Vous êtes sur la page 1sur 14

No.

01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

STUDI KETIDAKPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAPAI KECAMATAN NGAPA KABUPATEN
KOLAKA UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2010

Arfandi, Muh. Syafar, Mappeaty Nyorong

Abstrak

Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan
masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Indonesia menempati urutan
kelima setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria dalam masalah Tb Paru di dunia.
Tingginya jumlah tersebut berkaitan dengan masalah penanggulangan Tb yang sangat
kompleks. Salahsatu masalah yang krusial yaitu rendahnya tingkat kepatuhan penderita
terhadap pengobatan, dilain pihak kepatuhan merupakan faktor determinan untuk
menentukan keberhasilan pengobatan Tb. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan adalah
suatu hal yang sangat problematis karena melibatkan begitu banyak faktor yang
mempengaruhinya seperti kondisi psikologis, persepsi, motivasi, dan sebagainya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor intrinsik dan ekstrinsik
ketidakpatuhan berobat terhadap penderita Tb di Wilayah kerja Puskesmas Lapai
Kecamatan Ngapa Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Tahun 2010. Jenis
penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan rancangan
fenomenologi. Penentuan informan dengan menggunakan kriteria informan. Sehingga
diperoleh jumlah informan sebanyak 8 orang. Pengumpulan data/informasi berupa
wawancara, dan untuk keabsahan data dilakukan triangulasi data dan metode. Proses
wawancara dilakukan dengan melibatkan petugas kesehatan untuk mengenalkan peneliti
dengan informan penderita Tb dan PMO. Pengolahan dan analisis data menggunakan
analisis isi (Content Analysis) dan disajikan dalam bentuk naratif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor intrinsik yaitu pengetahuan pengalaman
(efek samping obat yang dirasakan, OAT yang tidak ada). Serta faktor ekstrinsik yaitu
peran Pengawas Minum Obat (PMO) dan aksessibilitas pelayanan kesehatan karena faktor
pekerjaan atau kesibukan.

Abstract

Tuberculosis is a communicable infectious disease that still remains a public health


problem in the world including the Indonesia. Indonesia ranks fifth after India, China,
South Africa and Nigeria in pulmonary Tb problem in the world. The high number is
related to the problem of handling a very complex Tb. One of the crucial problem is the
low level of patient compliance to treatment, compliance on the other hand is the
determinant factor to determine the success of TB treatment. Compliance to treatment is a
matter that is very problematic because it involves so many factors that influence it, such as
psychological conditions, perception, motivation, and so forth.
This study aims to determine the intrinsic and extrinsic factors on patient
medication compliance Tb in Puskesmas working area Lapai Ngapa Kolaka North District,
Southeast Sulawesi in 2010. This type of research is qualitative research design with
phenomenology. Determination of informants using the criteria of informers. Thus obtained
the number of informants as many as 8 people. The collection of data / information in the
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

form of interviews, and for the validity of data was triangulation of data and methods. The
process involves interviews conducted with health workers to acquaint researchers with the
informant Tb patients and PMO. Processing and analysis of data using content analysis and
presented in narrative form.
Results showed that intrinsic factor is the knowledge of experience (perceived
drug side effects, which do not exist Anti-Tuberculosis Drugs). As well as extrinsic factors
namely the role of Supervisory Drinking Drugs (PMO) and accessibility of health services
because of work or activity.

Keywords: non-compliance treatment - patient perception - pulmonary tuberculosis.


Reading list: 31 (1992 - 2010)

Pendahuluan Angka penjaringan suspek TB di


Penyakit Tuberkulosis adalah Sulawesi Tenggara tahun 2009 – 2010
penyakit infeksi menular yang masih tetap untuk triwulan I turun dari 291 kasus
merupakan masalah kesehatan masyarakat menjadi 272 kasus dengan trend 19 kasus
di dunia termasuk Indonesia. Laporan per 100.000 penduduk (Gerdunas TB, 2009)
World Healt Organization (WHO) pada Database Kesehatan Per Kabupaten
tahun 2010, mencatat peringkat Indonesia (Depkes RI, 2010) menyebutkan bahwa dari
menurun ke posisi lima dengan jumlah total penderita TB paru di Kabupaten
penderita TB sebesar 429 ribu orang. Kolaka Utara yang berhasil sembuh adalah
Indonesia menempati urutan kelima setelah sebesar 29,46 persen. Ini menunjukkan
India, China, Afrika Selatan dan Nigeria bahwa masih lebih dari setengah yang
dalam masalah Tb Paru di dunia. belum sembuh.
Meskipun terjadi penurunan Berdasarkan laporan bulanan
penyakit TB di Indoensia, tetap menjadi program P2TB paru puskesmas Lapai
perhatian yang serius untuk terus menekan kecamatan Ngapa kabupaten Kolaka utara
angka kejadian TB. Salah satu satrategi menunjukkan pada tahun 2010 (Januari-
yang dilakukan oleh pemerintah adalah Agustus) jumlah penderita baru TB BTA
Directly Observed Treatment Short Course positif sebanyak 14 orang dan yang
Strategy (DOTS). menyelesaikan pengobatan dengan hasil
Menurut La Greca dan Stone (Bart, sembuh sebanyak 1 orang. Artinya, masih
1994) menyatakan bahwa mentaati ada yang belum menyelesaikan pengobatan
rekomendasi pengobatan yang dianjurkan sebanyak 13 orang.
dokter merupakan masalah yang sangat
penting. Tingkat ketidaktaatan terbukti Bahan dan Metode
cukup tinggi dalam seluruh populasi medis Waktu dan Lokasi Penelitian
yang kronis. Penelitian ini dilaksanakan pada
Bentuk ketidakpatuhan pasien tanggal 23 November – 23 Desember Tahun
diantaranya: (a). Tidak mengambil obatnya, 2010 di Wilayah Kerja Puskesmas lapai
(b). Minum obat dengan dosis yang salah, Kecamatan Ngapa Kabupaten Kolaka Utara
(c). Minum obat pada waktu yang salah, (d). Provinsi Sulawesi Tenggara.
Lupa minum obat, dan (d). Berhenti minum Informan Penelitian
obat sebelum waktunya. Proses peneltuan informan dengan
Faktor-fakor yang mendukung menggunakan kriteria informan, dengan
kepatuhan pasien adalah faktor intrinsik dan mengambil data dari P2TB Puskesmas
ekstrinsik (Niven, 2002). Lapai serta berdasarkan informasi dari
programmer TB selaku informan kunci.
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Jenis Penelitian tidak pernah dilatih, petugasnya saja


Penelitian ini merupakan penelitian selama jadi petugas TB”.
kualitatif dengan rancangan fenomenologi (Amk, 28 Thn, 2010)
yaitu pengamatan, imajinasi, berpikir Persepsi Tentang Penyakit TB
abstrak serta dapat merasakan atau “Saya menebak sendiri karena saya
menghayati fenomena dilapangan penelitian orang perokok, perokok berat dengan
yaitu untuk mengetahui ketidakpatuhan pekerjaan saya kerja berat. Karena
berobat penderita TB paru. Teknik yang slalu begadang setiap malam. Kadang
digunakan adalah indepth interview saya merokok itu 4 bungkus, jadi saya
(wawancara mendalam). anggap diri saya itu perokok berat jadi
Pengumpulan Data saya mengatakan mungkin paru saya
Pengumpulan data dilakukan sudah kotor ataukah sudah bocor
dengan cara penggalian data dari berbagai sehingga batuk-batuk saya tidak bisa
sumber data untuk menjernihkan informasi tersembuhkan”.
di lapangan. Adapun data yang diperoleh (Rpw, 41 Thn, 2010)
adalah data primer. Data primer ini
diperoleh dengan cara wawancara “itu kayak diabilang orang to biasanya
mendalam (indepth interview). Sebelum dipakennai orang, e.. dikenna-kenna
wawancara mendalam, dilakukan proses dengan orang”.
penentuan informan bersama petugas (Spr, 40 Thn, 2010)
kesehatan dengan mengunjungi penderita
TB dan PMO. Selanjutnya penelitian dan Pengalaman Minum Obat
informan yang mencari jadwal wawancara, “ … biasa wallupai, … Akko majjamaki
sehingga wawancara dapat mendalam dapat to biasa to kusibukki yallupaini”.
dilakukan. (Jmr, 21 Thn, 2010)
Analisi Data “ … yoloe tellai nasaba cappu’i jaji
Data yang diperoleh dari wawancara uleng lima mappammula paemeng ssika
mendalam dilakukan secara manual sesuai lettu makkukkue wanre, … kosongi
dengan petunjuk pengolahan data kualitatif sebenarna biasa obat’e”.
serta sesuai dengan tujuan penelitian ini dan (Nhs, 21 Thn, 2010)
selanjutnya dianalisis dengan metode
“De biasa ulanjut wettukku jokka
“content analysis” kemudian
makkempe cengkeh biasa, … najukanna
diinterprestasikan dan disajikan dalam
mauka anu na jauh itu tempat anu ….
bentuk narasi.
de’ga kiringi, Dena nengka wanre
monrinna. Nasaba tijjokkaka
Hasil
maccengekeh”.
Pengetahuan
(Rsl, 21 Thn, 2010)
“De… dewissenggi”
(Jmr, 21 Thn, 22 November 2010)
“ … Dia suruh berobat enam bulan jadi
“Jadi mungkin dijurusan penyakit itu kan
ternyata itu obat hanya beberapa bulan
saya tidak tahu”.
dia makan dia berhenti karena tidak baik
(Rpw, 41 Thn, 2010)
perasaanna to kayak mau mati, akhirnya
“Wwah… kurang pahanna”.
dia berhenti”.
(Rd, 34 Thn, 2010)
(Hsr, 46 Thn, 2010)
“ … tidak pernah sama sekali dilatih,
makanya nda berani saya kasi ini PMO
karena memang tidak ada pelatihannya
PMO. Tak usa jauh-jauh petugasnya saja
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Motivasi Berobat keluar)?” nah itu dia kaget. Terus Saya


“ Iyya mato, iyya mato biasa panggi saya punya tante Hj. Nafia. Saya
mengngerangi minum obat”. lagi sakit dirumah malamnya ituka saya
(Jmr, 21 Thn, 2010) dibawa ke dr. Nidar diperiksa itu
malam”.
“E… pertamana nakennaka kurang lebih (Rpw, 41 Thn, 2010)
2 tahun tapi pertama awal itu keras…
Peran PMO
Nanti setelah itu baru saya rasakan ini
“… penyakit-penyakit biasami biasa
betul-betul penyakit ini kenapa batuk-
saja. Ada penyakit tahunan kata orang
batuk saya ini tidak ada berhentinya
tua”.
“mungkin sudah parah ya saya punya
(Rpw, 41 Thn, 2010)
penyakit”.
(Rpw, 41 Thn, 2010) “De’magaga, yemiro bawang nasuroma
mabbura”.
“Apa puramani mabbene wapparessa”
(Nhs, 21 Thn, 2010)
(Rsl, 21 Thn, 2010)
“Bansana tetanggae de’tonajampangiq
akku malasaki aga, yapa najampangiki
Sosial Budaya
ku maladde’i. yeku denamaladde
“… penyakit-penyakit biasami biasa
mappaku-mopa biasamopa dessa
saja. Ada penyakit tahunan kata orang
nanuwegangi”.
tua”.
(Spr, 40 Thn, 2010)
(Rpw, 41 Thn, 2010)
“Tetangga de’ga makkada minder maga,
“De’magaga, yemiro bawang nasuroma kitapun sendiri de’gaga”.
mabbura”. (Rd, 34 Thn, 2010)
(Nhs, 21 Thn, 2010) “Orang disini biar natahu penyakitnya
tetap juga sama-sama”.
“Bansana tetanggae de’tonajampangiq (Amk, 28 Thn, 2010
akku malasaki aga, yapa najampangiki
ku maladde’i. yeku denamaladde “ … emmakku aga maderri
mappaku-mopa biasamopa dessa parengerrangika, aja lalo mutella, aja
nanuwegangi”. lalo mutella”
(Spr, 40 Thn 2010) (Jmr, 21 Thn, 2010)
“Tetangga de’ga makkada minder maga,
kitapun sendiri de’gaga”. “Nah itu adik ipar yang lihat saya di
(Rd, 34 Thn, 2010) WC “kok kakak tadi kalo meludah
“Orang disini biar natahu penyakitnya kenapa warna merah(itu darah yang
tetap juga sama-sama”. keluar)?” nah itu dia kaget. Terus Saya
(Amk, 28 Thn, 2010 panggi saya punya tante Hj. Nafia. Saya
lagi sakit dirumah malamnya ituka saya
Dukungan Keluarga dibawa ke dr. Nidar diperiksa itu
“ … emmakku aga maderri malam”.
parengerrangika, aja lalo mutella, aja (Rpw, 41 Thn, 2010)
lalo mutella”
(Jmr, 21 Thn, 2010)
Aksessibilitas
“Alhamdulillah, ya kita tidak merasa
“Nah itu adik ipar yang lihat saya di
susah lagi ke puskesmas”
WC “kok kakak tadi kalo meludah
(Rpw, 41 Thn, 2010)
kenapa warna merah(itu darah yang
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Informan yang menganggap paru-


“Yero je wwatangi afa engkasi parunya sudah bocor, yang disebakan oleh
kendaraan nafakesi anrikku, alenami aga pengaruh rokok dan seringnya keluar
malakka maderri Bidan Janna” malam karena faktor pekerjaan yaitu
(Rsl, 21 Thn, 2010) menjadi teknisi electone. Informan tersebut
“Yenaro, makawe mua, yemiro bawang mengaku dirinya bisa mengkomsusi rokok 4
afa wettunna ifaressa ku rumah sakit bungkus perhari sehingga dia menganggap
lapai de’ nulle messu dahakna, jaji isuro batuk-batuk adalah penyakitnya akibat
lo marronseng”.. pengaruh rokok.
(Spr, 40 Thn, 2010) Pada dasarnya kebiasaan merokok
akan merusak mekanisme pertahanan paru
Pembahasan yang disebut muccociliary clearance. Bulu-
Pengetahuan Tentang Istilah Penyakit bulu getar dan bahan lain di paru tidak
TB mudah “membuang” infeksi yang sudah
Menurut Notoatmodjo (2007) masuk karena bulu getar dan alat lain di
pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan paru rusak akibat asap rokok. Selain itu,
ini terjadi setelah orang melakukan asap rokok meningkatkan tahanan jalan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. nafas (airway resistance) dan menyebabkan
Ariani (2009) Susah sembuhnya penyakit mudah bocornya pembuluh darah di paru-
TB ini disebabkan banyak faktor di paru, juga akan merusak makrofag yang
antaranya minimnya pengetahuan merupakan sel yang dapat memfagosit
masyarakat tentang penyakit TB. bakteri patogen.
Hal tersebut sesuai penelitian yang Penelitian Lin (2010) menyatakan
dilakukan oleh Gerakan Terpadu Nasional bukti adanya hubungan antara kebiasaan
(Gerdunas, 2009) bahwa faktor pengetahuan merokok, perokok pasif, dan polusi udara di
mengenai konsekuensi bila berobat tidak dalam ruangan dari kayu bakar dan batu
selesai mempunyai tingkat asosiasi yang bara terhadap risiko infeksi, penyakit dan
paling tinggi, diikuti dengan riwayat tempat kematian akibat TB Di Indonesia, sejauh ini
tinggal berpindah. Serta penelitian Yuliharti memang belum ada penelitian resmi yang
(2002) Bahwa ada hubungan antara mengungkapkan bahwa ada hubungan
pengetahuan dengan ketidakpatuhan antara rokok dan TBB, tetapi fakta di
penderita TB berobat. lapangan dapat memberikan gambaran
Persepsi Tentang Penyakit TB bahwa hubungan itu memang ada.
Persepsi adalah pandangan penderita Setidaknya prevalensi penderita TB yang
TB paru yang dihasilkan dari panca indra berobat di pusat pengobatan TB RS
terhadap petugas TB paru, PMO tentang Persahabatan yang punya kebiasaan
penyakit TB paru dan keteraturan menelan merokok lebih besar dibandingkan yang
obat yang dapat mempengaruhi kepatuhan tidak.
pasien menelan obat TB paru. Selain yang menganggap dirinya
Hasil wawancara terkait persepsi sakit secara medis ada juga yang
penderita TB tentang penyakit yang diderita menganggap penyakit tersebut karena
antara lain, penderita TB yang meganggap Guna-guna. Dr Gunawa mengungkapkan,
dirinya paru-paru basah. Efusi tingginya angka penderita TB disebabkan
pleura/Pneumonia yang biasa disebut paru adanya paradigma lama yang menyebut TB
paru basah adalah penumpukan cairan di sebagai penyakit keturunan atau penyakit
rongga pleura. Kelainan bias disebabkan guna-guna, sehingga warga enggan
penyakit di paru maupun dari luar paru. memeriksakan kesehatan. Kalau cerita soal
TB ini, masyarakat kita masih berpendapat
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

bahwa penyakit TB merupakan penyakit (2008) bahwa patuh dan tuntas minum obat
keturunan atau penyakit guna-guna adalah salah satu kunci membebaskan diri
(dikenna-kenna dengan orang). Padahal TB dari penyakit.
ini merupakan penyakit menular yang dapat Berdasarkan informasi oleh salah
diderita setiap orang. seorang informan, bahwa keterlambatan
Bawaan, bahkan isunya penyakit ini minum obat dikarenakan oleh kekosongan
disebabkan santet atau guna-guna dari orang obat yang terjadi di puskesmas Lapai. Hal
lain, faktor komunikasi antara penderita tersebut dibenarkan oleh programmer TB
dengan kerabat atau orang-ornag dekat, dan selaku informan kunci bahwa memang
malasnya minum obat si penderita pernah kosong OAT di puskesmas Lapai
dikarenakam waktu yang lama untuk karena distribusi obat dari kabupaten belum
sembuh. ada.
Pengalaman Minum Obat Di puskesmas Lapai pernah
Informan yang pernah terlambat kehabisan obat TB ini dikarenakan
minum obat dikarenakan oleh kesibukan keterlambatan pendistribusian obat dari
pekerjaaan. Kesibukan dialami karena Dinkes Kabupaten yang didrop sehingga
pekerjaan jaga warung makan, yang hampir pasien TB di wilayah kerja Puskesmas
setiap hari melayani tamu yang mau makan. tersebut berhenti sampai adanya obat.
Sehingga kadang lupa minum obat. Obat yang digunakan didalam
Informan lain menyebutkan bahwa dia program pengobatan tuberkulosis paru tidak
putus berobat karena faktor kehabisan obat jarang menyebabkan rasa kurang enak bagi
di tempat bekerja yaitu kebun, karena penderita hal ini dapat disebabkan oleh
petugas hanya memberikan persediaan obat karena banyaknya kombinasi obat yang
untuk satu sampai dua minggu. Sedangkan digunakan atau adanya reaksi alergi
informan tersebut tidak memiliki terhadap obat. Komariah (2000)
keluarga/orang terdekat yang dapat menyatakan bahwa ada hubungan yang
mengambilkan obatnya. Jarak kebun dengan bermakna antara ketersediaan obat dengan
akses pelayanan pengobatan pada saat putus keteraturan berobat Tuberkulosis.
berobat sangat jauh yaitu sekitar 30 km dan Menurut salah satu informan PMO
tidak ada kendaraan yang melewati menjelaskan bahwa petugas kesehatan
ketempat tersebut. puskesmas Lapai pernah mengistruksikan
Prinsip pengobatan yaitu OAT yang bahwa pengobatan penderita selama enam
diberikan dalam bentuk kombinasi, bulan. Karena efek samping obat yang
dilakukan pengawasan langusng (Diretcly terlalu kuat dirasakan oleh penderita TB,
Observed Treatment) serta pengobatan maka dia berhenti minum obat atau putus.
melalui dua tahap yaitu yang pertama, tahap Default (Putus berobat) Adalah pasien yang
intensif dimana pasien mendapatkan obat tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau
setiap hari, dan yang kedua, tahap lanjutan lebih masa pengobatannya selesai.
yaitu pasien mendapat jenis obat lebih Banyaknya penderita yang tidak
sedikit, namun dalam jangka waktu yang menyelesaikan pengobatannya. Berbagai
lebih lama (Depkes RI, 2007). alasan yang dikemukakan antara lain tidak
Selain itu, ada informan yang ada perubahan (sembuh) dan sakitnya
megaku teratur minum obat karena dia mau bertambah parah. Alasan tersebut
sembuh. Informan tersebut menjelaskan melengkapi kenyataan yang telah
bahwa dia megalami gejala penyakit disebutkan di atas, keterlambatan
tersebut sudah hampir dua tahun sehingga dimulainya program pengobatan dan faktor
dia merasa penyakitnya sudah parah. penyulit ikut berperan sebagai penyebab
Tulisan dalam www.flyfreeforhealth.com pengobatan tidak selesai (Herryanto, 2004).
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Lamanya penyakit tampaknya ingatan individu mengenai pengalaman dan


memberikan efek negative terhadap rangsangan respon konsekuensi. Individu
kepatuhan pasien. Makin lama pasien akan termotivasi bila ia memberikan respon
mengidap penyakit diabetes, makin kecil pada rangsangan pada pola tingkah laku
pasien tersebut patuh pada pengobatannya konsisten sepanjang waktu (Widyatun,
(BPOM, 2006). 1999).
Di puskesmas Lapai pernah Pengobatan yang dilakukan, bisa
kehabisan obat TB ini dikarenakan saja pemicu orang sekitar yang kemudian
keterlambatan pendistribusian obat dari mempengaruhi seseorang untuk melakukan
dinkes kabupaten yang di drop sehingga pengobatan. Sesuai yang diungkapkan oleh
pasien TB di wilayah kerja Puskesmas salah satu informan bahwa pengobatan yang
tersebut berhenti sampai adanya obat. dilakukan karena perasaan malu terhadap
Hasil wawancara dengan informan istrinya pada saat masih awal
kunci, bahwa orang yang tidak patuh pernikahannya.
minum obat disebut mangkir. Di wilayah Berdasarkan prinsip pendapat di atas
kerja puskesmas Lapai ada beberapa dapat ditarik kesimpulan, bahwa motivasi
penderita TB yang kurang patuh. Sehingga dapat menyebabkan individu dapat
yang biasa dilakukan oleh petugas menerima berbagai konsekuensi, dapat
kesehatan apabila ada yang mangkir adalah menggerakkan mencapai tujuan tertentu,
kunjungan. Kalau terlambat 2 sampai 3 hari mau dan rela memberikan tenaga, pikiran,
dahaknya masih negative masih dilanjutkan waktu untuk melakukan hal yang menjadi
pengobatannya. Sedangkan apabila sudah tanggung jawabnya dan dapat memelihara
satu minggu, maka pengobatan dilakukan individu mampu bekerjasama dengan
dari awal. lingkungannya.
Motivasi Berobat Persepsi Tentang Sosial Budaya
Motivasi merupakan suatu hal yang Dukungan sosial terdiri dari
berasal dari internal individu yang informasi atau nasehat verbal dan/atau non-
menimbulkan dorongan atau semangat verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang
untuk proses pengobatan. Penderita diberikan oleh keakraban sosial atau didapat
diwilayah puskesmas Lapai melakukan karena kehadiran oleh keakraban sosial atau
ketika penyakit yang dirasakan sudah parah didapat karena kehadiran mereka dan
baru melakukan pengobatan. Ini berarti mempunyai manfaat emosial atau efek
motivasi atau dorongan untuk berobat dari perilaku bagi pihak penerima (Gottleb
tingkat keparahan penyakit. dalam Bart, 1994).
Beberapa informan menjelaskan Persepsi tentang sosial budaya
bahwa mereka melakukan pengobatan adalah anggapan masyarakat terhadap
karena ingin sembuh dan menganggap penderita TB, baik berupa dukungan,
penyakitnya sudah parah. Bahkan salah satu motivasi berobat.
informan menderita penyakit TB kurang Menurut informasi yang didapatkan
lebih 2 tahun. Kemauan untuk berobat mengenai persepsi penderita terhadap
bukan datang dari penderita TB, melainkan anggapan masyarakat terkait dengan
dari keluarganya yang melihat penderita penyakit penderita. Ada masyarakat yang
yang sudah parah dan perlu pengobatan. menganggap bahwa penyakit tersebut
Informan lain menjelaskan bahwa adalah penyakit tahunan.
yang biasa mengingatkan minum obat Apabila seseorang menderita
adalah dirinya sendiri. Sehingga ketika penyakit tertentu, maka hal yang pertama
ditanya motivasi berobat, maka jawabannya dilakukan adalah melakukan pencarian
saya sendiri. Penguatan yang menyangkut pengobatan. Seperti anggapan masyarakat
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

kepada salah satu penderita TB bahwa negeri dan lain-lain. Sehingga informasi
penyakit tersebut tidak menjadi masalah dan tentang penyakit susah didapatkan.
memberikan dukungan untuk berobat. Penyuluhanpun jarang dilakukan kepada
Dukungan yang diterima oleh pnederita masyarakat tentang penyakit, utamanya
adalah bentuk interaksi dengan masyarakat penyakit TB.
yang cukup baik.
Dukungan sosial dan pengaruh Dukungan Keluarga
kebiasaan dalam masyarakat terhadap Keluarga dapat menjadi faktor yang
penyakit juga menjadi suatu faktor yang sangat mempengaruhi dalam menentukan
penting yang mempengaruhi ketaatan. keyakinan dan nilai kesehatan individu serta
Menurut salah satu informan PMO dapat menentukan tentang program
mengenai dukungan masyarakat yang pengobatan yang dapat mereka terima.
terhadap penderita, menganggap bahwa Bentuk perhatian keluarga terhadap
masyarakat sekitar atau tetangga tidak penderita adalah menemani selama proses
terlalu peduli terhadap penderita. pengobatan. Sehingga memunculkan
Masyarakat atau tetangga sekitar baru motivasi untuk lebih giat berobat. penelitian
memberikan perhatian apabila sakit yang Basaria Hutabarat (2007) menemukan
diderita sudah parah. pengaruh peran keluarga terhadap
Beberapa faktor yang menjadi kepatuhan minum obat penderita Kusta di
masyarakat sekitar tidak peduli terhadap Kabupaten Asahan.
penderita TB yaitu kurangnya sosialisasi Informan penderita menjelaskan
serta komunikasi dengan masyarakat bahwa mereka biasa diberikan dukungan
sekitar. Jarangnya tinggal bermasyarakat dari keluarga, baik orang tua maupun
menjadi salah satu faktor masyarakat saudaranya selama proses pengobatan.
kurang menerima kehidupan sosial Bahkan ketika lupa minum obat dan berada
penderita. Sehingga dukungan untuk ditempat kerja, kadang orang tuanya yang
penderitapun tidak ada. memabawakan. Sedangkan penderita lain
Informan lain menjelaskan bahwa mengungkapkan bahwa sebenarnya dia
penderita mendapatkan dukungan dari tidak mau memeriksakan kesehatannya,
masyarakat atau tetangga untuk melakukan namun karena didapatkan batuk bercampur
pengobatan. Bahkan merekan tidak pernah darah pada malam hari oleh adiknya maka
mendapatkan stigma tentang penyakit yang penderita langsung dibawa ke tempat salah
diderita oleh penderita TB. Ini bukti bahwa satu tempat praktek dokter di Kecamatan
kehidupan bermasyarakat penderita TB Ngapa. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
cukup baik dimata masyarakat sekitar atau Zanani (2009) bahwa dukungan keluarga
tetangganya. sangat dibutuhkan oleh penderita TB serta
Hal yang diugkapkan oleh informan dapat menentukan tingkat kepatuhan.
kunci bahwa masyarakat tidak terlalu peduli Peran PMO
tentang penyakit yang diderita. Karena Peran PMO yang diukur meliputi
sebagian masyarakat kurang tahu mengenai penyuluhan kepada keluarga penderita,
penyakit tersebut. Sehingga mereka tetap memberi dorongan untuk berobat,
bergaul meskipun penyakit tersebut mengingatkan penderita berobat dan
menular. memeriksakan dahaknya pada waktu yang
Masyarakat Kecamatan Ngapa pada telah ditentukan dan mengawasi penderita
umumnya bekerja sebagai petani, sehingga menelan obat.
pada pagi hari sampai sore hari kebanyakan Penderita TB dan PMO tidak tahu
berada dikebun. Hanya sebagaian kecil yang mengenai Pengawas Minum Obat sehingga
berprofesi selain petani yaitu guru, pegawai ketika dimintai jawaban mengenai peran
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

PMO mereka tidak tahu. Pengetahuan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
tentang PMO sama dengan pengetahuan penderita tuberkulosis paru adalah
tentang TB yaitu ketidak tahuan terhadap pendidikan, pengetahuan, sikap, pekerjaan,
hal tersebut. Sehingga ketika berikan pendapatan, jarak pelayanan dan dukungan
pertanyaa mengenai yang biasa mengambil Pengawas Mimum Obat (PMO).
obat di Puskesmas, mengingatkan minum
obat, jawabannya ada yang berbeda. Kesimpulan
Penderita yang mengatakan bahwa 1. Dari hasil dan pembahasan dapat
yang biasa mengingatkan atau mengambil disimpulkan bahwa yang menjadi faktor
obat adalah kakak. Satu informan intrinsik ketidakpatuhan berobat
mengatakan bahwa istrinya atau petugas penderita TB adalah:
kesehatan yang biasa langsung a. Pengetahuan yang dimiliki oleh
membawakan kerumahnya. informan tentang penyakit TB yaitu
Dari hasil wawancara dengan semua informan penderita TB dan
informan menyebutkan bahwa yang biasa PMO tidak ada yang tahu yang
mengambil obat serta memberikan dimaksud dengan TB.
dukungan berobat adalah keluarga. Karena b. Pengalaman ketidakteraturan minum
ketidakpahaman informan mengenai PMO obat karena efek samping obat yang
sehingga mereka hanya menjelaskan biasa menjadi pemicu putusnya
dukungan keluarga dalam proses berobat, faktor kesibukan dalam
pengobatan. bekerja.
Menurut informan kunci bahwa c. Motivasi berobat yang dimiliki oleh
memang di kartu kontrol ada tertulis PMO penderita berdasarkan tingkat
namun mereka tidak berperan sebagaimana keparahan penyakit, yang menjadi
tugas dari PMO atau kurang patuh karena alasan untuk melakukan pengobatan.
kasibukan PMO sendiri. Hasil penelitian 2. Sedangkan yang menjadi faktor
yang dilakukan oleh Ubaidillah (2001), ekstrinsik ketidakpatuhan berobat
bahwa penderita yang mempunyai PMO penderita TB adalah:
anggota keluarga mempunyai resiko lebih a. Peran PMO di wilayah kerja Puskesmas
kecil untuk tidak teratur berobat serta peran Lapai, sesuai yang diungkapkan oleh
PMO memiliki hubungan terhadap informan kunci sehingga kadang lupa
kepatuhan berobat penderita TB. mengambil obat dan jarang
Aksessibilitas mengingatkan penderita TB minum
Pendapat tentang akses pelayanan obat.
kesehatan beragam. Satu informan yang b. Aksessibilitas dalam pengobatan
menganggap bahwa tidak terlalu susah lagi kesehatan sangat dipengaruhi oleh jarak
kalau mau berobat dipuskesmas. Dan tempat pekerjaan, tidak adanya obat
penderita yang satu menganggap bahwa dan akses pelayanan kesehatan menjadi
faktor jarak kebun sehingga susah untuk pemicu terlambat minum obat.
mendapatkan obat, padahal obat sudah
tersedia. DAFTAR PUSTAKA
Pada dasarnya semakin jauh jarak
menuju unit pelayanan kesehatan maka Ahmadi, Abu,. 1997. Psikologi Umum.
semakin rendah keomversi dahaknya. Jakarta: Rineka Cipta.
Menurut Rizkiyani (2008) jarak merupakan Ariani, Andi. 2010. Dinkes Temukan 45
salah satu penyebab penderita tidak Penyakit TB.
menyelesaikan pengobatannya. Sedangkan http://www.metrobalikpapa.co.id .
hasil penelitian Heriyono (2004), faktor- (diakses, 4 Januari 2011)
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Badan Perencanaan Pembangunan Gerdunas TB,. 2010. Situasi Epidemiologi


Nasional,. 2007. Laporan Di Indonesia.
Perkembangan Pencapaian MDGs http://www.TBindonesia.or.id
Indonesia. Kementerian Negara (diakses 19 Oktober 2010)
Perencanaan Pembangunan Handayani, Budi, Vynna,. 2009. Gambaran
Nasional/Badan Perencanaan Asupan Zat Gizi Makro Dan Status
Pembangunan Nasional. Gizi Pada Penderita Tuberkulosis
http://undp.or.id (diakses: 19 Otober Paru Rawat Inap Di RSUD Dr.
2010) Moewardi Surakarta. Program Studi
Basaria H. 2007. Pengaruh Faktor Internal Diploma III Gizi FKM Universitas
dan Eksternal terhadap kepatuhan Muhammadyah
minum obat penderita Kusta di Surakarta.http://etd.eprints.ums.ac.id
Kabupaten Asahan. (diakses: 19 Oktober 2010)
http.//library.usu.ac.id.disitasi Hendrawati, Ari, Pratiwi,. 2008. Hubungan
22/7/2008
Antara Partisipasi Menelan Obata
BPOM RI,. 2006. Kepatuhan Pasien : (PMO) Keluarga Dengan Sikap
Faktor Penting Dalam Keberhasilan Penderita Tuberkulosis Paru Di
Terapi. Wilayah Kerja Puskesmas
http://perpustakaan.pom.go.id Banyuanyar Surakarta.
(diakses: 19 Oktober 2010) http://etd.eprints.ums.ac.id (diakses
19 Oktober 2010)
Bungin, Burhan,. 2010. Metode Penelitian
Kualitatif. Rajawali Pers: Jakarta Heriyono,. 2004. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kepatuhan
Depkes RI,. 2007. Pedoman Pengobatan
Penderita Tuberkulosis Paru
Dasar Di Puskesmas. Jakarta:
Melakukan Pemeriksaan Ulang
Departemen Kesehatan RI.
Dahak Pada Akhir Pengobatan
Depkes RI, 2009. Pengendalian Tahap Intensif Di Puskesmas
Tuberkulosis Salah Satu Indikator Wonosobo I Kabupaten Wonosobo.
Keberhasilan Pencapaian MDG’s. http:// (diakses 12 November 2010).
http://www.depkes.go.id (diakses 19
Irawan, Panji, H. 2010. Tuberkulosis.
Oktober 2010)
https://panji1102.wordpress.com/
Depkes RI,. 2010. Profil Kesehatan (diakses, 7 Februari 2010)
Kabupaten Kolaka Utara.
Kementerian Kesehatan Nasional. 2009.
http://www.depkes.go.id (diakses 19
Pengendalian Tuberkulosis Salah
Oktober 2010)
Satu Indikator Keberhasilan
Djitowiyono, Sugeng Dan Jamil, Akhmad,. Pencapaian Mdg’s.
2008. Hubungan Pendekatan Strategi http://www.depkes.go.id (diakses: 2
Dots (Direcly Observed Treatment Oktober 2010)
Short Corse Strategy) Dengan
Laxminaraya, Ramanan, dkk,. 2007.
Kepatuhan Berobat Pasien
Economic Benefit Of Tuberculosis
Tuberkulosis Paru Di Puskesmas
Control. The World Bank Human
Kalasan Sleman 2008.
Development Network Health,
http://www.skripsistikes.wordpress.c
Nutrition & Population Team.
om (diakses: 19 Oktober 2010)
http://www.who.int (diakses:26
Oktober 2010)
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Lin. 2010. Rokok Penyebab TB. Sudoyo, W, Aru, dkk. 2006. Ilmu Penyakit
http://www.perempuan.com. Dalam. Departemen Ilmu Penyakit
(diakses, 4 Januari 2011) Dalam: Jakarta
LPMAK. 2009. Kasus TB Terus Meningkat. Ubaidillah,. 2001. Faktor yang
http://www.lpmak.org (diakses: 8 mempengaruhi ketidakteraturan
Oktober 2010) berobat penderita TB Paru di
Kabupaten Lahat Propinsi Sumatera
Ngatimin, Rusli. 2005. Sari Dan Aplikasi Selatan. FKM UI.
Ilmu Perilaku. Kesehatan. Makassar: http://www.diglib.ui.ac (diakses: 12
Yayasan PK-3 November 2010)

Niven Neil, 2002. Perlaku Kesehatan, WHO,. 2004. Analisis Lanjut Survay
Prevalency Tuberculosis 2004
Dalam : Psilokogi Kesehatan. Edisi
Infestigasi Faktor Lingkungan dan
ke-2. Penerbit Buku Kedokteran Faktor Resiko Tuberkulosi
EGC, Jakarta. Indonesia.
Notoatmodjo, Soekidjo,. 2007. Promosi http://whoindonesia.healthrepository
Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: .org (diakses: 19 Oktober 2010).
Rineka Cipta. WHO,. 2010. Global tuberculosis control: a
Okezone. 2008. Patuh Obat, TB Sembuh. short update to the 2010 report.
http://www.flyfreeforhealth.com http://www.who.int (diakses: 25
(diakses, 4 Januari 2011) Januari 2011)

Purnami, Mediana, Grace,. 2002. Faktor- Widyatun, R. 1999. Ilmu Perilaku: Jilid I.
faktor yang Berhubungan dengan Jakarta: Sagung Seto.
Terjadinya DO Pada Penderita TB Farmasiku. 2010. Tips Meningkatkan
Paru di Kabupaten Bandung Tahun Kepatuhan Penderita TB.
2001. FKM UI. http://www.farmasiku .com.
http://www.diglib.ui.ac (diakses: 12 (diakses, 5 November 2010)
November 2010).
Yuanasari, Ratih,. 2009. Evaluasi
Puskesmas Lapai, 2010. Laporan Bulanan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis
Program P2TB Paru tahun 2010. Dan Kepatuhan Pada Pasien Dewasa
Sarjan,. 2010. Pengembangan Sistem Dengan Diagnosa Tuberkulosis Paru
Informasi Program Tuberkulosis Di Puskesmas Mantingan Ngawi
(TB) untuk mendukung evaluasi Periode Februari - April 2009.
program penanggulangan Penyakit (Skripsi) Fakultas Farmasi
TB Di Puskesmas Putri Ayu Kota Universitas Muhammadiyah
Jambi. http://eprints.undip (diakses Surakarta Surakarta.
19 Oktober 2010) http://etd.eprints.ums.ac (diakses 19
Oktober 2010).
Smet, Bart,. 1994. Psikologi Kesehatan.
P.T. Grasindo: Jakarta Yuliharti, Atik. 2002. Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan
Snider, E, Dixie. and Roper, L, William. Ketidakpatuhan Memeriksakan
1992. The New Tuberculosis. Dahak Pada Akhir Fase Intensif
http://www.nejm.org The New Pengobatan Tuberkulosis Paru Di
England Journal Of Medicine Kota Sukabumi Tahun 2002.
(diakses: 26 Oktober 2010)
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Zanani, Mayasari, 2009. Hubungan


Dukungan Keluarga Dengan
Kepatuhan Berobat Pasien TB Paru
Di Puskesmas Torjun Kabupaten
Sampang. Airlangga University.
http://adln.lib.unair.ac.id . (diakses
25 Januari 2010)
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

STUDI KETIDAKPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAPAI KECAMATAN NGAPA
KABUPATEN KOLAKA UTARA PROVINSI
SULAWESI TENGGARA TAHUN 2010

Arfandi1, Muh. Syafar2, Mappeaty Nyorong3


1
Bagian Promosi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, 2Bagian
Promosi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, 3Bagian Promosi
Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Abstrak

Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan
masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Indonesia menempati urutan
kelima setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria dalam masalah Tb Paru di dunia.
Tingginya jumlah tersebut berkaitan dengan masalah penanggulangan Tb yang sangat
kompleks. Salahsatu masalah yang krusial yaitu rendahnya tingkat kepatuhan penderita
terhadap pengobatan, dilain pihak kepatuhan merupakan faktor determinan untuk
menentukan keberhasilan pengobatan Tb.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial ketidakpatuhan berobat
terhadap penderita Tb di Wilayah kerja Puskesmas Lapai Kecamatan Ngapa Kabupaten
Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara Tahun 2010. Jenis penelitian yang digunakan adalah
jenis penelitian kualitatif dengan rancangan fenomenologi. Penentuan informan dengan
menggunakan kriteria informan. Sehingga diperoleh jumlah informan sebanyak 8 orang.
Pengumpulan data/informasi berupa wawancara, dan untuk keabsahan data dilakukan
triangulasi data dan metode. Proses wawancara dilakukan dengan melibatkan petugas
kesehatan untuk mengenalkan peneliti dengan informan penderita Tb dan PMO.
Pengolahan dan analisis data menggunakan analisis isi (Content Analysis) dan disajikan
dalam bentuk naratif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kepercayaan masyarakat
mengenai penyakit yang disebabkan oleh Guna-guna (Ipakennai), sehingga pencarian
pengobatan yang pertama dilakukan adalah berobat dengan pengobatan alternative
(sanro/to macca). Cenderung penderita Tb tidak disebut dengan penyakit TB/TBC
melainkan penyakit lain seperti penyakit tahunan, batuk biasa, dan paru-paru basa. Ini
berarti masih ada stigma terhadap penyakit ini dalam masyarakat.
Studi ini diharapkan sebagai acuan untuk membuat program intervensi dalam
meningkatkan kepatuhan berobat penderita Tb. Dengan mempertimbangkan nilai sosial
budaya masyarakat.
No. 01 Jurnal Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku