Vous êtes sur la page 1sur 22

TINJAUAN TEORI

A. DEFENISI ASMA
Asma adalah kondisi berulang dimana rangsangan tertentu mencetuskan saluran
pernafasan menyempit untuk sementara waktu sehingga membuat kesulitan bernafas.
Meskipun asma dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering terjadi pada anak-
anak, terutama sekali pada anak mulai usia 5 tahun. Beberapa anak menderita asma
sampai mereka usia dewasa; namun dapat disembuhkan. Kebanyakan anak-anak pernah
menderita asma. Para Dokter tidak yakin akan hal ini, meskipun hal itu adalah teori.
Lebih dari 6 % anak-anak terdiagnosa menderita asma, 75 % meningkat pada akhir-akhir
ini. Meningkat tajam sampai 40 % di antara populasi anak di kota.
Beberapa orang ilmuan memberikan definisi tentang asma , antara lain : Asma
adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode
bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996). Asma
adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme
yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996). Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif
intermiten, reversibel dimana trakea dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap
stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001). Dari ketiga pendapat tersebut dapat
diketahui bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten
yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan
respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan
penyempitan jalan nafas.

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERNAFASAN


1) Anatomi saluran nafas
Gambar 1
Organ-organ pernafasan
a) Hidung
Merupakan saluran udara pertama yang mempunyai 2 lubang, dipisahkan oleh
sekat hidung. Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang berfungsi untuk menyaring
dan menghangatkan udara (Hidayat, 2006).
b) Tekak (faring)
Merupakan persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, terdapat di
dasar tengkorak, di belakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas
tulang leher. Terdapat epiglotis yang berfungsi menutup laring pada waktu
menelan makanan.
c) Laring (pangkal tenggorok)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di
depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam
trakea di bawahnya.
d) Trakea (batang tenggorok)
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri
dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Sebelah
dalam diliputi oleh sel bersilia yang berfungsi untuk mengeluarkan benda-benda
asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Percabangan trakea
menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.
e) Bronkus (cabang tenggorokan)
Merupakan lanjutan dari trakea yang terdiri dari 2 buah pada ketinggian vertebra
torakalis IV dan V.
f) Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-
gelembung hawa (alveoli). Alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika
dibentangkan luas permukaannya ± 90 meter persegi, pada lapisan inilah terjadi
pertukaran udara.

C. ETIOLOGI
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh :
1. Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.
2. Pembengkakan membran bronkus.
3. Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma bronkhial.
1. Faktor predisposisi.
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi
biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya
bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asthma bronkhial jika
terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya
juga bisa diturunkan.
2. Faktor Presipitasi (Pencetus )
1) Alergen.
Dimana alergen dibagi menjadi tiga jenis , yaitu :
a. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan. Seperti debu, bulu binatang,
serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
b. Ingestan, yang masuk melalui mulut. Seperti makanan dan obat-obatan.
c. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit. seperti : perhiasan, logam
dan jam tangan
2) Perubahan cuaca.
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan
asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan,
musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk
bunga dan debu.
3) Stress.
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang
timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress atau gangguan
emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika
stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4) Lingkungan kerja .
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada
waktu libur atau cuti
5) Olahraga atau aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai
aktifitas tersebut.

D. PATOFISIOLOGI
Asma ialah penyakit paru dengan cirri khas yakni saluran napas sangat mudah
bereaksi terhadap barbagai ransangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan
asma. Kelainan yang didapatkan adalah: Otot bronkus akan mengkerut ( terjadi
penyempitan) Selaput lendir bronkus udema Produksi lendir makin banyak, lengket dan
kental, sehingga ketiga hal tersebut menyebabkan saluran lubang bronkus menjadi
sempit dan anak akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas. Serangan tersebut dapat
hilang sendiri atau hilang dengan pertolongan obat. Pada stadium permulaan serangan
terlihat mukosa pucat, terdapat edema dan sekresi bertambah. Lumen bronkus
menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti embuluh darah, infiltrasi sel eosinofil dalam
secret didlam lumen saluran napas. Jika serangan sering terjadi dan lama atau menahun
akan terlihat deskuamasi (mengelupas) epitel, penebalan membran hialin bosal,
hyperplasia serat elastin, juga hyperplasia dan hipertrofi otot bronkus. Pada serangan
yang berat atau pada asma yang menahun terdapat penyumbatan bronkus oleh mucus
yang kental.
Pada asma yang timbul akibat reaksi imunologik, reaksi antigen – antibody
menyebabkan lepasnya mediator kimia yang dapat menimbulkan kelainan patologi tadi.
Mediator kimia tersebut adalah:
a. Histamin.
 Kontraksi otot polos
 Dilatasi pembuluh kapiler dan kontraksi pembuluh vena, sehingga terjadi edema
 Bertambahnya sekresi kelenjar dimukosa bronchus, bronkhoilus, mukosaa, hidung
dan mata
b. Bradikinin.
 Kontraksi otot polos bronchus.
 Meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.
 Vasodepressor (penurunan tekanan darah).
 Bertambahnya sekresi kelenjar peluh dan ludah.
c. Prostaglandin.
 bronkokostriksi (terutama prostaglandin F)

E. KLASIFIKASI ASMA PADA ANAK


Pembagian asma menurut Phelan dkk (1983) adalah sebagai berikut :
a. Asma episodik jarang.
Golongan ini merupakan 70–75% dari populasi asma anak. Biasanya terdapat pada
anak umur 3–6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi virus saluran
napas atas. Banyaknya serangan 3–4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan
paling lama hanya beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat.
Gejala-gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi dapat
berlangsung sekitar 3–4 hari dan batuknya dapat berlangsung 10–14 hari. Waktu
remisinya bermingu-minggu sampai berbulan-bulan. Manifestasi alergi lainnya
misalnya eksim jarang didapatkan. Tumbuh kembang anak biasanya baik. Di luar
serangan tidak ditemukan kelainan lain.
b. Asma episodik sering.
Golongan ini merupakan 28% dari populasi asma anak. Pada dua pertiga golongan
ini serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan, serangan
berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas. Pada umur 5–6 tahun dapat
terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya
dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik dan stress. Banyaknya
serangan 3−4 kali dalam satu tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai
beberapa minggu. Frekuensi serangan paling banyak pada umur 8−13 tahun. Pada
golongan lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau
persisten. Umumnya gejala paling buruk terjadi pada malam hari dengan batuk dan
mengi yang dapat mengganggu tidur.
Pemeriksaan fisik di luar serangan tergantung pada frekuensi serangan. Jika waktu
serangan lebih dari 1−2 minggu, biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Hay fever
dan eksim dapat ditemukan pada golongan ini. Pada golongan ini jarang ditemukan
gangguan pertumbuhan.
c. Asma kronik atau persisten.
Pada 25% anak serangan pertama terjadi sebelum umur 6 bulan, 75% sebelum umur
3 tahun. Pada 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan pada
50% sisanya serangan episodik. Pada umur 5−6 tahun akan lebih jelas terjadinya
obstruksi saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari.
Dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan memerlukan perawatan di
rumah sakit. Obstruksi jalan napas mencapai puncaknya pada umur 8–14 tahun.
Pada umur dewasa muda 50% dari golongan ini tetap menderita asma persisten atau
sering. Jarang yang betul-betul bebas mengi pada umur dewasa muda. Pada
pemeriksaan fisik dapat terjadi perubahan bentuk toraks seperti dada burung (pigeon
chest), dada tong (barrel chest) dan terdapat sulkus Harrison. Pada golongan ini
dapat terjadi gangguan pertumbuhan, yaitu bertubuh kecil. Kemampuan aktivitas
fisiknya sangat berkurang, sering tidak dapat melakukan kegiatan olahraga dan
kegiatan biasa lainnya. Sebagian kecil ada juga yang mengalami gangguan
psikososial.
Disamping tiga golongan besar tersebut diatas terdapat bentuk asma yang tidak
dapat begitu saja dimasukkan ke dalamnya.
a. Asma episodik berat atau berulang.
Dapat terjadi pada semua umur, biasanya pada anak kecil dan umur prasekolah.
Serangan biasanya berat dan sering memerlukan perawatan di rumah sakit. Biasanya
berhubungan dengan infeksi saluran napas. Di luar serangan biasanya normal dan
tanda-tanda alergi tidak menonjol. Serangan biasanya hilang pada umur 5−6 tahun.
Tidak terdapat obstruksi saluran napas yang persisten.
b. Asma persiten.
Mengi yang persisten dengan takipnea untuk beberapa hari atau beberapa minggu.
Keadaan mengi yang persisten ini kemungkinan besar berhubungan dengan kecilnya
saluran napas pada anak golongan umur ini. Terjadi pada beberapa anak umur 3−12
bulan. Mengi biasanya terdengar jelas jika anak sedang aktif. Keadaan umum anak
dan tumbuh kembang biasanya tetap baik, bahkan beberapa anak menjadi gemuk
sehingga ada istilah “fat happy wheezer”. Gambaran rontgen paru biasanya normal.
Gejala obstruksi saluran napas disebabkan oleh edema mukosa dan hipersekresi
daripada spasme otot bronkusnya.
c. Hipersekresi.
Biasanya terdapat pada anak kecil dan permulaan umur sekolah. Gambaran utama
serangan adalah batuk, suara napas berderak dan mengi. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan ronkhi basah kasar dab ronkhi kering.
d. Asma karena beban fisik.
Serangan asma setelah melakukan kegiatan fisik sering dijumpai pada asma episodik
sering dan pada asma kronik persisten. Disamping itu terdapat golongan asma yang
manifestasi klinisnya baru timbul setelah ada beban fisik yang bertambah. Biasanya
pada anak besar dan akil baliq.
e. Asma dengan alergen atau sensitivitas spesifik.
Pada kebanyakan asma anak, biasanya terdapat banyak faktor yang dapat
mencetuskan serangan asma, tetapi pada anak yang serangan asmanya baru timbul
segera setelah terkena alergen, misalnya bulu binatang, minum aspirin, zat warna
tartrazine, makan makanan atau minum minuman yang mengandung zat pengawet.
f. Batuk malam.
Banyak terdapat pada semua golongan asma. Batuk terjadi karena inflamasi mukosa,
edema dan produksi mukus yang banyak. Bila gejala menginya tidak jelas sering
salah didiagnosis, yaitu pada golongan asma anak yang berumur 2−6 tahun dengan
gejala utama serangan batuk malam yang keras dan kering. Batuk biasanya terjadi
pada jam 1−4 pagi. Pada golongan ini sering didapatkan tanda adanya alergi pada
anak dan keluarganya.
g. Asma yang memburuk pada pagi hari.
Golongan yang gejalanya paling buruk jam 1−4 pagi. Keadaan demikian dapat
terjadi secara teratur atau intermitten. Keadaan ini diduga berhubungan dengan
irama diurnal caliber saluran napas, yang pada golongan ini sangat menonjol.

F. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinik pada pasien asthma adalah batuk, dyspne, dari wheezing. Dan
pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada pada penderita yang sedang
bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, sedangkan waktu serangan tampak
penderita bernafas cepat, dalam, gelisah, duduk dengan tangan menyanggah ke depan
serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Ada beberapa tingkatan
penderita asma yaitu :
1. Tingkat I :
Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru. Timbul bila
ada faktor pencetus baik di dapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di
laboratorium.
2. Tingkat II :
Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya
tanda-tanda obstruksi jalan nafas. Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh
serangan.
3. Tingkat III :
Tanpa keluhan.Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan
nafas.Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4. Tingkat IV :
Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. Pemeriksaan fisik
dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
5. Tingkat V :
Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang
berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. Asma pada
dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Pada asma yang
berat dapat timbul gejala seperti : Kontraksi otot-otot pernafasan, cyanosis, gangguan
kesadaran, penderita tampak letih, takikardi.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale :
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas
b. Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.
c. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun
penjelasan penyakit.
Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :
a. Pengobatan dengan obat-obatan
Seperti :
1) Beta agonist (beta adrenergik agent)
2) Methylxanlines (enphy bronkodilator)
3) Anti kolinergik (bronkodilator)
4) Kortikosteroid
5) Mast cell inhibitor (lewat inhalasi)
b. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :
1) Oksigen 4-6 liter/menit.
2) Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg)
inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam.
Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose 5%
diberikan perlahan.
3) Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12
jam.
4) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau
klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah mengancam pada
gangguan keseimbanga asam basa dan gagal nafas, pneumonia, bronkhiolitis, chronic
persistent bronchitis, emphysema.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis asma berdasarkan :
1. Anamnesis : riwayat perjalanan penyakit, factor-faktor yang berpengaruh terhadap
asma, riwayat keluarga dan adanya riwayat alergi serta gejala klinis.
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan laboratorium : darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum
(eosinofil, spiral Curshman, kristal Charcot-Leyden).
4. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya
obstruksi jalan nafas.
J. WOC
ASUHAN KEPERAWATAN ASMA
A. Pengkajian
1. Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.
Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang
sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi
saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang
jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen,
aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada
umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3
tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang
persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada
perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
2. Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas
3. Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
4. Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
5. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor
yang lain.
6. Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau,
serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak
wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu
udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya
serangan asma.
7. Riwayat tumbuh kembang
a. Tahap pertumbuhan
 Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti
patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB
pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7
kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3
kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter
menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi
ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm,
dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5
cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.
b. Tahap perkembangan
 Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak
punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli
maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu
percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
 Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/
falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin
berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra
komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
 Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu
fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ).
Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep
waktu belum benar dan magical thinking.
 Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan
kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu,
mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut
oleh keluarga.
 Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu
atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
 Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek, pendek-tinggi,
baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran
tubuhnya dengan kelompoknya.
 Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “.
Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di
kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan
sedikit atau tidak protes.
 Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata
pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat.
Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan
nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
 Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya,
lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai
pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
 Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang
mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan
kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda
dengan roda tiga.

8. Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG,
POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
9. Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6
tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan
rumus 8 + 2n.
 Status Gizi

Klasifikasinya sebagai berikut :

 Gizi buruk kurang dari 60%


 Gizi kurang 60 % - <80 %

 Gizi baik 80 % - 110 %

 Obesitas lebih dari 120 %

10. Dampak Hospitalisasi


 Sumber stressor :

 Perpisahan

 Protes : pergi, menendang, menangis

 Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi

 Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi

 Kehilangan kontrol: ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan,


ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut.

 Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit.

 Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan.

B. Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem


1. Sistem Pernapasan / Respirasi
Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan
otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2dan penurunan O2,sianosis, perkusi
hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering
musikal.
2. Sistem Cardiovaskuler
Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan.
3. Sistem Persyarafan / neurologi
Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng?
apatis? sopor? coma.
4. Sistem perkemihan
Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas
5. Sistem Pencernaan / Gastrointestinal
Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum,
mukosa mulut kering.
6. Sistem integumen
Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas.

C. INTERVENSI
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI
KEPERAWATAN HASIL
1 Gangguan pertukaran gas NOC : NIC :
yang berhubungan dengan  Respiratory Status : Gas Airway Management
ketidaksamaan perfusi- exchange  Buka jalan nafas, guanakan
ventilasi  Respiratory Status : teknik chin lift atau jaw
ventilation thrust bila perlu
Definisi : Kelebihan atau  Vital Sign Status  Posisikan pasien untuk
kekurangan dalam Kriteria Hasil : memaksimalkan ventilasi
oksigenasi dan atau  Mendemonstrasikan  Identifikasi pasien perlunya
pengeluaran karbondioksida peningkatan ventilasi dan pemasangan alat jalan
di dalam membran kapiler oksigenasi yang adekuat nafas buatan
alveoli  Memelihara kebersihan paru  Pasang mayo bila perlu
Batasan karakteristik : paru dan bebas dari tanda  Lakukan fisioterapi dada
 Gangguan penglihatan tanda distress pernafasan jika perlu
 Penurunan CO2  Mendemonstrasikan batuk  Keluarkan sekret dengan
 Takikardi efektif dan suara nafas yang batuk atau suction
 Hiperkapnia bersih, tidak ada sianosis  Auskultasi suara nafas,
 Keletihan dan dyspneu (mampu catat adanya suara
 Somnolen mengeluarkan sputum, tambahan
mampu bernafas dengan  Lakukan suction pada
 Iritabilitas
mudah, tidak ada pursed mayo
 Hypoxia
lips)  Berika bronkodilator bial
 Kebingungan  Tanda tanda vital dalam
 Dyspnoe perlu
rentang normal  Barikan pelembab udara
 Nasal faring
 AGD Normal  Atur intake untuk cairan
 Sianosis warna kulit mengoptimalkan
abnormal (pucat, keseimbangan.
kehitaman)  Monitor respirasi dan
 Hipoksemia status O2 Respiratory
 Hiperkarbia
Monitoring
 sakit kepala ketika bangun
 Monitor rata – rata,
 frekuensi dan kedalaman
kedalaman, irama dan
nafas abnormal
usaha respirasi
 Catat pergerakan
Faktor faktor yang
dada,amati kesimetrisan,
berhubungan :
penggunaan otot tambahan,
 ketidakseimbangan perfusi
retraksi otot
ventilasi
supraclavicular dan
 perubahan membran intercostal
kapiler-alveolar
 Monitor suara nafas,
seperti dengkur
 Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
 Catat lokasi trakea
 Monitor kelelahan otot
diagfragma (gerakan
paradoksis)
 Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan / tidak
adanya ventilasi dan suara
tambahan
 Tentukan kebutuhan
suction dengan
mengauskultasi crakles dan
ronkhi pada jalan napas
utama
 Auskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya
2 Bersihan jalan nafas tidak NOC : NIC :
efektif berhubungan  Respiratory status : Airway Management
denganbronkokonstriksi, Ventilation  Buka jalan nafas, guanakan
peningkatan produksi lender,  Respiratory status : Airway teknik chin lift atau jaw
batuk tidak efektif dan patency thrust bila perlu
infeksi bronkopulmonal.  Aspiration Control  Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Definisi : Ketidakmampuan Kriteria Hasil :  Identifikasi pasien perlunya
untuk membersihkan sekresi  Mendemonstrasikan batuk pemasangan alat jalan
atau obstruksi dari saluran efektif dan suara nafas yang nafas buatan
pernafasan untuk bersih, tidak ada sianosis  Pasang mayo bila perlu
mempertahankan kebersihan dan dyspneu (mampu  Lakukan fisioterapi dada
jalan nafas. mengeluarkan sputum, jika perlu
Batasan Karakteristik : mampu bernafas dengan  Keluarkan sekret dengan
 Dispneu, Penurunan suara mudah, tidak ada pursed batuk atau suction
nafas lips)  Auskultasi suara nafas,
 Orthopneu  Menunjukkan jalan nafas catat adanya suara
 Cyanosis\ yang paten (klien tidak tambahan
 Kelainan suara nafas (rales, merasa tercekik, irama  Lakukan suction pada
wheezing) nafas, frekuensi pernafasan mayo
 Kesulitan berbicara dalam rentang normal, tidak  Berikan bronkodilator bila
 Batuk, tidak efekotif atau ada suara nafas abnormal) perlu
tidak ada  Mampu mengidentifikasikan  Berikan pelembab udara
 Mata melebar dan mencegah factor yang Kassa basah NaCl Lembab
 Produksi sputum dapat menghambat jalan  Atur intake untuk cairan
 Gelisah nafas mengoptimalkan
 Perubahan frekuensi dan keseimbangan.
irama nafas  Monitor respirasi dan
status O2
Faktor-faktor yang
berhubungan:
 Lingkungan : merokok,
menghirup asap rokok,
perokok pasif-POK, infeksi
 Fisiologis : disfungsi
neuromuskular, hiperplasia
dinding bronkus, alergi
jalan nafas, asma.
 Obstruksi jalan nafas :
spasme jalan nafas, sekresi
tertahan, banyaknya
mukus, adanya jalan nafas
buatan, sekresi bronkus,
adanya eksudat di alveolus,
adanya benda asing di jalan
nafas.
3 Pola pernafasan tidak efektif NOC : NIC :
berhubungan dengannafas  Respiratory status : Airway Management
pendek, lender, Ventilation  Buka jalan nafas,
bronkokonstriksi dan iritan  Respiratory status : Airway guanakan teknik chin lift
jalan nafas. patency atau jaw thrust bila perlu
 Vital sign Status  Posisikan pasien untuk
Definisi : Pertukaran udara Kriteria Hasil : memaksimalkan ventilasi
inspirasi dan/atau ekspirasi  Mendemonstrasikan batuk  Identifikasi pasien
tidak adekuat efektif dan suara nafas yang perlunya pemasangan alat
bersih, tidak ada sianosis jalan nafas buatan
Batasan karakteristik : dan dyspneu (mampu  Pasang mayo bila perl
 Penurunan tekanan mengeluarkan sputum,  Lakukan fisioterapi dada
inspirasi/ekspirasi mampu bernafas dengan jika perlu
 Penurunan pertukaran mudah, tidak ada pursed  Keluarkan sekret dengan
udara per menit lips) batuk atau suction
 Menggunakan otot  Menunjukkan jalan nafas  Auskultasi suara nafas,
pernafasan tambahan yang paten (klien tidak catat adanya suara
 Nasal flaring merasa tercekik, irama tambahan
 Dyspnea nafas, frekuensi pernafasan  Lakukan suction pada
 Orthopnea dalam rentang normal, tidak mayo
 Perubahan penyimpangan ada suara nafas abnormal)  Berikan bronkodilator bila
dada  Tanda Tanda vital dalam perlu
 Nafas pendek rentang normal (tekanan  Berikan pelembab udara
 Assumption of 3-point darah, nadi, pernafasan) Kassa basah NaCl Lembab
position  Atur intake untuk cairan
 Pernafasan pursed-lip mengoptimalkan
 Tahap ekspirasi keseimbangan.
berlangsung sangat lama  Monitor respirasi dan
 Peningkatan diameter status O2
anterior-posterior
 Pernafasan rata- Terapi Oksigen
rata/minimal  Bersihkan mulut, hidung
 Bayi : < 25 atau > 60 dan secret trakea
 Usia 1-4 : < 20 atau >  Pertahankan jalan nafas
30 yang paten
 Usia 5-14 : < 14 atau >  Atur peralatan oksigenasi
25  Monitor aliran oksigen
 Usia > 14 : < 11 atau >  Pertahankan posisi pasien
24  Onservasi adanya tanda
 Kedalaman pernafasan tanda hipoventilasi
 Dewasa volume  Monitor adanya
tidalnya 500 ml saat kecemasan pasien
istirahat terhadap oksigenasi
 Bayi volume tidalnya
6-8 ml/Kg Vital sign Monitoring
 Timing rasio  Monitor TD, nadi, suhu,
 Penurunan kapasitas vital dan RR
Faktor yang berhubungan :  Catat adanya fluktuasi
 Hiperventilasi tekanan darah
 Deformitas tulang  Monitor VS saat pasien
 Kelainan bentuk dinding berbaring, duduk, atau
dada berdiri
 Penurunan energi/kelelahan  Auskultasi TD pada kedua
 Perusakan/pelemahan lengan dan bandingkan
muskulo-skeletal  Monitor TD, nadi, RR,
 Obesitas sebelum, selama, dan
 Posisi tubuh setelah aktivitas
 Kelelahan otot pernafasan  Monitor kualitas dari nadi
 Hipoventilasi sindrom  Monitor frekuensi dan
 Nyeri irama pernapasan
 Kecemasan  Monitor suara paru
 Disfungsi Neuromuskuler  Monitor pola pernapasan
 Kerusakan abnormal
persepsi/kognitif  Monitor suhu, warna, dan
 Perlukaan pada jaringan kelembaban kulit
syaraf tulang belakang  Monitor sianosis perifer
 Imaturitas Neurologis  Monitor adanya cushing
triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
4 Defisit perawatan diri NOC : NIC :
berhubungan dengan  Self care : Activity of Daily Self Care assistane : ADLs
keletihan sekunderakibat Living (ADLs)  Monitor kemempuan klien
peningkatan upaya untuk perawatan diri yang
pernafasan dan insufisiensi Kriteria Hasil : mandiri.
pernafasan dan oksigenasi  Klien terbebas dari bau badan  Monitor kebutuhan klien
 Menyatakan kenyamanan untuk alat-alat bantu untuk
Definisi : terhadap kemampuan untuk kebersihan diri,
 Gangguan kemampuan melakukan ADLs berpakaian, berhias,
untuk melakukan ADL  Dapat melakukan ADLS toileting dan makan.
pada diri dengan bantuan  Sediakan bantuan sampai
Batasan karakteristik : klien mampu secara utuh
ketidakmampuan untuk untuk melakukan self-
mandi, ketidakmampuan care.
untuk berpakaian,  Dorong klien untuk
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
makan, ketidakmampuan sehari-hari yang normal
untuk toileting sesuai kemampuan yang
dimiliki.
Faktor yang berhubungan :  Dorong untuk melakukan
kelemahan, kerusakan secara mandiri, tapi beri
kognitif atau perceptual, bantuan ketika klien tidak
kerusakan neuromuskular/ mampu melakukannya.
otot-otot saraf  Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
 Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
 Pertimbangkan usia klien
jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.
5 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :Energy Management
berhubungan dengan  Energy conservation  Observasi adanya
keletihan, hipoksemia, dan  Self Care : ADLs pembatasan klien dalam
pola pernafasan tidak efektif. melakukan aktivitas
Kriteria Hasil :  Dorong anak untuk
Definisi : Ketidakcukupan  Berpartisipasi dalam aktivitas mengungkapkan perasaan
energu secara fisiologis fisik tanpa disertai terhadap keterbatasan
maupun psikologis untuk peningkatan tekanan darah,  Kaji adanya factor yang
meneruskan atau nadi dan RR menyebabkan kelelahan
menyelesaikan aktifitas yang  Mampu melakukan aktivitas  Monitor nutrisi dan
diminta atau aktifitas sehari sehari hari (ADLs) secara sumber energi tangadekuat
hari. mandiri  Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik dan
Batasan karakteristik : emosi secara berlebihan
 melaporkan secara verbal  Monitor respon
adanya kelelahan atau kardivaskuler terhadap
kelemahan. aktivitas
 Respon abnormal dari  Monitor pola tidur dan
tekanan darah atau nadi lamanya tidur/istirahat
terhadap aktifitas pasien
 Perubahan EKG yang
menunjukkan aritmia atau Activity Therapy
iskemia  Kolaborasikan dengan
 Adanya dyspneu atau Tenaga Rehabilitasi Medik
ketidaknyamanan saat dalammerencanakan
beraktivitas. progran terapi yang tepat.
 Bantu klien untuk
Faktor factor yang mengidentifikasi aktivitas
berhubungan : yang mampu dilakukan
 Tirah Baring atau  Bantu untuk memilih
imobilisasi aktivitas konsisten
 Kelemahan menyeluruh yangsesuai dengan
 Ketidakseimbangan antara kemampuan fisik,
suplei oksigen dengan psikologi dan social
kebutuhan  Bantu untuk
 Gaya hidup yang mengidentifikasi dan
dipertahankan. mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas
yang diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan
alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek
 Bantu untu
mengidentifikasi aktivitas
yang disukai
 Bantu klien untuk
membuat jadwal latihan
diwaktu luang
 Bantu pasien/keluarga
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan penguatan positif
bagi yang aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
 Monitor respon fisik, emoi,
social dan spiritual
6 Koping individu tidak efektifNOC NIC
berhubungan dengan kurang Koping Indicator : Peningkatan koping
sosialisasi, ansietas, depresi  Menunjukan fleksibilitas  hargai pemahaman pasien
tingkat aktivitas rendah dan peran tentang proses penyakit
ketidakmampuan untuk  keluarga menunjukan dan konsep diri
bekerja. fleksibilitas peran para  hargai dan diskusikan
anggotanya alternative respon terhadap
Batasan karakteristik :  pertentangan masalah situasi
 Gangguan tidur  nilai keluarga dapat mengatur  hargai sikap klien terhadap
 Penyalahgunaan bahan masalah-masalah perubahan peran dan
kimia  memanaj masalah hubungan
 Penurunan penggunaan 
 melibatkan anggota keluarga dukung penggunaan
dukungan social dalam membuat keputusan sumber spiritual jika
 Konsentrasi yang buruk  mengekspresikan perasaan diminta
 Kelelahan dan kebebasan emosional  gunakan pendekatan yang
 Mengeluhkan  menunjukan strategi untuk tenang dan berikan jaminan
ketidakmampuan koping memanaj masalah  sediakan informasi actual
 Perilaku merusak terhadap  menggunakan strategi tentang diagnosis,
diri/orang lain penurunan stress penangan dan prognosis
 Ketidakmampuan  peduli terhadap kebutuhan  sediakan pilihan yang
memenuhi harapan peran anggota keluarga realistis tentang aspek
 menentukan prioritas perawatan saat ini
Factor yang berhubungan :  menentukan jadwal untuk  dukung penggunaan
 Perbedaan gender dalam rutinitas danm aktivitas mekanisme defensive yang
strategi koping keluarga tepat
 Tingkat percaya diri tidak  menjadwalkan untuk respite  dukung keterlibatan
adekuat care keluarga dengan cara yang
 Ketidak pastian  mempunyai perencanaan pada tepat
 Support social tidak efektif kondisi kegawatan  Bantu pasien untuk
 Derajat pengobatan tingkat  memelihara kestabilan mengidentifikasi strategi
tinggi financial positif untuk mengatasi
 Krisis  mencari bantuan ketika keterbatasan dan mengelola
situasional/maturasional dibutuhkan gaya hidup dan perubahan
 menggunakan support social peran
 Bentu klien
keterangan penilaian NOC mengidentifikasi
1= tidak dilakukan sama sekali kemungkinan yang dapt
2= jarang dilakukan terjadi
3= kadang dilakukan  Bantu klien beradaptasi
4= sering dilakukan dan mengantisipasi
5= selalu dilakukan perubahan klien
7 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :
kurang dari kebutuhan tubuh  Nutritional Status : food and Nutrition Management
b/d dyspneu Fluid Intake  Kaji adanya alergi
 Nutritional Status : nutrient makanan
Definisi : Intake nutrisi tidak Intake  Kolaborasi dengan ahli gizi
cukup untuk keperluan  Weight control untuk menentukan jumlah
metabolisme tubuh. kalori dan nutrisi yang
Kriteria Hasil : dibutuhkan pasien.
Batasan karakteristik :  Adanya peningkatan berat  Anjurkan pasien untuk
 Berat badan 20 % atau badan sesuai dengan tujuan meningkatkan intake Fe
lebih di bawah ideal  Berat badan ideal sesuai  Anjurkan pasien untuk
 Dilaporkan adanya intake dengan tinggi badan meningkatkan protein dan
makanan yang kurang dari  Mampu mengidentifikasi vitamin C
RDA (Recomended Daily kebutuhan nutrisi  Berikan substansi gula
Allowance)  Tidk ada tanda tanda  Yakinkan diet yang
 Membran mukosa dan malnutrisi dimakan mengandung
konjungtiva pucat  Menunjukkan peningkatan tinggi serat untuk
 Kelemahan otot yang fungsi pengecapan dari mencegah konstipasi
digunakan untuk menelan  Berikan makanan yang
menelan/mengunyah  Tidak terjadi penurunan berat terpilih ( sudah
 Luka, inflamasi pada badan yang berarti dikonsultasikan dengan
rongga mulut ahli gizi)
 Mudah merasa kenyang,  Ajarkan pasien bagaimana
sesaat setelah mengunyah membuat catatan makanan
makanan harian.
 Dilaporkan atau fakta  Monitor jumlah nutrisi dan
adanya kekurangan kandungan kalori
makanan  Berikan informasi tentang
 Dilaporkan adanya kebutuhan nutrisi
perubahan sensasi rasa  Kaji kemampuan pasien
 Perasaan ketidak mampuan untuk mendapatkan nutrisi
untuk mengunyah makanan yang dibutuhkan
 Miskonsepsi
 Kehilangan BB dengan Nutrition Monitoring
makanan cukup  BB pasien dalam batas
 Keengganan untuk makan normal
 Kram pada abdomen  Monitor adanya penurunan
 Tonus otot jelek berat badan
 Nyeri abdominal dengan  Monitor tipe dan jumlah
atau tanpa patologi aktivitas yang biasa
 Kurang berminat terhadap dilakukan
makanan  Monitor interaksi anak atau
 Pembuluh darah kapiler orangtua selama makan
mulai rapuh  Monitor lingkungan selama
 Diare dan atau steatorrhea makan
 Kehilangan rambut yang  Jadwalkan pengobatan dan
cukup banyak (rontok) tindakan tidak selama jam
 Suara usus hiperaktif makan
 Kurangnya informasi,  Monitor kulit kering dan
misinformasi perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
Faktor-faktor yang  Monitor kekeringan,
berhubungan : rambut kusam, dan mudah
Ketidakmampuan patah
pemasukan atau mencerna  Monitor mual dan muntah
makanan atau mengabsorpsi  Monitor kadar albumin,
zat-zat gizi berhubungan total protein, Hb, dan kadar
dengan faktor biologis, Ht
psikologis atau ekonomi.  Monitor makanan kesukaan
 Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oral.
 Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
DAFTAR PUSTAKA
 Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Surabaya
 Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta

 Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan
Infomedika Jakarta.

 Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV
Sagung Seto Jakarta.

 Anonymous. (2009). Asma Bisa Sembuh atau Problem Seumur Hidup. Diperoleh
tanggal 29 Juni 2009, dari http://www.medicastore.com/asma/

 Carpenito, L.J. (2000). Diagnosa keperawatan. (Edisi 6). Jakarta: EGC

 Doenges, M.E.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan. (Edisi 3). Jakarta: EGC

 Espeland, N. (2008). Petunjuk Lengkap Mengatasi Alergi dan Asma pada Anak. Jakarta:
Prestasi Pustakaraya

 Gaffar, L.O.J. (1999). Pengantar Keperawatan Profesional, Jakarta: EGC

 Hidayat, A.A.A.(2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Surabaya: Salemba Medika

 Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi 3), Jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapius

 Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. (Edisi 2). Jakarta: EGC


 Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC

 Price, S.A & Wilson, L.M. (2005). Patofisiologi. (Edisi 6). Jakarta: EGC

 Riyadi, S. (2009). Asuhan Keperawatan pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu

 Zainal, A.H. (1999). Pengantar Keperawatan Profesional. Jakarta: Yayasan Bunga


Raflesia