Vous êtes sur la page 1sur 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Mereka secara

umum dibagi kedalam dua kelompok yaitu tulang dan jaringan lunak. Sarkoma

jaringan lunak merupakan tumor yang jarang tumbuh dan berkembang dalam jaringan

yang diturunkan dari embrionik mesoderm. Sarcoma ini mungkin terjadi dimana-mana

tetapi terbesar atau paling sering terjadi pada daerah paha.

Sarcoma tulang tidak begitu umum dan hanya sekitar 0,2% dari semua jenis

tumor malignansi di Amerika Serikat. Kira-kira ada sekitar 2-100 kasus terdiagnosa

setiap tahunnya. Insiden tersebut lebih tinggi terjadi pada orang kulit putih dan

diantaranya adalah pria. Sarcoma jaringan lunak merujuk pada satu kelompok lebih

dari 50 jenis kanker yang mana berjumlah hanya sekitar 1% dari semua malignansi

pada pria dan sekitar 0,6% pada wanita. Ada sekitar 5000 kasus baru terdiagnosis stiap

tahunnya di Amerika Serikat dan kira- kira 3000 orang meninggal dari sarcoma ini

setiap tahunnya. Tumor ini lebih besar terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa,

yang berjumlah sekitar 6% dari semua jenis malignasi sebelum usia 25 tahun.

Pasien dengan diameter tumor kurang dari 5 cm mempunyai prognosis yang

lebih baik saat didiagnosis pada sarcoma ekstremitas. Pasien tanpa keterlibatan dari

nodus limfa dan tumor diploid juga mempunyai prognosis lebih baik. Karena kedua

kelompok ini begitu berbeda, maka masing-masing akan didiskusikan secara terpisah.

Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis

dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao

stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)

1
2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Tulang

2.1.1. Anatomi Fisiologi Tulang

1. Struktur Tulang

Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi

mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut Periosteum

dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat

tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut

korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak.

Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang

disebut Sistem Haversian. Tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut Kanal

Haversian.

Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antara

lamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem

kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. Kanal Haversian terdapat sepanjang tulang

panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang

melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang

dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan

akhir dari sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari

tulang.Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon

yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. Bone

Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel

darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas
3

sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism

Syndrom (FES).

Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast

merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. Osteosit adalah

osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang

dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat

oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Matriks ini dibentuk oleh

benang kolagen, protein, karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang

berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi, oksigen, dan sampah metabolisme antara

tulang daengan pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium

organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan aliran darah

dalam tulang antara 200 – 400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang.

2. Tulang Panjang

Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan

sering menahan beban berat (Ignatavicius, Donna. D, 1995). Tulang panjang

terdiriatas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis

(ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan

sendi. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah

pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diafisis adalah bagian utama

dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang. Metafisis merupakan bagian

yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan

daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. Periosteum merupakan

penutup tulang sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis.
4

3. Tulang Humerus

Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas), korpus,

dan ujung bawah.

a. Kaput

Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat

sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi

bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik.

Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu

Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu

Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus

intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat

leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.

b. Korpus

Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih.

Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus

(karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah

belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada

saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.

c. Ujung Bawah

Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk

bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam

berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar

etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung

bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial.


5

2.1.2. Fungsi Tulang

Fungsi tulang secara umum :

1. Formasi kerangka: tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan

bentuk dan ukuran tubuh, tulang-tulang menyokong struktur tubuh yang lain.

2. Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang bergerak dan tidak

bergerak tergantung dari kebutuhan fungsional, sendi yang bergerak

menghasilkan bermacam-macam pergerakan.

3. Perlengketan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk tempat

melekatnya otot, tendon dan ligamentum untuk melaksanakan pekerjaanya.

4. Sebagai pengungkit: untuk bermacam-macam aktivitas selama pergerakan.

5. Menyokong berat badan: memelihara sikap tubuh manusia dan menahan gaya

tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang, dapat menjadi kaku dan

menjadi lentur.

6. Proteksi: tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur

yang halus seperti otak, medulla spinalis, jantung, paru-paru, alat-alat dalam

perut dan panggul.

7. Hemopoiesis: sumsum tulang pembentukan sel-sel darah, terjadinya

pembentukan sel-sel darah sebagian besar pada sumsum tulang merah.

8. Fungsi imunologi: limfosit “B” dam makrofag dibentuk dalam system

retikuloendotel sumsum tulang. Limfosit B diubah menjadi sel-sel plasma

membentuk antibodi guna keperluan kekebalan kimiawi, sedangkan makrofag

merupakan fagositotik.

9. Penyimpanan kalsium: tulang mengandung 97% kalsium yang tedapat dalam

tubuh baik dalam bentuk anorganik maupun garam-garam terutama kalsium


6

fosfat. Sebagian besar fosfor disimpan dalam tulang dan kalsium dilepas dalam

darah bila dibutuhkan.

Fungsi tulang secara khusus :

1. Sinus-sinus paranasalis dapat menimbulkan nada khusus pada suara.

2. Email gigi dikhususkan untuk memotong, menggigit dan menggilas makanan,

email merupakan struktur yang terkuat dari tubuh manusia.

3. Tulang-tulang kecil telinga-dalam mengkonduksi gelombang suara untuk

fungsi pendengaran

4. Panggul wanita dikhsuskan untuk memudahkan proses kelahiran bayi.

2.1.3. Perkembangan Dan Osifiksi Tulang

Perkembangan tulang berasal dari jenis pekambangan membranosa dan

perkembangan kartilago. Proses peletakan jaringan tulang (histogenesis) tulang

disebut osfikasi (penulangan). Jika hal ini terjadi dalam bentuk suatu model selaput

dinamakan penulangan intra-membranosa dan tulang yang dibentuk dinamakan tulang

membrane atau tulang dermal. Karena tulang ini berasal dari suatu membran.

Tulang-tulang endokhondral (tulang kartilago) merupakan tulang-tulang yang

berkembang oleh penulangan suatu model tulang rawantulang ini dinamakan

kartilaginosa (penulangan tidak langsung). Jenis-jenis penulangan intramembranosa

merupakan suatu proses yang nendesak sedangkan penulangan intra-kartilaginosa

merupakan proses yang berjalan perlahan dan berencana.

2.1.4. Pusat Osifikasi (Penulangan)

Awal pembentukan tulang terjadi pada bagian tengah dari suatu tulang yang

disebut pusat penulangan primer selanjutnya terjadi penulangan sekunder. Pusat

primer timbul sangat dini pada kehidupan janin hal ini terjadi akibat perangsangan

genetic. Pusat penulangan sekunder tampak pada ujung tulang panjang dan tulang
7

besar selalu tampak setelah kelahiran,perangsangan pusat sekunder dilaksanakan oleh

tekanan atau tarikan ujung-ujung tulang.

Bila anak mulai bergerak, tekanan pada sendi terjadi pada ujung sendi yang

menimbulkan tarikan tendon pada tempat terjadinya tarikan. Hal ini paling banyak

pada masa pubertas dan hanya sedikit setelah umur 20 tahun.

Pada bagian yang paling ujung dari epifise tersisa selapis tulang rawan hialin yang

tidak menjadi tulang keras tetapi selalu tampak seperti rawan. Persendian ini tidak

dibungkus oleh selaput apapun, merupakan suat permukaan yang licin guna

pembentukan sendi-sendi sinovial.

2.1.5. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tulang

1. Herediter (genetic)

Tinggi badan anak secara umum bergantung pada orang tua, anak-anak dari orang

tua yang tinggi biasanya mepunyai badan yang tinggi juga.

2. Faktor nutrisi

Suplai bahan makanan yang mengandung kalsium, fosfat, protein, vitamin A, C,

D penting untuk generasi pertumbuhan tulang serta untuk memelihara rangka

yang sehat.

3. Faktor endokrin

a) Hormon paratiroid (PTH) satu sama lain saling berlawanan dalam

memelihara kadar kalsium darah. Sekresi PTH terjadi dengan cara:

 Merangsang osteoklast,reabsorbsi tulang dan melepas kalsium kedalam

darah

 Merangsang absorbs kalsium dan fosfat dari usus

 Meresorbsi kalsium dari tubulus renalis


8

b) Tirokalsitonin, hormon yang dihasilkan oleh sel-sel parafolikuler dari

kelenjar tiroid, cara kerjanya menghambat resorbsi tulang.

c) Hormon pertumbuhan yang dihasilkan dari hipofise anterior penting untuk

proliferasi secara normal dari rawan epifisealis untuk memelihara tinggi

badan yang normal dari seseorang.

d) Tiroksin bertanggung jawab untuk pertumbuhan tulang yang layak,

remodeling tulang dan kematangan tulang.

4. Faktor persarafan

Gangguan suplai persarafan mengakibatkan penipisan tulang seperti terlihat pada

kelainan polioemielitis.

a) Faktor mekanis.Kekuatan dan arah dari tuberkula tulang ditentukan oleh

gaya-gaya mekanis yang bekerja padanya.

b) Penyakit mempunyai pengauh yang kurang baik terhadap pertumbuhan

tulang.

2.1.6. Metabolisme Tulang

1) Metabolisme Kalsium

Tubuh manusia dewasa muda mengandung 1100gr kalsium. Sembilan puluh

sembilan persen kalsium berada di kerangka tubuh. Kalsium plasma yang pada

keadaan normal sekitar 10mg/dl sebagian terikat pada protein dan sebagian dapat

berdifusi.

Kalsium dalam tulang terdiri dari 2 tipe: cadangan yang cepat dipertukarkan

dan cadangan kalsium stabil yang jauh lebih besar yang dipertukakan secara lambat.

Terdapat dua system homeostatic yang independen tetapi saling berinteraksi yang

mempengaruhi kalsium dalam tulang. Salah satunya adalah system yang mengatur

ca2+/hari berpindah masuk dan keluar dari cadangan yang mudah dipertukarkan.
9

Sistem lain adalah system lain yang berperan dalam remodeling tulang melalui

resorpsi dan deposisi tulang yang konstan, yang da pada orang dewasa, menentukan

95% pembentukan tulang.namun, pertukaran ca2+ antara plasma dan cadangan stabil

kalsium tulang hanyalah sekitar 7,5 mmol/hari.

2) Metabolisme fosfor

Fosfor tubuh total adalah 500-800 gr (16,1 - 25,8 mol), 85-90% berada dalam

kerangka. Fosfor plasma total adalah sekitar 12 mg/dl dengan dua pertiga dari total ini

berada sebagai senyawa organik dan sisanya fosfor inorganik (Pi). Jumlah fosfor yang

secara normal masuk ke dalam tulang adalah sekitar 3mg (97 µmol)/kg/hari, dengan

jumlah yang sama meninggalkan tulang melalui reabsorpsi.

Fosfor inorganik dalam plasma di saring glomerulus, dan 85-95% dari fosfor

inorganik yang disaring akan direabsopsi.transpor aktif ditubulus proksimal

merupakan penyebab utama reabsopsi dan proses transport aktif ini di hambat dengan

kuat oleh hormon paratiroid.

Fosfor inorganik diserap di duodenum dan usus halus oleh traspor aktif dan

difusi pasif. Namun tidak seperti penyerapan ca2+, penyerapan fosfor inorganik secara

linier setara dengan masukan makanan.banyak rangsangan yang meningkatkan

penyerapan ca2+, termasuk 1,25-dehidroksikolekasiferol, yang juga meningkatkan

penyerapan fosfor inorganik.

3) Metabolisme Vitamin D

Transfer aktif kalsium dan fosfor dari usus di tingkatkan oleh suatu metabolik

vitmin D. Istilah vitamin D digunakan untuk mengacu kepada kelompok senyawa

yang berkaitan erat dengan sterol, yang dihasilkan oleh efek sinar ultraviolet pada

provitamin tertentu.
10

Vitamin D mengalami metabolisme oleh enzim-enzim yang merupakan anggota super

family sitokrom P450 (CYP). Dihati, vitamin D diubah menjadi 25-

hidroksikolekasiferol dan akan di ubah di sel-sel tubulus proksimal ginjal menjadi

metabolit yang lebih aktif yang disebut kalsitriol. Vitamin D dan turunannya berupa

sekosteroid, yaitu juga merupakan steroid yang salah satu cincinnya telah terbuka.

Kalsitriol adalah suatu hormon karena dihasilkan didalam tubuh dan mengalir dalam

darah untuk menimbulkan efek di sel-sel sasaran.

4) Metabolisme Hormon paratiroid (PTH)

Hormon paratiroid disintesis sebagai bagian dari melekul yang lebih besar

yang mengandung 115 residu asam amino (preproPTH). Pada saat preproPTH masuk

kedalam retikulum endoplasma, maka suatu leader sequence disingkirkan dari

terminal amino untuk membetuk polipeptida proPTH yang terdiri dari 90% asam

amino. Enam residu asam amino lainnya juga di singkirkan dari terminal amino

proPTH di apparatus golgi dan polipeptide PTH terdiri dari 84 asam amino dikemas di

dalam granula sekretolik, dan dilepaskan sebagai produk sekretorik utama chief cells.

5) Metabolisme Kalsitonin

Sekresi kalsitonin meningkat bila kelenjar tiroid di perfusi dengan larutan yang

mengandung konsentrasi ca2+ tinggi. Pengukuran kalsitonin dalam darah dengan

radioimunoesai menunjukkan bahwa hormon ini tidak disekresi sampai kadar kalsium

plasma mencapai sekitar 9,5 mg/dl dan bahwa diatas kadar kalsium ini, kalsitonin

plasma bebanding lurus dengan kalsium plasma.Kadar kalsitonin plasma meningkat

pada sindrom zollinger-ellison dan pada anemia pernisiosa, dengan kadar gastrin yang

juga meningkat. Kalsitonin manusia memiliki waktu paruh kurang dari 10 menit.
11

2.2. Konsep Dasar Penyakit

Rangka matang terdiri dari tulang,jaringan fibrosa dan rawan. Dari sel-sel ini

atau jaringan mesenkim primitif asalnya, bisa berkembang neoplasma rangka primer

jinak atau ganas. Neoplasma system muskulus skeletal bisa berbentuk macam-macam

seperti tumor osteogenik, konrogenik, fibrogenik, otot atau rabdomiogenik dan sel

sumsum (reticulum) bisa juga tumor saraf, vaskuler dan sel lemak. Biasanya

merupakan tumor primer atau tumor metaststik dari kanker primer di tempat lain.

Tumor tulang metastatik lebih sering dibanding tumor tulang primer.

Terdapat dua tipe tumor tulang atau neoplasma yaitu primer dan metastatik.

Tumor yang berasal dari tulang (primer) mencakup tulang tidak berbahaya seperti

ostioma, kondroma, tumor sel raksasa, kista dan osteid osteoms. Tumor primer yang

jinak tumbuh dengan lambat pada area terbatas dan jarang skali meluas. Tumor primer

yang ganas sangat jarang menyerang orang dewasa dan jika menyerang tumor ini akan

mencakup osteosarcoma dan multiple myeloma tumor maligna sering bermetastase

sampai paru-paru selama tahap awalnya. Osteosarkoma merupakan keganasan tulang

yang utama, sering ditemukan pada anak-anak dan remaja. Tumor tulang metastatik

awalnya terdapat pada paru-paru, payudara, prostat, ginjal, ovary, atau tiroid. Tumor

ini lebih sering terjadi daripada tumor tulang primer dan memiliki prognosis yang

buruk. Carsinoma akan lebih sering termetastasikan ke tulang daripada sarcoma.

2.1.1. Tumor Tulang Primer

Merupakan tumor yang berasal dari tulang itu sendiri

1. Tumor Tulang Benigna (Jinak)

Biasanya tumbuh lambat dan berbatas tegas, gejalanya sedikit dan tidak

menimbulkan kematian. Neoplasma ini meliputi osteoma osteoid, osteoblastoma,

osteokondroma, enkondroma, kondroma, tumor sel raksasa, kista tulang dan ganglion.
12

Tumor benigna tulang dan jaringan lunak lebih sering daripada tumor maligna.

Beberapa tumor benigna seperti tumor sel raksasa mempunyai potensial mengalami

tranformasi maligna.

1.1.Osteoma osteoid

Osteoma osteoid dibedakan melalui tampilannya yang bergranular bersemu

merah jambu, yang dihasilkan dari proliferasi osteoblas. Tidak seperti tumor

lainnya, lesi tunggalnya berdiameter kurang dari 0,4 inci (1 cm). Setiap tulang

dapat terkena, tapi femur dan tibia adalah yang paling sering. Bila osteoid

osteoma terjadi pada kolumna spinalis dan sakrum, manisfestasi klinis yang

muncul menyerupai sindrom diskus lumbalis. Klien mengeluhkan nyeri yang

terputus-putus, mungkin disertai oleh peningkatan kadar prostaglandin yang

diasosiasikan dengan tumor. Kira-kira 10% dari semua tumor benigna adalah

osteoid osteoma. Lesi terjadi pada anak dan dewasa muda dengan predominan

pada pria.

1.2.Osteoblastoma

Sering disebut juga osteoma osteoid raksasa, osteoblastoma yang menyerang

vertebra dan tulang panjang. Tumor ini lebih besar daripada osteoid osteoma

dan terletak pada tulang berongga. Tumor ini berwarna kemerahan, dan

tampakan yang granular memfasilitasi diagnosis. Lesi yang terjadi kurang dari

1% dan menyerang remaja pria serta dewasa muda pada kedua jenis kelamin.

1.3.Osteokondroma

Tumor tulang yang paling umum ditemukan adalah osteokondroma. Meskipun

awitannya biasanya dimulai pada masa anak, tumor ini berkembang sampai

maturitas skeletal dan mungkin tidak terdiagnosa sampai masa dewasa. Tumor

ini mungkin tumbuh tunggal ataupun multiple dan dapat terjadi pada tulang
13

manapun. Femur dan tibia adalah yang paling sering terkena. Pada tampilan

makro, tumor mempunyai tudung kartilagenus dengan tunas tulang menembus

dari tulang. Seiring perkembangan tudung, tumor menulang dan mungkin

menjadi maligna. Kira-kira 10% osteokondroma berkembang menjadi

sarkoma. Osteokondroma terjadi kira-klira 40% dari semua tumor benigna dan

ini diterapi melalui cenderung terjadi pada pria.

1.4.Enkondroma

Endokondroma merupakan tumor tulang primer paling lazim pada

tangan.Timbul pada orang muda (10-40 tahun), paling sering pada falang

proksimalis serta biasanya asimtomatik sampai fraktur timbul melalui lesi.

Rontgenogram menunjukkan lesi radiolusen dalam diafisis dan metafisis

dengan korteks tipis dan bintik-bintik kalsium. Tumor rawan jinak ini diterapi

melalui kuretase dengan penggantian graft tulang. Jarang timbul kekambuhan.

1.5.Kondroma

Kondroma atau endokondroma, secara histologis sangat erat kaitannya dengan

presentasi osteokondroma. Kondroma adalah lesi pada kartilago hialin matur

yang terutama mengenai tangan dan kaki. Iga, sternum, spinal, dan tulang

panjang juga mungkin terkena. Kondroma lambat berkembang dan sering

mengakibatkan fraktur patologis setelah cedera ringan. Kondroma ditemukan

pada semua usia, terjadi pada pria dan wanita serta dapat mengenai semua

tulang.

1.6.Tumor Sel Raksasa

Asal tumor sel raksasa masih belum bisa ditentukan. Lesi ini agresif dan dapat

meluas.Nodulus bervariasi ukurannya,kenyal,biasanya nyeri tidak tekan. Pada

pemeriksaan makro lesi tampak kelabu sampai coklat kemerahan dan mungkin
14

melibatkan jaringan lunak sekiarnya. Meskipun diklasifikasikan sebagai tumor

benigna, tumor ini dapat bermetastasis ke jaringan paru. Tidak seperti

kebanyakan tumor benigna lainnya, tumor ini menyerang wanita yang berumur

lebih dari 20 tahun dengan puncak insiden pada klien usia 30-an. Kira-kir 18%

dari seluruh tumor benigna adalah tumor ini.

1.7.Kista Tulang

Kista tulang merupakan lesi yang invasive dalam tulang. Kista tulang

aneurisma sering terlihat pada dewasa muda dan ditandai dengan terabanya

massa yang nyeri pada tulang panjang, vertebra atau tulang pipih.kista tulang

unikamera terjadi pada anak-anak dan menyababkan rasa ketidaknyamanan

ringan dan kemungkinan fraktur patologis pada humerus dan femur atas.

Kadang dapat sembuh spontan.

1.8.Ganglion

Ganglion merupakan massa jaringan lunak yang paling lazim dalam tangan.

Ganglion lebih lazim pada wanita (3:1) dan paling sering timbul pada dewasa

muda. Kista jaringan ini mempunyai kapsula halus yang mengandung musin

kental dan terfiksasi ke struktur profunda. Tempat paling lazim adalah

artikulatio karpri dorsalis, artikulasio karpri volaris, lipatan digitalis palmaris,

dan sendi.

2. Tumor Tulang Maligna (Ganas)

Tumor muskuloskeletal maligna primer relative jarang dan tumbuh dari sel

jaringan ikat dan penyokong (sarcoma) atau dari elemen sumsum tulang (myeloma).

Tumor muskuloskeletal primer maligna meliputi osteosarkoma, kondrosarkoma,

sarcoma ewing dan fibrosakoma. Sarkoma jaringan lunak meliputi liposarkoma,


15

fibrosarkoma, jaringan lunak dan rabdomiosarkoma. Tumor tulang biasa bermetastase

ke tulang.

2.1. Mieloma multiple

Mieloma Multipel merupakan tumor tulang primer yang paling sering

ditemukan, yang berasal dari sel sumsum tulang yang menghasilkan sel darah.

Umumnya terjadi pada orang dewasa. Tumor ini dapat mengenai satu atau

lebih tulang sehingga nyeri dapat muncul pada satu tempat atau lebih.

Pengobatannya rumit, yaitu meliputi kemoterapi, terapi penyinaran dan

pembedahan.

2.2.Osteosarkoma

Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor tulang ganas, yang

biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa

remaja. Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan

pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun.

Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi

pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-

laki. Penyebab yang pasti tidak diketahui. Bukti-bukti mendukung bahwa

osteosarkoma merupakan penyakit yang diturunkan.

2.3.Kondrosarkoma

Kondrosarkoma adalah tumor yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang

rawan) ganas yang merusak tulang dan mengkalsifikasinya. Kebanyakan

kondrosarkoma tumbuh lambat atau merupakan tumor derajat rendah, yang

sering dapat disembuhkan dengan pembedahan. Tetapi, beberapa diantaranya

adalah tumor derajat tinggi yang cenderung untuk menyebar. Untuk

menegakkan diagnosis perlu dilakukan biopsi. Kondrosarkoma harus


16

diangkat seluruhnya melalui pembedahan karena tidak bereaksi terhadap

kemoterapi maupun terapi penyinaran. Amputasi tungkai atau lengan jarang

diperlukan. Jika tumor diangkat seluruhnya, lebih dari 75% penderita

bertahan hidup. Kebalikan dari osteosarkoma, klien dengan kondrosarkoma

mengalami nyeri tumpul dan pembengkakan dalam waktu yang lama.

Mempunyai prognosis yang lebih baik dari pada sarkoma osteogenik.

Kondrosarkoma terjadi pada usia paruh baya dan usia yang lebih tua, dengan

predominansi ringan pada pria dan terjadi kurang dari 10% dari seluruh

tumor tulang maligna.

2.4.Sarkoma Ewing

Sarkoma Ewing muncul pada masa pubertas, dimana tulang tumbuh sangat

cepat. Jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 10 tahun.

Meskipun sarkoma Ewing tidak seumum tumor tulang lainnya, tumor ini

yang paling maligna. Seperti tumor lainnya, tumor ini juga menyebabkan

nyeri dan pembengkakan. Sebagai tambahan manifestasi klinis; demam

derajat rendah tertentu, leukositosis, dan anemia; memberikan karakter pada

lesi ini. Pelvis dan ektremitas bawah adalah yang paling sering diserang.

Serangan pada pelvis memberikan tanda prognosa yang buruk. Pada tingkat

selular tumor ini serupa dengan limfoma tulang. Pada hasil Rontgen

karakteristiknya berbintik pola destruktif dan tampakan

kulit bawang pada permukaan tulang membedakan neoplasma sarkoma

Ewing. Seperti tumor maligna lainnya tumor ini juga tidak mempunyai

tudung dan sering meluas ke jaringan lunak. Kematian terjadi karena

metastasis ke paru atau tulang lainnya.


17

Lima persen dari seluruh tumor tulang maligna adalah sarkoma Ewing.

Meskipun tumor ini dapat dilihat pada klien berbagai usia, biasanya terjadi

pada anak dan dewasa muda pada usia 20-an. Pria mempunyai

kecenderungan yang lebih besar.

2.5.Fibrosarkoma

Kanker ini biasanya berasal dari jaringan lunak (jaringan ikat selain tulang,

yaitu ligamen, tendon, lemak dan otot dan muncul dari jaringan fibrosa.

Muncul dari jaringa fibrosa, fibrosakoma dapat dibagi menjadi beberapa

subtipe. Subtipe yang paling maligna adalah histiositoma fibrosa maligna

(MFH). Kebanyakan presentasi klinisnya rendah dan insidious, tanpa

manifestasi spesifik. Nyeri lokal, dengan atau tanpa masa teraba, terjadi pada

tulang panjang ekstremitas bawah. Seperti kanker tulang lainnya, lesi dapat

bermetastasis ke paru. Meskipun MFH menyerang pada semua usia,

umumnya terjadi pada pria usia paruh baya. Untungnya lesi ini tidak umum.

2.6.Limfoma Tulang Maligna

Limfoma Tulang Maligna (Sarkoma Sel Retikulum) biasanya timbul pada

usia 40- 50 tahun. Bisa berasal dari tulang manapun atau berasal dari tempat

lain di tubuh kemudian menyebar ke tulang. Biasanya tumor ini

menimbulkan nyeri dan pembengkakan, dan tulang yang rusak lebih

mudah patah. Pengobatan terdiri dari kombinasi kemoterapi dan terapi penyinaran,

yang sama efektifnya dengan pengangkatan tumor.

2.1.2. Tumor Tulang Sekunder

Tumor tulang sekunder atau tumor tulang metastatic merupakan tumor dari organ lain

yang menyebar ke tulang. Tumor tulang metastatic lebih sering daripda tumor tulang
18

maligna primer. Tumor yang muncul dari jaringan tubuh dimana saja bisa menginvasi

tulang dan menyebabkan destruksi tulang local dengan gejala yang mirip dengan yang

terjadi pada tumor primer. Tumor yang sering bermetastase ke tulang adalah

karsinoma ginjal, prostat, paru-paru, payudara, ovarium dan tiroid. Tumor metastatic

paling sering menyerang cranium, vertebra, pelvis, femur dan humerus.

2.1.3. Klasifikasi Tumor Tulang Menurut TNM T : Tumor induk

TX : Tumor tidak dapat dicapai

T0 : Tidak ditemukan tumor primer

T1 : Tumor terbatas di dalam periosteum

T2 : Tumor menembus periosteum

T3 : Tumor masuk organ dan struktur sekiatar tulang

N : Kelenjar limfe regional

N0 : Tidak ditemukan tumor dikelenjar limfe

N1 : Tumor dikelenjar limfe regional

M : Metastatik jauh

M0 : Tidak ditemukan metastatic jauh

M1 : Metastarik jauh. D. Tanda Dan Gejala

Nyeri dari tumor tulang biasanya mempunyai awitan bertahap. Mungkin

timbul berbulan- bulan dan digambarkan sebagai nyeri tumpul, dalam, dan perasaan

seperti dilakukan pemboran pada tulang. Akan tetapi, awitan nyeri tajam dan kasar

mungkin tampak dan dirasakan jika timbul fraktur tulang patologis. Tanda dan gejala

lainnya meliputi terang atau pembengkakan pada atau diatas tulang atau persendian.

Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat

badan menurun, dan malaise.


19

2.1.4. Patofisiologi

Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons

osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa

tulang sering terjadi dan lainnya sangat jarang. Beberapa tidak menimbulkan masalah,

sementara lainnya ada yang segera mengancam jiwa.

2.1.5. Manifestasi Klinis

Pasien dengan tumor tulang datang dengan masalah yang berhubungan dengan

tumor tulang yang sangat bervariasi. Dapat tanpa gejala atau dapat juga nyeri (ringan

dan kadang-kadang sampai konstan dan berat), pembengkakan, gerakan ymag

terbatas, linu, kecacatan yang bervariasi dan pada suatu saat terdapat pertumbuhan

tulang yang jelas. Bila terjadi kompresi corda spinalis dapat berkembang lambat atau

cepat. Defisit neurologic (misalnya nyeri progresif, kelemahan, paratesia, paraplegia,

retensio urine) harus diidentifikasi awal dan ditangani dengan laminektomi

dekompresi untuk mencegah cedera korda spinalis permanen. Studi radiografikal, scan

MRI dan CT pada tulang yang terkena

penyakit akan memberikan informasi diagnostic. Biopsi jarum merupakan prosedur

definitive. pemotretan sinar-X pada dada dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan

metastasis.

2.1.6. Pemeriksaan

Perawat harus memeriksa pasien untuk mengetahui factor predisposisi (seperti:

diabetes, implantasi sendi prostetik, infeksi oral dan sinus), rasa sakit terlokalisir,

erythema, pembegkakan dan demam. Jika diduga adanya suatu tumor maka biasanya

dilakukan pemeriksaan untuk menentukan lokasi dan penyebaran tumor, seperti:

• Rontgen tulang kerangka tubuh


20

• Rontgen dada

• CT scan tulang

• CT scan dada untuk melihat penyebaran ke paru-paru

• Pemeriksaan dada termasuk kimia serum

• Biopsi tumor

• Screning tulang untuk melihat penyabaran tumor.

2.1.7. Evaluasi Diagnostik

Diagnostik diferensial didasaarkan pada riwayat,pemeriksaan fisik dan

penunjang diagnostic seperti CT, pemindahan tulang, mielogram, arteriografi, MRI,

biopsy dan essai biokimia darah dan urine. Fosfatase alkali biasanya meningkat pada

sarcoma osteogenik. Pada karsinoma metastasis dari prostat akan terjadi peningkatan

fosfatase asam serum. Hiperkalemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari

payudara, paru dan ginjal. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histolgik. Biopsi

harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah penyebaran dan kekambuhan

setelah eksisi tumor. Foto sinar-X dilakukan untuk menentukan adanya metastasis

paru.

Selama periode diagnostic, perawat harus menjelaskan uji diagnostic yang

akan dilakukan dan memberikan dukungan psikologik dan emosional kepada pasien

dan keluarganaya. Dikaji kemampuan mengatasi masalah dan disarankan untuk

memanfaatkan system pendukung.

2.1.8. Penatalaksanaan

Sasaran penatalaksanaan adalah pengangkatan dan penghancuran tumor yang

dapat dilakuka dengan eksisi bedah (berkisar dari eksisi local sampai amputasi dan

disartikulasi), radiasi bila tumor bersifat radiosensitifdan kemoterapi (preoperative,


21

pascaoperatif dan ajufan untuk mencegah mikrometastasis). Sasaran utama dapat

dilakukan dengan eksisi luas dengan teknik grafting restorative.

Pengangkatan tumor secara bedah sering memerlukan amputasi ekstremitas

yang sakit, dengan tinggi amputasi diatas tumor agar dapat mengontrol lokal lesi

primer. Prosedur mempertahankan ekstremitas hanya mengangkat tumor dan jaringan

disekitarnya. Bagian yang direseksi diganti dengan prostesa yang telah diukur,

artoplasti sendi total atau jaringan tulang dari pasien sendiri (autograft) atau dari donor

kadafer (allograft).

Karena adanya bahaya metastasis pada tumor maligna, maka kombinasi

metastase dimulai sebelum dan dilanjutkan setelah pembedahan. Sebagai usaha

mengeradikasi lesi mikrometastase. Beberapa diantaranya adalah :

• Metroteksat dosis tinggi dengan leukoerin

• Dexorubicin (Adriamicin)

• Vincristin

• Cisplatin

• Daktinomicin

• Cyclophospamide (sitoksan)

• Bleomicin

• Ifosfamia

• Etoposia
22

2.3. FRAKTUR
1. PENGERTIAN

Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao
stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)

2. JENIS FRAKTUR
a Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami pergeseran.
b Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah
tulang
c Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
d Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa
sampai ke patahan tulang.
e Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi
lainnya membengkak.
f Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
g Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
h Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
i Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada
tulang belakang)
j Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau
tendo pada daerah perlekatannnya.
3. Etiologi
a Trauma
b Gerakan pintir mendadak
c Kontraksi otot ekstem
d Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma
4. Patofisiologi

23
24

4. Manifestasi Klinis
a Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang
diimobilisasi, hematoma, dan edema
b Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
c Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang
melekat diatas dan dibawah tempat fraktur
d Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
e Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit
5. Pemeriksaan Penunjang
a Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
b Pemeriksaan jumlah darah lengkap
c Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
d Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens
ginjal
6. Penatalaksanaan
a Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-
fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti
letak semula.
b Imobilisasi fraktur
Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna
c Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
? Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
? Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
? Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan
gerakan) dipantau
? Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan
atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah
7. Komplikasi

a Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak

seharusnya.
25

b Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan

kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.

c Non union : tulang yang tidak menyambung kembali


26

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian

1. Beri saran kepada pasien untuk membicarakan masalah dan perjalanan gejala.

Perhatikan pemahaman pasien dan keluarga tentang penyakit dan proses penyakit,

koping terhadap masalah, dan penatalaksanaan nyeri.

2. Palpasi massa dengan lembut saat melakukan pemeriksaan fisik. Perhatikan

ukuran dan pembengkakan jaringan lunak yang berkaitan, nyeri, dan nyeri tekan.

3. Kaji status neuromuskuler dan rentang gerak ekstremitas.

4. Evaluasi mobilitas dan kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-

hari.

3.2. Diagnosa Keperawatan

Berdasar pada data pengkajian, diagnosis utama meliputi :

1. Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan program terapeutik

2. Nyeri b/d proses patologik dan pembedahan

3. Resiko terhadap cidera: fraktur patologik b/d tumor

4. Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi

tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat

5. Gangguan harga diri b/d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran.

3.3. Rencana Keperawatan

1. Dx 1 : Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan program terapeutik

Tujuan : pasien memahami proses penyakit dan program terapi

Kriteria Hasil : Pengetahuan yang tepat mengenai proses penyakit dan

menggambarkan program pengobatannya.


27

Intervensi :

1. Kenali tingkat pengetahuan pasien saat ini tentang kanker atau tumor

R/ Data akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya

duplikasi

2. Gambarkan proses penyakit tumor sesuai dengan kebutuhan

R/ Membantu pasien dalam memahami proses penyakit

3. Berikan informasi mengenai terapi dan atau pilihan pengobatan yang potensial

terjadi dan atau keuntungan dari setiap terapi tersebut

R/ Membantu pasien dalam membuat keputusan pengobatan

4. Gunakan brosur, gambar, video tape dalam penyuluhan pasien atau keluarga

R/ Alat visual memberikan penguatan pada instruksi yang diberikan

5. Anjurkan pasien untuk menyampaikan pilihannya atau mendapatkan pilihan kedua

sesuai kebutuhan

R/ Meningkatkan advokasi pasien dalam pelayanan medis

6. Instruksikan pasien untuk melaporkan tanda dan gejala pada pemberi pelayanan

kesehatan; member nomor telepon yang penting

R/ Meningkatkan keamanan dalam upaya penyembuhan

2. Dx 2 : Nyeri b/d proses patologis dan pembedahan

Kriteria hasil : nyeri tidak ada atau terkontrol

Intervensi :

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif

R/ Memberikan informasi untuk membuat perencanaan

2. Kaji adanya nyeri fantom, adanya perasaan terbakar, kram atau kaku dimana

anggota tubuh tersebut berada


28

R/ Meningkatkan identifikasi nyeri fantom dan memberikan informasi untuk

membuat perencanaan

3. Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri

R/ Meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan mobilisasi

3. Dx 3 : Resiko terhadap cidera: fraktur patologik b/d tumor

Kriteria Hasil : tidak adanya cidera akibat tumor yang dialami pasien

Intervensi :

1. Sangga tulang yang sakit dan tangani dengan lembut selama pemberien asuhan

keperawatan

R/ Tumor tulang akan melemahkan tulang sampai ke titik dimana aktivitas normal

atau perubahan posisi dapat mengakibatkan fraktur

1. Gunakan sanggahan eksternal (mis. Splint) untuk perlindungan tambahan

R/ Penyangga luar (mis. bidai) dapat dipakai untuk perlindungan tambahan

2. Ikuti pembatasan penahanan berat badan yang dianjurkan

R/ Adanya pembatasan akan membantu klien dalam penahanan berat badan yang

tidak mampu ditahan oleh tulang yang sakit

4. Ajarkan bagaimana cara untuk menggunakan alat ambulatory dengan aman dan

bagaimana untuk menguatkan ekstremitas yang tidak sakit

R/ Penggunaan alat ambulatory dengan aman mampu menguatkan ekstremitas

yang sehat

4.Dx 4 : Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan,

persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat


29

Kriteria Hasil : Ansietas, kekhawatiran, dan kelemahan menurun pada tingkat

yang dapat diatasi: mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam

aktivitas dan proses pengambilan keputusan

Intervensi :

1. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan satu suasana lingkungan yang

dapat diterima

R/ Membantu pasien dalam membangun kepercayaan kepada tenaga kesehatan

2. Evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan

R/ Membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan

3. Kaji sikap harapan yang realistis

R/ Meningkatkan kedamaian diri

4. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai

R/ Meningkatkan kemampuan untuk menguasai masalah

5. Nilai kebutuhan atau keinginan pasien terhadap dukungan social

R/ Memenuhi kebutuhan pasien

6. Kenalkan pasien pada seseorang atau kelompok yang telah memiliki

pengalaman penyakit yang sama

R/ Memberikan informasi dan dukunagn dari orang lain dengan pengalaman

yang sama

7. Berikan sumber-sumber spiritual jika diperluka

R/ Untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien


30

5. Dx 5 : Gangguan harga diri b/d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja

peran.

Kriteria Hasil : harga diri klien meningkat

Intervensi :

1. Dukung keluarga dalam mengupayakan melewati penyesuaian yang harus

dilakukan; kenali perubahan dalam citra diri akibat pembedahan dan

kemungkinan amputasi

R/ Kemandirian versus ketergantungan merupakan isu pada pasien yang

menderita keganasan. Gaya hidup akan berubah secara dramatis, paling tidak

sementara

2. Berikan kepastian yang realistis tentang masa depan dan perjalanan kembali

aktivitas yang berhubungan dengan peran; beri dorongan untuk perawatan

mandiri dan sosialisasi

R/ Peyakinan yang masuk akal mengenai masa depan dan penyesuaian

aktivitas yang berhubungan dengan peran harus dilakukan untuk memandirikan

pasien

3. Libatkan pasien dan keluarga sepanjang pengobatan untuk meningkatkan rasa

tetap memiliki control dalam kehidupan seseorang

R/ Keterlibatan pasien dan keluarganya sepanjang terapi dapat mendorong

kepercayaan diri, pengembalian konsep diri, dan perasaan dapat mengontrol

hidupnya sendiri
31

3.4. Evaluasi

1. Klien mampu menerangkan proses penyakit dan program terapi

a) Menerangkan proses patologik

b) Menentukan program sasaran terapeutik

c) Mencari penjelasan informasi

2. Mampu mengontrol nyeri

a) Memanfaatkan teknik pengontrolan nyeri termasuk obat yang diberikan

b) Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat

istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari atau tempat

operasi

3. Tidak mengalami patah tulang patologik

a) Menghindari stress pada tulang yang lemah

b) Mempergunakan alat bantu dengan aman

c) Memperkuat ekstremitas yang sehat

4. Memperlihatkan pola penyelesain masalah yang efektif

a) Mengemukakan persaannya dengan kata-kata

b) Mengidentifikasi ketakutan dan kemampannya

c) Membuat keputusan

d) Meminta bantuan bila perlu

5. Memperlihatkan konsep diri positif

a) Mengidentifikasi tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang

mampu ditanggungnya

b) Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuannya

c) Memperlihatkan penerimaan citra diri

d) Memperlihatkan kemandirian dalam aktivitas hidup


32

6. Memperlihatkan tiadanya komplikasi

a) Memperlihatkan penyembuhan luka

b) Tidak mengalam kerusakan kulit

c) empertahankan atau meningkatkan berat badan

d) Tidak mengalami infeks

e) Mengatasi efek samping terapi

f) Melaporkan gejala toksisitas obat atau komlikasi pembedahan

7. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan berkelanjutan di rumah

a) Mamatuhi regimen yang ditentukan (misalnya; menelan setiap obat

yang diresepkan, tetap mejalankan terapi fisik dan okupasi)

b) Menyetujui perlunya superfisi kesehatan jangka panjang

c) Rajin memenuhi janji perawatan kesehatan tindak lanjut

d) Melaporkan bila ada gejala atau komplikasi


33

A. PENGKAJIAN FRAKTUR

1. Pengkajian primer

o Airway

Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan

sekret akibat kelemahan reflek batuk

o Breathing

Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya

pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar

ronchi /aspirasi

o Circulation

TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,

takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan

membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut

2. Pengkajian Sekunder

 Aktivitas/istirahat

o Kehilangan fungsi pada bagian yangterkena

o Keterbatasan mobilitas

 Sirkulasi

o Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)

o Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)

o Tachikardi

o Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera

o Cailary refil melambat

o Pucat pada bagian yang terkena


34

o Masa hematoma pada sisi cedera

 Neurosensori

o Kesemutan

o Deformitas, krepitasi, pemendekan

o Kelemahan

o Kenyamanan

o Nyeri tiba-tiba saat cidera

o Spasme/ kram otot

o Keamanan

o Laserasi kulit

o Perdarahan

o Perubahan warna

o Pembengkakan lokal

B. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jarinagan sekitasr fraktur, kerusakan

rangka neuromuskuler

2. Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang

3. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaika

C. Intervensi Nanda NIC – NOC

Dx. nyeri b.d terpajannya reseptor nyeri sekunder trauma tumpul

Nyeri akut

definisi :
35

sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul


secara actual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya
kerusakan (asosiasi Studi Nyeri Internasional) keserangan mendadak atau pelan
intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang
dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan.

Batasan karakteristik :

- Laporan secara verbal atau non verbal


- Fakta dan observasi
- Posisi antalgetik untuk menghindari nyeri
- Gerakan melindungi
- Tingkah laku berhati-hati
- Muka topeng
- Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau,
menyeringai )
- Terfokus pada diri sendiri
- Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses
berpikir penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan )
- tingkah laku distraksi, contoh jalan-jalan, menemani orang lain dan
atau aktivitas berulang.
- Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah,
perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil).
- Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari
lemah ke kaku).
- Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada
iritabel, nafas panjang / berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu makan dan minum

Faktor-faktor yang berhubungan ;

Agen injuri (biologi, kimia fisik, psikologis)

Control nyeri :

- Mengenali factor penyebab


36

- Mengenali lamanya obat (onset) sakit


- Menggunakan metode pencegahan
- Menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi
nyeri
- Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan
- Mencari bantuan tenaga kesehatan
- Melaporkan gejala pada tenaga kesehatan
- Menggunakan sumber-sumber yang tersedia
- Mengenali gejala-gejala nyeri
- Mencatat pengalaman tentang nyeri sebelumnya
- Melaporkan nyeri yang sudah terkontrol
- lainnya

Keterangan penilaian NOC :

- Tidak dilakukan sama sekali


- Jarang dilakukan
- Kadang dilakukan
- Sering dilakukan
- Selalu dilakukan

NIC :

Paint Management

- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,


karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi.
- Observasi reaksi non verbal dan ketidaknyamanan
- Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri pasien
- kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
- Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
- Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan.
37

- Kurangi factor presipitasi nyeri


- Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan
interpersonal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
- Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration

- Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum


pemberian obat
- Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesic yang diperlukan atau kombinasi dan analgesic ketika
pemberian lebih dari satu tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan
beratnya nyeri.
- Tentukan analgesic pilihan, rute pemberian dan dosis optimal
- Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri
- Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama
kali
- Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat
Evaluasi aktivitas analgesic tanda dan gejala (efek samping)
38

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dalam tubuh manusia terdapat rangka matang yang terdiri dari tulang, jaringan

fibrosa dan rawan. Dari sel-sel ini atau jaringan mesenkim primitif asalnya, bisa

berkembang neoplasma rangka primer jinak atau ganas. Neoplasma juga bisa muncul

dari jaringan tubuh mana saja yang nantinya akan menginvasi tulang dan

menyebabkan destruksi tulang local, hal ini lah yang dinamakan neoplasma sekunder.

Pada pasien dengan neoplasma, tujuan perawatan yang diberikan adalah untuk

menyembuhkan tulang yang terserang penyakit dan tentu saja menghilangkan tumor

jika tumor tersebut dianggap berbahaya. Terapi mencakup pembedahan, kemoterapi,

dan radiasi yang tergantung pada tipe tumor dan penyebarannya. Perawatan tumor

tulang metastatic sering bersifat palliative, yaitu hanya meredakan tetapi tidak untuk

menyembuhkan.

4.2 Saran

Sebagai seorang perawat, sedah menjadi kewajiban untuk memberikan

tindakan perawatan dalam asuhan keperawatan yang diarahkan kepada pembentukan

tingkat kenyamanan pasien, manajemen rasa sakit dan keamanan. Perawat harus

mampu mamahami faktor psikologis dan emosional yang berhubungan dengan

diagnosa penyakit, dan perawat juga harus terus mendukung pasien dan keluarga

dalam menjalani proses penyakitnya.


39

DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C dan JoAnn C. Hackley. 2000. Keperawatan Medikal Bedah.


Jakarta: EGC
Brunner & Suddart. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah; editor Suzanne C.
Smeltzer, Brenda G. Bare; alih bahasa, Agung Waluyo… [et. al.]; editor edisi bahasa
Indonesia, Monica Ester. –Ed. 8-. Jakarta: EGC
Gale, Danielle dan Jane Charette. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi.
Jakarta: EGC
Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran; alih bahasa, Brahm U.
Pendit… [et. al.]; editor edisi bahasa Indonesia, H. M. Djauhari Widjajakusumah. –
Ed. 20-. Jakarta: EGC
http://askep.blogdetik.com/2008/12/07/fraktur/