Vous êtes sur la page 1sur 36

DI SUSUN OLEH

:
ACHMAD GHOZALI , Skep
153220001

PROGRAM STUDI S1 NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kesejahteraan kesehatan yang baik adalah suatu kondisi dimana tidak

hanya bebas dari penyakit. Pergeseran fokus dari sehat ke sakit sangat berarti

karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif, yang mempunyai

beberapa tingkat, maka akan lebih mudah bila sehat dan sakit ditentukan sesuai

dengan titik tertentu pada skala atau kontinum sehat-sakit. Konsep sehat dan

sakit adalah konsep yang berkompleks dan berinterpretasi. Banyak faktor yang

mempengaruhi kondisi sehat maupun sakit. Sehat diartikan sebagai kondisi yang

normal dan alami, yang bersifat dinamis yang sifatnya terus menerus berubah.

Menurut WHO sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna, baik fisik

mental dan sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit dan kelemahan. Sedangkan

sakit adalah keadaan tidak normal atau sehat, secara sederhana dapat disebut

penyakit yang merupakan suatu bentuk kehidupan atau keadaan diluar batas

normal (Asmadi, 2008).

Menurut Murwani (2011), Hipertensi adalah suatu keadaaan dimana

tekanan systole dan diastole mengalami kenaikan yang melebihi batas

normal(tekanan systole di atas 140 mmHg, diatas 90 mmHg). Sedangkan

definisi yang lain menurut Brashers (2008), Hipertensi (HTN) didedifinisikan

sebagai peningkatan tekanan darah arterial abnormal yang berlangsung terus

menerus. Tekanan darah tinggi pada orang dewasa sebagai berikut menurut

1
2

klasifikasi tekanan darah tinggi menurut JNS (The Joint National Committee on

Preventation, detection evaluation and treatment of High Blood Preassure)

(Purwanto, 2012) klasifikasi sistolik dan diastolic untuk ukuran normal <120

dan <80, pada prehipertensi dalam rentan sistolik 120 – 139 dan diastolic 85-89.

Pada hipertensi stage 1 ukuran sistolik 140 – 159 mmHg dan diastolic 90-99

mmHg, serta hipertensi stage 2 ukuran tekanan darah Ç160 dan Ç100 mmHg.

Sedangkan penyebab dari hipertensi menurut penyebabnya ada 2 jenis yaitu ;

Hipertensi primer esensial yaitu meliputifactor keturunan,umur serta factor

psikis. Pada hipertensi sekunder yaitu penyakit ginjal, tumor dalam rongga

kepala, penyakit syaraf dan Toxemia gravidarum (Murwani, 2011).

Di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4 persen penghuni bumi

mengidap hipertensi dengan perbandingan 26,6 persen pria dan 26,1 persen

wanita. Angka ini kemungkinan akan terus meningkat menjadi 29,2 persen di

tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju

dan 639 sisanya berada di negara sedang berkembang termasuk Indonesia

(Purwanto, 2012). Prevalensi hipertensi tekanan darah di Indonesia cukup tinggi,

akibat yang ditimbulkannya menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hipertensi

merupakan salah satu faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian

penyakit jantung dan pembuluh darah.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan, sebagian

besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari

hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi

hipertensi di Indonesia sebesar 31,7persen, dimana hanya 7,2persen penduduk


3

yang sudah mengetahui memiliki hipertensi dan hanya 0,4persen kasus yang

minum obat hipertensi. Sebanyak 76 persen kasus hipertensi di masyarakat

belum terdiagnosis atau 76 persen masyarakat belum mengetahui bahwa mereka

menderita hipertensi (Aditama, 2007).

Data sosiodemografi tingkat pengukuran ekologi sebagai variabel

independen utama, diperoleh dari Profil Kesehatan Indonesia, Statistik

Indonesia, Statistik Kesehatan, Statistik Kesejahteraan Rakyat, dan Data

Departemen Dalam Negeri, unit pengamatan provinsi. Hasil penelitian ini

menunjukkan prevalensi hipertensi di pulau Jawa 41,9 persen, dengan kisaran di

masing-masing provinsi 36,6 persensampai 47,7 persen. Prevalensi di perkotaan

39,9 persen (37,0 persen-45,8 persen) dan di perdesaan 44,1 persen(36,2 persen-

51,7persen) (Setiawan, 2007). Dalam studi kasusdi Puskesmas Pungging

prosentase penyakit didapatkan data bahwa tiga bulan terakhir terhitung sejak

bulan Januari sampai dengan Mei 2017 terdapat pasien hipertensi merupakan

urutan ke empat diagnosis yang dimana terdapat 828 orang menderita

hipertensi dari jumlah penduduk yang berjumlah 73.990 dan untuk kelurahan

Ngrame jumlahjiwa yang menderita penyakit hipertensi sekitar 108 jiwa

(Puskesmas Pungging, 2013).

Maka perlunya dilakukan suatu pelayanan melalui proses keperawatan

keluarga oleh tenaga kesehatan sekitar daerah setempat melalui proses

keperawatan keluarga dimana tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada

keluarga. Dimana definisi dari Keluarga adalah sekumpulan dua orang atau lebih

yang hidup bersama melalui ikatan perkawinan, dan kedekatan emosi yang
4

masing masing mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga (Ekasari, Mita

Fatma dkk, 2007).

Fungsi keluarga Menurut Friedman, 1998 mengidentifikasi lima fungsi

dasar keluarga, Merupakan pertimbangan vital, dalam pengkajian dimana

keluarga memberikan perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan secara

bersama-sama merawat anggota keluarga yang sakit. Kesanggupan keluarga

melaksanakan perawatan dan pemeliharaaan kesehatan dapat dilihat dari tugas

kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Tugas-tugas kesehatan pada keluarga

menurut (Mubarak,2010) meliputi ; mengenal masalah kesehatan keluarga,

membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberi perawatan pada

anggota keluarga yang sakit, mempertahankan suasana rumah yang sehat, serta

menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat

Upaya yang paling penting dalam penyembuhan hipertensi dengan

mengenal dan melakukan perawatan pada anggota keluarga yang tepat

merupakan tindakan yang tepat untuk menghadapi pasien dengan hipertensi

untuk mencegah komplikasi dan serangan berulang.Pengkajian pada keluarga

Tn. M dengan hipertensi ditemukan data keluarga tidak mampu merawat

anggota keluarga yang sakit ini dikarenakan Ny. S yang telah menderita

hipertensi selama kurang lebih 1,5 tahun yang lalu berulang dan sering kambuh,

maka penulis tertarik untuk melakukan studi kasus dan membuat Karya Tulis

Ilmiah mengenai “Asuhan Keperawatan keluarga Pada Ny. S Dengan Hipertensi

Pada Keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Kelurahan Ngrame

Kecamatan Pungging”.
5

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Melaporkan asuhan keperawatan keluarga pada Ny. S dengan

hipertensi pada keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Kelurahan

Ngrame Kecamatan Pungging.

2. Tujuan Khusus

a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. S dengan hipertensi

pada keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Kelurahan

Ngrame Kecamatan Pungging.

b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. S dengan

hipertensi pada keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006

Kelurahan Ngrame Kecamatan Pungging.

c. Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Ny. S

dengan hipertensi pada keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw

006 Kelurahan Ngrame Kecamatan Pungging.

d. Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. S dengan hipertensi

pada keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Kelurahan

Ngrame Kecamatan Pungging..

e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. S dengan hipertensi pada

keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Kelurahan Ngrame

Kecamatan Pungging..
6

C. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat

memberikan manfaat bagi pendidikan keperawatan, penulis, pelayanan

kesehatan dan pembaca.

1. Bagi Pendidikan Keperawatan

Digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikan dalam

pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan serta sebagai bahan

kepustakaan.

2. Bagi Penulis

Penulis mampu mengaplikasikan dan menambah pengetahuan serta

pengalaman tentang kasus hipertensi di Puskesmas serta di lingkungan

masyarakat dan keluarga.

3. Bagi Pelayanan Kesehatan

Agar dapat mengaplikasikan teori keperawatan ke dalam praktik pelayanan

kesehatan di Puskesmas.

4. Bagi Pembaca

Sebagai sumber informasi bagi pembaca tentang penyakit hipertensi dalam

keluarga.
BAB II

LAPORAN KASUS

Pada bab ini penulis akan membahas tentang resume kasus yang telah

dilakukan dari pengkajian sampai dengan evaluasi pada tanggal 26 Mei 2017

sampai dengan 27 Mei 2017 dengan judul kasus “Asuhan keperawatan keluarga

pada Ny. S dengan hipertensi pada keluarga Tn. M di Desa Ngrame Rt 003 Rw 006

Kelurahan Ngrame Pungging.”

A. Data Umum Keluarga

Pengkajian dilakukan pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 09.00 di rumah

keluarga Tn. M di desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Ngrame Pungging. Nama

Kepala Keluarga Tn. M umur 70 tahun, alamat Ngrame Rt

003 Rw 006 Ngrame Pungging pekerjaan sebagai petani pendidikan terakhir

SD, dengan komposisi keluarga tinggal bersama Ny. S hubungan dengan Tn.

M adalah sebagai istri, berusia 65 tahun bekerja sebagai ibu rumah tangga

dengan pendidikan terakhir SD. Pasien adalah Ny. S seorang perempuan yang

berusia 65 tahun dengan hipertensi.Dimana tipe keluarga Tn. M adalah keluarga

usia lanjut dengan komposisi terdiri kedua anggota keluarga berusia lanjut.

Status sosial ekonomi pada keluarga Tn. M yang bekerja sebagai seorang

petani sedangkan Ny. S sebagai ibu rumah tangga dengan penghasilan rata-rata

Rp. 400.000, 00 yang digunakan untuk keperluan sehari hari.

7
8

Pengkajian yang dilakukan dengan carametode wawancara auto-anamnesa dan

allo-anamnesa, observasi langsung, pemeriksaaan fisik dan pendokumentasian.

B. Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 09.00 di rumah

keluarga Tn. M di desa Ngrame Rt 003 Rw 006 Ngrame Pungging. Keluarga

berada pada tahap perkembangan keluarga lanjut usia dimana keluarga terdiri

dari pasangan suami istri tanpa anak, keluarga menjalankan peran masing-

masing termasuk keluarga yang harmonis dan menerima kenyataan dengan

berpasrah kepada Tuhan dan tidak mempunyai kendala dalam menjalankan

perannya pada tahap perkembangan keluarga Tn. M telah terpenuhi. Dari

riwayat keluarga inti Tn. M tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan dan

riwayat penyakit menular, sedangkan Ny. S kurang lebih sejak satu setengah

tahun yang lalu menderita penyakit hipertensi yang kejadiannya berulang dan

sering kambuh. Apabila penyakit pasien kambuh, pasien berobat di pelayanan

kesehatan yang ada di desa setempat.

Fungsi keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, pasien mengatakan

tidak mengetahui cara merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi, cara

perawatannya. Selama ± 1,5 tahun pasien sering kambuh dengan sakit

hipertensinya. Berdasarkan hasil pengkajian di atas didapatkan hasil

pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien di dapatkan

hasil 180/100 mmHg, nadi 96 kali per menit sedangkan untuk pernafasan 20 kali

per menit. Rambut lurus, beruban dan tidak terdapat ketombe. Konjungtiva tidak
9

anemis, sklera tidak ikterik, hidung simetris tidak terdapat secret, telinga simetris

dan terdapat sedikit serumen. Mulut klien terlihat mukosa bibir lembab, gigi

agak kotor. Pada leher tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid dan

dirasakan nyeri tengkuk skala 5. Provocate Pasien mengeluh pusing karena

tekanan darah 180/100mmHg, Quality cekot cekot, Region nyeri tekuk pada

leher bagian belakang, Severe dengan skala nyeri 5, Time dirasakan secara tiba-

tiba dan hilang timbul. Terapi yang diberikan pada pasien adalah captopril

3x25mg, kalk 3x250mg, diazepam 1x2mg dan piroxicam 3x10mg.

C. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian pada tanggal 26 Mei 2017 data yang ditemukan

adalah sebagai berikut : Data subyektif : pasien mengatakan nyeri tekuk dibagian

leher, pusing terasa cekot-cekot, dirasakan secara tiba tiba dengan skala nyeri 5.

Penyakit yang dirasakan sejak satu setengah tahun yang lalu sering kambuh dan

berulang. Pasien mengatakan tidak tahu bagaimana caranya pencegahan

penyakit hipertensi agar tidak kambuh tetapi keluarga sudah mengetahui apa itu

hipertensi.

Data obyektif : tekanan darah 180/100 mmHg. Tidak mengetahui

pencegahan dan cara merawat anggota keluarga yang sakit seperti pencegahan

saat sakitnya kambuh, merawat agar penyakit hipertensi tidak berulang tetapi

keluarga sudah mengetahui apa itu hipertensi. Berdasarkan data penulis dapat

mengangkat masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Berdasarkan


10

scoring prioritas utama pada diagonosa ketidakmampuan keluarga merawat

anggota keluarga yang sakit dengan total scoring 3 2/3.

D. Perencanaan

Rencana keperawatan pada asuhan keperawatan keluarga Tn. M yang

dilakukan hari Jumat, tanggal 26 Mei 2017 dengan tujuan umum setelah

dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari diharapkan Ny. S mampu

mengatasi masalah nyeri dengan kriteria hasil nyeri berkurang dengan rentang

skala nyeri 0-2, mampu mengontrol nyeri dengan tekhnik relaksasi, tanda tanda

vital dalam rentan normal tekanan darah sistolik 120 dan diastolic 80 mmHg.

Pada tujuan khusus pada kasus ini yaitu setelah dilakukan tindakan

keperawatan selama 2x45 menit keluarga mampu merawat anggota keluarga

yang sakit hipertensi pada pasien dan mampu melakukan tindakan keperawatan

yang tepat untuk mengatasi dan mencegah kekambuhan. Berdasarkan tujuan

tersebut, penulis membuat rencana keperawatan yang dilakukan pada tanggal 26

Mei 2017 pukul 11.00 WIB pada pasien yaitu kaji keadaan umum dan kaji

karakteristik nyeri pada pasien dengan rasional mengetahui keadaan umum dan

karakteristik nyeri pada pasien. Jelaskan tentang penyakit hipertensi meliputi

pengetian, tanda gejala, dan pencegahan hipertensi, jelaskan kepada klien

mengenai hal-hal yang dapat dicegah atau dilakukan saat penyakit klien kambuh

rasionalnya pasien dan keluarga dapat memberikan tindakan yang tepat pada

pasien. Anjurkan kepada klien untuk menghindari atau mengurangi makan-

makanan yang harus dicegah seperti makanan asin, daging merah, makanan
11

yang diawetkan, makanan instan dan minuman yang beralkohol dengan rasional

keikutsertaan keluarga secara optimal membantu mempertahankan kesehatan,

Ajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam yang bertujuan untuk mengurangi rasa

nyeri. Anjurkan minum obat captopril 3x25mg, kalk 3x250mg, diazepam 1x2mg

dan piroxicam 3x10mg secara teratur dan mengkonsumsi obat tradisional seperti

belimbing, mentimun, yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah

E. Implementasi

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada hari Jumat, tanggal 26 Mei

2017 pukul 11.00 WIB. Pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. Dengan

mengkaji keadaan umum dan mengkaji karakteristik klien dengan respon klien

mengatakan pusing cekot-cekot, nyeri tekuk pada leher bagian belakang dengan

skala nyeri 5 dirasakan secara tiba-tiba. Kemudian menjelaskan tentang penyakit

hipertensi meliputipenyakit hipertensi tanda gejala dan pencegahan atau

kekambuhan hipertensi dengan menghindari makanan dan minuman yang dapat

meningkatkan tekanan darah, seperti daging merah, makanan yang diawetkan,

makanan instan dan minuman yang beralkohol. Dengan respon pasien paham

dengan pencegahan komplikasi dengan cara menghindari ataupun mengurangi

mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Menganjurkan untuk minum obat yang telah diberikan sesuai dengan indikasi

yang telah diberikan : captopril 3x25mg, kalk 3x250mg, diazepam 1x2mg dan

piroxicam 3x10mg dengan respon Ny. S mengatakan rasa nyeri masih ada dan
12

tampak terlihat lebih nyaman setelah mengkonsumsi obat. Mengajarkan tekhnik

relaksasi dan nafas dalam yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dengan respon

klien mengatakan nyeri berkurang pasien tampak rileks dan nyeri berkurang

setelah diajarkan teknik nafas dalam.

Tindakan keperawatan pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2017 pukul 16.10

WIB. Mengkaji kembali keadaan umum dan karakteristik nyeri pada pasien

mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri 3 tampak rileks dan nyaman

tekanan darah 150/100 mmHgskala nyeri berkurang menjadi 3. Menganjurkan

untuk mengkonsumsi obat yang telah diberikan dan obat-obatan tradisional

seperti belimbing atau mentimun dalam waktu yang tidak bersamaan dengan

tujuan untuk menurunkan tekanan darah, dengan respon subyektif pasien

mengatakan nyeri berkurang dan respon obyektif pasien nampak nyaman setelah

mengkonsumsi obat serta keluarga Tn. M bersedia mengikuti anjuran yang

disarankan mengkonsumsi obat tradisional seperti belimbing, mentimun.

Menganjurkan tekhnik relaksasi nafas dalam dengan tujuan untuk mengurangi

nyeri pada pasien dengan respon subyektif pasien mampu mengungkapkan

secara verbal nyeri berkurang menjadi 3 dan respon obyektif pasien tampak

rileks setelah dilakukan tekhnik relaksasi .

F. Evaluasi

Berdasarkan tindakan keperawatan yang dilakukan kepada pasien, penulis

melakukan evaluasi tindakan. Pada diagnosa keperawatan nyeri akut

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang


13

sakit dengan evaluasi pada hari Jumat tanggal 26 Mei 2017 pukul 11.45 WIB.

Subyektif: pasien mengatakan mengeluh pusing cekot-cekot , nyeri tekuk pada

leher belakang dengan skala nyeri 5 dirasakan secara tiba-tiba. Obyektif : pasien

mampu mempertahankan nyeri dan mampu mengungkapkan nyeri dalam respon

verbal serta pasien memperhatikan penjelasan tentang cara perawatan hipertensi

dan pencegahan hipertensi. Mengikuti tekhnik relaksasi nafas dalam. Analisis

masalah belum teratasi skala nyeri masih 5. Planning pada evaluasi anjurkan

untuk menjaga kesehatan untuk memeriksakan kesehatannya di layanan

kesehatan. Anjurkan mengkonsumsi obat tradisional dan mengurangi makanan

yang asin dan daging merah, makanan yang diawetkan, makanan instan dan

minuman yang beralkohol yang diawetkan yang bisa memacu meningkatkan

tekanan darah.

Evaluasi pada hari terakhir, Sabtu tanggal 27 Mei 2017 pukul 16.05 WIB.

Pada diagnose keperawatan nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga merawat anggota keluarga yang sakit dengan evaluasi pada hari Sabtu

tanggal 27 Mei 2017 pukul 16.45 WIB. Subyektif: pasien mengatakan pusing

sudah berkurang, skala nyeri berkurang 3. Obyektif: Keluarga mampu

mempertahankan nyeri dan mampu mengungkapkan nyeri dalam respon verbal.

Analisis Masalah belum teratasi skala nyeri berkurang menjadi 3 tidak mencapai

criteria hasil yaitu 0 sampai 2. Planning pada evaluasi hari terakhir adalah

intervensi dilanjutkan kepada keluarga Tn. M. Anjurkan untuk menjaga

kesehatan untuk memeriksakan kesehatannya di layanan kesehatan. Anjurkan

mengkonsumsi obat tradisional dan mengurangi makanan yang asin dan daging
14

merah, makanan yang diawetkan, makanan instan dan minuman yang beralkohol

yang bisa memacu meningkatkan tekanan darah.


BAB III

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

A. Pembahasan

Pada bab ini penulis membahas tentang proses telaah antara data

pendukung yang terjadi antara teori dengan kenyataan yang ada pada kasus

nyata yang dilakukan pada tanggal 26 Mei 2017 sampai 27 Mei 2017 meliputi

pengkajian, diagnose keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.

Prinsip dari pembahasan ini dengan memfokuskan pada pengkajian keluarga

dengan masalah utama hipertensi. Proses keperawatan adalah metode dimana

suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan.

1. Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang

bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar

dapat mengidentifikasi atau mengenali masalah-masalah yang dialami klien,

kebutuhan kesehatan dan perawatan klien baik fisik, mental, social dan

lingkungan (Effendi, 1995 dalam Hutahaean, 2010).

Penulis melakukan pengkajian pada pasien berdasarkan 32 item data

menurut Friedman (1998), dan diaplikasikan dalam proses pengkajian

melalui proses wawancara dengan keluarga, observasi dan pemeriksaan

fisik.

15
16

Riwayat pengkajian hipertensi menurut Brashers (2008), pengkajian

pasien berdasarkan riwayat keluarga, riwayat keturunan darah tinggi di masa

kanak-kanak, factor resiko jantung lainnya, seperti diabetes atau

dislipidemia, riwayat stroke, merokok, penyalahgunaan alcohol, asupan

nutrisi garam, perubahan berat badan, terkini atau obesitas, penggunaan

obat-obatan, jamu herbal, atau obat-obatan terlarang. Gejala biasanya tak

bergejala pada stadium awal, bila tekanan darah meningkat secara akut,

pasien dapat mengalami epitaksis, sakit kepala, penglihatan kabur, tinnitus,

pusing, deficit neurologis transien, atau angina, bila perkembangan gejala

lebih lambat, pasien dapat datang dengan gejala yang berhubungan dengan

kerusakan organ akhir, seperti gagal jantung kongesif, stroke, gagal ginjal,

atau retinopati. Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya

rangsangan.

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan

bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri berada pada setiap orang

dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat

menjelaskan atau mengevaluasi nyeri yang dialaminya. Klasifikasi nyeri

secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri kronik dan akut. Nyeri akut

merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat hilang, yang tidak

melebihi 6 bulan dan ditandai adanya peningkatan tegangan otot.

Karakteristik nyeri dengan metode P, Q, R, S, T dimana P (Provocate)

adalah factor pencetus dan Kualitas atau Quality merupakan sesuatu yang

obyektif yang diungkapkan oleh klien, sering kali klien mendeskripsikan


17

nyeri dengan kalimat-kalimat : tajam, tumpul, tertindih, perih dan lain-lain.

Lokasi (region) untuk mengkaji lokasi nyeri maka perawat meminta klien

untuk menunjukkan bagian daerah yang dirasakan tidak nyaman oleh klien.

Keparahan atau severe (S) tingkat keparahan pasien tentang nyeri

merupakan karakteristik yang paling subyektif. Pada pengkajian tentang

nyeri ini klien diminta untuk menggambarkan nyeri yang ia rasakan sebagai

nyeri ringan, sedang atau berat. Skala intensitas nyeri numerik antara 1-10.

Time atau durasi perawat menanyakan pada pasien untuk menentukan

awitan, durasi dan rangkaian nyeri (Prasetyo, 2010). Stimulus nyeri

seseorang dapat menoleransi nyeri, menahan nyeri atau dapat mengenali

jumlah stimulasi nyeri sebelum merasakan nyeri. Evaluasi terhadap masalah

nyeri dilakukan dengan menilai kemampuan dalam merespon rangsangan

nyeri, di antaranya hilangnya perasaan nyeri, menurunnya intensitas nyeri,

adanya respons fisiologis yang baik, dan pasien mampu melakukan aktivitas

tanpa keluhan nyeri (Hidayat, 2012).

Pada respon fisiologis yaitu pada saat impuls nyeri naik ke medulla

spinalis menuju ke batang otak dan thalamus, system saraf otonom menjadi

terstimulasi sebagai bagian dari respon stress. Stimulasi pada cabang

simpatis pada saraf otonom menghasilkan respon fisiologis. Apabila nyeri

berlangsung terus menerus, berat, dalam dan melibatkan organ-organ

visceral maka system saraf simpatis menghasilkan suatu aksi. Respon

fisiologis yang timbul akibat nyeri antara lain adalah respon simpatik

meliputi vasokonstriksi perifer (peningkatan tekanan darah), Peningkatan


18

frekuensi nafas, peningkatan tegangan otot dll (Prasetyo,2010). Pelaksanaan

atau tindakan keperawatan adalah mengurangi factor yang dapat menambah

nyeri, misalnya ketidakpercayaan, kesalahfahaman, ketakutan, kelelahan.

Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan teknik-teknik seperti,

teknik pengalihan dan teknik relaksasi dengan menganjurkan pasien untuk

menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara,

menghembuskannya secara perlahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki,

perut dan punggung, serta mengulangi hal yang sama sambil terus

berkonsentrasi hingga dapat rasa nyaman, tenang dan rileks (Hidayat,2012).

Dari hasil pengkajian pada keluarga Tn. M terutama pada pasien

ditemukan data pada pasien yang menderita hipertensi yang di karenakan

nyeri tengkuk di bagian leher, pusing terasa cekot-cekot, dirasakan secara

tiba tiba dengan skala nyeri 5 itu sudah sejak lama. Pasien menderita

hipertensi sejak satu setengah tahun yang lalu. Tanda gejala dari hipertensi

menurut penyebabnya ada 2 jenis yaitu hipertensi primer esensial yaitu

keturunan, umur, psikis dan hipertensi sekunder meliputi penyakit ginjal,

tumor dalam rongga kepala, penyakit syaraf, toxemia gravidarum (Murwani,

2011). Serta faktor yang menunjang obesitas, emosional, umur semakin tua

makin bertambah desakan (50-60). Patofisiologi dari hipertensi adalah

tekanan darah akan sangat mempengaruhi terhadap tingginya desakan darah.

Tekanan ini terjadi pada pembuluh darah perifer. Tahanan terbesar dialami

oleh arteriole sehingga perbedaan desakan besar bila arteriole menyempit

akan menaikkan desakan darah. Stadium pertama hipertensi sensil adalah


19

kenaikan tonus dari arteriole. Simtomalogi hipertensi adalah nadi teratur

kadang tidak teratur, keluhan umum yaitu perasaan capai, mudah

tersinggung, insomnia, pusing, sakit kepala dan di belakang kepala/

tengkuk, palpitasi, dispnea, kadang kaki bengkak gravidarum (Murwani,

2011). Tanda gejala pasien dan pemeriksaan fisik muncul sesuai yang ada

pada teori yang dikemukakan oleh Murwani, (2011).

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai

tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan. Tugas

keluarga tersebut adalah antara lain masalah fungsi keluarga menurut

Friedman (1998), mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, merupakan

pertimbangan vital, dalam pengkajian dimana keluarga memberikan

perawatan kesehatan yang bersifat preventif dan secara bersama-sama

merawat anggota keluarga yang sakit. Kesanggupan keluarga melaksanakan

perawatan dan pemeliharaaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan

keluarga yang dilaksanakan. Tugas kesehatan keluarga menurut Effendy,

(2009) adalah memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit ketika

memberikan perawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, keluarga

harus mengetahui hal-hal sebagai berikut : keadaan penyakitnya (sifat,

penyebaran, komplikasi, prognosis, dan perawatannya). Sifat dan

perkembangan yang dibutuhkan ,keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk

perawatan. Sumber-sumber yang ada pada keluarga (anggota keluarga yang

bertanggung jawab, sumber keuangan atau financial, fasilitas fisik,

psikososial dan sikap keluarga terhadap yang sakit. , untuk mengetahui


20

sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,

yang perlu dikaji sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakit (sifat,

penyebaran, komplikasi, prognosa dan cara perawatannya) (Setyowati,

2008). Pada keluarga pasien masalah yang ada pada keluarga bisa berulang

di sebabkan oleh ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang

sakit, ini dibuktikan karena dalam keluarga pasien penyakit hipertensi ini

berulang kejadiannya selama kurang lebih sejak satu setengah tahun yang

lalu menderita penyakit hipertensi yang kejadiannya berulang dan sering

kambuh serta kemampuan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan

keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, yang perlu dikaji

sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakit, sifat, penyebaran,

komplikasi, prognosa dan cara perawatannya belum terpenuhi (Setyowati,

2008). Pasien tidak mengetahui cara merawat anggota keluarga yang sakit

hipertensi, cara pencegahan dan cara perawatannya. Berulangnya penyakit

hipertensi pada pasien ini bisa disebabkan oleh faktor yang dikarenakan

keluarga kurang mengenal masalah kesehatan keluarga,memberi perawatan

pada anggota keluarga yang sakit. Pada pengkajian fungsi kesehatan

keluarga keluarga terutama dalam merawat keluraga yang sakit, keluarga

dapat mengambil tindakan keperawatan yang tepat tetapi memiliki

keterbatasan. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang

sakit di karenakan tidak mengetahui cara perawatan pada penyakitnya, jika

demikian anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu

memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan.


21

Penulis melakukan pengkajian pada Keluarga Tn. M terutama pada

pasien ditemukan data dari hasil pengkajian yang dilakukan pada tanggal 26

Mei 2017 pukul 09.00 di rumah keluarga Tn. M di desa Ngrame Rt 003

Rw 006 Ngrame Pungging. Pada pasien yang menderita hipertensi yang di

karenakan tekanan darah meningkat 180 per 100 mmHg dan nyeri tekuk di

bagian leher, pusing terasa cekot-cekot, dirasakan secara tiba tiba dengan

skala nyeri 5 itu sudah sejak lama. Pasien menderita hipertensi sejak satu

setengah tahun yang lalu. Dari riwayat keluarga inti Tn. M tidak

mempunyai riwayat penyakit keturunan dan riwayat penyakit menular,

sedangkan pasien kurang lebih sejak satu setengah tahun yang lalu

menderita penyakit hipertensi yang kejadiannya sering kambuh.

Penyakitnya kambuh pasien berobat di pelayanan kesehatan yang ada di

desa setempat. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien adalah captopril

3x25mg, kalk 3x250mg, diazepam 1x2mg, dan piroxicam 3x10mg.

Didapatkan hasil pengkajian pemeriksaan fisik yang dilakukan pada

pasien di dapatkan hasil 180 per 100mmHg, nadi 96 kali per menit

sedangkan untuk pernafasan 20 kali per menit. Pada leher tidak mengalami

pembesaran kelenjar tiroid dan dirasakan nyeri tengkuk skala 5. Pasien

mengeluh pusing cekot-cekot, nyeri tengkuk pada leher bagian belakang,

dirasakan secara tiba-tiba dengan skala nyeri 5.

Dari etiologi masalah yang ada pada keluarga pasien masalah yang

ada pada keluarga bisa berulang di sebabkan oleh ketidakmampuan keluarga

merawat anggota keluarga yang sakit, ini dibuktikan karena dalam keluarga
22

pasien penyakit hipertensi ini berulang kejadiannya selama kurang lebih

sejak satu setengah tahun yang lalu menderita penyakit hipertensi yang

kejadiannya berulang dan sering kambuh dengan nyeri tekuk pada leher.

pasien tidak mengetahui cara merawat anggota keluarga yang sakit

hipertensi, cara pencegahan dan cara perawatannya pada saat penyakitnya

kambuh. Berulangnya penyakit hipertensi pada pasien bisa disebabkan oleh

faktor yang dikarenakan keluarga kurang mengenal masalah kesehatan

keluarga, memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit seperti

sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,

sejauhmana keluarga mengetahui keadaan penyakit, sifat, penyebaran,

komplikasi, prognosa dan cara perawatannya belum terpenuhi .

Pada kasus ini penulis membandingkan dengan teori bahwa dalam

keluarga Tn. M ini di dapatkan masalah keluarga yang kurang adekuat

sehingga masalah utama hipertensi bisa berulang, karena dari data

pengkajian klien menderita hipertensi selama kurang lebih satu setengah

tahun dan kejadian ini. Dimana keluarga belum tahu bagaimana cara

pencegahan dan perawatan dari penyakit hipertensi ini.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang,

keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses

kehidupan yang actual atau potensial. Diagnosa keperawatan merupakan

dasar dalam penyusunan rencana tindakan asuhan keperawatan (Hutahaean,


23

2010). Ada dua tipe data dalam tahap pengkajian keperawatan, yaitu : data

subyektif dan data obyektif. Data subyektif merupakan data yang didapatkan

dari pasien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.

Sedangkan data obyektif merupakan data yang didapatkan dari hasil

observasi perawat dan sifatnya dapat diukur (Hutahaean, 2010).

Data yang diperoleh pada pengkajian tanggal 26 Mei 2017 di

dapatkan data focus yang mengangkat kesehatan pasien adalah : pasien

mengatakan sudah menderita penyakit hipertensi sudah lebih kurang satu

setengah tahun yang lalu, pasien merasakan pusing cekot-cekot, nyeri tekuk

pada lehernya dirasakan secara tiba-tiba terasa nyeri skala 5. Serta tidak

mengetahui cara merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi, penyakit

hipertensi ini juga sering kambuh. Masalah ketidakmampuan keluarga

merawat anggota keluarga yang sakit merupakan faktor yang terdapat pada

keluarga Tn. M oleh karenanya penyakit pasien sering kambuh, dimana

keluarga tidak mengetahui cara perawatan dan pencegahannya, untuk

mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga

yang sakit, yang erlu dikaji sejauhmana keluarga mengetahui keadaan

penyakit (sifat, penyebaran, komplikasi, prognosa dan cara perawatannya)

(Setyowati, 2008). Berdasarkan data di atas penulis dapat menegakkan

masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.


24

3. Rencana keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah bagian dari tahap proses

keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, penetapan kriteria hasil,

penetapan rencana tindakan yang akan diberikan kepada klien (Hutahaean,

2010). Untuk memecahkan masalah yang dialami klien serta rasional dari

masing-masing rencana tindakan yang akan diberikan. Pedoman

penyusunan kriteria hasil harus ditujukan kepada keadaan klien. Penulisan

kriteria hasil harus menunjukkan hal yang akan dilakukan klien, kapan klien

akan melakukannya, dan sejauh mana hal itu dapat dilakukan. Pedoman

kriteria hasil berdasarkan SMART yaitu Spesific, Measurable, Achievable,

Reasonable, dan Time (Nursalam, 2011). Perencanaan keperawatan

keluarga terdiri dari penetapan tujuan, yang mencakup tujuan umum (untuk

mengatasi problem/masalah pada individu yang sakit) dan tujuan khusus

(pemecahan masalah dengan mengacu pada 5 tugas keluarga dalam hal

kesehatan/keperawatan) serta dilengkapi dengan kriteria dan standar.

Kriteria dan standar merupakan pernyataan spesifik tentang hasil yang

diharapkan dari setiap tindakan keperawatan berdasarkan tujuan khusus

yang ditetapkan (Muhlisin, 2012).

Berdasarkan rencana keperawatan yang dilakukan pada tanggal 26

Mei 2017 pukul 11.00 WIB pada pasien yaitu dengan criteria hasil mampu

mengontrol nyeri dengan teknik relaksasi nafas dalam dengan rasional

memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan teknik-teknik seperti,

teknik pengalihan dan teknik relaksasi dengan menganjurkan pasien untuk


25

menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara,

menghembuskannya secara perlahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki,

perut dan punggung, serta mengulangi hal yang sama sambil terus

berkonsentrasi hingga dapat rasa nyaman, tenang dan rileks (Hidayat,2012),

melaporkan nyeri berkurang,dengan manage nyeri (0-2), tanda-tanda vital

dalam batas normal. Yang dilakukan kaji keadaan umum dan kaji

karakteristik nyeri pada pasien. Jelaskan tentang penyakit hipertensi

meliputi pengetian, tanda gejala,dan pencegahan hipertensi, jelaskan kepada

klien mengenai hal-hal yang dapat dicegah atau dilakukan saat penyakit

klien kambuh. Anjurkan kepada klien untuk menghindari atau mengurangi

makan-makanan yang harus dicegah seperti makanan asin, daging merah,

makanan yang diawetkan, makanan instan dan minuman yang beralkohol,

Ajarkan tekhnik relaksasi nafas dalam yang bertujuan untuk mengurangi

rasa nyeri dengan memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan

teknik-teknik seperti, teknik pengalihan dan teknik relaksasi dengan

menganjurkan pasien untuk menarik nafas dalam dan mengisi paru-paru

dengan udara, menghembuskannya secara perlahan, melemaskan otot-otot

tangan, kaki, perut dan punggung, serta mengulangi hal yang sama sambil

terus berkonsentrasi hingga dapat rasa nyaman, tenang dan rileks

(Hidayat,2012). Anjurkan minum obat captopril 3x25mg, kalk 3x250mg,

diazepam 1x2mg dan piroxicam 3x10mg secara teratur dan mengkonsumsi

obat tradisional seperti belimbing, mentimun, yang bermanfaat untuk

menurunkan tekanan darah.


26

4. Tahap implementasi/ Tindakan keperawatan

Pada tahap tindakan keperawatan ini, tugas perawat adalah membantu

pasien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tahap ini dimulai

setelah rencana tindakan disusun. Perawat mengimplementasi tindakan yang

telah diidentifikasikan dalam rencana asuhan keperawatan (Hutahaean,

2010). Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis pada hari Jumat,

tanggal 26 Mei 2017 pukul 11.00 WIB. Pada diagnosa nyeri akut

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga

yang sakit. Dengan mengkaji keadaan umum dan mengkaji karakteristik

klien dengan respon klien mengatakan pusing cekot-cekot, nyeri tekuk pada

leher bagian belakang dengan skala nyeri 5 dirasakan secara tiba-tiba.

Kemudian menjelaskan tentang penyakit hipertensi meliputi penyakit

hipertensi tanda gejala dan pencegahan atau kekambuhan hipertensi dengan

menghindari makanan dan minuman yang dapat meningkatkan tekanan

darah, seperti daging merah, makanan yang diawetkan, makanan instan dan

minuman yang beralkohol. Dengan respon pasien paham dengan

pencegahan komplikasi dengan cara menghindari ataupun mengurangi

mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat meningkatkan tekanan

darah. Menganjurkan untuk minum obat yang telah diberikan sesuai dengan

indikasi yang telah diberikan : captopril 3x25mg, kalk 3x250mg, diazepam

1x2mg dan piroxicam 3x10mg. Mengajarkan tekhnik relaksasi dan nafas

dalam yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dengan respon klien


27

mengatakan nyeri berkurang pasien tampak rileks dan nyeri berkurang

setelah diajarkan teknik nafas dalam.

Tindakan keperawatan pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2017 pukul

16.10 WIB. Mengkaji kembali keadaan umum dan karakteristik nyeri pada

pasien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri 3 tampak rileks dan

nyaman tekanan darah 150 per 100 mmHg skala nyeri berkurang menjadi 3.

Menganjurkan untuk mengkonsumsi obat yang telah diberikan dan obat-

obatan tradisional seperti belimbing atau mentimun dengan tujuan untuk

menurunkan tekanan darah. Obat tradisional seperti belimbing, mentimun.

Menganjurkan teknik relaksasi nafas dalam dengan tujuan untuk

mengurangi nyeri pada pasien.

5. Evaluasi

Tahap evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses

keperawatan dan merupakan tindakan intelektual untuk melengkapi proses

keperawatan yang menandakan seberapajauh diagnose keperawatan,

rencana tindakan dan pelaksanaan dicapai (Hutahaean, 2010). Evaluasi

disusun dengan menggunakan SOAP secara operasional. S adalah Subyektif

hal-hal yang dikemukakan oleh keluarga secara subyektif setelah dilakukan

intervensi keperawatan. Obyektif adalah hal-hal yang ditemui oleh perawat

secara obyektif setelah dilakukan intervensi keperawatan. A merupakan

analisis dari hasil yang telah dicapai dengan mengacu kepada tujuan terkait

dengan diagnosa keperawatan. P atau Planning perencanaan yang akan


28

datang setelah melihat respon dari keluarga pada tahap evaluasi. Tahapan

evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif

dilakukan selama proses asuhan keperawtan, sedangkan evaluasi sumatif

adalah evaluasi akhir (Muhlisin, 2012). Pada hari terakhir, Sabtu tanggal 27

Mei 2017 pukul 16.05 WIB. Pada diagnose keperawatan nyeri akut

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga

yang sakit dengan evaluasi pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2017 pukul

16.45 WIB. Subyektif : Pasien mengatakan pusing sudah berkurang, skala

nyeri berkurang 3. Obyektif : Keluarga mampu mempertahankan nyeri dan

mampu mengungkapkan nyeri dalam respon verbal. Analisis Masalah belum

teratasi skala nyeri berkurang menjadi 3 tidak mencapai criteria hasil yaitu 0

sampai 2. Planning pada evaluasi hari terakhir adalah intervensi dilanjutkan

kepada keluarga Tn. M. Anjurkan untuk menjaga kesehatan untuk

memeriksakan kesehatannya di layanan kesehatan. Anjurkan mengkonsumsi

obat tradisional dan mengurangi makanan yang asin dan daging merah,

makanan yang diawetkan, makanan instan dan minuman yang beralkohol

yang bisa memacu meningkatkan tekanan darah.

Dalam pengelolaan pasien dengan hipertensi penulis hanya melakukan

2 hari pengelolaan, dikarenakan pada hari ke dua proses pengambilan kasus

di lahan praktek penulis baru mendapatkan pasien kelolaan. Selain itu

keterbatasan waktu yang di targetkan dari institusi membuat penulis hanya

melakukan asuhan keperawatan keluarga pasien selama 2 hari. Hal tersebut

merupakan hambatan penulis dalam memberikan asuhan keperawatan


29

keluarga pada pasien secara maksimal. Walaupun demikian, penulis

berusaha semaksimal mungkin dalam memberikan asuhan keperawatan

keluarga pada pasien dan walaupun pada akhirnya masalah keperawatan

hipertensi belum teratasi namun keluarga mampu menerima tindakan

keperawatan yang dilakukan oleh penulis dan mau mengaplikasikan

kedalam keseharian guna untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi

berlanjut terhadap hipertensi.

B. Kesimpulan Dan Saran

1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari studi kasus ini, antara lain :

a. Pengkajian terhadap masalah nyeri akut pada pasien telah dilakukan

secara komprehensif dan diperoleh hasil, yaitu terdapat keluhan utama

pusing cekot-cekot, nyeri tekuk pada leher dengan skala 5, nyeri

hilang-timbul dirasakan secara tiba tiba.

b. Diagnosa yang muncul pada kasus pasien adalah nyeri akut

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota

keluarga yang sakit.

c. Rencana keperawatan yang disusun, yaitu kaji karakteristik nyeri klien,

pantau tanda-tanda vital, ajarkan tekhnik relaksasi dan nafas dalam

untuk mengurangi nyeri. Anjurkan minum obat yang telah diberikan

Captopril 3x25mg, Kalk 3x250mg, dan Diazepam 1x2mg dan


30

piroxicam 3x10mg mengkonsumsi obat tradisional seperti Mentimun

ataupun Belimbing.

d. Tindakan keperawatan yang dilakukan merupakan implementasi dari

rencana keperawatan yang telah disusun, yaitu mengkaji karakteristik

nyeri klien, memantau tanda-tanda vital, mengajarkan dan membantu

klien melakukan teknik relaksasi nafas dalam.

e. Evaluasi terhadap keberhasilan tindakan telah dilakukan per hari

dengan hasil evaluasi akhir, yaitu secara subjektif : pasien mengatakan

mengeluh pusing cekot-cekot , nyeri tekuk pada leher belakang dengan

skala nyeri 3 dirasakan secara tiba-tiba. Obyektif : pasien

memperhatikan penjelasan tentang cara perawatan hipertensi dan

pencegahan hipertensi. Mengikuti tekhnik relaksasi nafas dalam.

Analisis masalah belum teratasi skala nyeri masih 3 Analisa terhadap

kondisi nyeri pasien, yaitu nyeri yang dialami pasien merupakan nyeri

kepala ringan dengan skala nyeri 3. Planning pada evaluasi Anjurkan

untuk menjaga kesehatan untuk memeriksakan kesehatannya di layanan

kesehatan. Anjurkan mengkonsumsi obat tradisional dan mengurangi

makanan yang asin dan daging merah, makanan yang diawetkan,

makanan instan dan minuman yang beralkohol yang diawetkan yang

bisa memacu meningkatkan tekanan darah.


31

2. Saran

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan keluarga pada pasien

dengan observasi hipertensi, penulis ingin memberikan masukan yang

positif dalam pengelolaan pasien meliputi :

a. Bagi instansi pelayanan kesehatan (Puskesmas)

Hendaknya puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan yang

baik serta mampu menyediakan fasilitas atau sarana dan prasarana yang

memadai yang dapat membantu kesembuhan pasien, sehingga dapat

meningkatkan mutu pelayanan yang optimal pada umumnya anggota

keluarga dan pada pasien dengan hipertensi khususnya.

b. Bagi profesi perawat

Perawat memiliki tanggung jawab dan keterampilan yang baik dalam

memberikan asuhan keperawatan serta mampu menjalin kerja sama

dengan tim kesehatan lain maupun keluarga pasien, sebab peran

perawat, tim kesehatan lain, dan keluarga sangatlah besar dalam

membantu kesembuhan pasien.

c. Bagi institusi pendidikan

Institusi mampu meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang lebih

berkualitas sehingga dapat menghasilkan perawat yang profesional,

terampil, inovatif dan bermutu dalam memberikan asuhan keperawatan

secara komprehensif berdasarkan ilmu dan kode etik keperawatan.


DAFTAR PUSTAKA

Aditama, Tjandra Yoga. 2007. Beberapa Masalah Hipertensi Di Indonesia.


2013/05/20.25WIB

Asmadi, 2008.Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC

Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan &


Managemen. Jakarta : EGC

Effendy, Ferry. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik


dalam keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Ekasari, Mita Fatma dkk, 2007. Panduan Pengalaman Belajar Lapangan. Jakarta
: EGC

Hidayat, 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Hutahaean, Serri. 2010. Konsep Dan Dokumentasi Proses Keperawatan. Jakarta :


TIM

Mubarok, Wahid Iqbal, Dkk. 2010. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan
Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika

Muhlisin, Abi. 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Gosyen Publishing

Murwani, Arita. 2011. Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Yogyakarta : Gosyen


Publishing

Nursalam, 2011. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta : Salemba


Medika

Prasetyo, Sigit Nian. 2010. Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta :
Graha Ilmu

Purwanto, Bambang. 2012. Hipertensi (Patogenesis, Kerusakan TargetOrgan dan


Penatalaksanaan). Surakarta : UNS Press

Puskesmas Pungging, 2013.

Setyowati, Sri. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Mitra


Cendikia