Vous êtes sur la page 1sur 13

11

Virus dengue masuk ke dalam tubuh

melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty

virus berkembang di jaringan

getah bening

menyebar melalui darah

viremia permeabilitas vaskuler

MK : kekurangan volume cairan

kerusakan pipa pembuluh darah

(plasma)

kerusakan sumsum tulang

penurunan produksi sel darah

(eritrosit,leukosit,trombosit,Hb)

Trombositopenia Hipovolemik MK : Resiko syok

hypovolemik

demam mual nyeri otot syok

MK : Hipertermia

11
12

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN KRETERIA HASIL
1. Hipertermi berhubungan 1.1 Tujuan : Suhu tubuh 1.1.1 Kaji suhu tubuh  mengetahui peningkatan
normal
dengan proses infeksi virus pasien suhu tubuh, memudahkan
Kriteria hasil :
dengue. - Suhu tubuh antara  mengurangi panas dengan
1.1.2 Beri kompres air
36 – 37 pemindahan panas secara
- Nyeri otot hilang hangat
konduksi. Air hangat
mengontrol pemindahan
panas secara perlahan tanpa
menyebabkan hipotermi atau
menggigil.

 Untuk mengganti cairan


tubuh yang hilang akibat
evaporasi.
1.1.3 Berikan/anjurkanpasien
untuk banyak minum
 Memberikan rasa nyaman
1500-2000 cc/hari
dan pakaian yang tipis
(sesuai toleransi)
mudah menyerap keringat
1.1.4 Anjurkan pasien untuk
dan tidak merangsang
menggunakan pakaian
peningkatan suhu tubuh.
yang tipis dan mudah  Mendeteksi dini kekurangan

12
13

menyerap keringat. cairan serta mengetahui


keseimbangan cairan dan
1.1.5 Observasi intake dan elektrolit dalam tubuh. Tanda
output, tanda vital (suhu, vital merupakan acuan untuk
nadi, tekanan darah) tiap mengetahui keadaan umum
3 jam sekali atau sesuai pasien.
 Pemberian cairan sangat
indikasi
penting bagi pasien dengan
Kolaborasi
suhu tubuh yang tinggi. Obat
1.1.6 pemberian cairan
khususnya untuk
intravena dan pemberian
menurunkan panas tubuh
obat sesuai program
pasien.

2. Resiko defisit cairan 2.1 Tujuan : Tidak terjadi 2.1.1 Awasi vital sign tiap 3  Vital sign membantu
defisit voume cairan
berhubungan dengan jam/sesuai indikasi. mengidentifikasi fluktuasi
Kriteria :
pindahnya cairan - Input dan output cairan intravaskuler
seimbang
intravaskuler ke 2.1.2 Observasi capillary  Indikasi keadekuatan
- Vital sign dalam
ekstravaskuler batas normal Refill. sirkulasi perifer
- Tidak ada tanda
2.1.3 Observasi intake dan  Penurunan haluaran urine
presyok
- Akral hanga output. Catat warna pekat dengan peningkatan BJ
- Capilarry refill < 2
urine / konsentrasi, BJ. diduga dehidrasi.
detik
2.1.4 Anjurkan untuk minum  Anjurkan untuk minum
13
14

1500-2000 ml /hari 1500-2000 ml /hari ( sesuai


(sesuai toleransi.) toleransi ).
Kolaborasi
2.1.5 Pemberian cairan  Dapat meningkatkan jumlah
intravena cairan tubuh, untuk
mencegah terjadinya
hipovolemic syok.
3. Resiko syok hypovolemik 3.1Tujuan : Tidak terjadi 3.1.1 Monitor keadaan umum  Untuk memonitor kondisi
berhubungan dengan syok hipovolemik pasien. pasien selama perawatan
perdarahan yang berlebihan, Kriteria : terutama saat terdi
pindahnya cairan - Tanda Vital dalam perdarahan. Perawat segera
intravaskuler ke batas normal mengetahui tanda-tanda
ekstravaskuler presyok /syok.
3.1.2 Observasi vital sign setiap  Perawat perlu terus
3 jam atau lebih mengobaservasi vital sign
/syok. untuk memastikan tidak
terjadi presyok/syok
3.1.3 Jelaskan pada pasien dan  Dengan melibatkan psien
keluarga tanda dan keluarga maka tanda-
perdarahan, dan segera tanda perdarahan dapat
laporkan jika terjadi segera diketahui dan
perdarahan tindakan yang cepat dan

14
15

tepat dapat segera diberikan.

Kolaborasi .
3.1.4 Pemberian cairan  Cairan intravena diperlukan

intravena. untuk mengatasi kehilangan


cairan tubuh secara hebat.

3.1.5 pemeriksaan : HB, PCV,  Untuk mengetahui tingkat

trombosit kebocoran pembuluh darah


yang dialami pasien dan
untuk acuan melakukan
tindakan lebih lanjut.
4. Resiko gangguan pemenuhan 4.1 tujuan : tidak 4.1.1 Kaji riwayat nutrisi,  Mengidentifikasi defisiensi,
kebutuhan nutrisi kurang dari terjadigangguan kebutuhan termasuk makanan yang menduga kemungkinan
kebutuhan tubuh nutrisi disukai.
berhubungan dengan intake Kriteria : 4.1.2 Observasi dan catat  Mengawasi masukan
nutrisi yang tidak adekuat - Tidak ada tanda- masukan makanan kalori/kualitas kekurangan
akibat mual dan nafsu makan tanda malnutrisi pasien. konsumsi makanan
yang menurun. - Menunjukkan berat 4.1.3 Timbang BB tiap hari  Mengawasi penurunan BB /
badan yang (bila memungkinkan). mengawasi efektifitas.
seimbang. 4.1.4 Berikan makanan sedikit  Makanan sedikit dapat
namun sering dan atau menurunkan kelemahan dan
makan diantara waktu meningkatkan masukan juga
makan. mencegah distensi gaster.

15
16

4.1.5 Berikan dan Bantu oral  Meningkatkan nafsu makan


hygiene. dan masukan peroral
4.1.6 Hindari makanan yang  Menurunkan distensi dan
merangsang dan iritasi gaster.
mengandung gas.
5. Resiko terjadi perdarahan 5.1 Tujuan : Tidak terjadi 5.1.1 Monitor tanda-tanda  Penurunan trombosit
berhubungan dengan perdarahan penurunan trombosit merupakan tanda adanya
penurunan factor-faktor Kriteria : - TD 100/60 yang disertai tanda kebocoran pembuluh darah
pembekuan darah mmHg, N: 80- klinis. yang pada tahap tertentu
(trombositopeni). 100x/menit reguler, dapat menimbulkan tanda-
pulsasi kuat tanda klinis seperti
- Tidak ada tanda epistaksis, ptike.
perdarahan lebih lanjut, 5.1.2 Anjurkan pasien  Aktifitas pasien yang tidak
trombosit meningkat. untuk banyak istirahat terkontrol dapat
( bedrest ). menyebabkan terjadinya
perdarahan
5.1.3 Berikan penjelasan  Keterlibatan pasien dan
kepada klien dan keluarga dapat membantu
keluarga untuk untuk penaganan dini bila
melaporkan jika ada terjadi perdarahan
tanda perdarahan
seperti : hematemesis,

16
17

melena, epistaksis.
5.1.4 Antisipasi adanya  Mencegah terjadinya
perdarahan : gunakan perdarahan lebih lanjut.
sikat gigi yang lunak,
pelihara kebersihan
mulut, berikan tekanan
5-10 menit setiap
selesai ambil darah.
5.1.5 Kolaborasi, monitor  Dengan trombosit yang
trombosit setiap hari dipantau setiap hari, dapat
diketahui tingkat kebocoran
pembuluh darah dan
kemungkinan perdarahan
yang dialami pasien.
6 Kecemasan orang tua 6.1 Tujuan : ansietas 6.1.1 Kaji dan dokumentasikan  memudahkan intervensi.
berhubungan dengan kondisi berkurang/terkontrol. tingkat kecemasan
anak. Kriteria : - klien pasien.
melaporkan tidak ada 6.1.2 Kaji mekanisme koping  mempertahankan mekanisme
manifestasi yang digunakan pasien koping adaftif, meningkatkan
kecemasan secara untuk mengatasi ansietas kemampuan mengontrol
fisik. di masa lalu. ansietas.
- tidak ada 6.1.3 Lakukan pendekatan dan

17
18

manifestasi perilaku berikan motivasi kepada  pendekatan dan motivasi


akibat kecemasan. pasien untuk membantu pasien untuk
mengungkapkan pikiran mengeksternalisasikan
dan perasaan. kecemasan yang dirasakan.
6.1.4 Motivasi pasien untuk
memfokuskan diri pada  alat untuk mengidentifikasi
realita yang ada saat ini, mekanisme koping yang
harapan-harapan yang dibutuhkan untuk
positif terhadap terapy mengurangi kecemasan.
yang di jalani..  menciptakan rasa percaya
6.1.5 Berikan penguatan yang dalam diri pasien bahwa
positif untuk dirinya mampu mengatasi
meneruskan aktivitas masalahnya dan memberi
sehari-hari meskipun keyakinan pada diri sendri
dalam keadaan cemas. yang dibuktikan dengan
pengakuan orang lain atas
kemampuannya
6.1.6 Anjurkan pasien untuk  meningkatkan pengetahuan,
menggunakan teknik mengurangi kecemasan.
relaksasi.
6.1.7 Sediakan informasi  menciptakan perasaan yang
factual (nyata dan benar) tenang dan nyaman
18
19

kepada pasien dan


keluarga menyangkut
diagnosis, perawatan
dan prognosis.
6.1.8 Kolaborasi pemberian  mengurangi ansietas sesuai
obat anti ansietas.
kebutuhan

7. Kurang pengetahuan 7.1 Tujuan : orang tua 7.1.1 Kaji tingkat pengetahuan  Rasional : mengetahui
keluarga tentang penyakit, mengutarakan klien dan keluarga seberapa jauh pengalaman
prognosis, efek prosedur, dan pemahaman tentang tentang penyakitnya. dan pengetahuan klien dan
perawatan anggota keluarga kondisi, efek prosedur keluarga tentang penyakitnya
yang sakit berhubungan dan proses 7.1.2 Berikan penjelasan pada  Rasional : dengan
dengan kurang pengobatan. klien dan keluarga mengetahui penyakit dan
terpajan/mengingatinformasi. Kriteria : - melakukan tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang, klien
prosedur yang kondisinya sekarang. dan keluarganya akan merasa
diperlukan dan tenang dan mengurangi rasa
menjelaskan alasan cemas
dari suatu tindakan. 7.1.3 Anjurkan klien dan  Rasional : diet dan pola
- memulai perubahan keluarga untuk makan yang tepat membantu
gaya hidup yang memperhatikan diet proses penyembuhan
diperlukan dan ikut makanan nya..
serta dalam regimen 7.1.4 Anjurkan keluarga untuk  Rasional : perawatan diri
memperhatikan
19
20

perawatan.. perawatan diri dan (mandi, toileting,


lingkungan bagi anggota berpakaian/berdandan) dan
keluarga yang sakit. kebersihan lingkungan
penting untuk menciptakan
perasaan nyaman/rileks klien
7.1.5 Lakukan/demonstrasikan sakit.
teknik perawatan diri  Rasional : mengetahui
dan lingkungan klien. seberapa jauh pemahaman
Minta klien/keluarga klien dan keluarga serta
mengulangi kembali menilai keberhasilan dari
tentang materi yang tindakan yang dilakukan
telah diberikan.

20
21

D. IMPLEMENTASI
Tindakan keperwatan yang nyata dari intervensi keperwatan yang telah disusun .
tindakan harus bersifat khusus dan mendetail dalam penatalaksanaan , perawat bisa
melaksanakan secara mandiri atau pun kolaborasi dan juga bisa di delegasikan kepada
orang – orang yang memilki kompetensi yang bertanggung jawab.

E. EVALUASI
Hasil yang diharapkan dan tindakan kepererawatanyang dilakukan serta sejauh
mana masalah dapat teratasi dari tindakan keperawatan melakukan umpan balik untuk
mengkaji jika tujuan belum tercapai proses keperawatan segera di indikasikan.
Dengan hasil sesuai dengan tujuan :

1. Suhu tubuh normal

2. Tidak terjadi devisit voume cairan

3. Tidak terjadi syok hipovolemik

4. Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi

5. Tidak terjadi perdarahan

6. Ansietas berkurang/terkontrol

7. Klien memahami tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.

BAB IV
PENUTUP

21
22

A. Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan makalah ini, yaitu :
 Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan
gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.
 Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti, di samping pula
Aedes albopictus. Vektor ini mepunyai ciri-ciri:
1. Badannya kecil, badannya mendatar saat hinggap
2. Warnanya hitam dan belang-belang
3. Menggigit pada siang hari
4. Gemar hidup di tempat – tempat yang gelap
5. Jarak terbang <100 meter dan senang mengigit manusia
6. Bersarang di bejana-bejana berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum
penampung air, kaleng bekas atau tempat-tempat yang berisi air yang tidak
bersentuhan dengan tanah.
7. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk sekitar 10 hari.

 Tanda dan gejala dari DHF adalah :

1. Demam tinggi 5-7 hari


2. Perdarahan, terutama perdarahan bawah kulit ; ptekie, ekhimosis, hematoma.
3. Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria.
4. Mual, muntah, tidak ada napsu makan, diare, konstipasi.
5. Nyeri otot, tulang dan sendi, abdomen dan ulu hati.
6. Sakit kepala.
7. Pembengkakan sekitar mata.
8. Pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening.
9. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, capillary reffil time lebih dari dua detik, nadi cepat dan
lemah).
 Komplikasi: Hepatomegali, Kegagalan sirkulasi, Perdarahan, Efusi Pleura
 Ada beberapa diagnosa yang mungkin muncul, diantaranya :
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.

22
23

3. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu
makan yang menurun.
4. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor
pembekuan darah (trombositopeni).
5. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi anak.

6. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,


pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
7. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan
perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang
terpajan/mengingatinformasi.

B. Saran
Sebagai saran untuk para pembaca ataupun untuk institusi makalah ini dapat
dijadikan sebagai bahan rujukan dan perbandingan untuk pembuatan tugas atau yang
lainnya yang berkaitan dengan DBD. Untuk pelayanan kesehatan makalah ini dapat
digunakan sebagai referensi dalam memberikan asuhan keperawatan khusunya tentang
DBD.

Ciri-ciri Penderita Chikungunya


Ciri-ciri Penderita Chikungunya
* Demam tinggi sekitar 39-40 derajat Celcius
* Sakit di persendian
* Bercak-bercak kecil warna merah di kulit
* Gejala mirip demam berdarah dengue (DBD)
* Penularan melalui nyamuk Aedes Aegypti
* Ditularkan dari orang ke orang lain melalui gigitan nyamuk

23