Vous êtes sur la page 1sur 10

ANATOMI GINJAL

Letak ginjal didaerah lumbal (pinggang) di kanan dan kiri tulang belakang,
dibelakang peritoneum (retro peritoneal), di luar rongga peritoneum, menempel pada dinding
belakang rongga abdomen. Ginjal tterlindung dengan baik dari trauma langsung: di sebelah
posterior dilindungi oleh kosta dan otot-otot yang meliputi kosta, sedangkan di anterior
dilindungi oleh bantalan usus yang tebal. Kalau ginjal cedera, maka hampir selalu di
akibatkan oleh kekuatan yang mengenai kosta ke dua belas, yang berputar ke dalam dan
menjepit ginjal di antara kosta sendiri dan korpus vertebrea lumbalis. Karena perlindungan
yang sempurna terhadap cedera langsung ini, maka ginjal dengan sendirinya sukar untuk
diraba dan juga sulit dicapai waktu pembedahan. Ginjal kiri yang ukurannya normal,
biasanya tidak teraba pada waktu pemeriksaan fisik karena dua pertiga atas permukaan
anterior ginjal tertutup oleh limpa. Tetapi kutup bawah ginjal kanan berukuran normal, dapat
diraba secara bimanual. Kedua ginjal yang membesar secara mencolok atau tergeser dari
tempatnya dapat di ketahui dengan palpasi. Walaupun hal ini lebih mudah dilakukan di
sebelah kanan.
FUNGSI FISIOLOGIS GINJAL

Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstrasel dalam
batas-batas normal. Komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh filtrasi
glomerulus, reabsorpsi dan sekresi tubulus. Fungsi utama ginjal ada dua : fungsi eksresi dan
fungsi non-eksresi.

FUNGSI EKSRESI:

- mempertahankan osmolalitas plasma sekitar 285m osmol dengan mengubah- ubah


eksresi air.
- mempertahankan kadar masing-masing elektrolit plasma dalam rentang normal
- mempertahankan Ph plasma sekitar 7,4 dengan mengeluarkan kelebihan H+ dan
membentuk kembali HCO3-
- mengekresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein terutama urea, asam
urat dan kreatinin

FUNGSI NON-EKSRESI

- menghasilkan renin penting untuk pengaturan tekanan darah


- menghasilkan eritropoietin faktor penting dalam stimulasi produk sel darah merah
oleh sumsum tulang
- metabolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya
- degradasi insulin
- menghasilkan prostaglandin
STRUKTUR GLOMERULUS

Glomerulus terdiri dari kapiler yang memperoleh supply dari arteriole afferent
dan dialirkan keluar melalui arteriole efferent. Ultrafiltrasi berlangsung melintasi kapiler
glomerulus masuk kedalam ruang Bowman (ruang kemih) dan ultrafiltrat kemudian dialirkan
melalui tubulus proksimal. Dinding kapiler glomerulus terdiri 3 lapisan yang unik yaitu sel
epitel, membran basal glomerulus dan sel endotel. Sel endotel merupakan lapisan dalam
dinding kapiler glomerulus. Sel-sel ini melapisi membran basal glomerulus dan selalu
berhubungan langsung dengan darah yang mengalir dalam lumen kapiler. Sitoplasma sel
endotel mempunyai banyak bukaan (opening) yang disebut endothelial fenestrations, yang
mempunyai diameter antara dari 500 sampai 1000.Membran basal glomerulus adalah lapisan
tengah dinding kapiler glomerulus. Terdiri dari suatu lapisan berinti padat disebut lamina
densa, yang dibungkus oleh lapisan yang kurang padat dibagian dalam oleh lamina rara
interna dan dibagian luar oleh lamina rara eksterna. Fungsi membran basal glomerulus adalah
sebagai membran yang permeable selektif. Lapisan luar barier filtrasi glomerulus terdiri dari
sel-sel epitel, yang melekat pada membran basal glomerulus melalui ekstensi-ekstensi
sitoplasma yang dikenal sebagai podosit atau foot processes. Ruang diantara 2 podosit yang
berdampingan disebut epithelial slit pores. Pori-pori ini dibungkus oleh membran yang
disebut slit diaphragm. Membran basal glomerulus bermuatan negatif berkat adanya
glycosaminoglycans.
ULTRAFILTRASI GLOMERULUS

Pada dewasa setiap harinya kedua ginjal mengeluarkan 1,5 – 2,5 liter kemih. Salah satu
fungsi ginjal yang paling penting adalah mengendalikan ekskresi air dan garam (NaCl).
Kurang lebih 99% garam yang telah difiltrasi oleh glomerulus akan diabsorbsi kembali
(direabsorbsi) oleh tubulus. Output garam dikendalikan untuk mempertahankan kadar garam
yang normal dan konstan dalam tubuh. Tubulus renal juga mereabsorbsi zat-zat terlarut
seperti misalnya glukosa dan asam amino. Ginjal juga berperan untuk mengatasi kelebihan
asam dan kalium. Terdapat sejumlah kecil zat limbah metabolisme protein terlarut yang
harusvdikeluarkan melalui ginjal setiap harinya, yaitu gugusan nitrogen, terutama urea. Zat
tersebut beracun dan akan tetap berada dalam tubuh bila ginjal gagal menjalankan fungsinya.
Fungsi ginjal adalah membuat kemih yang membawa bahan-bahan limbah hasil proses
metabolisme tubuh. Dengan mengendalikan kecepatan filtrasi dari zat-zat yang diekskresi
ginjal mampu menjaga lingkungan internal (millieu interieur). Proses filtrasi plasma
menembus barier filtrasi glomerulus dikendalikan oleh hokum Starling dimana tekanan
hidrostatik kapiler glomerulus merupakan faktor utama yang memungkinkan terjadinya
ultrafiltrasi plasma dari lumen kapiler ke dalam ruang kemih. Tekanan onkotik plasma dalam
lumen kapiler glomerulus dan tekanan hidrostatik dalam kapsul Bowman menahan dan
melawan ultrafiltrasi glomerulus.

Reabsorpsi dan Sekresi

Reabsorpsi Tubulus
Ketika cairan yang telah difiltrasi ini meninggalkan kapsula Bowman dan mengalir melewati
tubulus, cairan ini mengalami perubahan akibat adanya reabsorpsi air dan zat terlarut spesifik
kembali ke darah. Sebagian besar filtrat (99%) secara selektif direabsorpsi dalam tubulus
ginjal melalui difusi pasif gradient kimia atau listrik, transport aktif terhadap gradient
tersebut, atau difusi terfasilitasi. Sekitar 85% natrium klorida dan air serta semua glukosa dan
asam amino pada filtrate glomerulus diabsorpsi dalam tubulus kontortus proximal (TC I),
walaupun reabsorpsi berlangsung pada semua bagian nefron.
Reabsorpsi ion natrium
Ion-ion natrium ditransport secara pasif melalui difusi terfasilitasi (dengan arrier) dari lumen
tubulus konkortus proximal ke dalam sel-sel epitel tubulus yang konsentrasi ion natriumnya
lebih rendah.

Ion-ion natrium yang ditransport secara aktif dengan pompa natrium-kalium, akan keluar dari
sel-sel epitel untuk masuk ke cairan interstitial di dekat kapiler peritubular.

Reabsorpsi ion klor dan ion negatif lain


Karena ion natrium positif bergerak secara pasif dari cairan tubulus ke sel dan secara aktif
dari sel ke cairan interstitial peritubuluar, akan terbentuk ketidakseimbangan listrik yang
justru membantu pergerakan pasif ion-ion negatif.

Dengan demikian, ion klor, dan bikarbonat negatif secara pasif berdifusi ke dalam sel-sel
epitel dari lumen dan mengikuti pergerakan natrium yang keluar menuju cairan peritubular
dan kapiler tubular.

Reabsorpsi glukosa, fruktosa, dan asam amino


Carrier glukosa dan asam amino sama dengan carrier ion natrium dan digerakkan melalui
cotransport.

Carrier pada membrane sel tubulus memiliki kapasitas reabsorpsi maksimum untuk glukosa,
berbagai jenis asam amino, dan beberapa zat terabsorpsi lainnya. Jumlah ini dinyatakan
dalam maksimum transport (transport maximum [Tm]).

Tm untuk glukosa adalah julah maksimum yang dapat ditranspor (reabsopsi) per menit, yaitu
sekitar 200 mg glukos/100 ml plasma. Jika kadar glukosa darah melebihi nilai Tm-nya,
berarti melewati ambang plasma ginjal sehingga glukosa muncul di urin (gulosuria).

Reabsorpsi air
Air bergerak bersama ion natrium melalui osmosis. Ion natrium berpindah dari area
berkonsentrasi tinggi dalam lumen tubule konkortus proximal ke area berkonsentrasi air
rendah dalam cairan interstitial dan kapiler peritubular.
Reabsorpsi urea
Seluruh urea yang terbentuk setiap hari difiltrasi oleh glomerulus. Sekitar 50% urea secara
pasif direabsorpsi akibat gradien difusi yang terbetuk saat air direabsorpsi. Dengan demikian,
50% urea yang difiltrasi akan diekskresikan dalam urin.

Reabsorpsi ion anorganik lain, seperti kalium, kalsium, fosfat, dan sulfat, serta sejumlah ion
organik adaalah melalui transport aktif.

Sekresi Tubulus
Mekanisme sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah
dalam kapilar peritubular yang melewati sel-sel tubular menuju cairan tubular untuk
dikeluarkan dalam urin.

Zat-zat seperti hidrogen, kalium, dan amonium, produk akhir metabolik kreatinin dan asam
hipurat serta obat-obatan tertentu (penisilin) ecara aktif disekresikan ke dalam tubulus.

Ion hidrogen dan amonium diganti dengan ion natrium dlam tubulus kontortus distal dan
tubulus pengumpul. Sekresi tubular yang selektif terhadap ion hidrogen dan amonium
membantu dalam pengaturan pH plasma dan keseimbangan asam basa cairan tubuh.ss

Sekresi tubular merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia
asing atau tidak diinginkan.

Sistem ginjal dan keseimbangan cairan

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit


Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu volume
cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel
dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini
dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk
mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.
1. Pengaturan volume cairan ekstrasel.

Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan
menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma.
Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka
panjang.

• Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk
mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada keseimbangan
antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. hal ini terjadi karena adanya
pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Water
turnover dibagi dalam: 1. eksternal fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan
lingkungan luar; dan 2. Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai
kompartmen, seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal.

• Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan


garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya.
Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang
ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam
sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Kelebihan garam yang
dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam.

ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara:

1. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR).

2. mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal

Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan
darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di
tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan
volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-
Angiotensin-Aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin
menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika
mengalami distensi peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di
tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali
normal. 2. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel.

Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan.
semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah
konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi
solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah).

Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus
membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium menrupakan solut yang banyak
ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan
aktivitas osmotik cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium
bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang tidak
merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini
bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini.

Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:

• Perubahan osmolaritas di nefron

Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang
pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara
keseluruhan di dukstus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus
proksimal (300 mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable
terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa
recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik.

Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif
memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air.
Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik.
Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada
tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di
keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH).

• Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH)

Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di


hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis
vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan
berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di
duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks
duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke
vasa recta. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan
hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan.

Selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas


cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk
perilaku untuk membatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali normal.

Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit


diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya
perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus
karotikus, osmoreseptor di hypotalamus, dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium.
Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami
kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan
meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume cairan
tubuh, maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air.
Tugas Kelompok
Makalah Biologi
Ultrafiltrasi,Reabsorpsi,dan keseimbangan air pada Ginjal

Disusun oleh :
Asih Puji Astuti (1411C2011)
Ayu wulandari (1411C2012)
Witri Novianti (1412C2001)

S1 non reguler Analis


JURUSAN ANALIS KIMIA DAN MEDIS
Sekolah Tinggi Kesehatan BAKTI ASIH
Bandung
2014