Vous êtes sur la page 1sur 3

Analisi kandungan lipid pada mikroalga

Analisis kadar total lipid menggunakan metode Bligh and Dyer (1959). Sampling setiap mikroalga diambil
sebanyak 25 ml kemudian diendapkan menggunakan sentrifuse sehingga didapatkan berat biomassa
mikroalga basah dan mikroalga diekstraksi dengan ditambahkan methanol dan ditambahkan kloroform
serta aquades. Perbandingan antara mathanol, kloroform dan aquades adalah 1 : 1 : 1.

Paul dan Wise (1971) menyebutkan bahwa ada tiga metode yang digunakan untuk ekstraksi minyak dari
alga, yaitu (1) metode press, (2) ekstraksi menggunakan solven heksana, (3) ekstraksi Prosiding Seminar
Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST)2014 ISSN: 1979-911X Yogyakarta, 15 November 2014 C-233
fluida superkritis.Proses yang sederhana adalah menggunakan tekanan/ press untuk mengekstrak
minyak dari alga dengan hasil sekitar 70 – 75%.Minyak alga juga dapat diekstraksi menggunakan bahan
kimia.Bahan kimia yang banyak digunakan untuk ekstraksi solven adalah heksana.Bahan ini dipilih
karena relatif murah (Demirbaş, 2009).

METODE PENELITIAN Penelitian ini tentang pengambilan lipid dengan autoklaf dari mikroalga basah
yang dilaksanakan di laboratorium di Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta.Peubah yang diteliti
adalah variasi tekanan, perbandingan volume pelarut, dan waktu ekstraksi. Sedangkan hasil yang
dievaluasi berupa jumlah lipid yang dihasilkan. Alat yang digunakan untuk melakukan proses
pengambilan lipid adalah autoklaf yang beroperasi pada tekanan tinggi dan rangkaian alat distilasi.
Bahan baku yang digunakan adalah mikroalga basah jenis Nannochloropsis sp., methanol, kloroform.
Proses pengambilan lipid mikroalga dilakukan dengan variasi tekanan ekstraksi yaitu 20 psi, 40 psi, dan
60 psi, variasi perbandingan volume pelarut (methanol : kloroform)yaitu 1:1 (v/v), 2:1 (v/v), dan 1:2
(v/v), dan variasi waktu ekstraksi yaitu 30 menit, 60 menit, 90 menit, dan 120 menit. Adapun tahapan-
tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini meliputi, tahap pertama persiapan bahan baku. Bahan
baku mikroalga basah jenis Nannochloropsis sp. sebelum diekstraksi dianalisis terlebih dahulu untuk
mengetahui kandungan airnya. Mikroalga basah yang masih tercampur Prosiding Seminar Nasional
Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST)2014 ISSN: 1979-911X Yogyakarta, 15 November 2014 C-234 dengan
media air laut disaring menggunakan kain saring, kemudian ditunggu sampai tidak ada air yang menetes
lagi. Dari hasil analisis bahan baku mikroalga basah diperoleh kadar air pada mikroalga basah yaitu
sebesar 79,57%. Tahap selanjutnya adalah proses ekstraksi lipid. Sebanyak 42,6 gram sampel mikroalga
basah jenis Nannochloropsis sp. diproses dengan menambahkan pelarut yang merupakan campuran
yang terdiri dari kloroform sebanyak x mL dan y mL methanol untuk membuat suspensi. Pada saat
ekstraksi, perbandingan volume pelarut yang digunakan (jumlah volume kloroform (x) dibandingkan
dengan jumlah volume methanol (y)) yaitu 1:1, 2:1 dan 1:2 dengan volume total pelarut untuk setiap
proses sebanyak 100 mL. Campuran minyak dan pelarut tersebut dimasukkan kedalam autoklaf dan
diproses dengan lama 30 menit, 60 menit, 90 menit, dan 120 menit, dengan tekanan proses yang
divariasikan dari 20 psi sampai dengan 60 psi. Setelah proses ekstraksi selesai, kemudian dilanjutkan
dengan proses yang bertujuan untuk memurnikan lipid dari campuran padatan, yaitu proses
penyaringan. Proses ini menghasilkan larutan lipid yang masih tercampur dengan pelarut. Hasil proses
kemudian dilakukan pemurnianlipid menggunakan proses destilasi. Proses berikutnya adalah pemurnian
lipid dari mikroalga. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan pelarut yang tercampur dengan lipid hasil
dengan menggukanan proses destilasi. Campuran bahan yang akan dimurnikan dimasukkan kedalam
erlenmeyer pada rangkaian alat distilasi kemudian dilakukan pemanasan pada suhu 700 C sampai
seluruh pelarut (methanol dan kloroform) menguap. Proses distilasi ini dilakukan selama waktu tertentu
(sampai tidak ada pelarut yang menetes), sehingga diperoleh hasil lipid mikroalga yang tertinggal di
erlenmeyer. Lipid yang dihasilkan dilakukan penimbangan untuk menentukan yield lipid (%), yaitu
banyaknya lipid yang dapat diperoleh dari mikroalga tiap satu satuan berat mikroalga kering. Yield lipid ൌ
ୠୣ୰ୟ୲ ୪୧୮୧ ୲ ୣ ୰ୟ୫ୠ୧୪ ୠୣ୰ୟ୲ ୫୧୩୰୭ୟ୪୲ୟ ୩ ୣ ୰୧୬୲ x 100% …… (1) Dari hasil penelitian,
dengan variasi tekanan ekstraksi, perbandingan volume pelarut dan waktu ekstraksi kemudian dapat
ditentukan kondisi operasi proses yang optimum yaitu proses dengan hasil lipid mikroalga yang
optimum.

disebut sebagai kondisi basah dan Chlorella sp. kering. Bahan Chlorella sp. kering diperoleh setelah
supernatan Chlorella sp dikeringkan dengan freeze drying selama 15 jam, suhu -40oC dan berukuran
lolos 100 mesh. Bahan biomassa Chlorella sp. disediakan oleh Balai Budidaya Air Payau (BBAP) di
Situbondo. Bahan baku yang digunakan baik kondisi basah dan kering, sebelumnya dianalisa kadar air,
protein dan minyaknya. Sedangkan minyak alga yang diperoleh diketahui komposisi Pemilihan Metode
Ekstraksi Minyak Alga dari Chlorella sp. dan Prediksinya sebagai Biodiesel asam lemaknya menggunakan
analisa gas kromatografi menggunakan prosedur berikut: sampel minyak alga dilarutkan dalam heksana
dan 1-5 µL yang diinjeksikan kedalam GC (Shimadzu, seri: GC-9 AM) yang dilengkapi kolom DEGS
(Diethylene Glycol Succinate) dengan detector FID. Panjang kolom yang digunakan 2x3 mm ID. Suhu
antara injeksi dan detekor sebesar 250oC. Suhu kolom sekitar 170-210oC dengan kenaikan suhu
8oC/menit. Gas pembawa yang berupa nitrogen (N2) dengan tekanan 1,5 kg/cm2 . Tekanan udara dan
tekanan hidogen sebesar 0,5 kg/cm2 dan 0,6 kg/cm2 . 2.2 Prosedur Penelitian Penelitian ini memilih
empat macam metode ekstraksi: metode ekstraksi Bligh Dyer [6], metode Bligh Dyer modifikasi [18],
metode sokhletasi dan osmotik shock. Metode sokhletasi menggunakan pelarut n-heksan sedangkan
pada metode osmotik shock digunakan larutan HCl 5 M dengan waktu perendaman 3 jam. Masing-
masing metode dihitung yield minyak alga yang diperoleh untuk digunakan sebagai dasar pemilihan
metode ekstraksi yang tepat. Metode ekstraksi yang tepat untuk minyak alga ini dipilih berdasarkan
perolehan yield yang tertinggi.