Vous êtes sur la page 1sur 29

MAKALAH TELAAH JURNAL

MANAJEMEN TRIAGE DI UGD RSJD Dr.AMINO GONDO HUTOMO

Di susun Oleh:

ENTIE ROSELA S P1337420917012


DEVI SULISTYA RINI P1337420917010
NILUH MADE W. P1337420917029
TRI HARDANI P1337420917002

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKESSEMARANG
2017
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

A. LATAR BELAKANG
Gangguan kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan
masyarakat dan sosial di Indonesia dan cenderung meningkat dari tahun ke
tahun. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan seseorang baik fisik,
internal dan emosional untuk tercapainya kemampuan menyesuaikan diri
dengan diri sendiri, orang lain dan masyarakat. Seperti yang dijelaskan
oleh Stuart dan Sundeen (2005) bahwa ketika manusia tidak dapat
beradaptasi dengan lingkungan, maka akan terjadi gangguan kesehatan
yaitu kesehatan jiwa atau mental.
Berdasarkan Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat
(Binkesmas) Depertemen Kesehatan dan World Health Organization (WHO)
tahun 2010 menunjukkan tidak kurang dari 450 juta penderita gangguan jiwa
ditemukan di dunia. Isolasi sosial merupakan gangguan konsep diri dimana klien
menganggap dirinya selalu rendah, sebanyak 5-7% dari populasi didunia
menderita isolasi sosial. Depertemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010,
menyatakan jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta yang
terdiri dari pasien isolasi sosial, diperkirakan sekitar 60% menderita isolasi sosial
di Indonesia.
Gangguan jiwa di Indonesia menjadi masalah yang cukup serius.
Berdasarkan data Depkes (2001) ada satu dari lima penduduk Indonesia
menderita gangguan jiwa. Data dari WHO pada tahun 2006, terdapat 26 juta
penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data tersebut dapat
disimpulkan bahwa angka gangguan jiwa di Indonesia mencapai 12% - 16% dari
populasi penduduk. Hasil SKMRT menunjukan gangguan mental emosional pada
usia diatas lima belas tahun adalah 140 orang per 1.000 penduduk dan usia lima
sampai empat belas tahun sebanyak 104 orang per 1.000 penduduk (Maramis,
2006).
World Health Organization (WHO) menyebutkan masalah utama
gangguan jiwa di dunia adalah skizofrenia, depresi unipolar, penggunaan alkohol,
gangguan bipolar, gangguan obsesis kompulsif (Stuart & Laraia, 2005).
Skizofrenia adalah gangguan pada otak dan pola pikir (Torrey, 1997 dalam
Carson, 2003). Skizofrenia mempunyai karakteristik dengan gejala positif dan
negatif. Gejala positif antara lain thought echo, delusi, halusinasi. Gejala negatif
seperti : sikap apatis, bicara jarang, afek tumpul, menarik diri. Gejala lain dapat
bersifat non-skizofrenia meliputi kecemasan, depresi dan psikosomatik.
Perilaku yang sering muncul pada klien skizofrenia: motivasi kurang
(81%), isolasi sosial (72%), perilaku makan dan tidur buruk (72%), sukar
menyelesaikan tugas (72%), sukar mengatur keuangan (72%), penampilan tidak
rapih (64%), lupa melakukan sesuatu (64%), kurang perhatian pada orang lain
(56%), sering bertengkar (47%), bicara pada diri sendiri (41%), dan tidak teratur
makan obat (47%) (Stuart & Larai, 2005). Dari data diatas mengindikasikan
isolasi sosial adalah salah satu perubahan yang muncul pada skizofrenia. Isolasi
sosial adalah suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan
terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negatif atau keadaan yang mengancam
(Nanda, 2005).
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa isolasi sosial adalah kegagalan
individu dalam melakukan interaksi dengan orang lain yang disebabkan oleh
pikiran negatif atau mengancam. Seseorang dapat dikatakan mengalami
gangguan isolasi sosial jika individu tersebu: menarik diri, tidak komunikatif,
menyendiri, asyik dengan pikiran dan dirinya sendiri, tidak ada kontak mata,
sedih, afek tumpul, perilaku bermusuhan, menyatakan perasaan sepi atau ditolak,
kesulitan membina hubungan di lingkungannya, menghindari orang lain dan
mengungkapkan perasaan tidak dimengerti orang lain. Jika perilaku isolasi sosial
tidak ditangani dengan baik dapat dapat menurunkan produktifitas individu dan
menjadikan beban bagi keluarga ataupun masyarakat.
Secara medis tidak ada penggolongan untuk masalah gangguan isolasi
sosial. Isoalasi sosial menjadi tanda dan gejala dari gangguan jiwa. Tanda gejala
utama klien dengan episode depresi adalah sedih yang mendalam, berkurangnya
energi dan menurunnya aktivitas gejala tambahan yang meliputi adalah harga diri
rendah , kepercayaan diri kurang, rasa bersalah, pesimis, tidur terganggu, tidak
nafsu makan (Maslam, 2003).
Isolasi sosial tidak hanya berdampak secara individu pada klien yang
mengalami tetapi juaga pada sistim klien secara keseluruhan yaitu keluarga dan
lingkungan sosialnya. Isolasi sosial dapat menurunkan produktifitas atau
berdampak buruk pada fungsi di tempat kerja, karena kecenderungan klien
menarik diri dari peran dan fungsi sebelum sakit, membatasi hubungan sosial
dengan orang lain dengan berbagai macam alasan.
Beban yang ditimbulkan oleh gangguan jiwa sangat besar. Hasil studi
Bank Dunia menunjukkan, global burden of disease akibat masalah kesehatan
jiwa mencapai 8,1 persen, jauh lebih tinggi dari tuberklosis (72%), kanker (58%),
penyakit jantung (4,4 %), atau malaria (2,6%) (Kompas, 2007). Menurut Chandra
(2001), Health and Behaviour Advisordari WHO Wilayah Asia Tenggara
(WHOSEARO), meski bukan penyebab utama kematian, gangguan jiwa
merupakan penyebab utama disabilitas pada kelompok usia paling produktif,
yakni antara 15 – 44 tahun. Dampak sosial berupa penolakan, pengucilan, dan
diskriminasi. Begitu pula dampak ekonomi berupa hilangnya hari produktif untuk
mencari nafkah bagi penderita maupun keluarga yang harus merawat, serta
tingginya biaya perawatan yang harus ditanggung keluarga maupun masyarakat.

B. Pengertian
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. Selain itu
menarik diri merupakan suatu tindakan melepaskan diri baik perhatian
maupun minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung (isolasi diri)
(Stuart dan Sundeen, 2009).
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlin,
2007).
Perilaku menarik diri adalah suatu usaha menghindari interaksi
dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab
dan tidak menyadari kesempatan untuk berhubungan secara spontan
dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri,
tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang
lain (Budi Anna Keliat, 2009).
Isolasi sosial ( menarik diri) merupakan keadaan dimana seseorang
individu berpartisipasi dalam kuantitas yang tidak cukup atau berlebihan
atau kualitas sosial yang tidak efektif. ( Towsend, 2008).

C. Etiologi
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
1. Faktor Predisposisi:
a. Faktor tumbuh kembang
Pada masa tumbuh kembang, individu mempinyai tugas
poerkembangan yang mesti dipenuhi, dan setiap tahap perkembangan
mempunyai spesifikasi sendiri. Bila tugas dalam perkembangan
selanjutnya dan terjadi gangguan hubungan sosial ( Stuart & Sundeen,
2005)

b. Faktor Biologik
Faktor Keturunan juga merupakan faktor pendukung terjadinya
gangguan dalam berhubungan sosial dengan tubuh yang jelas
mengalami adalah otak, contoh pada pasien skizophrenia terdapat
struktur abnormal otak.
c. Faktor Sosial Cultural
Mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan faktor
pendukung terjadinya gangguan berhubungan sosial, hal ini
dikarenakan norma-norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap
orang lain atau adanya anggota masyarakat yang tidak produktif
diasingkan dari lingkungan sosialnya
d. Faktor komunikasi dalam keluarga
2. Faktor Presipitasi:
a. Stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya antara lain
menurunnya stabilitas unit keluarga berpisah dengan orang yang
berarti dalam kehidupannya
b. Stressor Psikologis
Adanya kecemasan berat yang berkepanjangan yang terjadi
bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya.
Tuntutan ber[isah untuk orang terdekat atau kegagalan untuk
memenuhi kebutuhan dapat menimbulkan kecemasan yang tinggi.
( Stuart & Sunden, 2005: 349)

D. Manifestasi Klinis
i. Apatis
ii. Ekspresi wajah sedih
iii. Afek tumpul
iv. Menghindar dari orang lain
v. Klien tampak memisahkan diri dengan orang lain
vi. Komunikasi kurang
vii. Kontak mata kurang
viii. Berdiam diri
ix. Kurang mobilitas
x. Gangguan pola tidur (Tidur berlebihan/ kurang tidur)
xi. Mengambil posisi tidur seperti janin
xii. Kemunduran kesehatan fisik
xiii. Kurang memperhatikan keperawatan diri

Batasan karakteristik menurut Towsend, Isolasi sosial : menarik diri


dibuktikan dengan :
1. Menyendiri dalam ruangan
2. Sedih
3. Berpikir tentang sesuatu menurut pikirannya sendiri
4. Melakukan pengulangan tindakan yang tidak bermakna
c. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian kepada orang
lain
E. Pohon Masalah
Perubahan Persepsi sensori : halusinasi akibat

Isolasi sosial : menarik diri Care problem

Gangguan konsep diri Harga diri rendah situasional Penyebab

a. Fokus Pengkajian
i. Data mayor:
1. Subjektif : - Mengatakan malas berinteraksi
- Mengatakan orang lain tidak mau menerima dirinya
2. Objektif : - Menyendiri dalam ruangan
a. Tidak bisa memulai pembicaraan
b. Tidak mau berkomunikasi dengan oramg
lain
c. Tidak melakukan kontak mata
ii. Data minor:
1. Subjektif : - Curiga dengan oranglain
a. Mendengar suara-suara, melihat bayangan
b. Merasa malu untuk berbicara dengan orang
lain
c. Merasa sedih, takut bebbicara dengan oramg
lain
2. Objektif : - Mematung
a. Mondar-mandir
b. Tidak berinisiatif berhubungan denga orang
lain
c. Banyak menunduk saat diajak berbicara
(Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa)

F. Diagnosa Keperawatan
-Isolasi sosial : Menarik diri
- Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
- Perubahan persepsi sensori : Halusinasi

G. Intervensi Keperawatan
Strategi pelaksanaan Tindakan Keperawatan:
Pasien
SP1pasien
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
2. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraski dengan orang
lain
3. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan
orang lain
4. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
5. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang
dengan orang lain dalam kegiatan harian
SPII pasien
1. Mengevaluasi kegiatan jadwal harian pasien
2. Memberikan kesempatam pada pasien mempraktekan cara berkenalan
dengan satu orang
3. Membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan
orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
SP III Pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2. Memberikan kesempatan kepada pasien berkenalan denga dua orang atau
lebih
3. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
Keluarga
SP I Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami
pasien beserta proses terjadinya
3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi sosial
SP II Keluarga
1. Melatih keluarga mempraktekan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Melatih keluarga melakukan cara mrawat langsung kepada pasien isolasi
sosial
SP III keluarga
1. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum
obat
2. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
a. Tindakan Psikoterapeutik
Pasien:
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
3. Mendiskusikan bersama pasien tentang keuntungan/ manfaat berhubungan
dengan orang lain dan kerugian jika tidak berhubungan dengan orang lain
4. Mengajarkan pada pasien cara berkenalan denga satu orang
5. Menganjurkan pasien untuk memasukkan kegiatan berkenalan dengan
orang lain dalam kegiatan harian di rumah sakit
6. Mengevaluasi pelaksanaan dari jadwal kegiatan harian pasien
7. Memberikan kesempatan pada pasien mempraktekan cara berkenalan
dengan dua orang
8. Mengajarkan pasien berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah
satu kegiatan harian
9. Menjelaskan tentang obat yang diberikan (jenis, dosis, waktu, manfaat dan
efeksamping obat)
10. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan bersosialisasi dalam jadwal
kegiatan di rumah
Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial yang dialami
pasien beseta proises terjadinya
3. Menjelaskan dan melatih keluarga cara-cara merawat pasien isolasi sosial
4. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas pasien di rumah termasuk
minum obat ( discharge planning)
5. Menjelaskan follow up setelah pasien setelah pulang
b. Tindakan Psikofarmaka
1. Memberikan obat-obatan penenang sesuai program pengobatan pasien
2. Memantau keefektifan dan efek samping obat yang diminum
3. Mengukur vital sign secara periodik ( tekanan darah, nadi, dan pernafasan)
c. Tindakan Manipulasi lingkungan
1. Melibatkan dalam makan bersama
2. Memperlihatkan sikap menerima dengan cara melakukan sesuatu tindakan
3. Memberikan reinforcement positif setiap pasien berhasil melakukan
sesuatu tindakan
4. Menemani pasien untuk memperlihatkan dukungan selama aktivitas
kelompok
5. Mengorientasikan pasien pada waktu, tempat dan orang sesuai
kebutuhannya
(Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa)
BAB II
TINJAUAN KASUS

A. Identitas klien
Nama Klien : Nn. Y
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 20 tahun
Alamat : Kloning petarukan pemalang jawa tengah
Suku : Jawa (Indonesia)
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SMK
Pekerjaan : tidak bekerja
Rm. No. : 00124786
Ruang Rawat : Ruang 1 Arimbi
Tanggal Dirawat : 2 November 2017
Tanggal Pengkajian : 6 November 2017

Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn. H
Alamat : Kloning petarukan pemalang jawa tengah
Hubungan : Ayah
B. Alasan Masuk
Klien sudah 3 bulan dirumah berdiam diri, sering ngelamun. 2 bulan sebelum
masuk rumah sakit RSJD Amino Ghondouutomo klien BAB/BAK ditempat
tidur.

Masalah : Isolasi Sosial

C. Faktor Prediposisi
Klien baru pertama kali ini masuk RSJD Amino Ghondoutomo, sebelumnya
klien pernah berobat di Rs Junaid. Di dalam keluarga klien tidak ada anggota
keluarganya yang mengalami gangguan jiwa seperti klien.

Masalah: Respon Pasca Trauma

D. Aspek Fisik/ Biologi


1. Tanda- Tanda Vital
Keadaan Umum : Compos Mentis
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 82x/menit
RR : 23x/menit
S : 36.00C

2. Ukur
Berat Badan : 33 kg
Tinggi badan: 152 cm

IMT = = 19 kg
3. Kepala : simetris, tidak ada benjolan, tidak ada jejas, tidak ada lesi
4. Rambut : Hitam, terdistribusi merata, kotor dan berkutu
5. Mata : Simetris, sklera putih kecoklatan, pupil isokor,
konjungtiva
tidak anemis, tidak ada gangguan penglihatan
6. Hidung : Simetris, bersih, tidak ada sekret, penciuman baik
7. Telinga: Simetris, pendengaran baik, tidak ada serumen
8. Mulut : Gigi kotor tidak ada stomatitis, mukosa bibir lembab
9. Leher : Simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
10. Dada : Bentuk pengembangan dada simetris, tidak ada nyeri
tekan
11. Abdomen : Tidak ada nyeri tekan
12. Ekstremitas : Ekstremitas atas dan bawah dapat berfungsi dengan baik
bergerak dengan bebas. Tidak ada oedema.
5 5

5 5

E. Aspek Psikososial
1. Genogram
keterangan:

: laki-laki
: perempuan
: klien

: serumah

Klien mengatakan bahwa ia adalah anak pertaman dari 3 bersaudara (2


orang saudara laki-laki dan 1 orang perempuan), klien tinggal serumah
dengan bapak dan ibunya. Klien mengatakan di dalam keluarganya tidak ada
yang menderita gangguan jiwa sepertinya.
2. Konsep diri
a. Gambaran diri
Klien mengatakan mensyukuri akan tubuhnya karena sudah tidak ada
kekurangan pada anggota tubuhnya dan klien lebih menyukai pada
bagian hidung karena mirip dengan bapaknya.

b. Identitas diri
Klien mengatakan anak pertama dari dua bersaudara, klien belum
menikah,, klien berpenampilan sesuai dengan jenis kelamin, klien juga
mengatakan dirinya pernah sekolah sampai tingkat SMK.
c. Peran diri
Klien mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang anak dan seorang
kakak untuk adiknya. Setelah di RSJD klien berperan sebagai pasien
yang menjalani program pengobatan dan perawatan seperti klien yang
lain. Klien mengatakan kurang puas dengan perannya sebagai anak
pertama karena klien belum dapat membanggakan orang tuanya.
d. Ideal diri
Klien ingin sekali pulang dan dijenguk oleh keluarganya..
e. Harga diri
Klien merasa tidak percaya diri ketika berinteraksi dengan orang lain.
Masalah Keperawatan: Harga Diri Rendah
3. Hubungan Sosial
Klien mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya yaitu bapaknya dan
klien tidak pernah mengikuti kegiatan kelompok dimasyarakat. Klien juga
mengatakan merasa tidak mampu dalam berinteraksi dengan orang lain.
Masalah Keperawatan: Isolasi Sosial
4. Spiritual
Klien mengatakan beragama islam dan klien mengatakan selama dirumah
sakit tidak pernah beribadah.
F. Status Mental
1. Penampilan
Saat melakukan wawancara, kebersihan dan kerapian klien kurang.
pakaian yang dikenakan oleh klien sesuai.
2. Pembicaraan
Saat diajak berkomunikasi klien berbicara dengan suara sangat pelan, pada
setiap pertanyaan yang diajukan perawat dan dapat menjawabnya dengan
lambat.
Masalah Keperawatan: Kerusakan Komunikasi
3. Aktivitas Motorik/Psikomotor
Saat diajak berkomunikasi, klien terlihat lesu, tidak bersemangat dan
terkadang melamun.
4. Alam Perasaan
Saat dilakukan wawancara klien terlihat sedih dan murung.
Masalah keperawatan: Isolasi Sosial/Ansietas
5. Afek
Respon emosional klien saat diajak berkomunikasi terlihat datar (klien
tidak selalu merespon pertanyaan yang ditanyakan)
6. Interaksi selama Wawancara
Selama wawancara berlangsung klienkurang kooperatif dalam berinteraksi,
kontak mata antara perawat dengan klien kurang.
Masalah keperawatan: Isolasi Sosial
7. Persepsi
Klien mengatakan tidak ada masalah, klien lebih suka menyendiri dan
klien jarang mau berinteraksi dengan teman yang lain.
Masalah keperawatan: Isolasi Sosial
8. Isi Pikir
Dalam interaksi tidak ada masalah
9. Tingkat Kesadaran
Klien memiliki kesadaran composmentis, klien dapat menjawab
pertanyaan yang ditanyakan oleh perawat meskipun kadang lambat dan
bingung. Klien tidak memiliki disorientasi yang ditandai dengan
pengetahuan klien tentang waktu saat dilakukan wawancara, tempat di
mana dia berada saat ini dan dengan perawat selaku orang yang melakukan
percakapan dengan klien.
10. Memori
a. Jangka panjang : Baik, klien dapat menceritakan pengalaman dahulu
yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.
b. Jangka pendek : Baik, klien dapat menyebutkan beberapa nama teman-
temannya yang ada diruangannya.
c. Saat ini : Baik, klien dapat mengingat dan mempraktekan isi dari TAK
hari ini.
11. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
Klien mampu berhitung secara sederhana. Namun klien kurang mampu
berkonsentrasi dengan baik, ketika diberikan pertanyaan klien lambat
dalam menjawab pertanyaan yang diberikan.
12. Kemampuan Penilaian
Klien dapat mengambil keputusan sederhana misalnya jika ia akan mandi
tetapi itu jamnya minum obat ia memilih untuk minum obat dulu
kemudian baru mandi.
13. Daya Tilik Diri/Insight
Sekarang klien tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan jiwa
dan berada di RSJD dr.Amino Gondohutomo.
G. Kebutuhan Persiapan Pulang
Untuk aktivitas sehari-hari, seperti aktivitas tidur/ istirahat, makan, minum,
mandi, BAB, BAK, berpakaian klien lakukan secara mandiri.
H. Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
Klien mampu memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi dan berpakaian
secara mandiri. Klien makan 3x sehari. BB klien 33 kg. Klien tidur siang
selama 1-2 jam. Tidur malam 5-6 jam. klien mengatakan tidur tidak nyenyak
dan sering terbangun saat malam hari.
I. Mekanisme Koping
klien cenderung untuk memilih menyendiri, tidak mau bercerita dengan orang
tuanya atau anggota keluarganya yang lain (maladaptif).
Masalah keperawatan: isolasi sosial : menarik diri
J. Pengetahuan
Klien kurang mengetahui tentang penyakit yang diderita dirinya dan
penggunaan obat-obatan.
Masalah keperawatan : kurang pengetahuan
K. Aspek Medik
Diagnosa Medik : Skizofrenia Katatonik
Terapi medis : Amitrip 2x25 mg
Clozapin 2x25 mg

L. DAFTAR MASALAH
1. Isolasi Sosial
2. Defisit Perawatan diri
3. Harga Diri Rendah

M. POHON MASALAH
Efek/Akibat
DEFISIT PERAWATAN DIRI

ISOLASI SOSIAL Cor problem

HARGA DIRI RENDAH


Penyebab

N. ANALISA DATA
NO DATA MASALAH
1. DS: Isolasi sosial
- Klien mengatakan tidak ada masalah,
- Klien mengatakan tidak nyaman disini dan
ingin pulang
DO:
- Klien kurang kooperatif
- Klien kurang berinteraksi dengan yang lain
2. DS: Defisit Perawatan
-Klien mengatakan mau mandi jika disuruh Diri
oleh perawat
-Klien mengatakan jarang gosok gigi
DO:
- rambut klien berkutu dan tidak bersih
- penampilan kien tidak rapi
3. DS : Harga Diri Rendah
- Klien mengatakan tidak berguna untuk orang
tuanya karena pekerjaannya tidak menetap
selalu berpindah-pindah
- Klien mengatakan malas bekerja karena
merasa tidak mampu untuk beradaptasi
dengan teman kerjannya.
- Klien mengatakan tidak memiliki kelebihan
apapun
DO:
- kontak mata klien kurang
- klien tidak berinisiatif berinteraksi dengan
orang lain
- klien terlihat malas

M. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Isolasi sosial
2. Defisit Perawatan Diri
3. Harga Diri Rendah
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Inisial Klien : Ny. Y Diagnosa Medis : skizofrenia katatonik
Ruang : ruang arimbi No. Catatan Medik : 00124665
Diagnosa Perencanaan Rasional
No Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
1 Isolasi sosial TUM: Klien dapat Setelah.3x interaksi klien
berinteraksi dengan menunjukan tanda-tanda Bina hubungan saling Hubungan saling
orang lain percaya kepada perawat: percaya dengan percaya merupakan
 Ekspresi wajah bersahabat menggunakan prinsip dasar untuk kelancaran
 Menunjukan rasa senang
TUK 1 : Klien dapat  Ada kontak mata komunikasi terapeutik: hubungan interaksi
 Mau berjabat tangan  Sapa klien dengan
membina hubungan selanjutnya
 Mau menyebutkan nama ramah baik verbal
saling percaya  Mau menjawab salam
 Mau duduk berdampingan maupun non verbal
 Perkenalkan nama,
dengan perawat
 Bersedia mengungkapkan nama panggilan dan

masalah yang dihadapi tujuan perawat


berkenalan
 Tanyakan nama
lengkap dan nama
panggilan yang
disukai klien
 Buat kontrak yang
jelas
 Tunjukan sikap jujur
dan menepati janji
setiap kali intraksi
 Tunjukan sikap
empati dan menerima
apa adanya
 Beri perhatian kepada
klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
 Tanyakan perasaan
klien dan masalah
yang dihadapi klien
 Dengarkan dengan
penuh perhatian
ekspresi perasaan
klien.
TUK 2: Klien 2. Klien mampu menyebutkan 2.1Tanyakan pada klien
mampu menyebutkan minimal satu penyebab tentang:
penyebab menarik menarik diri yaitu : - Orang yang tinggal
 Diri sendiri
diri serumah atau sekamar klien
 Orang lain
 lingkungan - Orang paling dekat
dengan klien dirumah/
diruang perawatan
- Apa yang membuat klien
dekat dengan orang tersebut
- Orang yang tidak dekat
dengan klien dirumah/
diruang perawatan
- Apa yang membuat klien
tidak dekat dengan orang
tersebut
- Upaya yang sudah
dilakukan agar dekat
dengan orang lain
2.2 Diskusikan dengan
klien penyebab menarik
diri/ tidak mau bergaul
dengan orang lain
2.3 Beri pujian terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya.
3: Klien mampu 3. Klien dapat menyebutkan 1.1 Tanyakan pada klien
menyebutkan keuntungan berhubungan sosial, tentang :
keuntungan misalnya : - Manfaaat hubungan
- Banyak teman
berhubungan sosial sosial
- tidak kesepian
dan kerugian - bisa diskusi - Kerugian menarik diri
- Saling menolong
menarik diri 1.2 Diskusikan bersama
Dan kerugian menarik diri
misalnya: klien tentang manfaat
- Sendiri berhubungan sosial dan
- Kesepian
- tidak bisa diskusi kerugian menarik diri
1.3 Beri pujian terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya.
4.: Klien dapat 4. Klien dapat melaksanakan 4.1 Observasi perilaku klien
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap saat berhubungan sosial
hubungan sosial dengan: 4.2 Beri motivasi dan bantu
secara bertahap - Perawat klien untuk berkenalan/
- Perawat lain berkomunikasi dengan :
- Klien lain - Perawat lain
- kelompok - Klien lain
- kelompok
4.3 Litbatkan klien dalam
Terapi Aktivitas Kelompok
Sosialisasi
4.4 Diskusikan jadwal
harian yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan
kemampuan klien
bersosialisasi
4.5 Beri motivasi klien
untuk melakukan kegiatan
sesuai dengan jadwal yang
telah dibuat.
4.6 Beri pujian terhadap
kemampuan klien
memperluas pergaulannya
melalui aktivitas yang
dilaksanakan.

TUK 5: Klien 5. klien dapat menjelaskan 1.1 Diskusikan dengan


mampu perasaannya setelah berhubungan klien tentang
menjelaskan sosial dengan: perasaannya setelah
perasaannya setelah - Orang lain berhubungan sosial
berhubungan sosial. - Kelompok dengan:
- Orang lain
- Kelompok
1.2 Beri pujian terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya
TUK 6: 6.1 Keluarga dapat 6.1 Diskusikan pentingnya
Klien mendapatkan menjelaskan tentang: peran serta keluarga sebagai
- Pengertian menarik diri
dukungan keluarga pendukung untuk mengatasi
- Tanda dan gejala menarik diri
dalam memperluas - Penyebab dan akibat menarik diri perilaku menarik diri.
hubungan sosial - Cara merawat kliem menarik diri 6.2 Diskusikan potensi
keluarga untuk membantu
6.2 Keluarga dapat mempraktekan
klien mengatasi perilaku
cara merawat klien menarik diri
menarik diri.
6.3 Jelaskan pada keluarga
tentang:
- Pengertian menarik diri
- Tanda dan Gejala menarik
diri
- Penyebab dan akibat
menarik diri
- Cara merawat klien
menarik diri
6.4 Latih keluarga cara
merawat klien menarik diri
6.5 Tanyakan perasaan
keluarga setelah mencoba
cara yang dilatihkan
6.6 Beri motivasi keluarga
agar membantu klien untuk
bersosialisasi.
6.7 Beri pujian kepada
keluarga atas
keterlibatannya merawat
klien di rumah sakit.

TUK 7 : Klien dapat 7.1 Klien dapat 7.1 Diskusikan dengan


memanfaatkan obat menyebutkan: klien tentang manfaat dan
- Manfaat minum obat
dengan baik ekrugian tidak minum obat ,
-Kerugian tidak minum
obat nama, warna , dosis, cara
-Nama. Warna,dosis, efek terapi, dan efek
efek terapi dan efek
samping penggunaan obat
samping obat
7.2 Klien 7.2 Pantau klien saat
mendemontrasikan penggunaan obat
penggunaan obat
7.3 Beri pujian jika klien
dengan benar
7.3 Klien menyebutkan menggunakan obat dengan
akibat berhenti minum benar
obat tanpa konsultasi 7.4 Diskusikan akibat
dokter
berhenti minum obat tanpa
konsultasi dengan dokter
7.5 Anjurkan klien untuk
konsultasi kepada dokter /
perawat jika terjadi hal- hal
yang tidak di inginkan.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Kesesuaian

B. Kekuatan atau kemudahan

1. Pasien bersikap kooperatif sehingga memudahkan perawat dalam


memberikan informasi dan menggali informasi tentang pasien
2. Pasien mampu berinteraksi dengan dunia luar atau tidak autis sehingga
bisa berinteraksi dengan perawat
3. Pasien antusias dan semangat dalam mengikuti setiap kegiatan terapi
aktivitas kelompok

C. Kelemahan

adapun kelemahan dan kesulitan yang dihadapi perawat dalam


memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien Nn. Y adalah
1. Suara pasien yang terlalu pelan. Hal ini menyebabkan perawat harus
mendengarkan dengan seksama setiap pembicaraan atau komunikasi
dengan pasien. Bahkan kadang – kadang perawat sering melakukan
klarifikasi terkait isi pembicaraan yang dimaksud oleh pasien.
2. Proses berpikir pasien agak lambat. Hal ini menyebabkan perawat
harus sabar menunggu sampai pasien menceritakan apa yang pasien
rasakan atau yang telah diketahui.

BAB IV
IMPLIKASI KEPERAWATAN

a. Kesimpulan
b. Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas, kami memberikan saran sebagai
berikut:
1 Untuk tenaga kesehatan
Hasil telaah jurnal ini sebaiknya dapat menjadi pertimbangan dalam
meakukan triase terhadap pasien gangguan jiwa di ruang unit gawat
darurat.
2 RS
Untuk pemakaian skala MHTS agar bisa diterima dan di aplikasikan
Diharapkan agar RS menyediakan SPO yang terstandar

DAFTAR PUSTAKA
Carson, V.B. (2000). Mental Health Nursing : The Nurse – patien Journey.
Philadelphia. W.B. Sauders Company
Depkes R.I. (2005) Pengertian Obat & Kebijakan Obat Nasional
http://kuliahitukeren./2011/01/pengertian-obat.html (diperoleh tanggal 09
April 2013).
Depkes. R.I. (2003). Buku pedoman kesehaan jiwa. Jakarta, Departemen
Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Keliat dkk, (2008), Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Maramis, WF, (2004), Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press,
Surabaya.
Nanda 2005. Nursing Diagnoses: Definitions and Classification 2005-2006.
Nanda International, Philadelphia.
Stuart & Laraia, (2005) Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi: 3. Jakarta: EGC.
Stuart, G.W. (2005). Buku Saku Keperawatanjiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.
Stuart, GW, Sundeen, SJ, (2005), Pocket Guide To Psychiatric Nursing, Edisi 3,
Alih Bahasa Achir Yani S. Hamid, Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Townsend, Mary C, (2008), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan
Psikiatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
WHO (2003). penyebab-kambuhnya-pasiengangguan-jiwahttp://doktersehat.com/
(diperoleh tanggal 08 Maret 2013 pukul 16:00 WIB).
Workshop Standar Asuhan & Bimbingan Keperawatan Jiwa.(2007). Departemen
Kesehatan Republik Indonesia RS Jiwa. Prof. Dr. Soeroyo Magelang tahun
2007