Vous êtes sur la page 1sur 4

Untuk menambah kapasitas dan meningkatkan efisien distribusi obat-obatan ke seluruh wilayah

Indonesia, PT Anugrah Argon Medica (AAM) meresmikan National Distribution Center (NDC) yang
berlokasi di Kawasan Jababeka II, Cikarang, Jawa Barat. Hal ini, sebagai bagian untuk terus meningkatkan
daya saing perusahaan di era perdagangan bebas (AFTA).

Peresmian NDC PT AAM dilakukan pada 22 Maret 2010. Dan sejak 2009, PT AAM telah
mengimplementasikan standar Good Distribution Practices (GDP) versi World Health Organization
(WHO),Technical Series No. 937, 2006 sebagai upaya mewujudkan Total Drug Quality Management.

GDP diperlukan untuk memastikan, agar pasien mendapatkan obat dengan kualitas dan khasiat yang
sama, seperti saat lolos uji dari Quality Assurance di pabrik (sesuai GMP-Good Manufacturing Practices).
GDP juga untuk memastikan tidak adanya "mix up, contamination & cross contamination" obat
sepanjang jalur distribusi.

NDC PT AAM menggunakan Warehouse Management System, dimana sistem yang sudah terintegrasi
ini, dilengkapi dengan wireless scanner barcode untuk melakukan pencatatan stock hingga level batch.
Dengan sistem ini, proses inbound- storage-outbound dapat dimonitor dengan baik. PT AAM juga
ditunjang dengan Enterprise Resource Planning (ERP) System, Integrated Supply Chain Solution, dan
Customer Relation Management.

“Ide NDC PT AAM ini, saya sambut dengan baik, karena akan meningkatkan compliance dari kinerja
distribusi AAM sesuai persyaratan CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik). Harapan kami sebagai
pemerintah, NDC PT AAM dapat dikelola dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, juga sesuai dengan persyaratan teknik CDOB, sehingga pada akhirnya akan memberikan
jaminan optimal terhadap kesehatan masyarakat akan obat yang baik, dalam arti bermutu, berkhasiat,
dan juga aman”, jelas Kepala BPOM RI., Dra. Kustantinah, Apt, M.App.Sc, dalam sambutan yang
dibacakan oleh Dra. Lucky S. Slamet, MSc, Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik & NAPZA, BPOM
RI.

Peresmian NDC PT AAM ditandai dengan penandatanganan prasasti yang dilakukan oleh Dra. Lucky
S.Slamet, Apt, MSc- yang mewakili Kepala BPOM, didampingi Direktur Utama PT AAM, Erwin Tenggono.
Turut hadir pada acara tersebut antara lain; Sekretaris Ditjen Binfar dan Alkes Kementerian Kesehatan
RI., Drs.Purwadi, Apt,MM,ME, Ketua Umum GP. Farmasi Indonesia, Ketua Umum Ikatan Apoteker
Indonesia, jajaran Balai Besar POM Bandung, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan sejumlah
principal PT AAM.

Direktur Utama PT AAM, Erwin Tenggono menjelaskan NDC PT AAM yang diresmikan pada 22 Maret
2010 ini, bertujuan agar PT AAM sebagai perusahaan distribusi farmasi dan alat kesehatan nasional
dapat tetap eksis menghadapi persaingan dalam konteks AFTA. “Semua ini, kami lakukan tiada lain
untuk memenuhi standar international best practice (GDP WHO 2006 dan ISO 9001:2008),” ujarnya saat
memberikan sambutan.

Sertifikasi GDP WHO Technical Series No. 937, 2006 diperoleh PT AAM dari PT SGS Indonesia melalui
audit kelayakan sertifikasi yang dilakukan pada 2 - 4 Desember 2008. PT AAM juga telah mendapatkan
sertifikat ISO 9001:2008, sebagai bukti telah mengimplementasikan sistem manajemen mutu dengan
baik.

Good Distribution Practice (GDP) adalah bagian dari fungsi pemastian kualitas (quality assurance), untuk
memastikan produk, agar secara konsisten disimpan, dikirim, dan ditangani sesuai kondisi yang
dipersyaratkan oleh spesifikasi produk.

GDP sangat penting artinya, sebab untuk menunjang standar Good Manufacturing Practices (GMP) atau
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang ditujukan untuk menjamin kualitas setiap produk obat
yang dihasilkan oleh industri farmasi. Sehingga, diperlukan pula sistem distribusi yang handal yang
sesuai dengan persyaratan GDP dan atau CDOB, agar stabilitas dan efektifitas obat tetap terjamin hingga
sampai kepada pasien.

Untuk produk-produk yang terkait dengan keselamatan jiwa (life-saving), AAM memiliki mekanisme
untuk melayani permintaan pelanggan walaupun di luar jam kerja, misalnya tengah malam sekalipun.
Produk yang diantarkan diperlakukan sesuai standar dan kebutuhan pasien tetap dapat dilayani selama
24 jam.
AAM berdiri tahun 1980 di Palembang, Sumatera Selatan, sebagai anak usaha Dexa Medica.
Dexa Medica membentuk AAM karena sesuai aturan Menteri Kesehatan tahun 1980, distribusi
farmasi harus dilakukan oleh badan usaha yang terpisah dari perusahaan produsen.

AAM bergerak dalam bisnis distribusi produk-produk farmasi ethical, peralatan dan produk
kesehatan. Distribusi produk semacam ini perlu pengetahuan khusus agar tidak salah penanganan
dan salah pakai. “Menjual obat berbeda dengan menjual permen atau semen,” kata Erwin
Tenggono, mantan Presiden Direktur AAM dan kini menjadi komisaris di perusahaan itu.

Dalam perjalanannya AAM tidak hanya mendistribusikan obat-obatan buatan Dexa Group, tapi
juga dari perusahaan lain baik lokal maupun multinasional. Sejak 1993, AAM bahkan
diperbolehkan mengimpor dan mendistribusikan produk-produk farmasi yang telah terdaftar di
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Kini, AAM juga menjadi distributor produk-
produk farmasi, alat serta produk kesehatan dari Abbott Nutrition, Actavis, Alere, Becton
Dickinson, BSN Medical, Alcon Vision Care, Pfizer, Glaxo SmithKline, Novartis, Novo
Nordisk, Merck, Safecare (GSC), Tanabe, Zoetis dan lain-lain.

Berkat perannya yang strategis, dari tahun ke tahun kinerja AAM terus meningkat. Kini AAM
memiliki pusat distribusi dan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Sistem distribusi AAM
juga telah memperoleh sertifikasi ISO 9001:2008 dan Goods Distribution Practices (GDP)
WHO Technical Scries No. 937, 2010 serta Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB—BPOM
Indonesia). Sebagai distributor, AAM paham benar bahwa ketersediaan produk di setiap titik
distribusi pada waktu, kualitas dan jumlah yang tepat merupakan kunci sukses meraih
kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis.

Untuk memenangkan persaingan bisnis, papar Ervin Tenggono, AAM mengandalkan pada tiga
keunggulan. Pertama, kekuatan eksplorasi pasar (strong market exploration). “Pikiran kami
sederhana saja, yakni sebagai orang Indonesia, kami harus lebih tahu pasar Indonesia daripada
orang lain. Untuk itu kami tak mau hanya mendiscribusikan barang, tapi juga harus bisa
memberikan rekomendasi. Kalau ada produk baru, kami harus tahu di mana potensi pasarnya,
atau bagaimana cara promosinya. Jadi knowledge-nya kami bangun di area itu,” papar Erwin.

Keunggulan kedua, lanjut Erwin, ekspedisi AAM yang siap 24 jam melayani permintaan produk-
produk life saving dari rumah sakit maupun apotik. AAM juga selalu menjaga tingkat
pemenuhan order pelanggan dengan baik, mengantarkan dan menjamin seluruh produk diterima
dalam keadaan baik (reliable supply chain solution). “Kami membangun supply chain solution
agar dapat memberikan layanan terbaik dengan level stok, biaya dan modal usaha yang efisien.
Kami akan terus memperkuat keunggulan ini,” terang Erwin.

Menyimpan dan mendistribusikan produk-produk farmasi memang berbeda dengan produk


consumer. Untuk produk farmasi, suhu gudang atau suhu kendaraan ketika mengirimkan barang
ke daerah tujuan harus selalu terjaga sesuai aturan. Bahkan kendaraan distribusi produk-produk
farmasi harus didesain khusus, tak bisa sembarangan dipakai mendistribusikan produk-produk
lain. Ini agar kendaraan tersebut tidak terkontaminasi dengan bahan-bahan lain yang pada
akhirnya bisa membahayakan pasien.
Sementara, untuk produk consumer penanganannya tak serumit itu. Kendaraan yang pada pagi
harinya dipakai untuk mengangkut susu kaleng, misalnya, siang harinya bisa langsung digunakan
mendistribusikan mie instant atau produk-produk consumer lainnya.

Kerumitan ini harus mampu dikelola AAM. Untuk itu AAM mendidik awak armada
pengirimannya agar betul-betul memililki kepedulian dan komitmen yang tinggi, terlebih ketika
menangani produk-produk farmasi. Mereka tak boleh tergoda memakai kendaraannya untuk
mengangkut produk consumer. Memang secara bisnis terkesan kinerja kendaraan menjadi
kurang optimal. Tapi, itulah tuntutan dalam mendistribusikan produk-produk farmasi. Sebab jika
sampai terkontaminasi, taruhannya adalah keselamatan pasien.

Ketiga, kekuatan sebagai organisasi yang berbasis pengetahuan. Soal ini, Erwin menguraikan,
“Setiap obat mengandung knowledge. Jadi jangan sampai kami menjual obat, tapi tidak tahu
penanganan dan kegunaannya. Ini membutuhkan edukasi. Kami punya knowledge, dan ini kami
sharing kepada pelanggan dan karyawan di front line lewat I-Care.” Untuk menopang akumulasi
knowledge, AAM menerapkan berbagai solusi TI, seperti Enterprise Resource Planning (ERP),
Supply Chain Management (SCM), Customer Relationship Management (CRM), Mobile Order
Management (IScaps) dan bahkan Business Intelligence serta solusi informasi untuk prinsipal
yang di-branding dengan nama InfoStep.

Sumber: Successful Implementation of KM in Indonesia, Penulis: J. Budi Soesetyo, Hal: 2-7.