Vous êtes sur la page 1sur 17

Bagaimana kewajiban belajar mengajar

Menurut Q.S At-Taubah:122

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
”Tafsir”
Dosen Pengampu :
H. Dede Suryana, M.Pd.I.

Oleh :

Intan Hasnadyaz
Neng Sri Rezekhie

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM CIPASUNG
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT. atas semua rahmat,taufiq,dan hidayah
serta inayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik tanpa adanya
halangan yang melanda. Tak lupa solawat dan salam tetap tercurah limpahkan kepada
Rasulullah SAW. yang telah menyelamatkan kita dari jalan yang gelap menuju jalan yang
terang.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir. Dalam makalah
ini akan dibahas mengenai "Bagaimana kewajiban belajar mengajar menurut Q.S At-
Taubah:122". Makalah ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa pada umumnya
sebagai penambah pengetahuan dan pemahaman tentang beberapa konsep awal
pengajaran.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung dalam
pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan
makalah ini.

Cipasung, Febuari 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Peumusan Masalah
1.3. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Surat at-Taubah ayat 122 merupakan surat yang turun di Madinah. Surat itu turun
ketika Rasulullah Saw memerintahkan pasukan untuk mengikuti perang. Banyak
sekali orang yang mengajukan diri kepada Nabi Saw untuk ikut berperang,
kemudian turunlah ayat ini yang memerintahkan kepada mereka untuk sebagian
memperdalam ilmu agama. Mereka yang memperdalam ilmu agama agar dapat
memberikan peringatan kepada kaum mereka apabila mereka telah kembali dari
peperangan.
Seandainya mereka semua ikut pergi berperang, maka dikhawatirkan tak ada yang
memperdalam ilmu agama. Maka sejak masa Rasulullah Saw, masa Khulafa
urrayidin hingga masa bani umayah dan Abbasiyah banyak bermunculan para
ulama. Banyak sahabat nabi yang memperdalam ilmu agama, seperti Ibnu Abbas
dan sahabat lainya, selain memimpin pemerintahan dan perang para khulafa
urrasyidin juga memiliki ilmu agama yang baik. Hingga bermunculan ulama pada
masa Umayah dan Abbasiyah seperti, Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam
Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan masih banyak ulama yang lain.
Hingga saat ini umat islam dianjurkan memperdalam ilmu agama. Menuntut ilmu
sangat penting dalam ajaran islam, karena perbuatan tanpa didasari dengan ilmu
maka perbuatan itu akan sia-sia. Selain itu, dengan ilmu kita dapat
memperingatkan orang lain jika mereka menyimpang dari ajaran agama. Manusia
dikaruniai akal dan pikiran yang tidak dimiliki makhluk lain agar dapat
mempelajari ilmu apapun. Alangkah ruginya manusia jika tidak dapat
memanfaatkan anugerah itu dengan sebaik-baiknya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kewajiban belajar mengajar menurut Q.S At-Taubah:122?
C. Tujuan
1. Mengetahui kewajiban belajar mengajar menurut Q.S At-Taubah:122

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kewajiban Belajar mengajar menurut Q.S At-Taubah:122
۞ ‫ِف ۡرقة ُك ِل ِمن نفر فل ۡول كآفَّة ِلين ِف ُروا ۡٱل ُم ۡؤ ِمنُون كان وما‬
‫ين فِي ِليتفقَّ ُهوا طآئِفة ِم ۡن ُه ۡم‬
ِ ‫رجعُ ٓوا ِإذا ق ۡوم ُه ۡم و ِليُنذ ُِروا ٱل ِد‬
‫ ي ۡحذ ُرون لعلَّ ُه ۡم ِإل ۡي ِه ۡم‬١٢٢
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (at-Taubah: 122)
a. Terjemah kosa kata
 ‫وما‬ : dan tidak

 ‫كان‬ : ada/patut

 ‫ال ُمؤ ِمنُو‬ :orang-orang yang mukmin

 ‫ِلين ِف ُروا‬ : untuk mereka pergi

 ‫كآفَّة‬ : seluruhnya

 ‫فلول‬ : maka mengapa tidak

 ‫نفر‬ : keluar/pergi

 ‫فِرقة‬ : golongan

 ‫طآئِفة‬ : kelompok/beberapa orang

 ‫ِليتفقَّ ُهوا‬ : untuk mereka memperdalam


 ‫ين‬
ِ ‫ال ِد‬ : agama

 ‫قوم ُهم‬ : kaumnya

 ‫يحذ ُرون‬ : mereka menjaga diri/hati-hati

b. Tafsir mufrodat
kewajiban mempelajari ilmu agama adalah (liyatafaqqahu fi ad-Din)
‫الدين فى ليتفقهوا‬yang berarti untuk mereka memperdalam pengetahuan
agama. Dalam tafsir al-Maraghi diartikan berusaha keras untuk
mendapatkan dan memahami suatu perkara dengan susah payah untuk
memprolehnya.
Akar kata yang terdiri dari [ ‫ ]ه ق ف‬menunjukkan arti mengetahui dan
memahami sesuatu. Seorang yang alim dan cerdas disebut faqih. Pada
mulanya istilah tafaqquh fi ad-din adalah untuk pekerjaan mengerti,
memahami, dan mendalami seluk-beluk ajaran agama Islam. Namun,
pada periode berikutnya, istilah fikih digunakan untuk ilmu-ilmu
syariat sebagai lawan dari ilmu tauhid yang berkaitan dengan akidah.
Kata (‫ )ليتفقهوا‬liyatafaqqahuu terambil dari kata (‫ )فقه‬fiqh yakni
pengetahuan yang mendalam menyangkut hal-hal sulit dan
tersembunyi. Bukan sekedar pengetahuan. Penambahan huruf ‫ ت‬pada
kata tersebut mengandung makna kesungguhan upaya, yang dengan
keberhasilan upaya itu para pelaku menjadi pakar-pakar dalam
bidangnya. Demikian kata tersebut mengundang kaum muslimin untuk
menjadi pakar-pakar pengetahuan.
c. Analisis nahwu shorof
‫و ما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلو ال نفر من كل فرقة(جر مجرور) منهم طا ءفة ليتفقهوا‬
‫فى الدين و(حرف اطف) لينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون‬
d. Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa ketika diturunkan firman-Nya berikut
ini, yaitu, "Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa
kalian dengan siksa yang pedih." (Q.S. At-Taubah 39). Tersebutlah pada saat itu
ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang, mereka berada di daerah
badui (pedalaman) karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Maka
orang-orang munafik memberikan komentarnya, "Sungguh masih ada orang-orang
yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang
pedalaman itu." Kemudian turunlah firman-Nya yang menyatakan, "Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan
perang)." (Q.S. At-Taubah 122).
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim yang bersumber dari Ikrimah)
Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa mengingat keinginan kaum Mukminin
yang sangat besar terhadap masalah jihad, disebutkan bahwa bila Rasulullah saw.
mengirimkan pasukan perang, maka mereka semuanya berangkat. Dan mereka
meninggalkan Nabi saw. di Madinah bersama dengan orang-orang yang lemah.
Maka turunlah firman Allah swt. yang paling atas tadi (yaitu surah At-Taubah
ayat 122).
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim yang bersumber dari Abdullah bin Ubaid bin
Umair)
e. Syarah ayat
a) Penafsiran Q.S at-Taubah ayat 122 Menurut Tafsir ibnu katsir

Hal ini merupakan penjelasan dari Allah Swt. mengenai apa yang
dikehendaki-Nya, yaitu berkenaan dengan keberangkatan semua
kabilah bersama Rasulullah Saw. ke medan Tabuk.
Segolongan ulama Salaf ada yang berpendapat bahwa setiap muslim
diwajibkan berangkat dengan Rasulullah Saw. apabila beliau keluar
(berangkat ke medan perang). Untuk itulah dalam firman yang lain
disebutkan:
ْ ً َ َ َ
{‫}و ِثقاال ِخفافا ان ِف ُروا‬
Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun
merasa berat. (At-Taubah: 41)
Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya:
َ َ ْ َ ْ ْ َ َ ْ َُْ َ َ ْ ْ َ ُ َّ َ َ َ ْ َ َّ
{‫ان َما‬
َ ‫لك‬َ ِ ‫ن ال َم ِدين َِة أله‬
َ ‫م وم‬
َ ‫ن حوله‬ َ ِ ‫ن األع َر‬
َ ‫اب ِم‬ َ ‫ن يتخلفوا أ‬ َ ِ ‫}اَلل َر ُس‬
َ ‫ول ع‬ َِ
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab
Badui yang berdiam di sekitar mereka. (At-Taubah: 120), hingga akhir
ayat.
Selanjutnya ayat-ayat di atas di-mansukh oleh ayat ini (At-Taubah:
122).
Dapat pula ditakwilkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan dari apa
yang dimaksud oleh Allah Swt. sehubungan dengan keberangkatan
semua kabilah, dan sejumlah kecil dari tiap-tiap kabilah apabila
mereka tidak keluar semuanya (boleh tidak berangkat). Dimaksudkan
agar mereka yang berangkat bersama Rasul Saw. memperdalam
agamanya melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Rasul.
Selanjutnya apabila mereka kembali kepada kaumnya memberikan
peringatan kepada kaumnya tentang segala sesuatu yang menyangkut
musuh mereka (agar mereka waspada). Dengan demikian, maka
golongan yang tertentu ini memikul dua tugas sekaligus. Tetapi
sesudah masa Nabi Saw., maka tugas mereka yang berangkat dari
kabilah-kabilah itu tiada lain adakala-nya untuk belajar agama atau
untuk berjihad, karena sesungguhnya hal tersebut fardu kifayah bagi
mereka.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas se-hubungan
dengan firman-Nya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin
itu pergi semuanya (ke medan perang). (At-Taubah: 122) Yakni
tidaklah sepatutnya orang-orang mukmin berangkat semuanya ke
medan perang dan meninggalkan Nabi Saw. sendirian. Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-
Taubah: 122) Yaitu suatu golongan.
Makna yang dimaksud ialah sepasukan Sariyyah (pasukan khusus)
yang mereka tidak berangkat kecuali dengan seizin Nabi Saw. Apabila
pasukan Sariyyah itu kembali kepada kaumnya, sedangkan setelah
keberangkatan mereka diturunkan ayat-ayat Al-Qur'an yang telah
dipelajari oleh mereka yang tinggal bersama Nabi Saw. Maka mereka
yang bersama Nabi Saw. akan mengatakan kepada Sariyyah,
"Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an kepada
Nabi kalian dan telah kami pelajari."
Selanjutnya Sariyyah itu tinggal untuk mempelajari apa yang telah
diturunkan oleh Allah kepada Nabi mereka, sesudah keberangkatan
mereka; dan Nabi pun mengirimkan Sariyyah lainnya. Yang demikian
itulah pengertian firman Allah Swt.:
َّ َ َ ِّ
{‫ف ِل َيتفق ُهوا‬
َ ِ ِ َ‫}الدين‬
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. (At-
Taubah: 122)
Yakni agar mereka mempelajari apa yang diturunkan oleh Allah
kepada Nabi mereka. Selanjutnya mereka akan mengajarkannya
kepada Sariyyah apabila telah kembali kepada mereka.
َّ َ َ ُ َ ْ َ
{َ‫ون ل َعل ُه ْم‬
َ ‫}يحذر‬
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah: 122)
Mujahid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan
sejumlah orang dari kalangan sahabat Nabi Saw. yang pergi ke
daerah-daerah pedalaman, lalu mereka beroleh kebajikan dari para
penduduknya dan beroleh manfaat dari kesuburannya, serta menyeru
orang-orang yang mereka jumpai ke jalan petunjuk (hidayah). Maka
orang-orang pedalaman berkata kepada mereka, "Tiada yang kami
lihat dari kalian melainkan kalian telah meninggalkan teman kalian
(Nabi Saw.) dan kalian datang kepada kami." Maka timbullah rasa
berdosa dalam hati mereka, lalu mereka pergi dari daerah pedalaman
seluruhnya dan menghadap Nabi Saw. Maka Allah Swt. berfirman:
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
beberapa orang. (At-Taubah: 122) untuk mencari kebaikan. untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama. (At-Taubah: 122)
dan untuk mendengarkan apa yang terjadi di kalangan orang-orang
serta apa yang telah diturunkan oleh Allah. Allah memaafkan mereka.
dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya. (At-Taubah: 122)
Yakni semua orang apabila mereka kembali kepada kaumnya masing-
masing. supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah: 122)
Qatadah mengatakan sehubungan dengan takwil ayat ini, bahwa
apabila Rasulullah Saw. mengirimkan pasukan, Allah memerintahkan
kepada kaum muslim agar pergi berperang, tetapi sebagian dari
mereka harus tinggal bersama Rasul Saw. untuk memperdalam
pengetahuan agama: sedangkan segolongan yang lainnya menyeru
kaumnya dan mem-peringatkan mereka akan azab-azab Allah yang
telah menimpa umat-umat sebelum mereka.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa Rasulullah Saw. apabila ikut dalam
peperangan, maka beliau tidak mengizinkan seorang pun dari
kalangan kaum muslim untuk tidak ikut bersamanya, kecuali orang-
orang yang berhalangan. Dan Rasulullah Saw. apabila mempersiapkan
suatu pasukan Sariyyah, beliau tidak membolehkan mereka langsung
berangkat melainkan dengan seizinnya. Dan apabila mereka sudah
berangkat, lalu diturunkan kepada Nabi-Nya ayat-ayat Al-Qur'an,
maka Nabi Saw. Membacakannya kepada sahabat-sahabatnya yang
tinggal bersamanya. Apabila pasukan Sariyyah itu kembali, maka
mereka yang tinggal bersama Nabi Saw. berkata, "Sesungguhnya Allah
telah menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an kepada Nabi-Nya sesudah
kalian berangkat." Lalu mereka yang tinggal mengajarkan ayat-ayat itu
kepada mereka yang baru tiba dan memperdalam pengetahuan
agama mereka. Hal inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Swt.:
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya
(ke medan perang). (At-Taubah: 122) Yaitu apabila Rasulullah Saw.
tidak ikut berangkat dalam pasukan tersebut. Mengapa tidak pergi
dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang. (At-Taubah:
122) Dengan kata lain, tidak sepatutnya kaum muslim berangkat
seluruhnya bila Nabi Saw. tinggal di tempat. Apabila Nabi Saw. tinggal
di tempat, hendaklah yang berangkat hanyalah Sariyyah (pasukan
khusus)nya saja, sedangkan sebagian besar orang-orang harus tetap
ada bersama Nabi Saw.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan pula dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: Tidak sepatutnya bagi
orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
(At-Taubah: 122) Ayat ini bukan berkenaan dengan masalah jihad,
tetapi ketika Rasulullah Saw. mendoakan musim paceklik bagi orang-
orang Mudar, maka negeri mereka menjadi kekeringan dan paceklik.
Dan tersebutlah bahwa ada salah satu kabilah dari mereka berikut
semua keluarganya datang ke Madinah dan tinggal padanya karena
kelaparan yang mereka derita, lalu mereka berpura-pura masuk Islam,
padahal mereka dusta. Keadaan itu membuat sahabat-sahabat Rasul
Saw. menjadi terganggu dan membuat mereka kewalahan. Maka
Allah menurunkan kepada Rasul Saw. wahyu-Nya yang mengabarkan
bahwa mereka bukanlah orang-orang mukmin. Lalu Rasulullah Saw.
memulangkan mereka kepada induk kabilahnya dan memperingatkan
kepada kaumnya agar jangan melakukan perbuatan yang sama. Yang
demikian itulah maksud dari firman Allah Swt.: dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya. (At-Taubah: 122). hingga akhir ayat.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan
makna ayat ini, bahwa segolongan orang dari tiap-tiap kabilah Arab
Badui berangkat meninggalkan daerahnya, lalu menghadap Nabi Saw.
Mereka menanyakan kepada Nabi Saw. banyak hal yang mereka
kehendaki menyangkut urusan agama mereka. Dengan demikian,
mereka memperdalam pengetahuan agamanya. Dan mereka bertanya
kepada Nabi Saw., "Apakah yang akan engkau perintahkan kepada
kami untuk mengerjakannya? Dan perintahkanlah kepada kami apa
yang harus kami lakukan kepada keluarga dan kaum kami apabila
kami kembali kepada mereka!" Maka Nabi Saw. memerintahkan
kepada mereka untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Saw.
juga mengutus mereka kepada kaumnya untuk menyeru mereka agar
mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan tersebutlah bahwa
apabila mereka telah kembali kepada kaumnya, maka mereka
mengatakan, "Barang siapa yang mau masuk Islam, sesungguhnya dia
termasuk golongan kami." Lalu mereka memberikan peringatan
kepada kaumnya, sehingga seseorang (dari kaumnya) yang masuk
Islam benar-benar rela berpisah dari ayah dan ibunya (yang tidak mau
masuk) Islam.
Sebelum itu Nabi Saw. telah berpesan dan memperingatkan mereka
akan kaumnya, bahwa apabila mereka kembali kepada kaumnya,
hendaklah mereka menyeru kaumnya untuk masuk Islam dan
mem-peringatkan kaumnya akan neraka serta menyampaikan berita
gembira kepada mereka akan surga (bila mereka mau masuk Islam).
Ikrimah mengatakan ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah
Swt.: Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah
menyiksa kalian dengan siksa yang pedih. (At-Taubah: 39) Dan firman
Allah Swt.: Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah. (At-Taubah:
120), hingga akhir ayat. Orang-orang munafik mengatakan, "Binasalah
orang-orang Badui yang tidak ikut berperang dengan Muhammad dan
tidak ikut berangkat bersamanya." Dikatakan demikian karena ada
sejumlah sahabat Nabi Saw. yang pergi ke daerah pedalaman, pulang
kepada kaumnya masing-masing dalam rangka memperdalam
pegetahuan agama buat kaumnya. Maka Allah Swt. menurunkan
firman-Nya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi
semuanya (ke medan perang). (At-Taubah: 122), hingga akhir ayat.
Turun pula firman Allah Swt. yang mengatakan:
َ ‫ون َو َّالذ‬
{َ‫ين‬
َ ُّ َ ُ َّ ْ
َ ‫يب َما َب ْع َِد ِم‬
ُ ُ َ
َ َ ‫}ل َه ْاست ِج‬
ِ َ ‫ف يحاج‬ َ ِ ِ ‫اَلل‬
َِ ‫ن‬
Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu
diterima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka.
Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang
sangat keras. (Asy-Syura: 16)
Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat.
bahwa makna yang dimaksud ialah agar orang-orang yang berangkat ke
medan perang belajar melalui apa yang telah diperlihatkan oleh Allah
kepada mereka, yaitu menguasai musuh dan dapat mengalahkan mereka.
Kemudian bila mereka kembali kepada kaumnya, maka mereka
memperingatkan kaumnya untuk bersikap waspada.
b) Penafsiran Q.S at-Taubah ayat 122 Menurut Tafsir Jalalen
Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang
kemudian Nabi saw. mengirimkan sariyahnya, akhirnya mereka berangkat ke
medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah
firman-Nya berikut ini: (Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu
pergi) ke medan perang (semuanya. Mengapa tidak) (pergi dari tiap-tiap
golongan) suatu kabilah (di antara mereka beberapa orang) beberapa golongan
saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat (untuk memperdalam
pengetahuan mereka) yakni tetap tinggal di tempat (mengenai agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya)
dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum
agama yang telah dipelajarinya (supaya mereka itu dapat menjaga dirinya) dari
siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-
Nya.

Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya


bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk sariyah-sariyah, yakni
bilamana pasukan itu dalam bentuk sariyah lantaran Nabi saw. tidak ikut.
Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di
tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini
pengertiannya tertuju kepada bila Nabi saw. berangkat ke suatu ghazwah.

f. Kandungan ayat
Isi Kandungan:
 Ketika terjadi peperangan, tidak semua kaum muslimin harus pergi
berperang
 Harus ada beberapa yang pergi mencari ilmu
 Mencari ilmu nilainya sama dengan berjihad
 Barangsiapa yang meninggal saat menuntut ilmu maka Allah swt
menjadikannya syahid
 Selepas menuntut ilmu, wajib utk kembali dan menyebarkan ilmu
yang sudah ia dapat ke daerah sekitarnya
 Guna menuntut ilmu: agar dapat menjaga diri dari perbuatan dosa
dan maksiat
g. Pelajaran yang terkandung dalam Q.S at-Taubah: 122

 Berhijrah memerlukan komitmen Iman, guna mengenal dan mendalami


agama Islam, yang tak lain adalah untuk menyelamatkan agama Islam itu
sendiri.
 Pada saat berperang pun, kaum Muslimin tidak boleh lalai dan melupakan
perjuangan membina pemikiran, keyakinan dan akhlak masyarakat.
 Para penuntut ilmu mengenal 2 tahap hijrah. Pertama, hijrah menuju ke
pusat-pusat ilmu pengetahuan, dimana mereka menuntut dan mencari
berbagai ilmu pengetahuan. Sedangkan yang kedua ialah hijrah untuk
mengajarkannya kepada orang lain. (IRIB Indonesia)

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk jihad dijalan allah swt, khususnya
memperdalam ilmu agama. Tujuan dari menuntut ilmu agama adalah untuk
memberikan peringatan kepada sesama muslim agar selalu berhati-hati dan tidak
menyimpang dari ajaran agama. Selain itu memperdalam ilmu agama guna
mengajarkanya kepada orang lain agar sampai kepada keturunan kita nanti.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mustafa Al-Maragi. 1992. Terjemah Tasir Al-Maragi Juz 10-11-12,


Semarang: CV Toha Putra
Nasir ar-Rifa’i, Muhammad. 2005. Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir
Ibnu Katsir, jilid 2 cet. Ke-7 Terjemahan Drs. Syihabuddin. Jakarta: Gema Insani
Jalalud-din Al-Mahalliy, Imam Jalalud-din As-Suyuti, Imam. 1990. Terjemah
Tafsir Jalalain Terj. Bahrun Abu Bakar. Bandung: CV Sinar Baru