Vous êtes sur la page 1sur 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Beberapa penyebab kematian bayi baru lahir (neonatus) yang terbanyak
disebabkan oleh kegawatdaruratan dan penyulit pada masa neonatus, seperti
bayi BBLR, asfiksia, tetanus neonatorum, sindrom gangguan pernapasan,
sepsis, trauma lahir, dan kelainan neonatal. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan pada tahun
2007 menunjukkan bahwa penyebab kematian terbanyak pada kelompok bayi
0-6 hari didominasi oleh gangguan/kelainan pernapasan (35,9%), prematuritas
(32,4%) dan sepsis (12%).1
BBLR adalah bayi yang lahir berat badan kurang dari 2500 gram. Berat
lahir adalah berat bayi yang ditimbang pada saat lahir sampai 24 jam pertama
setelah lahir. BBLR bisa disebabkan oleh 2 hal yaitu, Prematuritas Murni
(kehamilan kurang bulan) dan Dismaturitas/KMK (Kecil Masa Kehamilan).1
Masalah BBLR sangat berpengaruh terhadap kualitas generasi penerus
suatu bangsa. Menurut WHO, angka kejadian BBLR yang lebih dari 10%
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, banyak negara di dunia menggunakan angka BBLR sebagai
indikator tingkat kesehatan masyarakat. WHO memperkirakan lebih dari 20
juta bayi di seluruh dunia (15,5% dari seluruh kelahiran bayi di dunia) setiap
tahunnya lahir bayi BBLR dan mempengaruhi sekitar 16 % BBLR di negara
berkembang.2,3
Pada tahun 2012, WHO melaporkan kejadian BBLR di dunia pada rentang
tahun 2005-2010 adalah sebesar 15%. Di South-East Asia angka kejadian
BBLR mencapai 24% dan yang tertinggi ada pada negara India persentase
28%. Sedangkan di Indonesia terdapat 9% bayi baru lahir BBLR.3 Bayi BBLR
umumnya akan mengalami kesulitan beradaptasi lingkungan yang baru.1,3 Hal
tersebut akan berakibat pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan
bayi, bahkan dapat mengganggu kelangsungan hidupnya serta akan
meningkatkan morbiditas dan mortalitas.4 Beberapa efek BBLR adalah
2

menyebabkan anak pendek 3 kali lebih besar dibanding non BBLR,


pertumbuhan terganggu dan risiko malnutrisi.3
3

BAB II
LAPORAN KASUS

1. Identifikasi
Nama : By. TT
Umur : 2 hari / 28 Maret 2016
Jenis Kelamin : Perempuan
Berat Badan Lahir : 2700 gram
Panjang Badan Lahir : 48 cm
Agama : Islam
Alamat : Jln. Pjlka no. 08 pasar tebing tinggi kabupaten empat
lawang
Suku Bangsa : Sumatera
No. Med Reg : 944983
MRS : 28 Maret 2016

2. Anamnesis
Keluhan Utama : Berat lahir rendah
Keluhan Tambahan :-

3. Riwayat Perjalanan Penyakit


Bayi perempuan, lahir di ruang OK IRD RSMH dengan operasi sectio
caesaria atas indikasi ibu dengan PEB + partial HELLP syndrome + suspek
PJT, ditolong oleh Residen, dari ibu G1P0A0 hamil 35 minggu, bayi lahir
langsung menangis dengan APGAR score 8/9, berat badan lahir 1500 gram,
panjang badan lahir 42 cm. Riwayat injeksi vitamin K (+), riwayat Ibu
demam perinatal tidak ada, riwayat ketuban pecah sebelum waktunya tidak
ada, riwayat ketuban kental; bau; dan hijau tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu


-
4

Riwayat Sosial Ekonomi


Sosial ekonomi sedang

Riwayat Kehamilan
GPA : G1P0A0
HPHT : 28 Juli 2015
Periksa Hamil : 4 kali di Bidan
Kebiasaan ibu sebelum/selama kehamilan
Minum alkohol : tidak pernah
Merokok : tidak pernah
Makan obat-obatan tertentu : tidak pernah
Penyakit atau komplikasi kehamilan ini : ada, ibu penderita menderita
hipertensi

Riwayat Persalinan
Presentasi : kepala
Cara persalinan : operasi sectio caesaria
KPSW : tidak ada
Riwayat demam saat persalinan : tidak ada
Riwayat ketuban kental, hijau, bau : tidak ada

Kondisi Bayi Saat Lahir


Jenis Kelamin : Perempuan
Kelahiran : Tunggal
Kondisi saat lahir : Langsung menangis

4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan : 1500 gram
Panjang badan : 42 cm
5

Lingkar kepala : 30 cm
Aktivitas : Aktif
Refleks hisap : Kuat
Tangis : Kuat
Anemis : tidak ada
Sianosis : tidak ada
Ikterus : tidak ada
Dispnea : tidak ada
HR : 148 x/menit
Pernafasan : 52 x/menit
Suhu : 36,8oC

Keadaan Spesifik
Kepala
Lingkar kepala : 30 cm
Ubun- ubun besar : tegang, menonjol
Mata : nistagmus tidak ada, pupil bulat, isokor, reflex
cahaya (+/+), mata cekung (-), sclera ikterik (-),
konjuntiva anemis (-)
Telinga : bentuk normal, mikrotia (-)
Hidung : nafas cuping hidung (-), epistaksis (-), secret (-)
Mulut : labioskisis (-), hipersalivasi (-)
Trauma lahir : (-)

Leher : tidak ada pembesaran KGB

Thorax : bentuk simetris, retraksi (-)


Paru-paru : bunyi nafas vesikuler (+), rhonki (-), wheezing (-)
Jantung : HR : 148x/menit, BJ I-II normal, murmur (-), gallop
(-)
Abdomen : datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba
6

Ekstremitas : akral hangat, CRT <3”

Genitalia
Jenis kelamin : perempuan
Labia minor : tertutup labia mayor
Hernia :-

Refleks Primitif
Oral :+
Moro :-
Tonic neck :-
Withdrawal :-
Plantar graps :-
Palmar graps :-

5. Diagnosis Kerja
Neonatus : Neonatus kurang bulan, sesuai masa kehamilan
Lahir : Operasi sectio caesaria atas indikasi ibu dengan PEB
+ partial HELLP syndrome + suspek PJT
Ibu : G1P0A0 hamil 36 minggu
Anak : Tidak asfiksia, tidak tersangka infeksi, tidak distres
napas

6. Penatalaksanaan
1. ASI on demand
2. Edukasi pada ibu
3. Observasi tanda vital dan kenaikan berat badan
4. Cegah hipotermi

7. Prognosis
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungsional : bonam
7

8. Follow Up
Tanggal 30 Maret 2016
S : Demam (-), Sesak (-) BBL: 1500 gr

O: KU= Sens: CM BBS: 1545 gr

Aktifitas : aktif U: 2 hr
Tangis : Kuat
R. Hisap : kuat
HR : 128x/m
RR : 50 x/mnt
Suhu : 36,8oC
KS : Kepala : NCH (-), CA (-), SI (-)
Leher : t.a.k
Thorax : Cor : BJ I/II (+) N, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikular (+) N, wh (-), rh(-)
Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N
Extremitas: CRT <3’’

A: NKB SMK + BBLR

Penatalaksanaan

 ASI on demand

Tanggal 1 April 2016


S : Demam (-), Sesak (-) BBL: 1500 gr

O: KU= Sens: CM BBS: 1547 gr

Aktifitas : aktif U: 3 hr
Tangis : kuat
R. Hisap : kuat
HR : 122x/m
RR : 52 x/mnt
Suhu : 37,3oC
8

KS : Kepala : NCH (-), CA (-), SI (-)


Leher : t.a.k
Thorax : Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-)
Pulmo : Vesikular (+) N, wh (-), rh(-)
Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N
Extremitas: CRT <2’’

A: NKB SMK + BBLR

Penatalaksanaan

 ASI on demand

Tanggal 2 April 2015


S : Demam (+), Sesak (-) BBL: 1500 gr
O: KU= Sens: CM BBS: 1550 gr
Aktifitas : sedang U: 4 hr
Tangis : kuat
R. Hisap : kuat
HR : 144x/m
RR : 55 x/mnt
Suhu : 37,7oC
KS : Kepala : NCH (-), CA (-), SI (-)
Leher : t.a.k
Thorax : Cor : BJ I/II (+) N, m(-), g(-)
Pulmo : Vesikular (+) N, wh (-), rh(-)
Abdomen: Datar, lemas, BU (+) N
Extremitas: CRT <2’’

A: NKB SMK + BBLR

Penatalaksanaan

 ASI on demand
 Rencana pulang jika berat badan bayi 1600
9

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) BBLR masih merupakan penyebab
utama kematian neonatus. BBLR dapat terjadi karena berbagai sebab sehingga
terkadang agak sulit dilakukan pencegahan. BBLR adalah bayi yang lahir dengan
berat lahir kurang dari 2500 gram. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang
pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir..4

BBLR dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :

a. Berat bayi lahir rendah, dengan berat kurang dari 2500 gram
b. Berat bayi lahir sangat rendah, dengan berat 1000-1500 gram
c. Berat bayi lahir amat sangat rendah, dengan berat kurang dari 1000
gram.14
Sejak tahun 1961, WHO mengganti istilah Premature dengan Low Birth
Weights Infants (bayi dengan berat badan lahir rendah). Hal ini dikarenakan tidak
semua bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram merupakan bayi
prematur.15 Untuk mendapatkan keseragaman, pada Kongres European Perinatal
Medicine ke II di London (1970) telah diusulkan definisi sebagai berikut :

a. Bayi kurang bulan atau preterm ialah bayi dengan kehamilan kurang dari 37
minggu (< 259 hari)

b. Bayi cukup bulan atau aterm ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 37
minggu sampai 42 minggu (259 sampai 293 hari)

c. Bayi lebih bulan atau postterm ialah bayi dengan masa kehamilan mulai 42
minggu atau lebih (294 hari atau lebih)5

Berdasarkan alasan di atas, maka bayi dengan BBLR dapat dikategorikan menjadi
dua yaitu prematuritas murni dan dismaturitas/Kecil Masa Kehamilan (KMK).
10

1. Prematuritas Murni

Prematuritas murni yaitu neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37


minggu dan mempunyai berat badan sesuai untuk masa kehamilannya atau biasa
disebut Neonatus Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan (NKB-SMK).6

2. Dismaturitas/Kecil Masa Kehamilan (KMK)

Yaitu berat bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari semestinya
untuk masa gestasi, dengan batasan dibawah percentil ke 10 dilihat dari kurva
pertumbuhan dan perkembangan yang dapat merupakan bayi preterm, aterm, atau
postterm. Istilah lain yang digunakan adalah Small for Gestational Age (SGA).
Penyebab dismaturitas ialah janin mengalami gangguan pertumbuhan didalam
uterus atau Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) sehingga pertumbuhan janin
mengalami hambatan. KMK dibagi atas :

a. Simetri, adalah janin yang menderita distres yang lama, dimana gangguan
pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum
lahir sehingga tampak pertumbuhan otak dan tulang rangka terganggu dan
seringkali berkaitan dengan hasil akhir perkembangan syaraf yang buruk.
b. Asimetri, terjadi akibat distres sub-akut. Gangguan terjadi beberapa
minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. Pertumbuhan jantung,
otak dan tulang rangka tampak paling sedikit terpengaruh, sedangkan
ukuran hati, limpa, timus sangat berkurang dan berat tidak sesuai dengan
masa gestasi. 7

Pertumbuhan alat-alat dalam tubuh bayi prematur kurang sempurna, karena


itu bayi sangat peka terhadap gangguan pernapasan, infeksi, trauma kelahiran,
hipotermi dan sebagainya. Sedangkan bayi dismatur dapat lebih mudah hidup
setelah berada di luar rahim karena alat-alat tubuh lebih berkembang
dibandingkan bayi prematur dengan berat badan yang sama. Dalam jangka
panjang bayi BBLR dapat mengalami gangguan pertumbuhan, perkembangan,
penglihatan, pendengaran serta penyakit paru kronik.1,4
11

2.2. Faktor Risiko BBLR

a. Paritas
Paritas merupakan jumlah persalinan yang pernah dialami ibu
sebelum kehamilan/persalinan tersebut. Pengelompokan paritas terdiri dari
4 kelompok, yaitu golongan nullipara (ibu dengan paritas 0), primipara
(ibu dengan paritas 1), multipara (ibu dengan paritas 2-3) dan
grandemultipara (ibu dengan paritas ≥ 4).2,5
Kejadian BBLR yang tinggi pada kelompok ibu dengan paritas
rendah dihubungkan dengan faktor umur ibu yang masih terlalu muda,
dimana organ-organ reproduksi ibu belum tumbuh secara sempurna dan
kondisi psikis ibu yang belum siap. Sementara pada paritas tinggi, hal
yang mungkin terjadi adalah gangguan kesehatan seperti anemia, kurang
gizi ataupun gangguan pada rahim. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi
pertumbuhan janin sehingga meningkatkan risiko terjadinya BBLR.3,6

b. Umur Kehamilan
Semakin pendek umur kehamilan maka pertumbuhan janin semakin
belum sempurna, baik itu organ reproduksi dan organ pernapasan oleh
karena itu mengalami kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Teori
Beck dan Roshental menyatakan bahwa berat badan bayi bertambah sesuai
dengan masa kehamilan. Apabila bayi lahir pada umur kehamilan yang
pendek, maka berat bayi belum mencapai berat badan normal dan
pertumbuhannya belum sempurna.7,8

c. Jarak Kehamilan
Ibu hamil dengan jarak kehamilan dari anak terkecil kurang dari 2
tahun akan meningkatkan risiko terjadinya BBLR. Jarak kehamilan
sebaiknya lebih dari 2 tahun. Jarak kehamilan yang terlalu dekat
menyebabkan ibu punya waktu yang singkat untuk memulihkan kondisi
rahimnya agar bisa kembali ke kondisi sebelumnya.2,6
12

d. Riwayat Kehamilan Terdahulu


Riwayat kehamilan dan persalinan seorang ibu memberikan
gambaran mengenai keadaan bayi yang sedang dikandungnya. Angka lahir
mati atau kejadian BBLR cenderung meningkat pada ibu-ibu yang
mempunyai riwayat kehamilan buruk. Ibu dengan riwayat obstetrik yang
buruk (BBLR, abortus, kelainan genetik, lahir mati) sebelumnya
cenderung akan berulang pada kehamilan berikutnya.30
e. Komplikasi Kehamilan
Beberapa komplikasi dari kehamilan yaitu hiperemis gravidarum,
preeklamsi dan eklamsi, kehamilan ektopik, kelainan plasenta previa,
solusio plasenta, oligohidromnion, perdarahan antepartum, ketuban pecah
dini, anemia. Komplikasi pada kehamilan ini dapat mengganggu kesehatan
ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan sehingga meningkatkan
risiko bayi dengan BBLR.2,6
f. Rokok
Merokok meningkatkan faktor risiko aborsi spontan, placental
disorders, kelainan kongenital, kematian janin dan BBLR. Carbon
monoksida dan nikotin adalah dua bahan kimia yang paling berpengaruh
terhadap janin dan terdapat pada rokok. CO menurunkan kemampuan
membawa oksigen yang cukup pada jaringan janin. Nikotin meningkatkan
tekanan darah janin dan menurunkan angka pernapasan, Nikotin berefek
pada sistem syaraf pusat genitalia, saluran cerna, dan sistem urinari janin.
Dampak rokok bukan hanya dirasakan pada perokok aktif tetapi juga pada
perokok pasif. Orang yang tidak merokok atau perokok pasif yang terpapar
asap rokok akan mengirup dua kali lipat racun yang dihembuskan oleh
perokok aktif.7
g. Alkohol
Konsumsi kronis alkohol dalam jumlah besar oleh ibu pada waktu
hamil menyebabkan hambatan pertumbuhan janin dan seringkali disertai
malformasi fisik dan gangguan intelektual di kemudian hari.7,8
13

2.3. Diagnosis

Menegakkan diagnosa BBLR adalah dengan melakukan anamnesis untuk


mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR,
melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk
menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya BBLR :

- Umur ibu
- Riwayat hari pertama haid terakir
- Riwayat persalinan sebelumnya
- Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
- Kenaikan berat badan selama hamil
- Aktivitas
- Penyakit yang diderita selama hamil
- Obat-obatan yang diminum selama hamil

2. Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan APGAR untuk menilai kondisi umum bayi
sesaat setelah kelahiran yang dilakukan pada menit pertama dan kelima
pasca kelahiran dan untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau
tidak. Hal yang dinilai pada skor APGAR adalah usaha napas, warna kulit,
denyut jantung, tonus otot dan reaksi terhadap rangsang. Setiap penilaian
diberi angka 0,1,2. Dari hasi penilaian dapat diketahui apakah bayi normal
(7-10), asfiksia ringan (4-6) atau asfiksia berat (0-3).
14

Pada pemeriksaan fisik, diketahui dari berat badan bayi < 2500
gram. Serta dijumpai tanda-tanda prematuritas seperti tulang rawan telinga
belum terbentuk, refleks lemah, jaringan lemak bawah kulit sedikit, kulit
tipis, merah dan transparan atau terdapatnya tandatanda bayi KMK seperti
tengkorak kepala keras, gerakan cukup aktif dan tangisan cukup kuat, daya
mengisap cukup kuat, kulit keriput, lemak bawah kulit tipis.

3. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan skor ballard untuk menentukan usia gestasi bayi baru
lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik.
15

- Tes kocok (shake test), dianjurkan untuk bayi kurang bulan untuk
melihat ada tidaknya sindrom gawat napas.
- Foto thoraks/baby gram pada bayi baru lahir dengan kehamilan
kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan
terjadi sindrom gawat napas.
- USG kepala terutama pada bayi dengan kehamilan kurang bulan
dimulai pada umur 2 hari unutk mengetahui adanya hidrosefalus
atau perdarahan intracranial.

2.4 Komplikasi BBLR

Masalah yang terjadi pada bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) terutama
yang prematur terjadi karena ketidakmatangan sistem organ pada bayi tersebut.
Masalah pada BBLR yang sering terjadi adalah gangguan pada sistem pernapasan,
susunan syaraf pusat, kardiovaskuler, gastrointestinal, hematologi, penglihatan,
perkemihan.

a. Sistem Pernapasan
Bayi dengan BBLR umumnya mengalami kesulitan untuk
bernapas segera setelah lahir disebabkan oleh jumlah alveoli yang
16

berfungsi masih sedikit, kekurangan surfaktan (zat di dalam paru yang


melapisi bagian dalam alveoli, sehingga alveoli tidak kolaps pada saat
respirasi), lumen sistem pernapasan yang kecil, kolaps atau obstruksi
jalan napas, insufisiensi kalsifikasi dari tulang thoraks. Hal-hal inilah
yang menganggu usaha bayi untuk bernapas dan sering mengakibatkan
gawat napas (distres pernapasan). Gangguan napas yang sering terjadi
adalah Sindrom Gangguang Napas (SGN) dikenal juga sebagai penyakit
Membran Hialin dan Asfiksia. Membran Hialin dapat mengenai bayi
dismatur yang preterm, terutama bila masa gestasinya kurang dari 35
minggu.
b. Sistem Neurologi (Susunan Syaraf Pusat)
Bayi dengan BBLR umumnya mudah sekali terjadi trauma
susunan syaraf pusat yang disebabkan antara lain; perdarahan
intracranial karena pembuluh darah yang rapuh, trauma lahir,
perubahan proses koagulasi, hipoksia dan hipoglikemia. Sementara
itu asfiksia berat yang terjadi pada BBLR juga sangat berpengaruh
pada sistem susunan syaraf pusat yang diakibatkan karena
kekurangan oksigen dan kekurangan perfusi/iskemia.
c. Sistem Kardiovaskuler
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah masalah yang sering
terjadi pada bayi prematur. Sebelum lahir, arteri besar yang disebut
ductus arteriosus memungkinkan darah tidak mengaliri paru-paru
bayi. Ductus biasanya menutup setelah lahir sehingga darah dapat
mengalir ke paru-paru dan mengambil oksigen. Ketika ductus tidak
menutup dengan benar dapat menyebabkan gagal jantung.
d. Sistem Gastrointestinal
Bayi dengan BBLR terutama yang kurang bulan umumnya
saluran pencernaannya belum berfungsi seperti bayi yang cukup
bulan. Hal ini diakibatkan antara lain karena tidak adanya
koordinasi mengisap dan menelan sampai usia gestasi 33-34
minggu, kurangnya cadangan beberapa nutrisi seperti kurang dapat
menyerap lemak dan mencerna protein, jumlah enzim yang belum
17

mencukupi, waktu pengosongan lambung yang lambat dan


penurunan/tidak adanya motilitas dan meningkatkan risiko EKN
(Enterokolitis Nekrotikans).
e. Sistem Hematologi
Bayi dengan BBLR lebih cenderung mengalami masalah
hematologi yaitu gangguan pada sistem pembentukan darah.
Penyebabnya terutama pada bayi prematur adalah usia sel darah
merahnya lebih pendek, pembentukan sel darah merah yang
lambat, pembuluh darah kapiler mudah rapuh yang dapat
menyebabkan terjadinya anemia, hiperbilirubinemia, Hemmoragic
Disease of the Newborn (HDN).
f. Sistem Penglihatan
Sistem penglihatan bayi BBLR dapat terganggu karena
ketidakmatangan retina yang dapat menyebabkan Retinopathy Of
Prematurity (ROP). ROP disebabkan karena adanya pertumbuhan
pembuluh darah retina abnormal yang dapat menyebabkan
perlukaan atau lepasnya retina. ROP dapat berlangsung ringan dan
membaik dengan sendirinya, tetapi bisa juga menjadi serius dan
mengakibatkan kebutaan. Semua bayi dengan berat lahir kurang
dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu
berisiko mengalami ROP. Semakin rendah berat lahir atau usia
kehamilan maka semakin tinggi pula risiko terjadinya ROP. Bayi
dengan ROP berisiko besar terjadi strabismus (juling), katarak,
kelainan refraksi (rabun jauh) sampai kebutaan.
g. Sistem Perkemihan
Terdapatnya masalah pada sistem perkemihan, dimana ginjal
bayi tersebut belum matang sehingga tidak mampu mengelola air,
elektrolit dan asam-basa, tidak mampu mengeluarkan hasil
metabolisme dan obat-obatan dengan memadai serta tidak mampu
memekatkan urin.
18

2.5. Penatalaksanaan

1. Pengaturan suhu tubuh/Termoregulasi


Bayi BBLR akan cepat mengalami kehilangan panas badan atau
suhu tubuh dan dapat menjadi hipotermia atau hipertermia. Hal ini
disebabkan oleh pusat pengaturan suhu tubuh belum berfungsi dengan
baik atau sistem metabolisme yang rendah. Hipotermia adalah penurunan
suhu di bawah 36,5̊C sedangkan hipertermia adalah peningkatan suhu
tubuh > 37,50C. Suhu tubuh normal terjadi jika ada keseimbangan antara
produksi panas dan hilangnya panas. Suhu tubuh dijaga pada suhu 36,5 –
37,5̊C.
Diperlukannya penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya
hipotermia atau hipertermia serta menjaga suhu tubuh tetap berada dalam
keadaan normal, yaitu dengan cara proteksi termal/warm chain. Jika sudah
terjadi perubahan suhu badan bayi, dilakukan penangan yang lebih khusus
yakni dengan cara penggunaan inkubator, radiant warmer atau dengan cara
metode kangguru.

Cara Petunjuk penggunaan


Kontak kulit  Untuk semua bayi
 Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau
menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4 oC) apabila cara lain tidak
mungkin dilakukan.
Pemancar panas  Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau lebih.
 Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan, atau
menghangatkan kembali bayi hipotermi.
Inkubator Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1.500 g yang tidak dapat
dilakukan KMC.
Ruangan hangat  Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak memerlukan
tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan.
 Tidak untuk bayi sakit berat.
19

2. Pengaturan makanan/nutrisi
Pemberian makanan terbaik bagi bayi adalah ASI (Air Susu Ibu).
Pemberian makanan secara dini akan mengurangi risiko hipoglikemia,
dehidrasi dan hiperbilirubinemia. Pada bayi dengan masa gestasi 32
minggu atau kurang atau berat badan kurang dari 1500 gram terlalu lemah
untuk bisa mengisap secara efektif atau tidak mempunyai refleks menelan
yang memadai, ASI dapat diberikan dengan menggunakan sonde lambung.
3. Mencegah infeksi
Bayi BBLR mempunyai daya tahan tubuh yang rendah dan sistem
imun yang belum matang menyebabkan bayi BBLR sangat rentan dengan
infeksi. Hal ini dapat dicegah dengan memperhatikan prinsip-prinsip
pencegahan infeksi pada bayi seperti mencuci tangan sebelum memegang
bayi, membersihkan tempat tidur bayi, membersihkan kulit dan tali pusat
bayi.

2.6. Pemantauan (Monitoring)

1. Pemantauan saat dirawat:


a. Terapi
- Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
- Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2
minggu

b. Tumbuh kembang

- Pantau berat badan bayi secara periodik

- Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama


(sampai 10% untuk bayi dengan berat lahir ≥1500 gram dan 15%
untuk bayi dengan berat lahir <1500>

- Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua


kategori berat lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
- Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai
jumlah 180 ml/kg/hari
20

- Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan


bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
- Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah
pemberian ASI hingga 200 ml/kg/hari
- Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala
setiap minggu.

2. Pemantauan setelah pulang


Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui
perkembangan bayi dan mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk
terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai berikut :

- Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap


bulan.
- Hitung umur koreksi.
- Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
- Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST).
- Awasi adanya kelainan bawaan.

2.7. Prognosis BBLR


Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi
normal. Prognosis akan lebih buruk bila BB makin rendah, angka
kematian sering disebabkan karena komplikasi neonatal seperti asfiksia,
aspirasi, pneumonia, perdarahan intrakranial, hipoglikemia. Bila hidup
akan dijumpai kerusakan saraf, gangguan bicara, IQ rendah.

2.8. Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif
adalah langkah yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :

- Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali


selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda.
Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang
21

mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau


dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
- Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin
dalam rahim, tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan
diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan
janin yang dikandung dengan baik
- Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur
reproduksi sehat (20-34 tahun)
- Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam
meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar
mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan
antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

Tanda kecukupan pemberian ASI:


- BAK minimal 6 kali/ 24 jam.
- Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
- BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari.
- Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap  ASI akan
menetes dari payudara yg lain.
Indikasi bayi BBLR pulang:
- Suhu bayi stabil.
- Toleransi minum oral baik  terutama ASI.
- Ibu sanggup merawat BBLR di rumah.
22

BAB IV

ANALISA KASUS

Seorang bayi perempuan, lahir di ruang OK IRD RSMH dengan


operasi sectio caesaria atas indikasi ibu dengan PEB + partial HELLP
syndrome + suspek PJT, ditolong oleh Residen, dari ibu G1P0A0 hamil 36
minggu, bayi lahir langsung menangis dengan APGAR score 8/9, berat
badan lahir 1500 gram, panjang badan lahir 42 cm. Riwayat injeksi vitamin
K (+), riwayat Ibu demam perinatal tidak ada, riwayat ketuban pecah sebelum
waktunya tidak ada, riwayat ketuban kental; bau; dan hijau tidak ada.
Pasien ini didiagnosis BBLR karena didapatkan berat badan lahir
1500 gram, dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak baik
dengan aktifitas yang aktif, refleks hisap kuat dan tangisan yang kuat
menandakan paru-paru mengembang, tidak ada distres pernapasan, dan
aspirasi. Dilakukan juga pemeriksaan skor ballard untuk menentukan usia
gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik dan
didapatkan jumlah skornya 31 yang berarti bayi sesuai dengan masa
kehamilannya yaitu 36-38 minggu.
Pada terapi dilakukan pemberian ASI on demand yaitu memberikan
ASI sesuai dengan kebutuhan bayi. Pemberian makanan secara dini akan
mengurangi risiko terjadinya hipoglikemia, dehidrasi dan hiperbilirubinemia.
Dilakukan juga tindakan pencegahan hipotermi dengan memasukkan bayi ke
dalam inkubator, hal ini disebabkan karena pusat pengaturan suhu tubuh
belum berfungsi dengan baik atau sistem metabolisme yang rendah pada bayi.
Dilakukan juga tindakan pencegahan infeksi dengan cara perawatan
tali pusatdan tindakan aseptik sebelum menyentuh bayi karena bayi masih
mempunyai daya tahan tubuh yang rendah dan sistem imun yang belum
matang sehingga sangat rentan mengalami infeksi.
23

DAFTAR PUSTAKA

1. Azis, Abdul Latief. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bagian/SMF


Kesehatan Anak, edisi III. RSU Dokter Sutomo. Surabaya
2. Behrman, RE, Kliegman RM. The Fetus and the Neonatal Infant, In :
Nelson Textbook of pediatrics; 17 th ed. California: Saunders. 2004; 550-
8.
3. Kosim, M,S., dkk., 2010. Buku Ajar Neonatologi, Cetakan Kedua, Badan
Penerbit IDAI, Jakarta.
4. Maryunani, Anik & Nurhayati, 2009. Asuhan Kegawatadaruratan dan
Penyulit Pada Neonatus, Trans Medika, Jakarta.
5. Prawiroharjo, sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional .Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, Jakarta ,Balai Pustaka Sarwono Prawiroharjo
6. Purwanto E.R., 2009. Masalah BBLR di Indonesia.
http://emedicine.medscape.com. Diakses tanggal 3 April 2016
7. Poesponegoro, Hardiono, dr. Sp.A(K). 2005. Standar Pelayanan Medis
Kesehatan Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
8. Surasmi A., Handayani S., Nurkusuma H. Perawatan Bayi Berat Badan
Lahir Rendah. Dalam: Perawatan Bayi Resiko Tinggi, cet. 1. Jakarta:
EGC, 2003; 30-56