Vous êtes sur la page 1sur 7

AYUNITA CHAERUNNISA

K111 16 352
KESMAS C

TUGAS KEPEMIMPINAN DAN BERFIKIR SISTEM KESEHATAN MASYARAKAT


1. Bagaimana etika kepemimpinan dalam kesehatan masyarakat?
Jawaban :
Etika kesehatan masyarakat adalah suatu tatanan moral berdasarkan system nilai yang
berlaku secara universal dalam eksistensi mencegah perkembangan resiko pada individu,
kelompok dan masyarakat yang mengakibatkan penderitaan sakit dan kecacatan, serta
meningkatkan keberdayaan masyarakat untuk hidup sehat dan sejahtera. Dalam dimensi
kesehatan masyarakat rahasia tidak dikenal, bahkan tranparansi merupakan kekuatan dari
penyelesaian problema. Prosedur kerja tenaga kesehatan masyarakat adalah akuntabiltas dari
masyarakat sebagai indicator dari kualitas. Ketika terjadi suatu upaya penyembuyian fakta-
fakta dari tenaga kesehatan masyarakat, maka di situlah kegagalan dari pekerjaannya, karena
fakta-fakta masalah kesehatan akan terus berkembang dan hadir sebagai sesuatu yang kongkrit
melalui wabah penyakit, ataupun dalam bentuk KLB (kejadian luar biasa). Etika adalah usaha
manusia dalam memakai akal budi dan daya pikirnya untuk menyelesaikan masalah
bagaimana ia harus hidup, kalau ia mau menjadi baik.
Sebagaimana etika profesi kesehatan lainnya dalam Praktik kesehatan Masyarakat
terdapat Prinsip-prinsip Etika sebagai berikut:
a) Kesehatan masyarakat secara prinsip harus ditujukan bagi penyebab-penyebab
fundamental dari penyakit dan semua kebutuhan bagi kesehatan, ditargetkan untuk
mencegah terjadinya penyakit lanjutan.
b) Kesehatan masyarakat harus mendapat meningkatkan ke sehatan masyarakat secara
keseluruhan menghormati hak-hak asasi manusia dan individual dalam masyarakat.
c) Kebijakan kesehatan masyarakat, dan prioritasnya harus dikembangkan dan dievaluasi
melalui proses yang dapat memastikan adanya kesempatan untuk memasukkan dari para
anggota masyarakat.
d) Kesehatan masyarakat harus dapat mengadvokasi dan bekerja keras untuk
memberdayakan para anggota masyarakat, denga tujuan untuk memastikan bahwa sumber-
sumber daya dan kondisi yang dibutuhkan untuk kesehatan dapat diaks oleh semua orang.
e) Kesehatan masyarakat harus selalu mencari informasi yang dibutuhkan untuk
mengimplementasikan kebijakan ya efektif dan program-program yang melindungi dan
mempromosikan kesehatan.
f) Institusi kesehatan masyarakat harus memberikan dan menyediakan bagi masyarakat
informasi informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan bagi kebijakan atau
program dan harus selalu memasukkan kepentingan masyarakat dalam implementasinya.
g) Institusi kesehatan masyarakat harus tepat waktu dan tanggap terhadap informasi yang
mereka miliki dalam sumber-sumber daya yang dimandatkan bagi mereka oleh
masyarakat.
h) Program-program kesehatan masyarakat dan kebijakannya harus berhubungan dengan
berbagai macam pendekatan yang dapat mengantipasi dan mengatasi berbagai variasi
masalah nilai-nilai, kepercayaan, dan kebudayaan dalam masyarakat.
i) Institusi kesehatan masyarakat harus melindungi semua informasi rahasia yang mungkin
akan membahayakan individu atau komunitas jika dipublikasikan. Terkecuali harus
didasarkan pada kemiripan yang signifikan dan bahaya individu dan masyarakat.
j) Program-program kesehatan masyarakat dan kebijakan harus diimplementasikan dengan
cara yang paling dapat meningkatan lingkungan fisik dan sosial.
k) Institusi kesehatan masyarakat harus menjamin kompetensi profesional dan para
pekerjanya
l) Institusi kesehatan masyarakat dan pekerjanya harus melaku keper kan kolaborasi dan
afiliasi yang akan dapat memba cayaan masyarakat dan efektivitas institusi.

2. Apa pentingnya ada tim? Kenapa mesti ada tim?


Jawaban :
Berikut beberapa alasan kenapa Anda harus bekerja dalam tim:
 Meningkatkan Efisiensi Kerja
Masing-masing orang dalam tim mungkin memiliki pemikiran yang berbeda-beda.
Namun, setiap orang harus sepakat dalam hubungan kerja. Tim kerja harus memahami
target dalam kelompok dan memiliki satu visi yang sama dalam bekerja. Jika terjalin
kerja sama yang baik, efisiensi kerja jadi meningkat. Setiap orang akan menjalankan
fungsinya secara bersamaan sesuai tanggung jawab masing-masing, sehingga pekerjaan
yang menumpuk dapat cepat dibereskan.
 Memiliki Banyak Ide Kreatif
Jika Anda selalu bekerja sendirian, pikiran Anda akan lama berkembang. Saat
pikiran Anda buntu, Anda tidak akan bisa menemukan ide yang kreatif dan inovatif.
Berbeda jika Anda bekerja dalam tim, Anda dapat saling berkomunikasi untuk bertukar
pikiran. Kreativitas pun akan terbangun karena terdapat diskusi untuk membahas
berbagai gagasan yang menarik. Anda bisa mendapatkan ide terbaik dan akhirnya
menciptakan solusi yang optimal secara bersama-sama.
 Beban Kerja Jadi Lebih Ringan
Banyak hal yang dapat dikerjakan jika dilakukan bersama-sama. Suatu pekerjaan
besar akan terasa mudah jika dikerjakan oleh beberapa orang. Meski setiap orang
memiliki tugas masing-masing sesuai delegasi yang dibagikan oleh atasan, semuanya
akan saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama.
Enaknya memiliki tim, Anda bisa membagikan beban kerja Anda dan juga memberikan
bantuan pada anggota tim lainnya. Semua orang akan saling tolong-menolong dan
belajar untuk tidak memperhatikan kepentingan pribadi, tetapi mengutamakan
kepentingan bersama.
 Saling Menguatkan di Masa Sulit
Setiap anggota tim memiliki peran masing-masing. Namun, semuanya saling
mendukung dan melengkapi dengan visi yang sama. Terutama pada masa-masa sulit,
manfaat teamwork akan sangat terasa karena Anda bisa mengandalkan satu sama lain
dan juga saling menguatkan.
Bandingkan jika Anda hanya bekerja sendiri. Anda akan kewalahan dalam
menyelesaikan pekerjaan. Anda pun akan mengambil keputusan yang salah di saat stres
melanda, karena tidak ada orang yang bisa diajak berdiskusi untuk mengatasi masalah.
 Memajukan Perusahaan/Organisasi
Kolaborasi dalam tim akan berdampak terhadap kemajuan
perusahaan. Produktivitas kerja akan meningkat karena setiap orang memiliki
kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pekerjaan, sesuai dengan
keterampilan masing-masing.
Pastinya, sebuah proyek yang dikerjakan bersama akan cepat selesai. Proyek lain
yang menanti pun bisa siap untuk dikerjakan. Target perusahaan akan cepat tercapai
dengan adanya kualitas tim kerja yang saling mendukung.

3. Siklus Kebijakan, bagaimana mengadapi masalah-masalah?


Jawaban :
Tahap-tahap Siklus Kebijakan
a. Agenda Setting

Agenda setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat strategis dalam realitas
kebijakan publik. Dalam proses inilah memiliki ruang untuk memaknai apa yang disebut
sebagai masalah publik dan prioritas dalam agenda publik dipertarungkan. Jika sebuah isu
berhasil mendapatkan status sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas dalam
agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik yang lebih
daripada isu lain. Dalam agenda setting juga sangat penting untuk menentukan suatu isu
publik yang akan diangkat dalam suatu agenda pemerintah. Issue kebijakan (policy issues)
sering disebut juga sebagai masalah kebijakan (policy problem). Policy issues biasanya
muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang
telah atau akan ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan
tersebut. Menurut William Dunn (1990), isu kebijakan merupakan produk atau fungsi dari
adanya perdebatan baik tentang rumusan, rincian, penjelasan maupun penilaian atas suatu
masalah tertentu. Namun tidak semua isu bisa masuk menjadi suatu agenda kebijakan. Ada
beberapa Kriteria isu yang bisa dijadikan agenda kebijakan publik (Kimber, 1974; Salesbury
1976; Sandbach, 1980; Hogwood dan Gunn, 1986) diantaranya:
1. Telah mencapai titik kritis tertentu jika diabaikan,
2. Akan menjadi ancaman yang serius;
3. Telah mencapai tingkat partikularitas tertentu à berdampak dramatis;
4. Menyangkut emosi tertentu dari sudut kepentingan orang banyak (umat manusia) dan
mendapat dukungan media massa;
5. Menjangkau dampak yang amat luas ;
6. Mempermasalahkan kekuasaan dan keabsahan dalam masyarakat ;
7. Menyangkut suatu persoalan yang fasionable (sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan
kehadirannya)

b. Formulasi Kebijakan dan Pengambilan Keputusan

Masalah yang sudah masuk dalam agenda kebijakan kemudian dibahas oleh para
pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan
masalah yang terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif atau
pilihan kebijakan yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk
dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing slternatif
bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk memecahkan masalah.
c. Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan


publik. Suatu kebijakan atau program harus diimplementasikan agar mempunyai dampak
atau tujuan yang diinginkan. Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian luas
merupakan alat administrasi publik dimana aktor, organisasi, prosedur, teknik serta sumber
daya diorganisasikan secara bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih
dampak atau tujuan yang diinginkan.
d. evaluasi dan Penghentian Kebijakan

Secara umum evaluasi kebijakan dapat dikatakan sebagai kegiatan yang menyangkut
estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan
dampak. Dalam hal ini , evaluasi dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya,
evaluasi kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan dalam
seluruh proses kebijakan. Dengan demikian, evaluasi kebijakan bisa meliputi tahap
perumusan masalh-masalah kebijakan, program-program yang diusulkan untuk
menyelesaikan masalah kebijakan, implementasi, maupun tahap dampak kebijakan.

4. Masalah kepemimpinan dalam otonomi daerah yang berpengaruh terhadap kesehatan?


Jawaban :
Sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi pemerintah
daerah (kabupaten dan kota), daerah diberikan kewenangan yang luas untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat sendiri bersadarkan kehendak masyarakat dengan
tetap berpatokan pada Undang-undang yang berlaku. UU otonomi daerah memberikan dampak
yang luas di masyarakat, banyak pengamat mengatakan munculnya "raja-raja" kecil dan tambah
menguatnya pengawasan tanpa kendali dari legislatif tanpa disertai dengan tumbuhnya
kesadaran dan perubahan yang berarti.

Kesehatan merupakan salah satu aspek yang diatur dan diurus oleh pemerintah daerah, yang
pada awalnya bersifat top-down (dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah) sekarang
menjadi bottom-up(dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat).

Otonomi daerah bidang kesehatan memberikan kesempatan yang banyak kepada pemerintah
untuk mengeksplorasi kemampuan daerah dari berbagai aspek, mulai dari komitmen pemimpin
dan masyarakat untuk membangun kesehatan, sistem kesehatan daerah, manajemen kesehatan
daerah, dana, sarana, dan prasarana yang memadai, sehingga diharapkan kesehatan masyarakat
di daerah menjadi lebih baik dan tinggi.

Masyarakat Indonesia sebagai obyek kebijakan desentraliasi kesehatan, yang seharusnya


membangun dan berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan kesehatan, pada kenyataannya
tidak banyak ikut membantu, karena stigma masyarakat yang sudah biasa menerima, bukan
memberikan masukan. Seperti kita tahu pada sebelum otonomi daerah digulirkan, masyarakat
tidak banyak membantu mengenai pembangunan di daearah.

Belum lagi, permasalahan dalam hal perencanaan oleh tenaga kesehatan di daerah yang
biasanya di "drop" dari pusat, harus membuat formulasi baru dan banyak tenaga kesehatan di
daerah yang tidak mampu untuk membuatnya.

Kenyataannya, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh UU otonomi daerah, derajat
kesehatan masyarakat di daerah tidak kunjung membaik setelah digulirkannya UU ini, bahkan
derajat kesehatan masyarakat daerah semakin memburuk dan semakin sulit untuk diatasi, selain
dari kurangnya dukungan dana, sarana, dan prasarana, juga karena kesehatan masyarakat perlu
pemecahan secara komprehenshif dari berbagai bidang, misalkan saja untuk pemecahan satu
masalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) saja memerlukan kerjasama lintas sektoral yang
solid, mulai dari dinas kesehatan, dinas pendidikan, dinas kebersihan, dinas lingkungan hidup,
dan dinas-dinas lain.

Apalagi ketika otonomi daerah dikaitkan dengan sistem politik yang ada di Indonesia, para
bupati/walikota biasanya hanya membuat program jangka pendek, sekitar program 5 (lima)
tahunan, karena masa jabatannya lima tahun, sehingga adakalanya program-program kesehatan
hanya bersifat formalitas dan tidak menyentuh kepada masyarakat. Padahal jika kita telaah lebih
jauh, penyelesaian masalah kesehatan memerlukan waktu yang panjang, yaitu sekitar 10 tahun.
Walaupun ada program kesehatan jangka panjang yang direncanakan, namun seperti kita lihat
pada kenyataannya, ketika pergantian pemimpin daerah, maka program pun berganti, dan jika
tidak berganti, pasti hanya namanya saja bukan melanjutkan program yang sudah berjalan.
Menurut hemat saya, secara umum otonomi daerah dalam bidang kesehatan di Indonesia
kurang begitu berhasil, hal ini dikarenakan karena masih kurang memihaknya kebijakan untuk
membangun kesehatan secara tuntas dan holistik, walaupun sudah ada daerah yang mampu
dan berhasil mengembangkan konsep dan kebijakan yang mengarah kearah pembangunan
kesehatan.

Pada dasarnya, pembangunan kesehatan merupakan proses menuju kearah produktifitas


penduduk suatu daerah, semakin banyak penduduk yang sehat, semakin produktif pula suatu
daerah.

Otonomi kesehatan di bidang kesehatan seharusnya mempunyai visi yang sejajar dengan
rencana Departemen Kesehatan Republik Indonesia, yaitu Indonesia Sehat 2010, dimana salah
satu agenda pentingnya adalah perubahan paradigm dari paradigm sakit ke paradigma sehat,
yaitu cara pandang, pola pikir, dan model pembangunan kesehatan yang holistik, menangani
masalah kesehatan yang dipengaruhi banyak faktor secara lintas sektoral, dan mengarah pada
upaya peningkatan, pemeliharaan, dan perlindungan kesehatan.

Pada dasarnya, otonomi daerah di bidang kesehatan bertujuan untuk menumbuhkan sifat
kebaikan dan adil dalam bidang kesehatan, karena setiap daerah mempunyai kewenangan
untuk membuat formulasi baru sesuai dengan karakteristik daerahnya masing-masing.

Seperti kita tahu, sebelum adanya otonomi daerah, banyak daerah-daerah yang merasa
dirugikan dengan kebijakan pemerintah pusat. Hal ini seperti daerah yang mempunyai sumber
daya yang besar dan mempunyai jumlah penduduk yang besar di samakan dengan daerah yang
memberikan sumber daya yang sedikit dan jumlah penduduk yang sedikit.

Paling tidak, otonomi daerah dibidang kesehatan merupakan upaya pemerintah yang harus
didukung oleh semua aspek. Untuk memperbaiki dan meningkatkan pelaksanaan otonomi
daerah bidang kesehatan di daerah, diperlukan upaya-upaya inovasi yang harus dilakukan oleh
pihak eksekutif (pemerintah), legislatif (DPRD), dan masyaakat secara umum.

Pihak eksekutif harus membuat sistem dan pembiayaan kesehatan daerah yang baik,
melaksanakan kegiatan-kegiatan berbasis masyarakat dan bersifat proaktif, membuat informasi
kesehatan yang canggih dan akurat, materi kesehatan dimasukan kedalam kurikulum
pendidikan, menata ulang organisasi dan sumber daya kesehatan, dan membangun kerjasama
lintas sektoral yang efektif.

Seperti kita tahu, pihak legislatif memiliki kemampuan untuk membuat peraturan dan
pengawasan pelaksanaan program pemerintah. Dalam bidang kesehatan, legislatif memiliki
kewajiban membuat formuilasi peraturan kesehatan daerah yang efektif dan efisisen dan
melakukan kritik dan masukan yang berarti kepada pemerintah untuk melakukan upaya-upaya
perbaikan, bukan hanya mengdikte kesalahan pemerintah dalam bidang kesehatan.

Sedangkan masyarakat berkewajiban mengawasi, mendukung, dan ikut serta dalam program-
program kesehatan yang dilakukan oleh pemrintah, karena bagaimanapun masyarakat
merupakan kunci keberhasilan sistem kesehatan daerah.

Pada saat ini, Departemen Kesehatan Republik Indonesia sedang mengembangkan suatu sistem
untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010, yaitu desa siaga. Desa siaga merupakan desa yang
sadar, mau, dan mampu menjaga dan mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.

Semua usaha pembangunan kesehatan mudah-mudahan membawa perubahan bagi


peningkatan derajat kesehatan masyarakat mendatang dan semua elemen tidak berhenti dan
berputus asa untuk selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi pembangunan
kesehatan di Indonesia.