Vous êtes sur la page 1sur 14

1.1.

Konsep Dasar Pariwisata

Sektor pariwisata, telah berperan sebagai penyumbang devisa cukup besar selain
minyak dan gas bumi. Sektor pariwisata menjadi industri atau sektor penting yang
diandalkan pemerintah di masa depan dan menjadi pilar utama pembangunan ekonomi
nasional. Pembangunan kepariwisataan (UU No. 10 Tahun 2009 Tentang
Kepariwisataan) bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas destinasi
pariwisata, serta mengomunikasikan destinasi pariwisata dengan menggunakan media
pemasaran secara efektif, efisien, dan bertanggungjawab.

Kata “Pariwisata” berasal dari bahasa Jawa Kuna. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kata “pari” berarti semua, segala, sekitar, sekeliling; kata “wisata” berarti
berpergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan
sebagainya. Lingkup pariwisata meliputi:

1. Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata.


2. Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata, seperti kawasan wisata, taman
rekreasi, kawasan peninggalan sejarah, museum, waduk, pagelaran seni budaya,
tata kehidupan masyarakat, dan yang bersifat alamiah, seperti keindahan alam,
gunung berapi, danau, pantai, dan lain-lain.
3. Pengusaha jasa dan sarana pariwisata seperti biro perjalanan wisata,
pramuwisata, pameran, angkutan wisata, akomodasi, dan lain-lain.

Wisatawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kata nomina


yang berarti orang berwisata, pelancong, atau turis artinya orang yang memasuki
wilayah atau Negara lain dengan tujuan apapun asal bukan untuk tinggal menetap atau
melakukan usaha teratur, dan mengeluarkan uangnya di Negara yang dikunjungi serta
tidak memperoleh uang dari Negara tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan


telah mendefinisikan wisatawan, wisata, kepariwisataan, dan pariwisata sebagai berikut:

1. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.


2. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi,

1
pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang
dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah,
dan pemerintah daerah.
4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan
bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan
setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat
setempat, sesama wisatawan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan
pengusaha.
5. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan
nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan
manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisata.
6. Daerah tujuan pariwisata atau destinasi pariwisata adalah kawasan geografis
yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang didalamnya
terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta
masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
7. Pengusaha pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan
kegiatan usaha pariwisata. Industri pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata
yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi
pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata.

Setiap wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata, mempunyai hak dan


kewajiban yang harus dipatuhi. Adapun kewajiban dari wisatawan adalah:

1. Menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya, dan nilai-nilai
yang hidup dalam masyarakat setempat.
2. Memelihara dan melestarikan lingkungan.
3. Turut serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.
4. Turut serta mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan
kegiatan yang melanggar hukum.

2
Sedangkan wisatawan berhak memperoleh:

1. Informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata.


2. Pelayanan kepariwisataan sesuai dengan standar.
3. Perlindungan hukum dan keamanan.
4. Pelayanan kesehatan.
5. Perlindungan hak pribadi.
6. Perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang berlaku tinggi.

Untuk menjaga keharmonisasian hubungan antara wisatawan, masyarakat,


pemerintah, dan pengusaha pariwisata, maka dibuatkanlah slogan “SAPTA PESONA”.
Ketujuh unsur Sapta Pesona yang dimaksud yakni:

1. Aman.
2. Tertib.
3. Bersih.
4. Sejuk.
5. Indah.
6. Ramah tamah.
7. Kenangan.

1.2. Jenis Pariwisata

Definisi pariwisata dan wisatawan yang telah dijelaskan sebelumnya memberi


gambaran mengenai tujuan seseorang melakukan perjalanan wisata. Menurut Spillane
(1989) terdapat beberapa jenis pariwisata:

1. Pleasure Tourism (Pariwisata Menikmati Perjalanan)


Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempat tinggalnya
untuk berlibur, mencari udara segar yang baru, mengendorkan ketegangan
sarafnya, menikmati keindahan alam, menikmati hikayat suatu daerah,
menikmati hiburan, dan sebagainya.

3
2. Recreation Tourism (Pariwisata Rekreasi)
Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari-
hari libur untuk istirahat, memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohani
yang akan menyegarkan keletihan dan kelelahan.
3. Cultural Tourism (Pariwisata Budaya)
Jenis pariwisata ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keinginan
untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, mempelajari adat istiadat, cara
hidup masyarakat suatu negara, mengunjungi peninggalan bersejarah maupun
masa kini, pusat-pusat kesenian dan keagamaan, mengikuti festival musik, film,
teater, tari, dan sebagainya.
4. Sport Tourism (Pariwisata Olahraga)
Jenis pariwisata ini dibagi dalam dua kategori yakni: 1) Big Sport Event, seperti
Olympiad Games, Grand Prix- GP, Formula-1, World Cup, dan sebagainya. 2)
Supporting Tourism of Practionaer, yakni pariwisata olahraga bagi mereka yang
ingin berlatih dan mempraktikan sendiri seperti, pendakian gunung, berburu,
memancing, dan sebagainya.
5. Business Shopping Tourism (Pariwisata Dagang Besar-Belanja)
Jenis perjalanan ini menurut banyak ahli tidak termasuk dalam kegiatan
pariwisata karena unsur voluntary tidak terlibat didalamnya. Dalam jenis
pariwisata ini, unsur yang ditekankan adalah kesempatan yang digunakan oleh
pelaku perjalanan wisata menggunakan waktu-waktu bebasnya untuk
menjadikan dirinya sebagai wisatawan dengan mengunjungi dan menikmati
obyek wisata dan berbelanja.
6. Convention Tourism (Pariwisata Konvesi)
Fasilitas konvensi ini digunakan untuk melakukan pertemuan-pertemuan kepala
negara atau organisasi-organisasi dunia yang melibatkan banyak negara dan
banyak peserta.

4
1.3. Usaha Pariwisata

United Nations Conference on Trade and Development (1971) dalam Guideless


for Tourism Statistics mengatakan bahwa industri pariwisata atau sektor pariwisata
bukan merupakan suatu sektor ekonomi tertentu atau bukan merupakan cabang produksi
tertentu. Berdasarkan hal tersebut, sektor-sektor yang dianggap termasuk sektor
pariwisata adalah:

1. Akomodasi termasuk didalamnya hotel, villa, penginapan, dan pemondokan.


2. Jasa boga termasuk didalamnya restoran, cafetaria, dan rumah makan.
3. Usaha wisata termasuk didalamnya pengusahaan obyek wisata, usaha souvenir,
dan usaha hiburan.
4. Agen perjalanan wisata termasuk didalamnya travel agent.
5. Perusahaan angkutan atau transportasi termasuk didalamnya perusahaan
angkutan darat, laut, udara yang menunjang perjalanan wisman dan wisdom.
6. Convention organizer.
7. Pelatihan dan pendidikan.

UU No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan telah mendefinisikan industri


pariwisata adalah kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka
menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam
penyelenggaraan pariwisata. Sedangkan usaha pariwisata adalah usaha yang
menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam
penyelenggaraan pariwisata. Usaha pariwisata meliputi:

1. Daya Tarik Wisata.


Bidang usaha daya tarik wisata meliputi jenis usaha pengelolaan daya tarik
wisata dan subjenis usaha meliputi: Pengelolaan pemandian air panas alami,
pengelolaan gua, pengelolaan peninggalan sejarah dan purbakala, pengelolaan
museum, pengelolaan permukiman dan/atau lingkungan adat, pengelolaan obyek
ziarah, dan subjenis usaha lainnya dari jenis usaha pengelolaan daya tarik wisata
yang ditetapkan oleh Bupati, Walikota, dan/atau Gubernur.

5
2. Kawasan Pariwisata.
3. Jasa Transportasi Wisata.
Bidang usaha jasa transportasi wisata meliputi jenis usaha: Angkutan jalan
wisata, angkutan kereta api wisata, angkutan sungai dan danau wisata, angkutan
laut domestik wisata, dan angkutan laut internasional wisata.
4. Jasa Perjalanan Wisata.
Bidang usaha perjalanan wisata meliputi jenis usaha biro perjalanan wisata dan
agen perjalanan wisata.
5. Jasa Makanan dan Minuman.
Bidang usaha makanan dan minuman meliputi jenis usaha restoran, rumah
makan, bar, kafe, jasa boga, pusat penjualan makanan, dan jenis usaha lain
bidang usaha jasa makanan dan minuman yang ditetapkan oleh Bupati, Walikota,
dan/atau Gubernur.
6. Penyediaan Akomodasi.
Bidang usaha jasa penyediaan akomodasi meliputi jenis usaha hotel (hotel
bintang dan hotel nonbintang), bumi perkemahan, persinggahan karavan, villa,
pondok wisata, serta akomodasi lain yang meliputi motel dan jenis usaha lain
bidang usaha jasa penyediaan akomodasi yang ditetapkan oleh Bupati, Walikota,
dan/atau Gubernur.
7. Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan Rekreasi.
Bidang usaha jasa penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi meliputi jenis
usaha gelanggang olahraga, gelanggang seni, arena permainan, hiburan malam,
panti pijat, taman rekreasi, dan subjenis usaha lainnya dari jenis usaha taman
rekreasi yang ditetapkan oleh Bupati, Walikota, dan/atau Gubernur.
8. Jasa Impresariat/Promotor, yang meliputi subjenis usaha jasa
impresariat/promotor.
9. Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran.
Bidang usaha penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan
pameran meliputi jenis usaha penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif,
konferensi, dan pameran.
10. Jasa Informasi Pariwisata.
11. Jasa Konsultan Pariwisata.

6
12. Jasa Pramuwisata.
13. Wisata Tirta.
Bidang usaha wisata tirta meliputi jenis usaha wisata bahari serta wisata sungai,
danau, dan waduk.
14. SPA.
Bidang usaha SPA belum memiliki jenis maupun subjenis usaha.

1.4. Motivasi Melakukan Perjalanan Wisata


Daerah tujuan pariwisata atau disebut juga sebagai destinasi pariwisata
merupakan suatu kawasan pada satu atau lebih wilayah administratif yang memiliki
daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksebilitas, serta masyarakat yang
saling terkait dan melengkapi satu sama lainnya sehingga terwujud kepariwisataan.
Daya tarik wisata adalah hal-hal yang mempunyai keunikan, keindahan, dan nilai yang
dapat berbentuk kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang dapat dijadikan
sebagai sasaran atau tujuan kunjungan wisata.
Beberapa sub jenis atau kategori kegiatan wisata yaitu: wisata petualangan
(adventure tourism), wisata bahari (marine tourism), wisata agro (farm tourism), wisata
kreatif (creative tourism), wisata kapal pesiar (cruise tourism), wisata kuliner (culinary
tourism), wisata budaya (cultural tourism), wisata sejarah (heritage tourism), wisata
memorial (dark tourism), wisata pendidikan (educational tourism), wisata ekstrim-
menantang bahaya, wisata masal (mass tourism), wisata kesehatan (medical tourism),
wisata alam (nature-based tourism), wisata religi (religious tourism), wisata budaya
kekinian (pop culture tourism), dan wisata kota (urban tourism).
Terdapat beberapa alasan seseorang melakukan perjalanan untuk bersenang-
senang (H. Peter Gray, 1970) yaitu:
1. Faktor haus akan sinar (sunlust), merupakan suatu faktor yang diartikan
sebagai sifat-sifat medasar pada watak manusia untuk melihat suatu daerah
atau kebudayaan baru yang berbeda dari yang biasanya sudah dilihat dan
dirasakan.
2. Faktor yang menimbulkan jenis perjalanan khusus, faktor ini tergantung pada
adanya hal-hal bersifat menyenangkan yang berbeda dan lebih baik untuk
tujuan tertentu dibandingkan dengan hal-hal yang terdapat pada tempat sendiri.

7
Sifat khusus yang dimiliki produk dari obyek atau industri pariwisata menurut
Spillance (1989) antara lain:
1. Produk wisata tidak dapat dipindahkan karena orang tidak dapat membawa
produk wisata ke wisatawan, tetapi wisatawan itu sendiri yang harus
mengunjungi, mengalami, dan datang untuk menikmati produk wisata.
2. Produksi dan konsumsi terjadi pada waktu bersamaan. Wisatawan yang sedang
menggunakan jasa wisata akan menyebabkan terjadinya kegiatan produksi
wisata.
3. Pariwisata tidak mepunyai standar ukuran yang obyektif karena pariwisata
memiliki berbagai ragam jenis pariwisata.
4. Wisatawan tidak dapat mencicipi, mengetahui, ataupun menguji produk itu
sebelumnya karena wisatawan hanya melihat melalui brosur, internet atau alat
promosi lainnya.
5. Produk wisata mengandung resiko tinggi karena memerlukan modal yang
besar.
Faktor-faktor lain yang menjadi penyebab seseorang untuk melakukan suatu
perjalanan wisata yaitu:
1. Kondisi lingkungan yang kurang baik atau rusak, lingkungan tempat tinggal
yang bising dan kotor, ataupun pemandangan yang membosankan.
2. Kondisi sosial budaya, seperti kurang tersedianya fasilitas rekreasi, kegiatan
yang rutin dalam masyarakat sekitar, terlalu banyak bekerja, adanya perbedaan
sosial antara anggota masyarakat dan lain-lain sering menjadi alasan untuk
pergi ke tempat-tempat yang kondisinya lebih baik dan menyenangkan.
3. Kondisi ekonomi, seperti konsumsi yang tinggi dari masyarakat, biaya hidup
sendiri-sendiri, tingkat daya beli yang tinggi dan banyaknya waktu luang yang
dimiliki oleh seseorang.
4. Pegaruh kegiatan pariwisata, seperti peningkatan publikasi dan penyebaran
informasi serta timbulnya pandangan tentang nilai lebih dari kegiatan
berwisata terhadap fungsi sosial masyarakat dapat mendorong kegiatan wisata.

8
1.5. Pemasaran Pariwisata
Pemasaran daerah tujuan wisata adalah semua usaha yang dilakukan untuk
mengenalkan produk wisata yang ditawarkan oleh daerah tujuan wisata baik yang
tangiable maupun intangiable produk, mengenali identitas wisatawan untuk berkunjung
kedaerah tujuan wisata. Tujuan utama pemasaran pariwisata lebih mengutamakan
quality tourism yang dengan selektif dapat mencapai wisatawan yang sangat besar dan
terjadi repeat guest. Pemasaran daerah tujuan pariwisata memerlukan kerjasama dengan
pihak-pihak terkait seperti: pemerintah, perusahaan jasa penerbangan dalam dan luar
negeri, jasa transportasi darat, biro wisata, travel, restoran dan hotel.
Pemasaran suatu daerah tujuan wisata juga dapat dilakukan melalui suatu
kegiatan mengundang penulis atau wartawan pariwisata asing dengan tujuan agar
penulis atau wartawan tersebut meulis atau meliput hasil kunjungannya didaerah tujuan
wisata. Dalam manajemen pemasaran global, prinsip-prinsip dalam marketing mix
masih berlaku. Marketing mix sebagai strategi pemasaran sebenarnya mempertemukan
antara penawaran dan permintaan pasar. Unsur marketing mix dalam pariwisata yaitu:
1. Product mix
Wisatawan memerlukan jasa obyek wisata dan sarana wisata tertentu. Sarana
wisata adalah sarana sosial ekonomi secara keseluruhan atau sebagian
menghasilkan barang atau jasa yang digunakan wisatawan. Faktor penting
dalam product mix adalah masalah pemeliharaan warisan budaya, peninggalan
sejarah, dan pemeliharaan fisik dan nonfisik.
2. Distribution mix
Distribution mix berperan peting dalam membawa wisatawan pada produk
wisata yang ditawarkan. Distribution mix mencangkup jasa transportasi, biro
perjalanan dan guide. Kunci penting distribution mix adalah layanan agar
wisatawan memperoleh kepuasan saat mengkonsumsi produk parwisata.
3. Communication Mix
Untuk mengenalkan, menginformasikan, menarik, dan mendorong wisatawan
agar mengentahui produk pariwisata maka diperlukan communication mix.
Beberapa pendekatan communication mix yaitu:

9
a. Sales promotion
Pendekatan ini meliputi kegiatan komunikasi yang diarahkan kepada
wistawan melalui media umum, e-commerce, biro perjalanan, dan
hubungan langsung dengan wisatawan.
b. Image promotion
Kegiatan komunikasi ini dilakukan dengan cara membujuk secara halus
untuk memberi kesan dan gambaran suatu daerah tujuan wisata melalui
kunjungan perkenalan juru foto spesialis, penulis atau wartawan pariwisata,
feature, khusus disurat kabar atau majalah, dan pengiriman misi kesenian
keberbagai negara.
c. Melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kepada semua staf
organisasi yang terkait dalam matarantai kegiatan pariwisata.
d. Melalui jasa penerangan kantor pariwisata, termasuk jasa surat menyurat
dan hubungan korespodensi melalui alat komunikasi.
4. Service mix
Kegiatan service mix merupakan kebijakan pemerintah untuk memperlancar
perjalanan dan persinggahan wisatawan, seperti kebijakan visa dan ketentuan
bea cukai.
1.6. Aspek dan Dampak Pembangunan Pariwisata
1.6.1 Aspek Ekonomis Pariwisata
Industri pariwisata yang berkembang disuatu negara/daerah akan menarik
sektor lain untuk berkembang karena produk atau jasanya diperlukan untuk
menunjang industri pariwisata. Industri pariwisata dapat menjadi sumber
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah industri pariwisata yang dimiliki masyarakat
daerah (community tourism development) atau CTD. Dengan pengembangan CTD,
pemerintah daerah dapat memperoleh peluang penerimaan pajak dan beragam
restribusi yang bersifat legal. Kegiatan CTD meliputi pengembangan dan pelestarian
budaya, kesenian dan budaya berbagai desa didaerah tujuan wisata. Pilar ekonomi
CTD dalam meningkatkan PAD dapat dilihat dari usaha pemerintah daerah dalam
melakukan pungutan dan restribusi resmi dari kegiatan industri yang bersifat
multisektoral, yang meliputi usaha perhotelan, restoran, usaha wisata, usaha

10
perjalanan wisata, professional convention organizer, serta pelatihan dan
transportasi.
Keterkaitan kegiatan industri pariwisata dengan penerimaan daerah melalui
jalur PAD yang terdiri dari pajak daerah, restribusi daerah, pendapatan hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, bagi hasil kekayaan bukan pajak dan
pendapatan transfer yang terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber
daya alam, dana alokasi umum serta dana alokasi khusus. Sebagai contoh,
keberadaan sebuah hotel suatu daerah kabupaten atau kota akan menjadi sumber
PAD bagi kabupaten atau kota penerimaan:
1. Pajak daerah (berupa pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak
reklame dan pajak minuman berakohol).
2. Restribusi daerah (berupa uang sepadan reklame, retribusi kebersihan,
uang sewa tanah/bangunan, restribusi ijin mendirikan bangunan, dan
restribusi parkir).
3. Laba BUMD (berupa penggunaan jasa bank pemerintah daerah, PD bank
pasar, dan Pd air minum).
4. Bagi hasil pajak (berupa bagi hasil bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan, bagi hasil pajak penghasilan pasasl 25, 29 dan pph pasal 21)
5. Bukan pajak (berupa pembelian hak atas tanah pemerintah).
Bagi provinsi, keberadaan hotel yang ada didaerahnya akan menjadi sumber
PAD dari penerimaan:
1. Pajak provinsi (berupa pajak air bawah tanah, pajak bahan kendaraan
bermotor dan pajak kendaraan bemotor).
2. Restribusi provinsi (berupa restribusi pemakaian tanah dan bangunan).
3. Laba BUMD provinsi (berupa bagi hasil bumi dan bangunan, bagi hasil
bea perolehan hak katas tanah dan bangunan, bagi hasil pajak pph pasal
25, 29 dan 21).

11
1.6.2. Dampak Pembangunan Pariwisata
Pembangunan dan pengembangan pariwisata yang direncanakan dan diarahkan
dengan baik akan memberikan banyak manfaat pada berbagai bidang, seperti:
1. Manfaat ekonomi (kesejahteraan masyarakat)
Meningkatnya arus wisatawan baik nusantara atau mancanegara ke suatu
daerah menuntut macam-macam pelayanan dan fasilitas yang semakin
meningkat jumlah dan jenisnya. Hal ini memberikan manfaat ekonomi
bagi penduduk, pengusaha maupun pemerintah setempat, seperti:
penerimaan devisa akan meningkat; kesempatan berusaha yang semakin
luas; terbukanya lapangan pekerjaan baru disekitar daerah wisata dan
meningkatnya pendapatan masyarakat serta pemerintah.
2. Manfaat Sosial Budaya
Manfaat sosial budaya yang didapatkan dari pembangunan pariwisata
seperti: adanya upaya pelestarian budaya dan adat istiadat dari masyarakat;
meningkatkan kecerdasan masyarakat karena adanya persaingan;
meningkatkan kesehatan dan kesegaran jasmani ataupun rohani; dan
mengurangi konflik sosial karena meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
3. Manfaat dalam berbangsa dan bernegara
Manfaat yang diperoleh dari pembangunan dan pengembangan dpariwisata
dalam hal ini seperti: mempererat persatuan dan kesatuan daerah;
menumbuhkan rasa memiliki, keinginan untuk memelihara dan
mempertahankan negara yang berujung pada tumbuh rasa cinta terhadap
tanah air; dan memelihara hubungan baik internasional dalam hal
pengembangan pariwisata.
4. Manfaat bagi lingkungan
Pembangunan dan pengembangan pariwisata yang diarahkan dengan baik
merupakan salah satu cara dalam upaya untuk melestarikan lingkungan,
disamping akan memperoleh nilai tambah atas pemanfaatan dari
lingkungan yang ada.
Pembangunan dan pengembangan pariwisata pada suatu daerah juga sering
menimbulkan dampak-dampak yang tidak diinginkan (negatif) seperti: naiknya
harga barang-barang atau jasa pelayanan, karena banyaknya pengunjung; penduduk,

12
khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatwan yang tidak sesuai
dengan budaya dan kepribadian bangsa sendiri; banyaknya pemanfaatan wisatawan
oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab; dan terjadinya pengerusakan
lingkungan, baik karena pembangunan prasarana dan sarana pariwisata.

13
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, Dodik. M.M. Ratna Sari dan Widanaputra. 2018. Akuntansi
Perhotelan Pendekatan Sistem Informasi Berbasis USALI. Denpasar: Universitas
Udayana.

14