Vous êtes sur la page 1sur 25

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA TN.S DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)


DI RUANG MAWAR RSUD Prof. MARGONO SOEKARDJO

PURWOKERTO

Oleh:
Mia Yuniar G1B2120
Ade Sutrimo G1B2120
Teddy Friantoro G1B2120
Kustini G1B2120
Retno Winasih G1B2120
Nur Afifah Y G1B2120
Dwi Kristiarini G1B212070

Clinical Instructor :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PROGRAM PROFESI NERS
PURWOKERTO

2013
INFEKSI SALURAN KENCING ( ISK )

A. Latar Belakang
Infeksi saluran kencing adalah ditemukannya bakteri pada urin di
kandung kemih yang umumnya steril. Pada awalnya ISK sering tidak
menimbulkan gejala yang khas. Gejala hampir menyerupai dengan penyakit
laian seperti Gastritis, Hepatitis, Thypoid ataupun dispepsia. Kebanyakan
pasien merasa tidak penting dan menganggap remeh dengan keluhan-keluhan
yang terkait dengan ISK, sehingga sampai ke rumah sakit sudah dalam kondisi
yang berat.
Pada ISK apabila tidak ditangani dengan benar dan sembuh bisa menjalar
dan berakibat kepada infeksi ginjal ataupun infeksi sistemik atau sepsis. Untuk
itu diperlukan penatalaksanaan yang menyeluruh dan paripurna. Untuk itu
diperlukan asuhan keperawatan yang komprehensif dan profesional sehingga
pasien mampu menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan ISK.

B. Tujuan
Setelah melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan Infeksi
Saluran Kencing (ISK) diharapkan :

1. Mengetahui dan memahami lebih jauh tentang infeksi saluran kencing,


meliputi tanda, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahannya.
2. Mengetahui asuhan keperawatan yang diperlukan meliputi, pengkajian,
diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan evaluasi pada pasien dengan
ISK.
3. Mampu melaksanakan dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien
ISK dengan komprehensif.
A. Pengertian
ISK adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran
kemih (Agus Tessy, 2001). ISK adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri
pada saluran kemih (Enggram Barbara, 1998). Infeksi tractus urinarius adalah
merupakan suatu keadaan dimana adanya suatu proses peradangan yang akut
ataupun kronis dari ginjal ataupun saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal,
jaringan interstisial dan tubulus ginjal (pielonefritis), atau kandung kemih
(Cystitis), dan urethra (uretritis)
Infeksi pada saluran kemih ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Infeksi saluran kemih bagian atas : Pyelonefritis
2. Infeksi saluran kemih bagian bawah : Cystitis, Uretritis.

B. Penyebab
Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK antara lain :
1. Escherichia Coli : 90% penyebab ISK uncomplicated (simple)
2. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
3. Enterobacter, Staphylococcus epidemidis, enterococci.

C. Faktor predisposisi
1. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan
kandung kemih yang kurang efektif
2. Mobilitas menurun
3. Nutrisi yang sering kurang baik
4. Sistem imunitas menurun, baik selular maupun humoral
5. Adanya hambatan pada aliran urin
6. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis) antara lain :
1. Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
2. Spasme pada area kandung kemih dan suprapubik
3. Hematuria
4. Nyeri punggung dapat terjadi

Tanda dan gejala ISK pada bagian atas (pielonefritis) antara lain :
1. Demam, menggigil, nyeri panggul dan pinggang
2. Nyeri ketika berkemih
3. Malaise, pusing, mual dan muntah

E. Patofisiologi
ISK sering disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik
dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui kontak langsung
dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama
terjadinya ISK, asending dan hematogen.
Secara asending yaitu masuknya mikroorganisme dalam kandung
kemih antara lain faktor anatomi di mana pada wanita memiliki uretra yang
lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi.
Faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam
traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter) adanya
dekubitus yang terinfeksi.
Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal secara hematogen
yaitu sering terjadi pasien yang sistem imunnya rendah sehingga
mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen. Ada beberapa hal yang
mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran
hematogen yaitu adanya bendungan total urin yang mengakibatkan distensi
kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut dll. Sisa urin
dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang
berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan
penurunan resistensi terhadap invasi bakteri. Residu kemih menjadi media
pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi
ginjal sendiri kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke sel
traktus urinarius.
F. Pathway
Mikroorganisme Bendungan total urin

Masuk melalui pemasangan alat distensi kandung kemih


ke dalam traktus urinarius
(pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter)
Faktor tekanan urin saat miksi, kontaminasi fekal

bendungan intrarenal, distensi berlebihan. Nyeri, Residu kemih media


pertumbuhan bakteri, penurunan resistensi terhadap invasi bakteri gangguan
fungsi ginjal, secara hematogen menyebar ke sel traktus urinarius. ISK,
kerusakan eliminasi urin

G. Penatalaksanaan
Penanganan ISK yang ideal adalah agens antibacterial yang secara
efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal
terhadap fekal dan vagina. Terapi ISK pada usia lanjut dapat dibedakan atas :
1. Terapi antibiotika dosis tunggal
2. Terapi antibiotika konvensional 5-14 hari
3. Terapi antibiotia jangka lama 4-6 minggu
4. Terapi dosis rendah untuk supresi. Pemakaian antimikrobial jangka
panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi, jika kekambuhan
disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi.
Faktor kausatif misal batu, abses jika muncul salah satu harus segera
ditanganisetelah penanganan dan sterilisasi urin th. Preventif dosis rendah.
Penggunaan medikasi yang umum mencakup Sulfisoxazole (gastrisin),
Trimethoprim/sulfamet hoxazole (TNP/SMZ, Bactrim, Septra). Kadang
ampicillin atau amoksisilin digunakan. Tetapi E. Coli telah resisten terhadap
bakteri ini. Pyridium suatu analgesik juga dapat digunakan unuk mengurangi
ketidaknyamanan akibat infeksi.

H. Pemeriksaan penunjang
1. Urinalisis
Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting
adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5
leukosit/lapang pandang besar (LPB) sedimen saluran kemih.
Hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sedimen air kemih.
Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa
kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.

2. Bakteriologis : mikroskopis, biakan bakteri


3. Kultur urin untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
4. Hitung koloni. Hitung koloni sekitar 100.000 koloni per mili liter urin
dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter
dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
5. Metode tes
a. Tes dipstick
Multistrip untuk WBC (tes esterase leukosit) dan nitrit tes griess
untuk pengurangan nitrat. Tes esterase leukosit (+) maka pasien
mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat griess (+) jika terdapat
bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.

b. Tes PMS : uretritia akut organisme menular secara seksual.


c. Tes-tes tambahan : urogram intra vena (IVU), pielografi (IVP)
msistografi dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk
menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus
urinarius.

I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Pemeriksaan fisik
b. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko
1) Adakah riwayat infeksi sebelumnya?
2) Adakah obstruksi pada saluran kemih?
c. Adanya faktor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi
nosokomial
d. Pengkajian dari manifestasi klinis infeksi saluran kemih
1) Bagaimana pola bekemih pasien?
2) Adakah disuria?
3) Adakah bau urin yang menyengat?
4) Adakah nyeri, biasanya supra pubik pada infeksi saluran kemih
bagian bawah?
5) Adakah nyeri panggul atau nyeri pinggang, biasanya pada infeksi
saluran kemih bagian atas
e. Pengkajian psikologi pasien. Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil
tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakah rasa malu atau
takut terhadap kekambuhan penyakitnya?

2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


a. Nyeri b. d. Inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur
traktus urinarius lain.
b. Kerusakan eliminasi urin b. d. Infeksi saluran kemih
c. Kurangnya pengetahuan terhadap kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan b. d. kurangnya informasi.
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional

NOC : Pain management :

1. Nyeri b. d. Inflamasi dan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 - Kaji secara komphrehensif - Intensitas dari nyeri dan ketidak
infeksi uretra, kandung x 24 jam, pasien nyeri pasien berkurang, dengan tentang nyeri, meliputi lokasi, nyamanan harus dikaji dan
kemih dan struktur traktus Indikator : karakteristik dan onset, durasi, didokumentasikan setelah
frekuensi, kualitas, prosedur yang menyebabkan
urinarius lain.
Skala : intensitas/beratnya nyeri dan nyeri dengan beberapa hal baru
faktor-faktor presipitasi tentang nyeri dan interval dari
5 = Konsisten menunjukkan nyeri.
- Pengalaman klien terhadap nyeri
4 = Sering - Gunakan komunikasi terapeutik masa lampau dapat dijadikan
agar pasien dapat bahan evaluasi awal untuk
3 = Kadang-kadang mengekspresikan nyeri penanganan nyeri saat ini.
- Dapat memberikan ketenangan
2 = Jarang kepada klien dan membuat klien
lebih relaks sehingga nyeri dapat
1 = Tidak pernah berkurang.
- Bantu klien dan keluarga untuk - Dukungan merupakan support
Tujuan mencari dan menemukan sistem yang paling efektif dalam
No Indikator Awal dukungan. mengelola pasien
1 2 3 4 5 - Lingkungan sangat berpengaruh
terhadap suasana hati, suasana
1. Mampu 3 √ hati berkaitan erat dengan
mengontrol tingkat nyeri
nyeri - Penggunaan teknik non
farmakologi (seperti relaksasi,
- Kontrol faktor lingkungan yang
2. Melaporkan 3 √ guided imagery, terapi musik,
mempengaruhi nyeri seperti suhu distraksi, massage, aplikasi
bahwa nyeri ruangan, pencahayaan dan panas-dingi) diharapkan pasien
berkurang kebisingan tidak tergantung dengan obat-
dengan - Kurangi faktor presipitasi nyeri. obatan sehingga pasien bisa
menggunakan melakukan manajemen nyeri
manajemen dengan mandiri.
nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan
3. Mampu 3 √ nyeri (farmakologis/ non
mengenali farmakologis).
nyeri - Ajarkan teknik non farmakologi

4. Menyatakan 3 √
rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang

1. hydsgdhfdana
NOC: pola eliminasi membaik 2. setelah NIC : urinary elimination
2. Kerusakan eliminasi urin dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
management 1. mengetahui karakteristik
b. d. infeksi saluran kemih jam, dengan kriteria hasil: 1. memonitor eliminasi urin urin
 pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda- meliputi frekuensi,
tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, konsistensi, volume dan
disuria) warna 2. mengetahui apakah ada ISK
 warna, jumlah urin dbn 2. memonitor tanda dan gejala 3. menyeimbangkan cairan
 urin bebas partikel ISK yang keluar
3. mendorong meningkatkan 4. mencegah nyeri karena
pemasukkan cairan kandung kemih penuh
4. kaji keluhan kandung kemih
penuh

3.
4. jd
NOC : Teaching : disease Process
- Kowlwdge : disease process - Kaji tingkat pengetahuan pasien
3. Kurangnya pengetahuan - Kowledge : health Behavior tentang proses penyakit yang - Mempermudah dalam
spesifik memberikan penjelasan pada
terhadap kondisi, klien
prognosis, dan kebutuhan - Meningkatan pengetahuan dan
pengobatan b. d. Indikator : - Jelaskan patofisiologi dari mengurangi cemas
penyakit dan bagaimana hal ini
kurangnya informasi. - Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman berhubungan dengan anatomi
tentang penyakit, kondisi, prognosis dan dan fisiologi, dengan cara yang
program pengobatan tepat.
- Pasien dan keluarga mampu melaksanakan - Gambarkan tanda dan gejala - Meningkatan pengetahuan dan
prosedur yang dijelaskan secara benar yang biasa muncul pada mengurangi cemas
- Pasien dan keluarga mampu menjelaskan penyakit, dengan cara yang tepat - Memberi gambaran tentang
kembali apa yang dijelaskan perawat/tim - Gambarkan proses penyakit, penyakit dan pilihan terapi yang
kesehatan lainnya. dengan cara yang tepat bisa digunakan
- Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi, dengan cara
Skala : yang tepat
1= Tidak ada - Hindari jaminan yang kosong
2 = Terbatas - Sediakan bagi keluarga atau SO
3 = Cukup informasi tentang kemajuan
4 = Banyak pasien dengan cara yang tepat
5 = Luas - Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau
proses pengontrolan penyakit
- Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
- Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
- Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara
yang tepat
- Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
- Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan
cara yang tepat
ASUHAN KEPERAWATAN TN. S DENGAN ISK (Infeksi Saluran Kencing)

A. PENGKAJIAN
Tanggal : 07 Mei 2013
Jam : 10.00 WIB
1. Identitas
Nama : TN. S
Umur : 47 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)
Pekerjaan : Petani
Alamat : Sungalangu RT 03/RW 01 Karang lewas
No. Reg : 275403
Diagnosa Medis : ISK
Sumber informasi : Klien, keluarga klien, status klien, perawat ruangan.

Penanggung jawab
Nama : Tn. Mahwadi
Umur : 45 tahun
Alamat : Majapura Rt 02 Rw 01 Bobotsari
Pekerjaan : Pedagang
Hubungan dengan klien : Suami

2. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama Masuk RS
Klien mengatakan nyeri perut bagian kanan dan kiri
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang dengan keluhan nyeri perut bagian kanan menjalar ke pinggang sejak 4
hari yang lalu, dan BAK tidak lancar. Ketika BAK, klien merasa sakit. Klien datang
diantar keluarga ke IGD RS pada tanggal 06 Mei 2013, jam 20.00 .
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak pernah dirawat di RS dan belum pernah mengalami keluhan yang sama
sebelumnya. Klien tidak memiliki riwayat hipertensi dan tidak memiliki riwayat
diabetes meilitus.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga klien belum ada yang pernah mengalami penyakit yang sama dengan klien.
Keluarga klien tidak mempunyai riwayat penyakit menurun seperti hipertensi dan juga
tidak memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, asma dan penyakit menular lainnya.
Genogram :

3. Pola Kesehatan Fungsional


1. Pemeliharaan Kesehatan
S : Klien mengatakan, jika ada anggota keluarga yang sakit, maka akan dibawa ke
puskesmas.
O : klien langsung dibawa ke layanan kesehatan (sekarang sedang dirawat di ruang
Mawar RSUD Prof. Margono Soekardjo)
2. Nutrisi Metabolik
S : Sebelum sakit, klien mengatakan, klien makan 3 kali sehari, dan selalu
menghabiskan porsi makannya. Klien sering minum kopi, dan teh. Minum air putih
kurang hanya 1 gelas/hari. Selama sakit, klien mengatakan, klien makan 3 kali sehari,
dengan hanya makan ½ porsi setiap harinya. Klien minum 1 gelas sehari.
O : Terdapat sisa makanan di meja klien. Klien mendapatkan diit nasi lembek.
3. Eliminasi
S : Klien mengatakan, sudah BAB, BAK klien kurang lancar.
O : tidak terdapat massa pada abdomen. Nyeri tekan di bagian perut kanan.
4. Aktivitas
Kemampuan 0 1 2 3 4
Perawatan Diri
Makan/minum *
Mandi *
Toileting *
Berpakaian *
Mobilitas di tempat tidur *
Ambulasi/ROM *
0 : mandiri, 1: alat bantu, 2 : dibantu orang lain, 3 : dibantu orang lain dan alat, 4 :
tergantung total.
Kesimpulannya : Klien mampu melakukan makan/minum secara mandiri. Mandi,
berpakaian, mobilitas di tempat tidur, ambulasi/ROM klien dibantu oleh keluarga.
Klien melakukan toileting dibantu menggunakan alat.

5. Pola Persepsi Kognitif


S : Klien mengatakan nyeri perut, BAK kurang lancar
O : Klien mampu menjawab setiap pertanyaan perawat dan dapat berkomunikasi dengan
baik.
6. Pola Istirahat
S : klien mengatakan, selama sakit klien bisa untuk tidur, tetapi gelisah. Sering
terbangun untuk BAK
O : klien tampak tidak segar
7. Konsep Diri
S : Klien mengatakan menerima atas semua keadaan yang dialaminya saat ini. Klien dan
keluarga mempunyai keinginan dan berharap bisa cepat sembuh.
O : klien kooperatif ketika dilakukan tindakan keperawatan
8. Pola Peran dan Hubungan
S : klien mengatakan hubungan klien dengan keluarga baik.
O : Selama dirawat di rumah sakit, klien ditemani oleh keluarga
9. Pola Reproduksi dan Seksual
S : Klien mengatakan sudah menikah, memiliki 1 anak perempuan
O : klien ditemani oleh keluarganya selama di rumah sakit
10. Pola Pertahanan Diri/Koping
S : Klien mengatakan, jika terdapat masalah dikeluarganya, maka akan secepat
mungkin diselesaikan. Klien juga mengatakan dia selalu menceritakan setiap
masalahnya kepada istri dan anak-anaknya.
O : klien dirawat di RS atas hasil musyawarah dari keluarga
11. Keyakinan dan Nilai
S :Klien mengatakan beragama islam. Selama dirawat di rumah sakit, keluarga
mengatakan klien jarang sholat karena kondisinya lemah.
DO : klien tampak berdoa ketika dilakukan tindakan keperawatan

4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Sedang
b. Kesadaran :
a. Mata :4
b. Verbal :5
c. Motorik :6 +
-------------------------------
15  compos metis

Tanda-tanda vital :
TD=90/60 mmHg,
N=60x/menit,
RR=20x/menit,
S=36,60C
c. Head to toe
1) Kepala
Rambut lurus, terlihat rapi, sedikit beruban, bentuk kepala mesocephal, tidak
terdapat luka didaerah kepala.
2) Mata
Bentuk mata simetris dan bulat, konjungtiva tidak anemis, tidak ikterik, dan tidak
terdapat sekret.
3) Hidung
Bentuk hidung normal, tidak ada obstruksi atau polip hidung.
4) Telinga
Telinga normal
5) Mulut
Bentuk mulut normal, bibir dan mukosa kering, berwarna cokelat, tidak sianosis.
6) Leher
Tidak terdapat pembesaran nodul dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
7) Dada
Bentuk dada simetris. Tidak terdapat tarikan dinding dada.
8) Abdomen
Tidak terdapat massa pada abdomen, terdapat nyeri tekan, terdengar bising usus
15x/menit
9) Genetalia
terpasang kateter
10) Anus
Tidak terdapat hemoroid.
11) Ekstremitas
Ektremitas kanan kiri bisa digerakkan, tangan sebelah kiri terpasang infus.

5. Pemeriksaan Penunjang
a. Hematologi
1) Darah lengkap
Hb = 14,6 g/dL N= 14,0 – 18,0 g/dL
Leukosit = 8680 /uL N= 4800 – 10.800 /uL
Hematokrit = L 39% N= 42 – 52 %
Eritrosit = L 4,6 x 10^6 /uL N= 4,7 – 6,1 x 10^6 /uL
Trombosit = 200.000 /uL N= 150.000 – 450.000 /uL
MCV = 85,1 fL N= 79,0 - 99,0 fL
MCH = H 31,6 pg N= 27,0 – 31,0 pg
MCHC = H 37,2 % N= 33,0 – 37,0 %
RDW = 12,6 N= 11,5-14,5
MPV =10,6fL N=7,2-11,1fL
2) Hitung jenis
Basofil = 0,2 % N= 0,0 – 1,0 %
Eosinofil = H 6,6 % N= 2,0 – 4,0 %
Batang = L 0,0 % N= 2,00 – 5,00 %
Segmen = 49,7 % N= 40,0 – 70,0 %
Limfosit = 28,9 % N= 25,0 – 40,0 %
Monosit = H 14,6 % N= 2,0 - 8,0 %

3) Kimia Klinik
SGOT = 16 U/L N= 15-37
SGPT = 12 U/L N= 30-65
Urreum Darah = 19,5 mg/dL N= 14,98- 38,52
GDS Sewaktu = 90 mg/dL N= <= 200 mg/dL
Creatinin = 0,80 mg/dL N= 0,80-1,30

b) Urin
- Fisis
Warna Kuning N= kuning muda-tua
Kejernihan agak keruh N=jernih
Bau khas N=khas
- Kimia
Berat jenis 1,025 N= 1,010-1,030
pH 6,0 N= 4,6-7,8
Leukosit - N= -
Nitrit - N= -
Protein - N= -
Glukosa normal N=Normal
Keton - N= -
Urobilinogen normal N= Normal
Bilirubin - N= -
Eritrosit - N= -

- Sedimen
Leukosit 1-2 N= -
Epitel 0-1 N= -
Silinder hialin - N= -
Silinder lilin - N= -
Granuler halus - N= -
Granuler kasar - N= -
Kristal caoX+2 N= -
Bakteri + N= -
Tricomonas - N= -
Jamur - N= -

6. Terapi
Tanggal 06 Mei 2013
a. infus RL 20tpm
b. inj. Cefrotaxime 2 x 1gr
c. inj. Ketorolac 2 x 30 mg

Tanggal 07 Mei 2013


a. Infus RL 20 tpm
b. inj. Cefrotaxime 2 x 1gr
c. inj. Ketorolac 2 x 30 mg
konsul Bedah :
a. inj. Ceftriaxone 1 x 2gr
b. inj. Metronidazole 3 x 500 mg
c. inj. Ketorolac 2 x 30 mg
d. inj. Raniitidin 3 x 50 mg

B. ANALISIS DATA
No Tanggal Data Problem Etiologi
1. 07-05-2013 DS : -klien mengatakan Nyeri Akut Agen Cidera
nyeri pada bagian biologis
perut, menjalar
ke baagian
pinggang

DO:
- Klien tampak nyeri,
- TTV :
TD : 90/60 mmHg
N : 60 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 36,6 0C

07 mei 2013 DS : klien mengatakan Perubahan


BAK tidak lancar Pola
DO : klien terpasang DC eliminasi urin
07 mei 2013 DO : nokturia Gangguan
Pola tidur
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
D. NURSING CARE PLANE (NCP)
Defisit perawatan diri adalah hambatan kemampuan untuk melakukan perawatan diri untuk
diri sendiri.
Batasan katakteristik :
- Tidak mampu mengenakan pakaian
- Badan kering
- Tidak mampu pergi ke toilet
- Tidak mampu membasuh tubuh
- Tidak mampu mengakses kamar mandi

Faktor yang berhubungan :

- Gangguan musculoskeletal
- kelemahan
Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Defisit Setelah dilakukan perawatan Self care assistance: 1. Untuk
perawatan 3x24 jam diharapkan klien ADLs mengetahui
diri dapat melakukan perawatan 1. Pantau kemampuan perkembangan
berhubungan diri dengan indicator: klien untuk kemajuan
dengan Self Care Activity Of Daily melakukan aktivitas klien
gangguan Living perawatan diri secara 2. Untuk
neuromuscul mandiri memenuhi
Indikator Awal Target
ar 2. Pantau kebutuhan perawatan diri
1. Makan 2 3
klien untuk klien
2. Berpakai 2 3
penyesuaian 3. Agar
an
penggunaan alat mempermudah
3. Tolieting 2 3
untuk personal klien dalam
4. Mandi 2 3
hygiene, toileting, melakukan
5. Kebersih 2 3
dan makan perawatan diri
an diri 3. Sediakan barang- 4. Agar
6. Oral 2 3 barang yang perawatan diri
Hygiene diperlukan klien, dapat terpenuhi
seperti deodoran, 5. Meningkatkan
Keterangan: sabun, mandi, sikat kemampuan
gigi, dll klien dalam
Ket : skala 1 (tidak adekuat), 2
4. Bantu klien dalam melakukan
(sedikit adekuat), 3 (moderat
penerimaan aktivitas
adekuat), 4 (substansi adekuat),
ketergantungan sehari-hari
5 (total adekuat).
terhadap orang lain 6. Memberikan
dalam memenuhi kesempatan
kebutuhannya kepada klien
5. Dorong klien untuk untuk
melakukan aktivitas meningkatkan
kehidupan sehari- kemampuan
harinya sesuai mandi
dengan tingkat 7. Agar klien
kemampuan dapat
6. Dorong klien untuk melakukan
mandi tetapi berikan aktivitas secara
bantuan ketika klien mandiri
tidak dapat
melakukanya
7. Menentukan aktivitas
perawatan diri yang
sesuai dengan
kondisi secara rutin

E. IMPLEMENTASI
Tanggal/Jam No. Implementasi Respon Pasien Paraf
DP
23-04-2013 1 a. Mengkaji keluhan S : klien mengatakan
(08.00 WIB) utama pasien masih pusing, susah
b. Memberikan injeksi menggerakkan tubuh
(09.00 WIB) Piracetam 3x1, bagian kiri.
furosemid 1x1, Taxelin O:
2 x 250 mg, dan Asam - Infus RL 20 tpm
Tranex 2 x 50 mg, - Injeksi Piracetam 3x1,
manitol 125 mg. furosemid 1x1, Taxelin
c. Memonitor dan 2 x 250 mg, dan Asam
mengkaji kemampuan Tranex 2 x 50 mg,
09.30 WIB klien untuk perawatan manitol 125 mg.
diri - Klien tampak susah
menggerakan tubuh
bagian kiri dan lemah
Kekuatan otot
5 1
5 1
- keluarga klien
membantu ADL’s
klien

A: Masalah belum
teratasi

P: Lanjutkan intervensi
keperawatan
24-04-2013 1 a. Mengkaji keluhan klien S : klien mengatakan
(08.00 WIB) b. Memberikan injeksi pusing sudah
Piracetam 3x1, berkurang, masih
furosemid 1x1, Taxelin susah menggerakkan
2 x 250 mg, dan Asam tubuh bagian kiri.
Tranex 2 x 50 mg, O:
manitol 125 mg. - Infus RL 20 tpm
c. Membantu menyiapkan - Injeksi Piracetam 3x1,
kebutuhan klien seperti furosemid 1x1, Taxelin
(09.30 WIB) bedak 2 x 250 mg, dan Asam
d. Membantu klien untuk Tranex 2 x 50 mg,
makan dan manitol 125 mg.
(12.00 WIB) menyiapkan sedotan - Klien masih tampak
untuk klien minum susah menggerakan
e. Memotivasi klien untuk tubuh bagian kiri dan
selalu mengerakkan lemah
ekstremitas sesuai Kekuatan otot
dengan kemampuannya 5 1
5 1
- Klien tampak lebih
wangi
- Klien tampak leboh
segar
A: masalah teratasi
sebagian

P: lanjutkan intervensi
keperawatan
25-04-2013 a. Memberikan injeksi S : klien mengatakan
(08.00) Piracetam 3x1, pusing sudah
furosemid 1x1, Taxelin berkurang,
2 x 250 mg, dan Asam O:
Tranex 2 x 50 mg, - Infus RL 20 tpm
manitol 125 mg. - Injeksi Piracetam 3x1,
(09.00) b. Mengkaji keluhan furosemid 1x1, Taxelin
pasien 2 x 250 mg, dan Asam
c. Membantu keluarga Tranex 2 x 50 mg,
untuk menyisir rambut manitol 125 mg.
(10.00) klien - Klien masih tampak
d. Memotong kuku klien susah menggerakan
tubuh bagian kiri dan
(10.45) lemah
Kekuatan otot
5 1
5 1
- Rambut Klien tampak
lebih rapih
- Kuku klien bersih
A: masalah teratasi
sebagian

P: lanjutkan intervensi
keperawatan : monitor
kemampuan ADL’s klien

F. EVALUASI
Tanggal/ NO.DP Evaluasi Paraf
Jam
25-04-2013 1 S: klien mengatakan pusing sudah berkurang,
(12.00 WIB) O:
- Klien masih tampak susah menggerakan tubuh
bagian kiri dan lemah
Kekuatan otot
5 1
5 1
- Rambut Klien tampak lebih rapih
- Kuku klien bersih
- Toileting klien masih dibantu dengan DC

Skala
Indikator
Awal Sekarang Target
1. Makan 2 3 3
2. Berpakaian 2 2 3
3. Tolieting 2 2 3
4. Mandi 2 3 3
5. Kebersihan 2 3 3
diri
6. Oral 2 3 3
Hygiene

Keterangan :
skala 1 (tidak adekuat), 2 (sedikit adekuat), 3
(moderat adekuat), 4 (substansi adekuat), 5 (total
adekuat).

A : masalah teratasi sebagian

P: lanjutkan intervensi keperawatan : monitor


kemampuan ADL’s klien