Vous êtes sur la page 1sur 9

ISSN 2302-1616

Vol 3, No. 2, Desember 2015, hal 87-95

Karakterisasi Kromosom Stroberi (Fragaria vesca L. subsp. californica Cham.


& Schltdl. cv. Californica) Hasil Poliploidisasi

ROSYIDATUL KHOIROH1, GANIES RIZA ARISTYA2, SUTIKNO3, NIKEN SATUTI NUR


HANDAYANI2
1Alumni Mahasiswa Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
2
Laboratorium Genetika, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
3
Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
Jl. Teknika Selatan, Sekip Utara, Sleman, Yogyakarta 55281
email: ganies_riza@ugm.ac.id

ABSTRACT
Fruit consumption such as strawberries always increase in Indonesia and reaching about 210
tons in 2011. Strawberry (Fragaria vesca L. subsp. californica Cham. and Schltdl. cv. Californica)
has been developed in Indonesia, especially in Banyuroto, Sawangan, the district of Magelang,
Central Java. In order to improve the fruit productivity (quality and quantity), genetic
characterization including chromosomes character of this fruit are needed to be investigated.
Therefore, the research was conducted to determine the chromosomes number, chromosomes size,
chromosomes shape and karyotype of control and strawberries treated by colchicine as mutagenic
agent. The method was squash and flow cytometry method. Whereas the cell suspension sample
were observed used flow cytometer instrument. The result of research shown that the chromosome
number of strawberry Californica in normal and treatment strawberries was 2n=14. The
chromosomes shape of normal strawberry was 10 metacentric and 4 submetacentric. Whereas the
chromosomes shape of treatment strawberries used colchicine was 10 metacentric and 4
submetacentric. Flow cytometric analysis shown that control strawberries and treated strawberries
has diploid ploidy level.

Keywords: chromosomes, colchicine, flow cytometry, polyploidization, strawberry Californica

PENDAHULUAN buah yang relatif kecil dan rasanya yang sangat


Buah stroberi merupakan buah asli Eropa masam. Selain itu banyak hama dan penyakit
yang saat ini telah mengalami domestikasi di yang menyerang tanaman stroberi Indonesia
berbagai negara. Di Indonesia, stroberi telah sehingga menurunkan produksi hingga
didomestikasi dan dikembangkan di Jawa mencapai 80%. Hal ini disebabkan karena
Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat terutama kurangnya ketersediaan bibit yang berkualitas.
di daerah-daerah dengan ketinggian lebih dari Penyediaan bibit stroberi yang dilakukan
1000 mdpl. Dalam satu tahun, buah stroberi secara konvensional dengan menggunakan
dapat bereproduksi hingga lima kali yang stolon yang berasal dari tanaman induk,
puncaknya terjadi pada bulan Juli-Agustus. berpotensi membawa penyakit infeksi patogen
Usaha perbaikan kualitas buah stroberi telah dari tanaman induk (Hanif dan Ashari, 2013).
dilakukan oleh Balai Penelitian Jeruk dan Perbaikan genetik merupakan perbaikan
Buah Subtropika (Balitjestro) dengan kualitas tanaman, salah satunya melalui
mengoleksi dan mengevaluasi jenis stroberi di manipulasi kromosom. Perbaikan secara
Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali untuk genetik dapat menjadi solusi yang baik bagi
mendapatkan varietas terbaik untuk peningkatan kualitas tanaman stroberi di
dikembangkan (Hanif dan Ashari, 2013). Indonesia. Selain itu perbaikan ini juga dapat
Buah stoberi bukan merupakan buah asli meningkatkan ukuran organ vegetatif dan
Indonesia, kualitas buah yang dihasilkan lebih organ generatif tanaman serta meningkatkan
rendah dibanding dengan buah stroberi yang ketahanan tanaman stroberi. Salah satu metode
berasal dari wilayah Eropa, antara lain ukuran manipulasi kromosom adalah dengan
Vol 3, Desember 2015 Biogenesis 88

poliploidisasi dengan menggunakan mutagen kromosom adalah metode squash (Nathewet


tertentu, misalnya kolkisin (Mukti, 2005). et al., 2009). Sampel yang telah difiksasi
Poliploidisasi merupakan proses yang dicuci bersih dengan akuades sebanyak tiga
umum terjadi pada tumbuhan tingkat tinggi kali. Selanjutnya akar direndam dalam larutan
(Wang et al., 2009). Tumbuhan yang HCl 1 N pada temperatur 55-60oC selama 10-
mengalami poliploidisasi akan memiliki 11 menit. Setelah itu akar dicuci bersih
keuntungan secara fenotipik dan perubahan dengan akuades sebanyak tiga kali. Akar
secara morfologi, fisiologi, dan metabolisme kemudian diwarnai dengan aceto carmin 1%
sekunder yang dapat meningkatkan selama 1,5 jam pada suhu kamar. Akar
kemampuan tanaman tersebut, misalnya diambil menggunakan kuas dan diletakkan
peningkatan resistensi terhadap patogen, waktu pada gelas benda dan sisa aceto carmin
pembungaan yang lebih lama, serta organ diserap dengan menggunakan tisu. Bagian
reproduktif dan vegetatif yang berukuran lebih ujung akar yang terpulas lebih gelap dipotong
besar (Aversano et al., 2012). Stroberi sendiri sepanjang + 2-3 mm dan diberi 1 tetes gliserin
merupakan spesies yang secara natural dan ditutup menggunakan gelas penutup.
terdapat sebagai organisme poliploid, mulai Akar kemudian dipencet dengan alur dari
dari diploid hingga dekaploid (Hummer et al., tengah ke pinggir sampai nampak menyebar
2011). dan tipis agar akar menjadi satu lapis sel.
Studi lebih lanjut yang mempelajari Selanjutnya preparat disegel dengan
sitogenetika dan perbaikan genetik pada menggunakan kutek dan dilabeli
tanaman stoberi di Indonesia belum dipelajari menggunakan pensil dan kertas label.
lebih mendalam. Oleh karena itu, tujuan dari Preparat tersebut kemudian diamati
penelitian ini adalah untuk mempelajari dibawah mikroskop cahaya di Laboratorium
jumlah, ukuran, bentuk dan karyotype Genetika Fakultas Biologi UGM
kromosom stroberi kultivar Californica normal menggunakan mikroskop Olympus BX41
dan hasil induksi dengan konsentrasi kolkisin untuk memastikan adanya fase mitosis.
(a) 0,1% induksi akar 24 jam; (b) 0,1% induksi Selanjutnya preparat diamati menggunakan
daun 24 jam; (c) 0,1% induksi akar 36 jam dan mikroskop cahaya di LPPT UGM dan
(d) 0,1% induksi daun 36 jam pada salah satu dilakukan pemotretan dengan kamera Nikon
stroberi yang telah berkembang di Indonesia, yang terintegrasi dengan komputer dan
yaitu stroberi kultivar Californica (Fragaria pengukuran sel dilakukan dengan
vesca L. subsp. californica Cham. and Schltdl. menggunakan software axiovision LE 4.4.
cv. Californica). Dengan demikian, Berdasarkan gambar yang dihasilkan
diharapakan tanaman stroberi dapat kemudian diamati dan ditentukan jenis fase
berkembang lebih baik sehingga produktivitas mitosis yang tampak. Selanjutnya foto yang
buah stroberi meningkat dan dapat digunakan menunjukkan fase prometafase yang paling
untuk memenuhi kebutuhan stroberi dalam bagus diamati untuk dihitung jumlah
negeri. kromosomnya. Setelah itu satu persatu
kromosom pada gambar tersebut diukur
METODE lengan panjang (q) dan lengan pendeknya (p)
Pengambilan Sampel. Setiap tanaman menggunakan Corel Draw X5, kemudian
stroberi Californica yang diperoleh dari sentra dipotong sesuai bentuk yang teramati dengan
“Inggit Stroberi” Banyuroto, Magelang, Jawa menggunakan aplikasi Paint dan Microsoft
Tengah dipotong ujung akarnya secara Excel 2007.
langsung dari akar yang terbentuk pada stolon Flow Cytometry. Metode flow cytometry
yang menjulur dari induk dan dimasukkan berdasarkan Dooghe et al., (2009) yang
dalam tube 1,5 ml berisi Asam Asetat Glasial merujuk pada Otto (1990) dan Galbraith,
45% selama 24 jam dalam suhu 4oC. (1983) dengan modifikasi. Langkah pertama,
Squashing, Karyotype, dan Idiogram. jaringan daun segar dipotong menggunakan
Metode yang digunakan untuk preparasi pisau yang tajam dalam 2000 µl buffer Otto I
ROSYIDATUL KHOIROH dkk Biogenesis 89

(0,1 M asam sitrat monohidrat dan 0,5% Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Tween-20). Selanjutnya sampel disaring jumlah kromosom pada stroberi Californica
menggunakan saringan pore 100 µm, diambil kontrol dan yang telah diinduksi
sebanyak 1000 µm dan dimasukkan dalam menggunakan kolkisin pada semua perlakuan
tube. Larutan tersebut disentrifugasi 1500 rpm menunjukkan hasil yang sama, yaitu 2n=14
10 menit, supernatan dibuang. Setelah itu (Gambar 1&2). Pengukuran karyotype
larutan ditambah 900 µm buffer Otto II (0,4 menunjukkan bahwa karyotype kromosom
M Na2HPO4.12H2O). Selanjutnya sampel stroberi Californica kontrol dan perlakuan
disentrifugasi 1500 rpm 10 menit, kemudian memiliki bentuk kromosom yang sama. Pada
supernatan dibuang. Larutan ditambahkan 500 formula karyotype kontrol dan stroberi hasil
µm pewarna PI. Kemudian dianalisis induksi menunjukkan bahwa kromosom
menggunakan bantuan alat flow cytometer. memiliki bentuk metasentris dan
submetasentris, yaitu 10m+4sm (Gambar 3).
HASIL

Gambar 1. Jumlah kromosom stroberi Californica kontrol (2n=14)

Gambar 2. Jumlah kromosom stroberi Californica induksi kolkisin, yaitu: a. 0,1% 24 jam induksi Daun; b.
0,1% 24 jam induksi Akar; c. 0,1% 36 jam induksi Daun; d. 0,1% 36 jam induksi Akar. 2n=14.
Bar=5µm

Gambar 3. Karyotype kromosom stroberi Californica: A. kontrol; B. 0,1% 24 jam induksi daun; C. 0,1% 24
jam induksi akar; D. 0,1% 36 jam induksi daun; dan E. 0,1% 36 jam induksi akar.
Vol 3, Desember 2015 Biogenesis 90

2.00

1.00
p
0.00
q
-1.00

-2.00
Gambar 4. Idiogram kromosom stroberi Californica kontrol

Gambar 5. Idiogram kromosom stroberi Californica induksi (a) 0,1% 24 jam induksi daun; (b) 0,1% 24 jam
induksi akar; (c) 0,1% 36 jam induksi daun; (d) 0,1% 36 jam induksi akar.

Gambar 6. Perbandingan idiogram kromosom stroberi Californica kontrol dan induksi

Berdasarkan penelitian yang telah stroberi kontrol dan perlakuan, baik pada
dilakukan juga didapatkan hasil dalam bentuk lengan pendek (p) maupun pada lengan
idiogram untuk mengetahui perbedaan panjang (q). Idiogram kontrol (Gambar 4)
panjang relatif kromosom. Hasil idiogram menunjukkan pasangan kromosom yang lebih
yang diperoleh menunjukkan adanya panjang dibandingkan perlakuan (Gambar 5).
perbedaan pada panjang relatif kromosom Pada kontrol, panjang relatif kromosom lebih
ROSYIDATUL KHOIROH dkk Biogenesis 91

besar jika dibandingkan dengan semua Pada pasangan kromosom yang kedua,
perlakuan, yaitu berkisar antara 1,60-2,97 µm. perlakuan 0,1% 24 jam induksi daun
Pada perlakuan induksi kolkisin konsentrasi menunjukkan hasil paling tinggi, baik pada
0,1% 24 jam induksi daun dan 0,1% 24 jam lengan pendek (1,16 µm) maupun lengan
induksi akar berturut-turut diperoleh panjang panjang (1,68 µm). Hal ini juga terjadi pada
relatif kromosom antara 1,14-2,89 µm dan pasangan kromosom ketiga, yaitu p=1,25 µm
1,00-2,74 µm. Pada perlakuan 0,1% 36 jam dan q=1,43 µm dan kromosom keempat, yaitu
induksi daun dan 0,1% 36 jam induksi akar p=1.00 µm dan q=1,39 µm.
masing-masing diperoleh kisaran panjang Pada pasangan kromosom kelima, lengan
relatif kromosom antara 1,20-2,35 µm dan pendek dan lengan panjang paling panjang
1,05-1,79 µm. berturut-turut adalah perlakuan 0,1% 24 jam
Pada Gambar 6, lengan pendek induksi daun (0,84 µm) dan kontrol (1,26
kromosom yang paling panjang dibandingkan µm). Pada pasangan kromosom keenam,
dengan perlakuan dimiliki oleh perlakuan lengan pendek dan lengan panjang paling
0,1% 24 jam induksi akar, pada pasangan panjang berturut-turut adalah kontrol (0,70
kromosom yang pertama, yaitu 1,35 µm. µm) dan perlakuan 0,1% 24 jam induksi daun
Lengan panjang kromosom yang paling (1,07 µm). Pada pasangan kromosom ketujuh,
panjang dibandingkan kontrol adalah 0,1% 24 lengan pendek dan lengan panjang paling
jam induksi daun. Panjang lengan panjang panjang adalah kontrol (p=0,66 µm dan
kromosom perlakuan 0,1% 24 jam induksi q=1,01 µm).
akar lebih panjang jika dibandingkan
perlakuan lain dan kontrol, yaitu 1,63 µm.

Gambar 7. Peak flow cytometry stroberi Californica hasil induksi kolkisin, yaitu: a. 0,1% 24 jam induksi
Daun; b. 0,1% 24 jam induksi Akar; c. 0,1% 36 jam induksi Daun; d. 0,1% 36 jam induksi
Akar.

Adapun jumlah ploidi yang ditunjukkan yang terbentuk berada pada intensitas yang
pada Gambar 7 adalah diploid, karena peak sama dengan peak stroberi Californica
Vol 3, Desember 2015 Biogenesis 92

kontrol. Berdasarkan pengamatan, didapatkan Pada bunga dapat terlihat bahwa ukuran
hasil bahwa kenampakan morfologi bunga perlakuan memiliki kelopak dan
menunjukkan perbedaan yang kurang jelas mahkota yang lebih besar dan lebih banyak
pada daun dan buah stroberi kontrol dan bila dibandingkan dengan ukuran bunga
stroberi perlakuan. Perbedaan dapat diamati stroberi kontrol (Gambar 9). Perbedaan
dari morfologi bunga. Daun dan buah morfologi yang teramati pada bunga mungkin
memiliki ukuran yang hampir sama besar disebabkan karena tanaman terpengaruh oleh
antara stroberi kontrol dan stroberi perlakuan kolkisin pada masa awal induksi, sehingga
(Gambar 8 dan 9). ukurannya lebih besar.

Gambar 8. Morfologi daun stroberi Californica hasil induksi menggunakan kolkisin, yaitu: a. kontrol; b.
0,1% 24 jam induksi daun

Gambar 9. Morfologi bunga stroberi Californica hasil induksi menggunakan kolkisin, yaitu: a. kontrol; b.
0,1% 24 jam induksi Daun; c. 0,1% 24 jam induksi Akar; d. 0,1% 36 jam induksi Daun; e. 0,1%
36 jam induksi akar.
ROSYIDATUL KHOIROH dkk Biogenesis 93

Gambar 10. Morfologi buah stroberi Californica hasil induksi menggunakan kolkisin 0,1% 36 jam induksi
daun (k=kontrol; p=perlakuan).

Variasi fenotip akibat perlakuan induksi pada 0,1% 24 jam induksi akar sebesar
kolkisin juga dapat diamati dari pengambilan 291,72µg/100g, pada 0,1% 36 jam induksi
data sekunder untuk uji nutrisi. Pada uji daun sebesar 274,25µg/100g, dan pada 0,1%
nutrisi stroberi Californica didapatkan bahwa 36 jam induksi akar sebesar 310,88µg/100g.
kandungan gula total kontrol sebesar 5,26%. Secara umum, stroberi kontrol memiliki
Sedangkan kandungan gula total stroberi kandungan nutrisi yang lebih besar
Californica hasil induksi pada 0,1% 24 jam dibandingkan perlakuan. Hal ini diduga
induksi daun sebesar 4,16%, pada 0,1% 24 karena induksi kolkisin menyebabkan buah
jam induksi akar sebesar 4,56%, pada 0,1% stroberi lebih tahan terhadap proses
36 jam induksi daun sebesar 4,27%, dan pada pematangan, sehingga kandungan nutrisinya
0,1% 36 jam induksi akar sebesar 3,91%. lebih rendah dibandingkan kontrol. Selain itu,
Selanjutnya pada uji kandungan asam, perbedaan ini dimungkinkan karena adaptasi
stroberi kontrol menunjukkan nilai sebesar stroberi dari lingkungan lama (Banyuroto,
1,07%. Sedangkan kandungan asam stroberi Magelang) menuju lingkungan yang baru
Californica hasil induksi pada 0,1% 24 jam (Yogyakarta) yang memiliki perbedaan
induksi daun sebesar 0,92%, pada 0,1% 24 parameter lingkungan, misalnya temperatur,
jam induksi akar sebesar 0,96%, pada 0,1% ketinggian tempat, dan kelembaban udara.
36 jam induksi daun sebesar 0,96%, dan pada Sehingga, dimungkinkan stroberi terpengaruh
0,1% 36 jam induksi akar sebesar 0,92%. oleh kondisi lingkungan tersebut dan
Selanjutnya pada uji kandungan vitamin menyebabkan perubahan dalam kandungan
C, stroberi kontrol menunjukkan nilai sebesar stroberi.
64,69mg/100g. Sedangkan kandungan asam
stroberi Californica hasil induksi pada 0,1% PEMBAHASAN
24 jam induksi daun sebesar 55,21mg/100g, Kolkisin (C22H25O6N) merupakan suatu
pada 0,1% 24 jam induksi akar sebesar alkaloid yang berasal dari umbi dan biji
56,82mg/100g, pada 0,1% 36 jam induksi tanaman Colchicum autumnale Linn. yang
daun sebesar 53,36mg/100g, dan pada 0,1% termasuk dalam familia Liliaceae. Senyawa
36 jam induksi akar sebesar 60,94mg/100g. ini bersifat sebagai racun, terutama terhadap
Selanjutnya pada uji kandungan vitamin nukleus yang sedang membelah dan
A, stroberi kontrol menunjukkan nilai sebesar menyebabkan penggandaan kromosom tanpa
389,49µg/100g. Sedangkan kandungan asam pembentukan dinding sel (Suryo, 2007).
stroberi Californica hasil induksi pada 0,1% Induksi kolkisin akan membuat protein
24 jam induksi daun sebesar 241,43µg/100g, tubulin yang merupakan komponen molekular
Vol 3, Desember 2015 Biogenesis 94

pembentuk mikrotubul berikatan dengan kolkisin dilakukan ketika sel masih


kolkisin. Hal ini menyebabkan mikrotubul mengalami fase mitosis aktif yang ketika itu
tidak terbentuk dan migrasi ke arah kutub ada sebagian sel yang mengalami fase-fase
yang benar menjadi terganggu (Dhooge et al., tertentu sebelum terkena pengaruh kolkisin,
2009). Selain itu mikrotubul juga betugas sehingga masih ada sel-sel yang bersifat
untuk membentuk dinding sel setelah diploid (Arisuryanti, 1994).
pembelahan kromosom. Namun apabila Selain itu, terjadinya perbedaan hasil
mikrotubul tidak terbentuk, maka dinding sel analisis flow cytometry terhadap satu spesies
baru tidak terbentuk. Dengan demikian sel tumbuhan yang sama pernah terjadi hingga
akan mengandung jumlah kromosom lipat 300%. Hal ini mungkin disebabkan oleh
dua karena pemisahan kromosom pada stadium perkembangan dan status fisiologi
anafase tidak terjadi dan kromosom- organ, jaringan, atau sel yang dianalisis yang
kromosom berserakan dalam sitoplasma berubah secara radikal. Adanya stress,
(Suryo, 2007). Pada stroberi Californica perbedaan ekotipe, dan genotip akan
jumlah kromosom hasil induksi tetap sama menimbulkan perbedaan kandungan DNA
dengan kontrol, yaitu 2n=14. Hal ini mungkin relatif, sehingga hasil pengukuran juga
disebabkan karena penelitian ini dilakukan berbeda. Hal lain yang dapat menimbulkan
selang satu tahun setelah waktu induksi perbedaan terhadap hasil analisis adalah
sehingga dimungkinkan daya kolkisin telah pengaturan instrumen yang berbeda pada
habis (Suryo, 2007). Oleh karena itu tanaman laboratorium yang satu dan lainnya (Ochatt,
yang semula telah terpolipolidisasi 2008).
dimungkinkan jumlah kromosomnya kembali
pada kondisi awalnya untuk menstabilkan KESIMPULAN
diri, yaitu 2n=14. Kromosom stroberi kultivar Californica
Perbedaan panjang antara lengan pendek normal dan induksi memiliki jumlah
dan lengan panjang kontrol dan perlakuan kromosom 2n=14, formula karyotype
mungkin disebabkan oleh kondensasi 10m+4sm, dengan ukuran kromosom yang
kromosom dalam sel yang berbeda-beda, berkisar antara 1,55-3,25µm (kontrol), dan
sehingga hasil pengukuran juga berbeda-beda. 1,10-2,92 µm dan (0,1% 24 jam induksi akar),
Hal ini diduga karena selain membuat 0,89-2,82 µm (0,1% 24 jam induksi daun),
kromosom terduplikasi, kolkisin juga 1,10-2,37 µm (0,1% 36 jam induksi akar) dan
memberikan efek kondensasi pada kromosom. 1,01-1,80 µm (0,1% 36 jam induksi daun).
Analisis flow cytometry melibatkan tiga Idiogram terdiri atas tujuh pasang kromosom.
komponen yang meliputi komponen fluidik Analisis flow cytometry menunjukkan bahwa
sebagai sumber sel, komponen optik berupa stroberi kultivar Californica kontrol dan
dichroic mirrors untuk filtrasi pancaran induksi memiliki jumlah ploidi diploid.
epifloresen, dan komponen elektronik untuk
mengubah sinyal cahaya menjadi data digital. UCAPAN TERIMA KASIH
Untuk mendapatkan data flow cytometry Ucapan terima kasih diberikan kepada
dilakukan dengan mengkonversi sinyal Program Grant Hibah Kompetensi Tahun
cahaya yang dihasilkan dari pendaran dalam Anggaran 2015 No. 179/LPPM/2015 dan
suspensi menjadi getaran elektronik yang Hibah BOPTN Fakultas Biologi UGM Tahun
dikonversi lagi menjadi channel number, dan Anggaran 2014 No. UGM/BI/1882/M/05/01.
kemudian data yang diperoleh disimpan
dalam sistem komputer (BD Biosciences, DAFTAR PUSTAKA
2000). Arisuryanti T. 1994. Pengaruh Kolkhisin
Hasil analisis flow cytometry terhadap Pembelahan Mitosis Tanaman
menunjukkan bahwa tanaman stroberi hasil Nilam (Pogostemon cablin Benth.).
induksi memiliki derajat ploidi diploid. Hal Yogyakarta: Laporan Penelitian OPF
ini terjadi karena pemberian atau induksi Fakultas Biologi UGM.
ROSYIDATUL KHOIROH dkk Biogenesis 95

Aversano R, Ercolano MR, Caruso I, Fasano Nathewet P, Yanagi T, Hummer KE,


C, Rosellini D, Carputo D. 2012. Iwatsubo Y, Sone K. 2009. Karyotype
Molecular Tools for Exploring Polyploid Analysis in Wild Diploid, Tetraploid and
Genomes in Plants. International Journal Hexaploid Strawberries. Cytologia. vol
of Molecular Science. vol (13):10316. 74(3): 355.
Biosciences BD. 2000. Introduction to Flow Ochatt SJ. 2006. Flow Cytometry (Ploidy
Cytometry: a Learning Guide. USA: determination, Cell Cycle Analysis, DNA
Becton, Dickinson and Company. content per nucleus). France: Medicago
Dhooge E, Grunewald W, Leus L, Labeke truncatula handbook.
MV. 2009. In vitro polypliodisation of Ochatt SJ. 2008. Flow Cytometry in Plant
Helleborus species. Euphytica. vol Breeding. International Society for
165:89-95. Advancement of Cytometry (ISAC). vol
Dolezel J and Bartos J. 2005. Plant DNA flow 73A:581-598.
cytometry and estimation of Nuclear Suryo. 2007. Sitogenetika. Cetakan ke-2.
Genome Size. Annals of Botany. vol Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
95:99-100. Press.
Hanif Z dan Ashari H. 2013. Sebaran Stroberi Sutikno. 1997. Jumlah Kromosom pada
(Fragaria x ananassa) di Indonesia. Kota berbagai Kultivar Salak (Salacca edulis
Batu: Balai penelitian tanaman jeruk dan Reinw.) di Kabupaten Sleman Daerah
buah subtropika. Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta:
Hummer KE, Bassil N, Njuguna W. 2011. Laporan Penelitian Universitas Gadjah
Fragaria. USA: Springer. Mada-Depdikbud.
Mukti AT. 2005. Perbedaan Keberhasilan Wang B, Zuoya D, Wei L, Jin P, Changbao L,
Tingkat Polipliodisasi Ikan Mas Song G, Daming Z. 2009. Polyploid
(Cyprinus carpio Linn.) melalui Kejutan Evoluiton in Oryza officinalis Complex
Panas. Berkala Penelitian Hayati. vol of the Genus Oryza. BMC Evolutionary
(10):133-138. Biology. vol (9):25.