Vous êtes sur la page 1sur 14

AMDAL

A. Pengertian
1) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut
Amdal adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan
yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengembalian keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
2) Kerangka Acuan adalah ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup
yang merupakan hasil pelingkupan.
3) Analisis Dampak Lingkungan Hidup (yang selanjutnya disingkat Andal)
adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu
rencana Usaha dan/atau Kegiatan.
4) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (yang selanjutnya disingkat RKL)
adalah upaya penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan
akibat dari rencana Usaha dan/atau Kegiatan.
5) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (yang selanjutnya disingkay RPL)
adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak
akibat dari rencana Usaha dan/atau Kegiatan.
6) Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup adalah keputusan yang
menyatakan kelayakan lingkungan hidup dari suatu rencana Usaha dan/atau
Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Amdal.

B. Kriteria Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi Amdal


Adapun kriteria usaha dan/atau kegiata yang berdampak penting yang wajib
dilengkapi dengan amdal terdiri atas:
1) pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
2) eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang tidak
terbarukan;
3) proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemborosan dan kemerosotan sumber
daya alam dalam pemanfaatannya;
4) proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam,
lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
5) proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan
konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya;
6) introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, dan jasad renik;
7) pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati;
8) kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan
negara; dan/atau
9) penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk
mempengaruhi lingkungan hidup.

C. Dokumen Amdal
Dokumen Amdal merupakan dasar penetapan keputusan kelayakan lingkungan hidup,
yang memuat :
1) pengkajian mengenai dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;
2) evaluasi kegiatan disekitar lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan;
3) saran masukan serta tanggapan masyarakat terhadap rencana usaha dan/atau
kegiatan;
4) prakiraan terhadap besaran dampak serta sifat penting dampak yang terjadi jika
rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dilaksanakan;
5) evaluasi secara holistik terhadap dampak yang terjadi untuk menentukan
kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup; dan
6) rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

D. Prosedur Penyusunan Dokumen Amdal


Dokumen Amdal disusun oleh Pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu Usaha
dan/atau Kegiatan dengan melibatkan masyarakat berdasarkan prinsip pemberian
informasi yang transparan dan lengkap. Lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatan
wajib sesuai dengan rencana tata ruang, jika lokasi rencana tersebut tidak sesuai
dengan rencana tata ruang, dokumen Amdal tidak dapat dinilai dan wajib
dikembalikan kepada Pemrakarsa. Dokumen Amdal merupakan dasar penetapan
keputusan kelayakan lingkungan hidup, yang memuat :
1) Kerangka Acuan
Kerangka Acuan disusun oleh Pemrakarsa sebelum penyusunan Andal dan RKL –
RPL. Adapun kepemilikan bukti sebagai syarat administrasi yang harus dipenuhi
sebelum dinilai oleh Komisi Penilaian Amdal (selanjutnya disingkat “KPA”), antara
lain berupa :
(a) bukti formal bahwa rencana lokasi Usaha dan/atau Kegiatan telah sesuai
dengan rencana tata ruang;
(b) bukti formal yang menyatakan bahwa jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan
secara prinsip dapat dilakukan; dan
(c) tanda bukti registrasi kompetensi bagi lembaga penyedia jasa penyusunan
dokumen Amdal dan sertifikasi kompetensi penyusunan Amdal.
Kerangka Acuan yang telah disusun diajukan kepada Menteri, Gubernur, atau
Bupati/Walikota. Kerangka Acuan yang telah dinyatakan lengkap secara
administrasi, dinilai oleh KPA dalam jangka waktu penilaian paling lama 30 (tiga
puluh) hari kerja terhitung sejak Kerangka Acuan diterima. Jika Kerangka Acuan
perlu diperbaiki, maka akan dikembalikan kepada Pemrakarsa. Dalam hal
Kerangka Acuan dapat disepakati, KPA menerbitkan persetujuan Kerangka Acuan.
Namun, Kerangka Acuan dapat tidak berlaku apabila:
(a) perbaikan Kerangka Acuan tidak disampaikan kembali oleh Pemrakarsa paling
lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak dikembalikannya Kerangka Acuan kepada
Pemrakarsa kepada KPA;
(b) Pemrakarsa tidak menyusun Andal dan RKL – RPL dalam jangka waktu 3 (tiga)
tahun terhitung sejak diterbitkannya persetujuan Kerangka Acuan.
2) Andal dan RKL – RPL
Andal dan RKL – RPL disusun oleh Pemrakarsa berdasarkan Kerangka Acuan yang
telah diterbitkan persetujuannya atau konsep Kerangka Acuan dalam hal jangka
waktu telah terlampaui dan KPA belum menerbitkan persetujuan Kerangka Acuan.
Andal dan RKL – RPL yang telah disusun diajukan kepada Menteri, Gubernur,
atau Bupati/Walikota yang selanjutnya dinilai oleh KPA dibantu oleh Tim Teknis,
dalam jangka waktu penilaian paling lama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja
terhitung sejak Andal dan RKL - RPL dinyatakan lengkap. KPA berdasarkan hasil
penilaian Andal RKL – RPL menyelenggarakan rapat untuk menyampaikan
Rekomendasi hasil penilaian Andal dan RKL – RPL dengan pertimbangan meliputi :
(a) Prakiraan secara cermat mengenai besaran dan sifat penting dampak dari
aspek biogeofisik kimia, sosial, ekonomi, budaya, tata ruang, dan kesehatan
masyarakat pada tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi
Usaha dan/atau Kegiatan;
(b) Hasil evaluasi secara holistik terhadap seluruh dampak penting hipotetik
sebagai sebuah kesatuan yang saling terkait dan saling mempengaruhi,
sehingga diketahui perimbangan dampak penting yang bersifat positif dengan
yang bersifat negatif; dan
(c) Kemampuan Pemrakarsa dan/atau pihak terkait yang bertanggung jawab
dalam menanggulangi dampak penting yang bersifat negatif yang akan
ditimbulkan dari Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan, dengan
pendekatan teknologi, sosial, dan kelembagaan.
Adapun jangka waktu penetapan keputusan kelayakan dan ketidaklayakan lingkungan
hidup dilakukan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya
Rekomendasi hasil penilaian atau penilaian akhir.

Berdasarkan hasil penilaian KPA, Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota menetapkan


keputusan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup sesuai dengan
kewenangannya.

E. Sanksi Hukum
Bagi setiap orang (Pemrakarsa) yang menyusun Amdal tanpa memiliki sertifikat
kompetensi penyusun Amdal dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah).

F. Dasar Hukum
1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.
UKL – UPL
A. Pengertian
1) Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (yang selanjutnya disingkat UKL-UPL) adalah pengelolaan
dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak
penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
2) Rekomendasi UKL-UPL adalah surat persetujuan terhadap suatu Usaha
dan/atau Kegiatan yang wajib UKL-UPL.

Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib Amdal, wajib
memiliki UKL-UPL dan bagi usaha dan/atau kegiatan yag tidak wajib dilengkapi UKL-
UPL wajib membuat surat pernyataan kesaggupan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup.

B. Prosedur Penyusunan Dokumen UKL – UPL


UKL-UPL disusun oleh Pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu Usaha dan/atau
Kegiatan. Lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatan wajib sesuai dengan rencana tata
ruang, jika lokasi rencana tersebut tidak sesuai dengan rencana tata ruang, dokumen
Amdal tidak dapat dinilai dan wajib dikembalikan kepada Pemrakarsa. Adapun
prosedur penyusunan dokumen UKL-UPL, yaitu:
1) Pengisian Formulir
- Format formulir paling sedikit memuat :
(a) identitas Pemrakarsa;
(b) rencana usaha dan/atau kegiatan;
(c) dampak lingkungan yang akan terjadi; dan
(d) program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
- Pemrakarsa hanya menyusun satu UKL-UPL dalam hal :
(a) Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan lebih dari 1 (satu) usaha
dan/atau kegiatan dan perencanaan serta pengelolaannya saling terkait
dan berlokasi di dalam satu kesatuan hamparan ekosistem; dan/atau
(b) Pembinaan dan/atau pengawasan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan
dilakukan oleh lebih dari 1 (satu) kementerian, lembaga pemerintah non
kementerian, satuan kerja pemerintah provinsi, atau satuan kerja
pemerintah kabupaten/kota.
2) Pemeriksaan UKL-UPL
- Setelah formulir UKL-UPL diisi oleh Pemrakarsa disampaikan kepada :
(a) Menteri untuk usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lebih dari 1
(satu) wilayah provinsi; di wilayah NKRI yang sedang dalam sengketa
dengan negara lain; di wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil laut diukur
dari garis pantai ke arah laut lepas; dan/ atau di lintas batas NKRI dengan
negara lain.
(b) Gubernur untuk usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lebih dari 1
(satu) wilayah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) provinsi; di lintas
Kabupaten/Kota; dan/atau di wilayah laut paling jauh 12 (dua belas) mil
dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan.
(c) Bupati/Walikota untk usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada 1
(satu) wilayah Kabupaten/Kota dan wilayah laut paling jauh 1/3 (satu
pertiga) dari wilayah laut kewenangan provinsi.
- Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota melakukan pemeriksaan kelengkapan
administrasi formulir UKL-UPL;
- Apabila hasil pemeriksaan kelengkapan administrasi formulir UKL-UPL
dinyatakan tidak lengkap, maka akan dikembalikan kepada Pemrakarsa untuk
dilengkapi;
- Namun, apabila hasil pemeriksaan kelengkapan administrasi formulir UKL-UPL
dinyatakan telah lengkap, maka Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota
melakukan pemeriksaan UKL-UPL;
- Pemeriksaan UKL-UPL dilakukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
sejak formulir UKL-UPL dinyatakan lengkap secara administrasi.
3) Penerbitan Rekomendasi UKL-UPL
- Berdasarkan pemeriksaan UKL-UPL, Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota
menerbitkan Rekomendasi UKL-UPL;
- Apabila Rekomendasi berupa persetujuan, paling sedikit memuat :
(a) dasar pertimbangan dikeluarkannya persetujuan UKL-UPL;
(b) pernyataan persetujuan UKL-UPL; dan
(c) persyaratan dan kewajiban Pemrakarsa sesuai dengan yang tercantum
dalam UKL-UPL.
- Apabila Rekomendasi berupa penolakan, paling sedikit memuat :
(a) dasar pertimbangan dikeluarkannya penolakan UKL-UPL; dan
(b) pernyataan penolakan UKL-UPL.

C. Dasar Hukum
1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.
PERIZINAN
A. Pengertian
1) Izin Lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan
usaha dan/atau kegiatan yang wajib Amdal atau UKL-UPL dalam rangka
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk
memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan.
2) Izin Usaha dan/atau Kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis
untuk melakukan usaha dan/atau kegiatan.

Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL – UPL wajib
memiliki Izin Lingkungan. Izin Lingkungan diterbitkan berdasarkan keputusan
kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL- UPL Izin Lingkungan wajib
mencantumkan persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan
hidup atau rekomendasi UKL – UPL. Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk
memperoleh Izin Usaha dan/atau Kegiatan. Dalam hal Usaha dan/atau Kegiatan
mengalami perubahan, penaggung jawab Usaha dan/atau Kegiatan wajib
memperbarui Izin Lingkungan.

B. Prosedur Memperoleh Izin Lingkungan


1) Permohonan Izin Lingkungan
- Permohonan Izin Lingkungan diajukan secara tertulis oleh Pemrakarsa kepada
Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota;
- Permohonan Izin Lingkungan harus dilengkapi dengan:
(a) dokumen Amdal atau formulir UKL-UPL;
(b) dokumen pedirian Usaha dan/atau Kegiatan; dan
(c) profil Usaha dan/atau Kegiatan.
- Setelah menerima permohonan Izin Lingkungan Menteri, Gubernur, atau
Bupati/Walikota wajib mengumumkan permohonan Izin Lingkungan;
2) Penerbitan Izin Lingkungan
- Izin Lingkungan diterbitkan oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota
setelah dilakukannya pengumuman permohonan Izin Lingkungan dan
dilakukan bersamaan dengan diterbitkannya Keputusan Kelayakan Lingkungan
Hidup atau Rekomendasi UKL-UPL.
- Izin Lingkungan memuat :
(a) persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam Keputusan Kelayakan
Lingkungan Hidupp atau Rekomendasi UKL – UPL;
(b) persyaratan dan kewajiban yang diitetapkan oleh Menteri, Gubernur, atau
Bupati/Walikota; dan
(c) berakhirnya Izin Lingkungan.
- Pengumuman untuk Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib Amdal dilakukan
oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota melalui multimedia dan papan
pengumuman di lokasi Usaha dan/atau Kegiatan paling lama 5 (lima) hari
kerja terhitung sejak dokumen Andal dan RKL – RPL yang diajukan dinyatakan
lengkap secara administrasi, serta masyarakat dapat memberikan saran,
pendapat, dan tanggapan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari
kerja sejak diumumkan;
- Pengumuman untuk Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib UKL - UPL dilakukan
oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota melalui multimedia dan papan
pengumuman di lokasi Usaha dan/atau Kegiatan paling lama 2 (dua) hari kerja
terhitung sejak formulir UKL – UPL yang diajukan dinyatakan lengkap secara
administrasi, serta masyarakat dapat memberikan saran, pendapat, dan
tanggapan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak
diumumkan.
- Pengumuman dilakukan dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja sejak
diterbitkan.
3) Permohonan Perubahan Izin Lingkungan
- Sebelum mengajukan permohonan perubahan Izin Lingkungan, Pemrakarsa
wajib mengajukan permohonan perubahan Keputusan Kelayakan Lingkungan
Hidup atau Rekomendasi UKL – UPL;
- Perubahan Usaha dan/atau Kegiatan meliputi :
(a) perubahan kepemilikan Usaha dan/atau Kegiatan;
(b) perubahan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup;
(c) perubahan yang berpengaruh terhadap lingkungan hidup yang memenuhi
kriteria :
(1) perubahan dalam penggunaan alat-alat produksi yang berpengaruh
terhadap lingkungan hidup;
(2) penambahan kapasitas produksi;
(3) perubahan spesifikasi teknik yag memengaruhi lingkungan;
(4) perubahan sarana Usaha dan/atau Kegiatan;
(5) perluasan lahan dan bangunan Usaha dan/atau Kegiatan;
(6) perubahan waktu atau durasi operasi Usaha dan/atau Kegiatan;
(7) Usaha dan/atau Kegiatan di dalam kawasan yang belum tercakup di
dalam Izin Lingkungan;
(8) terjadinya perubahan kebijakan Pemerintah yang ditujukan dalam
rangka peningkatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
dan/atau
(9) terjadinya perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat
peristiwa alam atau karena akibat lain, sebelum dan pada waktu Usaha
dan/atau Kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan.
(d) terdapat perubahan dampak dan/atau risiko terhadap lingkungan hidup
berdasarkan hasil kajian analisis risiko lingkungan hidup dan/atau audit
lingkungan hidup yang diwajibkan; dan/atau
(e) tidak dilaksanakannya rencana Usaha dan/atau Kegiatan dalam jangka
waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya Izin Lingkungan.
- Penerbitan perubahan Izin Lingkungan dilakuka bersamaan dengan penerbitan
perubahan Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau Rekomendasi UKL –
UPL.
4) Pembatalan Izin Lingkungan
- Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota wajib menolak permohonan Izin
Lingkungan apabila permohonan izin tidak dilengkapi dengan Amdal atau UKL
– UPL;
- Izin Lingkungan dapat dibatalkan apabila :
(a) persyaratan yang diajukan dalam permohonan izin mengandung cacat
hukum, kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran dan/atau
pemalsuan data, dokumen, dan/atau informasi;
(b) penerbitannya tanpa memenuhi syarat sebagaimana tercantum dalam
keputusan komisi tentang kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi
UKL – UPL;
(c) kewajiban yang ditetapkan dalam dokumen Amdal atau UKL – UPL tidak
dilaksanakan oleh Pemrakarsa.
- Izin Lingkungan dapat dibatalkan melalui Keputusan Pengadilan Tata Usaha
Negara;
- Dalam hal Izin Lingkungan dicabut, izin Usaha dan/atau Kegiatan dibatalkan.

C. Jangka Waktu
Izin Lingkungan berakhir bersamaan dengan berakhirnya izin Usaha dan/atau
Kegiatan.

D. Sanksi Hukum
Setiap orang yang melakukan Usaha dan/atau Kegiatan tanpa memiliki Izin
Lingkungan dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)
dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah);

E. Dasar Hukum
1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.
IZIN PENGELOLAAN LIMBAH B3
A. Pengertian
1) Bahan Berbahaya dan Beracun (yang selanjutnya disebut B3) adalah zat, energi,
dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak
lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain;
2) Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (yang selanjutnya disebut Limbah B3)
adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
3) Pengelolaan Limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau
penimbunan.

B. Prosedur Pengelolaan Limbah B3


1) Penetapan Limbah B3
 Limbah B3 berdasarkan kategori bahayanya terdiri atas :
(1) kategori 1  Limbah yang berdampak akut dan langsung terhadap
manusia dan dapat dipastikan akan berdampak negatif terhadap
lingkungan hidup;
(2) kategori 2  Limbah yang mengandung B3 memiliki efek tunda (delayed
effect) dan berdampak tidak langsung terhadap manusia dan lingkungan
hidup serta memiliki toksisitas sub kronis atau kronis.
 Limbah B3 berdasarkan sumbernya terdiri atas :
(1) Limbah B3 dari sumber tidak spesifik  Limbah B3 yang pada
umumnya bukan berasal dari proses utamanya, tetapi berasal dari
kegiatan antara lain pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi,
atau inhibitor korosi, pelarutan kerak dan pengemasan.
(2) Limbah B3 dari B3 kadaluwarsa, B3 yang tumpah, B3 yang tidak
memenuhi spesifikasi produk yang akan dibuang dan bekas kemasan B3;
dan
(3) Limbah B3 dari sumber spesifik, yaitu Limbah B3 sisa proses suatu
industri atau kegiatan yag secara spesifik dapat ditentukan, terdiri atas :
 Umum; dan
 Khusus  Limbah B3 yang memiliki efek tunda (delayed effect)
berdampak tidak langsung terhadap manusia dan lingkungan hidup,
memiliki karakteristik beracun tidak akut dan dihasilkan dalam jumlah
yang besar per satuan waktu.
 Karakteristik Limbah B3 meliputi :
(1) mudah meledak;
(2) mudah menyala;
(3) reaktif;
(4) infeksius;
(5) korosif; dan/atau
(6) beracun.
2) Pengurangan Limbah B3
- Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan pengurangan
Limbah B3 melalui :
(a) Substitusi Bahan  dapat dilakukan melalui pemilihan bahan baku
dan/atau bahan penolong yang semula mengandung B3 diganti dengan
bahan baku dan/atau bahan penolong yang tidak mengandung Limbah B3;
(b) Modifikasi Proses  dapat dilakukan melalui pemilihan dan penerapan
proses produksi yang lebih efisien;
(c) Penggunaan Teknologi Ramah Lingkungan.
3) Penyimpanan Limbah B3
- Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan penyimpanan
Limbah B3 dan dilarang melakukan percampuran Limbah B3 yang
disimpannya;
- Untuk dapat memperoleh Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan
Penyimpanan Limbah B3, setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 :
(a) wajib memiliki Izin Lingkungan; dan
(b) harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Bupati/Walikota
dan melampirkan persyaratan lain.
- Adapun persyaratan memperoleh Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan
Penyimpanan Limbah B3, meliputi:
(a) identitas pemohon;
(b) akta pendirian badan usaha;
(c) nama, sumber, karakteristik dan jumlah Limbah B3 yang akan disimpan;
(d) dokumen yang menjelaskan tentang tempat Penyimpanan B3, yang harus
memenuhi :
(1) lokasi penyimpanan Limbah B3 harus bebas banjir dan tidak rawan
bencana alam atau harus dapat direkayasa dengan teknologi untuk
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
(2) fasilitas penyimpanan Limbah B3 yang sesuai dengan jumlah Limbah
B3, karakteristik Limbah B3, dan dilengkapi dengan upaya
pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup; dan
(3) peralatan penanggulangan keadaan darurat.
- Setelah Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan Penyimpanan Limbah B3
terbit, pemegang izin wajib :
(a) memenuhi persyaratan lingkungan hidup dan kewajiban Izin Pengelolaan
Limbah B3 untuk Kegiatan Penyimpanan Limbah B3;
(b) melakukan penyimpanan Limbah B3 paling lama :
(1) 90 hari sejak Limbah B3 dihasilkan, untuk Limbah B3 yang dihasilkan
sebesar 50 kg per hari atau lebih;
(2) 180 hari sejak dihasilkan, untuk Limbah B3 yang dihasilkan kurang dari
50 kg per hari untuk Limbah B3 kategori 1;
(3) 365 hari sejak Limbah B3 dihasilkan, untuk Limbah B3 yang dihasilkan
kurang dari 50 kg per hari untk Limbah B3 kategori 2 dari sumber tidak
spesifik dan sumber spesifik umum; atau
(4) 365 hari sejak Limbah B3 dihasilkan, untuk Limbah B3 kategori 2 dari
sumber spesifik khusus.
(c) menyusun dan menyampaikan laporan Penyimpanan Limbah B3.
- Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Penyimpanan Limbah B3, berakhir
jika :
(a) masa berlaku izin habis dan tidak dilakukan perpanjangan izin;
(b) dicabut oleh Bupati/Walikota;
(c) badan usaha pemegang izin bubar atau dibubarkan; atau
(d) izin Lingkungan dicabut.
4) Pengumpulan Limbah B3
- Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan pengumpulan
Limbah B3 dan dilarang :
(a) melakukan Pengumpulan Limbah B3 yang tidak dihasilkannya;dan
(b) melakukan percampuran Limbah B3 yang dikumpulkan.
- Untuk dapat memperoleh Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan
Pengumpulan Limbah B3 harus mengajukan permohonan secara tertulis
kepada Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota, dilengkapi dengan
persyaratan meliputi :
(a) identitas pemohon;
(b) akta pendirian badan usaha;
(c) nama, sumber, karakteristik dan jumlah Limbah B3 yang akan
dikumpulkan;
(d) dokumen yang menjelaskan tentang tempat Penyimpanan B3;
(e) dokumen yang menjelaskan tentang pengemasan Limbah B3;
(f) prosedur pengumpulan Limbah B3;
(g) bukti kepemilikan atas dana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Hidup dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup dan dana penjaminan
Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup; dan
(h) dokumen lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
- Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengumpulan Limbah B3 berlaku
selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh)
hari sebelum jangka waktu izin berakhir;
- Permohonan perpanjangan dilengkapi dengan persyaratan yang meliputi :
(a) identitas pemohon;
(b) akta pendirian badan usaha;
(c) nama, sumber, karakteristik dan jumlah Limbah B3 yang akan
dikumpulkan;
(d) dokumen yang menjelaskan tentang tempat Penyimpanan B3;
(e) dokumen yang menjelaskan tentang pengemasan Limbah B3;
(f) prosedur pengumpulan Limbah B3;
(g) bukti kepemilikan atas dana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Hidup dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup dan dana penjaminan
Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup; dan
(h) laporan pelaksanaan Pengumpulan Limbah B3.
5) Pengangkutan Limbah B3
- Pengangkutan Limbah B3 wajib dilakukan dengan menggunakan alat angkut
yang tertutup untuk Limbah B3 kategori 1 dan untuk pengangkutan Limbah B3
kategori 2 dapat dilakukan dengan menggunakan alat angkut yang terbuka.
- Pengangkutan Limbah B3 wajib memiliki :
(a) rekomendasi Pengangkutan Limbah B3 menjadi dasar diterbitkannya Izin
Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengangkutan Limbah B3;
(b) Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengangkutan Limbah B3
harus melalui permohonan secara tertulis dengan persyaratan sebagai
berikut :
(1) identitas pemohon;
(2) akta pendirian badan usaha;
(3) bukti kepemilikan atas dana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Hidup dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup dan dana penjaminan
Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup;
(4) bukti kepemilikan alat angkut;
(5) dokumen pengangkutan Limbah B3; dan
(6) kontrak kerjasama antara Penghasil Limbah B3 dengan Pengumpulan
Limbah B3, Pemanfaatan Limbah B3, Pengolahan Limbah B3, dan/atau
Penimbunan Limbah B3 yang telah memiliki izin.
6) Pemanfaatan Limbah B3
- Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan pemanfaatan
Limbah B3;
- Untuk dapat memperoleh Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan
Pemanfaatan Limbah B3 harus mengajukan permohonan secara tertulis
kepada Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota, dilengkapi dengan
persyaratan meliputi:
(a) Salinan Izin Lingkungan;
(b) Salinan persetujuan pelaksanaan uji coba Pemanfaatan Limbah B3;
(c) identitas pemohon;
(d) akta pendirian badan usaha;
(e) dokumen pelaksanaan hasil uji coba Pemanfaatan Limbah B3 yang
memuat paling sedikit nama, sumber, karakteristik, komposisi, jumlah, dan
hasil uji coba Limbah B3 yang akan dimanfaatkan;
(f) dokumen mengenai tempat Penyimpanan Limbah B3;
(g) dokumen mengenai pengemasan Limbah B3;
(h) dokumen mengenai desain teknologi, metode, proses, dan kapasitas
Pemanfaatan Limbah B3 sesuai dengan yang tercantum dalam persetujun
pelaksanaan uji coba Pemanfaatan Limbah B3;
(i) dokumen mengenai nama dan jumlah bahan baku dan/atau bahan
penolong berupa Limbah B3 untuk campuran Pemanfaatan Limbah B3;
(j) prosedur Pemanfaatan Limbah B3;
(k) bukti kepemilikan atas dana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Hidup dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup dan dana penjaminan
Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup; dan
(l) dokumen lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
- Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengumpulan Limbah B3 berlaku
selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh)
hari sebelum jangka waktu izin berakhir;
7) Pengolahan Limbah B3
- Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan pengolahan
Limbah B3;
- Pengolahan Limbah B3 dilakukan dengan cara :
(a) termal;
(b) stabilisasi dan solidifikasi; dan/atau
(c) cara lain sesuai dengan perkembangan teknologi.
- Untuk dapat memperoleh Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan
Pengolahan Limbah B3 harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota, dilengkapi dengan persyaratan
meliputi :
(a) Salinan Izin Lingkungan;
(b) Salinan persetujuan pelaksanaan uji coba Pengolahan Limbah B3;
(c) identitas pemohon;
(d) akta pendirian badan usaha;
(e) dokumen pelaksanaan hasil uji coba Pengolahan Limbah B3;
(f) dokumen mengenai nama, sumber, karakteristik, dan jumlah Limbah B3
yang akan diolah;
(g) dokumen mengenai tempat Penyimpanan Limbah B3;
(h) dokumen mengenai pengemasan Limbah B3;
(i) dokumen mengenai desain teknologi, metode, proses, dan kapasitas
Pemanfaatan Limbah B3 sesuai dengan yang tercantum dalam persetujun
pelaksanaan uji coba Pemanfaatan Limbah B3;
(j) dokumen mengenai nama dan jumlah bahan baku dan/atau bahan
penolong berupa Limbah B3 untuk campuran Pengolahan Limbah B3;
(k) prosedur Pengolahan Limbah B3;
(l) bukti kepemilikan atas dana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Hidup dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup dan dana penjaminan
Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup; dan
(m)dokumen lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
- Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengumpulan Limbah B3 berlaku
selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh)
hari sebelum jangka waktu izin berakhir;
8) Penimbunan Limbah B3
- Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 wajib melakukan pemanfaatan
Limbah B3;
- Untuk dapat memperoleh Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk Kegiatan
Pengolahan Limbah B3 harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota, dilengkapi dengan persyaratan
meliputi :
(a) Salinan Izin Lingkungan;
(b) identitas pemohon;
(c) akta pendirian badan hukum;
(d) dokumen mengenai nama, sumber, karakteristik, dan jumlah Limbah B3
yang akan ditimbun;
(e) dokumen mengenai tempat Penyimpanan Limbah B3;
(f) dokumen mengenai pengemasan Limbah B3;
(g) dokumen mengenai lokasi dan fasilitas Penimbunan Limbah B3;
(h) dokumen mengenai desain teknologi, metode, proses Penimbunan Limbah
B3;
(i) prosedur Penimbunan Limbah B3;
(j) bukti kepemilikan atas dana Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Hidup dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup dan dana penjaminan
Pemulihan Fungsi Lingkungan Hidup; dan
(k) dokumen lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
- Izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengumpulan Limbah B3 berlaku
selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh)
hari sebelum jangka waktu izin berakhir;
C. Larangan
Setiap orang :
1) memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-undangan ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2) memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
3) memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
4) membuang B3 dan limbah B3 ke lingkungan hidup;

D. Tanggung Jawab Mutlak


Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan B3,
menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman
serius terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang
terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan.

E. Sanksi Hukum
1) Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara palingcsingkat
1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah).
2) Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00
(tiga miliar rupiah).
3) Setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf d,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).
4) Setiap orang yang memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang–
undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling
sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

F. Dasar Hukum
1) Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
2) Peraturan Pemerintah No 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun.