Vous êtes sur la page 1sur 5

ANALISIS COMMON SIZE

1. Analisis Common Size atas Laporan Posisi Keuangan


Dari total aset yang di miliki PT Indosat Tbk dan entitas anak, proporsi aset lancarnya
15,88 % dan asset tidak lancarnya 84,12 %, mengalami peningkatan sebesar 0,83% dan
2012. Dalam aset lancar yang dimiliki tahun 2012-2016 komponen kas dan setara kas
selalu menjadi komponen yang terbesar, yaitu pada tahun 2015 mencapai 6,54%.
Walaupun berfluktuasi, namun prosentasenya cenderung meningkat setiap tahunnya,
kalau pun ada penurunan hanya sedikit yaitu pada 2014, dimana prosentasenya 4,09 %,
dan tahun 2016, dimana prosentasenya 3,64%, Seterusnya prosentasi berturut -turut
piutang usaha (pihak ketiga), uang muka dan beban dibayar dimuka, pajak dibayar
dimuka, aset keuangan lancar lainnya, piutang usaha (pihak yang berelasi), persediaan,
piutang lain-lain, aset derivatif dan terakhir aset lancar lainnya. Begitu juga dalam
komponen asset tidak lancar, akun asset tetap merupakan yang terbesar, yaitu 76,87 %.
Hal ini dikarenakan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk adalah perusahaan dalam sektor
industri infrastruktur yang bergerak di bidang telekomunikasi maka penggunaan aset tetap
rata-rata selama 5 tahun (2012-2016) sebesar 76% dari total asetnya. Kontribusi asset
tetap mengalami peningkatan sekitar 0,88% dari tahun 2012 ke 2016. Selanjutnya terus
berturut-turut kas yang dibatasi penggunaannya, piutang pihak berelasi, klaim restitusi
pajak, aset pajak tangguhan, beban dibayar dimuka, investasi pada entitas asosiasi dan
jangka panjang, goodwill dan aset takberwujud, aset keuangan tidak lacar dan aset tidak
lancar lain-lain. Modal kerja PT Indosat, Tbk sebesar 1,07% dari asetnya mengartikan
bahwa PT Indosat tidak menyimpan banyak uang dalam modal kerjanya. Pada struktur
pembiayaan PT Indosat Tbk, terlihat bahwa 72,11 % perusahaan di biayai dengan hutang,
dan 27,89% di biayai dengan modal sendiri, artinya dapat diketahui PT Indosat tidak
memiliki kecukupan modal sendiri untuk membiayai perusahaan. Dari komponen hutang,
maka hutang obligasi merupakan komponen terbesar yaitu sebesar 19,82% diikuti hutang
pengadaan, hutang jangka panjang, kewajiban sewa pembiayaan, akrual, provisi atas
kasus hukum, kewajiban imbalan kerja, pendapatan diterima dimuka, liabilitas jangka
panjang lainnya, uang muka pelanggan, liabilitas jangka pendek, hutang pihak berelasi,
liabilitas derivatif dan liabilitas keuangan jangka panjang.. Dari struktur modal sendiri,
modal dalam bentuk saham hanya 1,07 %, saldo laba sebesar 21,38 % yang terdiri atas
saldo laba yang sudah ditentukan penggunaannya 0,26 % dan yang belum ditentukan
penggunaannya 21,12%, tambahan modal disetor sebesar 3,04%. Besar liabilitas lancar
adalah sebesar 37,54 % dari total liabilitas dan ekuitas, angka ini lebih tinggi dari porsi
asset lancar (15,88%), hal ini berdampak buruk bagi likuiditas PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk. Jumlah ekuitas yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk
26,26% dan kepentingan non pengendali 1,63 %.

Analisis Common Size atas Laporan Laba Rugi


Dalam laporan laba rugi, laba tahun berjalan yang diperoleh PT Indosat, Tbk pada tahun
2016 sebesar 4,37 % meningkat 2,2 % dari tahun 2012. Pergerakan laba tahun berjalan
cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yang diikuti dengan peningkatan
prosentase atas beban jasa telekomunikasi dengan prosentase 40,84 % pada tahun 2016
sedangkan tahun 2012 hanya 39,72 %. Beban umum & administrasi meningkat sebesar
0,81% atas pendapatan sejak tahun 2012. Beban karyawan meningkat sebesar 0,88% atas
pendapatan sejak tahun 2012.Terlepas dari ketiga beban tersebut, banyak prosentase
beban PT Indosat yang menurun, seperti beban penyusutan dan amortisasi, beban provisi
untuk kasus hukum, beban laba penjualan menara telekomunikasi, keuntungan penjualan
investasi yang tersedia untuk dijual, laba selisih kurs dan beban lain-lain. Hal ini
menunjukkan semakin efisiennya PT Indosat dalam penggunaan biaya
perusahaan.Beban-beban yang cenderung menurun menyebabkan peningkatan laba usaha
sebelum pajak. Penghasilan lain-lain cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya,
terlihat pada tahun 2016 prosentase hanya sebesar 86,50 % lebih besar dibanding tahun
2012 sebesar 85,77%. Sementara untuk beban karyawan cenderung stabil, dikarenakan
PT Indosat adalah perusahaan BUMN dimana jumlah karyawan masuk dan keluar tidak
bergerak cepat.
ANALISIS KOMPARATIF

1. Analisis Komparatif atas Laporan Posisi Keuangan


Jumlah asset lancar yang dimiliki PT Indosat,Tbk cenderung mengalami fluktuasi setiap
tahunnya. Dibanding tahun 2012 ke tahun 2013 aset lancar PT Indosat mengalami
penurunan sebesar 13,72%, tahun 2014 naik sebesar 3,40%, tahun 2015 mengalami
kenaikan signifikan sebesar 19,38%, dan turun sebesar 2,83% pada 2016. Penurunan
prosentase total asset lancar pada tahun 2016 dibanding tahun 2012 diakibatkan karena
adanya penurunan jumlah kas dan setara kas sebesar 52,76%%, dan aset derivatif turun
sebesar 77,84%. Aset keuangan lancar lainnya meningkat setiap tahunnya dibanding
tahun 2012 walaupun ditahun 2014 mengalami penurunan sebesar 21,76% dan
meningkat drastis pada tahun 2016 sebesar 729,54%. Piutang usaha dan persediaan
berfluktuasi setiap tahunnya, namun cenderung meningkat. Namun biaya frekuensi dan
perijinan dibayar dimuka serta biaya dibayar dimuka-lainnya mengalami kenaikan yang
drastis setiap tahunnya dibanding tahun 2012.
Jumlah asset tidak lancar juga cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya
dibanding tahun 2012. Tahun 2013 jumlah asset tidak lancar 0,54%, tahun 2014 turun
sebesar 2,83%, tahun 2015 naik sebesar 0,34% dan tahun 2016 turun lagi sebesar 8,85%
dibanding tahun 2012 (tahun dasar). Penurunan jumlah asset tidak lancar setiap tahunnya
disebabkan karena adanya penurunan jumlah aset tetap bersih di tahun 2016, 2015, dan
2014 dibanding 2012. Hal ini juga disebabkan adanya penurunan jumlah goodwill dan
aset tak berwujud lainnya yang dimiliki PT Indosat, berturut-turut dari 2013, 2014 dan
2015, dibanding 2012 sebesar -0,81%%, -1,25%%, -1,62%, dan ditahun 2016 meningkat
sebesar 4,84%. Secara keseluruhan jumlah asset yang dimiliki oleh PT Indosat Indonesia
mengalami penurunan setiap tahunnya dibanding tahun 2012. Tahun 2013 total asset
turun sebesar 1,19%, tahun 2014 turun sebesar 3,54%, tahun 2015 naik sebesar 0,30%,
dan tahun 2016 turun signifikan sebesar 7,94%. Hal ini menunjukkan PT Telekomunikasi
Indonesia, Tbk belum berhasil untuk meningkatkan kekayaan perusahaan.

Jumlah liabilitas jangka pendek mengalami peningkatan yang cukup tinggi tahun 2014
yaitu sebesar 91,98% dibanding tahun 2013 hanya sebesar 22,50%, tahun 2015 turun
sebesar 82,04 % dan tahun 2016 juga turun sebesar 73,27%. Hal ini menunjukkan
penggunaan hutang untuk membiayai keperluan operasional atau untuk memperoleh
kekayaan lancar PT Indosat meningkat signifikan (cukup besar) pada tahun 2014 dan
mengalami penurunan pada tahun 2015 dan 2016. Peningkatan liabilitas jangka pendek
PT Indosat terngadaan, uang muka pelanggan dan liabilitas jangka pendek lainnya.
Begitu juga dengan jumlah liabilitas jangka panjang PT Indosat menunjukkan prosentase
yang cenderung turun setiap tahunnya jika dibanding tahun 2012. Pada tahun 2013
mengalami penurunan sebesar 1,23%, tahun 2014 turun sebesar 27,82%, tahun 2015 naik
sebesar 11,05% dan tahun 2016 turun lagi sebesar 29,17%.
Prosentase jumlah liabilitas mengalami peningkatan yang tinggi tahun 2013,2014 dan
2015, dapat dilihat pada tahun 2013 total liabilitas naik sebesar 6,07%, tahun 2014
sebesar 9,01%, tahun 2015 sebesar 17,57%, dan tahun 2016 mengalami penurunan yang
siginifikan yaitu sebesar 2,32%. Dengan demikian dapat disimulkan PT Indosat tahun
2016 sudah mampu ngurangi jumlah hutangnya.
Pada komponen ekuitas PT Telkom prosentase mengalami cenderung mengalami
penurunan setiap tahunnya dibanding tahun dasar (2012). Tahun 2013 turun sebesar
14,84%%, tahun 2014 turun sebesar 26,81%, tahun 2015 sebesar -31,61%, tahun 2016
sebesar -26,90%. Modal saham PT Telkom terlihat tetap setiap tahunnya, artinya jumlah
rupiah yang disetorkan oleh pemegang saham jumlahnya sama setiap tahun. Hal ini
dikarenakan PT Telkom adalah perusahaan BUMN yang tentunya hanya akan berubah
jumlahnya jika ada kebijakan baru dari pemerintah yang mengelolanya. Tambahan modal
disetor juga tetap setiap tahunnya yaitu sebesar Rp 1.546.587.. Untuk saldo laba yang
telah ditentukan penggunaannya memiliki jumlah yang sama setiap tahunnya (tidak ada
perubahan). Sedangkan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya memiliki
prosentase yang cenderung turun tiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa PT Telkom
memiliki nilai perusahaan yang kurang baik karena sisa laba setelah pembagian dividen
selalu turun.

2. Analisis Komparatif atas Laporan Laba Rugi


Pendapatan kotor PT Telkom tahun 2012-2016 mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Pada tahun 2016 pendapatan kotor yang diperoleh naik sebesar 30,32% dari tahun 2012,
diikuti kenaikan beban-beban dengan prosentase yang cukup tinggi setiap tahunnya,
seperti beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi, beban penyusutan dan
amortisasi, beban karyawan, beban umum dan administrasi, beban pemasaran, beban lain-
lain. Peningkatan pendapatan PT Indosat yang diikuti dengan peningkatan beban-beban
menyebabkan laba usaha cenderung lebih rendah dari peningkatan pendapatannya sendiri.
Walaupun pada tahun 2016 laba usaha meningkat dari 2012. Secara keseluruhan, hal ini
menunjukkan bahwa PT Telkom belum dapat mengendalikan beban operasional dan non
operasionalnya. Laba per saham mengalami peningkatan setiap tahunnya, dibanding
tahun 2012 pada tahun 2016 naik sebesar 194,65%. Sedangkan laba per ADS PT Indosat
juga meningkat setiap tahunnya . Secara keseluruhan PT Indosat Indonesia, Tbk mampu
menghasilkan laba dengan prosentase yang meningkat stabil setiap tahunnya (2012-
2016). PT Indosat Indonesia, Tbk mempunyai prestasi yang baik dan mampu bertahan
dalam lingkungan persaingan kompetitif di sektor industri infrastruktur telekomunikasi di
Indonesia.