Vous êtes sur la page 1sur 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Korupsi di tanah negeri, ibarat “warisan haram” tanpa surat wasiat. Ia tetap
lestari sekalipun diharamkan oleh aturan hukum yang berlaku dalam tiap orde yang
datang silih berganti. Hampir semua segi kehidupan terjangkit korupsi. Apabila
disederhanakan penyebab korupsi meliputi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.
Faktor internal merupakan penyebab korupsi yang datang dari diri pribadi sedang
faktor eksternal adalah faktor penyebab terjadinya korupsi karena sebab-sebab dari luar.
Faktor internal terdiri dari aspek moral, misalnya lemahnya keimanan, kejujuran, rasa
malu, aspek sikap atau perilaku misalnya pola hidup konsumtif dan aspek sosial seperti
keluarga yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku korup.
Faktor eksternal bisa dilacak dari aspek ekonomi misalnya pendapatan atau gaji
tidak mencukupi kebutuhan, aspek politis misalnya instabilitas politik, kepentingan
politis, meraih dan mempertahankan kekuasaan, aspek managemen & organisasi yaitu
ketiadaan akuntabilitas dan transparansi, aspek hukum, terlihat dalam buruknya wujud
perundang-undangan dan lemahnya penegakkan hukum serta aspek sosial yaitu
lingkungan atau masyarakat yang kurang mendukung perilaku anti korupsi.
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilannya
dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai suatu proses perubahan yang
direncanakan mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan
pembangunan terutama ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni
(orang-orang yang terlibatsejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan
pembiayaan.
Diantara dua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor
manusianya.Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari
keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya, negaratercinta ini
dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah merupakan sebuah negara
yang kaya malahan termasuk negara yang miskin.

1
Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber
daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau
intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya.
Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara
negara menyebabkan terjadinya korupsi.Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah
merupakan patologi social (penyakit social) yang sangat berbahaya yang mengancam
semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah
mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang sangat besar. Namun yang lebih
memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan dan pengurasankeuangan negara yang
dilakukan secara kolektif oleh kalangan anggotalegislatif dengan dalih studi banding,
THR, uang pesangon dan lainsebagainya di luar batas kewajaran.
Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan negara demikian terjadi hampir di
seluruh wilayah tanah air. Hal itu merupakan cerminan rendahnya moralitas dan rasa
malu, sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan dan aji mumpung. Persoalannya
adalah dapatkah korupsi diberantas? Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah
korupsi harus diberantas.
Jika kita tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak mengurangi sampai
pada titik nadir yang paling rendahmaka jangan harap Negara ini akan mampu mengejar
ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah negara yang maju.
Karena korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas dan dapat membawa negara
ke jurang kehancuran.Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah
penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi.
Semua bentuk pemerintah pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya.
Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan
pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan
korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi,
yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur
pun tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau
berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal
seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak
terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya,
sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas kejahatan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Korupsi
Kata “korupsi” berasal dari bahasa Latin “corruptio” atau “corruptus”.
Selanjutnya dikatakan bahwa “corruptio” berasal dari kata “corrumpere”, suatu bahasa
Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin tersebut kemudian dikenal istilah “corruption,
corrupt” (Inggris), “corruption” (Perancis) dan “corruptie/korruptie” (Belanda). Arti kata
korupsi secara harfiah adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat
disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian.
Istilah korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia,
adalah “kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejatan dan
ketidakjujuran”. Pengertian lainnya, “perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang,
penerimaan uang sogok, dan sebagainya”. Selanjutnya untuk beberapa pengertian lain,
disebutkan bahwa :
1. Korup artinya busuk, suka menerima uang suap/sogok, memakai kekuasaan untuk
kepentingan sendiri dan sebagainya;
2. Korupsi artinya perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok,
dan sebagainya; dan;
3. Koruptor artinya orang yang melakukan korupsi. Dengan demikian arti kata korupsi
adalah sesuatu yang busuk, jahat dan merusak, berdasarkan kenyataan tersebut
perbuatan korupsi menyangkut sesuatu yang bersifat amoral, sifat dan keadaan yang
busuk, menyangkut jabatan instansi atau aparatur pemerintah, penyelewengan
kekuasaan dalam jabatan karena pemberian, menyangkut faktor ekonomi dan politik
dan penempatan keluarga atau golongan ke dalam kedinasan di bawah kekuasaan
jabatan.
Menurut Subekti dan Tjitrosoedibio dalam kamus hukum, yang dimaksud
corruptie adalah korupsi, perbuatan curang, tindak pidana yang merugikan keuangan
negara. Selanjutnya Baharudin Lopa mengutip pendapat David M. Chalmers,
menguraikan istilah korupsi dalam berbagai bidang, yakni yang menyangkut masalah
penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang

3
menyangkut bidang kepentingan umum. Hal ini diambil dari definisi yang berbunyi
“financial manipulations and deliction injurious to the economy are often labeled
corrupt”.
Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang
menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan, dan merugikan
kepentingan umum. Korupsi menurut Huntington (1968) adalah perilaku pejabat publik
yang menyimpang dari norma-norma yang diterima oleh masyarakat, dan perilaku
menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi. Maka dapat
disimpulkan korupsi merupakan perbuatan curang yang merugikan Negara dan
masyarakat luas dengan berbagai macam modus.
Banyak para ahli yang mencoba merumuskan korupsi, yang jka dilihat dari
struktrur bahasa dan cara penyampaiannya yang berbeda, tetapi pada hakekatnya
mempunyai makna yang sama. Kartono (1983) memberi batasan korupsi sebagi tingkah
laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan
pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Jadi korupsi merupakan gejala salah
pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus terhadap
sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang dan kekuatankekuatan
formal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri
sendiri.
Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan yang
dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan
pribadi atau keluarga, sanak saudara dan teman. Wertheim (dalam Lubis, 1970)
menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia
menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil
keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang
yang menawarkan hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi.
Selanjutnya, Wertheim menambahkan bahwa balas jasa dari pihak ketiga yang
diterima atau diminta oleh seorang pejabat untuk diteruskan kepada keluarganya atau
partainya/ kelompoknya atau orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengannya,
juga dapat dianggap sebagai korupsi.

4
BAB III
PEMBAHASAN

A. Dampak Korupsi Terhadap Ekonomi


Korupsi mengurangi kemampuan pemerintah untuk melakukan perbaikan dalam
bentuk peraturan dan kontrol akibat kegagalan pasar (market failure). Ketika kebijakan
dilakukan dalam pengaruh korupsi yang kuat maka pengenaan peraturan dan kebijakan,
misalnya, pada perbankan, pendidikan, distribusi makanan dan sebagainya, malah akan
mendorong terjadinya inefisiensi.
Korupsi mendistorsi insentif seseorang, dan seharusnya melakukan kegiatan yang
produktif menjadi keinginan untuk merealisasikan peluang korupsi dan pada akhimya
menyumbangkan negatif value added. Korupsi menjadi bagian dari welfare cost
memperbesar biaya produksi, dan selanjutnya memperbesar biaya yang harus dibayar
oleh konsumen dan masyarakat (dalam kasus pajak), sehingga secara keseluruhan
berakibat pada kesejahteraan masyarakat yang turun.
Korupsi mereduksi peran pundamental pemerintah (misalnya pada penerapan dan
pembuatan kontrak, proteksi, pemberian property rights dan sebagainya). Pada akhirnya
hal ini akan memberikan pengaruh negatif pada pertumbuhan ekonomi yang dicapai.
Korupsi mengurangi legitimasi dari peran pasar pada perekonomian, dan juga
proses demokrasi. Kasus seperti ini sangat terlihat pada negara yang sedang mengalami
masa transisi, baik dari tipe perekonomian yang sentralistik ke perekonomian yang lebih
terbuka atau pemerintahan otoriter ke pemerintahan yang lebih demokratis, sebagaimana
terjadi dalam kasus Indonesia.
Korupsi memperbesar angka kemiskinan. ini sangat wajar. Selain dikarenakan
program-program pemerintah sebagaimana disebut di atas tidak mencapai sasaran,
korupsi juga mengurangi potensi pendapatan yang mungkin diterima oleh si miskin.
Menurut Tanzi (2002), perusahaan perusahaan kecil adalah pihak yang paling sering
menjadi sasaran korupsi dalam bentuk pungutan tak resmi (pungutan liar). Bahkan,
pungutan tak resmi ini bisa mencapai hampir dua puluh persen dari total biaya yang harus
dikeluarkan oleh perusahaan ini amat mengkhawatirkan, dikarenakan pada negara negara
berkembang seperti Indonesia, perusahaan kecil (UKM adalah mesin pertumbuhan karena
perannya yang banyak menycrap tenaga kerja).

5
Korupsi memiliki berbagai efek penghancuran yang hebat (an enermous
destruction effects) terhadap berbagai sisi kehidupan bangsa dan negara, khususnya
dalam sisi ekonomi sebagai pendorong utama kesejahteraan masyarakat. Mauro
menerangkan hubungan antara korupsi dan ekonomi. Menurutnya korupsi memiliki
korelasi negatif dengan tingkat investasi, pertumbuhan ekonomi, dan dengan pengeluaran
pemerintah untuk program sosial dan kesejahteraan. Hal ini merupakan bagian dari inti
ekonomi makro. Kenyataan bahwa korupsi memiliki hubungan langsung dengan hal ini
mendorong pemerintah berupaya menanggulangi korupsi, baik secara preventif, represif
maupun kuratif.
Di sisi lain meningkatnya korupsi berakibat pada meningkatnya biaya barang dan
jasa, yang kemudian bisa melonjakkan utang negara. Pada keadaan ini, inefisiensi terjadi,
yaitu ketika pemerintah mengeluarkan lebih banyak kebijakan namun disertai dengan
maraknya praktek korupsi, bukannya memberikan nilai positif misalnya perbaikan
kondisi yang semakin tertata, namun justru memberikan negatif value added bagi
perekonomian secara umum. Misalnya, anggaran perusahaan yang sebaiknya diputar
dalam perputaran ekonomi, justru dialokasikan untuk birokrasi yang ujung-ujungnya
terbuang masuk ke kantong pribadi pejabat.
Berbagai macam permasalahan ekonomi lain akan muncul secara alamiah apabila
korupsi sudah merajalela dan berikut ini adalah hasil dari dampak ekonomi yang akan
terjadi, yaitu:
1. Menghambat Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi
Korupsi bertanggung jawab terhadap lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasi
dalam negeri. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi
dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos
niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi
dengan pejabat korup, dan resiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan.
Penanaman modal yang dilakukan oleh pihak dalam negeri (PMDN) dan asing
(PMA) yang semestinya bisa digunakan untuk pembangunan negara menjadi sulit sekali
terlaksana, karena permasalahan kepercayaan dan kepastian hukum dalam melakukan
investasi, selain masalah stabilitas. Dari laporan yang diberikan oleh PERC (Political and
Economic Risk Consultancy) pada akhirnya hal ini akan menyulitkan pertumbuhan
investasi di Indonesia, khususnya investasi asing karena iklim yang ada tidak kondusif.
Hal ini jelas karena terjadinya tindak korupsi yang sampai tingkat mengkhawatirkan yang

6
secara langsung maupun tidak mengakibatkan ketidakpercayaan dan ketakutan pihak
investor asing untuk menanamkan investasinya ke Indonesia.
Kondisi negara yang korup akan membuat pengusaha multinasional
meninggalkannya, karena investasi di negara yang korup akan merugikan dirinya karena
memiliki ‘biaya siluman’ yang tinggi. Dalam studinya, Paulo Mauro mengungkapkan
dampak korupsi pada pertumbuhan investasi dan belanja pemerintah bahwa korupsi
secara langsung dan tidak langsung adalah penghambat pertumbuhan investasi. Berbagai
organisasi ekonomi dan pengusaha asing di seluruh dunia menyadari bahwa suburnya
korupsi di suatu negara adalah ancaman serius bagi investasi yang ditanam.

2. Penurunan Produktifitas
Dengan semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasi, maka tidak dapat
disanggah lagi, bahwa produktifitas akan semakin menurun. Hal ini terjadi seiring dengan
terhambatnya sektor industri dan produksi untuk bisa berkembang lebih baik atau
melakukan pengembangan kapasitas. Penurunan produktifitas ini juga akan menyebabkan
permasalahan yang lain, seperti tingginya angka PHK dan meningkatnya angka
pengangguran. Ujung dari penurunan produktifitas ini adalah kemiskinan masyarakat.

3. Rendahnya Kualitas Barang dan Jasa Bagi Publik/ Melemahkan kapasitas dan
kemampuan pemerintah dalam program pembangunan untuk meningkatkan
perekonomian
Ini adalah sepenggal kisah sedih yang dialami masyarakat kita yang tidak perlu
terjadi apabila kualitas jalan raya baik sehingga tidak membahayakan pengendara yang
melintasinya. Hal ini mungkin juga tidak terjadi apabila tersedia sarana angkutan umum
yang baik, manusiawi dan terjangkau. Ironinya pemerintah dan departemen yang
bersangkutan tidak merasa bersalah dengan kondisi yang ada, selalu berkelit bahwa
mereka telah bekerja sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
Rusaknya jalan-jalan, ambruknya jembatan, tergulingnya kereta api, beras murah
yang tidak layak makan, tabung gas yang meledak, bahan bakar yang merusak kendaraan
masyarakat, tidak layak dan tidak nyamannya angkutan umum, ambruknya bangunan
sekolah, merupakan serangkaian kenyataan rendahnya kualitas barang dan jasa sebagai
akibat korupsi. Korupsi menimbulkan berbagai kekacauan di dalam sektor publik dengan
mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek lain yang mana sogokan dan upah
tersedia lebih banyak.
7
Pejabat birokrasi yang korup akan menambah kompleksitas proyek tersebut untuk
menyembunyikan berbagai praktek korupsi yang terjadi. Pada akhirnya korupsi berakibat
menurunkan kualitas barang dan jasa bagi publik dengan cara mengurangi pemenuhan
syarat-syarat keamanan bangunan, syarat-syarat material dan produksi, syarat-syarat
kesehatan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas
pelayanan pemerintahan dan infrastruktur dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap
anggaran pemerintah.

4. Menurunnya Pendapatan Negara Dari Sektor Pajak


Sebagian besar negara di dunia ini mempunyai sistem pajak yang menjadi
perangkat penting untuk membiayai pengeluaran pemerintahnya dalam menyediakan
barang dan jasa publik, sehingga boleh dikatakan bahwa pajak adalah sesuatu yang
penting bagi negara. Di Indonesia, dikenal beberapa jenis pajak seperti Pajak penghasilan
(PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPn), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Meterai
(BM), dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (BPHTB).
Pajak berfungsi sebagai stabilisasi harga sehingga dapat digunakan untuk
mengendalikan inflasi, di sisi lain pajak juga mempunyai fungsi redistribusi pendapatan,
di mana pajak yang dipungut oleh negara selanjutnya akan digunakan untuk
pembangunan, dan pembukaan kesempatan kerja yang pada akhirnya akan
menyejahterakan masyarakat. Pajak sangat penting bagi kelangsungan pembangunan
negara dan kesejahteraan masyarakat juga pada akhirnya.
Kondisi penurunan pendapatan dari sektor pajak diperparah dengan kenyataan
bahwa banyak sekali pegawai dan pejabat pajak yang bermain untuk mendapatkan
keuntungan pribadi dan memperkaya diri sendiri. Kita tidak bisa membayangkan apabila
ketidakpercayaan masyarakat terhadap pajak ini berlangsung lama, tentunya akan
berakibat juga pada percepatan pembangunan, yang rugi juga masyarakat sendiri, inilah
letak ketidakadilan tersebut.
5. Meningkatnya Hutang Negara
Kondisi perekonomian dunia yang mengalami resesi dan hampir melanda semua
negara termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, memaksa negara-negara
tersebut untuk melakukan hutang untuk mendorong perekonomiannya yang sedang
melambat karena resesi dan menutup biaya anggaran yang defisit, atau untuk membangun
infrastruktur penting. Bagaimana dengan hutang Indonesia?

8
Korupsi yang terjadi di Indonesia akan meningkatkan hutang luar negeri yang
semakin besar. Dari data yang diambil dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutang,
Kementerian Keuangan RI, disebutkan bahwa total hutang pemerintah per 31 Mei 2011
mencapai US$201,07 miliar atau setara dengan Rp. 1.716,56 trilliun, sebuah angka yang
fantastis. Hutang tersebut terbagi atas dua sumber, yaitu pinjaman sebesar US$69,03
miliar (pinjaman luar negeri US$68,97 miliar) dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar
US$132,05 miliar. Berdasarkan jenis mata uang, utang sebesar US$201,1 miliar tersebut
terbagi atas Rp956 triliun, US$42,4 miliar, 2.679,5 miliar Yen dan 5,3 miliar Euro.
Posisi utang pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2009, jumlah
utang yang dibukukan pemerintah sebesar US$169,22 miliar (Rp1.590,66 triliun). Tahun
2010, jumlahnya kembali naik hingga mencapai US$186,50 miliar (Rp1.676,85
triliun). Posisi utang pemerintah saat ini juga naik dari posisi per April 2011 yang sebesar
US$197,97 miliar. Jika menggunakan PDB Indonesia yang sebesar Rp6.422,9 triliun,
maka rasio utang Indonesia tercatat sebesar 26%.
Sementara untuk utang swasta, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan jumlah
nilai utang pihak swasta naik pesat dari US$73,606 miliar pada 2009 ke posisi US$84,722
miliar pada kuartal I 2011 atau setara 15,1%. Secara year on year (yoy) saja, pinjaman
luar negeri swasta telah meningkat 12,6% atau naik dari US$75,207 pada kuartal I 2010.
Dari total utang pada tiga bulan pertama tahun ini, utang luar negeri swasta mayoritas
disumbang oleh pihak non-bank sebesar US$71,667 miliar dan pihak bank sebesar
US$13,055 miliar (www.metronews.com /read/news/ 2011,14 Juni 2011).
Bila melihat kondisi secara umum, hutang adalah hal yang biasa, asal digunakan
untuk kegiatan yang produktif hutang dapat dikembalikan. Apabila hutang digunakan
untuk menutup defisit yang terjadi, hal ini akan semakin memperburuk keadaan. Kita
tidak bisa membayangkan ke depan apa yang terjadi apabila hutang negara yang kian
membengkak ini digunakan untuk sesuatu yang sama sekali tidak produktif dan dikorupsi
secara besar-besaran.

B. Dampak Korupsi Terhadap Sosial dan Kemiskinan


Ada beberapa dampak buruk yang akan diterima oleh kaum miskin akibat korupsi,
diantaranya. Pertama, Membuat mereka (kaum miskin) cenderung menerima pelayanan
sosial lebih sedikit. Instansi akan lebih mudah ketika melayani para pejabat dan
konglemerat dengan harapan akan memiliki gengsi sendiri dan imbalam materi tentunya,
peristiwa seperti ini masih sering kita temui ditengah–tengah masyarakat.
9
Kedua,Investasi dalam prasarana cenderung mengabaikan proyek–proyek yang
menolong kaum miskin, yang sering terjadi biasanya para penguasa akan membangun
prasarana yang mercusuar namun minim manfaatnya untuk masyarakat, atau kalau toh
ada biasanya momen menjelang kampanye dengan niat mendapatkan simpatik dan
dukungan dari masyarakat.
Ketiga, orang yang miskin dapat terkena pajak yang regresif, hal ini dikarenakan
mereka tidak memiliki wawasan dan pengetahuan tentang soal pajak sehingga gampang
dikelabuhi oleh oknum.
Keempat, kaum miskin akan menghadapi kesulitan dalam menjual hasil pertanian
karena terhambat dengan tingginya biaya baik yang legal maupun yang tidak legal, sudah
menjadi rahasia umum ketika seseorang harus berurusan dengan instansi pemerintah
maka dia menyediakan uang, hal ini dilakukan agar proses dokumentasi tidak menjadi
berbelit–belit bahkan ada sebuah pepatah “kalau bias dipersulit kenapa dipermudah”.
Korupsi, tentu saja berdampak sangat luas, terutama bagi kehidupan masyarakat
miskin di desa dan kota. Awal mulanya, korupsi menyebabkan Anggaran Pembangunan
dan Belanja Nasional kurang jumlahnya. Untuk mencukupkan anggaran pembangunan,
pemerintah pusat menaikkan pendapatan negara, salah satunya contoh dengan menaikkan
harga BBM. Pemerintah sama sekali tidak mempertimbangkan akibat dari adanya
kenaikan BBM tersebut harga-harga kebutuhan pokok seperti beras semakin tinggi biaya
pendidikan semakin mahal, dan pengangguran bertambah.
Tanpa disadari, masyarakat miskin telah menyetor 2 kali kepada para koruptor.
Pertama, masyarakat miskin membayar kewajibannya kepada negara lewat pajak dan
retribusi, misalnya pajak tanah dan retribusi puskesmas. Namun oleh negara hak mereka
tidak diperhatikan, karena “duitnya rakyat miskin” tersebut telah dikuras untuk
kepentingan pejabat. Kedua, upaya menaikkan pendapatan negara melalui kenaikan
BBM, masyarakat miskin kembali “menyetor” negara untuk kepentingan para koruptor,
meskipun dengan dalih untuk subsidi rakyat miskin. Padahal seharusnya negara meminta
kepada koruptor untuk mengembalikan uang rakyat yang mereka korupsi, bukan
sebaliknya, malah menambah beban rakyat miskin.

C. Dampak Korupsi Teradap Birokrasi Pemerintahan


Birokrasi, baik sipil maupun militer, memang merupakan kelompok yang paling
rawan terhadap korupsi. Sebab, di tangan mereka terdapat kekuasaan penyelenggaraan
pemerintahan, yang menjadi kebutuhan semua warga negara. Oleh karena itu,
10
Transparency International, lembaga internasional yang bergerak dalam upaya anti
korupsi, secara sederhana mendefinisikan korupsi sebagai penyalahgunaan kekuasaan
publik untuk kepentingan pribadi.
Lebih jauh lagi, TI membagi kegiatan korupsi di sektor publik ini dalam dua jenis,
yaitu korupsi administratif dan korupsi politik. Secara administratif, korupsi bisa
dilakukan ‘sesuai dengan hukum’, yaitu meminta imbalan atas pekerjaan yang seharusnya
memang dilakukan, serta korupsi yang ‘bertentangan dengan hukum’ yaitu meminta
imbalan uang untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya dilarang untuk dilakukan.
Pada kasus Indonesia, jenis korupsi pertama terwujud antara lain dalam bentuk
uang pelicin dalam mengurus berbagai surat-surat, seperti Kartu Tanda Penduduk, Surat
Izin Mengemudi, Akta Lahir atau Paspor agar prosesnya lebih cepat. Padahal seharusnya,
tanpa uang pelicin surat-surat ini memang harus diproses dengan cepat. Sementara jenis
korupsi yang kedua, muncul antara lain dalam bentuk ‘uang damai’ dalam kasus
pelanggaran lalu lintas, agar si pelanggar terhindar dari jerat hukum.
Sementara pada birokrasi militer, peluang korupsi, baik uang maupun kekuasaan,
muncul akibat tidak adanya transparansi dalam pengambilan keputusan di tubuh angkatan
bersenjata serta nyaris tidak berdayanya hukum saat harus berhadapan dengan oknum
militer yang seringkali berlindung di balik institusi militer.
Tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dipimpin oleh Dr.
Indria Samego mencatat empat kerusakan yang terjadi di tubuh ABRI akibat korupsi:
1. Secara formal material anggaran pemerintah untuk menopang kebutuhan angkatan
bersenjata amatlah kecil karena ABRI lebih mementingkan pembangunan ekonomi
nasional. Ini untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan dari rakyat bahwa ABRI
memang sangat peduli pada pembangunan ekonomi. Padahal, pada kenyataannya
ABRI memiliki sumber dana lain di luar APBN.
2. Perilaku bisnis perwira militer dan kolusi yang mereka lakukan dengan para
pengusaha keturunan Cina dan asing ini menimbulkan ekonomi biaya tinggi yang
lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat dan prajurit
secara keseluruhan.
3. Orientasi komersial pada sebagian perwira militer ini pada gilirannya juga
menimbulkan rasa iri hati perwira militer lain yang tidak memiliki kesempatan yang
sama. Karena itu, demi menjaga hubungan kesetiakawanan di kalangan militer,
mereka yang mendapatkan jabatan di perusahaan negara atau milik ABRI
memberikan sumbangsihnya pada mereka yang ada di lapangan.
11
4. Suka atau tidak suka, orientasi komersial akan semakin melunturkan semanagat
profesionalisme militer pada sebagaian perwira militer yang mengenyam kenikmatan
berbisnis baik atas nama angkatan bersenjata maupun atas nama pribadi. Selain itu,
sifat dan nasionalisme dan janji ABRI, khususnya Angkatan Darat, sebagai pengawal
kepentingan nasional dan untuk mengadakan pembangunan ekonomi bagi seluruh
bangsa Indonesia lambat laun akan luntur dan ABRI dinilai masyarakat telah beralih
menjadi pengawal bagi kepentingan golongan elite birokrat sipil, perwira menengah
ke atas, dan kelompok bisnis besar (baca: keturunan Cina). Bila ini terjadi, akan
terjadi pula dikotomi, tidak saja antara masyarakat sipil dan militer, tetapi juga antara
perwira yang profesional dan Saptamargais dengan para perwira yang berorientasi
komersial.

D. Dampak Korupsi Terhadap Politik dan Demokrasi


Dalam data Indeks Persepsi Korupsi Transparansi Internasional 2012, India
menempati peringkat ke-94 dengan skor 36, di bawah Thailand, Maroko, dan Zambia.
Meskipun India adalah negara demokrasi, korupsi tetap jadi penyakit yang terus melanda.
Sebaliknya, di Singapura, penyelenggaraan pemerintahan yang bersih telah menjadi
praktik yang lama berlangsung. Padahal, Singapura bukanlah tergolong negara
demokrasi. Skor indeks persepsi korupsi Singapura adalah 87, menempati peringkat ke-5,
di atas Swiss, Kanada, dan Belanda. Dalam kasus India dan Singapura, demokrasi tak
tampak berkorelasi dengan berkurangnya korupsi.
Di negara-negara demokrasi baru, demokrasi juga seperti tak berpengaruh
terhadap pengurangan korupsi. Sebagai contoh, Indonesia telah menjadi negara
demokrasi sejak tahun 1998. Menurut Freedom House, lembaga pemeringkat demokrasi
dunia, Indonesia sudah tergolong negara bebas sepenuhnya (demokrasi) sejak 2004.
Namun, Indeks Persepsi Korupsi 2012 menempatkan Indonesia di peringkat ke-118
dengan skor 32. Artinya, masyarakat merasakan bahwa korupsi masih merajalela di
negeri ini.
Mengapa di sejumlah negara, terutama negara-negara demokrasi baru, demokrasi
tampak tidak menihilkan korupsi? Jawabannya terkait dengan kualitas demokrasi di suatu
negara.
Ada dua aspek penting yang terkait dengan demokrasi: prosedur dan substansi.
Negara-negara demokrasi baru seperti Indonesia umumnya masih tergolong ke dalam

12
demokrasi prosedural. Yang sudah berjalan adalah aspek-aspek yang terkait dengan
pemilihan umum.
Hal ini tidak cukup menjamin berlangsungnya demokrasi yang dapat
meminimalkan korupsi. Para aktor yang korup dalam demokrasi prosedural dapat
memanipulasi pemilihan umum yang justru membuat mereka menjadi pemegang tampuk
kekuasaan.

E. Dampak Korupsi Terhadap Penegakan Hukum


Sejak lahirnya UU No. 24/PrP/1960 berlaku sampai 1971, setelah
diungkapkannya Undang-undang pengganti yakni UU No. 3 pada tanggal 29 Maret 1971
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Baik pada waktu berlakunya kedua
undang-undang tersebut dinilai tidak mampu berbuat banyak dalam pemberantasan
korupsi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena undang-undang yang dibuat dianggap
tidak sempurna yaitu sesuai dengan perkembangan zaman, padahal undang-undang
seharusnya dibuat dengan tingkat prediktibilitas yang tinggi.
Namun pada saat membuat peraturan perundang-undangan ditingkat legislatif
terjadi sebuah tindak pidana korupsi baik dari segi waktu maupun keuangan. Dimana
legislatif hanya memakan gaji semu yang diperoleh mereka ketika melakukan rapat.
Sehingga apa yang dituangkan dalam peraturan perundang-undangan itu hanya
melindungi kaum pejabat saja dan mengabaikan masyarakat.
Menyikapi hal seperti itu pada tahun 1999 dinyatakan undang-undang yang
dianggap lebih baik, yaitu UU No.31 tahun 1999 yang kemudian diubah dengan UU No.
20 tahun 2001 sebagai pengganti UU No. 3 tahun 1971. kemudian pada tanggal 27
Desember telah dikeluarkan UU No. 30 tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan
Korupsi, yaitu sebuah lembaga negara independen yang berperan besar dalam
pemberantasan korupsi di Indonesia.
Hal ini berarti dengan dikeluarkannya undang-undang dianggap lebih sempurna,
maka diharapkan aparat penegak hukum dapat menegakkan atau menjalankan hukum
tersebut dengan sempurna. Akan tetapi yang terjadi pada kenyataannya adalah budaya
suap telah menggerogoti kinerja aparat penegak hukum dalam melakukan penegakkan
hukum sebagai pelaksanaan produk hukum di Indonesia. Secara tegas terjadi
ketidaksesuaian antara undang-undang yang dibuat dengan aparat penegak hukum, hal ini
dikarenakan sebagai kekuatan politik yang melindungi pejabat-pejabat negara.

13
Sejak dikeluarkannya undang-undang tahun 1960, gagalnya pemberantasan
korupsi disebabkan karena pejabat atau penyelenggara negara terlalu turut campur dalam
pemberantasan urusan penegakkan hukum yang mempengaruhi dan mengatur proses
jalannya peradilan. Dengan hal yang demikian berarti penegakan hukum tindak pidana di
Indonesia telah terjadi feodalisme hukum secara sistematis oleh pejabat-pejabat negara.
Sampai sekarang ini banyak penegak hukum dibuat tidak berdaya untuk mengadili
pejabat tinggi yang melakukan korupsi.
Dalam domen logos, pejabat tinggi yang korup mendapat dan menikmati privilege
karena mendapat perlakuan yang istimewa, dan pada domen teknologos, hukum pidana
korupsi tidak diterapkan adanya pretrial sehingga banyak koruptor yang diseret ke
pengadilan dibebaskan dengan alasan tidak cukup bukti.
F. Dampak Korupsi Terhadap Peratahanan Keamanan
Korupsi di Bidang Pertahanan dan Keamanan belum dapat disentuh oleh agen-
agen pemberantas kosupsi. Dalam bidang Pertahanan dan Keamanan, peluang korupsi,
baik uang maupun kekuasaan, muncul akibat tidak adanya transparansi dalam
pengambilan keputusan di tubuh angkatan bersenjata dan kepolisian serta nyaris tidak
berdayanya hukum saat harus berhadapan dengan oknum TNI/Polri yang seringkali
berlindung di balik institusi Pertahanan dan Keamanan.
Tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dipimpin oleh Dr.
Indria Samego (1998) mencatat empat kerusakan yang terjadi di tubuh ABRI akibat
korupsi:
1. Secara formal material anggaran pemerintah untuk menopang kebutuhan angkatan
bersenjata amatlah kecil karena ABRI lebih mementingkan pembangunan ekonomi
nasional. Ini untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan dari rakyat bahwa ABRI
memang sangat peduli pada pembangunan ekonomi. Padahal, pada kenyataannya
ABRI memiliki sumber dana lain di luar APBN
2. Perilaku bisnis perwira militer dan kolusi yang mereka lakukan dengan para
pengusaha keturunan Cina dan asing ini menimbulkan ekonomi biaya tinggi yang
lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi kesejahteraan rakyat dan prajurit
secara keseluruhan.
3. Orientasi komersial pada sebagian perwira militer ini pada gilirannya juga
menimbulkan rasa iri hati perwira militer lain yang tidak memiliki kesempatan yang
sama. Karena itu, demi menjaga hubungan kesetiakawanan di kalangan militer,

14
mereka yang mendapatkan jabatan di perusahaan negara atau milik ABRI
memberikan sumbangsihnya pada mereka yang ada di lapangan.
4. Suka atau tidak suka, orientasi komersial akan semakin melunturkan semangat
profesionalisme militer pada sebagaian perwira militer yang mengenyam kenikmatan
berbisnis baik atas nama angkatan bersenjata maupun atas nama pribadi. Selain itu,
sifat dan nasionalisme dan janji ABRI, khususnya Angkatan Darat, sebagai pengawal
kepentingan nasional dan untuk mengadakan pembangunan ekonomi bagi seluruh
bangsa Indonesia lambat laun akan luntur dan ABRI dinilai masyarakat telah beralih
menjadi pengawal bagi kepentingan golongan elite birokrat sipil, perwira menengah
ke atas, dan kelompok bisnis besar (baca: keturunan Cina). Bila ini terjadi, akan
terjadi pula dikotomi, tidak saja antara masyarakat sipil dan militer, tetapi juga antara
perwira yang profesional dan Saptamargais dengan para perwira yang berorientasi
komersial.

G. Dampak Korupsi Terhadap Kerusakan Lingkungan


Kebanyakan manusia menempatkan lingkungan hidup hanya sebagai bahan
eksploitasi untuk tujuan jangka pendek. Kondisi ini tentu sangat medesak untuk segera
dikendalikan. Perlu diadakan suatu sistem yang konkrit untuk melakukan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Jika tidak, kerusakan lingkungan
hidup sudah pasti akan menjadi ancaman besar bagi peradaban masyarakat dunia.
Paradigma yang menempatkan lingkungan sebagai obyek eksploitasi telah membawa
kerusakan lingkungan fatal yang berujung kepada berbagai bencana alam yang sangat
merugikan.
Hal ini pun dikuatkan oleh Emil Salim yang menyimpulkan bahwa ada lima
tantangan besar yang harus dihadapi gerakan penyelamatan lingkungan hidup,
diantaranya : pertama adalah penyelematan air dari eksploitasi secara berlebihan dan
pecemaran yang kian meningkat, baik air tanah, sungai, danau, rawa, maupun air
laut. Kedua, merosotnya kualitas tanah dan hutan akibat tekanan penduduk dan
eksploitasi besar-besaran untuk keperluan pembangunan. Ketiga, menciutnya keanekaan
hayati akibat rusaknya habitat lingkungan berbagai tumbuh-tumbuhan dan
hewan. Keempat, perubahan iklim, dan yang terakhir adalah meningkatnya jumlah kota-
kota berpenduduk banyak.
Melihat kerusakan lingkungan hutan yang begitu parah seharusnya sudah
membuat negara ini menindak dengan keras terhadap pelaku-pelaku kejahatan kerusakan
15
lingkungan, terutama yang disertai praktik KKN. Dalam praktik KKN di ranah
lingkungan hidup yang patut diwaspadai adalah para pelaku perusak lingkungan yang
datang dari kalangan pemodal besar seperti perusahaan-perusahaan besar yang terlibat di
sektor kehutanan maupun pertambangan. Hal ini ditegaskan oleh mantan wakil ketua
KPK Chandra Hamzah dalam sebuah worksop investigasi kasus lingkungan di Jakarta,
dimana menurutnya, perusahaan-perusahaan yang melakukan kerusakan terhadap alam
umumnya sulit ditindak karena mereka mengantongi izin usaha yang cukup.
Karena itu menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah proses kontrol administrasi
dalam pemberian izin sebelum perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi. Baik itu izin
usaha baik dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat. Lalu menurut beliau,
perusahaan-perusahaan kecil yang bergerak di bidang kehutanan namun pada RKAT
tahun berikutnya tercatat memiliki jumlah keuntungan yang sangat besar, maka patut
dicurigai perusahan tersebut mendapatkan hasil bukan dari pohon-pohon yang mereka
tanam melainkan dari hutan-hutan alam yang seharusnya tidak boleh ditebang.
Permasalahan yang terjadi, masyarakat kita kurang peduli akan kerugian ekologis
ini, seringkali pelaku-pelaku usaha yang menyebabkan kerusakan lingkungan hanya
terfokus mengenai ganti rugi terhadap penduduk setempat. Memang benar ganti rugi itu
perlu bahkan itu kewajiban mereka, namun ganti kerugian oleh para pelaku usaha jangan
hanya sebatas ganti rugi materi kepada manusia, namun juga kepada alam. Alam yang
rusak tidak bisa diperbaiki hanya dengan semalam perlu waktu berpuluh-puluh tahun
bahkan mungkin saja kerusakan tersebut tidak akan bisa diperbaiki.
H. KASUS KORUPSI
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
menahan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian
Dalam Negeri (Kemendagri) nonaktif Dudy Jocom (DJ).
Dudy merupakan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan gedung
kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Agam, Sumatera Barat.
Dudy sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut pada Maret 2016,
namun baru ditahan saat ini.
"Sore ini dilakukan penahanan untuk tersangka DJ dalam kasus dugaan korupsi
pembangunan gedung kampus IPDN di Agam, Sumatera Barat," ujar Kabiro Humas
KPK, Febri Diansyah, di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis
(22/2/2018).

16
Febri mengungkapkan bahwa Dudy ditahan untuk 20 hari ke depan. Yang
bersangkutan ditahan di Rutan Klas 1 Jakarta Timur cabang KPK.
Sebelumnya KPK menetapkan Dudy Jocom yang juga mantan Staf Khusus
Menteri Dalam Negeri di era Gamawan Fauzi bersama mantan General Manager Hutama
Karya Persero, Budi Rahmat Kurniawan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek
pembangunan Gedung IPDN, di Kabupaten Agam, Sumatera Barat tahun anggaran 2011.
KPK menduga kedua tersangka telah melakukan perbuatan melawan hukum dan
menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain dalam
proyek pembangunan Gedung IPDN di Agam, Sumatera Barat.
Pada kasus ini diduga negara dirugikan sekira Rp34 miliar dari total nilai proyek
Rp125 miliar. Keduanya disangka melanggar Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55
Ayat (1) ke-1 KUHP.

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Semua bentuk korupsi dicirkan tiga aspek. Pertama pengkhianatan terhadap
kepercayaan atau amanah yang diberikan, kedua penyalahgunaan wewenang,
pengambilan keuntungan material ciri-ciri tersebut dapat ditemukan dalam bentuk-
bentuk korupsi yang mencangkup penyapan pemersasn, penggelapan dan nepotisme
Kesemua jenis ini apapun alasannya dan motivasinya merupakan bentuk
pelanggaran terhadap norma-norma tanggung jawab dan menyebabkan kerugian bagi
badan-badan negara dan publik.
B. Saran
Dengan penulis makalah ini, penulis mengharapkan kepada pembaca agar
dapat memilih manfaat yang tersirat didalamnya dan dapat dijadikan sebagai kegiatan
motivasi agar kita tidak terjerumus oleh hal-hal korupsi dan dapat menambah
wawasan dan pemikiran yang intelektual hususnya dalam mata kuliah anti korupsi”.

18
DAFTAR PUSTAKA

MM.Khan. 2000. Political And Administrative Corruption Annota Ted Bibliography.


Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Yang Bersih Dan Bebas Dari
Kolusi, Korupsi Dan Nepotisme.
Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantas Tindak Pidana.
http://forester-untad.blogspot.co.id/2014/05/makalah-dampak-tindakan-korupsi.html.
http://nothing-page.blogspot.co.id/2013/09/korupsi-data-makalah.html.
http://www.tribunnews.com/nasional/2018/02/22/kasus-korupsi-ipdn-sumbar-kpk-tahan-
pejabat-kemendagri-nonaktif.

19