Vous êtes sur la page 1sur 10

BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Marleen Nama Wahana : RSUD Kota Tangerang Topik : ISK komplikata +
Nama Peserta : dr. Marleen
Nama Wahana : RSUD Kota Tangerang
Topik : ISK komplikata + GERD
Tanggal (kasus) :28 Januari 2018
Nama Pasien : Tn, A
Tanggal Presentasi :
No. RM : 00001522XX
Nama Pendamping :
dr. Pratiwi Indar Palupi
Tempat Presentasi : Ruang Rapat
Obyektif Presentasi :
 Keilmuan
 Keterampilan
 Penyegaran
 Tinjauan Pustaka
 Diagnostik  Manajemen
 Masalah
 Istimewa
 Neonatus  Bayi
 Anak
 Remaja
 Dewasa
 Lansia
 Bumil
 Deskripsi
 Tujuan
Bahan
 Tinjauan
 Kasus
 Audit
Bahasan
Pustaka
Cara
 Riset
 Presentasi dan
 Diskusi
 Email
Pos
Membahas :
Data Pasien :
Diskusi
Nama : Tn. A / 30 tahun
No. Registrasi : 001320XX

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

Data Utama untuk Bahan Diskusi :

  • 1. Diagnosis/Gambaran Klinis:

Pasien datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan nyeri perut kiri bawah yang tidak menjalar sejak 3 hari nyeri dirasakan terus menerus dan tambah parah awalnya hanya rasa tidak nyaman pada perut kiri bawah lalu bertambah parah nyeri terasa seperti ditusuk, demam hilang timbul sejak 3 hari SMRS, pusing (+) disertai mual (+) muntah (+) 1 kali berwarna kuning berisi ampas makanan. Pasien juga mengeluh nyeri saat setelah selesai kencing (+), terasa perih dan panas, anyang – anyangan (+), kencing berwarna merah muda (+) 1x, kencing berpasir (-), kencing bertambah lancar sewaktu berubah posisi (-). Pasien belum pernah mengalami sakit yang sama. Pasien juga mengaku nyeri juga dirasakan pasien pada ulu hati yang terasa hilang timbul, nyeri dirasakan saat sebelum atau sesudah makan, hal seperti ini sudah sering dirasakan pasien. BAB tidak ada keluhan. Makan dan minum dirasa pasien kurang nafsu karena mulut pasien terasa pahit dan dada terasa panas. Pasien juga mengaku dada sering terasa sesak dan panas hilang timbul sewaktu malam hari terutama saat tidur Batuk (+) kering. Pilek (-)

  • 2. Riwayat Pengobatan

Pasien belum berobat dan pasien hanya mengkonsumi obat promag 1 kali di rumah

sebelum makan namun keluhan masih menetap

  • 3. Riwayat Kesehatan/penyakit

  • 1. Riwayat penyakit seperti ini

: belum pernah

  • 2. Riwayat hipertensi

: disangkal

  • 3. Riwayat diabetes melitus

: disangkal

  • 4. Riwayat penyakit jantung

: disangkal

  • 5. Riwayat operasi sekitar perut

: disangkal

  • 6. Riwayat alergi Kebiasaan minum air putih Kebiasaan ganti celana Kebiasaan menahan kencing

: disangkal : sedikit : 1-2x sehari : diakui

  • 4. Riwayat Keluarga

  • 1. Keluarga tidak ada yang mengalami keluhan serupa.

  • 2. Riwayat hipertensi

: disangkal

  • 3. Riwayat diabetes

: disangkal

  • 4. Riwayat alergi makanan atau obat

: disangkal

  • 5. Riwayat Pekerjaan

Os bekerja sebagai pegawai kios dan menggunakan BPJS

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

  • 6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik

Lingkungan pasien padat penduduk

Daftar Pustaka

  • 1. Sukandar, E. Infeksi (non spesifik dan spesifik) Saluran Kemih dan Ginjal. In Sukandar E. Nefrologi Klinik Edisi III. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah (PII)

Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD. 2006: 29-72

  • 2. Nguyen, H.T. Bacterial Infections of The Genitourinary Tract. In Tanagho E. & McAninch J.W. ed. Smith’s General urology 17th edition. Newyork: Mc Graw Hill Medical Publishing Division. 2008: 193-195

  • 3. Scanlon, V.C & Sanders, T. Essential of Anatomy and Physiology 5th edition. Philadelpia: FA Davis Company. 2007: 420-432

  • 4. 2.

Sukandar, E. Infeksi Saluran Kemih. In Sudoyo A.W, et all.ed. Buku Ajar Ilmu

Penyakit Dalam Jilid II Edisi V. Jakarta: Internal Publishing. 2009:1008-1014.

Hasil Pembelajaran :

  • 1. Diagnosis isk komplikata

  • 2. Tatalaksana untuk pasien isk

  • 3. Informasikan dan edukasi mengenai penyakit pasien

  • 4. Motivasi untuk rutin kontrol dan minum obat

  • 5. Informasikan dan edukasi mengenai dampak buruk penyakit pasien

  • 6. Motivasi untuk hidup sehat dan banyak minum air putih

  • 1. Subjektif

Pasien datang ke IGD rumah sakit dengan keluhan nyeri perut kiri bawah yang tidak menjalar sejak 3 hari nyeri dirasakan terus menerus dan tambah parah awalnya hanya rasa tidak nyaman pada perut kiri bawah lalu bertambah parah nyeri terasa seperti ditusuk, demam hilang timbul sejak 3 hari SMRS, pusing (+) disertai mual (+) muntah (+) 1 kali berwarna kuning berisi ampas makanan. Pasien juga mengeluh nyeri saat setelah selesai kencing (+), terasa perih dan panas, anyang – anyangan (+), kencing berwarna merah muda (+) 1x, kencing berpasir (-), kencing bertambah lancar sewaktu berubah posisi (-). Pasien belum pernah mengalami sakit

yang sama. Pasien juga mengaku nyeri juga dirasakan pasien pada

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

 

ulu hati yang terasa hilang timbul, nyeri dirasakan saat sebelum atau sesudah makan, hal seperti ini sudah sering dirasakan pasien. BAB tidak ada keluhan. Makan dan minum dirasa pasien kurang nafsu karena mulut pasien terasa pahit dan dada terasa panas. Pasien juga mengaku dada sering terasa sesak dan panas hilang timbul sewaktu malam hari terutama saat tidur. Batuk (+) kering.

Pilek (-)

2.

Objektif

Pemeriksaan Fisik

 

Keadaan Umum Kesadaran : CM (E4M6V5)

Tanda – tanda vital :

Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Nadi : 110x/menit kuat angkat reguler

Suhu : 38,0 o C

Pernapasan : 22x/menit

Kepala

: normosefali

Mata

: pupil bulat isokhor 2mm/2mm, RCL (+/+), RCTL (+/

+), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Mulut

: tidak tampak sianosis

Leher

: kaku kuduk (-), JVP tidak meningkat,

Thorax

: bentuk normal, gerakan simetris

Cor

: S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (=)

Pulmo

: vesikuler, rhonki (+/+), wheezing (-/-)

Abdomen

: distensi, hipertimpani, BU (+) normal, NTE (+),

nyeri tekan simpisis pubis. Ketok CVA (-)

Extremitas

: akral hangat, CRT < 3 detik, pitting edema (-/-)

Pemeriksaan Penunjang

1.

Laboratorium (saat di IGD, 28/1/2018)

2.

Darah rutin Hb 16,1 g/dl

HT 47 %

Leukosit 11,6 ul

Trombosit 254 ul

Urin

Kekeruhan : Agak keruh

Warna : kuning tua

Urobilinogen (+1)

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

 

Protein (+1)

Bilirubin (+1)

Leukosit (+1)

Bakteria (+1)

Hasil EKG : Dalam batas normal

 

Hasil Thorax : Dalam batas normal

3.

Assessment

ISK + GERD Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan di praktik umum. Kejadian ISK dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor predisposisi yang mengakibatkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. ISK cenderung terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai factor predisposisi2. Menurut penelitian, hampir 25-35% perempuan dewasa pernah mengalami ISK selama hidupnya. Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (School girls) 1% meningkat menjadi 5 % selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai 30% pada laki-laki dan perempuan jika disertai faktor predisposisi2. Pada umumnya ISK disebabkan oleh mikroorganisme (MO) tunggal seperti:

 
 

• Eschericia coli merupakan MO yang paling sering diisolasi dari pasien dengan ISK simtomatik maupun asimtomatik • Mikroorganisme lainnya yang sering ditemukan seperti Proteus spp (33% ISK anak laki-laki berusia 5 tahun), Klebsiella spp dan Stafilokokus dengan koagulase negatif • Pseudomonas spp dan MO lainnya seperti Stafilokokus jarang dijumpai, kecuali pasca kateterisasi

 

Faktor predisposisi (pencetus) ISK

Litiasis

Obstruksi saluran kemih

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

dengan consensus), penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal GERD merupakan Gastro-oesophageal reflux disease ( GERD ) adalah salah
dengan consensus), penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal GERD merupakan Gastro-oesophageal reflux disease ( GERD ) adalah salah
dengan
consensus), penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal
GERD merupakan Gastro-oesophageal reflux disease ( GERD )
adalah salah satu kelainan yang sering dihadapi di lapangan dalam
bidang gastrointestinal. Penyakit ini berdampak buruk pada
kualitas hidup penderita dan sering dihubungkan dengan
morbiditas yang bermakna. Berdasarkan Konsensus Montreal
tahun 2006 (the Montreal definition and classification of
gastroesophageal reflux disease : a global evidence- based
Lokal
 Disuria
 Polakisuria
 Stranguria
 Tenesmus
 Nokturia
 Enuresis nocturnal
 Prostatismus
 Inkontinesia
 Nyeri uretra
 Nyeri kandung kemih
 Nyeri kolik
 Nyeri ginjal
Gejala klinis
 Penyakit ginjal polikistik
 Nekrosis papilar
 DM pasca transplantasi ginjal
 Nefropati analgesik
 Penyakit Sickle-cell
 Senggama
 Kehamilan
peserta
tablet
progesteron
dan
KB
 Kateterisasi
Sistemik
 Panas
sampai
badan
menggigil
 Septicemia dan syok
Perubahan urinalisis
 Hematuria
 Piuria
 Chylusuria
 Pneumaturia

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

 

Reflux Disease/GERD) didefinisikan sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu (troublesome) di esofagus maupun ekstra-esofagus dan/atau komplikasi (Vakil dkk, 2006). Komplikasi yang berat yang dapat timbul adalah Barret’s esophagus, striktur, adenokarsinoma di kardia dan esofagus (Vakil dkk, 2006), (Makmun, 2009).

Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya GERD. Esofagitis dapat terjadi sebagai akibat refluks esofageal apabila :

1). Terjadi kontak dalam waktu yang cukup lama antara bahan refluksat dengan mukosa esofagus, 2). Terjadi penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus (Makmun, 2009).

Esofagus dan gaster dipisahkan oleh suatu zona tekanan tinggi (high pressure zone) yang dihasilkan oleh kontraksi lower esophageal sphincter (LES). Pada individu normal, pemisah ini akan dipertahankan kecuali pada saat sendawa atau muntah. Aliran balik dari gaster ke esofagus melalui LES hanya terjadi apabila tonus LES tidak ada atau sangat rendah (<3 mmHg)

(Makmun,2009).

Refluks gastroesofageal pada pasien GERD terjadi melalui 3 mekanisme : 1). Refleks spontan pada saat relaksasi LES tidak adekuat, 2). Aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan, 3). Meningkatnya tekanan intra abdomen. Dengan demikian dapat diterangkan bahwa patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara faktor defensif dari esofagus (pemisah anti refluks, bersihan asam dari lumen esofagus, ketahanan epitel esofagus) dan faktor ofensif dari bahan refluksat. Faktor-faktor lain yang turut berperan dalam timbulnya gejala GERD adalah kelainan di lambung yang meningkatkan terjadinya refluks fisiologis, antara lain dilatasi lambung atau

obstruksi gastric outlet dan delayed gastric emptying (Makmun,

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

 

2009).

4.

plan

Terapi :

 

Vemplon Inj ranitidin 1 x 50 mg Inj ketorolac 1 x 30mg Inj ondansentron 1x 8mg Antasida syr 2 cth Obat pulang :

Sipro 2 x 200 mg Pct 2 x 1000 mg Urinter 2 x 400mg Antasida doen tab 3 x 500mg Omeprazol 1 x 10mg

Infeksi saluran kemih atas (ISKA) Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut (PNA) memerlukan rawat inap untuk memelihara status hidrasi dan terapi antibiotik parenteral minimal 48 jam. Indikasi rawat inap pada PNA antara lain kegagalan dalam mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap antibiotik oral, pasien sakit berat, kegagalan terapi antibiotik saat rawat jalan, diperlukan investigasi lanjutan, faktor predisposisi ISK berkomplikasi, serta komorbiditas seperti kehamilan, diabetes mellitus dan usia lanjut. The Infectious Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga alternative terapi antibiotic IV sebagai terapi awal selama 48- 72 jam, sebelum adanya hasil kepekaan biakan yakni fluorokuinolon, amiglikosida dengan atau tanpa ampisilin dan sefalosporin spektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida.

Infeksi saluran kemih bawah (ISKB)

Prinsip manajemen ISKB adalah dengan meningkatkan intake

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

 

cairan, pemberian antibiotik yang adekuat, dan kalau perlu terapi simtomatik untuk alkanisasi urin dengan natrium bikarbonat 16-20 gram per hari2,5 Pada sistitis akut, antibiotika pilihan pertama antara lain nitrofurantoin, ampisilin, penisilin G, asam nalidiksik dan tetrasiklin. Golongan sulfonamid cukup efektif tetapi tidak ekspansif. Pada sistitis kronik dapat diberikan nitrofurantoin dan sulfonamid sebagai pengobatan permulaan sebelum diketahui hasil

bakteriogram5.

Komplikasi

Komplikasi ISK bergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana (uncomplicated) dan ISK tipe berkomplikasi (complicated).

  • a. ISK sederhana (uncomplicated)

ISK akut tipe sederhana yaitu non-obstruksi dan bukan pada

perempuan hamil pada umumnya merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak menyebablan akibat lanjut jangka lama.

  • b. ISK tipe berkomplikasi (complicated)

ISK tipe berkomplikasi biasanya terjadi pada perempuan hamil dan pasien dengan diabetes mellitus. Selain itu basiluria asimtomatik (BAS) merupakan risiko untuk pielonefritis diikuti penurun laju filtrasi glomerulus (LFG). Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis yang terkait spesies kandida dan infeksi gram negatif lainnya dapat dijumpai pada pasien DM. Pielonefritis emfisematosa disebabkan oleh MO pembentuk gas seperti E.coli, Candida spp, dan klostridium tidak jarang dijumpai pada pasien DM. Pembentukan gas sangant intensif pada parenkim ginjal dan jaringan nekrosis disertai hematom yang luas. Pielonefritis emfisematosa sering disertai syok septik dan nefropati akut vasomotor. Abses perinefritik merupakan komplikasi ISK pada pasien DM (47%), nefrolitiasis (41%), dan obstruksi ureter (20%).

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen

 

GERD American Gastroenterological Association (AGA) menerbitkan American Gastroenterological Association Medical Position Statement on the Management of Gastroesophageal Reflux Disease yang berisi 12 pernyataan, di mana pada poin ke-4 dijelaskan tentang peran dan urutan prioritas uji diagnostik GERD pada dalam mengevaluasi pasien dengan sangkaan GERD sebagai berikut : (Hiltz dkk, 2008)

  • 1. Endoskopi dengan biopsi dilakukan untuk pasien yang mengalami gejala esofagus dari GERD dengan disfagia yang mengganggu. Biopsi harus mencakup area yang diduga mengalami metaplasia, displasia, atau dalam hal tidak dijumpainya kelainan secara visual, mukosa yang normal (minimal 5 sampel untuk esofagitis eosinofilik.)

  • 2. Endoskopi dilakukan untuk mengevaluasi pasien yang mengalami gejala esofagus dari GERD yang tidak berespon terhadap terapi empiris berupa PPI 2 kali sehari. Biopsi harus mencakup area yang diduga mengalami metaplasia, displasia, atau malignansi.

  • 3. Manometri dilakukan untuk mengevaluasi pasien dengan dugaan gejala GERD yang tidak berespon terhadap terapi empiris berupa PPI 2 kali sehari dan gambaran endoskopinya normal.

  • 4. Pemantauan dengan ambulatory impedance-pH, catheter- pH, atau wireless- pH dilakukan (terapi PPI dihentikan selama 7 hari) untuk mengevaluasi pasien dengan dugaan gejala GERD yang tidak berespon terhadap terapi

BORANG INTERNSHIP RSUD KOTA TANGERANG

PERIODE 16 JUNI 2017 – 14 JUNI 2018 dr. Marleen