Vous êtes sur la page 1sur 10

PENGARUH KONSUMSI SUSU TINGGI KARBOHIDRAT DAN PROTEIN

(CHO+ PRO) SEBELUM LATIHAN RESISTENSI TERHADAP DAYA


TAHAN OTOT PADA ATLET REKREASI

Bab 1 Latar belakang

Daya tahan otot adalah kemampuan sebuah otot atau sekelompok otot untuk
melakukan kontraksi yang berulang ulang melawan sebuah batas penolakan untuk
suatu periode waktu yang diinginkan (misalnya 1,2,3 ). Ini berhubungan dengan
kemampuan otot untuk terus menerus bekerja tanpa kelelahan. Kelelahan otot terjadi
ketika otot tidak dapat merespon dorongan / stimulasi oleh tingkatan dan kegiatan
kontraksi yang sama (4). Isotonic (kontraksi) adalah sebuah kontraksi otot yang
menghasilkan pemendekan otot. Latihan resistensi adalah jenis latihan apa saja yang
menyebabkan otot untuk berkontraksi melawan resistensi ekternal dengan harapan
meningkatkan kekuatan otot, tonus otot, massa otot dan daya tahan otot (5).
Mekanisme latihan resistensi membuat kerusakan microscopic atau merobek sel
otot, yang mana setelah latihan akan cepat diperbaiki oleh tubuh untuk menolong
regenerasi otot dan bertumbuh lebih kuat. Menurut Lynne Kammer , latihan resistensi
mempengaruhi otot skeletal dengan mengurangi enegry (glycogen) yang disimpan di
dalam otot serta meningkatkan penghancuran protein otot. Durasi / lamanya latihan
dan intensitas / kekuatan latihan dapat dibatasi dikarenakan adanya glycogen. Daya
tahan otot sangat penting untuk para atlet yang mana mereka harus mempertahankan
sebuah kegiatan untuk periode waktu yang lama. Daya tahan otot adalah sebuah
bagian penting dari latihan tubuh para atlit professional seperti; pelari jarak jauh,
perenang, pendayung , pemain sepak bola. Juga saat penting untuk atlet yang bukan
professional (atlet rekreasi). Sebuah kegagalan untuk menyempurnakan kemampuan
daya tahan otot ini pada berbagai jenis olah raga dapat membuat atlit menggunakan
zat doping yang mana merupakan hal yang dilarang.

Susu merupakan cairan yang berisi karbohidrat dan protein (CHO+PRO) juga berisi
cairan untuk rehidrasi dan electrolyte, termasuk potassium, calcium, dan magnesium
yang telah hilang dengan keluarnya keringat, yang mana para atlit terkenal bahkan
olahragawan awam membutuhkan pergantian setelah kegiatan berat. Dengan
tambahan, sejauh ini , susu telah tercatat sebagai barang dengan rasa sempurna,
tersedia secara luas, lebih murah,dan menyenangkan, yang mana dapat membuat susu
menjadi suplemen populer untuk latihan olah raga.

Karbohidrat dan protein (CHO+Pro) dalam susu telah diketahui mengurangi marker
sarcolemmal distraction, seperti creatine kinase (CK) dan myoglobin, mengurangi
rasa sakit otot, dan memperbaiki fungsi otot berikutnya (8-14). Dalam tambahan,
pemasukan CHO+Pro sewaktu masa perbaikan/ penyembuhan (recovery) dari
latihan yang berat telah diperlihatkan untuk memperbaiki penampilan/ kinerja dalam
latihan diwaktu berikutnya (9-12).

Kombinasi dari karbohidrat dan protein yang sudah ada dalam susu mempertemu-kan
ratio yang sangat bermanfaat untuk perbaikan/ penyembuhan (otot). Buktinya, riset
mengusulkan bahwa susu memiliki campuran yang benar dari karbohidrat dan
protein untuk menolong mengembalikan ketersediaan glycogen dalam otot dan
protein dalam susu menolong membangun lebih banyak sel otot. Beberapa study/ riset
telah membuktikan bahwa mengkomsumsi CHO + PRO setelah latihan memberikan
sebuah lingkungan yang ideal untuk synthetsis otot dan penyembuhan otot dari latihan
(15). Persediaan / provision dari asam amino setelah latihan resistensi mendorong
synthesis protein yang lebih besar, menghasilkan sebuah pengaruh positip ( lebih
banyak synthesis daripada penguraian sebagai perbandingan daripada berpuasa
setelah latihan ) (15) . Kaarbohidrat secara cepat memperbaiki glycogen,
meningkatkan konsentrasi insulin, menurunkan konsentrasi cortisol, dan
meningkatkan penyerapan otot terhadap growth hormon (16). Adanya kombinasi dari
karbohidrat dan protein, sebelum dan setelah latihan intensitas tinggi berpengaruh
menguntungkan untuk synthesis protein.

Study perbandingan lainnya pengaruh dari waktu pemberian supplemen protein dan
karbohidrat, sebelum atau sesudah tiap kali latihan, dibandingkan dengan pemberian
supplemen dalam jam-jam (waktu ) yang berjarak jauh dari waktu latihan (pagi
dan malam hari ) . orang yang melakukan latihan resintensi dipecah kedalam dua
kelompok : Satu kelompok mengkomsumsi suplemen protein dan karbohidrat
sebelum dan setelah latihan resistensi, sementara group lainnya menerima suplemen
yang sama yag dikonsumsi pada pagi hari dan malam pada hari latihan (19).
Pengukuran kekuatan (1-RM) setelah 10 minggu latihan dilaksanakan dengan baik.

Pemberian dengan segera makanan supplemen dalam sebelum (pre) dan sesudah
(post) periode latihan menghasilkan peningkatan yang lebih besar didalam kekuatan
otot dalam dua atau 3 pengukuran. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa waktu
pemberian suplemen merupakan sebuah hal sederhana , namun ternyata siasat yang
berguna dan efektif untuk menaikkan gairah adaptasi dalam melakukan pelatihan
resistensi (19). Studi ini menggunakan perubahan metode test 1-RM ( percobaan
maximum satu pengulangan), yang mana 1-RM didifinisikan sebagai berat maximal
yang dapat diangkat satu kali dalam sebuah latihan. Hal tersebut dapat dilihat
bahwa kelompok pertama yang diberikan makanan supplemen memberikan
perubahan signifikan (pasti ) yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kedua.
Kelompok pertama dapat mengangkat beban lebih berat
Daripada kelompok kedua. Tetapi kekuatan otot adalah berbeda dengan daya tahan
otot, yang mana kekuatan otot diukur oleh berat maximal kemampuan otot dapat
mengangkat dengan kondisi yang baik dalam satu kali angkatan sedangkan daya tahan
otot adalah angka seberapa banyak otot dapat mengangkat berat secara berulang.

Dewasa ini, tidak ada hubungan yang khusus antara konsumsi susu dan daya tahan
otot, akan tetapi Stephanie F. Gilson dan kawan kawan, telah meneliti hubungan
antara konsumsi susu dan otot, hasilnya adalah adanya perbaikan otot setelah latihan
resistensi. Melalui konsumsi susu terjadi peningkatan karbohidrat dan protein yang
cepat yang mana berguna untuk latihan berikutnya. Susu terbukti meningkatkan
pergantian glikogen dalam otot (6,7 ) dan dapat mengurangi gejala-gejala setelah
melakukan latihan selama periode latihan resistensi yang intensif. seperti : perasaan
negative, meningkatkan usaha dan semangat, dan performa yang menurun [8]

Mempertimbangkan pengaruh dari susu pada penyembuhan/ perbaikan otot setelah


latihan resistensi, dewasa ini, tidak ada data yang memuaskan dari pengaruh susu
pada daya tahan otot ketika ia (susu) dikonsumsi sebelum latihan resistensi.
Bagaimanapun, jika data dari pengaruh susu pada daya tahan otot ketika susu
dikonsumsi (diminum), sebelum latihan resistensi tersedia dan telah disahkan benar,
Susu dapat menjadi sebuah solusi untuk meningkatkan durasi (lamanya) dan
intensitas (kuatnya) dalam latihan - latihan resistensi. Secepatnya hal ini dapat
membantu menurunkan masalah doping pada para atlet. Makadari itu sangatlah
penting untuk mengetahui efek dari konsumsi susu sebelum latihan resistensi terhadap
daya tahan otot. Manfaat yang pasti dari konsumsi tambahan protein sebelum latihan
masih membutuhkan untuk ditentukan.

Masalah
Daya tahan otot adalah sebuah faktor penting yang menentukan dalam latihan
resistensi. Beberapa study klinis telah dilakukan untuk menidentifikasi pengaruh susu
pada latihan resistensi . Walaupun telah dibuktikan bahwa susu tinggi protein yang
diminum para atlet rekreasi dapat meningkatkan kekuatan otot serta perbaikan otot ,
namun belum dibuktikan apakah susu yang dikonsumsi sebelum latihan resistensi
dapat mempengaruhi daya tahan otot

Pertanyaan Riset

Apakah pemberian susu tinggi protein dan karbohidrat ( 25gr karbohidrat dan 8gr
protein) dalam 200 ml air sebelum latihan resistensi dapat meningkatkan daya tahan
otot selama latihan resistensi ?

Apakakah pemberian susu tinggi protein dan karbohidrat (50gr karbohidrat dan 16gt
protein) dalam 200 ml air sebelum latihan resistensi dapat meningkatkan daya tahan
otot selama latihan resistensi ?

Tujuan riset dan manfaat

Tujuan riset:
Untuk mengetahui pengaruh dari minum susu tinggi karbohidrat dan protein sebelum
latihan resistensi pada daya tahan otot selama pelatihan resistensi , maka dapat
digunakan sebagai peningkat kinerja untuk para atlet rekreasi

Manfaat riset
Untuk memperkenalkan sebuah cara alternative (pilihan ) kepada para amatir (atlet
rekreasi) dan masyarakat olah raga non professional untuk memperbaiki kinerja otot
mereka selama pelatihan resistensi tanpa perlu menggunakan obat-obatan (doping)
dalam meningkatkan kinerja.
BAB 2- TINJAUAN BACAAN / LITERATUR

Ketahanan Otot (Muscle Endurance )

Daya tahan/ ketahanan adalah sebuah istilah yang menuju kepada dua hal yang
terpisah tetapi konsepnya saling berkaitan , yaitu : Daya tahan Otot dan Daya
tahan Respiratory Cardio (Yang berhubungan dengan jantung ) (22). Daya tahan
Respiratory Cardio berkaitan dengan segala kemampuan (kekuatan ) tubuh
untuk menguasai dan mengatasi lamanya latihan yang mana menggunakan
sekelompok otot. Pengendara sepeda, pelari jarak jauh, atau perenang
memberikan contoh jenis dari daya tahan ini. Daya tahan Cardio Respiratory
berkaitan dalam perkembangan dari sistem cardiovascular dan sistem
respiratory dalam memelihara pasokan oxcygen untuk otot yang bekerja selama
latihan (olah raga) yang bersifat lama/ panjang, sebagaimana berkaitan dengan
kemampuan otot untuk memakai/ memanfaatkan energy secara aerobik

Sementara daya tahan cardio respiratory berkaitan kepada segala kemampuan


tubuh dalam mengatasi lamanya latihan, daya tahan otot adalah khusus untuk
individu atau untuk kelompok otot tertentu. Daya tahan otot adalah
kemampuan otot untuk menggunakan kekuatan maximal otot secara berulang
ulang melampaui sebuah periode waktu tertentu (lamanya latihan ).

Daya tahan otot biasanya ditentukan oleh banyaknya pengulangan yang dapat
dilakukan oleh sebuah individu dalam melakukan perlawanan pada sebuah
beban penolakan dari kekuatan otot maximal atau oleh lamanya seseorang
dapat menahan sebuah kontraksi yang diberikan kepadanya. Jenis daya tahan ini
adalah dicontohkan oleh atlit angkat besi yang melakukan pengangkatan beban
secara berulang lalu mengalami kelelahaan pada kelompok otot tertentu. Daya
tahan otot secara tinggi dikaitkan kepada kekuatan otot dan pengembangan
kekuatan pada saat keadaan anaerobic

1 Repetition maximum testing (1RM) adalah cara test paling akurat dalam
menentukan kekuatan otot. yang mana dilakukan dengan cara mengangkat
beban terberat yang dapat diangkat oleh seseorang dalam keadaan tubuh yang
baik (21). Oleh karena itu, hal ini adalah sebuah test untuk kekuatan otot.
Kekuatan otot berbeda dengan daya tahan otot. Kekuatan otot adalah
kemampuan otot untuk mengangkat beban maksimal. contohnya seseorang
dapat mengangkat sebuah beban hingga 10 kg didalam satu kali pengulangan
secara sempurna, tetapi ia tidak dapat mengangkat 11 kg. Ini berarti 1RM untuk
orang orang tersebut adalah 10 kg.

Kemudian sebuah cara sederhana untuk mengestimasi/ memperkirakan daya


tahan otot adalah pertama-tama dengan menentukan kekuatan otot lalu Angka
maximum kekuatan otot dari satu kali pengangkatan beban yang dapat
dilakukan (1RM) diambil persentase nya sekitar 75-80 % dari total IRM (22).
Untuk contoh, 1RM untuk seseorang adalah 100 kg, maka daya tahannya otot
adalah:

Muscular Endurance : [100 x (0.75)] x number repetition (33)


(Daya tahan otot : (100 x (075) x angka pengulangan ).

Untuk menentukan 1 RM, orang memilih sebuah beban terberat yang mereka
tahu mereka mampu mengangkatnya paling sedikit sekali. Setelah sebuah
pemanasan sebelumnya, mereka mencoba untuk melakukan beberapa
pengulangan angkat beban. Jika mereka dapat melaksanakan lebih banyak dari
sekali pengulangan, mereka dianjurkan untuk menambahkan berat beban dan
mencoba kembali untuk melakukan beberapa pengulangan pengangkatan.
Hal ini berlanjut sampai orang tidak mampu untuk mengangkat beban lebih dari
satu kali pengangkatan . Berat beban terakhir yang hanya dapat diangkat sekali
inlah yang merupakan 1 RM untuk suatu pelatihan .

Daya tahan otot ditingkatkan oleh pengulangan kontraksi fiber/ serat –serat
otot. Kontrakasi-kontraksi berulang membutuhkan sebuah pasokan energy yang
terus menerus dan serat-serat otot dengan kemampuan aerobic (slow oxidative
and fast oxidative glycolytic fibers) yang dinilai paling cocok dengan kegiatan ini
(23). Kontraksi yang berulang-ulang mempertinggi kerja enzyme-enzyme
aerobic, mitochondria dan bahan bakar yang mana dibutuhkan untuk kontraksi
–kontraksi berulang. Jika seseorang baik lelaki atau perempuan melebihi
kemampuan 1 RM nya , ototnya akan terjadi sebuah bentuk adaptasi/
penyesuaian diri yang disebut hypertrophy ( memaksa latihan diatas batas
standar kemampuannya ).

Kontraksi Otot

Ada sebuah mekanisme yang sangat kompleks didalam mekanisme kontraksi


otot. Struktur yang dominan/ utama didalam serat otot adalah banyak nya
myofibril. Singkatnya, dalam myofibril ada beberapa benang / jaringan
(filament) tipis, yang mana terdiri dari myosin dan filament tipis yang
terkomposisi dari actin, troponin, dan tropomyosin.Struktur-struktur
(bangunan-bangunan ) ini memberi myofibril area. Ada pita A, zona H dan garis
Z yg membentuk fungsi unit terkecil dari otot yang disebut sarcomere. Didalam
micrograph electron, bidang Z line muncul sebagai sebuah serial (kelompok )
garis –garis gelap/ hitam. pita (band) A tersusun dari sekelompok benang
(filament ) tebal bersamaan dengan beberapa porsi / bagian dari benang tipis
yang saling tumpang tindih (overlap) pada kedua ujung-ujungnya. Zona H
adalah area yang lebih cerah (putih terang ) pada bagian tengah dalam pita A,
dimana benang – benang tipis tidak saling menjangkau/ menyentuh satu sama
lainnya. (4, 29-31)

Setiap filamen tipis memiliki beberapa ratus molekul –molekul myosin didalam
susunan yang rapi. Myosin ini membentuk jembatan penyeberangan (cross
bridge) diantara filamen-filamen yang tebal dan tipis. Didalam setiap jembatan
penyeberangan (cross bridge) memiliki 2 tempat yang penting sekali untuk
proses pengerutan (contractile) : tempat pengikatan actin dan tempat ATPase
myosin. Dalam (filament ) tipis ini terdiri dari actin, tropomyosin, dan troponin
(4).
Dalam setiap kontraksi , aksi potensial menimbulkan respon kepada sebuah
kegiatan nyang melibatkan serabut saraf otot (neuromuscular junction activity).
Aksi potensial kemudian mendatangi T tubule dan memacu ion-ion calcium
dilepaskan dari sarcoplasmic reticulum. Ion-ion calcium kemudian berikatan
dengan troponin diatas benang-benang actin, mengakibatkan tropomyosin
bergerak menyamping dan terlepas secara fisik untuk membuka balutan cross
bridge pada actin. Cross bridges myosin melekat pada actin dan membalut, serta
menarik filament actin kearah pusat sarcomere, hal ini terjadi hanya jika ada
sebuah pasokan energy yang dilengkapi oleh ATP.
Dalam tahap ini, otot berkontraksi dan memendek. Ketika otot sedang santai
(relax),
Ion-ion calcium dibawa kembali secara aktip kepada reticulum sarcoplasmic.
Ketika ion-ion calcium terlepas dari troponin, tropomyosin jatuh kembali
kepada posisi nya. Dalam tahap ini, kontraksi sudah selesai/ berakhir. (29-32).

Isotonic Contraction (Kontraksi Isotonik)

Tergantung pada perubahan panjangnya otot ketika terjadi kontraksi. Dimana


ada 2 jenis kontraksi utama. Didalam kontraksi isometric, otot dicegah dari
pemendekan, maka tensi / tegangan mengembang pada panjang otot yang tetap
/ konstan (tidak berubah). Dalam sebuah kontraksi isotonic , tegangan pada otot
tetap konstan sewaktu terjadi perubahan panjang otot. Secara nyata ada 2 jenis
dari Kontraksi Isotonic : yaitu: concentric dan eccentric.
Dalam kontraksi concentric , otot-otot jadi pendek/ memendek., sebagaimana
dalam kontrkasi eccentric; otot-otot memanjang, karena otot menjadi melar
(stretched) oleh kekuatan penolakan dari lingkungan luar.

Metabolisme Otot

ATP memainkan sebuah peranan utama dalam proses kontraksi-relaksasi otot.


ATP digunakan oleh myosin ATPase untuk memberi energy yang digunakan
untuk kekuatan sewaktu terjadi cross bridging . lalu , ATP yang terpecah/
terurai memberikan energy/ kekuatan untuk transpor aktif ion-ion calcium
kembali kedalam sarcoplasmic reticulum (4).

Dengan demikian, ATP adalah satu-satunya sumber energy yang mana dapat
secara langsung digunakan untuk proses kontraksi-relaksasi otot.,
Maka ATP harus secara menetap dipasok terus-menerus. ATP yang cepat
tersedia untuk dipasok berada dalam bentuk glycogen yang disimpan dalam
otot. Tetapi ada juga jalur /jalan lain yang dapat memasok tambahan kebutuhan
ATP sewaktu proses kontraksi-relaksasi otot.
Pertama adalah pengiriman energy tinggi phosphate yang berasal dari creatine
phosphate menjadi ADP, kedua adalah oxidative phosphorylation dan terakhir
adalah glycolysis. Glycolysis adalah sumber utama ATP ketika oksigen tidak
hadir / ada (anaerobic ). Oxidative phosphorylation adalah sumber utama ATP
ketika oxygen hadir/ ada (aerobic) (26).
Creatine phosphate adalah pendukung energy pertama ketika mulai awal /start
kegiatan pengkerutan. Sebuah otot yang istirahat berisi banyak creatine
phosphate disimpan sebagai kolam-kolam creatine phosphate. Ketika otot
memulai proses kontraksi- relaksasi, mengakibatkan jatuhnya kadar ATP
memberikan jalan untuk peningkatan kadar ADP. Lalu creatine phosphate yang
berisi sebuah kelompok enerji phosphate yang tinggi, yang mana (phosphate)
dapat membantu secara langsung meningkatkan ADP hingga membentuk ATP.
Jadi creatine phosphate adalah sumber pertama untuk memasok tambahan ATP
ketika latihan dimulai. ATP dari creatine phosphate mendukung pembakaran
dalam jangka waktu yang pendek pada saat terjadi kontraktilitas dengan
intensitas yang tinggi. sebagai contoh; lari cepat/ sprint.Sumber –sumber enerji
lainnya tidak memiliki waktu untuk beroperasi/ bekerja sebelum kegiatan
berakhir.Creatine phosphate menyimpan jenis kekuatan pada menit pertama
atau latihan ringan. (4, 24)

Oxidative phosphorylation dimulai dalam mitochondria sel otot hanya jika


memiliki kecukupan jumlah oxygen. Oxygen dibutuhkan untuk mendukung
rantai angkut electron mithochondria. Jalur ini meyediakan penuh pasokan ATP
untuk setiap glukosa yang dipakai.
Jalur ini didukung/ dibantu oleh glukosa atau fatty acid, tergantung pada
intensitas dan durasi (lama waktu ) kegiatan. Untuk meneruskan proses
oxidative phosphorylation, pelatihan otot membutuhkan oxygen yang
mencukupi. Kegiatan ini disebut aerobic atau juga disebut sebagai latihan jenis
endurance / ketahananan (jenis respiratory cardio ) karena ia membutuhkan
pemberian oxygen yang konstan/ terus menerus.
Oxidative phosphorylation secara relative melambat karena beberapa tahap-
tahap yang terlibat (4, 25, 27 )

Ada beberapa keterbatasan –keterbatasan sistem cardio-respiratory untuk


menyalurkan oxygen kepada otot. Paru-paru dan jantung mungkin tidak
mengirim oxygen secara konstan untuk otot yang sedang dilatih. Juga didalam
kontraksi hampir maximal atau kontraksi yang paling kuat / kencang dari otot
yang terjadi adalah otot hampir menutup pembuluh darah, lalu membatasi
oxygen untuk masuk ke dalam serat-serat otot. Untuk Catatan , didalam latihan
berat ini , oxidative phosphorylation tidak dapat memberikan pasokan ATP
secara cepat. Dalam situasi ini, otot-otot mengandalkan pada proses glycolysis
untuk menghasilkan ATP. Selama /pada waktu glycolysis, sebuah molekul
glukosa terpecah kedalam dua molekul pyruvic acid, menghasilkan dua
molekul ATP dalam prosesnya. Kemudian , pyruvic acid dapat digunakan untuk
oxidative phosphorylation untuk menolong lebih banyak pasokan ATP. Kegiatan
glycolysis ini dapat dikerjakan dalam ketiadaan oksigen dan hal ini dapat
diteruskan secara lebih cepat daripada oxidative phosphorylation. Maka
kegiatan ini disebut anaeorobic atau latihan intensitas tinggi.

sel-sel otot mampu menyimpan glukosa dalam jumlah yang terbatas dalam
bentuk glycogen. Selain otot, hati juga dapat menyimpan glycogen . hati dan otot
memiliki sebuah kapasitas terbatas untuk menyimpan glycogen. Jika liver dan
otot penuh dengan glycogen, glucose darah akan dikonversi kedalam bentuk
lemak badan/ body fat. (24, 25).
Pengisian carbohydrate (peningkatan carbohydrate yang masuk sebelum
pertandingan/ persaingan ) adalah sebuah metode yang digunakan oleh para
atlit-atlit dalam upaya mendorong kinerja dan daya tahan (4).

Carbohydrate

Karbohidrat dalam otot digunakan selama latihan. Karbohidrat dalam liver dapat
dilepas kedalam dan masuk aliran darah untuk memelihara kadar glukosa darah
tetap normal untuk dapat memberi makan otak dan juga otot-otot. Karbohidrat
yang terbatas ini mempengaruhi berapa lama seseorang dapat tahan berlatih.
(34). Latihan fisik dapat meningkatkan seluruh metabolismen enerji badan
hingga sampai 20 lipat diatas tingkat dasar . seperti terjadinya sebuah kekacauan
/ gangguan metabolisme dalam sebuah kekosongan penyimpanan karbohidrat
(CHO) karena penggunaan glikogen dan glukosa darah. Pentingnya ketersediaan
CHO/ Karbohidrat untuk menahan kontraksi otot diperlihatkan oleh
pengamatan bahwa kelelahan selama latihan terlalu lama sering dikaitkan
dengan kosongnya simpanan glycogen dalam otot, hypoglikemi atau keduanya.
(36 )

Makin tinggi intesitas latihan ( apakah terus-menerus, sebentar-sebentar,


anaeorobic, aeorobic ) makin penting banyaknya glycogen sebagai bahan bakar.
Tubuh manusia dapat menyimpan karbohidrat dalam jumlah terbatas.
Pelatihan/ training meningkatkan kemampuan menyimpan karbohidrat dan
untuk mencadangkan karbohidrat (dalam tubuh). Kelelahan dan kehabisan
tenaga kaitannya erat dengan kekosongan glycogen sewaktu melakukan
kegiatan latihan keras dalam waktu panjang. Kesimpulnya, memiliki kecukupan
pasokan dari glycogen otot dapat menghindari kelelahan. (35).

Tambahan (supplemen) CHO/ karbohidrat , dengan cara meningkatkan


tersedianya glycogen dalam otot sebelum latihan atau dengan memasukan CHO
selama latihan, mempertinggi ketahanan /daya tahan (tubuh) dalam latihan
(37 )

Protein

Masuknya protein bermanfaat dalam pelatihan, khususnya dalam training yang


mana tujuan utama adalah meningkatkan masa otot. Terutama orang yang
terlibat dalam latihan resisten sebagaimana para atlit angkat besi, body builder,
pelari cepat, pegulat, yang mana berusaha keras untuk meningkatkan kekuatan
otot lebih dari kapasitas kekuatanya (hypertrophy) (35 )

Jenis latihan ini meningkatkan protein dalam serat-serat (fiber ) otot. Kenaikan
protein ini kemungkinan asalnya dari sebuah penurunan dalam protein
endogenous yang terurai dan sebuah peningkatan sintesis protein dari asam
amino (35).

Setelah latihan, sintesis protein mungkin memperbesar penurunan protein,


tetapi hanya setelah pemberian protein. Jika pemberian (protein ) ditunda
beberapa jam, keseimbangan protein tetap terjaga dan tidak ada terjadi
hypertrophy otot. Oleh karena itu, saat waktu (timing ) masuknya protein
adalah penting sekali. (38).
Bab 3

Hipotesis
Konsumsi dari susu tinggi karbohidrat dan protein sebelum latihan resistensi akan
meningkatkan penyimpanan glikogen di dalam otot. Maka dari itu dengan adanya
glikogen cadangan waktu untuk proses kehabisan glikogen akan semakin lama. Jadi
daya tahan otot akan bertambah.

Definisi operasional
Independent variable :
Susu tinggi karbohidrat dan protein (25gr karbohidrat dan 8gr protein)
Susu tinggi karbohidrat dan protein (50gr karbohidrat dan 16gr protein)

Dependent variable
Daya tahan otot (1RM x angka maksimal pengulangan)