Vous êtes sur la page 1sur 9

BAB I

PENDAHULUAN

Peripheral Arterial Disease (PAD) merupakan kondisi yang ditandai adanya penyempitan
arteri perifer akibat proses aterosklerosis dan umumnya terjadi pada arteri di kaki
(Chesbro et al, 2011). Pasien dengan PAD berisiko tiga sampai empat kali terkena penyakit
kardiovaskuler dibandingkan pasien tanpa PAD (Dachun et al, 2010). PAD umumnya
tidak terdiagnosis dan kurang mendapat perawatan optimal. Hanya 40% pasien mengalami
gelaja ini dan hanya 1/3 nya yang melaporkan gejalanya pada dokter (O’Donnell et al,2011).
Gejala klasik dari PAD ini yaitu klaudikasio intermiten, pasien umumnya mengeluh nyeri
saat beraktifitas dan nyeri berkurang jika beristirahat. Salah satu cara yang dilakukan untuk
mendeteksi adanya PAD yaitu melalui pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI).
Pemeriksaan ABI merupakan gold standard pengukuran noninvasive untuk deteksi PAD dan
direkomendasikan sebagai bagian dari pengkajian individu yang berisiko terhadap penyakit
tersebut (Migliacci, 2008). Jika pasien memiliki nilai ABI normal, namun gejala klinis
menunjukkan adanya klaudikasio intermitten, maka pemeriksaan ABI post exercise harus
dilakukan (Cassar, 2006 dan Stein, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Langen dkk (2009)
juga menyebutkan pemeriksaan ABI post exercise lebih reliabel dan mampu secara objektif
dalam diagnosis pasien intermitten claudikasio. Ketidaktepatan dalam diagnosis PAD
mengakibatkan ketidakadekuatan penanganan PAD dan hal ini dapat mengakibatkan kodisi
yang serius seperti amputasi, gangguan kapasitas fungsional, kualitas hidup dan depresi.
SOP ABI

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 7
Boby Gea (160204018)
Marlina Sinaga (160204042)
Hendi Lumban Gaol (160204015)
Fanny Fadillah (160204065)
Ayu Sastya (160204071)
Jon Carlos (160204178)

DOSEN PENGAJAR :
Ns. Agnes Marbun, S.Kep, M.Kep

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karunia dan rahmat-Nya ,
sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Keperawatan Medikal Bedah II” yang akan membantu dalam menambah pengetahuan
mahasiswa. Dan terima kasih kepada bapak dosen pengajar kami yang telah mengajari kami.

Dalam menyelesaikan makalah ini, kami sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan,
karena kami masih tahap belajar dan kurangnya keterbatasan pengetahuan kami. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, atas bantuan serta dukungan dan doa nya.

Medan, 01 April 2018

Kelompok 7
DAFTAR PUSTAKA

1. PERKENI, 2007.Konsensus Penatalaksanaan DM Indonesia


2. Smeltzer, Bare, 2002. Medical Surgical Nursing.Philadelphia:Mosby comp
3. Suyono, Slamet., dkk. 2007. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu: sebagai
panduan penatalaksanaan diabetes melitus bagi dokter dan edokator. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
4. Tjokroprawiro, Askandar. 1996. Diabetes Mellitus, Klasifikasi, Diagnosis, dan
Terapi. Ed. 3. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Prosedur Pemeriksaan Angkle Brachial Index

1.1 Tujuan Pembelajaran : Setelah mengikuti proses pembelajaran tentang Pemeriksaan ABI
mahasiswa mampu melakukan prosedur Pemeriksaan ABI dengan benar dan tepat

1.2 Deskripsi : Memberikan Pemeriksaan ABI secara manual dengan membandingkan


tekanan sistolik di angkle dan tekanan sistolik di brachial.

1.3 Tujuan : Menurunkan mengetahui derajat perfusi ke jaringan kaki

1.4 Indikasi & Kontraindikasi :

 Indikasi : Terdapat gejala claudikasio


Diabetes Melitus
Riwayat ulkus diabetik
 Kontraindikasi : Penurunan Kesadaran

1.5 Konsep Yang Mendasari :

Komplikasi DM yang sering terjadi adalah Ulkus Diabetik. Terdapat beberapa alat
pengkajian kaki yang dapat digunakan oleh perawat untuk menilai kondisi kaki klien DM.
Kriteria PEDIS adalah salah satu criteria yang dapat digunakan. PEDIS adalah akronim dari
Perfusi, Extent, Depth, Infeksi dan Sensasi. Perfusi menilai hal-hal sebagai berikut:

 Perabaan kaki dingin


 Sianosiss
 Kebiruan/iskemik
 Nyeri saat istirahat
 Klaudikasio
 Pemeriksaan Doppler Sonografi
1. Palpasi (Kuat/lemah/hilang) dan TD SIstolik Arteri Dorsalis Pedis (ka/ki)
2. Palpasi (Kuat/lemah/hilang) dan TD sistolik Arteri Tibialis Posterior (ka/ki)
3. TD sistolik Arteri Brakhialis

ABI (ANKLE/BRACHIAL INDEKS)

keterangan:

 Grade 1 : Arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior masih teraba kuat;
ABI > 0,9. à Tidak ada keluhan atau gejala periferal arterial disease (PAD
 Grade 2 : ABI = 0,9 dengan tekanan darah sistolik pada arteri dorsalis pedis
>50 mmHg Grade 3; Tekanan sistolik arteri dorsalis pedis
1.6 Alat Yang Dibutuhkan :

 Alat steril : -
 Alat tidak steril:
1. Dopler vaskuler
2. Jelly
3. Kassa/tissue
4. Shygmomanometer
5. Bengkok
6. Sampiran
7. Alat tulis
Standar Operasional Prosedur

PENGKAJIAN

1. Kaji adanya riwayat DM, lama menderita


2. DM Kaji adanya keluhan kaki diabetik

PERSIAPAN

Persiapan Alat : kelengkapan sesuai kebutuhan pemeriksaan

1. Dopler vaskuler
2. Jelly
3. Kassa/tissue
4. Sphygmomanometer
5. Bengkok
6. Sampiran
7. Alat tulis

Persiapan Klien :

1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri


2. Menjelaskan tujuan pemeriksaan
3. Menjelaskan prosedur pemeriksaan dan kerjasama yang dibutuhkan
4. Menjaga privasi klien
5. Memposisikan klien senyaman mungkin

Persiapan Lingkungan :

1. Lingkungan yang tenang akan memudahkan pemeriksa mendengar bunyi sistolik


2. Penerangan lampu yang cukup

PELAKSANAAN

1. Pasang manset sphygmomanometer pada pergelangan kaki dengan tepat


2. Cek arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis posterior/anterior
3. Dengan menggunakan 2 atau 3 jari, lakukan iklusi pada jari paling distal pemeriksa,
kemudian rasakan kekuatan denyut nadi pasien.
4. Berikan jelly secukupnya pada area yang teraba denyut arteri
5. Pasang dopler dan dengarkan denyut arteri
6. Pompa sphygmomanometer sampai suara menghilang
7. Tambahkan tekanan 20 mmHg
8. Turunkan perlahan-lahan tekanan sphygmomanometer sambil dengarkan bunyi
denyutan yang pertama sebagai tekanan systolic ankle
9. Lakukan pemeriksaan systolic arteri brachial seperti pemeriksaan arteri dorsalis pedis
sebelumnya

10. Hitung ABI Angka sistolik di angkle sebagai pembilang dan angka sistolik sebagai
penyebut.
11. Rapikan alat-alat dan klien

EVALUASI

1. Respon klien selama dan setelah tindakan


2. Kenyamanan klien

DOKUMENTASI

1. Mencatat semua tindakan yang dilakukan dan respon klien selama tindakan dan
kondisi setelah tindakan
2. Mencatat dengan jelas, mudah dibaca, ditandatangani disertai nama jelas
3. Tulisan yang salah tidak dihapus tetapi dicoret dengan disertai paraf Catatan dibuat
dengan menggunak ballpoint atau tinta.
BAB III

KESIMPULAN

Pengukuran ABI post exercise lebih objektif untuk diagnosis PAD pada pasien dengan
keluhan klaudikasio intermiten atau suspek PAD dan peneliti merekomendasikan agar
pemeriksaan ABI post exercise ini dapat dijadikan Protap pada masing-masing instutusi/RS
pada pasien dengan keluhan nyeri klaudikasio intermiten.