawa fenol
di kulit kepala (Mahataranti dkk, alam yang mempunyai daya
2012). Mikroorganisme yang diduga antiseptik yang sangat kuat
sebagai penyebab utama ketombe (bakterisid dan fungisid) tetapi tidak
adalah Pityrosporum ovale, jamur sporosid (Soemiati dan Elya, 2002).
ini sebenarnya merupakan flora Tanaman herbal lain yang dapat
normal di kulit kepala, namun pada dimanfaatkan sebagai antijamur
kondisi rambut dengan kelenjar adalah tanaman belimbing wuluh.
minyak berlebih, jamur ini dapat Kandungan bahan kimia alami dari
tumbuh dengan subur (Oktaviani, buah belimbing wuluh yang
2012). diketahui mempunyai efek
Penemuan terbesar dalam antibakteri yaitu, flavonoid dan
penanggulangan ketombe adalah fenol (Haryanto, 2009).
ketokonazol yang merupakan salah Berdasarkan kandungan
satu antijamur, termasuk golongan senyawa metabolit yang berfungsi
imidazole yang mempunyai sebagai antijamur pada kedua
spectrum luas, bekerja menghambat tanaman ini maka penulis tertarik
sintesis ergosterol, suatu komponen untuk melakukan penelitian
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 69

terhadap kombinasi ekstrak buah “Herbarium Bogoriense”, LIPI-


belimbing wuluh dan daun sirih. Cibinong, Bogor.
Penelitian ini dilakukan untuk Pembuatan Ekstrak
melihat potensi kombinasi buah Berdasarkan Badan POM
belimbing wuluh dan daun sirih 2010, metode pembuatan ekstrak
dalam menghambat pertumbuhan adalah sebagai berikut:
jamur Pityrosporum ovale a. Buah belimbing wuluh (Averrhoa
dibandingkan dengan ketokonazol bilimbi L) segar yang telah dipetik
2%, dan diharapkan kombinasi dan daun sirih (Piper betle)
kedua ekstrak ini meningkatkan efek dibersihkan dari kotoran, dicuci
antijamur. dengan air sampai bersih dan
ditiriskan, kemudian dipotong-
METODE PENELITIAN potong tipis.
b. Buah belimbing wuluh (Averrhoa
Bahan yang digunakan dalam
bilimbi L) dan daun sirih (Piper
pengujian ini adalah buah belimbing
betle) masing-masing dikeringkan
wuluh, daun sirih, etanol 96%,
dengan menggunakan oven pada
media Sarboroud Dextrose Agar
suhu 40-50°C sampai kadar air buah
(SDA), NaCl, kertas cakram (blank
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi
disc), jamur Pityrosporum ovale.
L) dan daun sirih (Piper betle)
Alat yang digunakan dalam
tersebut menjadi ±10%. Pembuatan
pengujan ini adalah timbangan
serbuk dilakukan dengan cara
analitik, alat penghalus (blender),
memblender simplisia buah
rotary evaporator, gelas kimia,
belimbing wuluh dan simplisia daun
cawan petri, tabung reaksi,
sirih.
mikropipet, inkubator, autoklaf, dan
c. Pembuatan ekstrak ini
jangka sorong.
menggunakan cara maserasi, yaitu
Jalannya Penelitian
dengan merendam buah belimbin
Determinasi Tanaman
wuluh (Averrhoa bilimbi L) dan
Determinasi tanaman
daun sirih (Piper betle) secara
dilakukan di Pusat penelitian biologi
terpisah kedalam bejana maserasi
70 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

yang terbuat dari toples kaca amoniak, kemudian disaring


kemudian satu bagian simplisia kedalam tabung reaksi. Filtrat
diberi sepuluh bagian larutan etanol ditambahkan dengan 3-5 tetes
96% sampai simplisia terendam H2SO4 2M dan dikocok sehingga
sempurna. terbentuk 2 lapisan. Lapisan asam
d. Bejana maserasi tersebut ditutup (terdapat pada bagian atas) dipipet
rapat dan didiamkan selama ±4 hari dalam 2 tabung reaksi lain,
sambil diaduk satu kali setiap hari. Selanjutnya kepada masing-masing
e. Hasil yang diperoleh disaring dan tabung reaksi ditambahkan pereaksi
diulang sebanyak tiga kali, Mayer dan Dragendorff. Adanya
kemudian ditampung dalam botol alkaloid ditunjukkan dengan adanya
bersih untuk selanjutnya dipekatkan endapan jingga sampai merah coklat
dengan menggunakan alat rotary pada pereaksi Dragendorff dan
evaporator sampai diperoleh ekstrak terbentuknya endapan putih pada
etanol kental. penabahan pereaksi Mayer
f. Ekstrak yang diperoleh diuapkan (Kusuma, 2011).
dengan menggunakan alat rotary b. Pengujian tannin dilakukan
evaporator pada suhu 70°C. Proses melalui tahapan berikut:
ini bertujuan untuk menguapkan Sebanyak 0,2 gram serbuk
etanol sehingga diperoleh ekstrak buah belimbing wuluh dan daun
yang kental dari buah belimbing sirih masing-masung di masukkan
wuluh (Averrhoa bilimbi L) dan kedalam tabung reaksi ditambahkan
ekstrak kental daun sirih (Piper dengan 0,5 ml purified water
betle). kemudian dipanaskan sampai
Identifikasi Senyawa Metabolit 30menit. Setelah itu didinginkan dan
Sekunder disaring untuk diambil filtratnya lalu
a. Pengujian Alkaloid dilakukan di tambahkan 5 tetes FeCl3 0,5M
melalui tahapan berikut: sehingga terbentuk warna hijau
Sebanyak 30 mg serbuk buah kehitaman kemudian ditambahkan
belimbing wuluh dan daun sirih larutan H2SO4 pekat terbentuk
ditambahkan 10 ml kloroform- endapan (Sulastri, 2009).
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 71

c. Pengujian flavonoid dilakukan Uji Konsentrasi Hambat Minimum


melalui tahapan berikut: (KHM)
Sebanyak 30 mg serbuk buah Uji ini bertujuan untuk
belimbing wuluh dan daun sirih mengetahui Uji Konsentrasi Hambat
ditambahkan dengan 100 ml air Minimum (KHM) kombinasi
panas, dididihkan selama 5 menit, ekstrak buah belimbing wuluh
kemudian disaring. Sebanyak 5ml (Averrhoa bilimbi L) dan daun sirih
filtrat ditambahkan 0,5 mg serbuk (Piper betle) terhadap pertumbuhan
Mg dan HCl pekat, kemudian Pityrosporum ovale dibandingkan
dikocok kuat-kuat. Uji positif dengan Ketokonazol 2%.
ditunjukkan dengan terbentuknya Cara Kerja:
warna merah, kuning, atau jingga a. Medium SDA dibuat untuk
(Kusuma, 2011). dimasukkan kedalam cawan petri.
Pengenceran b. Medium SDA steril dimasukkan
Pengenceran dilakukan untuk kedalam cawan petri sebanyak 10
mendapatkan beberapa konsentrasi ml, kemudian didiamkan hingga
kombinasi 1:1 ekstrak buah memadat.
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi c. Buat larutan suspense jamur
L) dan ekstrak daun sirih (Piper dengan mengambil beberapa mata
betle). Beberapa konsentrasi ose dari isolate P. ovale masukan
kombinasi ekstrak buah belimbing kedalam NaCl 0,9%.
wuluh (Averrhoa bilimbi L )dan d. Setelah medium SDA memadat,
ekstrak daun sirih (Piper betle) akan masukan 0,1 ml suspense P.ovale
digunakan untuk melihat Uji Daya secara spread plate pada
Hambat Minimum (DHM) terhadap permukaannya.
pertumbuhan Pityrosporum ovale e. Letakkan paper disc yang telah
pada isolate jamur P. ovale. Dalam direndam pada larutan kombinasi
penelitian ini dilakukan pengenceran ekstrak buah belimbing wuluh
1%, 5%, 10%, 15%, dan 20%, (Averrhoa bilimbi L) dan daun sirih
sebagai pembanding dibuat larutan (Piper betle) dengan berbagai
ketokonazol 2%. konsentrasi dan pada larutan
72 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

Ketokonazol 2% di permukaan LIPI Puslit Biologi, Bogor,


medium SDA, diinkubasi dalam menunjukkan bahwa bahan alam
incubator selama 5 hari pada suhu yang digunakan adalah daun sirih
25°C. hijau dengan nama latin Piper betle
f. Setelah 5 hari, keluarkan cawan L dan buah belimbing wuluh dengan
petri. nama latin Averrhoa bilimbi L.
g. Diameter zona inhibisi yang Identifikasi Senyawa Metabolit
terbentuk (daerah jernih sekitar Sekunder
paper disc tanpa pertumbuhan a. Identifikasi senyawa alkaloid
bakteri) diukur dengan caliper ekstrak etanol buah belimbing
(jangka sorong) dan dinyatakan wuluh dan daun sirih
dalam milimeter. Buah belimbing wuluh dan
Analisis Pengolahan Data daun sirih diidentifikasi kandungan
Penelitian menggunakan senyawa alkaloid dengan
Rancang Acak Lengkap (RAL) menambahkan 10 ml kloroform-
dengan 2 faktor yang diulang amoniak, kemudian disaring
sebanyak 2 kali. Dimana kriteria kedalam tabung reaksi. Filtrat
efikasi berdasarkan atas Uji Potensi ditambahkan dengan 3-5 tetes
Antijamur. Sementara analisis data H2SO4 2N dan dikocok sehingga
yang digunakan dalam penelitian ini terbentuk 2 lapisan. Lapisan asam
adalah analisis regresi dengan 2 (terdapat pada bagian atas) dipipet
variabel yakni : Uji Potensi dalam 2 tabung reaksi lain,
Antijamur dan konsentrasi. Selanjutnya kepada masing-masing
tabung reaksi ditambahkan pereaksi
HASIL DAN PEMBAHASAN Mayer dan Dragendorff. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa
Hasil Determinasi Tanaman
ekstrak etanol buah belimbing
Berdasarkan dari hasil
wuluh dan daun sirih mengandung
identifikasi sampel daun sirih dan
senyawa alkaloid dengan
buah belimbing wuluh yang
terbentuknya endapan berwarna
dilakukan Herbarium Bogoriensis,
coklat pada penambahan pereaksi
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 73

Dragendorff dan terbentuk endapan c. Identifikasi senyawa flavonoid


putih pada penambahan pereaksi ekstrak etanol buah belimbing
Mayer (Kusuma, 2011). wuluh dan daun sirih
b. Identifikasi senyawa tanin dari Buah belimbing wuluh dan
ekstrak etanol buah belimbing daun sirih diidentifikasi kandungan
wuluh dan daun sirih flavonoidnya dengan menimbang
Buah belimbing wuluh dan masing-masing 30 mg serbuk buah
daun sirih diidentifikasi kandungan belimbing wuluh dan daun sirih
senyawa taninnya dengan dimasukkan ke dalam gelas kimia
menimbang sebanyak 0,2 gram kemudian ditambahkan 100ml air
serbuk buah belimbing wuluh dan panas kemudian dididihkan selama 5
daun sirih masing-masung di menit. Setelah itu disaring,
masukkan kedalam tabung reaksi kemudian filtrat dipisahkan untuk
ditambahkan dengan 0,5 ml purified pengujian. Sebanyak 5ml filtrat
water kemudian dipanaskan sampai ditambahan 0.5 mg serbuk Mg dan
30 menit. Setelah itu didinginkan HCl pekat, kemudian dikocok kuat-
dan disaring untuk diambil filtratnya kuat. Uji larutan ekstrak daun sirih
lalu di tambahkan 5 tetes FeCl3 dan buah belimbing wuluh
0,5M sehingga terbentuk warna menunjukkan positif ditunjukkan
hijau kehitaman kemudian dengan terbentuknya warna kuning
ditambahkan larutan H2SO4 pekat jingga (Kusuma, 2011).
terbentuk endapan. Pada larutan Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol
ekstrak daun sirih dan buah Buah Belimbing Wuluh dan Daun
belimbing wuluh menunjukkan Sirih
positif mengandung senyawa tanin Hasil uji aktivitas antijamur
dengan terbentuk endapan hijau masing-masing ekstrak daun sirih
kehitaman (Sulastri, 2009). dan buah belimbing wuluh terhadap
Pityrosporum ovale dapat dilihat
pada tabel I dan II.
Berdasarkan Tabel I hasil
pengujian potensi antijamur ekstrak
74 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

etanol daun sirih dibandingkan zona penghambatan, pada


dengan ketokonazol 2% terhadap konsentrasi 5% zona hambat yang
pityrosporum ovale pada konsentrasi terbentuk 7,10 mm;
1% tidak terbentuk zona
penghambatan, pada konsentrasi 5% 60

Diameter Zona Hambat


Ekstrak daun
zona hambat yang terbentuk 7,10 40 sirih

(mm)
mm; 20
Ketokonazol
2% (Kontrol
0
Tabel I. Hasil pengujian potensi antijamur Daun sirih)

1%
5%
10%
15%
20%
ekstrak etanol daun sirih dibandingkan Konsentrasi
dengan ketokonazol 2% terhadap
Pityrosporum ovale Gambar 1. Grafik hasil pengujian potensi
antijamur ekstrak etanol daun sirih
Ekstrak Daun Sirih Ketokonazol dibandingkan dengan ketokonazol 2%
Diameter Diameter terhadap Pityrosporum ovale
Konsentrasi Zona konsentrasi Zona
Hambat Hambat pada konsentrasi 10% sebesar 8,75
1% 0 2% 47,10
5% 7,10 2% 42,30 mm; pada konsentrasi 15% sebesar
10% 8,75 2% 48,10 11,55 mm; dan pada 20% sebesar
15% 11,55 2% 50,50
12,05 mm. Nilai Kadar Hambat
20% 12,5 2% 51,80
Minimum (KHM) ekstrak etanol
pada konsentrasi 10% sebesar 8,75 daun sirih didapat pada konsentrasi
mm; pada konsentrasi 15% sebesar 5%.
11,55 mm; dan pada 20% sebesar Berdasarkan gambar 2 dapat
12,05 mm. Hasil zona hambat yang dilihat bahwa semakin besar
terbentuk pada konsentrasi 1-20% konsentrasi ekstrak semakin besar
masih lebih kecil dibandingkan daya hambatnya dibuktikan dengan
dengan ketokonazol 2% dengan nilai R daun sirih sebesar 0,864 dan
diameter zona hambat rata-rata y = 2,855x – 0,675; namun pada
sebesar 48,00 mm. konsentrasi terbesar yakini 20%
Berdasarkan data yang zona hambat yang terbentuk tidak
terdapat pada Gambar 1 diperoleh sebesar zona hambat ketokonazole
hasil uji potensi antijamur ekstrak sebagai kontrol positif dengan rata-
etanol daun sirih terhadap P. ovale rata zona hambat sebesar 48,00 mm,
pada konsentrasi 1% tidak terbentuk
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 75

berdasarkan data tersebut mm. Hasil zona hambat yang


konsentrasi terbesar pada penelitian terbentuk pada konsentrasi 1-20%
ini belum dapat menyamai masih lebih kecil dibandingkan
kemampuan daya hambat dengan ketokonazol 2% dengan
ketokonazole 2% sebagai antijamur. diameter zona hambat rata-rata
Berdasarkan Tabel II hasil sebesar 51,73 mm.
pengujian potensi antijamur ekstrak Berdasarkan tabel II diperoleh
etanol buah belimbing wuluh hasil uji potensi antijamur ekstrak
dibandingkan dengan ketokonazol etanol buah belimbing wuluh
2% terhadap pityrosporum ovale terhadap P. ovale pada konsentrasi
pada konsentrasi 1% zona hambat 1% zona hambat yang terbentuk
yang terbentuk 7,20 mm; pada sebesar 7,20 mm; pada konsentrasi
konsentrasi 5% zona hambat yang 5% zona hambat yang terbentuk
terbentuk 7,80 mm; pada 7,80 mm; pada konsentrasi 10%
konsentrasi 10% sebesar 8,15 mm; sebesar 8,15 mm; pada konsentrasi
pada konsentrasi 15% sebesar 9,20 15% sebesar 9,20 mm; dan pada
mm; dan pada 20% sebesar 10,80 20% sebesar 10,80 mm

15
14
Diameter Zona Hambat (mm)

13
12 11.55 12.05
11
10
9 8.75
8
7 7.1
6 y = 2.855x - 0.675
5 R² = 0.864
4
3
2
1
0 0
1% 5% 10% 15% 20%

Konsentrasi

Gambar 2. Kurva linear hasil pengujian potensi antijamur ekstrak etanol daun sirih dibandingkan
dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale
76 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

Tabel II. Hasil pengujian potensi antijamur ekstrak etanol buah belimbing wuluh dibandingkan
dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale

Ekstrak Belimbing Wuluh Ketokonazol


Konsentrasi Diameter Zona Hambat Konsentrasi Diameter Zona Hambat
1% 7,20 2% 50,00
5% 7,80 2% 49,10
10% 8,15 2% 51,40
15% 9,20 2% 51,35
20% 10,80 2% 56,80

60
Diameter Zona Hambat

50
40
Ekstrak buah belimbing
(mm)

30 wuluh
20
Ketokonazol 2% (Kontrol
10 Ekstrak buah Belimbing)
0
1% 5% 10% 15% 20%

Konsentrasi

Gambar 3. Grafik hasil pengujian potensi antijamur ekstrak etanol buah belimbing wuluh
dibandingkan dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale

12
10.8
Diameter Zona Hambat

10
9.2
8 7.8 8.15
7.2 y = 0.86x + 6.05
(mm)

6
R² = 0.924
4
2
0
1% 5% 10% 15% 20%

Konsentrasi

Gambar 4. Kurva linear hasil pengujian potensi antijamur ekstrak etanol buah belimbing wuluh
dibandingkan dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 77

Nilai Kadar Hambat Minimum kemampuan daya hambat


(KHM) ekstrak etanol buah ketokonazole 2%.
belimbing wuluh didapat pada Aktivitas Antijamur
konsentrasi 1% yakni sebesar 7,20 Kombinasi Ekstrak Etanol Daun
mm. Sirih dan Buah Belimbing Wuluh
Berdasarkan gambar 4 dapat terhadap Pityrosporum ovale
dilihat bahwa semakin besar Penelitian yang dilakukan
konsentrasi ekstrak semakin besar sebelumnya dimana masing-masing
daya hambatnya dapat dilihat pada ekstrak dalam keadaan tunggal,
kurva linear dengan nilai R masing-masing ekstrak etanol daun
belimbing wuluh sebesar 0,925 dan sirih dan buah belimbing wuluh
y = 0,86x + 6,05. Seperti halnya memiliki daya hambat terhadap
ekstrak daun sirih konsentrasi Pityrosporum ovale dengan variabel
maksimum ekstrak buah belimbing konsentrasi 1%, 5%, 10%, 15%, dan
wuluh 20% belum dapat menyamai 20%.
konsentrasi ketokonazole 2% Daya hambat kombinasi
dengan diameter zona hambat rata- ekstrak ini belum menyamai daya
rata 51,73 mm. hambat ketokonozale sebagai
Berdasarkan data hasil uji antijamur sintetik. Hasil uji
potensi antijamur masing-masing kombinasi ekstrak etanol daun sirih
ekstrak etanol daun sirih dan buah dan buah belimbing wuluh dapat
belimbing wuluh dengan masing- dilihat pada Tabel III.
masing zona hambat yang terbentuk Berdasarkan data tabel III
dengan berbagai konsentrasi ekstrak kombinasi ekstrak etanol daun sirih
belum dapat menyamai daya hambat dan buah belimbing wuluh pada
ketokonazol 2%. Kombinasi kedua konsentrasi 1% zona hambat yang
ekstrak ini diharapkan dapat terbentuk sebesar 11,20 mm; pada
meningkatkan aktivitas antijamur konsentrasi 5% sebesar 12,00 mm;
kedua ekstrak ini sehingga daya pada 10% sebesar 9,10 mm; pada
hambatnya bisa mendekati 15% sebesar 8,20 mm; dan 20%
sebesar 8,30 mm. Hasil zona hambat
78 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

yang terbentuk pada konsentrasi 1- 15% sebesar 8,20 mm; dan 20%
20% masih lebih kecil dibandingkan sebesar 8,30 mm.
dengan ketokonazol 2% dengan Berdasarkan gambar 6
zona hambat yaitu sebesar 48.40; kombinasi ekstrak etanol daun sirih
46.10; 50.40; 44.60; 42.40. Hasil dan buah belimbing wuluh hasil
diameter zona hambat ketokonazol setelah penggabungan ternyata
2% berubah-ubah karena terdapat didapatkan diameter zona hambat
beberapa faktor pada saat tidak selalu bertambah dengan
pengerjaan pengujian, seperti waktu bertambahnya konsentrasi, hal ini
perendaman tidak konstan, dan getar kontradiksi dari pernyataan
tangan saat penempelan kertas sebelumnya yang menyatakan
cakram ke media. bahwa makin tinggi konsentrasi
Berdasarkan data gambar 6 maka daya hambatnya makin
kombinasi ekstrak etanol daun sirih meningkat. Hal ini bisa terjadi
dan buah belimbing wuluh pada karena beberapa faktor yaitu faktor
konsentrasi 1% zona hambat yang pengerjaan pada saat pengujian
terbentuk sebesar 11,20 mm; pada ataupun reaksi kimia yang dapat
konsentrasi 5% sebesar 12,00 mm; terjadi antara kandungan ekstrak
pada 10% sebesar 9,10 mm; pada yang dapat bersifat antagonis.

Tabel III. Hasil Pengujian kombinasi ekstrak etanol daun sirih dan buah belimbing wuluh
dibandingkan dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale

Ekstrak kombinasi Ketokonazol


Konsentrasi Diameter Zona Hambat Konsentrasi Diameter Zona Hambat
1% 11,20 2% 48,40
5% 12,00 2% 46,10
10% 9,10 2% 50,40
15% 8,20 2% 44,60
20% 8,30 2% 42,40
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 79

55

Diameter Zona Hambat


45 Kombinasi ekstrak dan
35 sirih dan buah belimbing

(mm)
wuluh
25
15 Ketokonazol 2%

5
1% 5% 10% 15% 20%

Konsentrasi

Gambar 5. Grafik hasil Pengujian kombinasi ekstrak etanol daun sirih dan buah belimbing wuluh
dibandingkan dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale

14
y = -0.96x + 12.64
Diameter Zona Hambat (mm)

12 12
11.2 R² = 0.762
10
9.1
8 8.2 8.3
6
4
2
0
1% 5% 10% 15% 20%
Konsentrasi

Gambar 6. Kurva linear hasil Pengujian kombinasi ekstrak etanol daun sirih dan buah belimbing
wuluh dibandingkan dengan ketokonazol 2% terhadap Pityrosporum ovale

Kejadian ini kemungkinan terjadi sterik daerah orto dan para yang
karena adanya interaksi antagonis memiliki elektron bebas akan
antara kandungan dari daun sirih mengurangi kekuatan asam pada
yaitu kavicol dengan belimbing gugus induknya (Rochmat Agus,
wuluh yaitu gingerol, seperti tersaji 2012). Gugus fenolik pada gingerol
pada gambar 7. memiliki keasaman yang sangat
Reaksi ini merupakan reaksi rendah karena adanya gugus sterik
adisi markovnikov yang terjadi pada metoksi pada posisi orto dan gugus
kondisi standar dan berlangsung alifatik enol pada posisi para.
sangat lambat. Pengaruh gugus Akibatnya, ketika penetrasi elektron
pada gugus ena di kavicol menarik
80 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

O OH

OH H3CO

HO
Kavicol gingerol

O OH

H3CO

H3 C

OH
5-hydroxy-1-(4-(1-(4-hydroxyphenyl)ethoxy)-3-methoxyphenyl)decan-3-one

Gambar 7. Reaksi antara senyawa kavicol dan gingerol

H pada gugus fenolik gingero mm; 10% sebesar 9,20 mm; 15%
berlangsung sangat lambat. Reaksi sebesar 8,20 mm; dan 20% sebesar
diatas merupakan asumsi pendekatan 8,30 mm.
reaksi yang terjadi berdasarkan pola 2. Konsentrasi Hambat Minimum
reaksi yang terjadi pada gugus fungsi kombinasi ekstrak etanol daun sirih
dan merujuk pada review problem 18 dan buah belimbing wuluh pada
pada buku Designing Organic perbandingan 1:1 dengan konsentrasi
Syntheses. 1%, 5%, 10%, 15%, dan 20%
memiliki aktivitas antijamur. Hasil
KESIMPULAN zona hambat paling besar terdapat
pada konsentrasi 5% dengan zona
1. Larutan kombinasi ekstrak
hambat 12,00 mm; namun masih
etanol daun sirih dan buah belimbing
kecil dibandingkan dengan
wuluh dengan metode difusi
Ketokonazol 2% dengan diameter
memiliki aktifitas antijamur, hal ini
zona hambat rata-rata sebesar 46,38
ditandai dengan terbentuknya zona
mm.
hambat pada kombinasi 1:1 dengan
konsentrasi 1% dengan zona hambat
sebesar 11,20 mm; 5% sebesar 12,00
Media Farmasi Vol 12 No.1 Maret 2015 : 66-82 81

DAFTAR PUSTAKA Merah terhadap Pertumbuhan


Candida albicans yang Diisolasi
Anggriawin, Muhamad, 2012, dari Denture Stomatitis secara
Kemampuan Isolat Bakteri In vitro, Hal 11-12, Fakultas
Penghasil Antijamur Dalam Kedokteran Gigi Universitas
Menghambat Beberapa Jenis Sumatera Utara, Medan,
Fusarium Pada Benih Tomat [Jurnal],
(Solanum lycopersicum L) hal 4- http://repository.usu.ac.id/handle
5, Skripsi, Fakultas Matematika /123456789/25115, diunduh
dan Ilmu Alam Universitas pada tanggal 13 Mei 2014.
Sumatera Utara, Medan, Kusuma, Ratna, 2011, Uji Fitokimia
http://repository.usu.ac.id/handle Ekstrak Umbut Rotan Sega
/123456789/34524, diunduh (Calamus caesus Blume).
pada tanggal 13 Mei 2014. Fakultas Biologi Universitas
Ansel, H.C, 2008, Pengantar Bentuk Mulawarman, [Jurnal]
Sediaan Farmasi, Edisi fmipa.unmul.ac.id/pdf/158,
keempat, Hal 605-612, Penerbit diunduh pada tanggal 13 Mei
Universitas Indonesia: Jakarta. 2014.
Badan Pengawas Obat dan Makanan, Mahataranti, dkk, 2012, Formulasi
2000, Parameter Standar Umum Shampo Antibakteri Ekstrak
Ekstrak Tumbuhan Obat, Etanol Seledri (Apium
Jakarta. graveolens L) dan Aktivitasnya
Badan Pengawas Obat dan Makanan, terhadap Jamur Pityrosporum
2010, Monografi Ekstrak ovale, Hal 128, Fakultas Farmasi
Tumbuhan Obat Indonesia, Universitas Muhammadiyah,
Revisi Volume 1 hal 231 dan Purwokerto, [Jurnal],
235, Jakarta. jurnal.ump.ac.id/index.php/phar
Departemen Kesehatan Republik macy/article/download/364/345,
Indonesia, 1980, Materia diunduh pada tanggal 13 Mei
Medika Indonesia Jilid IV hal 2014.
95, 97 dan 98, Jakarta. Ngaisah, Siti, 2010, Identifikasi dan
Departemen Kesehatan Republik Uji Aktivitas Antibakteri Minyak
Indonesia, 1989, Materia Atsiri Daun Sirih Merah (Piper
Medika Indonesia, Jilid V hal 93 crocatum Ruiz & Pav.) Asal
dan 96, Jakarta. Magelang, Hal 9, Skripsi,
Fardiaz, Srikandi, 1992, Fakultas MIPA Universitas
Mikrobiologi Pangan, Hal 181, Sebelas Maret, Surakarta,
PT. Gramedia Pustaka Utama: eprints.uns.ac.id/7627/1/143781
Jakarta. 308201008251.pdf., diunduh
Haryanto Sugeng Spd, 2009, pada tanggal 13 Mei 2014.
Ensiklopedi Tanaman Obat Oktaviani, Dina, 2012, Uji Banding
Indonesia, Hal 59-60 dan 63, Efektivitas Ekstrak Daun Sirih
Penerbit PALMALL: Merah (Piper croatum) dengan
Yogyakarta. Zinc pyrthion 1% terhadap
Hidir, Muhammad, 2010, Daya Pertumbuhan Pityrosporum
Hambat Infusum Daun Sirih ovale pada Penderita Ketombe,
82 Uji Perbandingan Aktivitas Siti Sakinah, dkk

Hal 22, Skripsi, Fakultas Radiofarmaka untuk Deteksi


Kedokteran Universitas Infeksi Fungi, Hal 13, BATAN,
Diponegoro, Semarang, Bandung, [Jurnal]
eprints.undip.ac.id/37502/, jurnal.batan.go.id/index.php/jstn
diunduh pada tanggal 13 Mei i/article/download/681/598,
2014. diunduh pada tanggal 13 Mei
Prahastuti S, Tambunan K, 2004, 2014.
Tinjauan Literatur Sirih, Sulastri, Taty, 2009, Analisis Kadar
Lembaga Ilmu Pengetahuan Tanin Ekstrak Air dan Ekstrak
Indonesia: Jakarta. Etanol pada Biji Pinang Sirih
Rahayu, Puji, 2013, Konsentrasi (Areca catechu L.), Hal 61,
Hambat Minimum (KHM) Buah FMIPA UNM, [Jurnal],
Belimbing Wuluh portalgaruda.org/download_arti
(Averrhoabilimbi L) terhadap cle.php?article=57797&val=43
Pertumbuhan Candida albicans, 38, diunduh pada tanggal 13
Hal 5-6 dan 11-15, Skripsi, Mei 2014.
Fakultas Kedokteran Gigi Warren, Stuart, 1987, Designing
UNHAS, Makassar, Organic Syntheses: A
repository.unhas.ac.id/bitstream Programmed Introduction to
/handle/, diunduh pada tanggal The Synthon Aproachhal 120,
13 Mei 2014. John Wiley and Sons: New
Rochmat, Agus, 2013, Bahan Ajar York.
Kimia Organik 1: Dasar –
Dasar Mekanisme Reaksi
Organik, STF Muhammadiyah,
Tangerang.
Santoso, Hieronymus Budi, 2013,
Tumpas Penyakit dengan 40
Daun dan 10 Akar Rimpang, Hal
25-27 dan 181-183, Penerbit
Cahaya Jiwa: Yogyakarta.
Soemiati, dan Elya, 2002, Uji
Pendahuluan Efek Kombinasi
Antijamur Infus Daun Sirih
(Piper betle L), Kulit Buah
Delima (Punica granatum L),
dan Rimpang Kunyit (Curcuma
domestica Val.) terhadap Jamur
Candida albicans, Hal 1,
Fakultas MIPA Universitas
Indonesia, [Jurnal],
repository.ui.ac.id/, diunduh
pada tanggal 13 Mei 2014.
Sriyani, dkk, 2013, Optimalisasi
99m
Penandaan Tc-DTPA
Ketokonazole sebagai