Vous êtes sur la page 1sur 46

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn.

S DENGAN LBP
DAN Ny. I DENGAN GASTRITIS DI DESA KOLAM KANAN
KECAMATAN WANARAYA

DI SUSUN OLEH :
Ermilawati,S.Kep 15149011229

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


PROGRAM PROFESI NERS A
BANJARMASIN, 2016
LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Konsep Keluarga


1.1.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di
suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan
dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain dan di dalam peranannya masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan suatu kebudayaan. (Salvicion G Bailon dan
Aracelis Maglaya 1989).

1.1.2 Tipe Keluarga


1. Keluarga inti (Nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari
ayah, ibu, dan anak-anak.
2. Keluarga besar (Exstended family) yaitu keluarga inti ditambah
dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan,
saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
3. Keluarga berantai (serial family) yaitu keluarga yang terdiri dari
wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan
merupakan satu keluarga inti
4. Keluarga duda/janda (single family) yaitu keluarga yang terjadi
karena perceraian atau kematian.
5. Keluarga berkomposisi (Composite) yaitu keluarga yang
perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama
6. Keluarga kabitas (Cahabitation) yaitu dua orang menjadi satu
tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
1.1.3 Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar
pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam
posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari
oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan
masyarakat.

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai


berikut:
1.1.3.1 Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan
sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi
rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari
kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat lingkungannya.
1.1.3.2 Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya , ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh
dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah
satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu
dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam
keluarganya.
1.1.3.3 Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai
dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, social
dan spiritual.

1.1.4 Tugas Keluarga


Dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing.
4. Sosialisasi antar anggota keluarga.
5. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarganya,
7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang
lebih luas.
8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

1.1.5 Fungsi Keluarga


Fungsi yang dijalankan keluarga adalah:
1) Fungsi afektif. Mengkaji gambaran diri anggota keluarga,
perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga
terhadap anggota keluarga lainnya, kehangatan pada keluarga
dan keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.
2) Fungsi sosialisasi. Bagaimanaa interaksi atau huubungan dalam
keluarga dan sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin,
norma atau budaya dan perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan. Sejauh mana keluarga
menyediakan makanan, pakaianan dan perlindungan terhadap
anggota yang sakit. Pengetahuan keluarga mengenai sehat-sakit,
kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan
keluarga yaitu :
a. Mengenal masalah kesehatan: sejauhmana keluarga
mengenal fakta-fakta dari masalah kesehatan meliputi
pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan yang
mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap masalah.
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang
tepat : sejauhmana keluarga mengerti mengenai sifat dan
luasnya masalah, apakah masalah dirasakan, menyerah
terhadap masalah yang dialami, takut akan akibat dari
tindakan penyakit, mempunyai sikap negative terhadap
masalah kesehatan, dapat menjangkau fasilitas kesehatan
yang ada, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan
mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam
mengatasi masalah.
c. Merawat anggota keluarga yang sakit: sejauhmana keluarga
mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahu tentang sifat
dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui
sumber-sumber yang ada dalamn keluarga (anggota keluarga
yang bertanggung jawab, keuangan, fasilitas fisik,
psikososial), mengetahui keberadaan fasilitas yang
diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga terhadap
yang sakit.
d. Memelihara lingkungan rumah yang sehat: sejauhmana
mengetahui sumber-sumber keluarga yang dimiliki,
keuntungan/manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui
pentingnya hygiene sanitasi dan kekompakan antar anggota
keluarga.
e. Menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan di
masyarakat : apakah keluarga mengetahui keberadaan
fasilitas kesehatan, memahami keuntungan yang diperoleh
dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga
terhadap petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan tersebut
terjangkau oleh keluarga
4) Fungsi reproduksi. Mengkaji berapa jumlah anak,
merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa yang
digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggota
keluarga.
5) Fungsi ekonomi. Mengkaji sejauhmana keluarga memenuhi
kebutuhan sandang, pangan dan papan, dan memanfaatkan
sumber yang ada di masyarakat dalam upaya meningkatkan
status kesehatan keluarga.
1.1.6 Bentuk Keluarga
Ada dua macam bentuk keluarga dilihat dari bagaimana keputusan
diambil, yaitu berdasarkan lokasi dan berdasarkan pola otoritas.
1. Berdasarkan lokasi
a. Adat utrokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada
sepasang suami istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu
di sekitar kediaman kaum kerabat suami ataupun di sekitar
kediaman kaum kerabat istri.
b. Adat verilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa
sepasang suami istri diharuskan menetap di sekitar pusat
kediaman kaum kerabat suami.
c. Adat uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa
sepasang suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum
kerabat istri.
d. Adat bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat
suami pada masa tertentu, dan di sekitar pusat kediaman
kaum kerabat istri pada masa tertentu pola (bergantian).
e. Adat nonlocal, yaitu adat yang menentukan bahwa
sepasang suami istri dapat menempati tempat yang baru,
dalam arti kata tidak berkelompok bersama kaum kerabat
suami maupun istri.
f. Adat avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang
suami istri untuk menetap di sekitar tempat kediaman
saudara laki-laki ibu (avunculus) dari pihak suami.
g. Adat natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami
dan istri masing-masing hidup terpisah dan masing-masing
dari mereka juag tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya
sendiri.
2. Berdasarkan pola otoritas
a. Patriarkal, yaitu otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh
laki-laki (laki-laki tertua, umumnya ayah).
b. Matriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh
perempuan (perempuan tertua, umumnya ibu).
c. Equalitarium, yakni suami dan istri berbagi otoritas secara
seimbang.

1.1.7 Subsistem sosial


Terdapat tiga jenis subsistem dalam keluarga, yakni subsistem
suami-istri, subsistem orang tua-anak, dan subsistem sibling (kakak-
adik). Subsistem suami-istri terdiri dari seorang laki-laki dan
perempuan yang hidup bersama dengan tujuan eksplisit membangun
keluarga. Pasangan ini menyediakan dukungan mutual satu dengan
yang lain dan membangun sebuah ikatan yang melindungi subsistem
tersebut dari yang ditimbulkan oleh kepentingan maupun kebutuhan
dari subsistem-subsistem lain. Subsistem orang tua-anak terbentuk
sejak kelahiran seorang anak dalam keluarga, subsistem ini meliputi
transfer nilai dan pengetahuan dan pengenalan akan tanggung jawab
terkait dengan relasi orang tua dan anak.

1.1.8 Tahap dan tugas perkembangan keluarga


1.1.8.1 Tahap perkembangan keluarga
a. Tahap I : Pasangan yang baru menikah
1) Mencipta atau membina hubungan yang harmonis
saling menguntungkan Family Planing
2) Setelah dua individu mengikat hubungan dengan
satu perkawinan mereka harus mempersiapkan
untuk hidup bersama saling belajar menyesuaikan
diri dan memulai kegiatan rutin secara bersama.
3) Pasangan mulai merencanakan kapan mereka
menginginkan anak.
b. Tahap II : Dimulai dengan kelahiran anak pertama
sampai 30 bulan, Adaptasi menjadi orang tua,
memenuhi kebutuhan-kebutuhan bayi atau anak.
1) Kelahiran anak membawa anggota baru
2) Mempelajari dan menerima pertumbuhan dan
perkembangan anak usia pra sekolah, persiapan
kelahiran berikutnya.
c. Tahap III : Keluarga dimana anak pertama usia pra
sekolah (30 bln-6thn).
Mengasuh anak,menyesuaikan atau menyediakan anak
usia Pra sekolah,persiapan kelahiran anak
berikutnya.
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak pertama usia sekolah
(6-13 tahun).
Salah satu tugas dari orang tua ada tahap ini sosialisai
anak, mendorong anak, mencapai prestasi sekolah, dan
memelihara hubungan perkawinan yang harmonis.
e. Tahap V : Keluarga dengan anak pertama usia remaja
(13-20 tahun).
Menjaga keseimbangan tanggung jawab bagi remaja,
pada tahap ini sering terjadi komplik antara orang tua
remaja.
f. Tahap VI: Keluarga dengan anak pertama usia dewasa
muda (anak ertama meningalkan rumah untuk
membina keluarga baru sampai anak terakhir).
Melepaskan anak untuk membina perkawinan,
biasanya ibu lebih sulit untuk menerimanya, sedangkan
bapak kariernya sudah memuncak dan lebih banyak
menghabiskan waktu untuk bekerja.
g. Tahap VII : Orang tua dengan anak usia
pertengahan (mulai anak terakhir meninggalkan
rumah).
Menjalin kembali hubungan perkawinan, membina
hubungan dengan generasi baru.
h. Tahap VIII : Tahap akhir dari siklus keluarga,
keluarga usia tua (salah satu/ keduanya pensiun, salah
satu meninggal dan pada akhirnya keduanya meninggal
dunia). Penyesuaian terhadap pensiun, pasangan
meninggal dunia. Duvall (1997, dalam Friedman,
2010).

1.1.9 Keluarga resiko tinggi


Keluarga beresiko tinggi adalah keluarga yang kemungkinan besar
menimbulkan stress yang berlebihan terhadap orang tua dan
keluarga. Stresor-stresor yang menimbulkan keluarga beresiko
tinggi, berasal dari ibu (seperti dari ibu yang masih remaja), anak
(seperti seorang anak yang menderita sakit yang membahayakn
hidup),atau lingkungan keluarga (seperti bencana lokal) (Friedman,
2010).

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, yang


menjadi prioritas utama adalah keluarga-keluarga yang tergolong
risiko tinggi dalam bidang kesehatan, meliputi :
1.1.9.1 Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur
dengan masalah sebagai berikut :
a. Tingkat sosial ekonomi keluarga rendah.
b. Keluarga kurang atau tidak mampu mengatasi masalah
kesehatan sendiri.
c. Keluarga dengan keturunan yang kurang baik/ keluarga
dengan penyakit keturunan.
1.1.9.1 Keluarga dengan ibu risiko tinggi kebidanan, waktu hamil:
a. Umur ibu (16 tahun atau lebih dari 35 tahun).
b. Menderita kekurangan gizi/ anemia.
c. Menderita hipertensi.
d. Primipara atau multipara.
e. Riwayat persalinan dan komplikasi.
1.1.9.2 Keluarga dimana anak menjadi risiko tinggi, karena :
a. Lahir premature/ BBLR.
b. Berat badan sukar naik.
c. Lahir dengan caact bawaan.
d. ASI ibu kurang, sehingga tidak mencukupi kebutuhan
bayi.
e. Ibu menderita penyakit menular yang dapat
mengancam bayi/ anaknya.
1.1.9.3 Keluarga mempunyai masalah dalm hubungan antara
anggota keluarga
a. Anak yang tidak dikehendaki dan pernah dicoba untuk
digugurkan.
b. Tidak ada kesesuaian pendapat antara anggota keluarga
dan sering timbul cekcok dan ketegangan.
c. Ada anggota keluarga yang sering sakit.
d. Salah satu orang tua (suami/ istri meninggal, cerai atau
lari meninggalkan keluarga). (Effendy, 2004).

Proses keperawatan adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat


yang diajukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau
kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan melalui
perawatan sebagai sarana/penyalur. (effendy1998:38)

1.1.10 Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga


Asuhan keparawatan pada keluarga merupakan bagian penting
dalam upaya menyelesaikan masalah yang dihadapi sasaran, baik
sebagai sasaran keluarga sendiri , sasaran individu maupun sasaran
kelompok bahkan sasaran yang lebih luas yaitu masyarakat.

Tahap-tahap dalam proses keperawatan saling bergantungan satu


sama lainnya dan bersifat dinamis, dan disusun secara sistematis
untuk menggambarkan perkembangan dari tahap, dengan tahap-
tahap sebagai berikut:
1) Pengkajian
Adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat
untuk mengukur keadaan klien dan keluarga dengan memakai
norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial, yang
merupakan sistem yang berintegrasi dan kesanggupan untuk
mengatasinya.

Untuk mendapatkan data keluarga yang akurat perlu sumber


informasi dari anggota keluarga yang paling mengetahui
keadaan keluarga dan biasanya adalah ibu. Sedangkan informasi
tentang potensi keluarga dapat diperoleh dari pengambilan
keputusan dalam keluarga, biasanya adalah kepala keluarga,
atau kadang-kadang orangtua. Pengumpulan data dapat
dilakukan melalui cara :
a. Wawancara
Yang berkaitan dengan hal-hal yang perlu diketahui, baik
aspek fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan,
lingkungan, dan sebagainya.

b. Observasi
Pengamatan terhadap hal-hal yang tidak perlu ditanyakan,
karena sudah dianggap cukup melalui pengamatan saja,
diantaranya yang berkaitan dengan lingkungan fisik,
misalnya ventilasi, penerangan, keberhasilan dan
sebagainya.
c. Studi Dokumentasi
Studi berkaitan dengan perkembangan kasus anak dan
dewasa, diantaranya melalui kartu menuju sehat, kartu
keluarga dan catatan-catatan kesehatan lain.
d. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan terhadap anggota keluarga yang mempunyai
masalah kesehatan dan keperawatan, berkaitan dengan
keadaan fisik misalnya kehamilan dan tanda-tanda penyakit.
Data-data yang dikumpulkan meliputi hal-hal sebagai berikut
:
1. Data Umum
a) Kepala keluarga dan komposisi keluarga
b) Tipe keluarga
c) Suku bangsa dan agama
d) Status sosial ekonomi keluarga
e) Aktivitas rekreasi keluarga
2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga.
a) Tahap perkembangan keluarga
b) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
c) Riwayat kesehatan keluarga inti
3. Data Lingkungan
a) Karakteristik rumah
b) Karakteristik tetangga dan komunitasnya
c) Mobilitas geografis keluarga
d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan
masyarakat
4. Sistem pendukung keluarga
a) Struktur keluarga
b) Struktur peran
c) Nilai dan norma keluarga
d) Pola komunikasi keluarga
e) Struktur kekuatan keluarga
5. Fungsi keluarga
a) Fungsi ekonomi
b) Fungsi mendapatkan status social
c) Fungsi pendidikan
d) Fungsi sosialisasi
e) Fungsi keperawatan.
Tujuan dari fungsi keperawatan :
1) Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal
masalah kesehatan
2) Mengetahui kemampuan keluarga dalam
mengambil keputusan mengenal tindakan
kesehatan yang tepat
3) Mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga
merawat anggota keluarga yang sakit
4) Mengetahui kemampuan keluarga
memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat
5) Mengetahui kemampuan keluarga menggunakan
fasilitas pelayanan kesehatan dimasyarakat
f) Fungsi religious
g) Fungsi rekreasi
h) Fungsi reproduksi
i) Fungsi afeksi
6. Stress dan koping keluarga
a) Stresor jangka pendek dan jangka panjang
b) Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
c) Strategi koping yang digunakan
d) Disfungsi strategi adaptasi
7. Pemeriksaan keluarga
Pemeriksaan kesehatan pada individu anggota keluarga
meliputi pemeriksaan kebutuhan dasar individu,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
perlu.
8. Harapan keluarga
Perlu dikaji harapan keluarga terhadap perawat (petugas
kesehatan) untuk membantu menyelesaikan masalah
kesehatan yang terjadi.
2) Perumusan Masalah
Perumusan masalah kesehatan keluarga dapat menggambarkan
keadaan kesehatan dan status kesehatan keluarga, karena
merupakan hasil dari pemikiran dan pertimbangan yang
mendalam tentang situasi kesehatan, lingkungan, nilai, norma,
kultur yang dianut oleh keluarga mengacu pada tipologi masalah
kesehatan dan keperawatan serta berbagai alasan dari
ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas
keluarga dalam bidang kesehatan.

Tipologi diagnosis keperawatan keluarga dibedakan menjadi


tiga kelompok, yaitu:
a. Diagnosis aktual adalah masalah keperawatan yang sedang
dialami oleh keluarga dan memerlukan bantuan dari
perawat dengan cepat. Yang termasuk didalamnya adalah :
1. Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum diagnose
2. Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan
anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.
b. Diagnosis resiko tinggi (ancaman kesehatan) adalah masa
keperawatan yang belum terjadi tetapi tanda untuk menjadi
masalah keperawatan aktual dapat terjadi dengan cepat
apabila tidak segera mendapat bantuan perawat.
c. Diagnosa potensial adalah suatu keadaan sejahtera dan
keluarga ketika keluarga telah mampu memenuhi
kemampuan kesehatannya dan mempunyai suumber
penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat
ditingkatkan.
3) Prioritas Masalah
Dalam menyusun prioritas masalah kesehatan dan keperawatan
keluarga harus didasarkan pada beberapa criteria sebagai
berikut :
a. Sifat masalah dikelompokkan menjadi:
1. Keadaan tidak atau kurang sehat
2. Ancaman kesehatan
3. Keadaan sejahtera
b. Kemungkinan masalah dapat dirubah adalah kemungkinan
keberhasilan untuk mengurangi masalah atau mencegah
masalah bila dilakukan intervensi keperawatan dan
kesehatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi, dan
tindakan untuk menangani masalah
2. Sumber daya keluarga : fisik, keuangan, tenaga
3. Sumber daya perawat : pengetahuan, keterampilan,
waktu
4. Sumber daya lingkungan : fasilitas, organisasi dan
dukungan
c. Potensi masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya
masalah yang akan timbul dan dapat dikurangi atau dicegah
melalui tindakan keperawatan dan kesehatan. Yang perlu
diperhatikan:
1. Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka
waktu
2. Tindakan yang sedang dijalankan atau yang tepat untuk
memperbaiki masalah
3. Adanya kelompok yang beresiko untuk dicegah agar
tidak aktual dan menjadi parah
d. Masalah yang menonjol adalah cara keluarga melihat dan
menilai masalah dalam hal beratnya dan diatasi melalui
intervensi keperawatan, perawat perlu menilai persepsi atau
bagaimana keluarga menilai masalah keluarga tersebut.
Dalam menentukan prioritas kesehatan dan keperawatan
keluarga perlu disusun skala prioritas sebagai berikut:

Tabel Skala Prioritas Dalam Menyusun Masalah


Kesehatan Keluarga

No. Kriteria Nilai Bobot


Sifat masalah 1
Skala : Ancaman kesehatan 3
1
Tidak atau kurang sehat 2
Krisis 1
Kemungkinan masalah yang dapat 2
diubah
2
2 Skala : dengan mudah
1
Hanya sebagian
0
Tidak dapat
Potensi masalah dapat dicegah 1
tinggi
3
3 Skala : tinggi
2
Cukup
1
Rendah
Menonjolnya masalah 1
Skala : masalah berat harus
2
4 ditangani
1
Masalah tidak perlu ditangani
0
Masalah tidak dirasakan
Skoring :
1. Tentukan skor untuk setiap kriteria
2. Skor dibagi dengan angka dan dikalikan dengan
bobot
3. Jumlah skor untuk semua kriteria
4. Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh
bobot

e. Penyusunan Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Ketidaksanggupan mengenal masalah kesehatan
keluarga disebabkan karena:
a) Kurang pengetahuan/ketidaktauan fakta
b) Rasa takut akibat masalah yang diketahui
c) Sifat dan falsafah hidup
2. Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan
dalam melakukan tindakan yang tepat, disebabkan
karena:
a) Tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya
masalah
b) Masalah kesehatan tidak begitu menonjol
3. Keluarga tidak sanggup mememcahkan masalah karena
kurang pengetahuan dan kurangnya sumber daya
manusia.
a) Ketidakcocokan pendapat dari anggota keluarga
b) Tidak sanggup memilih tindakan diantara beberapa
pilihan
c) Tidak tahu tentang fasilitas kesehatan yang ada
d) Takut dari akibat tindakan
e) Sikap negative terhadap masalah kesehatan
f) Fasilitas kesehatan tidak terjangkau
g) Kurang percaya terhadap petugas dan lembaga
kesehatan
4. Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit
disebabkan karena:
a) Tidak mengetahui keadaan penyakit
b) Tidak mengetahui tentang perawatan yang
dibutuhkan
c) Kurang/tidak ada fasilitas yang diperlukan untuk
perawatan
d) Tidak seimbang sumber daya yang ada dalam
keluarga.
e) Konflik
f) Sikap dan pandangan hidup
5. Ketidaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang
dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan
pribadi anggota keluarga, disebabkan karena:
a) Sumber keluarga tidak cukup
b) Kurang dapat melihat keuntungan dan manfaat
memelihara kebersihan rumah
c) Ketidaktauan pentingnya fasilitas lingkungan
d) Sikap dan pandangan hidup
e) Ketidak kompakan keluarga karena sifat
mementingkan diri sendiri, tidak ada kesepakatan,
acuh terhadap yang mempunyai masalah
6. Ketidakmampuan menggunakan sumber dimasyarakat
guna memelihara kesehatan, disebabkan karena:
a) Tidak tahu bahwa fasilitas kesehatan itu ada
b) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh
c) Kurang percaya pada petugas kesehatan dan lembaga
kesehatan
d) Pengalaman yang kurang baik dari petugas kesehatan
e) Rasa takut pada akibat dari tindakan
f. Perencanaan Keperawatan Keluarga
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan
tindakan yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan
dalam pemecahan masalah kesehatan / keperawatan yang
telah diidentifikasikan (Effendy, 1995).

1.2 Konsep Gastritis


1.2.1 Definisi
Gastritis akut adalah lesi mukosa akut berupa erosi dan perdarahan
akibat faktor-faktor agresif / akibat gangguan akut mukosa lambung.
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan
mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau
lokal.dua jenis gastritis yang sering terjadi adalah gastritis
superficial akut dan gastritis atrofik kronik (Sylvia A,2015).

1. 2.2 Etiologi
1.2.2.1 Gastritis Akut Merupakan imflamasi akut dari dinding
lambung, biasanya terbatas pada mukosanya saja.
1.2.2.2 Gastritis eksugen acut. Disebabkn faktur dari luar yang
terdiri dari beberapa bagian:
1) Gastritis eksugen akut yang simple, disebabkan oleh:
Makanan dan minuman panas yang dapat merusak
mukosa lambung, seperti rempah-rempah, alcohol
dan sebagainya dan obat-obatan seperti, digitalis,
iodium, SF, kortison, dsb.
2) Gastritis akute korosiva, disebabkan oleh: obat-obatan
seperti : Analgetik, Anti imflamasi, antibiotik dsb dan
bahan kimia dan minuman yang bersifat korosif, bahan
alkali yang kuat seperti, soda, kaustik, (no hydroxide)
korosiv sublimat.
1.2.2.3 Gastritis endugen acute disebabkan kelainan dalam tubuh
yang terdiri dalam beberapa bagian :
1) Gastritis infektioaksa akute, disebabkan oleh toxin atau
bakteri yang beredar dalam darah dan masuk ke
jantung, misalnya morbili, dipteri , variola dsb.
2) Gastritis egmonos akute, di sebabkan oleh invasi
langsung dari bakteri pirogen pada dinding lambung,
seperti streptococcus, stpilacoccus dsb.
1.2.2.4 Gastritis Kronis.
Merupakan suatu imflamasi kronik yang terjadi pada waktu
lama pada permukaan mukosa lambung, penyebabnya
belum diketahui secara langsung, namun diduga
disebabkan oleh :
1) Bakteri, infeksi stapilococcus< (akute) mungkin pada
akhirnya akan menjadi kronis.
2) Infeksi lokal, infeksi pada sinus, gigi dan post nasal
dapat menimbulkan gastritis.
3) Alkohol dapat menyebabkan kelainan pada mukosa
lambung.
4) Faktor, psikologis dapat menimbulkan hipersekresi
asam lambung.

1.2.3 Klasifikasi
Klasifikasi gastritis :
1) Gastritis akut
 Gastritis akut tanpa perdarahan
 Gastritis akut dengan perdarahan (gastritis hemoragik atau
gastritis erosiva)
Gastritis akut berasal dari makan terlalu banyak atau terlalu
cepat,makan- makanan yang terlalu berbumbu atau yang
mengandung mikroorganisme penyebab penyakit, iritasi bahan
semacam alkohol, aspirin, NSAID, lisol, serta bahan korosif
lain, refluks empedu atau cairan pankreas.

2) Gastritis kronik
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus
benigna atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri
Helicobacter pylory (H.pylory)
3) Gastritis bacterial
Di sebut juga gastritis infektiosa, disebabkan oleh refluks dari
duodenum.

1.2.4 Manifestasi klinis


1.2.4.1 Gastritis Akute.
a. Gastritis Akute Eksogen Simple :
1) Nyeri epigastrik mendadak.
2) Nausea yang di susul dengan vomitus.
3) Saat serangan pasien berkeringat, gelisah, sakit
perut, dan kadang disertai panas serta tachicardi.
4) Biasanya dalam 1-2 hari sembuh kembali.
b. Gastritis Akute Eksogen Korosiva :
1) Pasien kulaps dengan kulit yang dingin.
2) Tachicardi dan siansis.
3) Perasaan seperti terbakar, pada epigastrium.
4) Nyeri hebat / kolik.
c. Gastritis Infeksiosa Akute :
1) Anoreksia
2) Perasaan tertekan pada epigastrium.
3) Vumitus.
4) Hematemisis.
d. Gastritis Hegmonos Akute :
1) Nyeri hebat mendadak di epigastrium.
2) Rasa tegang pada epigastrium.
3) Panas tinggi dan lemas
4) Lidah kering sedikit ekterik.
5) Sianosis pada ektremitas.
6) Abdomen lembek.
1.2.4.2 Gastritis Kronis.
a. Gastritis Superfisialis.
1) Rasa tertekan yang samar pada epigastrium.
2) Kembung / rasa penuh pada epigastrium.
3) Rasa perih sebelum dan sesudah makan
b. Gastritis Atropikan.
1) Rasa tertekan pada epigastrium. ~ Anorexia.
2) Rasa penuh pada perut ~ Nousea.
3) Keluar angin pada mulut. ~ Vumitus.
4) Mudah tersinggung ~ Gelisah.
5) Mulut dan tenggorokan terasa kering.
c. Gastritis Hypertropikan Kronika.
1) Nyeri pada epigastrium yang tidak selalu
berkurang setelah minum susu.
2) Nyeri biasanya timbul pada malam hari.
3) Kadang disertai melena

1.2.5 Patofisiologi dan Pathway


Stress fisik dan emosional menyebabkan keluarnya katekolamin
dqan adrenalin yang menyebabkan peristaltic usus meningkat dan
menghasilkan getah lambung yang beelebihan serta perfusi mukosa
lambung terganggu sehingga timbul infark-infark kecil, dan
membuat suasana lambung menjadi asam dan ditambah infark kecil
akan mempercepat kerusakan mukosa lambung dan menimbulkan
nyeri.

Demikian juga obat-obatan, bahan kimia, rokok, alcohol akan


merangsang produksi getah lambung yang berlebiha dapat
menimbulkan mual disertai muntah
Pathway

Obat-obatan (NSIAD, aspirin, H. phylori Kafein


sulfanomida steroid, digitalis)

Melekat pada epitel lambung me produksi


bikoarbonat (HCO3-)
Mengganggu pembentukan Menghancurkan lapisan mukosa
sawar mukosa lambung sel lambung
me kemampuan
protektif terhadap asam

me barrier lambung terhadap asam


dan pepsin

Menyebabkan difusi kembali asam


lambung & pepsin
MK: Difisit volume
cairan dan elektrolit
1.2.6 Penatalaksanaan
1.2.6.1 Gastritis Akute.
a. Gastritis Eksogen Akute Simple.
1) Fase akute, istirahat total 1-2 hari.
2) Hari I sebaiknya jangan diberikan makan, setelah
mual dan muntah berkurang, coba berikan teh
hangat dan air minum.
3) Hari kedua berikan susu hangat, benintton dengan
garam terutama setelah banyak muntah.
4) Hari ketiga boleh makan bubur dan bisa makan
lembek lainnya.
5) Kolaborasi medik :
a) Pemberian cairan.
b) Antimentek untuk mengurangi muntah
c) Anti spasmodik untuk memperbaiki spasme
otot.
b. Gastritis Infektiosa Akute.
1) Pengaturan diet.
Beri makanan lembek dan tidak merangsang mual
dan muntah.
2) Kolaborasi medik :
a) Pemberian antibiotik untuk penanganan factor
penyebab.
b) Pembrian anti spasmodik.
c. Gastritis Hegmonos Akute.
a) Pengaturan diet.
b) Pada abses lokal perlu dilakukan drainase.
c) Pada pasien dengan hegmonos dispus perlu
gastriktomy.
d) Kolaborasi medik : Antibiotik untuk penanganan
faktor penyebab

1.2.6.2 Gastritis Kronis.


a. Gastritis Superfisialis.
1) Istirahat yang cukup.
2) Pemberian makanan yang cair utuk penderita yang
mengalami erosi dan perdarahan sedikit.
3) Makanan lembek untuk yang tidak terjadi
perdarahan.
4) Kolaborasi medik : Pemberian anti spasmodic.
b. Gastritis Atropikan.
1) Setelah makan sebaiknya istirahat untuk
mnecegah terjadinya neusea dan vumitus.
2) Beri makanan lembek dan porsi kecil tapi sering.
3) Kolaborasi medik :
a) Pemberian anti spasmodik.
b) Beri ekstrak hati, Vit. B12, dan zat besi.
c) Gastritis Hypertropikan.
d) Istirahat yang cukup.
e) Hindari merokok.
f) Beri makanan cair dan lembek.

1.2.7 Pemeriksaan penunjang


1) Darah lengkap.
2) Gastroscopy
3) Nasogastrik aspiration.
4) Angiografie visualazation
5) Semin gastrin
6) Fases
7) Biosi dan sitology
8) Endoscopy
9) Double kontrast

1.3 Konsep dasar asuhan keperawatan


1.3.1 Pengkajian
a. Identitas pasien
b. Keluhan utama
keluhan mual dan muntah, pucat,lesu,lemah dan sering disertai
nyeri epigastrium.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien merasakan nyeri epigastrium, anorexia, sakit kepala,
mual
d. Riwayat penyakit dahulu
1. Apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama?
2. apakah pernah dirawat dengan keluhan yang sama ?
3. pengobatan dan tindakan apa yang pernah dilakukan untuk
mengatasi sakit tersebut ?
4. bagaimana perkembangan penyakit sembuh atau tidak?
e. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada diantara anggota keluarga yang mengalami sakit
yang sama ?
Pengkajian fisik
a. Inspeksi
1. keadaan pasien yang lemah dan cepat lelah
2. tampak pucat dan nyeri ulu hati
3. kadang pasien mengalami muntah
b. Palpasi
1. Turgor kulit kembali dalam 2 detik
2. nyeri tekan pada ulu hati
c. Auskultasi
1. periksa tekanan darah
2. peristaltic usus
d. Periksa tanda tanda vital
Tekanan darah darah, nadi, respirasi, dan suhu.
e. Pemerikasaan Fisik
1. Aktifitas dan istirahat pasien sehari hari
2. Personal hygiene
3. Pola nutrisi
4. Hubungan sosialisasi
5. kemampuan beradapatasi
6. Keadaan tempat tinggal dan kebersihan lingkungan

1.3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut berhungan dengan peningkatan peristaltic usus
2. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah dan anoreksia
3. Resiko dehidrasi berhubungan dengan muntah yang terus
menerus

1.3.3 Rencana Keperawatan


1. Nyeri akut berhungan dengan peningkatan peristaltic usus
Tujuan : Nyeri teratasi dengan kriteria pasien tidak mengeluh
nyeri dan dapat beristirahat dengan tenang.
Intervensi :
1) Kaji lokasi, skala, intensitas nyeri dan laporkan perubahan
yang terjadi
2) Kaji ulang faktor yang memperberat dan memperburuk
3) Anjurkan pasien mengatur posisi yang nyaman dan
mengurangi nyeri
4) Gunakan teknik relaksasi dan distraksi
5) Berikan kompres dingin
6) Berikan kesempatan pasien untuk beristirahat
2. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual
muntah dan anoreksia
Tujuan : Nutrisi terpenuhi dengan kriteria anorexia, mula dan
muntah berkurang atau hilang
Intervensi :
1) Kaji pola kebiasaan makan pasien
2) monitor nutrisi dan laksanakan program diet
3) anjurkan porsi kecil tapi sering
4) sajikan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi
5) hindarkan dari makanan yang berlemak, mengandung zat
yang merangsang
6) berikan obat anti emetik sesuai program
3. Resiko dehidrasi berhubungan dengan muntah yang terus
menerus
Tujuan : resiko dehidrasi tidak terjadi dengan kriteria turgor
kulit baik.
Intervensi:
1) kaji karakteristik muntah
2) observasi vital sign, turgor kulit dan mukosa
3) Kobservasi intake dan output
4) tingkatkan pemasukan cairan yang adekuat
5) kolaborasi pemberian emetic
6) batasi aktifitas dan istirahat yang cukup

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn. S DENGAN LBP


DAN Ny. I DENGAN GASTRITIS DI DESA KOLAM KANAN
KECAMATAN WANARAYA

2.1 Data Umum


2.1.1 Identitas Keluarga (KK)
Nama Kepala Keluarga : Tn. S
Umur : 63 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Perkerjaan : Petani
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Alamat : Desa Kolam Kanan RT. 10

2.1.2 Komposisi Keluarga :


No. Nama Gender Hub dg KK TT/Umur Pendidikan
1 Tn. S L Suami 63 SD
2 Ny. I P Isteri 53 SD
3 An. Sl L anak 18 SMA

Genogram

: Laki-laki : Ikatan pernikahan


: Perempuan : Tinggal serumah
: meninggal
2.1.3 Tipe Keluarga
Keluarga Tn. S terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang tinggal 1
rumah yaitu Nuclear Family

2.1.4 Suku
Tn. S berasal dari jawa dan Ny. I berasal dari suku Jawa. Bahasa
yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa dan bahasa
indonesia

2.1.5 Agama
Semua anggota keluarga Tn. S beragama Islam, Ny. I jarang
mengikuti pengajian.

2.1.6 Status Sosial Keluarga


a. Sosial
Hubungan keluarga dengan masyarakat baik, Tn. S tidak begitu
aktif dalam kegiatan masyarakat dalam kepengurusan
masyarakat keluarga ini tidak ikut.
b. Pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga dalam 1 bulan tidak bisa ditentukan,
karena tergantung dari hasil pertanian, ± 1.000.000 dari hasil
panen, tetapi pengeluaran keluarga hanya untuk makan sehari-
hari sehingga pendapatan dan pengeluaran seimbang.

2.1.7 Aktivitas Rekreasi Keluarga


a. Kebiasaan tidur/istirahat
Nama Tidur Siang Tidur Malam Istirahat
Tn. S Tidak 6 – 7 jam 30 menit
Ny. I Tidak 6-7 Jam 30 menit
An. Sl 1Jam 6-8 Jam -
b. Kebiasaan rekreasi
Ny. I mengatakan jarang melakukan rekreasi karena kondisi
keluarga yang tidak memungkinkan. Sarana hiburan di rumah
terdapat televisi, keluarga biasa mengisi waktu luang dengan
berkumpul bersama dan menonton televisi pada waktu malam
hari.
c. Kebiasaan makan keluarga
Ny. I mengatakan pola makan keluarga teratur 3x sehari tetapi
apabila terlambar makan Ny. I akan merasa mual dan sampai
sakit kepala. Menu makanan sehari-hari keluarga adalah nasi,
tahu, sayur, ayam, dan kadang-kadang makan buah jika ada

2.2 Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga:


2.2.1 Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga Tn. S saat ini yaitu Keluarga dengan
anak kedua usia remaja (13-20 tahun) adalah menjaga keseimbangan
tanggung jawab bagi remaja, pada tahap ini sering terjadi komplik
antara orang tua remaja

2.2.2 Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Tugas perkembangan keluarga Tn. S yang belum terpenuhi adalah
perkembangan keluarga anak dengan usia dewasa, selain itu Tn. S
juga ingin menyekolahkan anak yang keduanya.

2.2.3 Riwayat keluarga inti


Tn. S mengatakan bahwa dirinya menderita sakit pinggang,
sedangkan Ny. I menderita Gastritis dan kalau lambat makan akan
mual dan maag nya kambuh, Ny. I mengatakan jika gastritis
kambuh, Ny. I mengalami sakit melilit di perut dan pusing kadang-
kadang hingga muntah, jika sakit yang dirasa belum hilang Ny. I
meminum obat yang di belinya di warung.

2.2.4 Riwayat keluarga sebelumnya


Tn. S mengatakan tidak ada keluarga yang menderita penyakit
menular, hipertensi, diabetes mellitus dan TB paru.

2.3 Lingkungan
2.3.1 Karakteristik rumah
Rumah terletak didalam perkampungan penduduk dan merupakan
milik sendiri. Luas rumah ± 10 x 8 m2, tidak permanen. Terdiri
dari 2 kamar tidur, ruang tamu yang merangkap sebagai ruang
keluarga. Luas masing-masing kamar 2 x 3 meter dan masing-
masing memiliki jendela.. Kamar mandi dan WC letaknya
berdekatan dengan dapur. Ny. I memasak menggunakan tungku..
Lantai terlihat kering, penataan perabotan rapi, lantai terbuat dari
kayu/papan.

2.3.2 Karakteristik tetangga & komunikasi RW


Ny. I mengatakan sebagian besar tetangganya warga asli jawa,
sebagian kecil merupakan pendatang. Ny. I mengatakan jarang
berkumpul dengan tetangga di sekitar rumah karena sering
menghabiskan waktu di kebun ketika sore hari. Mayoritas mata
pencaharian tetangga sekitar rumah Ny. I adalah sebagai petani. Ny.
I mengatakan dilingkungannya terdapat kegiatan pengajian
dilakukan satu kali dalam satu minggu.
2.3.3 Mobilitas geografi keluarga
Ny. I mengatakan sudah tinggal dirumahnya yang sekarang selama
±37 tahun. Jarak rumah dengan tetangga jauh.
2.3.4 Perkumpulan keluarga &interaksi dengan masyarakat
Ny. I mengatakan jarang mengikuti kegiatan pengajian yang
dilaksanakan di sekitar daerah rumahnya. Interaksi yang terjalin
antara keluarga Tn.S dengan tetangganya sangat baik

2.3.5 Sistem pendukung keluarga


Ny. I mengatakan bahwa keluarganya tidak mempunyai kartu sehat
seperti BPJS dan yang lainnya.

2.4 Struktur Keluarga


2.4.1 Pola komunikasi keluarga
Komunikasi dilakukan setiap hari, baik siang hari maupun malam
hari, bahasa yang digunakan dalam komunikasi adalah bahasa Jawa,
komunikasi dalam keluarga ini tidak ada dalam masalah.

2.4.2 Struktur kekuatan keluarga


keluarga Tn. S dalam pengambilan keputusan setiap ada
permasalahan dalam keluarga pemecahannya selalu secara
musyawarah.

2.4.3 Struktur peran


Tn. S Sebagai kepala keluarga yaitu dalam mengambil keputusan
keluarga dan sebagai bapak dari satu anaknya, membantu mencari
nafkah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ny. I sebagai ibu,
mengatur dan mengurus rumah tangga dan keuangan serta mengurus
anak dan An. Sl seorang pelajar.

2.4.4 Nilai dan norma budaya


Keluarga Tn. S dalam menghadapi masalah kesehatan selain
membawa ke perawat/bidan praktek, keluarga juga suka membawa
ke puskesmas dan rumah sakit. Dan keluarga memegang teguh nilai-
nilai agama Islam, keluarga juga ditekankan untuk menjaga
silahturahmi dengan saudara-saudara dan tetangga setempat

2.5 Fungsi Keluarga


2.5.1 Stress afektif
Keluarga mengatakan saling memberikan perhatian dan kasih
sayang, klien selalau mendukung anggota kelurga apa yang
dilakukan selama dalam batas kewajaran dan tidak melanggar etika
dan sopan santun. Diterapkan demokrasi dalam mengatasi masalah
keluarga.

2.5.2 Fungsi sosialisasi


Keluarga Tn. S dapat bersosialisasi dikeluarga dengan akrab, juga
sosialisasi dengan tetangga maupun dengan masyarakat yang ada di
wilayah tempat tinggal mereka..

2.5.3 Fungsi perawatan keluarga (termasuk pemeriksaan fisik)


a. Mengenal masalah kesehatan
Ny. I juga mengatakan maag nya sering kambuh dan tidak
mengetahui penyebabnya.
b. Memutuskan untuk merawat
Bila ada masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga, anggota
keluarga yang lain mencoba mengobati dengan membeli obat di
warung, bila di rasakan tidak mengalami perubahan keluarga
segera membawa anggota keluarga yang sakit ke puskesmas.

c. Mampu merawat
Ny. I mengatakan tidak mengetahui bagaimana cara merawat
dan diet yang harus dihindarinya. Pengatahuan keluarga
mengenai penyakit terbatas secara perawatan dan
pengobatannya.
d. Modifikasi lingkungan
Keluarga mampu membuat suasana menjadi tenang, lingkungan
rumah tertata rapi sesuai tempatnya dan kondisi rumah yang
cukup bersih.
e. Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
Ny. I jarang memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

f. Fungsi reproduksi
Ny. I mengatakan tidak mnggunakan KB. Ny. I mempunyai dua
orang anak berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
g. Fungsi ekonomi
Ny. I mengatakan dalam keluarga sumber penghasilan berasal
buruh tani dan berjualan di pasar. Pendapatan keluarga hanya
untuk makan sehari-hari.

Pemeriksaan fisik Bapak/Ibu/anak


No Jenis Tn. S Ny. I An. Sl
pemeriksaan
1 Keadaan umum Baik Baik Baik
2 Kesadaran CM CM CM
3 TTV TD : 130/90 TD : 110/80 TD : 110/70
N : 80 x/m N : 86 x/m N : 82 x/m
R : 18 x/m R : 16 x/m R : 22 x/m
4 Kepala Kulit kepala tidak Kulit kepala tidak Kulit kepala tidak ada
ada lesi dan tidak ada lesi dan tidak lesi dan tidak ada
ada benjolan. ada benjolan. benjolan. Mata tidak
Mata tidak Mata tidak anemis, telinga tidak
anemis, telinga anemis, telinga ada serumen, fungsi
tidak ada tidak ada pendengaran baik,
serumen, fungsi serumen, fungsi hidung tidak ada
pendengaran baik, pendengaran baik, sekret, fungsi
hidung tidak ada hidung tidak ada penciuman
sekret, fungsi sekret, fungsi baik, mukosa bibir
penciuman baik, penciuman baik, lembab
mukosa bibir mukosa bibir
lembab. lembab
5 Dada/thorax Dada simetris, Dada simetris, Dada simetris,
frekuensi napas frekuensi napas frekuensi napas
18x/menit, bunyi 16x/menit, bunyi 22x/menit, bunyi dada
dada vesikuler. dada vesikuler. vesikuler. Tidak ada
Tidak ada bunyi Tidak ada bunyi bunyi napas tambahan,
napas tambahan, napas tambahan, vermitus raba antara
vermitus raba vermitus raba kanan dan kiri
antara kanan dan antara kanan dan seimbangan.
kiri seimbangan. kiri seimbangan.
6 Perut/abdomen Bentuk simetris, Bentuk simetris, Bentuk simetris, tidak
tidak terdapat tidak terdapat terdapat acites, tidak
acites, tidak acites, tedapat tedapat nyeri tekan di
tedapat nyeri nyeri tekan di abdomen.
tekan di abdomen. abdomen.

7 Genetalia/anus Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan
pada bagian pada bagian pada bagian genitalia/
genitalia/ genitalia/ anus.
anus. anus.
8 Ekstremitas Ekstremitas atas Ekstremitas atas Ekstremitas atas dan
dan bawah dan bawah bawah tampak normal,
tampak normal, tampak normal, tidak ada edema,
tidak ada edema, tidak ada edema, fungsi pergerakan baik
fungsi pergerakan fungsi pergerakan
baik kadang baik.
terdapat nyeri
sendi , nyeri
pinggang dan
kadang
kesemutan.

2.6 Stress dan koping keluarga


2.6.1 Stressor jangka pendek
Ny.I mengatakan sering mengeluh pusing apabila memikirkan
tentang persoalan keluarganya dan juga penyakitnya.
2.6.2 Stressor jangka panjang
Ny. I mengatakan tidak tahu bagaimana cara mengatasi penyakitnya.
2.6.3 Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah
Ny. I mengatakan khawatir terhadap penyakitnya dan berusaha
mencari pengobatan
2.6.4 Strategi koping yang digunakan
Ny. I mengatakan hanya berpasrah diri kepada Allah SWT, berdoa
agar cepat diberikan kemudahan dan kesabaran dalam menghadapi
masalahnya dan selalu berusaha menjaga kesehatan dirinya dan
keluarganya.
2.6.5 Strategi adaptasi disfungsional
Keluarga Tn. S dalam menyelesaikan masalah rumah tangganya
biasanya diselsaikan secara bersama-sama.

2.7 Harapan Keluarga


Ny. I berharap bisa meningkatkan derajat hidup keluarganya dan derajat
kesehatannya sehingga dapat hidup sejahtera.

2.8 ANALISA DATA


No Data Masalah Kesehatan Masalah Keperawatan
1  Tn. S mengatakan ia sering Tn. S menderita LBP 1. Ketidakmampuan keluarga
mengalami sakit pada bagian mengenal masalah LBP b.d
pinggang bagian belakang kurang pengetahuan tentang
 Tn. S mengatakan nyeri tanda dan gejala LBP
datang setelah beraktivitas
mencari rumput ataupun 2. Ketidakmampuan keluarga
setelah bekerja di sawah. membuat keputusan untuk
 Tn. S mengatakan ia tidak mengatasi masalah LBP b.d
meminum obat ataupun pergi kurang pengetahuan tentang
ke pustu untuk berobat akibat LBP
masalah nyeri pinggangnya. 3. Ketidakmampuan keluarga
 Tn. S mengatakan jika memodifikasi lingkungan b.d
sakitnya muncul, ia akan kurang pengetahuan tentang
mengoleskan balsam di posisi kerja.
daerah yang sakit.

2  Ny. I mengatakan bahwa ia Ny. I menderita 4. Ketidakmampuan keluarga


punya penyakit maag penyakit gastritis mengenal masalah gastritis
(Gastritis) b.d kurang pengetahuan
 Ny. I mengatakan maagnya tentang tanda dan gejala
sering kambuh, biasanya Gastritis
kalau telat makan langsung 5. Ketidakmampuan keluarga
mual-mual dan sakit kepala. membuat keputusan untuk
 Ny. I mengatakan suka mengatasi masalah gastritis
makan- makanan yang pedas. b.d kurang pengetahuan
 Ny. I mengatakan sering tentang akibat gastritis
merasa ada gumpalan bulat 6. Ketidakmampuan keluarga
yang menutup ulu hatinya memodifikasi lingkungan b.d
apabila maagnya kambuh. kurang pengetahuan tentang
pola makan yang tidak
teratur

2.9 SKALA PRIORITAS MASALAH


Masalah 1. Anggota keluarga dengan LBP

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran

1 Sifat masalah 3/3 x 1 1 Masalah sudah ada selanjutnya


intervensi dan implementasi
Masalah mudah untuk dicegah
2 Kemungkinan masalah 2/2 x 2 2 karena tidak banyak
dapat diubah memerlukan biaya

Masalah LBP dapat dikurangi /


3 Potensi masalah untuk 3/3 x 1 1 dihilangkan bila mau
dicegah memperhatikan posisi kerja.

Adanya masalah tetapi tidak


4 Menonjolnya masalah 1/1 x 1 1 perlu segera ditangani
Total skor 4

Masalah 2. Anggota keluarga dengan gastritis

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran

1 Sifat masalah : 3/3 x 1 1 Masalah sudah ada


Ancaman selanjutnya intervensi dan
implementasi

2 Kemungkinan masalah 2/2 x 1 2 Masalah mudah untuk


dapat diubah dicegah karena tidak
banyak memerlukan biaya

3 Potensial masalah untuk 3/3 x 1 1 Masalah mudah di cegah


diubah

4 Menonjolnya masalah 2/2 x 1 1 Keluarga merasa ada


masalah dan perlu di
tanggulangi segera
Total skor 4
Prioritas Masalah
1. Anggota keluarga menderita LBP dengan skor 4
2. Anggota keluarga menderita gastritis dengan skor 4
2.10 INTERVENSI KEPERAWATAN PADA KELUARGA Tn. S DENGAN LBP DAN Ny. I MENDERITA GASTRITIS
DI RT. 10 DESA KOLAM KANAN

Masalah Tujuan Jangka Tujuan Jangka Evaluasi


No Masalah Keperawatan Intervensi
Kesehatan Panjang Pendek Kriteria Standar
1 Tn. S menderita 1. Ketidakmampuan i. Setelah ii. Setelah dilakukan Respon 1. Keluarga dapat 1. Kaji pengetahuan
LBP keluarga mengenal dilakukan 3 kali tindakan verbal mengerti keluarga tentang
masalah LBP b.d kunjungan keperawatan, tentang LBP
rumah, keluarga keluarga dapat pengertian LBP 2. Jelaskan
kurang
dapat mengenal menyebut tentang : 2. Keluarga pengeritan,
pengetahuan masalah LBP  Pengertian LBP mampu penyebab, tanda
tentang tanda dan mengenai  Penyebab LBP menyebutkan dan gejala LBP
gejala LBP penyebab dan  Tanda dan gejala penyebab LBP
tanda gejalanya LBP 3. Keluarga dapat
mengetahui
tentang tanda
dan gejala LBP

2. Ketidakmampuan i. Setelah Setelah dilakukan Respon 1. Keluarga 1. Beri penjelasan


keluarga membuat dilakukan 3 kali tindakan verbal mengetahui tentang akibat
keputusan untuk kunjungan keperawatan akibat LBP dari LBP
rumah, keluarga keluarga dapat: 2. Keluarga dapat 2. Bantu keluarga
mengatasi masalah
dapat membuat  Mengetahui akibat mengambil dalam mengambil
LBP b.d kurang keputusan yang keputusan yang
dari LBP
pengetahuan tepat terhadap  Mengambil tepat dalam keputusan yang
tentang akibat LBP anggota keputusan yang merawat tepat
keluarga yang tepat dalam anggota
bermasalah merawat anggota keluarga yang
keluarga yang bermasalah
bermasalah
3. Ketidakmampuan Setelah Setelah dilakukan Respon 1. Keluarga 1. Jelaskan
keluarga dilakukan 3 kali tindakan verbal mengerti bagaimana cara
memodifikasi kunjungan keperawatan bagaimana cara penanganan LBP
lingkungan b.d rumah, keluarga keluarga dapat penanganan
kurang dapat merawat menyebut tentang : LBP
pengetahuan anggota  Cara 2. Keluarga dapat
tentang posisi keluarga yang penanganannya menyebutkan
kerja. sakit dan  Cara mengetahui cara merawat
mengetahui bagaimana LBP
proses dan menangani LBP
penanganannya
i.
2 Ny. I menderita 1. Ketidak mampuan Setelah Setelah dilakukan Respon 1. Keluarga dapat 1. Kaji pengetahuan
penyakit keluarga mengenal dilakukan 3 kali tindakan verbal mengerti keluarga tentang
gastritis masalah gastritis kunjungan keperawatan, tentang penyakit gastritis
b.d kurang rumah, keluarga keluarga dapat pengertian 2. Jelaskan
pengetahuan dapat mengenal menyebut tentang : gastritis pengeritan,
tentang tanda dan masalah gastritis  Pengertian 2. Keluarga penyebab, tanda
gejala gastritis serta tanda dan Gastritis mampu dan gejala
gejalanya  Penyebab menyebutkan gastritis
Gastritis penyebab
 Tanda dan gejala gastritis
Gastritis 3. Keluarga dapat
mengetahui
tentang tanda
dan gejala
gastritis

2. Ketidak mampuan i. Setelah Setelah dilakukan Respon 1. Keluarga 1. Beri penjelasan


keluarga membuat dilakukan 3 kali tindakan verbal mengetahui tentang akibat
keputusan untuk kunjungan keperawatan akibat dari dari Gastritis
mengatasi masalah rumah, keluarga keluarga dapat: Gastritis 2. Bantu keluarga
gastritis b.d kurang dapat membuat  Mengetahui akibat 2. Keluarga dapat dalam mengambil
pengetahuan keputusan yang dari Gastritis mengambil keputusan yang
tentang akibat tepat terhadap  Mengambil keputusan yang tepat
gastritis anggota keputusan yang tepat dalam
keluarga yang tepat dalam merawat
sakit merawat anggota anggota
keluarga yang sakit keluarga yang
sakit

3. Ketidak mampuan Setelah Setelah dilakukan Respon 1. Keluarga 1. Jelaskan


keluarga dilakukan 3 kali tindakan verbal mengerti bagaimana cara
memodifikasi kunjungan keperawatan bagaimana cara pencegahan
lingkungan b.d rumah, keluarga keluarga dapat pencegahan Gastritis
kurang dapat merawat menyebut tentang : gastritis 2. Beri informasi
pengetahuan anggota  Cara pencegahan 2. Keluarga dapat tentang cara
tentang pola makan keluarga yang  Mengetahui menyebutkan memilih makanan
yang tidak teratur sakit dan makanan yang makanan yang yang
mengetahui dapat menyebabkan menyebabkan
proses dan menyebabkan gastritis Gastritis
pencegahannya gastritis
i. ii.
2.11 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
Tanggal / Masalah Masalah
No Implementasi Evaluasi
Jam Kesehatan Keperawatan
1 Jum,at, 14 1. Ketidakmampuan 1. Mengkaji pengetahuan keluarga 1. Keluarga mengatakan tidak
Oktober keluarga mengenal tentang anak hiperaktif mengetahui penyebab LBP
2016 masalah LBP b.d
16.00 kurang pengetahuan 2. Menjelaskan pengeritan, penyebab, 2. Keluarga sangat antusias mendengar
WITA tentang penyebab tanda dan gejala LBP penjelasan yang diberikan perawat
dan tanda gejala dengan menjelaskan tentang LBP,
anak hiperaktif Tn. S menyimpulkan bahwa
penyakitnya akibat salah posisi kerja
Jum,at, 14 Tn. S 2. Ketidakmampuan 1. Memberikan penjelasan tentang 1. Menjelaskan kepada keluarga
Oktober menderita LBP keluarga membuat akibat dari LBP tentang akibat LBP
2016 keputusan untuk
16.45 mengatasi masalah 2. Membantu keluarga dalam 2. Keluarga mengatakan akan berobat
WITA LBP b.d kurang mengambil keputusan yang tepat ke puskesmas jika nyeri semakin
pengetahuan tentang dengan menganjurkan keluarga bertambah.
LBP untuk ke puskesmas

Jum,at, 14 3. Ketidakmampuan 1. Menjelaskan bagaimana cara 1. Keluarga sedikit mengerti tentang


Oktober keluarga penanganan LBP penanganan LBP, tetapi karena
2016 memodifikasi beberapa alasan sehingga keluarga
17.00 lingkungan b.d belum memutuskan berobat ke
WITA kurang pengetahuan puskesmas.
tentang posisi kerja
2 Sabtu, 15 Ny. I 1. Ketidak mampuan 1. Mengkaji pengetahuan keluarga 1. Ny. I mengatakan tidak mengerti
Oktober menderita keluarga mengenal tentang penyakit gastritis tentang penyakit gastritis.
2016 gastritis masalah gastritis b.d 2. Menjelaskan pengeritan, penyebab, 2. Ny. I dapat menyebutkan pengertian,
15.00 kurang pengetahuan tanda dan gejala gastritis tanda dan gejala, penyebab akibat
WITA tentang tanda dan dan cara pencegahannya dan
gejala gastritis keluarga dapat menjelaskan dan
mengetahui cara penanganan
terjadinya Gastritis

Sabtu, 15 2. Ketidak mampuan 1. Memberikan penjelasan tentang 1. Ny. I mengerti tentang akibat yang
Oktober keluarga membuat akibat dari Gastritis ditimbulkan penyakit gastritis
2016 keputusan untuk 2. Membantu keluarga dalam apabila tidak diobati dan dijaga
15.50 mengatasi masalah mengambil keputusan yang tepat dietnya
WITA gastritis b.d kurang 2. Ny.I mengatakan apabila maag
pengetahuan tentang kambuh minum obat maag dan
akibat gastritis apabila masih belum sembuh baru ke
pustu untuk berobat
Senin, 17 3. Ketidak mampuan 1. Menjelaskan bagaimana cara 1. Ny. I mengatakan tidak mengetahui
Oktober keluarga pencegahan Gastritis tentang tentang diet dan perawatan serta
2016 memodifikasi perawatan dan pengobatan pengobatan gastritis dan baru tahu
15.00 lingkungan b.d sederhana, jelaskan juga pentinya setelah dijelaskan sekrang.
WITA kurang pengetahuan olah raga, diet dan kontrol dengan 2. Ny. I mengerti tentang diet gastritis
tentang pola makan rutin. dan akan menghindari makanan yang
yang tidak teratur 2. Memberi informasi tentang cara tidak di makan oleh penderita
memilih makanan yang sehat. gastritis