Vous êtes sur la page 1sur 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolonganNya kami dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan
pada pasien Tumor Paru” Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang kami alami
dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikannya dengan baik.
Makalah ini Kami susun guna membantu rekan-rekan mahasiswa lainnya dalam
mempelajari salah satu mata kuliah yakni Keperawatan Medikal Bedah 1 walaupun
pembahasannya masih dalam batasan yang umum saja.
Tak lupa Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Keperawatan
Medikal Bedah 1 yang telah memberikan motivasi kepada kelompok kami dalam
menyelesaikan tugas dan juga kepada rekan-rekan sekalian yang telah membantu dalam
proses penyusunan makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat
beberapa kekurangan. Oleh karena itu, Kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi perbaikan dan penyempurnaan dalam penyusunan makalah selanjutnya.
DAFTAR ISI

Halaman Judul ..........................................................................................................................1

Kata Pengantar ..........................................................................................................................2

Daftar Isi ...................................................................................................................................3

BAB I ........................................................................................................................................4

A. Latar Belakang…………………….…………..............................................................4
B. Rumusan Masalah…......................................................................................................4
C. Tujuan ............................................................................................................................5

BAB II .......................................................................................................................................6

A. Definisi ..........................................................................................................................6
B. Etiologi ..........................................................................................................................6
C. Patofisiologi...................................................................................................................7
D. Manifestasi Klinis .........................................................................................................7
E. Komplikasi.....................................................................................................................8
F. Pemeriksaan penunjang .................................................................................................8
G. Penatalaksanaan.............................................................................................................9

BAB III ....................................................................................................................................11

A. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Tumor Paru..........................................................11

BAB IV Penutup…..................................................................................................................26

A. Kesimpulan…...............................................................................................................26
B. Saran.............................................................................................................................26

Daftar pustaka…......................................................................................................................27
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan,
faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko terjadinya tumor.
Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat intiation yang
merangasang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama dan
berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit tumor.
Menurut Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) tahun 2001, penyakit saluran napas
merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia setelah penyakit
gangguan pembuluh darah. Penyakit tumor paru ini merupakan salah satu penyakit utama
yang menyebabkan pasien memerlukan perawatan, baik di rumah sakit maupun di rumah.
Namun demikian, tumor paru dapat dimulai pada segala usia, mempengaruhi pria dan wanita
tanpa kecuali, dan bisa terjadi pada setiap orang pada segala etnis. Dari insiden ini maka kami
mengambil asma sebagai topik yang patut untuk diunggah.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari Tumor Paru ?
2. Apa Etiologi dari Tumor Paru ?
3. Apa patofisiologi dari Tumor Paru ?
4. Apa manifestasi klinis dari Tumor Paru ?
5. Apa saja komplikasi dari Tumor Paru ?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang dari Tumor Paru ?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari Tumor Paru ??
C. TUJUAN
1. Mengetahui definisi dari Tumor Paru.
2. Mengetahui Etiologi dari Tumor Paru.
3. Mengetahui patofisiologi dari Tumor Paru.
4. Mengetahui manifestasi klinis dari Tumor Paru.
5. Mengetahui komplikasi dari Tumor Paru.
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang Tumor Paru.
7. Mengetahui penatalaksaan dari tumor paru.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal.
Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya didalam rongga dada. Jenis
tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan, meliputi SCLC ( Small Cell Lung Cancer )
dan NSLC ( Non Small Cell Lung Cancer / Karsinoma Skuamosa, adenokarsinoma,
karsinoma sel besar ).
Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas.
Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian besar kanker paru
berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh lain yang
terkena kanker.

B. ETIOLOGI

Secara umum faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab tumor adalah :


a. Penyebab kimiawi.
Di pembersih cerobong asap. Zat yang mengandung karbon dianggap sebagai
penyebabnya.
b. Faktor genetik (biomolekuler)
Golongan darah A lebih tinggi 20 % berisiko menderita kanker/tumor pada lambung
dari pada golongan darah O.
Selain itu perubahan genetik termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal dan
pengaruh protein bisa menekan atau meningkatkan perkembangan tumor.
c. Faktor fisik
Secara fisik, tumor berkaitan dengan trauma/pukulan berulang-ulang baik trauma fisik
maupun penyinaran. Penyinaran bisa berupa sinar ultraviolet yang berasal ari sinar
matahari maupun sinar lain seperti sinar X (rontgen) dan radiasi bom atom.
d. Faktor nutrisi
Salah satu contoh utama adalah dianggapnya aflaktosin yang dihasilkan oleh jamur
pada kacang dan padi-padian sebagai pencetus timbulnya tumor.
e. Penyebab bioorganisme
Misalnya virus. Pernah dianggap sebagai kunci penyebab tumor dengan ditemukannya
hubungan virus dengan penyakit tumor pada binatang percobaan. Namun ternyata
konsep itu tidak berkembang lanjut pada manusia.
f. Faktor hormon
Pengaruh hormon dianggap cukup besar, namun mekanisme dan kepastian peranannya
belum jelas. Pengaruh hormone dalam pertumbuhan tumor bisa dilihat pada organ yang
banyak dipengaruhi oleh hormone tersebut.

C. PATOFISIOLOGI
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan, faktor
hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko terjadinya tumor.
Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat intiation yang
merangasang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama
dan berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit tumor.
Initiati agen biasanya bisa berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang berkemampuan
bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen genetik ( DNA ). Keadaan
selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai dengan berkembangnya
neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini berlangsung lama mingguan sampai
tahunan.

D. MANIFESTASI KLINIS
Tumor pada system bronkopulmonari dapat mengenai lapisan saluran pernapasan,
parenkim paru pleura, atau dinding dada. Penyakit terjadi secara lambat ( biasanya
selama beberapa decade ) dan seringkali asimtomatik sampai lanjut dalam
perkembangannya. Tanda dan gejala tergantung pada letak dan ukuran tumor, tingkat
obstruksi, dan keluasan metastase ke tempat regional atau tempat yang jauh.
Gejala kanker paru yang paling sering adalah batuk, kemungkinan akibat iritasi yang
disebab kan oleh massa tumor. Individu sering mengabaikan gejala ini dan
menghubungkan dengan merokok. Batuk mulai sebagai batuk kering, tanpa membentuk
sputum, tetapi berkembang sebagai titik dimana dibentuk sputum yang kental, purulen
dalam berespon terhadap infeksi sekunder.
Pada beberapa pasien, demam kambuhan terjadi sabagai gejala dini dalam berespons
terhadap infeksi yang menetap pada area pneumonitis kearah distal tumor. Pada
kenyataannya, kanker paru harus dicurigai pada individu yang mengalami infeksi saluran
pernapasan atas berulang yang tidak sembuh-sembuh. Nyeri adalah manifestasi akhir dan
sering ditemukan dengan metastasis ke tulang.
Jika tumor menyebar ke struktur yang berdekatan dan ke nodus limfe regional, pasien
dapat menunjukan nyeri dada dan sesak, serak ( menyerang saraf lariengal )disfagia,
edema kapala dan leher, dan gejala-gejala efusi pleura atau pericardial. Tempat metastase
yang paling umum adalah nodus limfe, tulang, otak, paru kontralateral, dan kelenjar
adrenal. Gejala umum seperti kelemahan, anoreksia, penurunan berat badan, dan anemia
tampak pada akhir penyakit.

E. KOMPLIKASI
- Hematorak
- Pneumotorak
- Empiema
- Endokarditis
- Abses paru
- Atelektasis
Adapun komplikasi lainnya pada tumor paru :
 Reseksi Bedah dapat mengakibatkan gagal napas
 Terapi radiasi dapat mengakibatkan penurunan fungsi jantung paru
 Kemoterapi kombinasi radiasi dapat menyebabkan pneumonitis
 Kemoterapi menyebabkan toksisitas paru dan leukemi

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
( Barbara, Engram, hal.7, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah )
a. Foto dada menunjukkan sisi lesi
b. Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker
c. Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran
tumor
d. Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan
mengumpulkan hapusanbronkial tumor yang terjadi dicabang bronkus
e. Aspirasi dengan janin dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan
radiologimenunjukan lesi di paru-paru perifer
f. Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya netastase ( otak,
hepar,tulang,limpa )
g. Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase telah metastase ke limfe
mediastinum

G. PENATALAKSANAAN
 MEDIS
a. Pembedahan
Tindakan bedah memegang peranan utama dalam penanggulangan kasus tumor.
Dalam melakukan tindakan bedah ada beberapa prinsip dasar yang perlu
diperhatikan :
1). Eksisi tidak hanya terbatas pada bagian utama tumor tapi eksisi juga harus
dilakukan terhadap jaringan normal sekitar jaringan tumor. Cara ini akan
memberikan hasil operasi yang lebih baik.
2). Ternyata operasi pertama memberikan harapan sukses yang lebih tinggi.
Operasi selanjutnya akan memberikan hasil yang lebih rendah.
3). Metastase ke kelenjar getah bening umumnya terjadi pada setiap tumor
sehingga pengangkatan kelenjar dianjurkan pada tindakan bedah.
4) Dalam melakukan tindakan bedah sebaiknya dilakukan pendekatan
interdisipliner sehingga dapat dijabarkan kemungkinan tindakan pre dan post
bedah harus dilakukan.
5) Satu hal yang mutlak dilakukan sebelum bedah adalah menentukan stadium
tumor dan melihat pola pertumbuhan (growth pattern) tumor tersebut.
b. Obat-obatan
1). Immunoterapi
Misalnya interleukin 1 dan alpha interferon.
2). Kemoterapi
Kemoterapi telah menunjukkan kemampuannya dalam mengobati beberapa
jenis tumor.
3). Radioterapi
Masalah dalam radioterapi adalah membunuh sel kanker dan sel jaringan
normal. Sedangkan tujuan radioterapi adalah meninggikan kemampuan untuk
membunuh sel tumor dengan kerusakan serendah mungkin pada sel normal.
Untuk mencapai target ini, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Meninggikan radiosensitifitas dan oksigenasi. Sel akan sensitive
jika mempunyai oksigen. Satu sel yang hipoksia akan kurang sensitive
terhadap ionisasi/radiasi.
b. Mengarahkan radiasi lebih terfokus pada jaringan tumor saja, misalnya
dengan melakukan penyinaran yang mobile.
c. Membagi-bagi dosis secara series sehingga jaringan tidak mendapat beban
radiasi yang berat yang dapat turut merusak jaringan normal.

 KEPERAWATAN
1. Jika tumor jinak maka lakukan eksisi bedah
2. Jika tumor ganas
· Small cell: kemoterapi
· Non small cell
a. Stadium 1-111a beda dilanjutkan radio terapi kemoterapi
b. Stadium 111b-1V radioterapi dilanjutkan kemoterapi
3. bantu pasien untuk mencari posisi yang paling sedikit nyerinya
4. dalam tindakan psikologis kurangi ansietas dengan memberikan informasi yang
sering. Sederhana, jelas tentang apa yang sedang dilakukan untuk mengatasi
kondisi dan apa makna respons terhadap pengobatan.
5. Untuk menjaga keseimbangan : perhatikan keadaan cairan tubuh.
6. Atur diet yang sesuai
Pathway
-Asap rokok

-Polusi Udara

-Pemajanan Okupasi

Iritasi mukosa Bronkus

Peradangan Kronik

Pembelahan sel yang tidak terkendali

Karsinoma paru

Iritasi oleh massa tumor Adanya massa dalam paru

Nyeri Peningkatan Kerusakan membran alveoli

Sekresi mukus Gangguan pertukaran gas

Penurunan ekspansi paru

Batuk Sesak nafas

Pola nafas tidak efetkif

Bersihan jalan nafas tidak efektif malaise

Intoleran aktivitas
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA TUMOR PARU

1. PENGKAJIAN
A. Pengumpulan Data.
1. Keadaan umum: lemah, sesak yang disertai dengan nyeri dada.
2. Kebutuhan dasar:
- Pola makan : nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan
menelan (disfagia), penurunan berat badan.
- Pola minum : frekuensi minum meningkat (rasa haus)
- Pola tidur : susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada.
- Aktivitas : keletihan, kelemahan.
3. Pemeriksaan fisik
1. Sistem pernafasan
• Sesak nafas, nyeri dada
• Batuk produktif tak efektik
• Suara nafas: mengi pada inspirasi
• Serak, paralysis pita suara.
2. Sistem kardiovaskuler
• tachycardia, disritmia
• menunjukkan efusi (gesekan pericardial)
3. Sistem gastrointestinal
• Anoreksia, disfagia, penurunan intake makanan, berat badan menurun.
4. Sistem urinarius
• Peningkatan frekuensi/jumlah urine.
5. Sistem neurologis
• Perasaan takut/takut hasil pembedahan
• Kegelisahan
B. Pengelompokan Data
1. Data Subjektif
Perasaan lemah, Sesak nafas, nyeri dada, Batuk tak efektif, Serak, haus, Anoreksia,
disfalgia, berat badan menurun, Peningkatan frekuensi/jumlah urine, Takut
2. Data Objektif
Batuk produktif, Tachycardia/disritmia, Menunjukkan efusi, Sianosis, pucat, Edema,
Demam, Gelisah.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubuhan dengan Penurunan ekspansi paru dengan ancaman /
perubahan status kesehatan.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi bronkial sekunder
karena invasi tumor.
3. Nyeri berhubungan dengan penekanan saraf oleh tumor paru
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Pola Nafas tidak efektif NOC: NIC:


berhubungan dengan : Respiratory status : Posisikan pasien untuk
- Hiperventilasi Ventilation memaksimalkan ventilasi
- Penurunan Respiratory status : Pasang mayo bila perlu
energi/kelelahan Airway patency Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Perusakan/pelemahan Vital sign Status Keluarkan sekret dengan batuk atau
muskulo-skeletal suction
Setelah dilakukan Auskultasi suara nafas, catat adanya
- Kelelahan otot pernafasan suara tambahan
- Hipoventilasi sindrom tindakan keperawatan Berikan bronkodilator :
- Nyeri selama ………..pasien -…………………..
- Kecemasan menunjukkan keefektifan …………………….
- Disfungsi Neuromuskuler pola nafas, dibuktikan Berikan pelembab udara Kassa basah
- Obesitas dengan kriteria hasil: NaCl Lembab
- Injuri tulang belakang Mendemonstrasikan batuk Atur intake untuk cairan
efektif dan suara nafas mengoptimalkan keseimbangan.
yang bersih, tidak ada Monitor respirasi dan status O2
DS:
sianosis dan Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
- Dyspnea dyspneu (mampu Pertahankan jalan nafas yang paten
- Nafas pendek mengeluarkan sputum, Observasi adanya tanda tanda
DO: mampu bernafas dg
hipoventilasi
- Penurunan tekanan mudah, tidakada pursed
lips) Monitor adanya kecemasan pasien
inspirasi/ekspirasi Menunjukkan jalan nafas terhadap oksigenasi
- Penurunan pertukaran yang paten (klien tidak Monitor vital sign
udara per menit merasa tercekik, irama Informasikan pada pasien dan keluarga
- Menggunakan otot nafas, frekuensi
pernafasan dalam tentang tehnik relaksasi untuk
pernafasan tambahan
- Orthopnea rentang normal, tidak memperbaiki pola nafas.
- Pernafasan pursed-lip ada suara nafas Ajarkan bagaimana batuk efektif
- Tahap ekspirasi abnormal) Monitor pola nafas
Tanda Tanda vital dalam
berlangsung sangat lama rentang normal (tekanan
- Penurunan kapasitas vital darah, nadi, pernafasan)
- Respirasi: < 11 – 24 x
/mnt
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Bersihan Jalan Nafas NOC:


tidak efektif berhubungan Respiratory status : Pastikan kebutuhan oral / tracheal
dengan: Ventilation suctioning.
- Infeksi, disfungsi Respiratory status : Berikan O2 ……l/mnt, metode………
neuromuskular, Airway patency Anjurkan pasien untuk istirahat dan
hiperplasia dinding Aspiration Control napas dalam
bronkus, alergi jalan Setelah dilakukan Posisikan pasien untuk memaksimalkan
nafas, asma, trauma tindakan keperawatan ventilasi
- Obstruksi jalan nafas : selama …………..pasien Lakukan fisioterapi dada jika perlu
spasme jalan nafas, menunjukkan keefektifan Keluarkan sekret dengan batuk atau
sekresi tertahan, suction
jalan nafas dibuktikan Auskultasi suara nafas, catat adanya
banyaknya mukus, adanya dengan kriteria hasil : suara tambahan
jalan nafas buatan, sekresi
bronkus, adanya eksudat Mendemonstrasikan Berikan bronkodilator :
di alveolus, adanya benda batuk efektif dan suara - ………………………
asing di jalan nafas. nafas yang bersih, - ……………………….
DS: tidak ada sianosis dan - ………………………
- Dispneu dyspneu (mampu Monitor status hemodinamik
DO: mengeluarkan sputum, Berikan pelembab udara Kassa basah
- Penurunan suara nafas bernafas dengan NaCl Lembab
- Orthopneu mudah, tidak ada Berikan antibiotik :
- Cyanosis pursed lips) …………………….
- Kelainan suara nafas Menunjukkan jalan …………………….
(rales, wheezing) nafas yang paten (klien Atur intake untuk cairan
- Kesulitan berbicara tidak merasa tercekik, mengoptimalkan keseimbangan.
Monitor respirasi dan status O2
- Batuk, tidak efekotif atau irama nafas, frekuensi
Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk
tidak ada pernafasan dalam
mengencerkan sekret
- Produksi sputum rentang normal, tidak Jelaskan pada pasien dan keluarga
- Gelisah ada suara nafas tentang penggunaan peralatan : O2,
- Perubahan frekuensi dan abnormal) Suction, Inhalasi.
irama nafas Mampu
mengidentifikasikan
dan mencegah faktor
yang penyebab.
Saturasi O2 dalam
batas normal
Foto thorak dalam
batas normal
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :


dengan: Pain Level, Lakukan pengkajian nyeri secara
Agen injuri (biologi, kimia, pain control, komprehensif termasuk lokasi,
comfort level karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
fisik, psikologis), kerusakan
dan faktor presipitasi
jaringan Setelah dilakukan
Observasi reaksi nonverbal
tinfakan keperawatan
dari ketidaknyamanan
DS: selama …. Pasien tidak
Bantu pasien dan keluarga
- Laporan secara verbal mengalami nyeri, dengan
untuk mencari dan menemukan
DO: kriteria hasil:
dukungan
- Posisi untuk menahan Mampu mengontrol
Kontrol lingkungan yang
nyeri nyeri (tahu penyebab
dapat mempengaruhi nyeri seperti
- Tingkah laku berhati-hati nyeri, mampu
suhu ruangan, pencahayaan dan
- Gangguan tidur (mata menggunakan tehnik
kebisingan
sayu, tampak capek, sulit nonfarmakologi untuk
Kurangi faktor presipitasi nyeri
atau gerakan kacau, mengurangi nyeri, Kaji tipe dan sumber nyeri
menyeringai) mencari bantuan) untuk menentukan intervensi
- Terfokus pada diri sendiri Melaporkan bahwa Ajarkan tentang teknik non
- Fokus menyempit nyeri berkurang dengan farmakologi: napas dala, relaksasi,
(penurunan persepsi menggunakan distraksi, kompres hangat/ dingin
waktu, kerusakan proses manajemen nyeri Berikan analgetik untuk
berpikir, penurunan Mampu mengenali nyeri mengurangi
interaksi dengan orang (skala, intensitas, nyeri:
dan lingkungan) frekuensi dan tanda ……...
- Respon autonom (seperti nyeri) Tingkatkan istirahat
diaphoresis, perubahan Menyatakan rasa Berikan informasi tentang nyeri
tekanan darah, perubahan nyaman setelah nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama
nafas, nadi dan dilatasi berkurang nyeri akan berkurang dan antisipasi
pupil) Tanda vital dalam ketidaknyamanan dari prosedur
- Perubahan autonomic rentang normal Monitor vital sign sebelum dan
dalam tonus otot Tidak mengalami sesudah pemberian analgesik pertama
(mungkin dalam rentang gangguan tidur kali
dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam
paru .
Penyebab tumor paru yakni dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub
bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan
metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh
metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi
pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang
letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini
menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian
distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam,
dan dingin.

B. Saran
Dengan mempelajari paper ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mampu
menjelaskan mengenai asma, hal apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya asma
dan tindakan apa yang dilakukan untuk mengobati penyakit asma dan cara
pencegahannya.
DAFTAR PUSTAKA

 Doenges, Marilynn E, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta
 Long, Barbara C, (1996), Perawatan Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses
Holistik, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
Suyono, Slamet, (2001), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3, Balai
Penerbit FKUI, Jakarta.
 Underwood, J.C.E, (1999), Patologi Umum dan Sistematik, Edisi 2, EGC, Jakarta.
 Brunner and Suddarth.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
 Guyton and Hall.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Edisi 9. Jakarta : EGC
 Mansjoer, Arif.2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Mediaesculapius
 Price, Sylvia. 2004. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :
EGC