Vous êtes sur la page 1sur 9

JOURNAL READING

FOLIC ACID AND ACUTE DIARRHEA IN CHILDREN


Diajukan guna melengkapi tugas Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah dr.Soedjati Purwodadi

Disusun oleh:
Pratiwi Novianita Zuhri
30101307040

Pembimbing:
dr.Agustinawati Ulfah, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2017

1
ASAM FOLAT DAN DIARE AKUT PADA BALITA
Ade Amelia, Atan Baas Sinuhaji, Supriatmo

Abstrak
Latar Belakang Diare telah menjadi masalah kesehatan pada anak balita. Meskipun
angka kematian akibat diare akut telah menurun di seluruh dunia, angka kematian
meningkat di negara-negara berkembang, seperti di indonesia.
Objektif Untuk menilai efek asam folat dalam mengurangi keparahan diare akut pada
anak-anak.
Metode penelitian ini adalah single blind, dengan randomized control trial pada anak-
anak dengan diare yang berusia enam bulan sampai lima tahun di sebuah klinik
pemerintah daerah di Kabupaten Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera
Utara dari Agustus 2009 sampai Januari 2010. Subjek direkrut secara berturut-turut
kemudian diacak menjadi dua kelompok. Pada 112 anak yang berpartisipasi, 56 anak
mendapat plasebo, 1 kapsul per hari selama lima hari. Penggunaan analisis statistik
adalah uji T-test independen dan chi square dengan interval kepercayaan 95% (95%
CI) dan nilai P <0,05 dianggap signifikan secara statistik.
Hasil Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok asam folat dan plasebo berkaitan
dengan konsistensi tinja (P = 0,02), volume diare pada hari kedua [147.52 vs 303.21 mL,
masing-masing, (P = 0,001)], frekuensi diare pada hari ketiga [1.9 vs 2.8 episode,
masing-masing, (P = 0,001)], durasi terapi awal terhadap pemulihan [ 91,3 vs 117,9
jam, masing-masing, (P = 0,001) dan durasi total antara gejala awal dan pemulihan
[123,6 vs 147,4 jam, masing-masing, (P = 0,001)].
Kesimpulan Asam folat oral secara klinis bermanfaat untuk mengurangi keparahan
diare akut pada anak-anak dibawah lima tahun.

Diare didefinisikan sebagai pertambahan volume dan berairnya feses,


perubahan konsistensi, dan peningkatan frekuensi defekasi. Diare akut adalah
penyebab tersering dari terjadinya penyakit diare memiliki onset mendadak, biasanya
sembuh dalam 14 hari dan mungkin disertai dengan muntah, nausea, nyeri perut,
gejala sistemik dan malnutrisi.
Diare menjadi penyebab tersering morbiditas dan mortalitas pada anak di
negara berkembang dan penyebab penting malnutrisi. Angka mortalitas anak usia
kurang dari 5 tahun yang menderita diare akut telah turun dari 4,5 juta kematian setiap
tahunnya pada tahun 1979 menjadi 1,6 juta kematian pada tahun 2002, diare akut
terus berlanjut dengan jumlah korban yang tinggi pada anak-anak pada negara
berkembang. Viral patogen adalah jumlah tersering yang menyebabkan infeksi diare

2
akut pada anak yaitu sekitar 70% dengan rotavirus yang paling sering. Penelitian
prospektif case control selama kurang lebih dua tahun di Denmark menunjukkan
bahwa patogen tersering yang menyerang anak usia kurang dari 5 tahun adalah
rotavirus.
Manajemen terpenting dari diare akut pada infan dan anak adalah berfokus
pada terapi rehidrasi oral untuk memperbaiki dehidrasi dan perbaikan nutrisi selama
dan sesudah terkena diare. Saat terapi rehidrasi oral dilakukan untuk mengurangi
durasi dari diare, penggunaan obat adalah penting, terutama pada negara berkembang.
Asam folat terbukti mengurangi keparahan gejala dari diare akut. Rotavirus Rotavirus
merusak sel-sel penyerapan di ujung villi usus kecil, sel-sel ini kemudian diganti
dengan sel yang bermigrasi dari crypts Liberkuhn. Asam folat adalah kunci utama
pada sintesis DNA dan membantu regenerasi dari epitel pada mukosa usus halus
dengan cara mempercepat generalisasi dari cell yang rusak.
Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai efek dari asam folat dalam
mengurangi keparahan diare akut pada anak-anak.

METODE
Studi ini menggunakan single-blind, randomized controlled trial di Kecamatan
Secanggang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara dari bulan Agustus 2009
hingga bulan Januari 2010. Kriteria inklusi yang digunakan adalah semua anak
berusia 6 bulan hingga 5 tahun dengan diare akut. Anak dengan gejala dehidrasi berat,
kolera, anak yang mendapatkan asam folat sebelumnya, dan mereka yang menderita
penyakit lainnya (malnutrisi, encephalitis, meningitis, sepsis, bronchopneumonia dan
tuberkulosis) dimasukkan kedalam kriteria eksklusi. Semua partisipan diberikan
informed concent kepada orang tuanya, yang telah disetujui oleh komite etik
penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
WHO mendefinisikan diare dengan buang air besar 3 kali atau lebih dalam
sehari dengan konsistensi lunak atau cair (atau lebih sering daripada yang biasa bagi
individu). Kesembuhan dari diare ditentukan dari frekuensi buang air besar kurang
dari 3 kali sehari, konsistensi yang menjadi normal dan volume feses yang normal
(kurang dari 200 ml per hari), selama 48 jam.
Selama perekrutan subjek berdasarkan standart yang ditentukan melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ditunjukkan oleh pemeriksa. Segera setelah
masuk ke ruang belajar, anak-anak di acak untuk menerima 5mg asam folat atau
3
placebo selama 24 jam dalam 5 hari. Studi ini melibatkan 56 subjek dalam tiap grup.
Asam folat dan placebo diidentitaskan dari tampilan dan pembungkusan pada
kontainer. Subjek juga diberikan terapi rehidrasi menurut pada aturan WHO dengan
cairan rehidrasi oral.
Setelah mendapatkan izin penelitian, subjek diukur frekuensi dan volume
diare, konsistensi feses, dan durasi dari diare saat dan setelah menerima terapi. Semua
balita diisolasi selama studi ini berlangsung selama 5 hari.
Efek dari asam folat dan placebo pada frekuensi buang air besar, serta durasi
diare akan dinilai mengunakan independent T-Test. Efek dari konsistensi feses akan
dilakukan uji Chi-Square test. Hasil akan dipertimbangkan untuk dilakukan uji
statistik, signifikan bila nilai P < 0,05 dengan 95% convidence intervals (95%CI)

HASIL

123 anak dengan diare akut mengunjungi klinik. 11 anak tereksklusi karena
menderita malnutrisi (8 anak), gejala dehidrasi (1 anak) dan penolakan orang tua (2
anak). Sebanyak 112 subjek terdaftar dan secara acak untuk menerima asam folat 5mg
(n=56) atau placebo (n=56) dosis per hari selama 5 hari.
Karakteristik dasar ditunjukkan pada Tabel 1. Usia rata – rata pada subjek
yang menerima asam folat dan placebo adalah 22,6 bulan dan 25,6 bulan. Jenis
kelamin tercantumkan dan rasio berat badan terukur berdasarkan status nutisional.
Subjek dinilai untuk tingkat keparahan diare akut sebelum perawatan. Tidak
ada perbedaan statistik yang signifikan antara pemberian asam folat maupun
kelompok placebo untuk frekuensi diare dalam waktu 24 jam pertama (5,6 vs 5 kali,
masing-masing) volume feses (72,7 vs 79,3 mL,masing-masing), konsistensi cair (46
vs 48 subjek,masing-masing) , durasi diare (32 vs 29,6 masing-masing), dan tanpa
dehidrasi (44 vs 42 subjek, masing-masing).
Tingkat keparahan diare pada kedua kelompok diukur setelah 5 hari
pengobatan. Gambar 2 menunjukkan perbedaan signifikan dari terapi frekuensi diare
antara asam folat dan placebo terjadi pada hari ketiga saat terapi [1,9 vs 2,8 kali per
hari, masing-masing, (P=,001)] hingga hari kelima terapi.
Konsistensi feses tiap episode selama pemberian terapi juga dilakukan
penilaian. Diawali pada hari kedua terapi, lebih sedikit anak pada kelompok asam

4
folat dengan diare cair dibandingkan dengan kelompok placebo dan dilanjutkan
hingga hari kelima terapi (Tabel 2).
Pada hari kedua terapi, volume feses secara signifikan berkurang pada
kelompok asam folat dibandingkan kelompok placebo [147,5 vs 217,5 mL,masing-
masing, (P=0,001)]. Perbedaan signifikan ini dilanjutkan hingga hari kelima. Gambar
3.

5
Durasi diare dari diare akut dinilai dikedua kelompok. Kami menilai
kesembuhan dari diare akut dengan dua cara, yaitu waktu pemulihan dan waktu sejak
awal gejala hingga sembuh pada kelompok asam folat lebih rendah secara signifikan
dari placebo [91,3 vs 117,9 jam, masing-masing, (P=0,001)]. Durasi diare akut dari
hari pertama hingga sembuh juga berbeda didapatkan signifikansi lebih rendah pada
kelompok asam folat dibandingkan dengan kelompok placebo, dengan rata-rata waktu
penyembuhan [123,6 vs 147,4 jam, msing-masing, (P=0,001)]. Tabel 3

6
DISKUSI

Pada studi ini, kami merekrut subjek dengan diare. Rata – rata subjek
mengalami frekuensi diare 5,3 kali dalam 24 jam, konsistensi cair dan lunak, dengan
rata-rata volume tinja76 ml per kali, dan durasi rata-rata diare selama 30,8 jam.
Subjek adalah anak-anak usia 6 – 60 bulan, dengan usia rata-rata 24,1 bulan, anak
kurang dari 6 bulan di eksklusi karena masih membutuhkan ASI eksklusif. Status
dehidrasi juga diperiksa dan diobati mengacu pada acuan WHO, namun kebanyakan
subjek tidak dehidrasi.
Pada negara berkembang, diare merupakan satu dari penyebab utama
morbiditas dan mortalitas pada balita dengan rata – rata episode diare pada anak 3,2
pertahun. 21% kematian anak-anak pada balita pada negara ini berhubungan dengan
diare, 2,5 juta meninggal per tahun.

7
Kurangnya ASI eksklusif, terapi rehidrasi tidak tepat, malnutrisi berat,
seringnya muntah dan diare, status sosial ekonomi yang rendah, dan adanya infeksi
mayor yang terkait dengan faktor resiko pada perkembangan dehidrasi pada anak
dengan diare. Meskipun, beberapa penelitian mempunyai penilaian sistematik peran
mikoorganisme yang spesifik pada etiologi diare dengan dehidrasi. Banyak perbedaan
patogen, termasuk bakteri, virus, dan parasit yang menjadi penyebab diare.
Walaupun studi ini tidak dapat menemukan mikroorganisme yang
menyebabkan diare, rotavirus telah dikenal sebagai penyebab dari diare akut pada
balita di negara berkembang maupun negara maju. Usia puncak infeksi diantara 6
bulan hingga 2 tahun, dan penyebaran bisa melalui fekal oral maupun respirasi.
Sebuah studi dari Lima, Peru pada anak dibawah 5 tahun dengan diare rotavirus, 52%
rawat inap dan 35% rawat jalan [(OR=2,3%)] dan 95% dari rotavirus diantara pasien
rawat inap adalah serotipe G1-G4. Pada wabah diare akut yang dilaporkan di Kupang,
Nusa Tenggara, Indonesia pada bulan Agustus 2002, rotavirus ditemukan sebagai
agen etiologi, dengan serotipe 1 medominasi. Dicurigai kausa dari diare akut adalah
rotavirus karena subjek terdiri dari anak usia 6 bulan sampai 60 bulan.
Hasil dari Afrika Selatan menunjukkan bahwa asam folat oral signifikan
mengurangi durasi dari diare akut pada anak. Asam folat, vitamin larut air, simpel,
murah, dan relatif aman untuk manusia. Pada infeksi rotavirus, penyebab tersering
pada kasus diare cair akut anak, sel-sel absorsi vili usus kecil dirusak dan digantikan
oleh sel epitel migrasi dari kripte Lieberkuhn. Folat memiliki peran kunci dalam
sintesis DNA dan membantu pembaharuan sel ephitelial dengan mempercepat
regenerasi normal sel yang rusak.
Folat adalah istilah generik untuk vitamin yang berfungsi secara
koenzimmatik dalam transfer dan pemrosesan salah satu unit karbon untuk remetilasi
homocysteine menjadi generatemethionine, sintesis timidilat dan
purin dan pembentukan kelompok metil yang dibutuhkan untuk beberapa reaksi
biologis. Ketersediaan hayati folat sebagian besar diatur oleh tingkat penyerapan usus.
Polyglutamyl folat merupakan folat alami yang terdapat dimakanan, harus menjalani
dekonjugasi enzimatik di usus kecil sebelum penyerapan. Reaksi ini dikatalisis
terutama oleh hidrolase pteroylpolyglutamate yang terkait dengan membran
perbatasan sikat jejunum, dengan kemungkinan kontribusi aktivitas hidrolase dari
sekresi pankreas. Absorbsi dari monoglutamil folat terjadi melalui proses
pengangkutan jenuh dalam pH asam optimal. Mekanisme penyerapan nonsaturabel
8
juga berfungsi saat konsentrasi folat dalam kandungan usus melebihi 5-10 mmol.
Karena adanya dua proses penyerapan, menemukan bioavailibilitas folat pada tingkat
dosis tertentu mungkin tidak dapat memprediksi bioavailibilitas pada asupan yang
jauh lebih tinggi atau lebih rendah. Efektivitas asam folat untuk mengobati diare tidak
jelas. Penelitian di Bangladesh melaporkan bahwa terapi asam folat tidak memberikan
manfaat pada infan dan balita, hanya sebagai terapi diare cair akut. Namun, studi itu
dipatahkan oleh studi ini bahwa asam folat bermanfaat untuk pengobatan diare cair
akut pada anak usia 6 bulan sampai 60 bulan. Pemberian asam folat dengan dosis oral
3x5mg perhari selama 5 hari mengurangi frekuensi, volume, dan durasi diare cair akut
hingga sembuh.
Studi yang dilakukan di Bangladesh pada anak laki – laki usia 6 – 23 bulan
dengan riwayat diare cair akut kurang dari 72 jam dengan gejala lain yaitu dehidrasi.
Hal ini berbeda dengan studi ini dimana dilakukan pada usia 6 – 60 bulan termasuk
perempuan, dan beberapa perbedaan status ekonomi. Diare akut tanpa pengobatan
umumnya akan sembuh dalam waktu 7 hingga 10 hari tanpa pengobatan. Namun
karena durasi rata – rata diare dari gejala inisial adalah 5 hari pada grup asam folat,
maka dapat diobservasi selama 5 hari dan lebih singkat.
Kesimpulan, studi ini menunjukkan bahwa asam folat memberikan tambahan
cairan dan elektrolit terapi dibutuhkan, serta beberapa terapi tambahan bermanfaat
untuk infan dan balita dengan diare cair akut.