Vous êtes sur la page 1sur 49

BAB 1

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap individu mempunyai potensi untuk terlibat dalam hubungan social
pada berbagai tingkat hubungan yaitu dari hubungan intim biasa sampai hubungan
saling ketergantungan.Keintiman dan saling ketergantungan dalam menghadapi dan
mengatasi berbagai kebutuhan setiap hari.Individu tidak akan mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan social. Oleh karena
itu individu perlu membina hubungan interpersonal yang memuaskan.
Kepuasan hubungan dapat dicapai jika individu terlibat secara aktif dalam
proses berhubungan.Peran serta yang tinggi dalam berhubungan disertai respon
lingkungan yang positif akan meningkatkan rasa memiliki, kerja sama, hubungan
timbal balik yang sinkron (Stuart and Sundeen 1996, Peran serta dalam proses
hubungan dapat berfluktuasi sepanjang rentang tergantung (dependent) dan mandiri
(Independent) artinya suatu saat individu tergantung pada orang lain dan suatu saat
orang lain tergantung pada individu.
Pemutusan proses hubungan terkait erat dengan ketidakmampuan individu
terhadap proses hubungan yang disebabkan oleh kurangnya peran serta, respon
lingkungan yang negatif. Kondisi ini dapat mengembangkan rasa tidak percaya dan
keinginan untuk menghindar dari orang lain (tidak percaya pada orang lain).

2. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari isolasi sosial ?
2. Bagaimana proses terjadinya isolasi sosial ?
3. Bagaimana proses keperawatan isolasi sosial?
3. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari isolasi sosial.
2. Untuk mengetahui proses terjadinya isolasi sosial.
3. Untuk mengetahui proses keperawatan isolasi sosial.

1
BAB 2
TINJAUAN TEORI
1.Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.pasien mungkin
merasa di tolak,tidak di terima kesepian,dan tidak mampu membina hubungan yang berarti
dengan orang lain (kelliat,2006) . gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme
individu terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindar interaksi dengan
orang lain dan lingkungan.
Isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian seorang individu yang diterima sebagai
perlakuan dari orang lain serta sebagai kondisi yang diterima sebagai kondisi yang negatif atau
mengancam.isolasi sosial adalah individu yang mengalami ketidak mampuan untuk mengadakan
hubungan dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya secara wajar dalam khalayaknya
sendiri yang tidak realistis.menarik diri merupakan reaksi yang ditampilkan individu yang dapat
berupa reaksi fisik maupun psikologis (Rasmun 2001)
Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang
lain,menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain.penarikan
diri atau withdrawal merupakan suatu tindakan melepaskan diri,baik perhatian maupun minatnya
terhadap lingkungan sosial secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap.
 Kata kunci
Dari beberapa pengertian diatas,dapat di tarik kesimpulan isolasi sosial adalah Pasien
mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan
yang berarti dengan orang lain
 Data fokus ( Dipengkajian )
1. Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan
hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri dan kurang percaya diri.
2. Ideal diri
Harapan klien terhadapan keaadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam
keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien terhadap lingkungan, harapan klien
terhadap penyakitnya, bagaimana jika pernyataan tidak sesuai dengan harapanya.

2
Pada klien dengan isolasi sosial cenderung mengungkapkan keputusan karena
penyakitnya, mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.

A. Proses Terjadinya Masalah

1. Etiologi
Isolasi sosial menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya pada
oranglain,perasaan panik,regresi ketahap perkembangan sebelumnya,waham,sukar berinteraksi
dimasa lampau,perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut.
1) Faktorpredisposisi
a) Faktor Perkembangan
Kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari pengalaman selama proses
tumbuh kembang. setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui
individu dengan sukses,karna apabila tugas perkembangan ini tidak terpenuhi akan
menghambat perkembangan selanjutnya.
b) Faktor biologi
Genetik adalah salah satu faktor pendukung gangguan jiwa,faktor genetik dapat
menunjang terhadap respon sosial maladaptive ada bukri terdahulu tentang terlibatnya
neurotransmitter dalam perkembangan .
c) Faktor sosial budaya
Faktor sosial budaya dapat menjadi faktor pendukung terjadinya gangguan dalam
membina dengan orang lain.
d) Faktor komunikasi dalam keluarga
Pola komunikasai dalam keluarga dapat mengantarkan seseorang kedalam gangguan
berhubungan bila keluarga hanya mengkomunikasikan hal-hal yang negative akan
mendorong anak mengembangkan harga diri rendah.
2) Faktor presipitasi
Setressor pencetus pada umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress
seperti kehilangan yang mempengaruhi kemampuan indifidu untuk berhubungan dengan
orang lain dan menyebabkan ansietas.
a) Faktor Nature (alamiah)

3
Secaraalamiah, manusia merupakan makhluk holistic yang terdiri dari dimensi
bio-psiko-sosial dan spiritual.Oleh karena itu meskipun stressor presipitasi
tertentu
b) Faktor Origin (sumber presipitasi)
Demikian juga dengan factor sumber presipitasi, baik interna maupun eksterna
yang berdampak pada psikososial seseorang.
c) Faktor Timing
Setiap stressor yang berdampak pada trauma psikologis seseorang yang
berimplikasi pada gangguan jiwa sangat ditentukan oleh kapan terjadinya stressor,
berapa lama danfrekuensi stressor.
d) Faktor Number (Banyaknya stressor)
Demikian juga dengan stressor yang berimplikasi pada kondisi gangguan jiwa
sangat ditentukan oleh banyaknya stressor pada kurun waktu tertentu.Misalnya,
baru saja suami meninggal, seminggu kemudian anak mengalami cacat permanen
karena kecelakaan lalu lintas. (Suryani, 2005)

e) Appraisal of Strossor (cara menilai predisposisi dan presipitasi)


1) Faktor Kognitif :Berhubungan dengan tingkat pendidikan, luasnya
pengetahuan dan pengalaman.
2) FaktorAfektif :Berhubungan dengan tipe kepribadian seseorang.
Tipekepribadian introvert bersifat :Tertutup, suka memikirkan diri sendiri,
tidak terpengaruh pujian, tidak tahan kritik, mudah tersinggung, menahan
ekspresi emosinya. Tipe kepribadian extrovert bersifat : Terbuka, lincah
dalam pergaulan, riang, rama, mudah berhubungan dengan orang lain, tebal
terhadap keritik, ekspresi emosinya spontan, tidak begitu merasakan
kegagalan dan tidak banyak mengeritik diri sendiri. Tipe kepribadian ambivert
dimana seseorang memiliki kedua tipe kepribadian tersebut sehingga sulit
untuk menggolongkan dalam salah satu tipe.
f) Faktor Physiological

4
Kondisi fisik seperti status nutrisi, status kesehatan fisik, factor kecacatan atau
kesempurnaan fisik sangat berpengaruh bagi penilaian seseorang terhadap stressor
predisposisi dan presipitasi.
g) FaktorBahavioral
Pada dasarnya perilaku seseorang turut mempengaruhi nilai, keyakinan, sikap dan
keputusannya.Faktor prilaku turut berperan pada seseorang dalam menilai factor
predisposisi dan presipitasi yang dihadapinya.Misalnya, seorang peminum
alkohol, dalam keadaan mabuk akan lebih emosional dalam menghadapi stressor.
h) Faktor Sosial
Manusia merupakan makhluk social yang hidupnya saling bergantung antara satu
dengan yang lainnya.Menurut Luh Ketut Suyani (2005).
Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa factor kolektifitas atau kebersamaan
berpengaruh terhadap cara menilai stressor predisposisi dan presipitasi.

1. RentangRespon
Menurut Stuart Sundeen rentang respon sklien ditinjau dan interaksinya dengan
lingkungan social merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respons adaptif
dengan maladaptip sebagai berikut :

Respons Adaptif Respons Maladaptif

 Solitude  Aloneless  Impulsif


 Dependensi  Narkisisme
 Otonomi
 Menarik diri  Manipulasi
 Bekerja sama
 Curiga
 Interdependen
Respons Adaptif
Merupakan suatu respons yang masih dapat diterima oleh norma – norma social dan
kebudayaan secara umum yang berlaku dengan kata lain individu tersebut masih dalam
batas normal ktika menyelesaikan masalah.

5
1) Menyendiri (solitude)
2) Otonomi
3) Bekerja sama
4) Interdependen
a. Respon Maladaptif
Merupakan suatu respons yang menyimpang dari norma social dan kehidupan disuatu
tempat, perilaku respons maladaptif, yakni meliputi :
1) Menarik diri
2) Ketergantungan
3) Manipulasi
4) Curiga
5) Impulsif
6) Narkisisme
2. Mekanisme Koping
Individu yang mengalami respon social maladaptive menggunakan berbagai mekanisme
dalam upaya untuk mengatasi ansietas. Koping yang berhubungan dengan gangguan
kepribadian antisocial antara lain proyeksi, splitting dan merendahkan orang lain.
3. Sumber Koping
Menurut Stuart,2006, sumber koping yang berhubungan dengan respon social
maladaptive meliputi keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luasan teman,
penggunaan kreatifitas untuk mengekspresikan stress interpersonal missal,
kesenian,music atau tulisan.

4. Pathway Isolasi Sosial

Penolakan dari orang lain.

Ketidak percayaan diri.

Kecemasan dan ketakutan.


6

Putus asa terhadap hubungan


5. Tanda dan gejala
1. Gejala Subjektif :
a. Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b. Klien merasa tidak nyaman berada dengan orang lain.
c. Respons verbal kurang dan sangat singkat.
d. Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
e. Klien lambat dalam menghabiskan waktu.
f. Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
g. Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
h. Klien merasa ditolak.
i. Menggunakan kata – kata simbolik.
2. Gejala Objektif
a. Klien banyak diam dan tidak mau berbicara.
b. Tidak mengikuti kegiatan.
c. Banyak berdiam diri dikamar.
d. Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang terdekat.
e. Kontak mata kurang.

7
f. Kurang spontan.
g. Klien tampak sedih, ekspresi datar dan dangkal.
h. Apatis (acuh terhadap lingkungan).
i. Masuk makan dan minum terganggu.
j. Kurang energy (tenaga).
k. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri.
l. Aktifitas menurun.
m. Kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.

Menurut Townsend & Carpenito, isolaso social menarik diri sering ditemukan adanya
tanda dan gejala sebagai berikut :
1. Data Subjektif:
a. Mengungkapkan perasaan penolakan oleh lingkungan.
b. Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki.
2. Data Objektif:
a. Tampak menyendiri dalam ruangan
b. Tidak berkomunikasi, menarik diri
c. Tidak melakukan kontak mata
d. Tampak sedih, efek datar
e. Posisi meringkuk di tempat tidur dengan punggung menghadap ke pintu
f. Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain didekatnya
g. Kurang aktifitas fisik dan verbal
h. Tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
i. Mengkspresikan perasaan kesepian dan penolakan diwajahnya

B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri
dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang
dikumpulkan melalui data biologis, psikologis, social, dan spiritual. Isolasi sosial adalah

8
keadaan seorang individual yang mengalami penurunan atau bahkan sma sekali tidak
mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak,
tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain.
Untuk mengkaji pasien isolasi sosial dapat menggunakan wawancara dan observasi
kepada pasien dan keluarga. Pertanyaan berikut yang dapat ditanyakan pada waktu
wawancara untuk mendapatkan data subjektif:
a) Bagaimana pendapat pasien terhadap orang – orang disekitar ( keluarga atau
tetangga ) ?
b) Apakah pasien mempunyaiteman dekat? Bila punya siapa teman dekat itu?
c) Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang terdekat dengannya ?
d) Apa yang pasien inginkan dari orang – orang disekitarnya ?
e) Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien ?
f) Apakah pasien merasa bahwa waktu begitu lama berlalu ?
g) Apakah pernah ada perasaan ragu untuk melanjutkan kehidupan ?
h) Apa yang menghambat hubungan harmonis antara pasien dengan orang –
orang di sekitarnya ?

Adapun isi dari pengkajian tersebut adalah :


1) Identitas Klien
Melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang: nama mahasiswa, nama
panggilan, nama klien, nama panggilan klien, tujuan, waktu, topic yang akan dibicarakan.
Tanyakan dan catat usia klien dan No.RM, tanggal dan sumber data yang didapat.
2) Alasan masuk
Apa yang menyebabkan klien atau kluarga datang, atau dirawat di rumah sakit, biasanya
berupa menyendiri (menghindar dari orang lain), komunikasi kurang, berdiam diri
dikamar, menolak interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari – hari,
dependen, perasaan kesepian, merasa tidak nyaman berada dengan orang lain, merasa
bosan, merasa tidak yakin dapat melangsungkan hidup. Apakah sudah tahu penyakit
sebelumnya, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk masalah ini.
3) Faktor predisposisi

9
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana hasil pengobatan
sebelumnya, apakah pernah melakukan atau mengalami kehilangan, perpisahan, harapan
orang tua yang tidak realistis, kegagalan atau frustrasi berulang, tekanan dari kelompok
sebaya, terjadi trauma tiba – tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan, perceraian, putus
sekolah, PHK, mengalami kegagalan dalam pendidikan maupun karir.
Faktor – faktor predisposisi terjadinya gangguan hubungan sosial, adalah :
1. Faktor Perkembangan
2. Faktor Biologis
3. Faktor Sosial Budaya
4. Faktor Komunikasi
4) Stressor presipitasi
Stressor presipitasi umumnya mencakup kejadian kehidupan yang penuh stress seperti
kehilangan, yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang
lain dan menyebabkan ansietas. Stressor presipitasi dapat dikelompokkan dalam kategori:
1. Stressor Sosial Budaya
2. Stressor Psikologis

5) Pemeriksaan fisik
Memeriksa tanda – tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan apakah ada
pengambilan keputusan yang dirasakan klien.
6) Psikososial
a) Genogram
Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola komunikasi,
pengambilan keputusan dan pola asuh.
b) Konsep diri
a. Gambaran diri
Tanyakan persepsi klien terhadap tubunya, bagian tubuh yang disukai, reaksi
klien terhadap bagian tubuh yang tidak disukai. Pada klien terhadap isolasi social,
klien menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak
menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi, menolak

10
penjelasan perubahan tubuh, preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang,
mengungkapkan perasaan keputusasaan, mengungkapkan ketakutan.
b. Identitas diri
Klien dengan isolasi social mengalami ketidakpastian memandang diri, sukar
menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.
c. Fungsi peran
Tugas atau peran klien dalam keluarga/pekerja/kelompok masyarakat,
kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, dan bagaimana
perasaan klien akibat perubahan tersebut.
d. Ideal diri
Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam
keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien terhadap penyakitnya.Pada klien
dengan isolasi social cenderung mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.
c) Hubungan sosial
Dalam setiap interaksidengan klien, perawat harus menyadari luasnya dunia
kehidupan klien.Sipa orang yang berarti dalam kehidupan klien, tempat mengadu,
bicara, mintak bantuan atau dukungan baik secara material maupun non-
material.Pada penderita ISOS perilaku social terisolasi atau sering menyendiri,
cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun, dan berdiam diri.
Hambatan klien dalam menjalin hubungan social adalah malu atau merasa adanya
penolakan oleh orang lain.
d) Spiritual
Nilai dan keyakinan, kegiatan ibadah/menjalankan keyakinan, kepuasan dalam
menjalankan keyakinan.
7) Status mental
1. Penampilan
Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pada klien dengan
isolasi social mengalami defisit perawatan diri (penampilan tidak rapi, penggunaan
pakaian tidak sesuai, cara berpakaian tidak seperti biasanya, rambut kotor, rambut
seperti tidak pernah disisir, gigi kotor dan kuning, kuku panjang dan hitam.
2. Pembicaraan

11
Tidak mampu memulai pembicaraan, berbicara jika hanya ditanya.Cara berbicara
digambarkan dalam frekuensi (kecepatan, cepat/lambat) volume (keras/lembut)
jumlah (sedikit, membisu, ditekan) dan karakteristiknya (gugup, kata-kata
bersambung, aksen tidak wajar). Pada pasien isolasi social bisa ditemukan cara
berbicara yang pelan (lambat, lembut, sedikit/membisu, dan menggunakan kata-kata
simbolik).
3. Aktivitas motorik
Klien dengan isolasi social cenderung lesu dan lebih sering duduk menyendiri,
berjalan pelan dan lemah.Aktifitas motorik menurun, kadang ditemukan hipokinesia
dan katalepsi.
4. Afek dan emosi
Klien dengan isolasi social cenderung datar (tidak ada perubahan roman muka pada
saat stimulus yang menyenangkan atau menyedihkan) dan tumpul (hanya bereaksi
bila ada stimulus emosi yang sangat kuat).
5. Interaksi selama wawancar
Klien dengan isolasi social kontak mata kurang (tidak mau menatap lawan bicara),
merasa bosan dan cenderung tidak kooperatif (tidak konsentrasi menjawab
pertanyaan pewawancara dengan spontan). Emosi ekspresi sedih dan
mengekspresikan penolakan atau kesepian kepada orang lain.

6. Persepsi-sensori
Klien dengan isolasi social berisiko mengalami gangguan sensori/persepsin
halusinasi.
7. Proses pikir
a. Proses fikir
Arus : bloking (pembicara berhenti tiba-tiba tanpa gangguan dari luar kemudian
dilanjutkan kembali).
Betuk pikir :Otistik (autisme) yaitu bentuk pemikiran yang berupa fantasi atau
lamunan untuk memuaskan keinginan yang tidak dapat dicapainya. Hidup dalam
pikirannya sendiri, hanya memuaskan keinginannya tanpa peduli sekitarnya.

12
b. Isi fikir
Social isolation (pikiran isolasi social) yaitu isi pikiran yang berupa rasa terisolasi,
tersekat, terkucil, terpencil dari lingkungan sekitanya/masyarakat, merasa ditolak,
tidak disukai orang lain, dn tidak enak berkumpul dengan orang lain sehingga
sering menyendiri.
8. Tingkat kesadaran
Pada klien dengan isolasi social cenderung bingung, kacau (perilaku yang tidak
mengarah pada tujuan), dan apatis (acuh tak acuh).
9. Memori
Klien tidak mengalami gangguan memori, dimana klien sulit mengingat hal-hal yang
telah terjadi oleh karena menurunnya konsentrasi.
10. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Pada klien dengan isolasi social tidak mampu berkonsentrasi : klien selalu minta agar
pertanyaan diulang karena tidak menangkap apa yang ditanyakan atau tidak dapat
menjelaskan kembali pembicaraan.
11. Daya tilik
Pada klien dengan isolasi social cenderung mengingkari penyakit yang diderita : klien
tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik dan emosi) pada dirinya dan merasa
tidak mau bercerita tentang penyakitnya.
8) Koping penyelesaian masalah
Mekanisme yang sering digunakan pada isolasi social adalah regresi, represi, dan isolasi.

2. Pohon Masalah

Resiko halusinasi (efek)

Isolasi social (core probem)

13
Harga diri rendah (cause)

3. Diagnosa Keperawatan
1) Isolasi sosial
2) Harga diri rendah kronis
3) Perubahan persepsi sensori : Halusinasi
4) Koping indivdu tidak efektif
5) Intoleran aktivitas
6) Defisit perawatan diri
4. Nursing Care Plane (NCP)
Rencana keperawatan klien dengan isolasi social
Perencanaan
Tujuan kriteria hasil Intervensi Rasional
Tujuan
umum: klien
dapat
berinteraksi
dengan orang
lain
TUK1: klien Criteria evaluasi: klien 1.bina hubungan saling Hubungan saling
dapat dapat mengungkapkan percaya dengan percaya
membina perasaan dan menggunakan prinsip merupakan
hubungan keberadaannya secara komunikasi teraupeutik. lamgkah awal
saling verbal. a. Sapa klien dengan untuk menentukan
percaya -klien mau menjawab ramah, baik verbal keberhasilan
salam. maupun non verbal. rencana
-klien mau berjabat b. Perkenalkan diri selanjutnya
tangan dengan sopan
-klien mau menjawab c. Tanya nama

14
pertanyaan lengkap dan nama
-ada kontak mata yang disukai klien
-klien mau duduk d. Jelaskan tujuan
berdampingan dengan pertemuan
perawat e. Jujur dan menepati
janji
f. Tunjukan sikap
empati
g. Beri perhatian

15
TUK2: klien kriteria evaluasi: klien a. kaji pengetahuan Dengan
dapat dapat menyebutkan klien tentang mengetahui tanda-
menyebutkan penyebab menarik diri perilaku menarik tanda dan gejala
penyebab yang berasal dari: diri dan tanda- menarik diri akan
menarik diri a. Diri sendiri tandanya menentukan
b. Orang lain b. beri kesempatan langkah intervensi
c. Lingkungan klien untuk selanjutnya
mengungkapkan
perasaan penyebab
klien menarik diri
atau tidak mau
bergaul
c. diskusikam
bersama klien
tentang perilaku
menarik diri tanda
dan gejala
d. berikan pujian
terhadap
kemampuan klien
mengungkapkan
perasaannya

16
TUK 3: klien Kriteria evaluasi: 3.1 kaji pengetahuan Reinforcemen
dapat  klien dapat klien tentang dapat
menyebutkan menyebutkan keuntungan dan meningkatkan
keuntungan keuntungan manfaat bergaul harga diri
berhubungan berhubungan dengan dengan orang lain
dengan orang orang lain, missal 3.2 beri kesempatan
lain dan banyak teman, tidak klien untuk
kerugian sendiri, biasa diskusi, mengungkapkan
tidak dll perasaannya tentang
berhubungan  klien dapat keuntungan
dengan orang menyebutkan berhubungan dengan
lain kerugian tidak orang lain
berhubungan dengan 3.3 diskusikan dengan
orang lain missal: klien manfaat
sendiri tidak punya berhubungan dengan
teman, sepi, dll orang lain
3.4 kaji pengetahuan
klien tentang
kerugian bila tidak
berhubungan dengan
orang lain
3.5 beri kesempatan
kepada klien untuk
mengungkapkan
perasaan tentang
kerugian bila tidak
berhubungan dengan
orang lain.
3.6 Diskusikan bersama
klien tentang
kerugian tidak

17
berhubungan dengan
orang lain
3.7 Beri reinforcement
positif terhadap
kemampuan
mengungkapkan
perasaan tentang
kerugian tidak
berhubungan dengan
orang lain

TUK4: klien Kriteria evaluasi: klien 4.1 kaji kemampuan Mengetahui sejauh
dapat dapat klien membina mana pengetahuan
melaksanaka mendemonstrasikan hubungan dengan klien tentang
n hubungan hubungan social secara orang lain berhubungan
social secara bertahap: 4.2 dorong dan bantu dengan orang lain.
bertahap a) Klien-perawat klien untuk
b) Klien-perawat- berhubungan dengan
perawat lain orang lain melalui:
c) Klien-perawat- a. Klien-perawat
perawat lain-klien b. Klien-perawat-
lain perawat lain
d) Klien-kelompok c. Klien-perawat-
kecil perawat lain-klien
e) Klien- lain
keluarga/kelompok/ d. Klien-kelompok
masyarakat kecil
e. Klien-
keluarga/kelompok/
masyarakat
4.3 beri reinforcement
terhadap

18
keberhasilan yang
telah di capai
dirumah nanti.
4.4 Bantu klien untuk
mengevaluasi
manfaat berhubungan
dengan orang lain
4.5 Diskusikan jadwal
harian yang dapat
dilakukan bersama
klien dalam mengisi
waktu
4.6 Motivasi klien untuk
mengikuti kegiantan
terapi aktivitas
kelompok sosialisasi
4.7 Beri reinforcement
atas kegiatan klien
dalam kegiatan
ruangan.
TUK5: klien Kriteria evaluasi: klien 5.1 Dorong klien untuk Agar klien lebih
dapat dapat mengungkapkan mengungkapkan percaya diri
mengungkap perasaan setelah perasaannya bila berhubungan
kan berhubungan dengan berhubungan dengan dengan orang lain.
perasaannya orang lain untuk diri orang lain Mengetahui sejauh
setelah sendiri dan orang lain 5.2 Diskusikan dengan mana pengetahuan
berhubungan klien manfaat klien tentang
dengan orang berhubungan dengan kerugian bila tidak
lain orang lain berhubungan
5.3 Beri klien dengan orang lain.
reinforcement positif

19
atas kemampuan
klien
mengungkapkan
perasaan manfaat
berhubungan dengan
orang lain.
TUK6: klien Kriteria evaluasi: 1.1 BHSP dengan Agar klien lebih
dapat keluarga dapat: keluarga percaya diri dan
memberdaya a. Menjelaskan  Salam, tau akibat tidak
kan system perasaannya perkenalan berhubungan
pendukung b. Menjelaskan cara diri dengan orang lain.
atau keluarga merawat klien  Sampaikan Mengetahui sejauh
mampu menarik diri tujuan mana pengetahuan
mengembang c. Mendemonstrasik  Membuat klien tentang
kan an cara klien kontrak membina
kemampuan menarik diri  Explorasi hubungan dengan
klien untuk d. Berpartisipasi perasaan orang lain
berhubungan dalam perawatan keluarga
dengan orang klien menarik diri 1.2 diskusikan dengan
lain. anggota keluarga
tentang:
a. prilaku menarik
diri
b. penyebab prilaku
menarik diri
c. cara keluarga
menghadapi klien
yang sedang
menarik diri
1.3 dorong anggota
keluarga untuk

20
member dukungan
kepada klien
berkomunikasi
dengan orang lain
1.4 anjurkan anggota
keluarga untuk
secara rutin dan
bergantian
mengunjungi klien
minimal 1 kali
seminggu
1.5 beri reforcement atas
hal-hal yang di capai
keluarga

21
BAB 3
ASUHANKEPERAWATAN
PADA NY. “S” DENGAN ISOLASI SOSIAL DI RUANG MELATI
RSJ Dr. RADJIMAN WEDIODININGRATLAWANG

1. IDENTITAS KLIEN
Nama : Ny. S
Umur :62 tahun
Alamat : Tulungagung
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Status : Janda
Pekerjaan : pedagang
No.RM :
Tanggal MRS : 26 mei 2017
Tanggal Pengkajian : 27 Juli 2017
II. ALASAN MASUK
a. Data Primer: Px mengatakan ingin pulang dan tidak krasan disini, ingin cepat
pulang untuk merawat rumah
b. Data Sekunder: Px tampak menyendiri, tidak mau berinteraksi dengan tema
sekitarnya katanya “malas”
c. Keluhan utama saat pengkajian: Px mengatakan males berbicara dan ingin pulang
untuk merawat rumah

III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG DAN FAKTOR PRESIPITASI


Sejak suaminya meninggal pasien sering menyendiri dan jarang berinteraksi
dengan orang lain kemudian selama 6 bulan terakhir pasien sering merasa pusing
kemudian pasien diajak jalan-jalan oleh keluarganya dan tanpa sepengetahuannya
pasien sudah berada ditempat ini. Dan pasien mengatakan kata orang disekitarnya
pasien berada di rumah sakit jiwa.

22
IV. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Gangguan jiwa di masa lalu :
Saat ditanya pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu pasien mengatakan
“tidak pernah” sambil menggelengkan kepala.
2. Riwayat trauma
tidak memiliki riwayat trauma aniaya fisik, aniaya seksual, penolakan, kekerasan
dalam keluarga dan tindakan criminal
DX Kep : -
Percobaan bunuh diri :
Saat ditanya apakah pasien pernah melakukan percobaan bunuh diri,
Pasien mengatakan tidak pernah melakukan upaya atau percobaan bunuh diri
DX Kep : -
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan:
Saat ditanya mengenai pengalaman masa lalu yang tidak menyenanagkan, pasien
mengatakan merasa sedih saat suaminya meninggal dunia dan sejak saat itu pasien
lebih senang menyendiri dan tidak suka berinteraksi dengan orang lain.
DX kep : ISOLASI SOSIAL
Pernah mengalami penyakit fisik :
Pasien mengatakan terkadang kepalanya pusing.
DX Kep : -
Riwayat penggunaan NAPZA
Px mengatakan tidak pernah menggunakan obat obatan terlarang baik ganja, sabu-
sabu, ataupun minuman keras.
DX Kep : -
Upaya yang dilakukan terkait kondisi diatas dan hasilnya:

DX Kep : -
Riwayat penyakit keluarga
Menurut px anggota keluarga tidak ada yang sakit atau mengalami gangguan jiwa
seperti yang dialami klien.

23
Hubungan dengan klien : -
Riwayat pengobatan : -
DX Kep : -

V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Keterangan:
: Meninggal : Laki-laki

: Meninggal : Klien

: Perempuan : Satu rumah

Jelaskan :
Pasien mengatakan ketika dirumah tinggal sendiri suaminya sudah meninggal dia
memiliki 2 orang anak, anak pertama laki – laki dan sudah meninggal pada waktu
kelas 5 sd, anak kedua perempuan dan sekarang sudah menika serta mempunyai dua
anak yaitu laki- laki dan perempuan, hubungan pasien dengann anaknya baik-baik
saja
DX Kep : -
Konsep Diri

24
a. Citra Tubuh
Px mengatakan menyukai seluruh bagian dari anggota tubuhnya
b. Identitas Diri
Ketika ditanya namanya pasien menjawab nama saya samsiyah dengan suara
lembut,pasien mengatakan sangat senang menjadi seorang pedagang
c. Peran
Pasien mengatakan sekarang tidak mampu menjalankan peranya seperti dulu
sebagai ibu rumah tangga dan berkerja sebagai pedagang serta sekarang pasien
tidak bisa mengikuti kegitan pengajian rutin di desanya
Psien di sini hanya duduk-duduk saja dan terdiam dan menyendiri
d. Ideal Diri
Px ingin cepat pulang karea agar bisa merawat rumahnya
e. Harga Diri
Px menengtakan diposisinya sekarang pasien tidak berguna dan tidak bisa
melakukan aktivitasnya seperti dulu, melakukan kegiatan ibu rumah tangga ia
hanya bisa duduk menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain
Diagnosa Keperawatan : Gangguan Konsep Diri HDR
Hubungan Sosial
a. Orang Klien yang berarti/terdekat :
Di rumah pasien mengatakan “orang yang berarti baginya adalah suami dan
anaknya”
di rumah sakit pasien mengatakan tidak ada yang berarti baginya
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok
Pasien mengatakan dirumah sering mengikuti acara pengajian rutin
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Px mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain dan lebi senang duduk
sambil diam menyendiri

25
Diagnosa Keperawatan: Isolasi Sosial

Spiritual
a.Agama
px mengatakan beragama islam px saat di rumah selalu sholat tetapi saat di
rumah sakit px tidak perna sholat
b.Pandangan terhadap gangguan jiwa
px mengatakan tidak tau dirinya sakit apa hanya tau disin diobati saja
Diagnosa Keperawatan :gangguan pemenuhan spiritual
VI. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum: cukup
2. Kesadaran : composmetis GCS 4:5:6
3. Tanda Vital:
TD :100/70 mmHg,
Nadi : 68x/menit,
Suhu : 36 ºC.
RR : 19 x/menit.
4. Ukur
BB :45 KG
TB:150 Cm

VII. STATUS MENTAL


1. Penampilan
Cara berpakaian rapi,bersih,berjalan normal,sopan,ada kontak mata dan
penampilan sesuai dengan umumnya yang sekarang
Diagnosa Keperawatan : -
2. Pembicaraan
Frekuensi : lambat
Volume :pelan
Jumlah : sedikit
Karakternya :kata-kata bersambung

26
Diagnosa Keperawatan:gangguan komunikasi verbal
3. Aktivitas motorik/psikomotor
 Hipokinesia,hipoaktifitaf
Jelaskan :
Pasien tampak kurang beriaksi serta dalam gerakan dan aktivitasnya
menurun (bisa terjadi karena faktor usia)
Diagnosa Keperawatan: defisit aktifitas motorik
4. Mood dan Afek
a.Mood
 Depresi
Jelaskan :
Pasien mengatakan merasa kehilangan atas suaminya yang telah
meninggal,dari hal tersebut pasien menjadi malas bergaul atau
berinteraksi dengan orang lain
b.Afek
 Tumpul /dangkal/datar
Jelaskan :
Pasien terlihat berespresi datar sat diajak berinteraksi hanya bereaksi
jika ada stimulus yang kuat
Diagnosa Keperawatan: -
Interaksi selama wawancara
 Kotak mata kurang
Jelaskan :
Pasien saat diajak berinteraksi tidak mau menatap lawan bicaranya
terkadang melirik kanan dan kiri dan terkadang memandang sekilas jika
ada stimulus atau dipanggil namanya secara kuat
Diagnosa Keperawatan : isolasi sosial
5. Persepsi sensori
Tidak ada halusinasi maupun ilusi px mengatakan tidak mendengar bisik-
bisikan atau melihat sesuatu yang tidak nampak
Diagnosa Keperawatan: -

27
Proses pikir
a. Arus pikir
Blocking
Jelaskan :
Pada saat berinteraksi dengan pasien jawabanya pasien terkadang
berhenti secara tiba-tiba dan kembali melanjutkan pembicaraanya jika
diberi stimulus atau ditanya ulangi lagi

b. Isi pikir
 Pikiran isolasisosial
Px mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain dan lebih suka
duduk terdiam dan menyendiri.
c. Bentuk pikir
 Realistik
Pasien berfikiran realistik yang dilanjutkan dengan pasien bercerita
masalahnya dengan masuk akal seperti pasien bercerita dulu bekerja
sebagai seorang pedangang

Diagnosa Keperawatan:
8. Kesadaran
Orientasi waktu(waktu,tempat,orang) :
Jelaskan :
- Saat ditanyambah senamnya dilakukan pagi,siang apa sore pasien menjawab
“pagi”
- Saat ditanya mbah sekarang berada dimana? “berada di ruma sakit”
- Pasien mengenali teman-temanya yang diruang betet
- Pasien tidak mengalami penurunan kesadaran GCS 4:5:6
Diagnosa keperawatan: -
9. Memori

28
Px tidak mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, jangka menengah,
jamgka pendek dengan dibuktikan pasien mengatakan sudah berada disini
selama 2bulan
Diagnosa Keperawatan : -

10. Tingkat konsentrasi dan berhitung


a. Konsentrasi :
Px mampu berkonsentrasi ketika di ajak berkomunikasi
b. Berhitung
Pasien mampu berhitung dengan jumlah kecil saat ditanya mbah 2+3=
pasien menjawab”5”
Diagnosa Keperawatan : -
11. Kemampuan penilaian
 Gangguan ringan
Jelaskan :
Pasien mampu beradaptasi dengan orang lain jika orang lain
mengajaknya berinteraksi
Diagnosa Keperawatan : -
12. Daya tilik diri
 Mengikari penyakit yang diderita
Pasien mengatakan dirinya masi kurang paham dengan penyakit yang
dideritanya sekarang, dia bertanya –tanya kenapa dibawa ditempat ini
,hanya paham kalu disini hanya diobati
Diagnosa Keperawatan :-

VIII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
 Perawatan kesehatan
Pasien mampu mandiri sendiri dan makan sendiri dan ganti baju sendiri
Kegiatan hidup sehari-hari
a. Perawatan diri

29
Mandi : px mampu mandi sendiri sebanyak 3x sehari dengan memakai sabun
dan berkeramas
b. Berpakaian : px mampu memakai pakaian sendiri, menyisir rambutnya sendiri
c. Makan : px mampu makan sendiri 3x/sehari dan menghabiskan porsi yang
sudah di sediakan
d. Toileting : px mampu BAK dan BAB sendiri ke kamar mandi
DX Kep: -
Nutrisi:
px makan 3x/hari, px mengatakan nafsu makannya enak, porsi makannya
habis
Kebutuhan istirahat tidur:
Pasien mengatakan jarang tidur siang
klien biasa tidur siang pukul
dan tidur malam hari pukul 18.00 s/d 04.00 WIB.
aktivitas sebelum tidur duduk-duk ditempat tidur
jelaskan :
pasien mengatakan jarang tidur siang karena tidak mengantuk dan sebelum
tidur pasien selalu duduk – duduk ditempat tidur
Gangguan tidur:
Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan tidur

DX Kep :-
Kemampuan lain:
 Megantisipasi kebutuhan hidup
Pasien tidak mampu megantisipasi kebutuhan hidupnya, pasien masih
membutuhkan orang lain, bantuan serta pengarahan orang lain
 Membuat keputusan berdasarkan keinginannya
Pasien tidak mampu membuat keputusan berdasarkan keinginannya,
pasien merasa masih membutuhkan dukungan orang lain
 Mengatur pengunaan obat dan melakukan pemeriksaan kesehatanya
sendiri

30
Pasien masi bergantug dengan orang lain masalah penggunaan obat
dan memeriksakan kesehatanya pasien masih butuh bantuan perawat
e. DX Kep : -
f. Sistem pendukung :
Px punya keluarga dan perawat yang menjadi penyemangat
DX Kep :
MEKANISME KOPING:
Px mengatakan jika ada masalah selalu di pendam sendiri dan malas bercerita
dengan orang lain, pasien lebih senang menyendiri dan melamun

MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


 Masalah dengan dukungan kelompok
Pasien mengatakan sebelum sakit ia selalu rutin mengikuti acara pengajian di
desanya
 Masalah berhubungan lingkungan
Px mengatakan dirumah hanya tinggal seorang diri
 Masalah dengan pendidikan
Px mengatakan tidak ada masalah tentang pendidikannya, pendidikan terakhir
SMA
 Masalah dengan pekerjaan
Px mengatakan tidak ada masalah dengan pekerjaan , ingin pulang agar bisa
berdagang lagi
 Masalah dengan perumahan
Pasien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain di sekitar
rumahnya,lebih suka berdiam diri dirumah
 Masalah dengan ekonomi
Pasien megatakan tidak ada masalah dengan ekonomi
 Masalah dengan pelayanan kesehatan
Px mengatakan tidak ada masalah dengan pelayanan kesehatanya hanya saja
pelayananya lama pdahal beliau ingin pulang
Diagnosa Keperawatan : -

31
Aspek pengetahuan
Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang kurang
tentang suatu hal? Iya, pasien kurang memahami tentang penyakit yang dideritanya saat
ini
Bagaimana pegetahuan klien atau keluarga saat ini tentang penyakit atau gangguan
jiwa,perawatan dan penatalaksaanya faktor yang memperberat masalah (presipitasi),
obat-obatan atau lainya. Apakah perlu diberikan tambahan pengetahuannya yang
berkaitan dengan spesifiknya masalah tersebut
 Penyakit/gangguan jiwa
Jelaskan :
Pasien perlu penjelasan dan pengarahan lagi tentang penyakit atau gangguan
jiwa yang dialami

Diagnosa Keperawatan:

IX. ASPEK MEDIS


 Diagnosa Medis:
- Axis 1 : F20.01 Hebephrenic Schizophrenia
- Axis 2 :
- Axis 3 :
- Axis 4 :
- Axis 5 : 30-21
 Terapi medik:
Risperidone 2mg
Merlopam 2mg(lorazepam)TAB

32
ANALISA DATA

No. Data Masalah/Diagnosa Keperawatan


1. Ds: px mengatakan mlas berinteraksi
dengan teman sekitar karena px
merasa tidak sebaya dengan teman-
temannya
Do:-tampak menyendiri Isolasi sosial
-tidak berinteraksi dengan teman-
temannya
-kurang mengenai teman sekitar

2. Ds : px mengatakndiposisinya yang
Sekarang tidak berguna da tidak bisa
melakukan aktivitasnya seperti dulu Gangguan konsep diri
Do: -tidak berinteraksi dengan teman- Harga diri rendah
temannya
-lebih banyak menyendiri

3. Ds: px mengatakan jika ada masalah px


lebih suka memendamnya sendiri dan
pasien mengatakan tidak suka Koping individu tidak efektif
bercerita dengan orag lain
Do: -px tampak menyendiri
-tidak berinteraksi dengan teman-
temannya

4 DS : pasien mengatakan malas Gangguan komunikasi verbal


berinteraksi dengan orang lain.

33
DO : Pembicaraan pasien lambat,
volumenya pelan, jumlahnya sedikit,
karakter lembut.

X. DAFTAR MASALAH
1. Isolasi sosial
2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
3. Koping individu tidak efektif
4. Gangguan komunikasi verbal
XI. POHON MASALAH

Efek
Gangguan Komunikasi
Verbal

isolaasi sosial Core


problem

Gangguan konsep diri causa


harga diri rendah

Koping individu tidak


efektif

XVI. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. ISOLASI SOSIAL
2. HDR
3. KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF

34
NO.DX RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN RASIONAL
TUJUAN DAN KRETERIA EVALUASI TINDAKAN KEPERAATAN

1 TUM: Bina hubungan saling percaya dengan Hubungan saling percaya merup
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik. rencana selanjutnya
terjadi halusinasi 1. Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal.
2. Perkenalkan diri dengan sopan
TUK 1: 3. Tanyakan nama lengkap pasien dan nama panggilan yang disukai
Klien dapat membina hubungan saling percaya 4. Jelaskan tujuan pertemuan
5. Jujur dan menepati janji
KRITERIA EVALUASI: 6. Tunjukkan sikap empati dan menerima apa adanya
Setelah 2 kali pertemuan klien dapat menunjukkan 7. Beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar pasien.
ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada
kontak mata, mau berjabat tangan, mau menjawab salam,
pasien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau
mengutarakan masalah yang dihadapi.
TUK 2: Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda- Dengan mengetahui tanda-tand
1. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri tandanya intervensi selanjutnya.
1. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan
penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul.
2. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri tanda dan
gejala

35
KRITERIA EVALUASI : 3. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang perasaanya
berasal dari :
a. diri sendiri
b. orang lain
c. lingkungan

TUK 3 : 1. Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan manfaat bergaul Reinforcement dapat meningkatk
Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain
dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan 2. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkap kan tentang
dengan orang lain . keuntungan manfaat bergaul dengan orang lain
3. Diskusikan bersama kx tentang manfaat berhubungan dengan
orang lain.
KRITERIA EVALUASI: 4. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak bergaul
Klien dapat menyebutkan keuntungan b.d orang lain, dengan orang lain
missal banyak teman , tidak sendiri, bisa siskusi, dll 5. Beri kesempatan pada kx untuk mengungkapkan perasaan nya
tentang kerugian bila tidak b,d oranglain
6. diskusikan bersama klien tentang kerugian

TUK 4 : 1. Kaji kemampuan klien membina hub dengan orang lain Mengetahui sejauh mana pengeta
Klien dapat melaksanakan hub social secara bertahap 2. Dorongdan bantu klien untuk b.d orang lain melalui :

36
 Kliendenganperawat
 Klien – perawat-perawat lain
KRITERIA EVALUASI:  Klien - perawat-perawat lain-klien
Klien dapat menyebutkan kerugian tidak b.d orang lain  Klien – kelompokkecil
missal sendiri tidak punya teman  Klien-keluarga-kelompok-masyarakat
3. Berilah reinforcement terhadapkeberhasilan yang
telahmerekacapai.
4. Bantu klienuntukmengevaluasimanfaatberhubungandengan orang
lain.
5.Motivasidanlibatkanlahklienuntukmengikutikegiatanterapiaktivitas
kelompok sosialisasi.
6. Diskusikanjadwalharian yang
dapatdilakukanbersamauntukmengisiwaktu
7. beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.

37
TUK 5 : 1. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah Agar klien lebih bercaya diri untu
Pasien dapat mengungkapkan perasaanya setelah b.d berhubungan dengan orang lain / kelompok. Mengetahuisejauhmanapengetahu
orang lain 2. Diskusikan dengan klien manfaat berhubungan dengan orang orang lain
lain.
KRITERIA EVALUASI:
Klien dapat men demonstrasikan hub social secara 3. Beri reinforcement
bertahap: positifataskemampuankliendalammengungkapkanperasaannya
Klien dengan perawat yang berhubungan orang lain.
 Klien – perawat-perawat lain
 Klien- perawat-perawat lain-klien
 Klien – kelompokkecil
Klien-keluarga-kelompok-masyarakat
TUK 6 Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah b.d orang lain untuk : Dengan dukungan keluarga klie
Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau -diri sendiri
keluarga atau keluarga mampu mengembangkan -orang lain
kemampuan kx b.d orang lain
Keluarga dapat :
KRITERIA EVALUASI: - Menjelaskanperasaanya
Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah b.d orang - Menjelaskancaramerawatkx menarikdiri
lain untuk : - Mendemostrasikancaraperawatankxmenarikdiri
-diri sendiri - Berpartisipasidalamperawatankxmenarikdiri

38
-orang lain

Keluarga dapat :
- Menjelaskanperasaanya
- Menjelaskancaramerawatkxmenarikdiri
- Mendemostrasikancaraperawatankxmenarikdiri
- Berpartisipasidalamperawatankxmenarikdiri

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

39
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No Tanggal Implementasi keperawatan Evaluasi


.Dx dan jam
1 29-07- SP 1 S: pasien mengatakan
17 1. Membina hubungan saling  Waalaikumsalam
Jam percaya denan perawat “  Siang mbak
07.00 assalammualikum,selamat siang  Nama saya Ny, S
mbah, saya perawat yang akan  Nama panggil saya S
merawat mbah, saya perawat L  Saya berasal dari
senang di panggil L, dari stikes Tulungagung
bina sehat ppni , nama mbah  Perasaannya senang
siapa ? senang di panggil siapa?  Ndak ada keluhan
Asalnya dari mana? Bagaimana
 Saya malas karena teman” s
perasaan mbah hari ini? Apa
 Iya, saya mengerti ,
keluhan mbah saat ini?
keuntungannya yaitu
banyak teman, bisa di buat
2. Mengidentifikasi penyebab
ngobrol, bisa bermain.
isos” mbah kenapa suka
 Iya mbg, yang mengerti,
melamun, menyendiri dan tidak
kerugiannya yaitu tidak
berumpul dengan teman”nya
bisa ngobrol sama teman”
dan tidak dapat banyak
3. Mengidentifikasi keuntungan
teman “
dan kerugian berinetraksi
 Ndak mbg saya malas
dengan orang lain”mbah tau
keuntungannya jika mbah suka
O:
menyendiri, dan kerugiannya
 Pasien menjawab salam
apakah mbah mengerti jika
menyebutkan nama, Dan
bapak suka menyendiri
berjabat tangan
 Kotak mata kurang
4. Melatih berkenalan “
 Pasien mau menjawab
bagaimana kalau kita coba
40
berlatih berkenalan dengan pertanyaan
teman sebelah tempat tidur  Pasien dapat meragakan
mbah,” cara berkenalan
A:
5. Memasukan jadwal kegiatan “  Pasien mampu membina
nanti kalau kita sudah hubungan saling percaya
melakukan kegiatan perkenalan  Pasien mampu
kita masukkan jadwal harian ya mengidentifikasi
mbah,” keuntungan dan kerugian
berinteraksi dengan orang
lain
 Pasien belum mampu
melalakukan meragakan
cara berkenalan dengan
orang lain
P: untuk pasien
 Anjurkan pasien untuk
melatih berkenalan dengan
orang lain
 Lanjutkan sp 2

31-07- SP 2 S: Pasien mengatakan


17 1. Mengevaluasi SP 1” bagaimaana  Iya, saya mengerti ,
Jam mbah masih ingat apa kerugian dan
keuntungannya yaitu
09.00 keuntungn berinteraksi dengan
banyak teman, bisa di buat
orang lain”
ngobrol, bisa bermain.Iya
2. Melatih berhungan sosial secara mbg, yang mengerti,
bertahap”apa mbah mau saya ajari
kerugiannya yaitu tidak
berinteraksi atau berkenalan bisa ngobrol sama teman”
dengan orang lain. Ini ada teman dan tidak dapat banyak
saya coba mbah berkenalan dengan

41
teman saya, mbah perkenalkan teman
(berjabat tangan) nama saya mbak
A, alamat saya di lamongan , kalau  Iya mbak, nama saya Tn.S,
bapak namanya siapa? Rumahnya rumah saya di pandaan
mbah dimana kelangkung

3. Memasukkan jadwal kegiatan  Iya mbak


pasien “nanti kalau kita sudah
melakukan hubungan sosial dan O:
kegiatan perkenalan kita masukkan  Pasien bisa memperagakan
jadwal harian ya mbah,” cara berkenalan
A:
 Pasien mampu berinteraksi
dengan 2 orang atau lebih
atau perawat
P:
 Untuk pasien: anjurkan
pasien memasukkan
kegiatan berinteraksi secara
bertahap
 Untuk pearawat: menyuruh
pasien untuk berinteraksi
dengan orang lain agar
tidak selalu
sendirian,melamun dan
diam

42
01-08- Sp3: S: pasien mengatakan
17 1. Evaluasi kegiatan sp1 dan sp2  Iya, saya mengerti ,
Jam “bagaimana mbah apa masih ingat keuntungannya yaitu
09.00 keuntungan dan kerugian banyak teman, bisa di buat
berinteraksi dengan orang lain” ngobrol, bisa bermain.
“dan mbah masih ingat cara  Iya mbg, yang mengerti,
berkenalan dengan teman atau kerugiannya yaitu tidak
perawat bisa ngobrol sama teman”
2. Latihan ADL (kegiatan sehari – dan tidakt mempunyai
hari) cara bicara banyak teman
“Mari mbah kita berlatih  “iya masih ,cara berkenalan
bagaimana cara mengungkapkan yaitu berjabat tangan dan
perasaan mbah saat ini, setelah kita bertanya namanya, dan
tadi melakukan terapi aktivitas alamatnya”
kelompok.”  Mari pak kita berlatih cara
berbicara yang
3. Memasukkan jadwal kegiatan baik,bagaimana pak .
pasien S: pasien mengatakan
“Bagaimana mbah jika latihan  Iya,saya senang karena
mengungkapkan perasaan saat ini banyak teman diajak
kita masukkan jadwal” bermain
S: pasien mengatakan
 Iya mbak saya setuju

O:
 Pasien mampu
mengungkapkan
perasaan saat ini
A:
 Pasien mampu

43
berinteraksi dengan 2
orang atau lebih atau
perawat
P: Untuk pasien:
 Anjurkan pasien untuk
bercerita dengan sesame
teman atau perawat yang
berada diruangan
 Untuk perawat menyuruh
pasien agar mau
mengungkapkan
perasaannya
 SP 3 di hentikan

44
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
DS : Pasien diam
DO : Pasien tampak sering menyendiri, tidak ada kontak mata, ekspresi wajah jarang
tersenyum,pasien tidak komunikatif (tertutup)
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi sosial
3. Tujuan Khusus (TUK)
a. Pasen dapat menjalin BHSP
b. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab isos.
c. Pasien mengetahui keuntungan berinteraksi dengan orang lain
d. Pasien mnegetahui kerugian berinteraksi dengan orang lain
e. Pasien mengetahui cara berkenalan
f. Pasien dapat memasukkan kegiatan berbincang-bincang ke dalam jadwal kegiatan
harian
4. Tindakan Keperawatan
a. BHSP
b. Mengidentifikasi penyebab isos
c. Mendiskusikan dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
d. Mendiskusikan dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan orang lain
e. Menganjurkan pasien sering keluar kamar dan bercakap-cakap dengan pasien lain
f. Mengajarkan pasien cara untuk memasukkan kegiatan untuk berbincang-bincang
ke dalam jadwal harian
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
a. FASE ORIENTASI
1. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, selamat pagi, perkenalkan nama saya perawat Lusi, kalau
boleh tau nama mbah siapa ? Biasanya di panggil siapa mbah ? saya mahasiswa
dari STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO jika mbah butuh bantuan saya
siap membantu.
2. Evaluasi atau Validasi
Bagaimana mbah perasaannya hari ini ? Apa ada keluhan mbah ?
3. Kontrak
Topik : “Bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang tentang masalah
mbah saat ini ? “
Waktu : “Mbah mau berapa lama ? Bagaimana kalau 15 menit ? “
Tempat : “dimana mbah mau berbincang-bincang ? bagaimana kalau di kursi
depan dekat kolam ?
b. FASE KERJA
- Dengan siapa mbah tinggal serumah ? siapa yang paling dekat dengan mbah ? apa
yang membuat mbah jarang mengobrol dengan pasien lainnya ?
- Apa yang mbah rasakan selama dirasakan selama di RSJ Lawang ? apa mbah
merasa kesepian atau sendirian ? siapa saja yang mbah kenal diruangn ini?

45
- Apa saja kegiatan mbah diruangan ini ?
- Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain, contohnya :
Nama saya Lusiani, senang di panggil Lusi. Selanjutnya mbah menanyakan orang
yang diajak kenalan setelah mbah berkenalan mbah bisa melanjutkan percakapan
tentang hal-hal yang menyenangkan seperti : Hobby atau pekerjaan
c. FASE TERMINASI
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan mbah setelah kita berbincang-bincang tadi ?

Evaluasi Obyektif (Perawat)


Bagaimana mbah apakah dapat mengingat apa yang kita pelajari tadi ? Coba
dipraktekkan
2. Rencana Tindak Lnjut
Dipelajari lagi ya mbah apa yang sudah kita pelajari tadi agar dapat lebih siap
untuk berkenalan dengan pasien lain.
3. Kontrak yang akan datang
Topik : saya rasa cukup sampai disini perbincangan kita, kita akan bertemu besok
lagi ya mbah , dengan berinteraksi dengan orang lain .
Waktu : Besok jam 10 kita berbincang-bincang lagi ya mbah ? maunya berapa
lama mbah ?
Tempat : Mbah maunya dimana ? bagaimana kalau disini lagi mbah ? baiklah
terimakasih mbah . assalamualaikum

46
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

Nama : Ny “S” Ruang : Betet No RM : 118394


No Tanggal IMPLEMENTASI EVALUASI
Dx & Jam KEPERAWATAN
1 29 Juli 1. BHSP S : Pasien mangatakan : “ Selamat
2017 Menyapa pasien dengan ramah pagi mbak, saya Ny S dari
baik verbal atau dengan non Tulungagung, pasien mengatakan
verbal dan memperkenalkan malas berinteraksi dengan orang
diri, jelaskan maskutb dan lain, pasien mengatakan jika
tujuan melakukan interaksi berhubungan orang lain akan
2. Mengidentifikasi penyebab menambahkan banyak teman
isos
a. Orang yang tinggal O : pasien mau berjabat tangan.
serumah, orang yang paling Kontak mata mulai ada meskipun
dekat kadang pandangannya beralih,
b. Mendiskusikan penyebab pasien mampu menyebutkan
isos namanya sendiri, suara terdengar
c. Memberikan pujian pada lembut dan kurang, tidak mampu
kemampuan pasien memulai pembicaraan, masih lupa
3. Mendiskusikan dengan pasien degan orang yang diajak
tentang keuntungan dan berkenalan
kerugian bila berinteraksi
dengan orang lain dan tidak A : - kontak mata mulai ada
berinteraksi - masalah teratasi sebagian
4. Mengajarkan pasien tentang a. pasien mampu bina
cara berkenalan hubungan saling percaya
5. Menganjurkan pasien kegiatan b. pasien mampu mengenali
berbincang-bincang dengan penyebab isolasi sosial
orang lain dalam kegiatan c. pasien mampu mengetahui
harian keuntungan berhubungan
dengan orang lain

P : - Intrvensi dilanjutkan ke SP 2
- ulangi tindakan ke 4

47
BAB IV
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah membandingkan teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien
Ny “S” dengan gangguan persepsi sensori halusinasi. Dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Terdapat persamaan antara teori dasar gangguan persepsi sensori halusinasi dengan
pasien kelolaan gangguan persepsi sensori halusinasi baik secara definisi, tanda dan
gejala, factor predisposes, sumber koping, mekanisme koping.
2. Membina hubungan saling percaya dengan klien gangguan persepsi sensori halusinasi
merupakan tindakan utama yang harus dilakukan oleh perawat dalam melakukan
asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi
3. Terapi aktifitas kelompok: gerak yang terprogram dapat membantu memberikan
kegiatan pada klien gangguan persepsi sensori halusinasi selama di rumah sakit
4. Melatih klien berkenalan dan berinteraksi dengan orang lain secara terus menerus
penting dilakukan untuk mengatasi gangguan persepsi sensori halusinasi

1.2 Saran

Dari kesimpulan diatas kami menyarankan sebagai berikut:


1. Dalam memberikan asuhan keperawatan gangguan persepsi sensori halusinasi hendaknya
hubungan salin percaya dilakukan secara bertahap, mulai dari perawat kemudian perawat
lain serta pada klien lainnya
2. Kontrak yang dibuat bersama klien hendaknya dilakukan secara konsisten
3. Terapi aktivitas kelompok stimulus hendaknya dilakukan secara teratur
4. Memberikan reinforcement positif setiap melakukan kegiatan

48
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna, dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN (Basic Course).
Jakarta : EGC

Keliat, Budi Anna, dkk. 2009. Model Praktek Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC

Keliat, Budi Anna, dkk. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC

Stuart, Gail W & Laraian. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta EGC

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Diagnosis NANDA, Intervensi
NIC, Kriteria Hasil NOC

49