Vous êtes sur la page 1sur 14

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

I. PENGERTIAN
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan
lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram.(WHO,1961). Berat badan lahir
rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. (Huda
dan Hardhi, NANDA NIC-NOC, 2013).
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500
gram pada waktu lahir. (Amru Sofian, 2012). Dikutip dalam buku Nanda, (2013).

II. ETIOLOGI
Keadaan BBLR ini dapat disebabkan oleh :
1. Masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat yang sesuai (masa
kehamilan dihitung mulai hari pertama haid terakhir dari haid yang teratur).
2. Bayi small gestational age (SGA); bayi yang beratnya kurang dari berat
semestinya menurut masa kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan =KMK).
3. Masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan SGA.

A. Faktor Ibu
1. Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi.
2. Kelainan bentuk uterus (mis. Uterus bikornis,inkompeten serviks).
3. Tumor (mis. Mioma uteri, sistoma).
Ibu yang menderita penyakit antara lain : akut dengan gejala panas tinggi
(mis. Tifus abdominalis, malaria). Kronis (mis. TBC, penyakit jantung,
gromeluronefritis kronis).
4. Trauma pada masa kehamilan antara lain: fisik (mis.jatuh). Psikologis
(mis.stres).
5. Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
6. Plasenta antara lain plasenta previa,solusio plasenta.
B. Faktor Janin
1. kehamilan ganda,
2. Hidramnion,
3. Ketuban pecah dini,
4. cacat bawaan,
5. Infeksi (mis. Rubeolla, sifilis,toksoplasmosis),
6. Insufisiensi plasenta,
7. Inkompatibilitas darah ibu dan janin(factor Rhessus, golongan darah ABO).
Faktor Plasenta adalah Plasenta previa dan solusio plasenta.
III. PATHWAY

PREMATURI DISMATURITAS

Faktor gangguan :
Faktor Ibu : Umur Faktor Placenta : Faktor janin: kelainan pertukaran zat antara
(20 th) paritas, Ras, penyakit vaskuler, kromosom,malformasi, ibu dan janin
T
Infertilitas Riwayat kehamilan ganda, TORCH, kehamilan
kehamilan tak baik, malformasi tumor ganda
Rahim abnormal, dll AS Reterdasi pertumbuhan
intra uterin

Dinding otot Rahim Bayi lahir premature Berat badan <2500


bagian bawah Rahim (BBLR/BBSLR) gram
lemah

Permukaan tubuh relatif Jaringan lemak subkutan Prematuritas Fungsi organ-organ


lebih luas lebih tipis belum baik

Penurunan daya
tahan

Penguapan berlebih Pemaparan dengan suhu Kehilangan panas Kekurangan


luar melalui kulit cadangan energi

Resiko infeksi
Kehilanga cairan Kehilangan panas
malnutrisi
Resiko
Dehidrasi ketidakseimbangan suhu
hipoglikemia
tubuh

Resiko / icterus neunatus hiperbilirubi Konjungasi bilirubin hati


n belu baik

sepsis Resiko infeksi piodermal Halus mudah lecet hati


IV. KLASIFIKASI
BBLR dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
1. Prematuritas murni Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badan lahir
sesuai untuk masa kehamilan.
2. Dismaturitas Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa gestasi itu, artinya bayi mengalami pertumbuhan intrauterine dan
merupakan bayi kecil untuk masa kehamilan.

V. PATOFISIOLOGI
Tingginya morbiditas dan mortalitas bayi berat lahir rendah masih menjadi
masalah utama. Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu
sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR. Kurang gizi yang kronis pada
masa anak-anak dengan/tanpa sakit yang berulang akan menyebabkan bentuk tubuh
yang “Stunting/ Kuntet” pada masa dewasa, kondisi ini sering melahirkan bayi BBLR.
Faktor-faktor lain selama kehamilan, misalnya sakit berat, komplikasi kehamilan,
kurang gizi, keadaan stres pada hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin melalui
efek buruk yang menimpa ibunya, atau mempengaruhi pertumbuhan plasenta dan
transpor zat-zat gizi ke janin sehingga menyebabkan bayi BBLR.
Bayi BBLR akan memiliki alat tubuh yang belum berfungsi dengan baik. Oleh
sebab itu ia akan mengalami kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Makin pendek
masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya,
dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tinggi angka
kematiannya.
Berkaitan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya, baik anatomik
maupun fisiologik maka mudah timbul masalah misalnya:
1. Suhu tubuh yang tidak stabil karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh
yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat dari kurangnya
jaringan lemak di bawah kulit, permukaan tubuh yang relatif lebih luas
dibandingkan BB, otot yang tidak aktif, produksi panas yang berkurang.
2. Gangguan pernapasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR,
hal ini disebabkan oleh pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum
sempurna, otot pernapasan yang masih lemah
3. Gangguan alat pencernaan dan problem nutrisi, distensi abdomen akibat dari
motilitas usus kurang, volume lambung kurang, sehingga waktu pengosongan
lambung bertambah
4. Ginjal yang immatur baik secara anatomis mapun fisiologis, produksi urine
berkurang
5. Gangguan immunologik : daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena
rendahnya kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup
membentuk antibodi dan daya fagositas serta reaksi terhadap peradangan
masih belum baik.
6. Perdarahan intraventrikuler, hal ini disebabkan oleh karena bayi prematur
sering menderita apnea, hipoksia dan sindrom pernapasan, akibatnya bayi
menjadi hipoksia, hipertensi dan hiperkapnea, di mana keadaan ini
menyebabkan aliran darah ke otak bertambah dan keadaan ini disebabkan oleh
karena tidak adanya otoregulasi serebral pada bayi prematur sehingga mudah
terjadi perdarahan dari pembuluh kapiler yang rapuh.

V. GEJALA KLINIS
1. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu.
2. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram.
3. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm.
4. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari.
5. Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas.
6. Lingkar kepala sama dengan atau kurang 33 cm.
7. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm.
8. Rambut lanugo masih banyak.
9. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang.
10. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-
olah tidak teraba tulang rawan daun telinga.
11. Tumit mengkilap,telapak kaki halus.
Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang.
Testis belum turun kedalam skrotum,untuk bayi perempuan klitoris
menonjol,labia minora belum tertutup oleh labia mayora.
12. Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakanya lemah.
Fungsi saraf yang belum atau kurang matang, mengakibatkan reflex
isap, menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif, dan tangisnya lemah.
13. Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan
lemak masih kurang.
14. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit.

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


A. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-
24.000/mm3,hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).
B. Hematokrit (ht) : 43%-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih menandakan
polisitemia,penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic
prenatal/perinatal).
C. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia
atau hemolisis berlebihan.
D. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12
mg/dl pada 3-5 hari.
E. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-
rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.
F. Pemantauan elektrolit ( Na,K,Cl) : biasanya dalam batas normal pada awalnya.
G. Pemeriksaan analisa gas darah.

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterine serta menemukan
gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksan ultra sonografi.
B. Memeriksa kadar gula darah(true glucose) dengan dextrostik atau labopratorium
kalau hipoglikemi perlu diatasi.
C. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.
D. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.
E. Melakukan tracheal – washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi
mekonium.
F. Sebaiknya setiap jam dihitung frekwensi pernafasan dan bila frekwensi lebih dari
60x/menit dibuat foto thorax.
VIII. PENATALAKSANAAN

Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk


perumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup
diluar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian
makanan dan bila perlu oksigen, mencegah infeksi serta mencegah kekurangan
vitamin dan zat besi.

A. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/BBLR


Bayi premature dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi
hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan
baik,metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu
bayi prematuritas harus dirawat di dalam incubator sehinga panas badanya
mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam incubator maka suhu bayi
dengan berat badan, 2 kg adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat
badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat celcius. Bila incubator tidak ada bayi dapat
dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas,
sehingga panas badannya dapat dipertahankan.
B. Nutrisi
Alat pencernaan bayi premature masih belum sempurna, lambung kecil, enzim
pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan
kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhanya dapat meningkat. Pemberian
minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan
lambung. Reflex menghisap masih lemah, sehingga pemberian minum
sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang lebih sering. ASI
merupakan makanan yang paling utama, sehingga ASI lah yang paling dahulu
diberikan. Bila factor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan
diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde
menuju lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan
terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cckg BB/hari.
C. Menghindari infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang
masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibody
belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak
pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas (BBLR).
Dengan demikian perawat dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan
terisolasi dengan baik.

I. PENGKAJIAN
A. Keadaan umum: Pada neonatus dengan BBLR, keadaannya lemah dan hanya
merintih. Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan
menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap
rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada
pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik.
B. Tanda-tanda Vital: Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila
penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya
hipothermi bila suhu tubuh < 36 °C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh
< 37 °C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5°C – 37,5°C, nadi normal antara
120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering pada bayi
post asfiksia berat pernafasan belum teratur (Potter Patricia A, 1996 : 87).
C. Kulit: Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi
preterm terdapat lanugo dan verniks.
D. Kepala: Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-
ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
E. Mata: Warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva,
warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksterhadap cahaya.
F. Hidung: Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
G. Mulut: Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
H. Telinga: Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan
I. Leher: Perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek
J. Thorax: Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing
dan ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit.
K. Abdomen: Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah arcus
costaae pada garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya
asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1
sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract
belum sempurna.
L. Umbilikus: Tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda –
tanda infeksi pada tali pusat.
M. Genitalia: Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara
uretra pada neonatus laki – laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia
minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
N. Anus: Perhatiakan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna
dari faeses.
O. Ekstremitas: Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah
tulang atau adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
P. Refleks: Pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah.
Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat
atau adanya patah tulang (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter Patricia A,
1996 : 109-356).

1. Tanda Fisiologis
a. Gerakan bayi pasif dan tangis hanya merintih,walaupun lapar bayi tidak
menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas.
b. Suhu tubuh mudah untuk menjadi hipotermi,penyebabnya adalah : pusat
pengatur panas belum berfungsi dengan sempurna, kurangnya lemak pada
jaringan subcutan akibatnya mempercepat terjadinya perubahan suhu dan
kurangnya mobilisasi sehingga produksi panas berkurang.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


A. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler.
B. Tidak efektifnya termoregolasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan
berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.
C. Resiko tinggi infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
D. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan tubuh dalam
mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna).
E. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
F. Kecemasan orang tua b.d situasi krisis,kurang pengetahuan.
III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO Diagnosa TUJUAN INTERVENSI


keperawatan/masalah
Kolaborasi
1 Pola nafas tidak NOC : Airway Management
efektif b.d imaturitas  Respiratory status :  Buka jalan nafas, guanakan teknik
paru dan Ventilation chin lift atau jaw thrust bila perlu
neorumuskular,  Respiratory status :  Posisikan pasien untuk
penurunan energi, Airway patency memaksimalkan ventilasi
dan keletihan.  Vital sign Status  Identifikasi pasien perlunya
Kriteria Hasil : pemasangan alat jalan nafas buatan
 Mendemonstrasikan batuk  Pasang mayo bila perlu
- efektif dan suara nafas  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
yang bersih, tidak ada  Keluarkan sekret dengan batuk atau
sianosis dan dyspneu suction
(mampu mengeluarkan  Auskultasi suara nafas, catat adanya
sputum, mampu bernafas suara tambahan
dengan mudah, tidak ada
 Lakukan suction pada mayo
pursed lips)
 Menunjukkan jalan nafas  Berikan bronkodilator bila perlu
yang paten (klien tidak  Berikan pelembab udara Kassa
merasa tercekik, irama basah NaCl Lembab
nafas, frekuensi  Atur intake untuk cairan
pernafasan dalam rentang mengoptimalkan keseimbangan.
normal, tidak ada suara  Monitor respirasi dan status O2
nafas abnormal)
 Tanda Tanda vital dalam Terapi Oksigen
rentang normal (tekanan  Bersihkan mulut, hidung dan secret
darah, nadi, pernafasan) trakea
 Pertahankan jalan nafas yang paten
 Atur peralatan oksigenasi
 Monitor aliran oksigen
 Pertahankan posisi pasien
 Onservasi adanya tanda tanda
hipoventilasi
 Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenasi

Vital sign Monitoring


 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
 Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
 Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan
abnormal
 Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign

2 Inefektif Setelah dilakukan tindakan Penanganan demam


termoregulasi keperawatan 3x24 jam, klien  Lakukan monitoring suhu secara
berhubungan dengan dapat mencapai status kontinyu
kontrol suhu yang thermoregulasi yang baik  Monitor warna dan suhu kulit
imatur dan secara konstan dengan criteria  Monitor tekaan darah, nadi dan RR
penurunan lemak hasil :  Monitor tingkat kesadaran
tubuh subkutan.  Tanda-tanda vital dalam  Monitor WBC, HB, HCT
batas normal  Monitor intake dan output
 Kulit tidak panas,  Berikan anti piretik
kemerahan  Lakukan tapid sponge
 Berikan cairan intravena
 Kompres klien pada lipat paha dan
aksila
 Tingkatkan sirkulasi udara

Pengaturan suhu
 Monitor suhu minimal tiap 2 jam
 Monitor TD, nadi, RR
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

3 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Managemen nutrisi


nutrisi kurang dari keperawatan selama 3 x 24  kelaborasi dengan ahli gizi tentang
kebutuhan tubuh jam, diharpkan status nutrisi kebutuhan kalori dan tipe makanan
berhubungan dengan klien terpenuhi: intake yang dibutuhkan
ketidakmampuan makanan, gizi dan cairan.  tingkatkan intake protein, zat besi
mencerna nutrisi Dengan kriteria: dan vit c
 BB normal sesuai umur  anjurkan untuk makan tktp dan
dan tinggi badan tingkatkan minum sesuai kebutuhan
 Mengkonsumsi nutrisi  monitor intake nutrisi dan kalori
yang adekuat Nutritional terapi
 Tidak menunjukkan tanda  kaji kebutuhan untuk pemasangan
mal nutrisi NGT
 berikan makanan melalui NGT k/p
 berikan lingkungan yang nyaman
dan tenang untuk mendukung
makan
 berikan makanana sedikit-sedikit
tetapi sering
 monitor penurunan dan
peningkatan BB
 kaji rasa mual dan muntah
 monitor kelemahan, fatigue
 monitor intake kalori dan gizi

4 Risiko kerusakan Setelah dilakukan tindakan Skin survailance


integritas kulit b.d keperawatan 3 x 24 jam tidak  Monitor suhu tubuh, warna kulit
penurunan status ada tanda-tanda kerusakan  Monitor kulit dari tanda kemerahan,
nutrisi dan intergritas kulit dengan criteria edema, turgor kulit
kelembaban kulit hasil :  Monitor perubahan kulit dan
 Turgor kulit elastis membrane mukosa
 Suhu tubuh dbn
 Tidak ada edema
Pressure management
 Tidak ada tanda REEDA
 Monitor activity dan mobility
 Monitor sumber penekanan
 Monitor status nutrisi
 Alih baring tiap 2 jam

5 Risiko infeksi NOC : Infection Control (Kontrol infeksi)


berhubungan dengan  Immune Status  Bersihkan lingkungan setelah
pertahanan  Knowledge : Infection dipakai pasien lain
imunologis yang control  Pertahankan teknik isolasi
kurang  Risk control  Batasi pengunjung bila perlu
Kriteria Hasil :  Instruksikan pada pengunjung
 Klien bebas dari tanda untuk mencuci tangan saat
dan gejala infeksi berkunjung dan setelah berkunjung
 Mendeskripsikan proses meninggalkan pasien
penularan penyakit,  Gunakan sabun antimikrobia untuk
factor yang cuci tangan
mempengaruhi  Cuci tangan setiap sebelum dan
penularan serta sesudah tindakan kperawtan
penatalaksanaannya,  Gunakan baju, sarung tangan
 Menunjukkan sebagai alat pelindung
kemampuan untuk
 Pertahankan lingkungan aseptik
mencegah timbulnya
selama pemasangan alat
infeksi
 Ganti letak IV perifer dan line
 Jumlah leukosit dalam
central dan dressing sesuai dengan
batas normal
 Menunjukkan perilaku petunjuk umum
hidup sehat  Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung
kencing
 Tingktkan intake nutrisi
 Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi


terhadap infeksi)
 Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap
infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
 Partahankan teknik aspesis pada
pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
DAFTAR PUSTAKA

Ennis,Sharon Axton.2003.Pediatric Nursing Care Plans.Pearson Education.New Jersey.

Hidayat,Alimul A.2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak1.Penerbit Salemba Medica :


Jakarta.

Faras Handayani. (2006). Berat Badan Lahir Rendah Tak Selalu Dirawat DiRumah
sakit (On-Line) terdapat pada :http://www.tabloid-nakita,com/artikel.

Nelson.(1999).ilmu kesehatan Anak 1.EGC. Jakarta.

Sitohang , Nur Asnah.2004. Asuhan Keperawatan Pada Berat Badan Lahir Rendah. USU
Repository @2006

Sowden, Betz Cicilia.2002. Keperawatan Pediatric.EGC.Jakarta.

Speirs,al.(1993).Ilmu Kesehatan Anak Untuk Perawat.IKIP Semarang Press. Semarang.

Whaley’s and Wong.(1996). Clinic Manual of PediatricNursing.4 th Edition. Mosby


Company.

Zulhaida Lubis.(2003). Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang
dilahirkan (On-Line). Terdapat pada : http://tumoutou.net/702-07134/zulhaida-
lubis.htm.