Vous êtes sur la page 1sur 32

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keadaan bayi sangat tergantung pada pertumbuhan janin di dalam uterus,
kualitas dan pengawasan antenatal, penyakit-penyakit ibu waktu penanganan
persalinan dan perawatan sesudah lahir. Penanggulangan bayi tergantung pada
keadaannya, apakah ia normal atau tidak. Diantara bayi yang normal ada yang
membutuhkan pertolongan medik segera (sindrom gangguan pernapasan, asfiksia
berat, perdarahan, dll).
Pada umumnya kelahiran bayi normal ditolong oleh bidan yang diberi
tanggung jawab penuh terhadap keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal.
Oleh karena kelainan pada bayi dapat terjadi beberapa saat sesudah selesainya
persalinan yang dianggap normal, maka seorang bidan harus mengetahui dengan
segera timbulnya perubahan-perubahan pada bayi dan bila perlu memberikan
pertolongan pertama seperti menghentikan perdarahan, membersihkan jalan nafas,
memberikan oksigen dan melakukan pernafasan buatan sampai bayi tersebut
mendapat perawatan yang memiliki perlengkapan yang lengkap serta perawatan
yang baik, sehingga pengawasan dan pengobatan dapat dilakukan sebaik-baiknya.
Sepsis adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan
gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan
syok septik. (Doenges, 1999)
Sedangkan sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus
dengan gejala sistematik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit
sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga sering sekali tidak
terpantau,tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat meninggal dalam 24 sampai
48 jam. (Surasmi, 2003)
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Bayi Ny.N dengan diagnosa medis
Sepsis Neonatorum Diruang Mawar RSUD dr.Doris SylvanusPalangka
Raya.?

1
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada Bayi Ny.N dengan
diagnosa medis Sepsis Neonatorum Diruang Mawar RSUD dr.Doris
Sylvanus Palangka Raya?

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada Bayi Ny. N Dengan
Diagnosa Medis Sepsis Neonatorum Di Ruang Mawar dr.Doris
Sylvanus Palangka Raya.

2. Mahasiswa mampu melaksanakan diagnosa keperawatan pada Bayi


Ny.N Dengan Diagnosa Medis Sepsis Neonatorum Di Ruang Mawar
dr.Doris Sylvanus Palangka Raya.
3. Mahasiswa mampu melaksanakan perencanaan pada Bayi Ny.N Dengan
Diagnosa Medis Sepsis Neonatorum Di Ruang Mawar dr.Doris
Sylvanus Palangka Raya.
4. Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi pada Bayi Ny. N
Dengan Diagnosa Medis Sepsis Neonatorum Di Ruang Mawar Dr.Doris
Sylvanus Palangka Raya.
5. Mahasiswa mampu melaksanakan evaluasi pada Bayi Ny.N Dengan
Diagnosa Medis Sepsis Neonatorum Di Ruang Mawar Dr.Doris
Sylvanus Palangka Raya.

2
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Penyakit Sepsis Neonatorum
Sepsis adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan
gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan
syok septik. (Doenges, 1999)
Sedangkan sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus
dengan gejala sistematik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit
sepsis neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga sering sekali tidak
terpantau,tanpa pengobatan yang memadai bayi dapat meninggal dalam 24 sampai
48 jam. (Surasmi, 2003)
Berikut ini adalah beberapa definisi atau pengertian dari sepsis neonatorum
atau sepsis pada neonatus yang perlu diketahui(Maryunani, 2009), yaitu:
1. Sepsis neonatorum atau septicemia neonatorum merupakan keadaan dimana
terdapat infeksi oleh bakteri dalam darah di seluruh tubuh.
2. Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah
dan jaringan lain
3. Sepsis bakterial pada neonatus adalah sindrom klinis dengan gejala infeksi
sistemik dan diikuti dengan bakterimia pada bulan pertama kehidupan. (WHO,
1996)
4. Sepsis merupakan suatu proses berkelanjutan mulai dari infeksi, SIRS (Systeic
Inflammatory Respopnse Syndrome), sepsis, sepsis berat, syok septic, disfungsi
multiorgan dan akhirnya kematian.
2.2 Klasifikasi
Berdasarkan waktu terjadinya, sepsis neonatus dapat dibagi menjadi dua
bentuk (Maryunani, 2009) yaitu:
a. Sepsis dini/Sepsis awitan dini
b. Merupakan infeksi perinatal yang terjadi segera dalam periode setelah lahir
(kurang dari 72 jam) dan biasanya diperoleh pada saat proses kelahiran atau
in utero
c. Sepsis lanjutan/sepsis nasokomial atau sepsis awitan lambat (SAL)

3
d. Merupakan infeksi setelah lahir (lebih dari 72jam) yang diperoleh dari
lingkungan sekitar atau rumah sakit (infeksi nasokomial)
2.3 Etiologi
Penyebab sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri,
virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri
seperti Acinetobacter sp, Enterobacter sp, Pseudomonas sp, serratia sp, Escerichia
Coli, Group B streptococcus, Listeria sp, dan lain-lain. (Maryunani, 2009)
Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis
pada neonatus adalah:
a. Perdarahan
b. Demam yang terjadi pada ibu
c. Infeksi pada uterus dan plasenta
d. Ketuban pecah dini (sebelum usia kehamilan 37 minggu)
e. Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum
melahirkan)
f. Proses kelahiran yang lama dan sulit
2.4 Patofisiologi
Sepsis dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan
endotoksin oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium, perubahan
ambilan dan penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan
kekacauan metabolik yang progresif. Pada sepsis yang tiba-tiba dan berat,
menimbulkan banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan
perfusi jaringan, asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminated
intravaskuler coagulation (DIC) dan kematian.
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus
melalui beberapa cara (Surasmi, 2003), yaitu :
a. Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Pada masa antenatal kuman dari ibu
setelah melewati plasenta dan umpilikus masuk kedalam tubuh bayi melalui
sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus
plasenta,antara lain virus rubella, herpes, situmegalo, koksari, hepatitis, influenza,
parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini, antara lain malaria, sifilis, dan
toksoplasma.

4
b. Pada masa intranatal atau saat pesalinan. Infeksi saat persalinan terjadi karena
kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai korion dan amnion.
Akibatnya, terjadi amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilikus
masuk ke tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah
terinfeksi dapat terinhalasi oleh bayi dan masuk ke tyraktus digestivus dan trakus
respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui
cara tersebut diaras infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau port de
entre lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (misalnya
herpes genitalis, candida albika, dan n.gonnorea).
c. Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah
kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim
(misalnya melalui alat-alat: penghisap lendir, selang endotrakea, infus, selang
nasogastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut
menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.Infeksi juga
dapat terjadi melalui luka umbilikus.

WOC
SEPSIS NEUNATORUM

Melalui air ketuban ibu bakteri Bakteri

Masuk kedalam tubuh janin organ hati infeksi pada ibu

Terjadi infeksi awal muntah,diare malas menghisap

Infeksi kuman menyebar Gangguan nutrisi

infeksi

5
2.5 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala sepsis neonatorum umumnya tidak jelas dan tidak spesifik
serta dapat mengenai beberapa sistem organ. Berikut ini adalah tanda dan gejala
yang dapat ditemukan dapa neonatus yang menderita sepsis.
a. Gangguan nafas seperti serangan apnea, takipnea dengan kecepatan pernafasan
>60x/menit, cuping hidung, sianosis, mendengus, tampak merintih, retraksi dada
yang dalam: terjadi karena adanya lesi ataupun inflamasi pada paru-paru bayi akibat
dari aspirasi cairan ketuban ibu. Aspirasi ini terjadi saat intrapartum dan selain itu
dapat menyebabkan infeksidengan perubahan paru, infiltrasi, dan kerusakan
jaringan bronkopulmonalis. Kerusakan ini sebagian disebabkan oleh pelepasan
granulosit dari protaglandin dan leukotrien.
b. Penurunan kesadaran, kejang, ubun-ubun besar menonjol, keluar nanah dari
telinga, ekstensor kaku: terjadi karena sepsis sudah sampai ke dalam manifestasi
umum dari infeksi sistem saraf pusat. Keadaan akut dan kronis yang berhubungan
dengan organisme tertentu. Apabila bayi sudah mengalami infeksi pada selaput otak
(meningitis) atau abses otak menyebabkan penurunan kesadaran, hal tersebut juga
menyebabkan ubun-ubun besar menonjol (berisi cairan infeksi) dan keluarnya
nanah dari telinga. Dalam hal terganggunya sistem saraf pusat ini kemungkinan
terjadi gangguan saraf yang lain seperti ekstensor kaku.
c. Hipertermia (> 37,7oC) atau hipotermi (<35,5oC) terjadi karena respon tubuh bayi
dalam menanggapi pirogen yang disekresikan oleh organisme bakteri atau dari
ketidakstabilan sistem saraf simpatik.
d. Tidak mau menyusu dan tidak dapat minum adalah respon keadaan psikologis
bayi yang tidak menyenangkan terhadap ketidakstabilan suhu tubuhnya, serta nanah
yang keluar dari telinga
e. Kemerahan sekitar umbilikus terjadi karena bakteri dapat bertumbuh tidak
terkendali di saluran pencernaan, apalagi jika penyebab sepsis pada bayi terjadi
dimulai dari infeksi luka umbilikus.
Berdasarkan manifestasi klinis yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan
bahwa tanda dan gejala pada bayi yang mengalami sepsis neonatorum saling

6
berhubungan baik dari perjalanan infeksi, proses metabolik, dan tanda neurologi
bahkan psikologinya saling berhubungan.
2.6 Komplikasi
a. Hipoglikemia, hiperglikemia, asidosis metabolik, dan jaundice
Bayi memiliki kebutuhan glukosa meningkat sebagai akibat dari keadaan
septik. Bayi mungkin juga kurang gizi sebagai akibat dari asupanenergi yang
berkurang. Asidosis metabolik disebabkan oleh konversi ke metabolisme anaerobik
dengan produksi asam laktat, selain itu ketika bayi mengalami hipotermia atau tidak
disimpan dalam lingkungan termal netral, upaya untuk mengatur suhu tubuh dapat
menyebabkan asidosis metabolik. Jaundice terjadi dalam menanggapi terlalu
banyaknya bilirubin yang dilepaskan ke seluruh tubuh yang disebabkan oleh organ
hati sebagian bayi baru lahir belum dapat berfungsi optimal, bahkan disfungsi hati
akibat sepsis yang terjadi dan kerusakan eritrosit yang meningkat.
b. Dehidrasi
Kekuarangan cairan terjadi dikarenakan asupan cairan pada bayi yang kurang,
tidak mau menyusu, dan terjadinya hipertermia..
c. Hiperbilirubinemia dan anemia
Hiperbilirubinemia berhubungan dengan penumpukan bilirubin yang
berlebihan pada jaringan. Bilirubin dibuat ketika tubuh melepaskan sel-sel darah
merah yang sudah tua, ini merupakan proses normal. Bilirubin merupakan zat hasil
pemecahan hemoglobin (protein sel darah merah yang memungkinkan darah
mengakut oksigen). Hemoglobin terdapat pada sel darah merah yang dalam waktu
tertentu selalu mengalami destruksi (pemecahan). Namun pada bayi yang
mengalami sepsis terdapat infeksi oleh bakteri dalam darah di seluruh tubuh,
sehingga terjadi kerusakan sel darah merah bukanlah hal yang tidak mungkin, bayi
akan kekurangan darah akibat dari hal ini (anemia) yang disertai hiperbilirubinemia
karena seringnya destruksi hemoglobin sering terjadi.
d. Meningitis
Infeksi sepsis dapat menyebar ke meningies (selaput-selaput otak) melalui
aliran darah.
e. Disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC)

7
Kelainan perdarahan ini terjadi karena dipicu oleh bakteri gram negatif yang
mengeluarkan endotoksin ataupun bakteri gram postif yang mengeluarkan
mukopoliskarida pada sepsis. Inilah yang akan memicu pelepasan faktor
pembekuan darah dari sel-sel mononuklear dan endotel. Sel yang teraktivasi ini
akan memicu terjadinya koagulasi yang berpotensi trombi dan emboli pada
mikrovaskular.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Radiografi pada dada seharusnya dilakukan sebagai bagian dari evaluasi
diagnostik dari bayi yang diduga sepsis dan tanda-tanda penyakit saluran
pernapasan. Dalam kasus ini, radiografi dada
dapat menunjukkan difusi atau infiltrat fokus, penebalan pleura, efusi atau
mungkin menunjukkan broncograms udara dibedakan dari yang terlihat
dengan sindrom gangguan pernapasan surfaktan-
kekurangan.Studi radiografi lainnya dapat diindikasikan dengan kondisi
klinis spesifik, seperti diduga osteomyelitis atau necrotizing enterocolitis(McMilla
n, 2006)
Pemeriksaan labolatorium perlu dilakukan untuk menunjukan penetapan
diagnosis. Selain itu, hasil pemeriksaan tes resistensi dapat digunakan untuk
menentukan pilihan antibiotik yang tepat. Pada hasil pemeriksaan darah tepi,
umumnya ditemuksan anemia, laju endap darah mikro tinggi, dan trombositopenia.
Hasil biakan darah tidak selalu positif walaupun secara klinis sepsis sudah jelas.
Selain itu, biakan perlu dilakukan terhadap darah, cairan serebrospinal, usapan
umbilikus, lubang hidung, lesi, pus dari konjungtiva, cairan drainase atau hasil
isapan isapan lambung. Hasil biakan darah memberi kepastian adanya sepsis,
setelah dua atau tiga kali biakan memberikan hasil positif dengan kuman yang
sama. Bahan biakan darah sebaiknya diambil sebelum bayi diberi terapi
antibiotika. Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan, antara lain pemeriksaan C-
Reactive protein (CRP) yang merupakan pemeriksaan protein yang disentetis di
hepatosit dan muncul pada fase akut bila terdapat kerusakan jaringan. (Surasmi,
2003)

8
2.8 Penatalaksanaan
a. Perawatan suportif
Perawatan suportif diberikan untuk mempertahankan suhu
tubuh normal, untuk menstabilkan status kardiopulmonary, untuk
memperbaiki hipoglikemia dan untuk mencegah kecenderungan perdarahan.
Perawatan suportif neonatus septik sakit (Datta, 2007)meliputi sebagai berikut:
1. Menjaga kehangatan untuk memastikan temperature. Agar bayi tetap normal
harus dirawat di lingkungan yang hangat. Suhu tubuh harus dipantau secara
teratur.
2. Cairan intravena harus diperhatikan. Jika neonatus mengalami perfusi yang
jelek, maka saline normal dengan 10 ml / kg selama 5 sampai 10 menit.
Dengan dosis yang sama 1 sampai 2 kali selama 30 sampai 45 menit
berikutnya, jika perfusi terus menjadiburuk. Dextrose (10%) 2 ml per kg pil
besar dapat diresapi untuk memperbaiki hipoglikemia yang adalah biasanya
ada dalamsepsis neonatal dan dilanjutkan selama 2 hari atau sampai bayi dapat
memiliki feed oral.
3. Terapi oksigen harus disediakan jika neonatus mengalami distres pernapasan
atau sianosis
4. Oksigen mungkin diperlukan jika bayi tersebut apnea atau napas tidak
memadai
5. Vitamin K 1 mg intramuskular harus diberikan untuk mencegah gangguan
perdarahan
6. Makanan secara enteral dihindari jika neonatus sangat sakit
atau memiliki perut kembung. Menjaga cairan harus dilakukandengan
infus IV.
7. Langkah-langkah pendukung
lainnya termasuk stimulasi lembut fisik, aspirasi nasigastric, pemantauan
ketat dan konstan kondisibayi dan perawatan ahli
b. Terapi pengobatan
Prinsip pengobatan pada sepsis neonatorum adalah mempertahankan
metabolisme tubuh dan memperbaiki keadaan umum dengan pemberian cairan

9
intravena termasuk kebutuhan nutrisi dan monitor pemberian antibiotik hendaknya
memenuhi kriteria efektif berdasarkan pemantauan mikrobiologi, murah dan mudah
diperoleh, dan dapat diberi secara parental. Pilihan obat yang diberikan adalah
ampisilin, gentasimin atau kloramfenikol, eritromisin atau sefalosporin atau obat
lain sesuai hasil tes resistensi. (Sangayu, 2012)

2.9 Pencegahan
Sepsis neonatorum adalah penyebab kematian utama pada neonatus.tanpa
pengobatan yang memadai, gangguan ion dapat menyebabkan kematian dalam
waktu singkat. Oleh karena itu, tindakan pencegahan mempunyai arti
penting karena dapat mencegah terjadinya kesakitan dan kematian (Surasmi, 2003)
Tindakan yang dapat dilakukan (Surasmi, 2003) adalah :
a. Pada masa antenatal. Pada masa antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu
secara bekala,imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita
ibu,asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat
menurunkan kesehatan ibu dang jani, rujukan segera ke tempat pelayanan yang
memadai bila diperlukan.
b. Pada saat persalinan. Perawatan ibu selama persdalinan dilakukan secara
aseptik, dalam arti persalinan piperlakukan sebagai tindakan operasi. Tindakan
intervensi pada ibu dan bayi seminimal mungkindilakukan ( bila benar-benar
diperlukan ). Mengawasi keadaan ibu dan janin yang baik selama proses
persalinan,melakukan rujukan secepatnya bila diperlukan, dan menghindari
perlukaan kulit dan selaput lendir.
c. Sesudah persalinan. Perawatan sesudah lahir meliputi menerapkan rawat
gabung bila bayi normal,penberiab ASI secepatnya,mengupayakan lingkungan
dan peralatan tetap persih, setiap bayi menggunakan peralatan sendiri.
Perawatan luka umbilikus secara steril. Tindakan infasif harus dilakukan
dengan prinsip – prinsip aseptik. Menghindari perlukaan selaput lendir dan
kulit, mencuci tangan dengan menggunakan larutan desinfektan sebelum dan
sesudah memegang setiap bayi. Pemantauan keadaan bayi secara teliti disertai
pendokumentasian data-data yang benar dan baik. Semua personel yang
menangani atau bertugas dikar bayi harus sehat. Bayi yang berpenyakit menular

10
harus diisolasi. Pemberian antibiotik secara rasional, sedapat mungkin memalui
pemantauan mikrobiologi dan tes resistensi.

2.10 Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan melalui anamnesis untuk mendapatkan data, yang
perlu dikaji adalah identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
perawatan antenatal, adanya/tidaknya ketuban pecah dini,partus lama atau
sangat cepat (partus presipitatus). Riwayat persalinan di kamar bersalin, ruang
operasi, atau tempat lain. Ada atau tidaknya riwayat penyakit menular seksual
(sifilis, herpes klamidia, gonorea, dll). Apakah selama kehamilan dan saat
persalinan pernah menderita penyakit infeksi (mis. Toksoplasmosis,rubeola,
toksemia gravidarum, dan amnionitis). Mengkaji tatus sosial ekonomi keluarga.
Pada pemeriksaan fisik data yang akan ditemukan meliputi letargi
(khususnya setelah 24 jam petama), tidak mau minum atau refleks mengisap
lemah, regurgitasi, peka rangsang, pucat, berat badan berkurang melebihi
penurunan berat badan secara fisiologis, hipertermi/hipotermi, tampak ikterus.
Data lain yang mungkin ditemukan adalah hipertermia,pernapasan
mendengkur, takipnea, atau apnea, kulit lembab dan dingin, pucat, pengisian
kembali kapiler lambat, hipotensi, dehidrasi, sianosis. Gejala traktus
gastrointestinal meliputi muntah, distensi abdomen atau diare.
2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Intoleran terhaap
makanan/minuman
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan Intoleran terhaap
makanan/minuman
Kriteria hasil:
- Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
- Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
- Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

11
Intervensi dan Rasional:

INTERVENSI RASIONAL
1. Monitor adanya penurunan berat badan Anoreksia ataupun intoleran terhadap
makanan atau minuman dapat
menyebabkan terjadinya penurunan
berat badan
2. Identifikasi makanan kesukaan Meningkatkan selera klien terhadap
makanan atau minuman
3. Anjurkan untuk melakukan oral hygene Menurunkan rasa mual terhadap
sebelum makan makanan

4. Monitor intake cairan dan nutrisi Kekurangan cairan dapat


menyebabkan dehidrasi dan hiper
termi. Kekurangan nutrisi dapat
menyebabkan terjadinya penurunan
berat badan
5. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi Protein dan vitamin C berperan
makanan yang berprotein dan vitamin C penting dalam penyembuhan yang
berkaitan dengan infeksi
6. Yakinkan diet yang dimakan juga Kekurangan serat dapat menyebabkan
mengandung tinggi serat konstipasi

7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk Mengidentifikasi masalah nutrisi


menentukan jumlah kaloriyang dibutuhkan dalam terapi perawatannya
pasien

4. Implementasi
Mengacu pada masalah dalam intervensi yang belum bisa ditanggulangi.

5. Evaluasi
Mengacu pada kriteria hasil

12
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Asuhan keperawtan

Nama Klien : By. Ny.N Diangnosa Medic : Sepsis Neonatorum

Tanggal : 02 November 2017 Ruang : Mawar

Gestasi : 28 minggu No. RM : 27.65.89

Data – data Masalah keperawatan dan kolaborasi

1. Pernafasan

Spontan :  Ya Tidak
Tidak Ada Masalah Keperawatan
Frekuensi :45Kali/Mnt

Oksigen : Nasal Head


  Resiko/Aktual Pola Nafas Tidak Efektif
Box Cat  

SaturasiOksigen : % 
Nilai Apgar : 
  Resiko/Aktual Bersihan Jalan Nafas
Umur Kehamilan : 14 hari

Tidak Efektif
Ketuban :

 Dipecahkan Pecah Sendiri Jam : :

Warna Air Ketuban :


Resiko/Aktual Gangguan Pertukaran Gas
Jernih Keruh Hijau

Keadaan Saat Ini :

Lendir Sesak Retraksi Lain-lain

13
Terpasang WSD Sianosis Wheezing

Ronchi Continous Suction

Alat Bantu Nafas :

ETT Ventilator CPAP

Hasil Analisis Gas Darah :

AsidosisRespiratorik

Asidosis Metabolic

Alkalosis Respiratorik

Alkalosis Metabolic

Keterangan :

Pola Nafas Tidak Efektif

2. Sirkulasi

Tekanan Darah - Mmhg


 Tidak Ada Masalah Keperawatan
Tid
Nadi 120 Kali/Mnt  Reguler Irreguler

Pengisian Kembali Kapiler <2Detik


Resiko/Aktual Gangguan Perfusi
Denyut ArteriFermoralis:

Kanan :  Kuat Lemah Jaringan

Kiri :  Kuat Lemah

Ekstremitas
Resiko/Aktual Terjadi Syok
 Hangat Dingin Sianosis

Pendarahan : Ya  Tidak
Keadaan Saat Ini :
Resiko/Aktual Terjadi Pendarahan
Edema  Lemah  Pucat

UAV : Ya Tidak

UVC : Ya Tidak Lain-lain

Perifer :

14
Intravena :Ya Tidak

Intra Arteri :Ya Tidak

Hasil Laboratorium :

Anemia Trombositopenia

Leukositosis Hipoproteinemia

Keterangan : WBC 18.45x10^3/ul

Infeksi

3. Makanan, Cairan dan Elektrolit

Umur : 14 Hari
 Ada Masalah Keperawatan
Tid
Diet: Asi

Berat Badan Lahir : 1100 gr


Resiko/Aktual  Gangguan Kebutuhan
Berat Badan Masuk : 1100gr

Berat Badan Masuk Sekarang : 1100gr Nutrisi

BB Naik BB Tidak Berubah BB

Turun
Resiko/Aktual Keseimbangan Cairan
Reflek Rooting :  Ada Tidak

Reflek Saching :  Ada Tidak dan Elektrolit

Keadaan Saat Ini :

Muntah Resid 50% Cms 10%


Resiko/Aktual Gangguan Keseimbangan
Labioschizizs Palatoschizizs

Gnatoschizizs Asam Basa

Labiopalatognatoschizizs Puasa

Abdomen : Supel
Resiko/Aktual Gangguan Selaput mukosa
Kembung Tegang
Mulut

Cara Minum : Dot _ Sonde Lambung

15
Lidah :  Lembab Kering Kotor

Lain-lain
Lain-lain
Selaput Lendir

 Lembab Kering Lesi

Lain-lain

Turgor : Baik  Sedang Buruk

Hasil Laboratorium :

Hipoproteinemia Hipoalbuminemia

Asidosis Metabolic

Hipokalemia Hiponatremia

Alkalosis Metabolic Hipokalsemia

Hipoglikemia

Dexrostik : Normal Low High

Keterangan : Gangguan Kebutuhan Nutrisi

4. Neurosensori

Tingkat Kesadaran :
 Tidak Ada Masalah Keperawatan
Tid
 Berespon Terhadap nyeri
Tidak Berespon Terhadap Nyeri
Resiko/Aktual Terjadinya Injuri
Tangisan :  Kuat Kurang Kuat

Tidak Ada Melengkling

Merintih
Resiko/Aktual Gangguan
Kepala :
Pengembangan
 Lingkar Kepala :30Cm

 Tidak Ada Kelainan Enchepal

Ceptal Hematoma Hydrocephalus


Lain-lain
Caput Succadeneum

16
Perdarahan Ventrikuler

Ubun-Ubun :  Datar Cekung Cembung

Pupil :

 Isokor An Isokor

Tidak Breaksi Terhadap Cahaya

Dilatasi

Gerakan : Lemah Paralisis Aktif

Kejang : Suple Tonik/Klonik

Keterangan :

Tidak ada masalah pada neurosensori

5. Kebersihan Kulit Tidak ada Masalah Keperawatan

Warna Kulit : Kemerahan  Pucat Ikterus

Suhu : Hangat Dingin  Naik Turun


Resiko/Aktual Gangguan Integritas
Turgor :  Baik Buruk

Integritas :  Utuh Kering Kulit

Rash Bullae

Pustule Ptechie Lesi


Resiko/Aktual Infeksi
Mengelupas Kemerahan

Kepala :  Bersih Kotor Bau

Kuku :  Pendek Panjang


Resiko/Aktual Perubahan Suhu tubuh
Secret : Ya Tidak
 Hipotermi
Tali Pusat : Ada Tidak Ada
 Hipertermi
Punting Umblikal :

Kering  Basah Bau Busuk

Kemerahan Push Resiko/Aktual Terjadinya Injuri Internal


Abdomen : Kolostomi Luka Opersi

Keterangan :

17
- Kulit teraba hangat Lain-lain

- Klien tampak dibedong.

- Tali pusat tampak basah.

- Tali pusat tampak dibungkus dengan kasa.

- Tidak ada tanda-tanda infeksi pada tali

pusat (bau, pus, panas, kemerahan )

6. Alat Genital

Perempuan :
Tidak ada Masalah Keperawatan
Vagina : Bersih Kotor

Pseudo Menstruasi : Ya Tidak


Resiko/Aktual baik
Kateter : Ya Tidak

Labia : Prominen : Ya Tidak Eliminasi Baik

Laki-Laki :

Preputium :  Bersih Kotor


Resiko/Aktual Infeksi
Hipospadia : Ya Tidak

Keterangan :

Tidak ada masalah pada alat genital


Lain-lain

7. Eliminsai

A. Buang Air Kecil :


 Tidak Ada Masalah Keperawatan
Frekuensi Bak klien tampak menggunakan

pampers dan diganti sebanyak 2-3 kali/24


Resiko/Aktual Gangguan Keseimbangan
jam
Cairan
Produksi Urine – Cc/Kgbb/Jam

dan Elektrolit
Keadaan Saat Ini :

Retensio Urine Inkontenensia

18
 Jernih Pekat Hematuric Resiko/Aktual Gangguan Keseimbangan

Alat Bantu Yang Digunakan : Asam Basa

Ya, Sebutkan
 Tidak Ada
 Resiko/Aktual Terjadinya Pola Eliminasi
Keterangan Lain :
BAB
B. Buang Air Besar (Bab)

Anus :  Ada Tidak Ada

Keluar Mekonium :4 Jam Setelah Lahir


Lain-lain
Frekuensi Bab 1 x/Hari

Konstanta Feses :

Lembek  Cair Berampas

Cair Tanpa Ampas

Keadaan Saat Ini :

Kembung Kostipasi Iliestomi

Kolostomi Lain-Lain

Keterangan :

Tidak ada masalah pada pola eliminasi

8. Keamanan/Mobilisasi Tidak Ada Masalah Keperawatan

Gerakan :  Aktif Tidak Aktif

Keadaan Saat Ini :


Resiko/Aktual Kurang Dalam Perawatan
Kejang Lemah Paralise
Diri
Gerakan Terbatas Kelemahan Otot
 Makan
Status Klien Masih Bayi
 Berpakaian
Keterangan :

Tidak ada masalah pada keamanan/mobilisasi  Mandi

 Eliminasi

19
Resiko/Aktual Terjadinya Injuri

9. Rasa Nyaman Tidak Ada Masalah Keperawatan

Saat Tidak Disentuh/Disentuh Menangis :


 Keras Melengking Tidak Menangis
Resiko/Aktual Gangguan Rasa Nyaman
Keterangan :

Tidak ada masalah pada rasa nyaman


Lain-Lain

10. Tidur dan Istirahat Tidak Ada Masalah Keperawatan

Lebih Banyak Siang Hari


 Lebih Banyak Malam Hari
Resiko/Aktual Gangguan Pola Tidur
Klien Lebih Banyak :

Tidak Tidur Menangis Tidur

Keterangan : Lain-Lain

Tidak ada masalah keperawatan

11. Psikososial  Tidak ada masalah keperawatan


Persepsi orang tua terhadap klien saat ini
Resiko/Aktual Kurang pengetahuan
Kami orang tua merasa bahagia anak kami telah
orang tua
lahir.
Resiko/Aktual Gangguan Ikatan Kasih
Harapan orang tua terhadap pelayanan
Sayang / Bonding
keperawatan dan pengobatan saat ini.

Kami berharap pelayanan diberikan sebaik-

baiknya.
Resiko Aktual Cemas
Keterangan :

Tidak ada masalah keperawatan pada

Psikososial

20
12. Sosial Ekonomi  ada masalah keperawatan
Tidak

Biaya Perawatan :
Resiko Aktual Perubahan peran orang
Ditanggung Sendiri
tua
Ditanggung sendiri
Resiko Aktual Cemas akan biaya
Dll, sebutkan : umum
perawatan
Status Anak :
 Diharapkan Resko/Aktual Gangguan Pola Eliminasi

Tidak diharapkan BAB

Orang Tua
Lain-lain
Berkunjung  : Ya Tidak

Kontak Mata  Ya Tidak

Menyentuh  Ya Tidak

Berbicara  Ya Tidak

Menggendong

Yang akan merawat bayi di rumah :

 Ibu Nenek Pengasuh

13. Agama Orang Tua  Tidak ada masalah keperawatan


Islam Kristen Hindu
Resiko / Aktual Gangguan

Budha Lain-lain menumbuhkan Semangat

Adakah hal-hal yang mempengaruhi agama

dalam :
Resiko / Aktual Gangguan
Diet misalnya …………………….
Spiritual
Pengobatan misalnya ………

Keterangan : Tidak ada

Lain-lain

21
*) Coret yang tidak perlu Pengkajian dilakukan oleh :

Nama : Rendi Kaharap

Tanggal : Senin,13 November 2017

Tanda Tangan :

Pukul : 15;30. WIB

ANALISIS DATA

DATA SUBYEKTIF DAN DATA KEMUNGKINAN


MASALAH
OBYEKTIF PENYEBAB

1. DS : Nenek klien mengatakan Sepsis Infeksi

cucnya nya lahir dengan berat

badan rendah,dengan lahir secara


Melalui air ketuban ibu
normal. Serta warna kulit pucat, bakteri
DO : - kulit bayi tampak pucat

- WBC 18.45x10^3/ul
Masuk kedalam tubuh
- Ttv : Suhu : 38,5 c
janin organ hati
Nadi : 14 x/mnt

RR : 60 x/mnt
Terjadi infeksi awal

Infeksi kuman menyebar

Infeksi

22
Sepsis neonatorum Gangguan

pemenuhan nutrisi
2. DS : Nenek klien mengatakan
kurang dari
klien tampak kurus dengan berat Bakteri
kebutuhan tubuh
badan klien 1100gr dan lien

tampak memuntahkan air susu


Infeksi pada ibu
yang diberikan perawat

DO :
Muntah diare malas
- Tampak klien kurus menghisap
- Berat badan klien

1100gr

- Tinggi badan klien Gangguan nutrisi

39cm

- Bayi tampak lemah

- Bayi tampak pucat

- Klien tampak

memuntahkan air susu

yang diberikan oleh

perawat.

23
PRIORITAS MASALAH

1. Infeksi b/d penyakit penyakit sepsis Neonatorum ditandai dengan :

 kulit bayi tampak pucat

 WBC 18.45x10^3/ul

 TTV : Suhu : 38,5 c

o Nadi : 14 x/mnt

o RR : 60 x/mnt
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penyakit sepsis
Neonatorum ditandai dengan :

 Tampak klien kurus

 Berat badan klien 1100gr

 Tinggi badan klien 39cm

 Bayi tampak lemah

 Bayi tampak pucat

 Klien tampak memuntahkan air susu yang diberikan oleh perawat.

24
RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien: By. Ny. N

Ruang Rawat: Rg. Mawar

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional

1. Infeksi b/d Setelah diberikan tindakan 1. Observasi ttv 1. Untuk mengetahui keadaan umum klien

penyakit keperawatan 2x24 jam 2. Berikan isolasi/pantau 2. Isolasi luka linen dan mencuci tangan adalah
penyakit sepsis diharapkan infeksi pada bayi pengunjung sesuai indikasi yang dibutuhkan untuk mengalirkan luka,
Neonatorum 3. Dorong penggantian posisi sementar pengunjung untuk menguranagi
dapat tersatasi dengan
4. Pantau kecendrungan suhu kemungkinan infeksi.
krateria hasil :
5. Kalaborasi dengan dokter 3. Bersihkan paru yang baaik untuk mencegah
- Warna kulit klien
pneumonia
normal 4. Demam disebabkan oleh efek dari
- WBC dalam batas endotoksinhipotalkus dan endofrin yang
normal 4.00- melepaskan pirogen.

20.00 5. Untuk dilakuakan tindakan pengobatan

- Suhu badan bayi

dalam batas

normal 36,5c.
RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien: By. Ny. N

Ruang Rawat: Rg. Mawar

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria Hasil) Intervensi Rasional

2. Nutrisi kurang Setelah diberikan tindakan 1. Observasi tanda-tanda vital 1 Untuk mengetahui perkembangan klien
dari kebutuhan keperawatan 2x24 jam 2. Monitor adanya penurunan berat 2 Anoreksia ataupun intoleran terhadap makanan
berhubungan badan atau minuman dapat menyebabkan terjadinya
diharapkan nutrisi bayi
dengan penyakit 3. Timbang berat badan klien penurunan berat badan
kembali terpenuhi kriteria
sepsis
4. Kolaborasi dengan dokter dan ahli 3 Peningkatan berat badan penting untuk
hasil :
Neonatorum
gizi mengetahui pemenuhan status nutrisi
. - - Adanya peningkatan
berat badan 4 Untuk menentukan intervensi selanjutnya serta

- - Berat badan ideal sesuai untuk memenuhi kenbutuhan nutrisi klien.


dengan tinggi badan
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Nama Klien: By. Ny. N

Ruang Rawat: Rg. Mawar

Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan dan


nama perawat

Senin,13 1. Mengobservasi ttv S : Nenek klien mengatakan cucunya nya lahir dengan berat badan

november 2017 2. Memberikan isolasi/pantau rendah,dengan lahir secara normal. Serta warna kulit pucat,
pengunjung sesuai indikasi O : - kulit bayi tampak pucat
Pukul 15.30
3. Mendorong penggantian
- WBC 18.45x10^3/ul
WIB
posisi
- TTV : Suhu : 38,5 c
4. Memantau kecendrungan
Nadi : 14 x/mnt
suhu
5. Berkalaborasi dengan RR : 60 x/mnt

dokter A : Masalah belum teratasi

P : Lanjut intervensi
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
Nama Klien: By. Ny. N

Ruang Rawat: Rg. Mawar

Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan dan


nama perawat

Senin,13 1 Mengobservasi tanda-tanda S : - Nenek klien mengtakan bayi .Ny N masih kurus dengan berat

november 2017 vital badan masih 1100gr dan lien tampak memuntahkan air susu yang

2 Memonitor adanya penurunan diberikan perawat


Pukul 15.30
berat badan O : Tampak klien kurus
WIB
3 Menimbang berat badan klien
- Berat badan klien 1100gr
4 Berkolaborasi dengan dokter
- Tinggi badan klien 39cm
dan ahli gizi
- Bayi tampak lemah

- Bayi tampak pucat

- Klien tampak memuntahkan air susu yang diberikan

oleh perawat.

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjut intervensi
CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Klien: By. Ny. H

Ruang Rawat: Rg. Mawar

Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan

dan nama

perawat

Selasa, 14 november 2017 1. Mengobservasi ttv S : Nenek klien mengatakan cucunya nya lahir

Pukul 08.00 WIB 2. Memberikan isolasi/pantau dengan berat badan rendah,dengan lahir secara
pengunjung sesuai indikasi normal. Serta warna kulit pucat,
3. Membantu penggantian posisi
O : - kulit bayi tampak pucat
4. Memantau kecendrungan suhu
- WBC 18.45x10^3/ul
5. Berkalaborasi dengan dokter
- TTV : Suhu : 38,5 c

Nadi : 14 x/mnt

RR : 60 x/mnt

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjut intervensi
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Klien: By. Ny. H

Ruang Rawat: Rg. Mawar

Hari/ Tanggal/ Jam Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda tangan dan

nama perawat

Selasa, 14 november 2017 1. Mengobservasi tanda- S : - Nenek klien mengtakan bayi .Ny N masih

Pukul 08.00 WIB tanda vital kurus dengan berat badan masih 1100gr dan

2. Memonitor adanya lien tampak memuntahkan air susu yang


penurunan berat badan diberikan perawat
3. Menimbang berat badan
O : Tampak klien kurus
klien
- Berat badan klien 1100gr
4. Berkolaborasi dengan
- Tinggi badan klien 39cm
dokter dan ahli gizi
- Bayi tampak lemah

- Bayi tampak pucat

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi.