Vous êtes sur la page 1sur 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kejang Demam

1. Definisi Kejang Demam

Kejang demam adalah kejang yang cenderung timbul dalam 24 jam

pertama pada waktu sakit dengan demam atau pada waktu demam

mendadak tinggi (Wright. John,1994). Kejang demam adalah

bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal

lebih dari 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium

(Mansjoer.A, 2000).

Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan

sementara sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan

pelepasan listrik serebral yang berlebihan (betz & Sowden,2002).

Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang

terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas 38 °C) yang

disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan

kelainan neurologis yang paling sering di jumpai pada anak, terutama

pada golongan balita umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3% dari

balita yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang

demam. Pada percobaan binatang suhu yang tinggi dapat

menyebabkan terjadinya bangkitan kejang (Ngastiyah, 2005).

44
2. Etiologi Kejang Demam

Etiologi kejang demam masih belum dapat dipastikan. Pada

sebagian besar anak, tingginya suhu tubuh, bukan kecepatan kenaikan

suhu tubuh, menjadi faktor pencetus serangan kejang demam.

Biasanya suhu demam lebih dari 38,oC dan terjadi saat suhu tubuh

naik dan bukan pada saat setelah terjadinya kenaikan suhu yang lama

(Dona L. Wong, 2008).

Jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang

menimbulkan demam yang dapat menyebabkan kejang demam.

Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah

infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia,

gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi saluran kemih

(Soetomenggolo,2000).

3. Klasifikasi Kejang Demam

The International League Againts Epilepsy (Commision on

Epidemiology and Prognosis, 1993), membuat klasifikasi kejang

demam pada anak menjadi dua yaitu kejang demam sederhana (simple

febrile seizure) dan kejang demam kompleks (complex febrile seizure).

1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)

Kejang demam sederhana berlangsung singkat, kurang dari

15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk


umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak

berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana

merupakan 80% diantara seluruh kejang demam, kemungkinan

epilepsi di kemudian hari (Saharson, 2009).

2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)

Kejang demam yang berlangsung selama lebih dari 15

menit, kejang yang berbentuk fokal atau parsial satu sisis,atau

kejang umum didahului kejang parsial. Kejang demam jenis ini

berulang lebih dari 1kali dalam waktu 24 jam, kemungkinan

epilepsi dikemudian hari sangat jarang atau 4%(Saharso, 2009).

4. Manifestasi Klinis Kejang Demam

Kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang

klonik atau tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti

sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi

apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit

anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis.

Kejang demam diikuti hemiparesis sementara (HemeparesisTood)

yang berlangsung beberapa jam sampai hari. Kejang unilateral

yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap.

Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada

kejang demam yang pertama. Kejang berulang dalam 24 jam

ditemukan pada 16% paisen (Soetomenggolo, 2000).


Kejang yang terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya

berkembang bila suhu tubuh (dalam) mencapai 39°C atau lebih.

Kejang khas yang menyeluruh, tonik-klonik beberapa detik sampai 10

menit, diikuti dengan periode mengantuk singkat pasca-kejang. Kejang

demam yang menetap lebih lama dari 15 menit menunjukkan

penyebab organik seperti proses infeksi atau toksik yang memerlukan

pengamatan menyeluruh (Nelson, 2000).

Gejala yang timbul saat anak mengalami kejang demam antara lain

adalah: anak mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan

suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba) kejang tonik, klonik, pingsan

yang berlangsung selama 30 detik - 5 menit (hampir selalu terjadi pada

anak - anak yang mengalami kejang demam). Kejang demam dapat

dimulai dengan kontraksi yang tiba - tiba pada otot kedua sisi tubuh

anak. Kontraksi pada umumnya terjadi pada otot wajah, badan, tangan

dan kaki. Anak dapat menangis atau merintih akibat kekuatan

kontraksi otot. Anak akan jatuh apabila dalam keadaan berdiri.

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang

biasanya berlangsung selama 10 - 30 detik), gerakan klonik (kontraksi

dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung

selama 1 - 2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya

terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar

kesadarannya), gangguan pernapasan, apneu (henti napas), dan

kulitnya kebiruan (Sri, 2013).


Setelah mengalami kejang, biasanya:

1. Akan kembali sadar dalam beberapa menit atau tertidur selama 1

jam atau lebih.

2. Terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi) sakit kepala.

3. Mengantuk.

4. Linglung sementara dan sifatnya ringan.

5. Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit maka

kemungkinan terjadi cidera otak atau kejang menahun sangat kecil

(Dessy, 2010).

5. Epidemiologi Kejang Demam

Kejang demam terjadi pada waktu anak berusia antara 3

bulan hingga 5 tahun. Di Amerika insidensinya 2%-5% anak

dengan usia dibawah 5 tahun. Sedangkan di Asia insidensinya

meningkat dua kali lipat, seperti di jepang berkisar 8,3% - 9,9%

bahkan di kepulauan Guam sudah mencapai 14%. (Sapiman, 2005).

Pada umumnya kasus kejang demam sembuh sempurna,

sebagian kecil berkembang menjadi epilepsi (2%-7%), dengan

angka kematian 0,64%-0,75%. Maka dari itu prognosis kejang

demam biasanya baik .(Knudzen, 2010)

6. Patofisiologi Kejang Demam

Pada keadaan demam, kenaikan suhu sebanyak 1 ºC akan

menyebabkan kenaikan kebutuhan metabolisme basal 10-15% dan

kebutuhan oksigen meningkat sebanyak 20%. Pada seorang anak yang


berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,

dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Pada kenaikan

suhu tubuh tertentu dapat menyebabkan terjadinya perubahan

keseimbangan dari membran sel neuron. Dalam waktu yang singkat

terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran

tadi, akibatnya terjadinya lepasan muatan listrik. Lepasan muatan

listrik ini dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel

tetangganya dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung

pada tinggi atau rendahnya ambang kejang seseorang anak pada

kenaikan suhu tubuhnya. Kebiasaannya, kejadian kejang pada suhu

38ºC, anak tersebut mempunyai ambang kejang yang rendah,

sedangkan pada suhu 40º C atau lebih anak tersebut mempunyai

ambang kejang yang tinggi. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan

bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang

kejang yang rendah (Latief et al., 2007).


Peningkatan suhu
tubuh

Metabolisme basal Resiko tinggi gangguan


meningkat kebutuhan nutrisi

O2 ke otak menurun

Kejang demam TIK meningkat Gangguan


perfusi jaringan

Resiko tinggi
Kejang demam sederhana Kejang demam kompleks
gangguan tumbuh
kembang

Resiko Injury Resiko tinggi berulang

Sumber : Ilmu Kedokteran Anak, jilid 2, hal 874. Cetakan ke 9, 2000


Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI
Gambar 2.1
Patofisiologi Kejang Demam
7. Faktor Resiko Kejang Demam

Semua jenis infeksi yang bersumber diluar susunan saraf pusat

yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam.

Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah

infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia,

gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi saluran. Selain demam

yang disebabkan oleh berbagai sebab, faktor lain yang berperan dalam

etiologi kejang demam, yaitu usia, riwayat keluarga, faktor prenatal

(usia saat ibu hamil, riwayat pre eklamasi pada ibu, hamil

primi/multipara, pemakaian bahan toksik), faktor prinatal (asfiksia,

bayi berat lahir rendah, usia kehamilan, partus lama, cara lahir), dan

faktor paskanatal (kejang akiabat toksik, trauma kepala)

(Soetomenggolo, 2000).

a. Faktor Suhu

Demam terjadi apabila hasil pengukuran suhu tubuh

mencapai diatas 37,8°C aksila atau diatas 38,3°C rektal. Demam

dapat disebabkan oleh berbagai sebab, tetapi pada anak tersering

disebabkan oleh infeksi. Demam merupakan faktor utama timbul

bangkitan kejang demam. Demam disebabkan oleh infeksi virus

merupakan penyebab terbanyak timbul bangkitan kejang demam

(Hirtz, 1997).
b. Faktor Usia

Pada masa otak belum matang mempunyai eksitabilitas

neuron lebih tinggi dibandingkan yang sudah matang. Pada masa

ini disebut sebagai develommental window dan rentan terhadap

bangkitan kejang. Eksitator lebih dominan dibandingkan inhibitor,

anak yang mendapatkan serangan bangkitan kejang pada usia awal

develommental window mempunyai waktu lebih lama fase

eksitabilitas neural dibandingkan anak yang mendapatkan serangan

kejang demam pada usia akhir masa develommental window.

Apabila anak mengalami stimulasi berupa demam pada otak fase

ekstabilitas akan mudah terjadi bangkitan kejang develommental

window merupakan masa perkembangan otak fase organisasi yaitu

pada waktu anak berusia 2 tahun. Sehingga anak yang dibawah

umur 24 bulan mempunyai resiko mengalami kejang demam

(Fuadi, 2010)

Sebanyak 4% anak akan mengalami kejang demam, terjadi

dalam satu kelompok usia antara 3 bulan sampai dengan 5 tahun

dengan demam tanpa infeksi intrakranial, sebagian besar 90%

kasus terjadi pada anak antara usia 6 bulan sampai dengan 5 tahun

dengan kejadian paling sering pada anak usia 18 sampai 24 bulan.

Faktor resiko anak mengalami kejang demamberulang pada

usiakurang dari 1 tahun sebanyak 50%, dan pada anak usia lebih

dari 3 tahun sebanyak20% (Arnold, 2000).


c. Faktor Jenis Kelamin

Laki-laki lebih berisiko terjadi kejang demam, dua kali

lipat lebih banyak dari perempuan dengan perbandingan 2:1.

Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan

maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki

(Fuadi, 2010).

d. Faktor Riwayat Keluarga

Belum dapat dipastikan cara pewarisan sifat genetik

dengan kejang demam, tetapi nampaknya pewarisan gen secara

autosomal dominan paling banyak ditemukan. Penetrasi

autosomal dominan diperkirakan sekitar 60% - 80%. Apabila

salah satu orang tua penderita dengan riwayat pernah menderita

kejang demam mempunyai risiko untuk bangkitan kejang

demam sebesar 20% -22%. Apabila kedua orang tua penderita

terssebut mempunyai riwayat pernah menderita kejang demam

maka risiko untuk tenjadi bangkitan kejang demam meningkat

menjadi 59 – 64%, tetapi sebaliknya apabila kedua orang

tuanya tidak mempunyai riwayat pernah menderita kejang

demam maka risiko terjadi kejang demam hanya 9% pewarisan

kejang demam lebih banyak oleh ibu dibandingkan ayah yaitu

27% berbanding 7% (Fuadi, 2010).


e. Faktor Prenatal dan Perinatal

Riwayat kehamilan ataupun persalinan sebagi salah

satu faktor risiko kejang demam berkaitan dengan pematangan

otak ataupun jejas pada otak akibat prematuritas dan proses

persalinan. Insiden kejaang demam pada anak yang dilahirkan

dari ibu dengan riwayat konsumsi rokok dalam sehari lebih dari

10 batang mempunyai risiko menderita kejang demam. Insiden

kejang demam pada ibu dengan riwayat perokok sewaktu hamil

terjadi sebesar 4,4%. Ibu dengan konsumsi rokok per hari dari

10 batang mempunyai 1,25% mempunyai anak menderita

kejang demam (Fuadi, 2010).

f. Faktor Usia Ibu Saat Hamil

Usia ibu saat hamil berperan dalam menentukan status

kesehatan bayi yang dilahirkan. Pada usia ibu kurang dari 20

tahun atau lebih dari 35 tahun lebih beresiko menyebabkan

adanya komplokasi kehamilan dan persalinan. Komplikasi

kehamilan dan persalinan dapat menyebabkan prematuritas,

bayi berat lahir rendah dan partus lama. Keadaan tersebut dapat

menyebabkan bayi lahir asfiksia. Pasa asfiksia terjadi hipoksi

dan iskemi. Hipoksi dapat menyebabkan rusaknya faktor

inhibisi sehingga mudah timbul kejang (Fuadi, 2010).


g. Faktor Umur Kehamilan

Anak yang dilahirkan dari ibu dengan kehamilan

postterm dan ibu yang mempunyai riwayat kejang demam

mempunyai risiko terjadi kejang demam sebesar 28%. Bayi

lahir preterm berisiko 3 kali untuk terjadi kejang demam

dibandingkan bayi yang lahir aterm (Fuadi, 2010).

h. Faktor Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Bayi dengan berat lahir rendah yaitu bayi lahir kurang

dari 2500 gram. Risiko terjadinya bangkitan kejang demam

pada bayi berat lahir kurang dari 2500 gram sebesar 3,4% dan

bayi berat lahir diatas 2500 beresiko 2,3%. Bayi dengan BBLR

dapat mengalami hipokalsemia dan hipoglikemia. Keadaan

tersebut diatas dapat menyebabkan kerusakan otak sehingga

pada perkembangan selanjutnya terganggu dan dapat

menyebabkan kejang (Fuadi, 2010).

8. Diagnosisn Kejang Demam

a. Anamnesis

Anamnesis yang baik dapat membantu menegakkan

diagnosis kejang demam. Perlu ditanyakan kepada orangtua atau

pengasuh yang menyaksikan anaknya semasa kejang yang berupa:

1) Jenis kejang, lama kejang, kesadaran (kondisi sebelum,

diantara, dan setelah kejang).


2) Suhu sebelum atau saat kejang, frekuensi dalam 24 jam,

interval, keadaan anak selepas kejadian kejang.

3) Penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA), infeksi saluran kemih (ISK),

otitis media akut (OMA), dan lain-lain).

4) Riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan apakah sebelumnya

pernah mengalami kejang dengan demam atau tanpa demam,

riwayat perkembangan (gangguan neurologis), perlu

ditanyakan pola tumbuh kembang anak apakah sesuai dengan

usianya, riwayat penyakit keluarga perlu digali riwayat kejang

demam atau epilepsi dalam keluarga.

5) Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya muntah, diare,

keluhan lain yang menyertai demam, seperti batuk, pilek, sesak

nafas yang menyebabkan hipoksemia, asupan kurang yang

dapat menyebabkan hipoglikemia). (Saharso et al., 2009)

b. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik, nilai keadaan umum dan kesadaran

anak, apakah terdapat penurunan kesadaran. Setelah itu dilakukan

pemeriksaan tanda-tanda vital terutamanya suhu tubuh, apakah

tedapat demam, yang dapat dilakukan di beberapa tempat seperti

pada axilla, rektal dan telinga. Pada anak dengan kejang demam

penting untuk melakukan pemeriksaan neurologis, antara lain:


1) Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, Kernique, Laseque,

Brudzinski I dan Brudzinski II.

2) Pemeriksaan nervus kranialis.

3) Tanda peningkatan tekanan intrakranial: ubun ubun besar

(UUB) membonjol, papil edema.

4) Tanda infeksi di luar SSP: ISPA, OMA, ISK dan lain lain.

5) Pemeriksaan neurologis: tonus, motorik, reflek patologis dan

fisiologis (Saharso et al., 2009).

c. Pemeriksaan penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam

mengevaluasi kejang demam, diantaranya sebagai berikut.

1) Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan ini tidak dikerjakan secara rutin pada kejang

demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber

infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya

gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan

laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer,

elektrolit, gula darah dan urinalisis (Saharso et al., 2009).

Selain itu, glukosa darah harus diukur jika kejang lebih lama

dari 15 menit dalam durasi atau yang sedang berlangsung

ketika pasien dinilai (Farrell dan Goldman, 2011).


2) Pungsi lumbal

Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pungsi lumbal

dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis,

terutama pada pasein kejang demam pertama (Soetomenggolo,

1999). Pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk bayi kurang dari

12 bulan, bayi antara 12 - 18 bulan dianjurkan untuk dilakukan

dan bayi > 18 bulan tidak rutin dilakukan pungsi lumbal. Pada

kasus kejang demam hasil pemeriksaan ini tidak berhasil

(UKK Neurologi IDAI, 2006).

3) Elektroensefalografi (EEG)

Pemeriksaan ini tidak direkomendasikan setelah kejang

demam sederhana namun mungkin berguna untuk

mengevaluasi pasien kejang yang kompleks atau dengan faktor

risiko lain untuk epilepsi (Johnston, 2007). EEG pada kejang

demam dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah

belakang yang bilateral, sering asimetris dan kadang-kadang

unilateral (Soetomenggolo, 2000).

4) Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala)

Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed

tomography scan (CT-scan) atau magnetic resonance imaging

(MRI) jarang sekaldikerjakan dan dilakukan jika ada indikasi

seperti kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis)

atau kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefali,


spastisitas), terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial

(kesadaran menurun, muntah berulang, UUB membonjol,

paresis nervus VI, edema papil). (Saharso et al., 2009)

9. Penatalaksanaan Kejang Demam

a. Terapi farmakologi

Pada saat terjadinya kejang, obat yang paling cepat

diberikan untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang

diberikan secara intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,3-

0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau

dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal sebanyak 20 mg.

Obat yang dapat diberikan oleh orangtua atau di rumah adalah

diazepam rektal. Dosisnya sebanyak 0,5-0,75 mg/kg atau 5 mg

untuk anak dengan berat badan kurang daripada 10 kg dan 10 mg

untuk anak yang mempunyai berat badan lebih dari 10 kg. Selain

itu, diazepam rektal dengan dosis 5 mg dapat diberikan untuk anak

yang dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas

usia 3 tahun. Apabila kejangnya belum berhenti, pemberian

diapezem rektal dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang

sama dengan interval waktu 5 menit. Anak seharusnya dibawa ke

rumah sakit jika masih lagi berlangsungnya kejang, setelah 2 kali

pemberian diazepam rektal. Di rumah sakit dapat diberikan

diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg (UUK Neurologi

IDAI, 2006).
Jika kejang tetap belum berhenti, dapat diberikan fenitoin

secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/ kg/ kali dengan

kecepatan 1 mg/ kg/ menit atau kurang dari 50 mg/menit.

Sekiranya kejang sudah berhenti, dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/

kg/ hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Jika kejang

belum berhenti dengan pemberian fenitoin maka pasien harus

dirawat di ruang intensif. Setelah kejang telah berhenti, pemberian

obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam, apakah

kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya

(UUK Neurologi IDAI, 2006).

Seterusnya, terapi antipiretik tidak mencegah kejang

kekambuhan. Kedua parasetamol dan NSAID tidak mempunyai

manfaatnya untuk mengurangi kejadian kejang demam. Meskipun

mereka tidak mengurangi risiko kejang demam, antipiretik sering

digunakan untuk mengurangi demam dan memperbaiki kondisi

umum pasien. Dalam prakteknya, kita menggunakan metamizole

(dipirone), 10 sampai 25 mg/ kg/ dosis sampai empat dosis harian

(100 mg/ kg/ hari), parasetamol 10 sampai 15 mg/ kg/ dosis, juga

sampai empat dosis harian (sampai 2,6 g/hari) dan pada anak-anak

di atas usia enam bulan, diberikan ibuprofen sebanyak 5 sampai 10

mg/ kg/ dosis dalam tiga atau empat dosis terbagi (sampai 40 mg/

kg/ hari pada anak-anak dengan berat kurang dari 30 kg dan 1200

mg). (Siqueira, 2010)


Pengobatan jangka panjang atau rumatan hanya diberikan

jika kejang demam menunjukkan ciri-ciri berikut seperti kejang

berlangsung lebih dari 15 menit, kelainan neurologi yang nyata

sebelum atau selapas kejadian kejang misalnya hemiparesis,

paresis Todd, palsi serebal, retardasi mental dan hidrosefalus, dan

kejadian kejang fokal. Pengobatan rumat dipertimbangkan jika

kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam, kejang demam

terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan dan kejang demam

berlangsung lebih dari 4 kali per tahun. Obat untuk pengobatan

jangka panjang adalah fenobarbital (dosis 3-4 mg/ kgBB/ hari

dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/ kgBB/ hari

dibagi 2-3 dosis). Dengan pemberian obat ini, risiko berulangnya

kejang dapat diturunkan dan pengobatan ini diberikan selama 1

tahun bebas kejang, kemudian secara bertahap selama 1-2 bulan

(Saharso et al., 2009).

1) Pemberian obat pada saat kejang demam

a) Antipiretik

Antipiretik tidak terbukti mengurangi risiko kejang

demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa

antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis paracetamol adalah

10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4kali sehari dan tidak boleh

lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali, 3-4

kali sehari. Meskipun jarang, acetyl salicylicacid dapat


menyebabkan sindrom Reye, terutama pada anak kurang

dari 18 bulan, sehingga tidak dianjurkan (Rifqi, 2015).

b) Antikonvulsan

Diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB tiap 8 jam saat

demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30-

60% kasus, juga dengan diazepam rektal dosis 0,5

mg/kgBB tiap 8 jam pada suhu >38,5 °C Dosis tersebut

dapat menyebabkan ataksia, iritabel, dan sedasi cukup berat

pada 25-39% kasus. Phenobarbital, carbamazepine, dan

phenytoin saat demam tidak berguna untuk mencegah

kejang demam (Rifqi, 2015).

c) Pemberian Obat Rumatan

Obat rumatan diberikan hanya jika kejang demam

menunjukkan salah satu ciri sebagai berikut:

(1) Kejang lama dengan durasi >15 menit.

(2) Ada kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah

kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral

palsy, retardasi mental, dan hidrosefalus.

(3) Kejang Fokal

Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam

>15 menit merupakan indikasi pengobatan rumat.

Kelainan neurologis tidak nyata, misalnya

keterlambatan perkembangan ringan, bukan merupakan


indiksi pengobatan rumat. Kejang fokal atau fokal

menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai

fokus organik (Rifqi, 2015).

b. Terapi non-farmakologi

Tindakan pada saat kejang di rumah, (Ngastiyah, 2005,

Mahmood et al., 2011 dan Capovilla et al., 2009):

1. Baringkan pasein di tempat yang rata.

2. Singkirkan benda-benda yang ada di sekitar pasein.

3. Semua pakaian ketat yang mengganggu pernapasan harus

dibuka misalnya ikat pinggang.

4. Tidak memasukkan sesuatu banda ke dalam mulut anak.

5. Tidak memberikan obat atau cairan secara oral.

6. Jangan memaksa pembukaan mulut anak.

7. Monitor suhu tubuh.

8. Pemberikan kompres dingin dan antipiretik untuk menurunkan

suhu tubuh yang tinggi.

9. Posisi kepala seharusnya miring untuk mencegah aspirasi isi

lambung.

10. Usahakan jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan

oksigen.

11. Menghentikan kejang secepat mungkin dengan pemberian obat

antikonvulsan yaitu diazepam secara rektal.


Pengobatan kejang berkepanjangan di rumah sakit, (Capovilla et

al., 2009):\

1. Hilangkan obstruksi jalan napas.

2. Siapkan akses vena.

3. Monitor parameter vital (denyut jantung, frekuensi napas,

tekanan darah, SaO2).

4. Berikan oksigen, jika perlu (SaO2 <90%).

5. Mengadministrasikan bolus intravena diazepam dengan dosis

0,5 mg/kg pada kecepatan infus maksimal 5 mg/menit, dan

menangguhkan ketika kejang berhenti. Dosis ini dapat diulang

jika perlu, setelah 10 menit.

6. Memantau kelebihan elektrolit dan glukosa darah.

7. Jika kejang tidak berhenti, meminta saran seorang spesialis

(ahli anestesi, ahli saraf) untuk pengobatan.

10. Komplikasi Kejang Demam

Menurut Saharso, 2009 komplikasi yang dapat terjadi akibat dari

kejang demam anak antara lain :

a. Kejang Demam Berulang

Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada

lebih dari satu episode demam. Beberapa hal yang merupakan

faktor risiko berulangnya kejang demam yaitu:

1) Usia anak < 15 bulan pada saat kejang demem pertama

2) Riwayat kejang demam dalam keluarga


3) Riwayat kejang demam terjadi segera setelah mulai demam

4) Riwayat demem yang sering

5) Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks

b. Kerusakan Neuron Otak

Kejang demam berlangsung lama >15 menit biasanya

disertai dengan apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan

energi untuk kontraksi otot yang akhirnya menyebabkan

hipoksemia, hiperkepnia, asidosis laktat karena metabolisme

anaerobik, hipotensi arterial,denyut jantung yang tidak teratur,

serta suhu tubuh yang makin meningkat sejalan dengan

meningkatnya aktivitas otot sehingga meningkatkan metabolisme

otot. Proses di atas merupakan faktor penyebab terjadinya

kerusakan neuron otak selama berlangsung kejang lama. Faktor

terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan

sifoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbu

edema otak yang mengakibatkan kerusakan neuron otak.

c. Retardasi Mental

Retardasi mental terjadi akibat kerusakan otak yang poarah dan

tidak mendapatkan pengobatan yang ade kuat.

d. Epilepsi

Epilepsi terjadi karena kerusakan pada daerah medial lobus tempo

laris setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama.


Ada 3 faktor resik yang menyebabkan kejang dema epilsi

dikemudin hari, yaitu:

1) Riwayat epilsipada orang tua atau sodara kandung

2) Kelainan neurologis atau perkembamgan yang jelas sebelum

kejang demam pertama.

3) Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

Menurut American National Collaborative Perintal

Project,1,6% dari semua anak yang menderita kejang demam akan

berkembang menjadi epilsi, 10% dari semua anak yang mendertita

kejang demam yang mempunyai2 atau 3 fatorrisiko di atas akan

berkembang menjadi epilsi.

e. Hemiparesis

Hemiparesis yaitu kelumpuhan atau kelemahan otot-otot

lengan, tungkai serta wajah pada salah satu sisi tubuh. Biasanya

terjadi penderita yang mengalami kejang lama (kejang demam

kompleks). Mula-mulakelumpuhambersifat flaksid, setelah 2

minggu timbul sspasitas.

B. Anak

1. Definisi Anak

Menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 23

tahun 2002 tentang perlindungan anak, pasal 1 ayat 1, anak adalah

seorang yang belom berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak

yang masih dalam kandungan. World Health Organitation ( WHO)


(2013) menyatakan bahwa batasan usia anak adalah sejak anak di

dalam kandungan sampai usia 19 tahun. Anak adalah individu yang

rentan karena perkembangan kompleks yang terjadi di setiap tahap

masa kanak-kanak dan masa remaja. Lebih jauh, anak juga secara

fisiologis lebih rentan di bandingkan orang dewasa, dan memiliki

pengalaman terbatas yang memengaruhi pemahaman dan persepsi

mereka mengenai dunia (Slepin, 2006).

2. Kategori Usia Anak

Kategori usia menurut Departemen Kesehatan RI (2009) di bagi

menjadi beberapa kategori yaitu balita (0-5 tahun), masa kanak-kanak

(5-11 tahun). WHO (2014) mengkatagorikan anak yaitu infant

childhood (7-13) tahun.

3. Tumbuh Kembang Anak

Perkembangan individu dimulai sejak dalam kandungan

kemudian di lanjutkan ke 8 tahap mulai bayi (0-8 bulan), toddler (1,5-3

tahun), anak anak awal atau pra sekolah (3-6 tahun), sekolah (6-12

tahun), remaja (12-18tahun), dewasa muda (18-35 tahun), dewasa

tengah (35-65 tahun), dan tahap terahir yaitu dewasa ahir (>65 tahun)

(Wong, dkk, 2009).

Pertumbuhan fisik pada anak usia sekolah masih terus

berlangsung seperti, penambahan tinggi badan lebih cepat terjadi pada

perempuan dari pada pada laki-laki. Selain itu anak usia sekolah
terlihat lebih langsing daripada anak usia pra-sekolah karena terjadi

perubahan proporsi lemak pada tubuh (wong, 2008).

Perkembagan system pernapasan dan kardiovaskular anak usia

sekolah belom matang, anak memiliki tingkat metabolisme yang lebih

cepat yang memerlukan curah jantung lebih tinggi, pertikaran gas yang

lebih besar dan asupa cairan serta asupan kalori yang lebih tinggi per

kilogram berat badan di bandingkan orang dewasa hal ini

menyebabkan awitan penyakit pada anak sering kali mendadak dan

penurunan dapat berlangsung dengan cepat (Slepin, 2006).

C. Penggunaan Obat Secara Rasional (POR)

Penggunaan obat yang rasional menunjuk pada penggunaan obat

yang benar, sesuai, dan tepat. WHO memperkirakan bahwa lebih dari

setengah obat yang diresepkan, diberikan atau dijual secara tidak tepat ini

dapat berupa penggunaan berlebihan, penggunaan yang kurang dari

seharusnya, dan kesalahan dalam penggunaan obat resep ataupun tanpa

resep. Masalah-masalah yang sering timbul sebagai bentuk ketid

karasionalan penggunaan obat antaralain polifarmasi, penggunaan yang

berlebihan, dari antibotik dan injeksi, kegagalan untuk meresepkan obat

yang sesuai dengan panduan klinis, serta pengobatan sendiri yang tidak

tepat (WHO, 2010).

Penggunaan obat di sarana pelayanan kesalahan umumnya belum

rasional. Oleh karena itu, di perlukan adanya suatu promosi penggunaan

obat yang rasional dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi yang
efektif dan terus menerus yangb di berikan kepadasn tenaga kesehatan dan

masyarakat memalui berbagai media. Sasaran dari pengobatan yang

rasional ini adalah tercapainya penggunaan obat dalam jenis, bentuk,

sediaan, dosis, dan jumblah yang tepat disertai informasi yang benar,

lengkap, dan tidak menyesatkan (Kepmenkes RI Nomer 189/III/2006).

Berbagai kriteria telah di tetapkan untuk menentukan kerasionalan

penggunaan suatu obat. Menurut WHO, penggunaan oabat dikatakan

normal rasional bila pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan

klinisnya dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan nya, untuk jangka

waktu yang adekuat dan dengan biaya serendah mungkin bagi pasien dan

komunitasnya (WHO, 2010)

Batasan penggunaan obat rasionalan adalah bila memenuhi

beberapa kriteria antara lain (Depkes 2008). Kriteria penggunaan obat

yang rasional:

1. Tepat indikasi yaitu pemberian obat yang diberikan pada pasien harus

yang tepat bagi suatu penyakit sesuai dengan gajala yang timbul.

2. Tepat obat yaitu pemberian obat yang dipilih harus memiliki efek

terapi sesuai dengan penyakit.

3. Tepat dosis yaitu pemberian obat yang meliputi: dosis, jumblah, cara

waktu, dan lama pemberian obat harus tepat. Apabila satu dari 4 hal

tersebut tidak di penuhi menyebabkan efek terapi tidak tercapai.

4. Tepat jumblah

Jumblah obat yang di berikan harus dalam jumlah yang cukup.


5. Tepat cara pemberian

Cara pemberian obat yang tepat adalah Obat Antasida seharusnya di

kunyah dulu baru di telan. Demikian pula antibiotic tidak bolah di

campur dengan susu karna akan membentuk ikatan sehingga akan

menjadi tidak dapat diabsosrsi sehingga menurunkan efektifitasnya.

6. Tepat interval waktu pemberian.

Cara pemberian obat hendaknya di buat sederhan mungkin ddan

praktis agar mudah di taati oleh pasien. Makin sering frekuensi

pemberian obat perhari (misalnya 4x sehari) semakin rendah tingkat

ketaatan minu obat. Obat yang harus di minum 3x sehari harus di

artikan bahwa obat tersebut harus diminum dengan interval setiap 8

jam.

7. Tepat lama pemberian

Lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing-masing.

Untuk tuberculosis lama pemberian paling singkat adalah 6 bulan,

sedangkan untuk kusta paling singkat 6 bulan. Lama pemberian

kloramvenikol pada demam tifoid adalah 10-14 hari.

1) Tepat pasien yaitu pemilihan obat yang di berikan sesuai dengan

kondisi pasien dengan memperhatikan kontraindikasi obat.


D. Kerangka Teori

Kejang Demam

Klasifikasi Kejang Deman Karakteristik Pasien


Pengobatan Kejang Demam
1. Kejang Demam 1. Jenis Kelamin
1. Antipiretik
Sederhana 2. Usia
2. Antikonvulsan
2. Kejang Demam
Kompleks

metodeEvaluasi (Depkes, 2008)


1. Tepat Indikasi
2. Tepat Obat
3. Tepat Pasien
4. Tepat Dosis

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Kerangka Teori Dimodifikasi dari Beberapa Literatur

Sumber : (Sahart, Depkes)


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah hubungan atau kaitan antara

konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara variabel yang satu dengan

variabel lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo,2012).

Variabel Independent Variabel Dependent

1. Karakteristik
Penderita kejang
demam :
a. Usia
b. Jenis Kelamin Pasien Kejang Demam
2. Peresepan Obat Pada Anak di Instalasi
kejang demam :
a. golongan obat Rawat Inap
b. jenis obat
3. Kerasionalan obat
Kejang Demam :
a. Tepat Indikasi
b. Tepat Obat
c. Tepat Pasien
d. Tepat Dosis

Gambar 3.1 Kerangkan Konsep


B. Variabel Penelitian

Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota

suatu kelompok yangberbeda dengan yang dimiliki kelompok lain

(Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Variabel

yang digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan menjadi:

1. Variabel Independent atau bebas

Variabel bebas merupakan suatu variabel yang mempengaruhi atau

menjadi sebab timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2010). Variabel

bebas pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Karakteristik Penderita

1) Usia

2) Jenis Kelamin

b. Peresepan Obat Kejang Demam

c. Kerasionalan obat

1) Tepat Indikasi

2) Tepat Obat

3) Tepat Pasien

4) Tepat Dosis

2. Variabel Dependent atau terikat

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat karenaadanya variabel bebas (Sugiyono, 2006:3).

Variabel terikat pada penelitian ini adalah Pasien Kejang Demam Pada
Anak di Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Asshobirin periode

januari-desember 2017.

C. Definisi Oprasional

Tabel 3.1
Definisi Operasional
Variabel Definisi Parameter &Kategori Alat Ukur Skala
Operasional Pengukuran

Variabel Independent
1. Karakteristik penderita
a. Usia Usia 1. 0-1 bulan Lembar Nominal
merupakan (neonatus) Observasi
umur 2. 1 bulan -2 tahun
seseorang (bayi)
yang dilihat 3. 2-12 tahun
dari tanggal (anak)
lahir yang 4. 12-18 tahun
tertera pada (remaja)
data rekam 5. >18 tahun
medis (dewasa)
pasien yang
terkena
kejang
demam
b. Jenis kelamin Perbedaan 1. perempuan Lembar Nominal
biologis 2. laki-laki Observasi
pasien

2. pola peresepan
a. golongan obat Golongan obat 1. Ada Lembar nominal
yang digunakan 2. Tidak ada Observasi
Data
b. jenis obat Jenis obat yang 1. Rasional Lembar Nominal
digunakan 2. Tidak Observasi
Rasional
3. Rasionalitas
a. Tepat Indikasi Indikasi obat 1. Rasional Lembar Ordinal
yang diberikan 2. Tidak Observasi
Sesuai kondisi Rasional
pasien.
b. Tepat Obat Obat yang 1. Rasional Lembar Ordinal
diberikan sesuai 2. Tidak Observasi
kondisi pasien Rasional

Pasien yang 1. Rasional Lembar Ordinal


c. Tepat Pasien menerima obat 2. Tidak Observasi
sesuai dengan Rasional
melihat kontra
indikasi obat
tersebut.
d. Tepat Dosis Dosis yang 1. Rasional Lembar Rasio
(jumlah, cara diberikan sesuai 2. Tidak Observasi
pemberian, dengan pustaka Rasional
interval waktu maupun
pemberian, literatur.
waktu
pemberian

Variabel Dependent
Kejang Demam Penyakit yang 1. Bayi Lembar Nominal
menyerang (0-1 tahun) Observasi
sistem susunan 2. Balita (>1-
saraf pusat pada 2 tahun)
anak umur 0-7 3. Anak (>2-7
tahun tahun)

D. Ruang Lingkup Penelitian Tepat dan Waktu

1. Tepat Penelitian

Penelitian ini di lakukan di Instalasi Rawat Inap dan Rekam Medik

Rumah Sakit Islam Assobirin.

2. Waktu Penelitian

Dilaksanakan pada 16 April 2018 – 20 Mei 2018.


E. Rancangan Penelitian

1. Jenis Penelitian

Desain ini merupakan rancangan penelitian yang disusun

sedemikian rupa sehingga dapat menuntun peneliti yang dapat

memperoleh jawaban terhadap pertanyaan peneliti (Sudigdo, 2011).

Desain penelitian yang di gunakan adalah penelitian

Deskriptif dengan pendekatan Retrospektif, Retrospektif merupakan

penelitian yang berusaha melihat ke belakang (backward looking).

Artinya pengumpulan data dari rekam medis dengan diagnosa kejang

demam pada anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Islam

Assobirin, selama periode Januari – Desember 2017.

Rancangan penelitian ini dengan menggunakan pedekatan

Cross Sectional. Menurut Notoatmodjo (2010) Cross Sectional yaitu

suatu penelitian untuk mepelajari dinamika korelasi antara faktor-

faktor resiko dengan efek, cara pendekatan, observasi atau

pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).

2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek yang di teliti

(Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah semua

data rekam medis dan resep pasien kejang demam pada Anak yang

menggunakan obat-obatan kejang demam yang menjalani Rawat


Inap di Rumah Sakit Islam Assobirin dari bulan Januari –

Desember 2017.

a. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan di

teliti. Sampel penelitian ini adalah resep yang mengandung obat

kejang demam di Rumah Sakit Islam Assobirin.

Besar sampel menggunakan rumus Slovin sebagai berikut :

n= N

1 + Ne2

Sampel yang dipilih adalah sampel yang memenuhi kriteria

inklusi yaitu :

a) Pasien dengan diagnosa kejang demam.

b) Pasien yang mendapatkan obat-obat kejang demam.

c) Subjek penelitian adalah anak-anak 0-7 tahun.

d) Pasien dengan data rekam medik lengkap dan

terbaca.

e) Pasien rawat Inap di Rumah Sakit Islam Assobirin.

b. Teknik sampling

Pengumpulan data secara retrospektif dari resume

rekam medik pasien anak dengan penyakit kejang demam di

Instalasi Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Assobirin selama

tahun 2017 dengan menggunakan teknik Kuota sampling yaitu

tekik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri


tertentu sampai jumlah yang di kehendaki atau pengambilan

sampel yang di dasarkan pada pertimbangan-pertimbangan

tertentu dari peneliti (Akdon,2008).

Teknik sampling suatu cara-cara yang di tempuh

dalam pengambilan sampel agar memperoleh sampel yang

benar-benar sesuai dengan keseluruhan obyek penelitian

(Notoatmojo, 2012). Untuk menentukan sampel peneliti

menggunakan non probability sampling dengan metode total

sampling. Total sampling adalah teknik pengambilan sampel

dimana jumlah sampel sama dengan populasi, jumlah populasi

yang kurang dari 100 seluruh populasi seluruh populasi

dijadikan sampel penelitian semua (Sugiyono, 2007).

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah

dengan mengumpulkan resep yang mengandung obat kejang

demam yang telah di layani dari bulan 18 Mei 2018 – 1 Juni 2018,

kemudian resep di cocokan dengan data rekam mediknya. Setelah

data diperoleh, data dibuat dalam bentuk tabel kemudian dianalisa.

4. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat ukur atau alat

pengumpulan data (Notoatmojo, 2010) instrument dalam penelitian

di rumah sakit Islam Assh obiirin adalah catatan rekam medis

pasien anak Rawat Inap dengan penyakit kejang demam. Alat ukur
yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar ceklis dan

formulir profil pengobatan pasien anak yang berisikan karakteristik

penderita dan kerasionalan pasien anak kejang demam.

5. Pengolahan Data dan Analisis Data

Analisis data kualitatif penggunaan obat asma pada pasien

dewasa dianalisis secara deskriptif dengan pengambilan data dari

catatan rekam medik untuk memperoleh informasi anatara lain :

jenis kelamin, usia, diagnosa serta dievaluasi ketetapan pemilihan

obat kejang demam berdasarkan tepat indikasi, tepat obat, tepat

pasien dan tepat dosis.