Vous êtes sur la page 1sur 10

ANALISIS MODEL 4 TAHAP

PERENCANAAN TRANSPORTASI
Posted by Education World on Tuesday, 15 September 2015

4 Model Tahap Perencanaan Transportasi - Masalah transportasi atau perhubungan


merupakan masalah yang selau dihadapi oleh negara-negara berkembang tak terkecuali
Indonesia. Masalah transportasi ini menimbulkan berbagai permasalahan di kalangan
masyarakat seperti kemacetan lalu lintas (congestion), keterlambatan (delay), polusi udara,
polusi suara, dll. Tingkat pertumbuhan kendaraan yang jauh lebih tinggi dibandingkan
pertumbuhan ruas sarana transportasi menjadi salah satu penyebab masalah transportasi sulit
untuk diselesaikan.

Dalam mengatasi masalah transportasi, perlu adanya perencanaan suatu sistem


transportasi baik jangka panjang (25 tahun), menengah (10 tahun), maupun jangka pendek (5
tahun). Dalam melakukan perencanaan, biasanya para ahli menggunakan berbagai pendekatan
dan metode analisa. Salah satu metode analisa transportasi yang paling umum digunakan di
dunia adalah 4 tahap model transportasi (4 stage transportation model). Metode ini mengaitkan
interaksi antara sistem kegiatan (tata guna tanah) dengan sistem jaringan dan sistem
pergerakan. Isi dari 4 tahap model transportasi itu antara lain :
1. Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation)
2. Distribusi pergerakan lalu lintas (Trip Distribution)
3. Pemilihan moda angkutan (Modal choice/modal split)
4. Pembebanan lalu lintas (Trip Assignment)
Berikut akan dijelaskan tentang masing-masing tahapan model transportasi :
1. Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation)
Bagian ini merupakan tahapan permodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan
yang berasal dari suatu zona atau tataguna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu
zona atau tata guna lahan. Bangkitan lalu lintas ini mencakup lalu lintas yang meninggalkan
lokasi (trip production) dan lalu lintas yang menuju ke suatu lokasi (trip attraction).
Pergerakan lalu lintas ini biasanya bertipe 3 aliran, yakni home-based work trips (HBW), home-
based other (or non-work) trips (HBO), dan non-home –based trips (NHB). Tipe tipe lalu lintas
diatas sangat dipengaruhi oleh tipe tataguna lahan (pemukiman, perkantoran, dll) dan jumlah
aktivitas dan intensitas pada tataguna lahan tersebut. Sebagai contoh, daerah perkantoran
merupakan trip generation yang puncak frekuensi nya terjadi saat pagi dan sore saja. Selain
itu, daerah pemukiman bertipe padat seperti apartemen akan membangkitkan lalu lintas lebih
besar dibandingkan rumah di daerah pedesaan. Oleh karena itulah trip generation ini sangat
dipengaruhi tipe tata guna dan intensitas tata guna lahan tersebut.
2. Distribusi pergerakan lalu lintas (Trip Distribution)
Bagian ini merupakan tahapan permodelan yang memperkirakan sebaran pergerakan
yang meninggalkan suatu zona atau yang menuju suatu zona. Meskipun demikian, trip
distribution sering disebut dnegan production-attraction pairs dibandingkan origin-destination
pairs. Model distribusi ini merupakan suatu pilihan jalan menuju destinasi yang diinginkan,
biasanya direpresentasikan dalam bentuk garis keinginan (desire line) atau dalam bentuk
matriks asal tujuan (MAT). Pola distribusi lalu lintas antara zona asal dan tujuan adalah hasil
dari dua hal yang terjadi secara bersamaan yakni lokasi dan intensiatas tata guna lah dan
interaksi antara 2 buah tata guna lahan. Tahap 2 ini juga menentukan apakah tipe penghubung
tersebut terpusat satu jalur atau tersebar. Biasanya factor paling menentukan dari trip
distribution adalah spatial separation dan biaya. Tata guna tanah cenderung menarik lalu lintas
dari tempat yang lebih dekat dibandingkan dengan tempat yang jauh.

3. Pemilihan Moda (Modal choice/modal split)


Setelah adanya bangkitan dan pemilihan tipe distribusi, tahapan model transportasi
selanjutnya adalah memilih bagaimana interaksi dari production dan attraction itu dilakukan.
Pemilihan moda transportasi bergantung dari tingkat ekonomi dari pemilik tata guna lahan dan
biaya transportasi dari moda angkutan. Orang dengan ekonomi tinggi cenderung memilih mode
angkutan pribadi dibandingkan mode angkutan umum. Jika terdapat lebih dari satu moda, moda
yang dipilih biasanya yang memiliki rute terpendek, tercepat atau termurah, atau kombinasi
ketiganya.
4. Pembebanan lalu lintas (Trip Assignment)
setelah dipilihnya tipe moda angkutan dan jalur distribusi, maka akan timbulah aliran
volume lalu lintas. Pada tahapan ini, pengaturan akan arus lalu lintas akan dilakukan. Bila
diketahui suatu jalur distribusi memiliki beban volume yang padat, maka planner bisa
mengalihkan satu jalur lainnya ke jalur yang lain sehingga menjadi tinggal satu jalur. Pemilihan
rute baru tetap memperhitungkan alternative terpendek, tercepat, termurah, dan juga
diasumsikan bahwa pemakai jalan mempunyai informasi cukup tentang kemacetan, kondisi
jalan, dll.
Meskipun model transportasi diciptakan dengan baik, namun dalam pelaksanaannya
harus dilakukan penambahan ataupun sedikit modifikasi disesuaikan dengan kondisi tat guna
lahan yang akan diatur. Model transportasi umumnya memiliki kelebihan :
 Pengumpulan dan pengorganisasian survei data yang lengkap. Karena tahapan pertama dari
model ini adalah menganalisa tipe generation dimana pada tahap tersebut kita terlebih dahulu
mengetahui secara pasti bagaimana dan seberapa banyak pemilik tata guna lahan di daerah
tersebut.
 Mampu menganalisa aspek operasional seperti volume lalu lintas, kapasitas jalan, dan jumlah
perjalanan untuk menentukan waktu perjalanan dan keterlambatan. Karena kita telah
mengetahui jumlah bangkitan dari production dan attraction serta tipe distribusi, sehingga kita
akan mengetahui seberapa besar volume lalu lintas di suatu daerah tersebut bergantung tipe
guna lahannya. Dengan itu, kita bisa mengetahui volumenya untuk menentukan efisiensi jalur
dan meminimalisir terjadinya delay.
 Mampu memperkirakan tipe jalur distribusi yang akan dibangun bergantung tipe generation
yang ada apakah home-based work trips (HBW), home-based other (or non-work) trips (HBO),
dan non-home –based trips (NHB). Pada umumnya tata guna lahan bertipe home-based other
(or non-work) trips (HBO) memiliki bangkitan volume yang lebih besar dibandingkan tipe lain
sehingga perlu dipikirkan tentang jalur distribusi yang sesuai.
Akan tetapi, meskipun telah digunakan cukup lama, sistem ini tetap memiliki
kelemahan. Kelemahan tersebut antara lain :
 Model ini memiliki kemampuan terbatas dalam memprediksi penggunaan moda angkutan
publik. Hal ini disebabkan karena asumsi data yang digunakan bersifat eksternal seperti
penghasilan, kepemilikan mobil, jumlah populasi, dll. Padahal kita juga harus
memperhitungkan faktor lainnya seperti harga bahan bakar, biaya pengoperasian angkutan
pribadi, tariff parkir, dll yang mempengaruhi keputusan pemilik tata guna lahan untuk
menggunakan antara angkutan pribadi atau moda transportasi publik
 Model ini tidak cocok dalam mengembangkan jalur transportasi barang. Hal ini disebabkan
karena model ini cenderung hanya berfokus pada aliran mobil pribadi berdasarkan tipe
kepemilikan tata guna lahan dan menggunakan asumsi eksternal.
 Tipe model ini juga kurang dalam pembuatan, penerapan, serta pengontrolan kebijakan.
Karena penyusunan metode ini tidak melibatkan aspek dinamis. Metode ini biasanya
melakukan pengambilan keputusan berdasarkan titik equilibrium dari input yang tersedia.
Padahal dalam pelaksanaanya, transportasi bersifat dinamis dimana apa yang terjadi tidaklah
sesuai dengan asumsi yang digunakan sehingga kebijakan mungkin saja terus berubah selama
transportasi bersifat dinamis in
Konsep perencanaan transportasi yang paling populer adalah MODEL
PERENCANAAN TRANSPORTASI EMPAT TAHAP (FOUR STAGES
TRANSPORT MODEL), yang terdiri dari:

1. Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation)


2. Distribusi pergerakan lalu lintas (Trip Distribution)
3. Pemilihan moda (Modal choice/modal split)
4. Pembebanan lalu lintas (Trip assignment)

Bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation)


Adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang
berasal dari suatu zona atau tataguna lahan dan jumlah pergerakan yang
tertarik ke suatu zona atau tataguna lahan.
Bangkitan lalu lintas ini mencakup:
􀂾 Lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi (trip production)
􀂾 Lalu lintas yang menuju ke suatu lokasi (trip attraction)
Bagkitan lalu lintas tergantung dari 2 aspek tataguna lahan:
a. Tipe tataguna lahan
Tipe tataguna lahan yang berbeda (pemukiman, pendidikan, dll) mempunyai
karakteristik bangkitan yang berbeda:
- jumlah arus lalu lintas
- jenis lalu lintas (pejalan kaki, truk, mobil)
- waktu yang berbeda (contoh: kantor menghasilkan lalu lintas pada pagi dan
sore).

b. Jumlah aktivitas (dan intensitas) pada tataguna lahan tersebut


Semakin tinggi tingkat penggunaan sebidang tanah, semakin tinggi lalu lintas
yang dihasilkan. Salah satu ukuran intensitas aktivitas sebidang tanah adalah
kepadatannya.

Distribusi pergerakan lalu lintas (Trip Distribution)


Adalah tahapa pemodelan yang memperkirakan sebaran pergerakan yang
meninggalkan suatu zona atau yang menuju suatu zona.

Untuk Setiap Pasangan Zona (ij), Berapa Arus dari zona (i) ke zona (j);
Distribusi pergerakan dapat direpresentasikan dalam bentuk garis keinginan
(desire line) atau dalam bentuk Matriks Asal Tujuan, MAT (origin-destination
matrix/O-D matrix).

Gambar. Garis keinginan


Pola distribusi lalu lintas antara zona asal dan tujuan adalah hasil dari dua hal
yang terjadi secara bersamaan yaitu:
􀂾 Lokasi dan intensitas tataguna lahan yang akan menghasilkan lalu lintas
􀂾 Spatial separation (pemisahan ruang), interaksi antara 2 buah tataguna lahan
akan menghasilkan pergerakan.

a. Intensitas tataguna tanah


Makin tinggi tingkat aktivitas suatu tataguna tanah, makin tinggi
kemampuannya menarik lalu lintas.
Contoh: Supermarket menarik lalu lintas lebih banyak dibandingkan rumah
sakit (untuk luas yang sama).

b. Spatial separation
Jarak antara dua buah tataguna lahan merupakan batasan dari adanya
pergerakan. Jarak yang jauh atau biaya yang besar membuat pergerakan
antara dua buah zona menjadi lebih sulit.

c. Spatial separation dan intensitas tataguna lahan


Daya tarik suatu tataguna lahan berkurang dengan meningkatnya jarak (efek
spatial separation). Tataguna tanah cenderung menarik lalu lintas dari tempat
yang lebih dekat dibandingkan dengan tempat yang jauh.

Jumlah lalu lintas antara dua buah tataguna lahan tergantung dari intensitas
kedua tataguna lahan dan spatial separation (jarak, waktu, dan biaya).

Pemilihan moda (Modal choice/modal split)


Jika terjadi interaksi antara dua tataguna tanah, seseorang akan memutuskan
bagaimana interaksi tersebut dilakukan. Biasanya interaksi tersebut
mengharuskan terjadinya perjalanan. Dalam kasus ini keputusan harus
ditentukan dalam hal pemilihan moda yang mana:
􀂾 Pilihan pertama biasanya antara jalan kaki atau menggunakan kendaraan.
􀂾 Jika kendaraan harus digunakan, apakah kendaraan pribadi (sepeda, sepeda
motor, mobil, dll) atau angkutan umum (bus, becak, dll).
􀂾 Jika angkutan umum yang digunakan, jenis apa yang akan digunakan
(angkot, bus, kereta api, pesawat, dll).

Pemilihan moda transportasi sangat tergantung dari:


1. Tingkat ekonomi/income -> kepemilikan
2. Biaya transport

Orang yang mempunyai satu pilihan moda disebut dengan captive terhadap
moda tersebut. Jika terdapat lebih dari satu moda, moda yang dipilih biasanya
yang mempunyai rute terpendek, tercepat atau termurah, atau kombinasi
ketiganya. Faktor lain yang mempengaruhi adalah ketidaknyamanan dan
keselamatan.

Pembebanan lalu lintas (Trip assignment)


􀂾 Kendaraan pribadi, rute yang dipilih sembarang
􀂾 Kendaraan umum, rute sudah tertentu

Pemilihan rute tergantung dari alternatif terpendek, tercepat, termurah, dan


juga diasumsikan bahwa pemakai jalan mempunyai informasi yang cukup
tentang kemacetan, kondisi jalan, dll, sehingga mereka dapat menentukan rute
terpendek. Hasil akhir dari tahap ini adalah diketahuinya volume lalu lintas pada
setiap rute.

Arus lalulintas dinamis


Arus lalulintas berinteraksi dengan sistem jaringan transportasi. Jika arus lalu
lintas meningkat, waktu tempuh pasti bertambah karena kecepatan menurun.
Arus maksimum yang dapat melewati suatu ruas jalan biasa disebut
kapasitas ruas jalan tersebut. Arus maksimum yang dapat melewati suatu ttitik
(biasanya pada persimpangan dengan lampu lalulintas biasa) disebut arus
jenuh. Highway Capacity Manual mendefinisikan kapasitas jalan sebagai
“jumlah kendaraan maksimum yang dapat bergerak dalam periode waktu
tertentu.

Kapasitas ruas jalan biasanya dinyatakan dengan kendaraan (atau dalam


Satuan Mobil Penumpang/SMP) per jam. Hubungan antara arus dan waktu
tempuh tidaklah linear. (lihat gambar).