Vous êtes sur la page 1sur 41

LAPORAN KASUS

MORBILI

Disusun oleh :
Rebekka Martina
1161050257

Pembimbing
dr. Rivai Usman, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

PERIODE 5 OKTOBER – 12 DESEMBER 2015

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA


JAKARTA

BEKASI, JAWA BARAT

1
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Rebekka Martina, S.Ked

NIM : 1161050257

Fakultas : Kedokteran Umum

Judul : Laporan Kasus Morbili

Bagian : Ilmu Kesehatan Anak

Pembimbing : dr. Rivai Usman Sp. A

Pembimbing,

dr.Rivai Usman, Sp.A

2
BAB I

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS

Data Pasien Ayah Ibu


Nama An. A Tn. AH Ny. I
Umur 2 tahun 30 tahun 28 tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Perempuan
Alamat Rawa Pasung RT 03/04 Kali Baru
Agama Islam Islam Islam
Suku bangsa Sunda
Pendidikan SD SMA SMA
Pekerjaan Pelajar Wiraswasta IRT
Penghasilan - - -
Keterangan Hubungan dengan
orang tua : Anak
Kandung
Tanggal Masuk 12 Oktober 2015
RS

ANAMNESIS

Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ibu Pasien di bangsal anak ruang Melati-05(Isolasi).

Keluhan Utama :

Bercak merah-merah di seluruh tubuh sejak 1 hari SMRS

Keluhan Tambahan :

3
Demam hari ke 5

Batuk dan Pilek.

Mata merah.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang dari IGD dengan keluhan bercak merah di seluruh badan sejak 1 hari
SMRS. Awal nya bercak merah muncul di dada, kemudian di muka kemudian menyebar ke
seluruh tubuh. Bercak merah kecil-kecil dan banyak. ruam ruam tersebut terasa sangat gatal
hingga pasien sering menangis dan merasa gelisah. Akibat ruam-ruam kemerahan tersebut,
pasien juga menjadi sulit tidur. Sudah diberikan obat penurun panas tapi tidak membaik juga
Selain bercak merah timbul juga batuk pilek, sebelumnya di rasakan demam sudah 5 hari SMRS
naik turun sempat berubat ke rs lain dan di beri obat tetap demam. Kedua pasien matanya merah.
Tidak ada keluhan pada kedua telinga. Orang tua pasien juga menyangkal adanya gangguan pada
BAB dan BAK pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur

Alergi - Difteria - Jantung -

Cacingan - Diare - Ginjal -

DBD - Kejang - Darah -

Thypoid - Maag - Radang paru -

Otitis - Varicela - Tuberkulosis -

Parotis - Operasi - Morbili -

Kesan:

Pasien baru mengalami sakit seperti ini

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada yang pernah mengalami penyakit serupa.

4
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ditemukan kelainan

Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke


bidan

KELAHIRAN Tempat kelahiran Bidan

Penolong persalinan Bidan

Cara persalinan spontan

Masa gestasi 38 Minggu

Keadaan bayi Langsung menangis

Apgar score 9-10

Langsung menangis

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :

Pertumbuhan gigi I : 9 bulan (normal: 5-9 bulan)

Psikomotor

Tengkurap : 4 bulan (normal: 3-4 bulan)

Duduk : 8 bulan (normal: 6 bulan)

Berdiri : 9 bulan (normal: 9-12 bulan)

Berjalan : 13 bulan (normal: 13 bulan)

Bicara : 12 bulan (normal: 9-12 bulan)

Baca dan Tulis : -

Kesan :

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien sesuai usia.

5
Riwayat Makanan

Umur ASI PASI Buah/biscuit Bubur susu Nasi tim


0-2 bulan √
2-4 bulan √

4-6 bulan √ √

6-8 bulan √ √ √ √
10-12 bulan √ √ √ √
1-2 tahun √ √

Riwayat Imunisasi :

Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)

BCG 2 bulan - - - - -

DPT 2 bulan 4 bulan 6 bulan - - -

POLIO Lahir 2bulan 4 bulan - - -

CAMPAK - - - - - -

HEPATITIS B - - - - - -

Riwayat Keluarga :

Ayah Ibu Anak pertama

Nama Tn. AH Ny.I An.A

Perkawinan ke Pertama Pertama -

Umur 30 28 2 tahun

Keadaan kesehatan Baik baik

Kesan : tidak ada yang seperti pasien

6
Riwayat Perumahan dan Sanitasi :

Tingggal di rumah sendiri bertiga dengan pencahayan dan sanitasi cukup

PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pada An.A pada tanggal 12 Oktober 2015 di bangsal anak ruang Melati-05(Isolasi).

 Keadaan umum : tampak sakit sedang


 Tanda vital
 Kesadaran : compos mentis
 Frekuensi nadi : 100 x/menit
 Tekanan darah : Tidak dilakukan
 Frekuensi pernapasan : 35 x/menit
 Suhu tubuh : 40 oC
 Data antropometri
 Berat badan : 13 kg
 Tinggi badan : 90 cm
 Status gizi
Z-Score Keterangan
>3 SD Obese (sangat gemuk)
>2 SD Overweight (gemuk)
>1 SD Possible risk of overweight
1 < SD > -2 Berat badan sesuai
<-2 SD Wasted (kurus)
<-3 SD Severely wasted (sangat kurus)
Kesan: gizi baik.

7
 Kepala
 Bentuk : normocephali
 Rambut : rambut hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
 Mata : conjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor,
RCL +/+, RCTL +/+
 Telinga Normotia, membran tympani intak +/+, serumen +/+, secret
-/-, di belakang telinga terdapat bintik bintik/ruam
kemerahan
 Hidung : bentuk normal, sekret -/-, nafas cuping hidung -/-
 Mulut : Deformitas (-), bibir kering (-), sianosis perioral (-)

 Leher
 : Tidak teraba pembesaran tiroid, kelenjar getah bening tidak teraba membesar, retraksi
suprasternal (-), kaku kuduk (-)
 Thorax
 Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-)

8
 Palpasi : Vocal fremitus kanan dan kiri simetris, massa (-)
 Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
 Auskultasi
o Pulmo : suara nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-
o Kardio : bunyi jantung I dan II reguler, murmur -, gallop –
 Abdomen
 Inspeksi : perut datar, distensi (-), jejas (-)
 Auskultasi : bising usus 3x/menit
 Palpasi : supel, bising usus (+), organomegali (-)
 Perkusi : timpani, shifting dullness (–)

 Kulit : Turgor baik, ptechiae (-), bintil bintil merah


makulopapular

 Genitalia Eksterna : tidak tampak kelainan


 Ekstremitas :
Superior Inferior

Dextra Sinistra Dextra Sinistra

Akral Hangat Hangat Hangat Hangat

Sianosis - - - -

Edema - - - -

Tonus Normo Normo Normo Normo

Trofi Normo Normo Normo Normo

Motorik 5555 5555 5555 5555

Sensorik - - - -

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium darah 12/10/2015

9
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal

HEMATOLOGI

Laju Endap darah 40 Mm 0-10

Lekosit 5,8 Ribu/uL 5-10

Basofil 0 % <1

Eosinofil 0 % 1-3

Batang 0 % 2-6

Segment 76 % 52-70

Limfosit 21 % 20-40

Monosit 3 % 2-8

Eritrosit 4.24 Juta/uL 4-5

Hemoglobin 12,1 g/dl 11-14.5

Hematokrit 35,9 % 40-54

MCV 84.5 Fl 75-87

MCH 28.5 Pg 24-30

MCHC 33.7 % 31-37

Trombosit 283 Ribu/ul 150-400

Gula Darah Sewaktu 100 Mg/dl 60-110

Natrium 127 Mmol/L 135-145

Kalium 4.6 Mmol/L 3.5-5.0

Clorida 89 Mmol/L 94-111

10
RESUME

Pasien datang dengan keluhan bercak merah di seluruh badan tadi malam. Awal nya
bercak merah muncul di dada,muka kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Bercak merah kecil-
kecil dan banyak. ruam merah tersebut juga terasa gatal sehingga pasien sering menangis dan
gelisah.Selain bercak merah timbul juga batuk pilek, sebelumnya di rasakan demam sudah 4 hari
naik turun sempat berubat ke rs lain dan di beri obat tetap demam. Pasien juga mengeluh kedua
matanya merah. Pada pemeriksaaan fisik didapatkan tanda vital nadi : 100x/m, pernafasan:
35x/m, suhu: 40,oC, dan juga didapatkan rash makular diseluruh tubuh. Pada pemeriksaaan lab
darah rutin didapatkan penurunan hematokrit sebesar 35,9% , Natrium 127 Mmol/L dan clorida
89 Mmol/L. dan pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan kenaikan LED sebesar 40 Mm.

DIAGNOSIS KERJA

Morbili

DIAGNOSIS BANDING

- rubella

- roseola

PENATALAKSANAAN

Non medikamentosa

Tirah baring di ruang isolasi agar tidak menular

Edukasi kepada orangtua tentang penyakit yang diderita

Medikamentosa

-infus tridex 27 A 1000 cc/24 jam

-ispririnol syr 3x1

-vit A 1x 200.000

11
-parasetamol syr 3x1cth

-Be 250 cc/hari

-Dexamethason 3x2mg

PROGNOSIS

 Ad vitam : Dubia ad bonam


 As fungsionam : Dubia ad bonam
 Ad sanationam : Dubia ad bonam

Tanggal S O A P

13/10/15 Demam (+), S: 40,30C Morbilli Tridex 27 A


Batuk pilek 1000cc/24 jam
(+),bercak N: 100 x/menit
merah seluruh -Isprinol 3x1
RR: 3ox/menit cth
tubuh.
-Sanmol 150
AVPU : alert mg IV

Mata : CA -/- SI-/- -Paracetamol


3x1cth

-Vit A
Leher : Tidak ada 1x200.000 iv
Pembesaran KGB kedua
belakang telinga -BE 250 cc/hari

-Cendosoitrol
th mata 3x 1
Thorax : SN vesikuler cths/d mata
+/+ Rh+/+ Wh-/- BJI & bersih
BJII regular, murmur –
gallop – Dexametason
3x 2,5 mg (2
hari)

Abdomen : BU +
3x/menit kesan normal,

12
supel,

Extremitas : Akral
Hangat (+)

Kullit : Rash Makular


seluruh tubuh

14/10/15 Demam (+), S: 38,80C Morbilli - IVFD RL


Batuk pilek (+),
Bercak Merah N: 100 x/menit -Benutrion VE
(+) seluruh 125 ml
RR: 30x/menit
tubuh -Sanmol Drop
3x1cth
AVPU : alert -Ambroksol
3x1cth

Mata : CA -/- SI-/- -Vit A


1x200.000 iv
Leher : tidak ada
Pembesaran KGB kedua -Pyr btk 3x1
belakang telinga Isprinol 3x 1
cth

Thorax : SN vesikuler -Dexamethason


+/+ Rh+/+ Wh-/- BJI & 3x2,5 mg
BJII regular, murmur –
gallop –

Abdomen : BU +
3x/menit kesan normal,
supel

13
Extremitas : Akral
Hangat (+)

Kullit : Rash Makular


seluruh tubuh

15/10/15 Demam(+), S: 36,70C Morbilli IVFD RL 70


Bercak merah TPM
sudah mulai N: 100 x/menit
berkurang, -BE 125 ML
RR: 3ox/menit
Batuk pilek juga -Sanmol Drop
berkurang. 3x1cth
Mencret 2 kali AVPU : alert -isprinol 3x1cth
cair,Sariawan
-Vit A
Mata : CA -/- SI-/- 1x100.000 iv

Thorax : SN vesikuler -pyr batuk 3 x1


+/+ Rh+/+ Wh-/- BJI & -Dexamethason
BJII regular, murmur – 3x2,5mg
gallop –
-Zinc 2x1 cth

Abdomen : BU +
3x/menit kesan normal,
supel

Extremitas : Akral
Hangat (+)

Kulit : Rash Makular


seluruh tubuh mulai
berkurang

14
16/10/15 Demam(-), S: 37,00C Morbilli IVFD RL 70
Bercak merah TPM
sudah mulai N: 100 x/menit
berkurang, -BE 125 ML
RR: 30x/menit
Batuk pilek juga -Sanmol Drop
berkurang,masih 3x1cth
terasa gatal
AVPU : alert -isprinol 3x1cth

-Vit A
Mata : CA -/- SI-/- 1x100.000 iv

Thorax : SN vesikuler -pyr batuk 3 x1


+/+ Rh+/+ Wh-/- BJI & -Dexamethason
BJII regular, murmur – 3x2,5mg
gallop –
-Zinc 2x1 cth

Abdomen : BU +
3x/menit kesan normal,
supel

Extremitas : Akral
Hangat (+)

Kullit : Rash Makular


seluruh tubuh mulai
berkurang

15
17/10/15 Demam(-), S: 36,50C Morbilli IVFD RL 70
Bercak merah TPM
sudah mulai N: 100 x/menit
berkurang, -BE 125 ML
RR: 30x/menit
Batuk juga -Sanmol Drop
berkurang,masih 3x1cth
terasa gatal
AVPU : alert -isprinol 3x1cth

-Vit A
Mata : CA -/- SI-/- 1x100.000 iv

Thorax : SN vesikuler -pyr batuk 3 x1


+/+ Rh+/+ Wh-/- BJI & -Dexamethason
BJII regular, murmur – 3x2,5mg
gallop –
-Zinc 2x1 cth

Abdomen : BU +
3x/menit kesan normal,
supel

Extremitas : Akral
Hangat (+)

Kullit : Rash Makular


seluruh tubuh mulai
berkurang

16
18/10/15 Demam(-), S: 36,50C Morbilli -Sanmol Drop
Bercak merah 3x1cth
sudah mulai N: 100 x/menit
berkurang, -isprinol 3x1cth
RR: 30x/menit
Batuk juga -Vit A
berkurang,masih 1x100.000 iv
terasa gatal
AVPU : alert -pyr batuk 3 x1

-Zinc 2x1 cth


Mata : CA -/- SI-/-

Thorax : SN vesikuler
Boleh Pulang
+/+ Rh+/+ Wh-/- BJI &
BJII regular, murmur –
gallop –

Abdomen : BU +
3x/menit kesan normal,
supel

Extremitas : Akral
Hangat (+)

Kullit : Rash Makular


seluruh tubuh mulai
hilang

17
Foto Pasien

18
BAB II

ANALISA KASUS

Pada kasus ini didiagnosa sebagai Morbilli karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
7
berdasarkan oleh criteria dari World Health Organization (WHO) Tahun 2009 dan Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 20046
1. Berdasarkan WHO Tahun 20097 :
 Gejala awal adalah demam tinggi yang dimulai 10-12 hari setelah pajanan terhadap virus, dan
bertahan selama 4-7 hari
 Coryza, batuk dan konjungtivitis, bercak Koplik pada mukosa bucal pada stadium inisial
 Setelah beberapa hari, timbul ruam biasanya pada muka dan leher
 Dalam 3 hari, ruam menyebar ke tangan dan kaki
 Ruam menetap selama 5 hingga 6 hari dan kemudian menghilang

2. Berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) campak, measles atau rubeola adalah suatu
penyakit virus akut yang menular yang disebabkan oleh virus RNA dari Famili
Paramixoviridae, gejala klinis terjadi setelah masa inkubasi 10-12 hari, terdiri dari tiga
stadium:
a. Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai demam yang diikuti batuk dan
pilek, faring merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda
patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut
bercak Koplik
b. Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan
selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut belakang telinga,
kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstermitas.
c. Stadium penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam berangsur-angsur
menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan
mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu

19
Pada kasus ini dari anamnesa dan pemeriksaan fisik diketahui bahwa:
 Demam sejak 4 hari SMRS
 Batuk kering dan pilek
 Kelopak mata bengkak, merah, dan mata berair
 Timbul ruam pada demam hari ke-5 mulai dari leher, muka menjalar ke badan
 Timbul ruam seluruh tubuh, ekstremitas pada demam hari ke-6

Kesimpulan dari gejala klinis pada kasus ini di diagnose Morbilli sesuai dengan criteria
WHO dan IDAI

Hasil laboratorium untuk Morbilli berdasarkan sumber:


1. Emedicine Tahun 2009
 Pemeriksaan serologi (measles complement fixation(CF) or Hemaglutinasi Inhibisi antibody)
positif dan kultur virus untuk diagnosa pasti

2. Nelson Ilmu Kesehatan Anak


 Konfirmasi laboratorium jarang diperlukan
 Pemeriksaan darah lengkap: leucopenia, limfositosis relative dan kadar glukosa normal
Pada kasus ini, didapatkan hasil laboratorium yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2015
adalah seperti berikut:
 Leukosit normal

Pada kasus ini diagnosa banding berdasarkan referensi Nelson dan dari Emedicine adalah:
1) Rubella
2) Roseola infantum

Berdasarkan referensi Nelson


1) Rubella
 Manifestasi klinis:
 Masa inkubasi 14-21 hari

20
 Demam ringan atau tidak ada selama ruam dan menetap selama 1,2 atau 3 hari
 Mukosa faring dan konjungtiva sedikit meradang
 Eksantema mulai pada muka dan menyebar dengan cepat (dalam 24 jam), ruam dapat
menghilang pada muka saat ruam lanjutannya muncul pada badan
 Erupsi biasanya jelas pada hari ke 3
 Tidak ada fotofobia
 Tanda khas: adenopati retroaurikuler, servikal posterior dan di belakang oksipital

 Pemeriksaan laboratorium (Darah Lengkap):


 Sel darah putih normal atau sedikit menurun
 Trombositopeni jarang

2) Roseola infantum (eksantema subitum)


 Manifestasi klinis
 Demam tinggi mendadak, demam turun dengan krisis pada hari ke 3-4
 Mukosa faring meradang
 Koryza
 Ketika suhu kembali normal, erupsi macular atau maculopapular tampak diseluruh tubuh
mulai pada badan menyebar ke lengan dan leher, dan melibatkan muka dan kaki
 Ruam menghilang dalam 3 hari

 Pemeriksaan laboratorium:
 Hari pertama demam: leukosit normal, kenaikan neutrofil
 Hari ke 3-4 demam: leukopeni, neutropenia absolute dan limfositosis

Berdasarkan referensi dari Emedicine


1. Rubella
 Manifestasi klinis:
 Masa inkubasi 14-21 hari setelah pajanan
 Konjungtivitis

21
 Nyeri tenggorokan
 Demam ringan
 Malaise dan nausea
 Ruam makulopapular dimulai dari muka, leher dan menyebar secara centrifugal ke dada
dan ekstremitas terjadi dalam 24 jam. Kemudian menghilang mulai dari muka pada hari ke
2 dan menghilang seluruhnya pada akhir hari ke 3.

2. Roseola infantum
 Manifestasi klinis :
 Demam tinggi
 Ruam makulopapular, dimulai dari dada dan menyebar ke leher dan ekstremitas, tidak
gatal, pucat bila ditekan. Ruam menghilang dalam 12 jam sampai 1-2 hari
 Batuk
 Kejang
 Diare
 Irratibility
 Pemeriksaa Morbilli1 Rubella2 Roseola
n Infantum3
Lab Darah Leukopenia Leucopenia Leucopenia
Limfositopeni Trombositopen Serologi IgM,
a ia IgG
Serologi/kultu Limfositopeni
r virus (+) Rubella-
specific
immunoglobuli
n IgM dan IgG

Rencana pemeriksaan penunjang pada kasus ini, berdasarkan Nelson Tahun 2000 dan
Emedicine Tahun 2009, untuk menyingkirkan diagnosis banding:

22
1. Pemeriksaan serologi (measles complement fixation(CF) or Hemaglutinasi Inhibisi
antibody) positif dan kultur virus
2. Pemeriksaan serologi Rubella-specific immunoglobulin IgM dan IgG
3. Pemeriksaan serologi HHV-6-specific specific immunoglobulin IgM dan IgG
Penatalaksanaan berdasarkan referensi Emedicine
Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Selalunya dengan terapi suportif:
 Anak sebaiknya menjalani tirah baring
 Pemasangan akses intravena, karena pasien demam tinggi, kemungkinan terjadi dehidrasi
sangat mudah, dan juga untuk memasukkan obat-obatan injeksi
 Untuk menurunkan demam, diberikan antipiretik seperti asetaminofen atau ibuprofen
 Jika terjadi infeksi sekunder seperti pneumonia, otitis media maka baiknya diberikan
antibiotic (contohnya ceftriaxone)
 Terapi Vitamin A terbukti menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. World World Health
Organization (WHO) menganjurkan pemberian vitamin A kepada semua anak dengan
campak, dimana defisiensi vitamin A dikenalpasti sebagai satu masalah. Konsentrasi serum
vitamin A rendah ditemukan pada anak dengan campak yang parah di Amerika Serikat. Jadi,
pertimbangkan tambahan vitamin A pada pasien yang berumur 6 bulan sampai 2 tahun yang
dirawat di rumah sakit dengan campak dan komplikasinya (misalnya, batuk, pneumonia,
diare).
Penatalaksanaan pada pasien ini:
 Kebutuhan cairan : 1000 + (50 x (BB-10)= 1150 cc/ hari
 -infus tridex 27 A 1000 cc/24 jam

 Obat-obatan
 -infus tridex 27 A 1000 cc/24 jam
 -ispririnol syr 3x1
 -vit A 1x 200.000
 -parasetamol syr 3x1cth
 -Be 250 cc/hari
 -Dexamethason 3x2mg

23
 Prognosis berdasarkan referensi Nelson dan Emedicine
 Prognosis untuk kasus ini sangat baik dengan penyembuhan sempurna tanpa parut dan
tanpa komplikasi. Pada umumnya angka kematian telah menurun pada tahun-tahun ini
sampai tingkat rendah pada semua kelompok umur, terutama karena keadaan
sosioekonomi membaik, tetapi juga karena terapi antibacterial efektif untuk pengobatan
infeksi sekunder.

24
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium
prodormal (kataral), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang dimanifestasikan dengan
demam, konjungtivitis dan bercak koplik.(3)

Morbili adalah penyakit anak yang menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-
gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam scarlet, pembesaran serta
nyeri limpa nadi.(4)

Etiologi

Virus campak merupakan virus RNA famili paramyxoviridae dengan genus Morbili
virus. Sampai saat ini hanya diketahui 1 tipe antigenik yang mirip dengan virus Parainfluenza
dan Mumps. Virus bisa ditemukan pada sekret nasofaring, darah dan urin paling tidak selama
masa prodromal hingga beberapa saat setelah ruam muncul.

Morbili berada di sekret nasofaring dan didalam darah, minimal selama masa tunas dan
dalam waktu yang singkat sesudah timbul ruam. Penyebaran virus maksimal adalah melalui
percikan ludah (droplet) dari mulut selama masa prodormal (stadium kataral). Penularan
terhadap penderita rentan sering terjadi sebelum diagnosis kasus aslinya. Orang yang terinfeksi
menjadi menular pada hari ke 9-10 sesudah pemajanan, pada beberapa keadaan dapat
menularkan hari ke-7. Tindakan pencegahan dengan melakukan isolasi terutama di rumah sakit
atau institusi lain, harus dipertahankan dari hari ke 7 sesudah pemajanan sampai hari ke 5
sesudah ruam muncul. (5)

25
Bentuk Virus

Virus morbili termasuk golongan paramyxovirus berbentuk bulat dengan tepi yang kasar
dan bergaris tengah 140 nm dan dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan
protein. Didalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang
mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan struktur helix nukleo protein dari myxovirus.
Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, suatu protein yang berada diselubung luar
muncul sebagai hemaglutinin.(6)

Ketahanan Virus

Virus morbili adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi, apabila berada
diluar tubuh manusia keberadaanya tidak kekal. Pada temperatur kamar selama 3-5 hari ia
kehilangan 60% sifat infektisitasnya, pada 370c waktu paruh umurnya 2 jam, pada 560c hanya
satu jam.(4,6)Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam
pengawetan beku, minimal 4 minggu dalam temperatur 35˚C, beberapa hari pada suhu 0˚C, dan
tidak aktif pada pH rendah.(7) Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -700c selama 5,5
tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu (-4)-(-60c) dapat hidup selama 5 bulan
apabila dimasukkan dalam media protein dan hanya dapat hidup 2minggu bila tanpa media
protein.(6)

Tanpa media protein virus campak dapat dihancurkan oleh sinar ultraviolet. Oleh karena
selubungnya terdiri dari lemak maka termasuk mikroorganisme yang bersifat eter labile, pada
suhu kamar dapat mati dalam 20% eter selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30 menit. Virus
morbili sensitif pada 0,01% betapropiaceton dalam setiap konsentrasi, pada suhu 370c,akan
kehilangan sifat infektisitasnya dalam2 jam, walaupun demikian ia tetap memiliki antigenitas
penuh. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak kehilangan
antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.(4,7)

Epidemiologi

Angka kejadian campak di Indonesia sejak tahun 1990 sampai 2002 masih tinggi, sekitar
3000-4000 pertahun, demikian juga frekuensi terjadinya KLB campak meningkat dari 23 kali

26
pertahun menjadi 174. Namun case fatalitiy rate telah dapat diturunkan dari 5,5% menjadi 1,2%.
Umur terbanyak menderita campak adalah <12 bulan, diikuti kelompok umur 1-4 dan 5-14
tahun.(2)

Campak adalah penyakit yang sangat menular. Campak endemis di masyarakat


metropolitan dan mencapai proporsi untuk menjadi epidemi setiap 2-4 tahun ketika terdapat 30-
40% anak yang rentan atau belum mendapat vaksinisasi.

Penyakit campak dapat terjadi dimana saja. Kebanyakan kasus campak terjadi pada akhir
musim dingin dan awal musim semi di negara empat musim dengan puncak kasus terjadi pada
bulan Maret dan April. Lain halnya di negara tropis dimana kebanyakan kasus terjadi pada
musim panas. Ketika virus menginfeksi populasi yang belum mendapatkan kekebalan atau
vaksinasi maka 90-100% akan menjadi sakit dan menunjukkan gejala klinis.

Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan
secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan
mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili
ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia
menderita morbili pada trimester I,II atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak
dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR atau lahir mati atau anak yang
kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.(3,4) Bila si ibu belum pernah menderita morbili
maka bayi yang dilahirkannya tidak mempunyai kekebalan terhadap morbili dan dapat menderita
penyakit ini setelah ia dilahirkan. Bila seorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau
2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus; bila ia menderita morbili pada
trimester pertama, kedua atau ketiga maka ia mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan
bawaan atau seorang anak dengan berat badan lahir rendah atau lahir mati atau anak yang
kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun. Jika bayi menderita campak, ibu dan bayi boleh
diisolasi bersama dan diperbolehkan diberi ASI. Ibu dengan campak setelah melahirkan
menyusui, dan neonatus mendapat penyakit ringan yang didapat. Antibodi dalam sekret
mungkin terkandung dalam susu dalam 45 hari.(6)

27
Patofisiologi

Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit virus yang
infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Lokasi utama infeksi virus campak
adalah epitel saluran nafas nasofaring. Infeksi virus pertama pada saluran nafas sangat minimal.
Kejadian yang lebih penting adalah penyebaran pertama virus campak ke jaringan limfatik
regional yang menyebabkan terjadinya viremia primer. Setelah viremia primer, terjadi
multiplikasi ekstensif dari virus campak yang terjadi pada jaringan limfatik regional maupun
jaringan limfatik yang lebih jauh. Multiplikasi virus campak juga terjadi di lokasi pertama
infeksi.

Selama 5 hingga 7 hari infeksi terjadi viremia sekunder yang ekstensif dan menyebabkan
terjadinya infeksi campak secara umum. Kulit, konjungtiva, dan saluran nafas adalah tempat
yang jelas terkena infeksi, tetapi organ lainnya dapat terinfeksi pula. Dari hari ke-11 hingga 14
infeksi, kandungan virus dalam darah, saluran nafas, dan organ lain mencapai puncaknya dan
kemudian jumlahnya menurun secara cepat dalam waktu 2 hingga 3 hari. Selama infeksi virus
campak akan bereplikasi di dalam sel endotel, sel epitel, monosit, dan makrofag.(8)

Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan


kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dan
lainnya. Dalam keadaan tertentu, adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada
kasus campak.10,11

28
a. Pirogenik:

Droplet Infection (virus masuk)

Virus memasuki aliran darah

Sampai dan mempengaruhi pusat suhu dalam hipotalamus

Titik setel pusat suhu meningkat

Suhu tubuh meningkat

Hipertermia

pengaruhi nervus vagus pusat

masuk ke pusat muntah di medula oblongata.(10)

- anorexia

- malaise

b. Bercak Koplik

Proliferasi sel-sel endotel kapiler di dalam korium

29

Terjadi eksudasi serum dan kadang-kadang

eritrosit dalam epidermis → ruam kulit

Di konjungtiva terjadi reaksi peradangan umum → Konjungtivitis

c. Sal. Cerna

Hiperplasi jaringan limfoid terutama pada

usus buntu mukosa usus teriritasi

kecepatan sekresi bertambah

Pergerakan usus meningkat diare

Tabel. Patogenesis infeksi campak tanpa penyulit

Hari Manifestasi
0 Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel nasofaring
atau kemungkinan konjungtiva

Infeksi pada sel epitel dan multiplikasi virus


1-2 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional

30
2-3 Viremia primer
3-5 Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi
pertama, dan pada RES regional maupun daerah yang jauh
5-7 Viremia sekunder
7-11 Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk saluran
nafas
11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain
15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang
Sumber:Feigin et al.Textbook of Pediatric Infectious Diseases. 5th ed.2004.

Gejala Klinis

Stadium inkubasi

Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari). Walaupun pada
masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif, penderita tidak menampakkan
gejala sakit. Kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium, yaitu:

1. Stadium kataral (prodormal).

Stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai gambaran klinis seperti demam, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivitis, dan coryza. Menjelang akhir dari stadium kataral dan 24 jam
sebelum timbul enantem, terdapat bercak koplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan
dikelilingi oleh eritema. Becak koplik yang merupakan tanda patognomonik untuk campak
muncul pada hari ke-10±1 infeksi. Becak koplik adalah suatu bintik putih keabuan sebesar
butiran pasir dengan areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik. Tersering
ditemukan pada mukosa bukal di depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada
bagian lain dari rongga mulut seperti palatum, juga di bagian tengah bibir bawah dan karunkula
lakrimalis. Muncul 1 – 2 hari sebelum timbulnya ruam dan menghilang dengan cepat yaitu
sekitar 12-18 jam kemudian. Pada akhir masa prodromal, dinding posterior faring biasanya
menjadi hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan. Garis melintang
kemerahan yang terdapat pada konjungtiva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium

31
prodromal. Garis tersebut akan menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang.
Gambaran darah tepi leukopeni dan limfositosis.

2. Stadium erupsi

Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu pada saat
stadium erupsi, berlangsung selama 5 sampai 10 hari. Ruam muncul pada saat puncak gejala
gangguan pernafasan dan saat suhu berkisar 39,5˚C. Timbul enantem atau titik merah di palatum
durum dan palatum mole. Kadang – kadang terlihat bercak koplik. Terjadi eritem bentuk
makulopapuler disertai naiknya suhu badan. Diantara macula terdapat kulit yang normal. Mula-
mula eritema timbul dibelakang telinga, bagian atas lateral tengkuk sepanjang rambut dan bagian
belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka
bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ke 3, dan menghilang sesuai urutan
terjadinya.

Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher
belakang. Sedikit terdapat splenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah.Variasi yang
biasa terjadi adalah Black Measless, yaitu morbili yang disertai dengan perdarahan di kulit,
mulut, hidung, dan traktus digestivus.

3. Stadium konvalesensi

Erupsi berkurang menimbulkan bekas yang berwarna lebih tua atau hiperpigmentasi
(gejala patognomonik) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain itu ditemukan pula
kelainan kulit bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbilli.
Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa
hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai normal kecuali bila ada komplikasi.(3-5,8)

Pemunculan tanda dan gejala dari campak sebagai berikut:

o Hari 0-1 : Prodromal mulai

o Hari 2-3 : Bercak Koplik muncul

o Hari 4-5 : Ruam morbilliform muncul

32
o Hari 6 : Bercak Koplik menghilang

o Hari 7-8 : Ruam sangat hebat

o Hari 10 : Ruam mulai menghilang

Diagnosis

Diagnosis campak biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan


laboratorium jarang dilakukan. Pada stadium prodromal dapat ditemukan sel raksasa berinti
banyak dari apusan mukosa hidung. Serum antibodi dari virus campak dapat dilihat dengan
pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI), complement fixation (CF), neutralization,
immune precipitation, hemolysin inhibition, ELISA, serologi IgM-IgG, dan fluorescent antibody
(FA). Pemeriksaan HI dilakukan dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut pada masa
prodromal dan serum sekunder pada 7 – 10 hari setelah pengambilan sampel serum akut. Hasil
dikatakan positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih.(7)Serum IgM merupakan
tes yang berguna pada saat munculnya ruam. Serum IgM akan menurun dalam waktu sekitar 9
minggu, sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup. Pada pemeriksaan darah
tepi, jumlah sel darah putih cenderung menurun. Pungsi lumbal dilakukan bila terdapat penyulit
encephalitis dan didapatkan peningkatan protein, peningkatan ringan jumlah limfosit sedangkan
kadar glukosa normal.(9)

Diagnosis Banding

Diagnosis banding morbili diantaranya :

1. Roseola infantum. Pada Roseola infantum, ruam muncul saat demam telah
menghilang.

2. Rubella. Ruam berwarna merah muda dan timbul lebih cepat dari campak. Gejala yang
timbul tidak seberat campak.

33
3. Alergi obat. Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum ruam muncul
dan biasanya tidak disertai gejala prodromal.(12)

2.1.8 Komplikasi

Pada penyakit campak terdapat resistensi umum yang menurun. Keadaan ini
menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti:

1. Bronkopnemonia

Merupakan salah satu penyulit tersering pada infeksi campak. Dapat disebabkan oleh
invasi langsung virus campak maupun infeksi sekunder oleh bakteri (Pneumococcus,
Streptococcus, Staphylococcus, dan Haemophyllus influenza). Ditandai dengan adanya ronki
basah halus, batuk, dan meningkatnya frekuensi nafas. Pada saat suhu menurun, gejala
pneumonia karena virus campak akan menghilang kecuali batuk yang masih akan bertahan
selama beberapa lama. Bila gejala tidak berkurang, perlu dicurigai adanya infeksi sekunder oleh
bakteri yang menginvasi mukosa saluran nafas yang telah dirusak oleh virus campak.
Penanganan dengan antibiotik diperlukan agar tidak muncul akibat yang fatal.

2. Komplikasi neurologis

Kompilkasi neurologis pada morbili seperti hemiplegi, paraplegi, afasia, gangguan


mental, neuritis optik dan ensefalitis.

3. Ensefalitis morbili akut

Ensefalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksantem, angka kematian rendah.
Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili ialah 1:1000 kasus, sedangkan ensefalitis
setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup adalah 1,16 tiap 1.000.000 dosis.

4. SSPE (Subacute Scleroting panencephalitis)

SSPE yaitu suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat. Ditandai oleh
gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental, disfungsi motorik, kejang, dan
koma. Perjalan klinis lambat, biasanya meninggal dalam 6 bulan sampai 3 tahun setelah timbul
gejala spontan. Meskipun demikian, remisi spontan masih dapat terjadi. Biasanya terjadi pada

34
anak yang menderita morbili sebelum usia 2 tahun. SSPE timbul setelah 7 tahun terkena morbili,
sedang SSPE setelah vaksinasi morbili terjadi 3 tahun kemudian.

Penyebab SSPE tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus morbilli memegang
peranan dalam patogenesisnya. Kemungkinan untuk menderita SSPE setelah vaksinasi morbili
adalah 0,5-1,1 tiap 10.000.000, sedangkan setelah infeksi campak sebesar 5,2-9,7 tiap
10.000.000.

5. Immunosuppresive measles encephalopathy

Didapatkan pada anak dengan morbili yang sedang menderita defisiensi imunologik
karena keganasan atau karena pemakaian obat-obatan imunosupresif.(3)

Penatalaksanaan

Tidak ada terapi antivirus spesifik yang tersedia. Virus campak rentan in vitro untuk
ribavirin, yang telah diberikan oleh rute intravena dan aerosol untuk mengobati anak-anak yang
terkena dampak parah dan immunocompromised dengan campak. Namun, tidak ada uji coba
terkontrol telah dilakukan, dan ribavirin tidak disetujui oleh US Food and Drug Administration
untuk pengobatan campak. Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat,
pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder,
anti konvulsi apabila terjadi kejang, antipiretik bila demam, dan vitamin A.

Vitamin A.

Pengobatan anak-anak dengan campak di negara-negara berkembang telah dikaitkan


dengan morbiditas menurun dan angka kematian. Konsentrasi serum rendah vitamin A juga telah
ditemukan pada anak-anak di AmerikaSerikat, dan anak-anak dengan penyakit campak yang
lebih parah memiliki vitamin A konsentrasi rendah. Vitamin A diberikan untuk membantu
pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak, menurunkan morbiditas campak juga berguna
untuk meningkatkan titer IgG dan jumlah limfosit total.(7) Organisasi Kesehatan Dunia saat ini
merekomendasikan vitamin A untuk semua anak dengan campak akut, terlepas dari Negara

35
tempat tinggal mereka. Vitamin A untuk pengobatan campak diberikan sekali sehari selama 2
hari, pada dosis berikut:

200 000 IU untuk anak-anak usia 12 bulan atau lebih;

100 000 IU untuk bayi 6 sampai 11 bulan, dan

50 000 IU untuk bayi berusia kurangdari 6 bulan.

Tambahan (yaitu, sepertiga) dosis usia tertentu harus diberikan 2 sampai 4


minggu kemudian anak-anak dengan tanda-tanda klinis dan gejala kekurangan vitamin
A.Formulasi parenteral dan oral vitamin A tersedia di AmerikaSerikat.

Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu>39,5˚C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit
atau adanya penyulit. Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul.2

Pengobatan Komplikasi

• Bronkopneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/KgBB/hari dalam 4


dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/KgBB/hari intravena dalam 4
dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan
sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan
setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin biasanya negatif
(anergi) pada saat anak menderita campak.

• Enteritis, pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Pemberian cairan
intravena dapat dipertimbangkan apabila terjadi enteritis + dehidrasi.

Imunitas & Pencegahan

Struktur antigenik

Imunoglobulin kelas IgM dan IgG distimulasi oleh infeksi campak. Kemudian IgM
menghilang dengan cepat (kurang dari 9 minggu setelah infeksi) sedangkan IgG tinggal tak
terbatas dan jumlahnya dapat diukur. IgM menunjukkan baru terkena infeksi atau baru mendapat

36
vaksinasi. IgG menandakan pernah terkena infeksi. IgA sekretori dapat dideteksi dari sekret
nasal dan hanya dapat dihasilkan oleh vaksinasi campak hidup yang dilemahkan, sedangkan
vaksinasi campak dari virus yang dimatikan tidak akan menghasilkan IgA sekretori.(6)

Imunitas transplasental

Bayi menerima kekebalan transplasental dari ibu yang pernah terkena campak. Antibodi
akan terbentuk lengkap saat bayi berusia 4 – 6 bulan dan kadarnya akan menurun dalam jangka
waktu yang bervariasi. Level antibodi maternal tidak dapat terdeteksi pada bayi usia 9 bulan,
namun antibodi tersebut masih tetap ada. Janin dalam kandungan ibu yang sedang menderita
campak tidak akan mendapat kekebalan maternal dan justru akan tertular baik selama kehamilan
maupun sesudah kelahiran.(8)

Imunisasi

Imunisasi campak terdiri dari Imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif dapat berasal dari
virus hidup yang dilemahkan maupun virus yang dimatikan. Vaksin dari virus yang dilemahkan
akan memberi proteksi dalam jangka waktu yang lama dan protektif meskipun antibodi yang
terbentuk hanya 20% dari antibodi yang terbentuk karena infeksi alamiah.

1. Imunisasi aktif.

Ini dilakukan dengan pemberian “live attenuated measles vaccine” Mula-mula digunakan
strain Edmonston B, tetapi karena “strain” ini menyebabkan panas tinggi dan eksantem pada hari
ke tujuh sampai hari kesepuluh setelah vaksinasi, maka strain Edmonston diberikan bersama-
sama dengan globulin-gama pada lengan yang lain.

Sekarang digunakan strain Schwarz dan Moraten dan tidak diberikan globulin-gamma.
Pada penyelidikan serologis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10 tahun
setelah vaksinasi. Dianjurkan untuk memberikan vaksin morbili tersebut pada anak berumur 15
bulan yaitu karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi
secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Tetapi dianjurkan pula agar anak yang tinggal di
daerah endemis morbili dan terdapat banyak tuberkulosis diberikan vaksinasi pada umur 6 bulan
dan revaksinasi dilakukan pada umur 15 bulan. Diketahui dari penelitian Linnemann dkk.
(1982) pada anak yang divaksinasi sebelum umur 10 bulan tidak ditemukan antibodi; begitu pula

37
setelah revaksinasi kadang-kadang titer antibodi tidak naik secara bermakna. Di Indonesia saat
ini masih dianjurkan memberikan vaksin morbili pada anak berumur 9 bulan ke atas. Vaksin
morbili tersebut di atas dapat pula diberikan pada orang yang alergi terhadap telur, karena vaksin
morbili ini ditumbuhkan dalam biakan jaringan janin ayam yang secara antigen adalah berbeda
dengan protein telur. Hanya bila terdapat suatu penyakit alergi sebaiknya vaksinasi ditunda
sampai 2 minggu sembuh. Vaksin morbili juga dapat diberikan kepada penderita tuberkulosis
aktif yang sedang mendapat tuberkulostatika. Vaksin morbili tidak boleh diberikan kepada
wanita hamil, anak dengan tuberkulosis yang tidak diobati, penderita leukemia dan anak yang
sedang mendapat pengobatan imunosupresif.

Vaksin morbili dapat diberikan sebagai vaksin morbili saja atau sebagai vaksin measles-
mumps-rubella (MMR). Di Indonesia digunakan pula vaksin morbili buatan Perum Biofarma
yang terdiri dari virus morbili yang hidup dan sangat dilemahkan, strain Schwarz dan
ditumbuhkan dalam jaringan janin ayam dan kemudian dibeku-keringkan. Tiap dosis dari vaksin
yang sudah dilarutkan mengandung virus morbili tidak kurang dari 1000 TCID50 dan neomisin
B sulfat tidak lebih dari 50 mikrogram.

Pemberian secara subkutan dengan dosis 0,5ml pada umur 9 bulan. Vaksin tersebut
sensitif terhadap cahaya dan panas, juga harus disimpan pada suhu 4˚C, sehingga harus
digunakan secepatnya bila telah dikeluarkan dari lemari pendingin. Dapat terjadi anergi terhadap
tuberkulin selama 2 bulan setelah vaksinasi. Bila seseorang telah mendapat inmunoglobulin atau
transfusi darah maka vaksinasi dengan vaksin morbili harus ditangguhkan sekurang-kurangnya 3
bulan. Vaksin ini juga dapat diberikan pada penderita tuberkulosis aktif yang sedang mendapat
tuberkulosita. Akan tetapi vaksin ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan
tuberkulosis yang tidak diobati, penderita leukemia dan anak yang sedang mendapat pengobatan
imunosupresif.(7) Untuk mencegah demam, kepada semua anak/bayi diberikan Aspilet, dan
semua bayi/anak yang divaksinasi diambil darahnya 2x, sebelum vaksinasi dan 3 minggu setelah
vaksinasi.

Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang menderita
demam tinggi, sedang mendapat terapi imunosupresif, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang
memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal dari darah.(6)

38
Gejala sampingan yang paling banyak terdapat adalah demam 5 sampai 12 hari setelah
vaksinasi. Demam biasanya hilang dalam 1 sampai 5 hari. Sedangkan gejala sampingan yang
berat terjadi pada 2 kasus, masing-masing 1 anak dengan kejang dan GE dehidrasi berat, dan 1
anak dengan hiperpireksi.

2. Imunisasi pasif.

Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum konvalesens,
globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan
meringankan campak. Campak dapat dicegah dengan menggunakan imunoglobulin serum
dengan dosis 0,25 mL/kg diberikan secara intramuskuler dalam 5 hari setelah terinfeksi tetapi
lebih baik sesegera mungkin. Proteksi sempurna terindikasi untuk bayi, anak dengan penyakit
kronis dan untuk kontak dibangsal rumah sakit anak.(5)

3. Isolasi

Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena penyakit campak
dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi penderita campak untuk diisolasi selama 20-
30 hari guna menghindari penularan lingkungan sekitar.

Prognosis

Prognosis baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi prognosis buruk bila
keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada
komplikasi.(3)Angka kematian kasus di Amerika Serikat telah menurun pada tahun-tahun ini
sampai tingkat rendah pada semua kelompok umur, terutama karena keadaan sosioekonomi
membaik.

39
Daftar Pustaka

1. William W. Current Pediatric Diagnosis & Treatment. 21st edition. USA: MacGraw-Hill
Education. 2012.

2. Soedarmo SP, Garna H, Handinegoro SR, Ismoedijanto et.al. Pedoman Pelayanan Medis
IDAI. Jilid 1. Jakarta: IDAI. 2009. Hal 33-5

3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Anak. Volume 2. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007.

4. Berhrman RE. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th edition. WB Saunders Company.2003.

5. Maldonado Y. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC. 2002.

6. Kenneth Todar University of Wisconsin-Madison Department of Bacteriology. Measles.


Available Online at www.bact.wisc.edu/themicrobialworld/Measles.jpg. Accessed on 16 Juni
2015.

7. Soegijanto S. Buku Imunisasi di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Dokter
Anak Indonesia. 2001.

8. Cherry JD. Measles Virus. In: Feigin, Cherry, Demmler, Kaplan. Textbook of Pediatrics
Infectious Disease. 6th edition. Vol 3. Philadelphia: Saunders. 2009; p.2283 – 2298.

9. Soegijanto S. Campak. In: Sumarmo S, Soedarmo P (ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak
Infeksi & Penyakit Tropis. 1st ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002; p. 125.

10. SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair. Pedoman Diagnosis & Terapi. Surabaya: Bag/SMF
Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo. 2006.

11. Price SA, Wilson LM. Konsep klinik proses-proses penyakit patofisiologi. 6th ed. Jakarta:
EGC. 2003.

40
12. Soedarmo SP, Garna H, Handinegoro SR. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. 2nd. Jakarta:
IDAI. 2008; p.125.

13. Dyne PL. Measles.UCLA Medical Center. Emedicine-Pediatrics, Available at


:http://emedicine.medscape.com/article/802691-overview, Accessed on 16 Juni 2015.

14. Burke A Cunha, MD, Professor of Medicine, State University of New York School of
Medicine at Stony Brook; Chief, Infectious Disease Division, Winthrop-University Hospital.
Emedicine-Infectious Mononucleosis Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/222040-overview

41