Vous êtes sur la page 1sur 42

ASUHAN KEPERAWATAN

‘’GANGGUAN PERKEMIHAN PADA LANSIA (INKONTINENSIA URIN)’’

Dosen Pembimbing : Rodiyah, S.Kep.,Ns.,M.Kes

Di Susun Oleh Kelompok 4 :

1. Adinda Vici Pandulum (151001002)


2. Ahmad Shoba R. A. (151001003)
3. Ayu Lu’lu’ul J. (151001005)
4. Fadhila Khusma A. (151001012)
5. Faridatul Umroh (151001014)
6. Ferdy Yuswan A. (151001015)
7. Fitri Fajarwati Z. (151001016)
8. Hasri Provitasari (151001019)
9. Irma Maulinda D. (151001021)
10. Makfiatul Abadyah (151001023)
11. Nisa’ul Ilmi Chik M. A. (151001030)
12. Putri Ayu Natalia S. (151001037)
13. Widya Pangestu A. (151001045)
14. Wiwik Aryunani (151001046)

PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

STIKES PEMKAB JOMBANG TAHUN 2017/2018

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta
karunianya-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat
pada waktunya.Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah komunitas
i
“ASUHAN KEPERAWATAN GANGGAUN PERKEMIHAN PADA LANSIA
(INKONTINENSIA URIN)”

Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses pembelajaran dan
dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak, atas bantuan, dukungan dan doanya.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca makalah ini,
sehingga dapat memperlancar dan mempermudah proses belajar mengajar. Makalah ini
mungkin kurang sempurna, untuk itu kami mengharap kritik dan saran untuk
penyempurnaan makalah ini.

Jombang, 16 Oktober 2017

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................................iii
ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1

1.2 Tujuan...................................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian.............................................................................................................3

2.2 Etiologi.................................................................................................................5

2.3 Faktor Predisposisi atau Faktor Pencetus.............................................................6

2.4 Patofisiologi.........................................................................................................9

2.5 PATHWAY...........................................................................................................10

2.6 Tanda dan Gejala..................................................................................................11

2.7 Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................11

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

3.1 Pengkajian............................................................................................................15

3.2 Riwayat Keperawatan (Nursing History).............................................................15

3.3 Pemeriksaan Fisik................................................................................................16

3.4 Pemeriksaan Per Sistem.......................................................................................16

3.5 Diagnosa Keperawatan.........................................................................................23

3.6 Intervensi..............................................................................................................23

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

4.1 Pengkajian............................................................................................................24

iii
4.2 Riwayat Keperwatan (Nursing History)...............................................................24

4.3 Pemerikaan Fisik..................................................................................................25

4.4 Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................25

4.5 Diagnosa Keperawatan.........................................................................................30

4.6 Intervensi..............................................................................................................31

4.7 Implementasi........................................................................................................34

4.8 Evaluasi................................................................................................................35

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan..........................................................................................................36

5.2 Saran.....................................................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................37

iv
v
6
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada lansia mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun mental,
khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya.
Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang normal, seperti
berkurangnya ketajaman panca indera, menurunnya daya tahan tubuh, dan adanya
inkontinensia baik urine maupun tinja merupakan ancaman bagi integritas orang usia
lanjut. Belum lagi mereka masih harus berhadapan dengan kehilangan peran diri,
kedudukan sosial serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai.

Inkontinensia urin merupakan salah satu manifestasi penyakit yang sering


ditemukan pada pasien geriatri. Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar
antara 15–30% usia lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di
rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah berat
inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun.

Ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urin atau inkontinensia jarang


dikeluhkan oleh pasien atau keluarga karena dianggap sesuatu yang biasa, malu atau tabu
untuk diceritakan pada orang lain maupun pada dokter, dianggap sesuatu yang wajar
tidak perlu diobati. Inkontinensia urine bukan penyakit, tetapi merupakan gejala yang
menimbulkan gangguan kesehatan, sosial, psikologi serta dapat menurunkan kualitas
hidup (Rochani, 2002).

Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang
merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus, risiko
terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan rasa rendah
diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit
rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000).

1
1.2 Tujuan

1. Mengetahui dan memahami mengenai definisi inkontinensia urin pada lanjut usia.

2. Mengetahui dan memahami mengenai etiologi inkontinensia urin pada lanjut usia.

3. Mengetahui dan memahami mengenai faktor predisposisi atau faktor pencetus


inkontinensia urin pada lanjut usia.

4. Mengetahui dan memahami mengenai patofisiologi inkontinensia urin pada lanjut


usia.

5. Mengetahui dan memahami mengenai tanda dan gejala inkontinensia urin pada lanjut
usia.

6. Mengetahui dan memahami mengenai pemeriksaan penunjang pada lanjut usia.

7. Mengetahui dan memahami mengenai pathway inkontinensia urin pada lanjut usia.

8. Mengetahui dan memahami mengenai asuhan keperawatan inkontinensia urin pada


lanjut usia.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Inkontinensia urin merupakan kehilangan kontrol berkemih yang bersifat


sementara atau menetap. Klien tidak dapat mengontrol sfingter uretra eksterna.
Merembesnya urine dapat berlangsung terus menerus atau sedikit sedikit (Potter dan
Perry, 2005). Menurut Hidayat (2006), inkontinensia urin merupakan ketidakmampuan
otot sfingter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urin. Secara
umum penyebab inkontinensia dapat berupa proses penuaan, pembesaran kelenjar
prostat, penurunan kesadaran, dan penggunaan obat narkotik atau sedatif.

Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang
merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus, risiko
terjadi dekubitus (luka pada daerah yang tertekan), dan dapat menimbulkan rasa rendah
diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan mempersulit
rehabilitasi pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000).

Adapun tipe-tipe inkontinensia urin menurut Hidayat, 2006

1. inkontinensia dorongan Keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urin tanpa


sadar, terjadi segera setelah merasa dorongan yang kuat
setelah berkemih.

Inkontinensia dorongan ditandai dengan seringnya terjadi


miksi (miksi lebih dari 2 jam sekali) dan spame kandung
kemih (Hidayat, 2006). Pasien Inkontinensia dorongan
mengeluh tidak dapat menahan kencing segera setelah timbul
sensasi ingin kencing. Keadaan ini disebabkan otot detrusor
sudah mulai mengadakan kontraksi pada saat kapasitas
3
kandung kemih belum terpenuhi.
1. inkontinensia total Keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urin yang
terus menerus dan tidak dapat diperkirakan. Kemungkinan
penyebab inkontinensia total antara lain: disfungsi neorologis,
kontraksi independen dan refleks detrusor karena
pembedahan, trauma atau penyakit yang mempengaruhi saraf
medulla spinalis, fistula, neuropati.
1. inkontinensia stress tipe ini ditandai dengan adanya urin menetes dengan
peningkatan tekanan abdomen, adanya dorongan berkemih,
dan sering miksi. Inkontinensia stress terjadi disebabkan otot
spingter uretra tidak dapat menahan keluarnya urin yang
disebabkan meningkatnya tekanan di abdomen secara tiba-
tiba. Peningkatan tekanan abdomen dapat terjadi sewaktu
batuk, bersin, mengangkat benda yang berat, tertawa (Panker,
2007).
1. inkontinensia reflex Keadaan di mana seseorang mengalami pengeluaran urin yang
tidak dirasakan.

Inkontinensia tipe ini kemungkinan disebabkan oleh adanya


kerusakan neurologis (lesi medulla spinalis). Inkontinensia
refleks ditandai dengan tidak adanya dorongan untuk
berkemih, merasa bahwa kandung kemih penuh, dan kontraksi
atau spasme kandung kemih tidak dihambat pada interval
teratur
1. inkontinensia keadaan seseorang yang mengalami pengeluaran urin secara
fungsional tanpa disadari dan tidak dapat diperkirakan. Keadaan
inkontinensia ini ditandai dengan tidak adanya dorongan
untuk berkemih, merasa bahwa kandung kemih penuh,
kontraksi kandung kemih cukup kuat untuk mengeluarkan
urin

2.2 Etiologi
4
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi
organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali,
kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak
dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding
kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah
menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU) antara lain terkait
dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin
meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.

Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi
saluran kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau
uretritis atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku
harus dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses,
maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan cairan
yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga bisa terjadi
karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan metabolik,
seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah asupan cairan yang
berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan yang bersifat diuretika
seperti kafein.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat
dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa
disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya
penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet.
Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan
terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat.

Pasien lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang


dideritanya. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian atau penggantian obat jika
memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal pemberian obat. Golongan obat
yang berkontribusi pada IU, yaitu diuretika, antikolinergik, analgesik, narkotik, antagonis
adrenergic alfa, agonic adrenergic alfa, ACE inhibitor, dan kalsium antagonik. Golongan
psikotropika seperti antidepresi, antipsikotik, dan sedatif hipnotik juga memiliki andil
dalam IU. Kafein dan alcohol juga berperan dalam terjadinya mengompol. Selain hal-hal

5
yang disebutkan diatas inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar
panggul, karena kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia
lanjut, kurang aktivitas dan operasi vagina.

Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan melemahnya


otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga dapat
membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang
serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia
urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50
tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih
(uretra), sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain
adalah obesitas atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko
mengakibatkan inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan
mengalami inkontinensia urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan
otot dasar panggul (Darmojo, 2009).

2.3 Faktor Predisposisi atau Faktor Pencetus

1. Usia

Usia bukan hanya berpengaruh pada eliminasi feses dan urine saja, tetapi juga
berpengaruh terhadap kontrol eliminasi itu sendiri. Anak-anak masih belum mampu
untuk mengontrol buang air besar maupun buang air kecil karena sistem
neuromuskulernya belum berkembang dengan baik. Manusia usia lanjut juga akan
mengalami perubahan dalam eliminasi tersebut. Biasanya terjadi penurunan tonus
otot, sehingga peristaltik menjadi lambat. Hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam
pengontrolan eliminasi feses, sehingga pada manusia usia lanjut berisiko mengalami
konstipasi. Begitu pula pada eliminasi urine, terjadi penurunan kontrol otot sfingter
sehingga terjadi inkontinensia (Asmadi, 2008).

2. Diet

Pemilihan makanan yang kurang memerhatikan unsur manfaatnya, misalnya


jengkol, dapat menghambat proses miksi. Jengkol dapat menghambat miksi karena
6
kandungan pada jengkol yaitu asam jengkolat, dalam jumlah yang banyak dapat
menyebabkan terbentuknya kristal asam jengkolat yang akan menyumbat saluran
kemih sehingga pengeluaran utine menjadi terganggu. Selain itu, urine juga dapat
menjadi bau jengkol. Malnutrisi menjadi dasar terjadinya penurunan tonus otot,
sehingga mengurangi kemampuan seseorang untuk mengeluarkan feses maupun
urine. Selain itu malnutrisi menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap
infeksi yang menyerang pada organ pencernaan maupun organ perkemihan(Asmadi,
2008).

3. Cairan

Kurangnya intake cairan menyebabkan volume darah yang masuk ke ginjal untuk
difiltrasi menjadi berkurang sehingga urine menjadi berkurang dan lebih
pekat(Asmadi, 2008).

4. Latihan fisik

Latihan fisik membantu seseorang untuk mempertahankan tonus otot. Tonus otot
yang baik dati otot-otot abdominal, otol pelvis, dan diagfragma sangat penting bagi
miksi (Asmadi, 2008).

5. Stres psikologi

Ketika seseorang mengalami kecemasan atau ketakutan, terkadang ia akan


mengalami diare ataupun beser (Asmadi, 2008).

6. Temperatur

Seseorang yang demam akan mengalami peningkatan penguapan cairan tubuh


karena meningkatnya aktivitas metabolik. Hal tersebut menyebabkan tubuh akan
kekurangan cairan sehingga dampaknya berpotensi terjadi konstipasi dan pengeluaran
urine menjadi sedikit. Selain itu, demam juga dapat memegaruhi nafsu makan yaitu
terjadi anoreksia, kelemahan otot, dan penurunan intake cairan (Asmadi, 2008).

7. Nyeri

7
Seseorang yang berasa dalam keadaan nyeri sulit untuk makan, diet yang
seimbang, maupun nyaman. Oleh karena itu berpangaruh pada eliminasi urine
(Asmadi, 2008).

8. Sosiokultural

Adat istiadat tentang privasi berkemih berbeda-beda. Contoh saja di masyarakat


Amerika Utara mengharapkan agar fasilitas toilet merupaka sesuatu yang pribadi ,
sementara budaya Eropa menerima fasilitas toilet yang digunakan secara bersama-
sama (Potter & Perry,2006).

9. Status volume

Apabila cairan dan konsentrasi eletrolit serta solut berada dalam keseimbangan,
peningkatakan asupan cairan dapat menyebabkan peningkatan produksi urine. Cairan
yang diminum akan meningkatakan volume filtrat glomerulus dan eksresi urina
(Potter & Perry,2006).

10. Penyakit

Adanya luka pada saraf perifer yang menuju kandung kemih menyebabkan
hilangnya tonus kandung kemih, berkurangnya sensasi penuh kandung kemih, dan
individu mengalami kesulitan untuk mengontrol urinasi. Misalnya diabetes melitus
dan sklerosis multiple menyebabkan kondusi neuropatik yang mengubah
fungsikandung kemih. Artritis reumatoid, penyakit sendi degeneratif dan parkinson,
penyakit ginjal kronis atau penyakit ginjal tahap akhir (Potter & Perry,2006).

11. Prosedur bedah

Klien bedah sering memiliki perubahan keseimbangan cairan sebelum menjali


pembedahan yang diakibatkan oleh proses penyakit atau puasa praoperasi, yang
memperburuk berkurangnya keluaran urine. Respons stres juga meningkatkan kadar
aldosteron menyebabkan berkurangnya keluaran urine dalam upaya mempertahankan
volume sirkulasi cairan (Potter & Perry,2006).

12. Obat-obatan

8
Retensi urine dapat disebabkan oleh penggunaan obat antikolinergik (atropin),
antihistamin (sudafed), antihipertensi (aldomet), dan obat penyekat beta adrenergik
(inderal) (Potter & Perry,2006).

2.4 Patofisiologi

Pada lanjut usia inkontinensia urin berkaitan erat dengan anatomi dan fisiologis juga
dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis dan lingkungan. Pada tingkat yang paling
dasar, proses berkemih diatur oleh reflek yang berpusat di pusat berkemih disacrum.
Jalur aferen membawa informasi mengenai volume kandung kemih di medulla spinalis
(Darmojo, 2000).

Pengisian kandung kemih dilakukan dengan cara relaksasi kandung kemih melalui
penghambatan kerja syaraf parasimpatis dan kontraksi leher kandung kemih yang
dipersarafi oleh saraf simpatis serta saraf somatic yang mempersyarafi otot dasar panggul
(Guyton, 1995).

Pengosongan kandung kemih melalui persarafan kolinergik parasimpatis yang


menyebabkan kontraksi kandung kemih sedangkan efek simpatis kandung kemih
berkurang. Jika kortek serebri menekan pusat penghambatan, akan merangsang
timbulnya berkemih. Hilangnya penghambatan pusat kortikal ini dapat disebabkan
karena usia sehingga lansia sering mengalami inkontinensia urin. Karena dengan
kerusakan dapat mengganggu kondisi antara kontraksi kandung kemih dan relaksasi
uretra yang mana gangguan kontraksi kandung kemih akan menimbulkan inkontinensia
(Setiati, 2001).

9
2.5 PATHWAY

10
2.6 Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yag ditemukan pada pasien dengan retensi urin menurut Uliyah (2008)
yaitu:

1. Ketidaknyamanan daerah pubis


2. Distensi vesika urinaria

11
3. Ketidak sanggupan untuk berkemih

4. Sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine. ( 25-50 ml)

a. Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan asupannya


b. Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
c. Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.

2.7 Pemeriksaan penunjang

1. Urinalisis

Digunakan untuk melihat apakah ada bakteri, darah dan glukosa dalam urine.

2. Uroflowmeter

Digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan obstruksi pintu


bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien berkemih.

3. Cysometry

Digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuskular kandung kemih dengan mengukur


efisiensi refleks otot destrusor, tekana dan kapasitas intravesikal, dan reaksi kandung
kemih terhadap rangsangan panas.

Urografi ekskretori bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien
berkemih.

4. Urografi ekskretorik

Disebut juga pielografi intravena, digunakan untuk mengevaluasi struktur dan fungsi
ginjal, ureter dan kandung kemih.

5. Kateterisasi residu pascakemih

Digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan kandung kemih dan jumlah urine
yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien berkemih.

12
Adapun penatalaksanaan medis inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi
faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin,
modifikasi lingkungan,medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan. Dari beberapa
hal tersebut di atas, dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Pemanfaatan kartu catatan berkemih

Yang dicatat pada kartu tersebut misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang
keluar,baik yang keluar secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan,
selain itudicatat pula waktu, jumlah dan jenis minuman yang diminum.

b. Terapi non farmakologi

Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia


urin,seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi,
dan lain-lain.Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah :

- Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu


berkemih)dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-
7 x/hari.
- Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum
waktunya.

- Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula


setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin
berkemih setiap 2-3 jam.

- Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai


dengankebiasaan lansia.

- Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi


berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila
ingin berkemih.Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi
kognitif (berpikir).

c. Terapi farmakologi

13
Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urine adalah:

- antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine


- Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine
untuk meningkatkan retensi urethra.

- Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfa
kolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi
diberikan secara singkat.

d. Terapi pembedahan

Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila
terapinon farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe
overflow umumnyamemerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan
retensi urin. Terapi inidilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia
prostat, dan prolaps pelvic(pada wanita).

e. Modalitas lain

Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang


menyebabkaninkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi
lansia yang mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter,
dan alat bantu toilet seperti urinal, komod dan bed pan

Kelainan neurologi (medulla spinalis)

- penyumbatan saluran urin (obat-obatan, tumor)


- otot detrusor tidak stabil/bereaksi berlebihan
- ingin kencing mendadak, dimalam hari

disfungsi neurologi

- kontraksi kandung kemih terhambat


- tekanan dalam perut meningkat ( tekanan di kandung kemih>pada uretra)
- ex. Pada kondisi mengejan, batuk

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

3.1 PENGKAJIAN
Pengkajian adalah kegiatan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi & mengidentifikasi status kesehatan klien.
1. IDENTITAS KLIEN
Nama :untuk membedakan pasien satu dengan pasienyang lain karena banyak
orang yang namanya sama
Umur :pada usia anak-anak, remaja, dewasa, dan usia lanjut dapat terserang
Jenis Kelamin: tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin
Diagnosismedis : untuk menentukan diagnose
Suku/Bangsa :untuk mengetahui darimana asal dan letak geografis tempat tinggal
pasien
TglPengkajian:dimulainya pengkajian serta catat jam
Agama :tidak dipengaruhi agama yang di anut
Pekerjaan :tidak dipengaruhi jenis pekerjaan
Pendidikan :tidak dipengaruhi jenis pekerjaan
15
Alamat : untuk mengetahui dimana klien berada
Tgl MRS : untuk mengetahui klien saat MRS serta catat jam MRS
3.2 RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)
1. Keluhan utama :
Jika pengkajian dilakukan setelah beberapa hari pasien Atrial Septal Defect maka
keluhan utama diisi dengan keluhan yang dirasakan saat pengkajian. Misalnya:
keluhan utama pada pasien denganAtrial Septal Defect: sesak napas, suhu tubuh
meningkat, lemas, jantung berdebar-debar.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan penjelasan dari permulaan klien merasakan keluhan sampai di bawa ke
pelayanan kesehatan.Jika pengkajian dilakukan beberapa hari setelah pasien rawat
inap, maka riwayat penyakit sekarang ditulis dari permulaan pasien merasakan
keluhan sampai kita melakukan pengkajian.
3. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Adanya faktor bawaan dari ibu sebelum lahir dan wanita yang hamil dengan
banyak kontraksi obat-obatan, radiasi secara potensial menyebabkan kelainan susunan
jantung pada embrio/sejak lahir.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan pada pasien apakah sebelumnya ada yang menderita Atrial Septal Defect
pada keluarga.
5. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Lingkungan yang telah terpejan oleh Atrial Septal Defect
6.6 PEMERIKSAAN FISIK
Status Pasien :
Suhu : ……°C (SUHU. axial, rectal, oral)
Nadi : …. x/menit ( NADI. teratur, tidak teratur, kuat, lemah)
TD : …../…..mmHg (lengan kiri, lengan kanan, berbaring, duduk)
RR : ….x/menit (regular/ irregular)
TB : … cm BB : …. Kg ( cara menghitung berat badan ideal : TB -100 ( ± 10% dari
hasil).
3.7 PEMERIKSAAN PER SISTEM
1. Sistem Pernapasan

16
Anamnesa : karakteristik bentuk (dada simetris), Kerateristik frekuensi (25 x/menit,
irama teratur, suara napas ronkhi tidak ada weezing).
a. Area Dada :
Inspeksi : bentuk dada (barrel chest, pigeon chest, funnelchest, normal, dada
cembung atau cekung), trauma dada, pembengkakan, penyebaran warna kulit,
cikatrik.
Palpasi : nyeri tekan, kelainan pada dinding thorax, bengkak (konsistensi,
suhu, denyutan, dapat di gerakkan / tidak)
Perkusi: pada daerah anterior posterior ( resonansi diatas seluruh permukaan paru,
pekak di intercoste V kanan, intercoste II-V kiri, tympani di intercoste VI
kanan).
Auskultasi : suara nafas trakeal, bronkial, bronkovesikuler, vesikuler (sesuai
dengan lokasi), ronkhi, wheezing, stridor, pleural friction rub, crakcles.
2. Cardiovaskuler Dan Limfe
Anamnesa : nyeri dada (PQRST), sesak saat istirahat/beraktivitas, tidur dengan
berapabantal, mudah lelah, diaphoresis, perubahan berat badan, pusing (sesuai dengan
etiologi), tension headache.
a. Wajah
Inspeksi : sembab, pucat, oedem periorbital, sianosis,
pembuluh darah mata : pecah,konjungtiva pucat/tidak.
b. Leher
Inspeksi : bendungan vena jugularis
Palpasi : Arteri carotis communis (frekuensi, kekuatan, irama), nilai JVP untuk
melihat fungsi atrium dan ventrikel kanan.
c. Dada
Inspeksi: Pulsasi dada, ictus cordis, bentuk dada sinistra cembung/cekung.
Palpasi : letak ictus kordis ( ICS 5, 1 cm medial dari garis midklavikula sinistra)
apabila tidak dapat diinspeksi, pergeseran ke arah lateral menunjukkanpembesaran
Perkusi : batas jantung dengan adanya bunyi redup, apakah terjadi
pelebaranataupengecilan
Auskultasi: bunyi jantung normal ( BJ 1 dan BJ 2) atau ada kelainan bunyi
jantung(gallop, murmur, friction rub, BJ3(fibrasi pengisian ventrikel), BJ4(tahanan
pengisian ventrikel setelah kontraksi atrium, terdengar antara BJ 1 dan BJ 2).
3. Persyarafan

17
Anamnesa : nyeri kepala berputar-putar, nyeri kepala sebelah, hilang keseimbangan,
perubahan berbicara, tremor, parastesia, anasthesia, parese, paralisis, koordinasi antar
anggota badan
Tingkat kesadaran (Kuantitas) :
GCS (Glasgow Coma Scale), yang dinilai yaitu :
 Eye/membuka mata (E) :
4 = dapat membuka mata spontan
3 = membuka mata dengan dipanggil/atas perintah
2 = membuka mata bila dirangsang nyeri
1 = selalu tertutup walaupun dirangsang nyeri
 Motorik (M) :
6 = dapat bergerak sesuai perintah
5 = dapat bereaksi menyingkirkan rangsangan nyeri/reaksi setempat
4 = bereaksi fleksi siku pada rangsangan nyeri/menghindar
3 = dengan rangsangan nyeri dapat bereaksi fleksi pada pergelangan tangan atau
jari atau fleksi spastic pada tungkai atau abduksi lengan atas/fleksiabnormal
2 = respon ekstensi
1 = tidak bereaksi
 Verbal/bicara (V) :
5 = orientasi baik : orang, tempat, waktu
4 = jawaban kacau
3 = kata-kata tak berarti
2= suara tidak komprehensif
1 = tidak ada suara
4. Perkemihan-Eliminasi Urine
Anamnesa :urin (jumlah, warna, bau), gatal, nafas berbau amoniak/ureum, nokturi
(sering kencing pada malam hari). Urgensi (rasa sangat ingin kencing sehingga terasa
sakit), hesitansi (sulit untuk memulai kencing, sehingga untuk memulai kencing
kadang-kadang harus mengejan), terminal dribbling ( masih didapatkannya tetesan-
tetesan urin pada akhir miksi), intermitensi ( terputus-putusnya pancaran urin pada
saat miksi)
Genetalia eksterna :
a. Laki-Laki :

18
 Penis
Inspeksi : Mikropenis, makropenis, hipospadia, epispedia, stenosis meatus
uretra eksterna, fistel uretrocutan, ulkus, tumor penis, warna kemerahan,
kebersihan, adanya luka atau trauma
Palpasi : nyeri tekan
 Scrotum
Inspeksi : pembesaran, transiluminasi/ penerawangan (untuk membedakan
massapadat dan massa kistus yang terdapat pada isi scrotum dengan cara
penerawangan dilakukan pada tempat yang gelap dan menyinari scrotum dengan
cahaya terang, jika isi scrotum tampak menerawangberarti berisi cairan dan
dikatakan transiluminasi positif atau deafanoskopi positif), hipoplasi kulit
(sering dijumpai pada kriptorkismus), luka /trauma, tanda infeksi, kebersihan.
Palpasi : nyeri tekan, penurunan testis
b. Perempuan :
 Genetalia eksterna
Inspeksi : odema, kemerahan, tanda–tanda infeksi, pengeluaran per
vagina(cairan), varises, kondiloma, kebersihan, bartolinitis, luka/trauma.
Palpasi : benjolan, nyeri tekan.
 Ginjal :
Inspeksi :pembesaran daerah pinggang (karena hidronefrosis atau tumor di
daerah retroperitoneum).
Palpasi : dengan cara ( memakai dua tangan, tangan kiri diletakkan
disudutkostevertebra untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan
meraba ginjal dari depan), adanya nyeri tekan abdomen kuadran I dan II diatas
umbilikus, suhu kulit, massa
Perkusi : nyeri ketok (dengan cara memberikan ketokan pada sudut
kostavertebra, yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengantulang
vertebra)
5. Sistem Pencernaan
Anamnesa : Nafsu makan, pola makan klien, porsi makan dan jumlah minum per hari,
alergi terhadap makan, keluhan mual muntah, nyeri tenggorokan, telan, melakukan
diet, disfagia, riwayat penggunaan pencahar.

a. Mulut:
19
Inspeksi : mukosa bibir, labio/palatoschiziz, gigi (jumlah, karies, plak, kebersihan),
Gusi (berdarah, lesi/bengkak, edema), mukosa mulut (stomatitis, nodul/benjolan,
kebersihan). Produksi saliva, pembesaran kelenjar parotis
Palpasi : nyeri tekan pada rongga mulut, massa
b. Lidah
Inspeksi : Posisi, warna dan bentuk, simetris, kebersihan, warna, gerakan,tremor,
lesi
Palpasi : Nodul, oedema, nyeri tekan

c. Faring - Esofagus :
Inspeksi : hiperemi, warna dan bentuk palatum. Tonsil (bentuk, warna dan ukuran)
Palpasi : pembesaran kelenjar
d. Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)
Inspeksi: pembesaran abnormal (asites, distensi abdomen), spider navy, tampak
vena porta hepatika, bekas luka, luka (colostomy, CAPD, hernia), umbilikus
(kebersihan, menonjol,)
Auskultasi : peristaltik usus
Perkusi : tymphani, hipertympani, batas – batas hepar, nyeri
Palpasi:
Kuadran I:
Hepar hepatomegali, nyeri tekan, shifting dullness
Kuadran II:
Gaster  nyeri tekan abdomen, distensi abdomen
Lien splenomegali
Kuadran III:
Massa (skibala, tumor), nyeri tekan
Kuadran IV:
Nyeri tekan pada titik Mc Burney
6. Sistem Muskuloskeletal & Integumen
Anamnese : Adakah nyeri, kelemahan extremitas, Cara berjalan, Bentuk tulang
belakang (lordosis:keadaan tulang belakang condong ke arah depan, kiposis: keadaan
tulang condong ke arah belakang, skoliosis: keadaan tulang condong ke arah samping)
a. Warna kulit

20
Hiperpigmentasi, hipopigmentasi (dikaji dengan pemeriksaan sensasi panas/nyeri),
icterus, kering, mengelupas, bersisik (di sela-sela jari kaki/tangan)
Kekuatan otot :
Keterangan:
0: Tidak ada kontraksi
1: Kontaksi (gerakan minimal)
2: Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi
3: Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi
4: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan ringan
5: Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan penuh
b. Luka :
Inspeksi : adanya tanda radang, warna (merah/vaskularisasi baik,
kuning/peradangan, hitam/nekrosis), karakteristik (kedalaman, luas, jenis cairan
yang kluar)
Palpasi : warna cairan yang keluar (luka jahitan), suhu (panas,dingin)
7. Sistem Endokrin dan Eksokrin
Anamnesa : Menanyakan bagaimana riwayat nutrisi dan eleminasi (3P : Poliuria,
polifagia, polidipsia), lemah, kejang/kram, adanya disfungsi gonad (kemampuan
ereksi, dispareunia, pruritus), pandangan kabur, perubahan berat badan dan tinggi
badan, kesulitan menelan, berkeringat, tremor, hot flushes (panas pada wajah)
a. Kepala :
Inspeksi : distribusi rambut, ketebalan, kerontokan ( hirsutisme), alopesia
(botak), moon face
b. Leher
Inspeksi : bentuk, pembesaran kelenjar thyroid, perubahan warna
Palpasi : pembesaran kelenjar (thyroid, parathyroid), nyeri tekan,
suhu
c. Payudara
Inspeksi : pembesaran mamae (pada laki-laki)
d. Genetalia :
Inspeksi :Rambut pubis ( distribusi, ketebalan, kerontokan), kebersihan,
pengeluaran (darah, cairan, lendir).
Palpasi :adakah benjolan, kegagalan penurunan testis (kriptokismus),

21
e. Ekstremitas bawah
Palpasi : edema non pitting
8. Sistem Reproduksi
Anamnesa :Menanyakan bagaimana riwayat haid yang meliputi: menarche, cyclus
haid, lama haid, banyaknya darah & sifatnya (cair, bergumpal), flour albus (warna,
bau, jumlah), disminore. Menorhagia, metrorhagia.keluhan waktu coitus (nyeri,
pengeluaran darah)
a. Payudara
Inspeksi : bentuk, kebersihan, warna areola, bentuk papilla mamae, adanya
massa, kulit seperti kulit jeruk, adanya luka, kesimetrisan payudara
Palpasi : ada /tidak benjolan abnormal, pengeluaran( cairan, darah ), nyeri tekan,
b. Axilla
Inspeksi : tampak /tidak adanya benjolan abnormal,
Palpasi : teraba/ tidak benjolan abnormal
c. Abdomen
Inspeksi : pembesaran abdomen , luka post SC, strie ( albican, livide).
Palpasi : pembesaran (kontur, ukuran), adakah massa.
d. Genetalia :
Inspeksi : Rambut pubis, kebersihan,odema, varices, benjolan, pengeluaran
(darah, cairan, lendir), adakah tanda-tanda infeksi.
Palpasi: adakah benjolan/ massa dan nyeri tekan.
Laki-laki :
Anamnesa :
keluhan waktu coitus (kemampuan ereksi ,rasa nyeri, ejakulasi dini),
Genetalia :
Inspeksi : bentuk, rambut pubis, kebersihan,odema, varices, benjolan,
pengeluaran (darah, cairan, lendir), turunnya testis, luka/keadaan luka. priapismus
Palpasi: adakah benjolan,
9. Persepsi sensori :
Anamnesa :tanyakan pada klienpakah ada nyeri yang dirasakan pada mata, Keluhan
penurunan tajam penglihatan, Keluhan mata berkunang-kunang, kabur, penglihatan
ganda ( diplopia ). Keluhan mata berair, gatal, kering, adanya benda asing dalam

22
mata,penurunan pendengaran, terasa penuh pada telinga, nyeri.Rasa sengau pada
hidung
a. Mata
Inspeksi :
Kesimetrisan mata, bentuk mata, lesi Papelbra ( ukuran, bentuk, warna, cairan yang
keluar ), Bulu mata (pnyebaran, posisi masuk :Enteropion, keluar :ksteropion),
produksi air mata.
Kornea : Normal berkilau, transparan
Iris dan pupil :warna iris dan ukuran, uji reflek cahaya pada pupil
Lensa : Normal jernih dan transparan, pada org tua kdg ada cincin putih seputar iris
(Arkus senilis)
Sclera ; warna ( putih, ikterik)
Palpasi:
Teraba lunak/ keras, nyeri dan pembengkakan kelopak mata, palpasi kantong
lakrimal, pemeriksaan TI
b. Penciuman (Hidung) :
Palpasi:Sinus (maksilaris, frontalis, etmoidalis, sfenoidalis), Palpasi fossa kanina
( nyeri/ tidak),Pembengkakan, Deformitas
Perkusi : pada regio frontalis sinus frontalis dan fossa kanina kita lakukan apabila
palpasi pada keduanya menimbulkan reaksi hebat
3.5 Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan b/d penurunan tekanan osmotik, perunahan permeabilitas
pembuluh darah
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual muntah
3. Pola nafas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru
4. Intoleransi aktivitas v/d kelemahan fisik
5. Nyeri akut b/d peningkatan vaskuler otak pasien mengeluh sakit kepala
6. Resiko cedera pada janin b/d tidak adekuatnya perfusi darah plasenta.
3.6 INTERVENSI
Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk membantu klien dalam
beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat yang di inginkan dalam hasil yang di
harapkan (Gordon, 1994).

23
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

KASUS
Ny. M berumur 68 tahun datang dengan keluarganya ke RS dengan keluhan ingin BAK
terus-menerus dan tidak bisa ditahan sampai ke toilet. Klien mengatakan kencingnya
lebih dari 10 kali dalam sehari. Klien juga mengatakan dia tidak bisa menahan
kencingnya, karena dia tidak sempat lagi untuk sampai toilet. Dari pemeriksaan TTV :
TD:160/90, nadi : 90 x/menit, RR: 18 x/menit, suhu: 37.5 C

4.1 Pengkajian
1. IDENTITAS KLIEN
Nama : Ny.M No. Reg : 344504
Umur : 68 tahun Tgl. MRS : 17-10-2017 (Jam 08.00 WIB)
Jenis Kelamin : P Diagnosis medis : INKONTINENSIA URINE
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Tgl Pengkajian : 17-10-2017 (Jam 13.45 WIB)
Agama : Islam
Pekerjaan :-
Pendidikan : SMP
Alamat : Segodorejo, Somobito, Jombang
4.2 Riwayat Keperawatan (Nursing History)
1. Keluhan Utama
keluhan ingin BAK terus-menerus dan tidak bisa ditahan
2. Riwayat Kesehatan :
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. M mengeluh ingin BAK terus-menerus dan tidak bisa ditahan sampai ke toilet.
Kencing lenih dari 10x perhari. Dari pemeriksaan TTV : TD:160/90, nadi : 90
x/menit, RR: 18 x/menit, suhu: 37.5 C

b. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien Ny.M tidak memiliki penyakit terdahulu.

24
c. Riwayat penyakit keluarga

Keluarga An. L tidak ada yang pernah menderita penyakit yang sama.

4.3 Pemeriksaan Fisik


Tanda-tanda Vital, TB dan BB :
TD:160/90, nadi : 90 x/menit, RR: 18 x/menit, suhu: 37.5 C

TB :154 cm BB : 40 Kg

4.4 PEMERIKSAAN PER SISTEM


1. Sistem Pernapasan
Anamnesa : Pasien mengatakan tidak ada keluahan `pada sistem pernafasan
a. Hidung

Inspeksi: mukosa bersih, lembab , tidak ada sputum

Palpasi: nyeri tekan (-)

b. Mulut

Inspeksi : mukosa bibir lembab

c. Area dada:

Inspeksi : pola nafas teratur, simetris kanan kiri , tidak ada lesi

Palpasi : nyeri tekan (-)

Perkusi : sonor

Auskultasi : vesikuler, wheezig (-), ronkhi (-)

2. Cardiovaskuler Dan Limfe


Anamnesa : Pasien mengatakan tidak ada keluhan pada sistem kardiovaskuler
a. Wajah
Inspeksi : pucat
b. Dada

Inspeksi : tidak ada lesi, simetris kanan kiri

Palpasi : ictus cordis teraba

25
Perkusi : sonor
Auskultasi : bunyi jantung normal lub dub, tidak ada kelainan bunyi jantung
(gallop, murmur)

c. Ekstrimitas Atas

Inspeksi : sianosis (-),

Palpasi : CRT <2dtk

d. Ekstrimitas Bawah

Inspeksi : tidak ada Varises, tidak ada sianosis, tidak ada clubbing finger,tidak ada
odem.

Palpasi : CRT <2detik.

3. Persyarafan
Anamnesa : tidak mengalami nyeri kepala berputar-putar,nyeri kepala sebelah,hilang
keseimbangan, mual dan muntah.
Pemeriksaan nervus (diperiksa jika ada indikasi dengan kelainan persyarafan):
a. Nervus I olfaktorius( pembau)
Pasien dapat membedakan bau-bau yang menyengat dan tidak menyengat (seperti
minyak kayu putih,parfum dan kopi)
b. Nervus II opticus( penglihatan)
Pasien menggunakan kacamata
c. Nervus III oculomotorius
Pada pasien tidak terdapat oedema kelopak mata,tidak terdapat sklera mata
jatuh,bola mata menonjol datn celah mata sempit,tetapi pasien konjungtiva
matanya anemis.
d. Nervus IV toklearis
Pasien diperiksa pupilnya normal dan refleks pupilnya normal pada saat diberi
sinaran oleh cahaya.
e. Nervus VI abdusen
Pada pasien saat dilakukan pemeriksaan gerak bola mata, pergerakannya adalah
normal antar mata kanan dan kiri.
f. Nervus VII facialis

26
Pada pasien pendengaran normal tidak ada gangguan pada pendengaran.
g. Nervus X vagus
Pada pasien pergerakan lidahnya dapat bergerak penuh dan tidak ada gangguan
pada pergerakan lidah pasien,dapat menelan secara normal.
h. Nervus XI aksesorius
Pada pasien pergerakan kepala dan bahu normal. Kepala dapat menggeleng,
menoleh kanan dan kiri. Dan bahu dapat bergerak penuh.
Tingkat kesadaran (kualitas):
Compos Mentis : sadar sepenuhnya, dapat menjawab pertanyaan tentang keadaan
sekelilingnya.
Tingkat kesadaran (Kuantitas) :
GCS (Glasgow Coma Scale), yang dinilai yaitu :
- Eye/membuka mata (E) :
4 = dapat membuka mata spontan
- Motorik (M) :
4 = bereaksi fleksi siku pada rangsangan nyeri/menghindar
- Verbal/bicara (V) :
5 = orientasi baik : orang, tempat, waktu
4. Perkemihan-Eliminasi Uri
Anamnesa : Pasien mengeluh ingin BAK terus menerus
5. Sistem Pencernaan-Eliminasi Alvi (KDM ganguan eliminasi sec teori...?)
Anamnesa

Pasien mengatakn tidak ada keluhan pencernaan-eliminasi Alvi apapun

a. Mulut:

Inspeksi : mukosa bibir pucat, stomatitis (-)

Palpasi : nyeri tekan pada rongga mulut (-), massa (-)

b. Lidah

Inspeksi : simetris, warna merah muda dan,bersih, tidak ada lesi

Palpasi : oedema(-),

c. Faring - Esofagus :
27
Inspeksi : hiperemi (-)

Palpasi : pembesaran kelenjar (-)

d. Abdomen (dibagi menjadi 4 kuadran)

Inspeksi: lesi (-)

Auskultasi : peristaltik usus 18x/mnt

Perkusi : hypertimpani, nyeri (+)

Palpasi:

Kuadran I:

Hepar  hepatomegali(-), nyeri tekan(-)

Kuadran II:

Gaster  nyeri tekan abdomen (+), distensi abdomen(-)

Lien  splenomegali (-)

Kuadran III:

Massaskibala(-), tumor(-), nyeri tekan(-)

Kuadran IV:

Nyeri tekan pada titik Mc Burney (-)

6. Sistem Muskuloskeletal & Integumen


Anamnese : kelemahan otot
Warna kulit

Hiperpigmentasi, hipopigmentasi kering, , bersisik faktor usia

Kekuatan otot : 4 4

4 4

Keterangan:

28
0 : Tidak ada kontraksi

1 : Kontaksi (gerakan minimal)

2 : Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi

3 : Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi

4 : Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan ringan

5 : Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan penuh

7. Sistem Endokrin dan Eksokrin


Anamnesa : lemah

a. Kepala :
Inspeksi : kulit kepala dan rambut menipis
b. Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran thyroid
Palpasi : tidak teraba benjolan thyroid
c. Payudara
Inspeksi : tidak ada pembesaran mamae
d. Genetalia :
Inspeksi : bersih, ovarium menciut
Palpasi : tidak ada benjolan
e. Ekstremitas bawah
Palpasi : edema non pitting
8. Sistem Reproduksi
Tidak ada keluhan apapun.
9. Persepsi sensori :
Anamnesa : pandangan kabur

4.5 Diagnosa Keperawatan

00214 gangguan rasa nyaman


NS. DIAGNOSIS :
Domain 12 : kenyamanan
(NANDA-I)
Kelas 1 : kenyamanan fisik
29
Rasa kurang nyaman, lega, dan sempurna dalam dimensi
DEFINISI fisik, psiko spiritual, lingkungan, budaya dan atau sosial

 Ansietas
 Berkeluh kesah
 Gangguan pola tidur
 Gatal
 Gejala distress
 Gelisah
 Iritabilitas
0
DEFINING  Ketidakmampuan untuk relaks
 Kurang puas dengan keadaan
CHARACTERISTICS  Menangis
 Merasa dingin
 Merasa kurang senang dengan situasi
 Merasa hangat
 Merasa lapar
 Merasa tidak nyaman
 Merintih
 Takut
 Gejala terkait penyakit
 Kurang kontrol situasi
 Kurang pengendalian lingkungan
 Kurang privasi
RELATED FACTORS:
 Program pengobatan
 Stimulasi lingkungan yang mengganggu
 Sumber daya tidak adekuat (mis finansial,
pengetahuan dan sosial)
ASSESSMENT Subjective data entry Objective data entry
TTV PASIEN
 Pasien mengeluh ingin BAKTD:160/90 mmhg
terus menerus RR:18x/menit
 Kencing lebih dari 10x perN:90xmenit
hari S:37,50C
 Tidak bisa menahan kencing

30
DIAGNOSIS Ns. Diagnosis (Specify):
Client
Gangguan rasa nyaman
Diagnostic Related to:
Statement: Gejala terkait penyakit

4.6 Intervensi Keperawatan

NIC NOC
INTERVENSI AKTIVITAS OUTCOME INDIKATOR
Latihan kebiasaan 1. Observasi Inkontinensia 1. Eliminasi
- Interval
berkemih inkontinensia urin urin (4)
DEF : membangun jadwal 2. Perawatan
aliran berlebihan
pola pengosomhan toilet awal, diri :
definisi :
kandung kemih yang berdasarkan eliminasi (3)
kehilangan urin
3. Pengetahuan
bisa diprediksi untuk pada pola
involunter yang
proses
mencegah pengosonga
dikaitkan dengan
penyakit (4)
inkontinensia pada n (kandung
distensi berlebih 4. Respon
orang dengan kemih) dan
pada kandung pengobatan
kemampuan koknitif rutinitas
kemih (4)
terbatas yang biasa mis :
memiliki dorongan, makan,
stress, atau naik, dan
inkontinensia pensiun
- observasi
fungsional.
eliminasi
yang
dijadwalka
n sehingga
dapat
membantu
dalam
membangu
n dan
mempertah
ankan
31
kebiasaan
berkemih
2. Aksi
- Jangan
meninggalka
n pasien di
toilet lebih
dari 5 menit
- Berikan
umpan balik
positif atau
penguatan
positif (mis :
5 menit
percakapan
sosial )
kepada
pasien ketika
asien
berkemih
sesuai
jadwal, dan
tidak mebuat
komentar
ketika pasien
mengalami
inkontinensia
- Bantu pasien
ketoilet dan dorong
untuk
mengosongkan
(kandung kemih)
pada interval waktu
yang ditentukan.

32
3. Edukasi
- Berikan HE (health
education)

4. Kolaborasi

- Diskusikan
pencatatan harian
mengenai
kontinensia dengan
staf untuk
memberikan
penguatan dan
mendorong
kepatuhan jadwal
eliminasi

4.7 Implementasi

No Tanggal / jam Kegiatan paraf

1 17 oktober 2017 Mengobservasi interval jadwal toilet awal,


(08.00 – 09.00) berdasarkan pada pola pengosongan (kandung
kemih) dan rutinitas biasa mis : makan, naik,
dan pensiun
2 17 oktober 2017 Mengobservasi eliminasi yang dijadwalkan sehingga
(09.00 – 10.00) dapat membantu dalam membangun dan
mempertahankan kebiasaan berkemih
3 17 oktober 2017 Tidak meninggalkan pasien di toilet lebih dari 5
(10.00 – 11.00) menit

33
4 17 oktober 2017 Memberikan umpan balik positif atau penguatan
(11.00 – 12.00) positif (mis : 5 menit percakapan sosial ) kepada
pasien ketika asien berkemih sesuai jadwal, dan
tidak mebuat komentar ketika pasien mengalami
inkontinensia
5. 17 oktober 2017 Membantu pasien ketoilet dan dorong untuk
(11.00 – 12.00) mengosongkan (kandung kemih) pada interval waktu
yang ditentukan.

6. 17 oktober 2017 Memberikan HE (health education)


(11.00 – 12.00)

7. 17 oktober 2017 Mendiskusikan pencatatan harian mengenai kontinensia


(11.00 – 12.00) dengan staf untuk memberikan penguatan dan
mendorong kepatuhan jadwal eliminasi

4.8 Evaluasi

No Tanggal / dx. keperawatan Perkembangan ( S O A P)


jam
1 20 oktober Gangguan rasa S: pasien sudah tidak menahan kencingnya
2017 jam nyaman lagi
08.00
0 : frekuensi kencing pasien menurun dari 10x
per hari menjadi 3x per hari

A : masalah teratasi

P : hentikan intervensi

34
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Inkontinensia urine adalah pengeluaran jumlah urin tanpa disadari dalam jumlah dan
frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan social.

Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi
organ kemih antara lain : melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali,
kebiasaan mengejan yang salah, atau abtuk kronis. Ini mengakibatkan seseorang tidak
dapat menahan air seni. Penyebab inkontinensia urine (UI) antara lain terkait dengan
gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan, produksi urin meningkat
atau upaya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.

5.2 Saran

35
Bagi pembaca diharapkan menambah pengetahuan tengtang inkontinensia urin

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Jakarta : Salemba
Medika.

Darmojo B. 2009. Geriatri ilmu kesehatan usia lanjut. Edisi keempat. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Hariyati, Tutik S. (2000). Hubungan antara bladder retraining dengan proses pemulihan
inkontinensia urin pada pasien stoke. Diakses dari
http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76387&lokasi=lokal pada tanggal
15 Mei 2021

Hidayat, A. Alimul. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan proses
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

36