Vous êtes sur la page 1sur 35

MAKALAH

DIARE AKUT

DI

SUSUN

OLEH :

ADIYATMA QOBY HENNY MARIANA


MANIHURUK
BIETRESIA DINDA PERTIWI HINDY SITI ADIZAH
DILLA ARIYANTI NILE ARTIKA GULO
EVI RANGGAYONI RIZKY FADILAH
FAJAR HIDAYAH YULIZAR PANE

DOSEN : ROSDIANA S.K.M, M.K.M

PROGRAM STUDI S1 KESEHTAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
INSTITUT KESEHATAN HELVETIA
MEDAN
2018

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah nya kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah karya ilmiah yang
berjudul “DIARE AKUT” . Adapun makalah ini tentunya dengan bantuan dari
berbagai pihak dalam proses pembuatan makalah. Sehingga tidak lupa kami
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah.

Tak ada gading yang tak retak,kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam pembuatan makalah dari mulai penyusunan mau pun materi
tersebut. Untuk itu diperlukan kritik dan saran untuk dapat memperbaiki makalah
ini lebih baik lagi.

Akhirnya penyusun mengharapkan dari makalah ini agar dapat menambah


wawasan mengenai DIARE AKUT dalam bidang kesehatan yang berkaitan
dengan ilmu kesehatan masyarakat.

Wasalamualaikum Wr.Wb

Medan, 11 April 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I

PENDAHULUA

1.1. Latar belakang

Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang

penting karena merupakan penyumbang utama ketiga angka kesakitan dan kematian

anak diberbagai negara termasuk Indonesia. Penyebab utama kematian akibat diare

adalah dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja. Penyebab

kematian lainnya adalah disentri, kurang gizi dan infeksi. Golongan umur yang

paling banyak menderita akibat diare adalah anak-anak karena daya tahan tubuhnya

yang masih rendah (Widoyono, 2009). Di Dunia, sebanyak 6 juta anak meninggal

setiap tahun karena diare, sebagian kematian tersebut terjadi dinegara berkembang.

Menurut WHO, di negara berkembang diperkirakan 1,87 juta anak balita meninggal

karena diare, 8 dari 10 kematian tersebut pada umur kurang dari 2 tahun. Rata-rata

anak usia kurang dari 3 tahun di negara berkembang mengalami episode diare 3 kali

dalam setahun (Kemenkes RI, 2010).

Di Indonesia, hasil Survey Subdit Diare pada Survey Kesehatan Rumah

Tangga angka kesakitan diare semua umur tahun 2003 adalah 374/1000 penduduk,

tahun 2006 adalah 423/1000 penduduk. Kematian diare pada balita75,3/100.000

balita dan semua umur 23,2/100.000 penduduk semua umur, dan hasil Riskesda

(2008) diare merupakan penyebab kematian no 4 (13,2%) pada 2 semua umur dalam

kelompok penyakit menular. Proporsi diare sebagai penyebab kematian no 1 pada

bayi postneonatal (31,4%) dan pada anak balita (25,2%) (Kemenkes RI, 2010).

Hingga saat ini penyakit diare masih menjadi penyebab utama kesakitan dan

1
2

kematian pada bayi dan anak-anak. Berbagai sebab diantaranya akibat pemberian

susu formula yang tidak higyenis dan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang

terlalui dini (Depkes RI, 2007). Jumlah kasus diare di Provinsi Aceh secara

keseluruhan mencapai 256.386 penderita dengan Incidence Rate (IR) 31,35%.

Sementera itu, kasus diare pada bayi rata-rata pertahunnya mencapai 13%, hal ini

menunjukkan bahwa kasus diare pada bayi tinggi di Provinsi Aceh. Data dari Dinas

Kesehatan Kota Banda Aceh, jumlah kasus diare 9.484 kasus, kasus diare pada bayi

mencapai 11,9% (Dinkes Provinsi Aceh, 2010). Kecamatan Kuta Raja merupakan

salah satu Kecamatan yang terletak di Kota Banda Aceh. Berdasarkan data yang

diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh jumlah penderita diare anak usia

bayi lebih tinggi dibandingkan Kecamatan lain yang ada di Wilayah Kerja Dinas

Kesehatan Kota Banda Aceh, dimana jumlah penderita diare pada tahun 2011 di

Puskesmas Kopelma mencapai 552 kasus, dan jumlah bayi yang menderita diare

mencapai 132 balita (Laporan Kopelma Banda Aceh, 2011). Bertambahnya usia

bayi mengakibatkan bertambah pula kebutuhan gizinya. Ketika bayi memasuki usia

6 bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi seperti karbohidrat, protein dan beberapa

vitamin serta mineral yang terkandung 3 di dalam ASI atau susu formula tidak lagi

mencukupi, oleh sebab itu setelah usia 6 bulan, bayi perlu mulai diberi MP-ASI

agar kebutuhan anak terpenuhi. Dalam pemberian MP-ASI, perlu diperhatikan usia

pemberian MP-ASI, frekuensi dalam pemberian MP-ASI, porsi dalam pemberian

MP-ASI, dan cara pemberian MP-ASI pada tahap awal, pemberian MP-ASI

diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, namun juga

merangsang keterampilan makan anak dan rasa percaya dirinya (Depkes RI, 2007).
3

Pemberian MP-ASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis

susu menuju ke makanan yang semi padat. Untuk proses ini juga dibutuhkan

keterampilan motorik oral. Keterampilan motorik oral berkembang dari refleks

menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan

memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.

Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk

maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi. Pemberian MP-

ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik

dan perkembangan kecerdasan bayi yang bertambah pesat pada periode ini (Ariani,

2008). Pemberian MP-ASI setelah bayi berusia 6 bulan akan memberikan

perlindungan besar pada bayi dari berbagai ancaman penyakit, sehingga

pemberian MP-ASI dini (kurang dari 6 bulan) sama saja dengan membuka pintu

gerbang masuknya berbagai jenis kuman penyakit, dan pemberian MP-ASI

merupakan salah stu faktor yang mempengaruhi kejadian diare. Faktor perilaku 4

juga mempengaruhi kejadian diare, misalnya perilaku tidak mencuci tangan dengan

bersih sebelum makan, tidak memasak air yang akan diminum sampai mendidih,

serta makanan yang sudah lewat masa pakainya (kadarluarsa) dan terkontaminasi

parasit (Widjaja, 2002).

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan

pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi usia 6-12 bulan dengan

kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma Darussalam Banda Aceh

tahun 2013
4

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-

ASI)pada bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare.

1.3.2. Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui hubungan usia pemberian makanan pendamping ASI

(MP-ASI) pada bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare di Wilayah Kerja

Puskesmas Kopelma Darussalam Banda Aceh tahun 2013.

b) Untuk mengetahui hubungan resiko pemberian makanan pendamping ASI

(MP-ASI) pada bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare.

1.4. Manfaat Penelitian

1 Bagi peneliti

Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan dan

pengalaman dalam melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan faktor-

faktor yang berhubungan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MP-

ASI) pada bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare.

2. Bagi tempat penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi yang signifikan baik

dalam membantu untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang dampak

negatif dari pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi usia 6-

12 bulan dengan kejadian diare.


5

3. Bagi institusi pendidikan

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam membimbing

dan menambah pengetahuan mahasiswi kebidanan tentang pemberian

makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi usia 6-12 bulan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

2.1.1. Pengertian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

Pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) merupakan proses transisi

dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat. Untuk

proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral

berkembang dari reflek menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk

bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah

bagian belakang. Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang

mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna

memenuhi kebutuhan gizi selain ASI. Sedangkan pengertian makanan itu sendiri

adalah merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan

memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh (Irianto

dan Waluyo, 2004).

Makanan tambahan berarti memberikan makanan lain selain ASI dimana

selama periode pemberian makanan tambahan seorang bayi terbiasa memakan

maknan keluarga. MP-ASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata

berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat. Untuk proses ini juga

dibutuhkan keterampilan motorik oral. Keterampilan motorik oral berkembang dari

refleks menghisap menjadi menelan makanan yang 8 berbentuk bukan cairan

dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.

Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk

6
7

maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi. Pemberian MP-

ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik

dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini (Ariani,

2008).

Menurut Irianto dan Waluyo (2004) dalam pemberian makanan pendamping

ASI yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak

untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, serta makanan tersebut sehat

diantaranya:

a. Berada dalam derajat kematangan

b. Bebas dari pencemaran pada saat menyimpan makanan tersebut dan

menyajikan hingga menyuapi pada bayi atau anak

c. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat

dari pengaruh enzim, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit

dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengerikan

d. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang

dihantarkan oleh makanan (food borne ilnes)

e. Harus cukup mengandung kalori dan vitamin

f. Mudah dicerna oleh alat pencernaan

Selain melihat kriteria diatas, menurut Departemen Kesehatan (Depkes)RI

(2007) menyatakan bahwa pemberian makanan pendamping ASI 9 hendaknya

melihat juga usia pemberian makanan pendamping ASI pada anak, apakah

pemberian makanan pendamping yang diberikan sudah pada usia yang tepat atau

tidak.
8

1. Usia pemberian makanan pendamping ASI

Arif (2009) mengemukakan bahwa MP-ASI dapat diberikan saat usia bayi

mencapai 6 bulan. Ukuran kecukupan produksi ASI bagi bayi dapat dilihat dari

kenaikan berat badan dan kesehatan bayi. Bila diberikan saat usia dibawah 6 bulan,

sistem pencernaannya belum memiliki enzim untuk mencerna makanan, sehingga

memberatkan kerja pencernaan dan ginjal bayi. Selain itu, usus bayi belum dapat

menyaring protein dalam jumlah besar, sehingga dapat menimbulkan reaksi batuk,

diare, kolik dan diare. Terlalu dini pemberian MP-ASI akan menyebabkan

kebutuhan ASI bayi berkurang.

Sebaliknya, bila terlambat akan sulit mengembangkan keterampilan makan

seperti mengigit, mengunyah, tidak menyukai makanan padat, kekurangan gizi

penting MP-ASI diberikan pada bayi sejak usia 6 bulan keatas karena pada usia 6

bulan kebutuhan nutrisi bayi sudah tidak bisa dipenuhi hanya oleh ASI. Usia bayi

diatas 6 bulan, syaraf dan otot dimulut bayi sudah mulai berkembang dan dapat

digunakan untuk menggigit atau mengunyah, pada usia tersebut bayi juga sudah

mulai tumbuh gigi dan bisa mengontrol pergerakan lidah, mulai menaruh barang

dimulutnya dan tertarik untuk mencoba rasa yang baru, dan pencernaan bayi sudah

cukup baik untuk mencerna makanan (WVI, 2009).

10 Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) RI (2007), usia pada saat

pertama kali pemberian makanan pendamping ASI pada anak yang tepat dan benar

adalah setelah anak berusia enam bulan, dengan tujuan agar anak tidak mengalami

infeksi atau gangguan pencernaan akibat virus atau bakteri. Berdasarkan usia anak,

dapat dikatagorikan menjadi:


9

a. Pada usia 6 sampai 9 bulan

1. Memberikan makanan lumat dalam tiga kali sehari dengan takaran yang

cukup.

2. Memberikan makanan selingan satu hari sekali dengan porsi kecil.

3. Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan makanan

b. Pada usia lebih dari 9 sampai 12 bulan

1. Memberikan makanan lunak dalam tiga kali sehari dengan takaran yang

cukup.

2. Memberikan makanan selingan satu hari sekali.

3. Memperkenalkan bayi atau anak dengan beraneka ragam bahan makanan

c. Pada usia lebih dari 12 sampai 24 bulan

1. Memberikan makanan keluarga tiga kali sehari.

2. Memberikan makanan selingan dua kali sehari

3. Memberikan beraneka ragam bahan makanan setiap hari.

2. Frekuensi pemberian makanan pendamping ASI

Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) RI (2007), frekuensi dalam

pemberian makanan pendamping ASI yang tepat biasanya diberikan tiga kali sehari.

Pemberian makanan pendamping ASI dalam frekuensi yang berlebihan atau

diberikan lebih tiga kali sehari, kemungkinan dapat mengakibatkan terjadinya diare.

Menurut Irianto dan Waluyo (2004), apabila dalam pemberian makanan

pendamping ASI terlalu berlebihan atau diberikan lebih dari tiga kali sehari, maka

sisa bahan makanan yang tidak digunakan untuk pertumbuhan, pemeliharaan sel,

dan energi akan diubah menjadi lemak. Sehingga apabila anak kelebihan lemak
10

dalam tubuhnya, dimungkinkan akan mengakibatkan alergi atau infeksi dalam organ

tubuhnya dan bisa mengakibatkan kelebihan berat badan(obesitas).

3. Porsi pemberian makanan pendamping ASI

Menurut Departeman Kesehatan (Depkes) RI (2007), untuk tiap kali makan,

dalam pemberian porsi yang tepat adalah sebagai berikut:

a. Pada usia enam bulan, beri 6 sendok makan

b. Pada usia tujuh bulan, beri 7 sendok makan

c. Pada usia delapan bulan, beri 8 sendok makan

d. Pada usia Sembilan bulan, beri 9 sendok makan

e. Pada usia 10 bulan, diberi 10 sendok makan, dan usia selanjutnya porsi

pemberiannya menyesuaikan dengan usia anak

4. Jenis-jenis MP-ASI

Wordvision indonensia (2009) mengemukakan bahwa seiring dengan

bertambahnya umur bayi, pertumbuhan dan aktivitasnya akan bertambah, hal ini

mmbuat ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi, timbul perbedaan antara jumlah

makanan yang diperlukan dan makanan yang dapat disediakan oleh ASI, dimana

kekurangan tersebut akan di dapat melalui MP-ASI. Adapun jenis-jnis MP-ASI,

yaitu :

a. Makanan lumat halus, yaitu makanan yang dihancurkan dibuat dari tepung

dan tampak homogen (sama/rata) seperti bubur susu, bubur sumsum, biskuit

ditambah air panas, pepaya saring, pisang saring.


11

b. Makanan lumat, yaitu makanan yang dihancurkan atau disaring tampak

kurang merata, seperti pepaya dihancurkan dengan sendok, pisang dikerik

dengan sendok, nasi tim pisang, bubur kacang hijau dan kentang rebus.

c. Makanan lunak, yaitu makanan yang dimasak dengan banyak air dan tampak

berair, seperti bubur nasi, bubur ayam, bubur kacang hijau.

d. Makanan padat, yaitu makanan lunak yang tidak nampak air, seperti nasi.

MP-ASI hendaknya berupa makanan alami, yang dibuat sendiri di rumah.

Makanan alami tidajk mengandung bahan tambahan (food additives), seperti

esens dan bahan pewarna yang memberatkan organ pencernaan bayi,

terutama hati (liver) dan ginjal. Walaupun demikian, makanan kemasan

untuk bayi tetap bisa digunakan sesekali pada kondisi darurat, misalnya saat

berpergian, namun bukan sebagai makanan sehari-hari untuk bayi (Arif,

2009).

5. Resiko Pemberian MP-ASI Terlalu Dini Pada Bayi

Ariani (2009) mengemukakan bahwa telah diketahui bahwa bayi kurang dari

6 bulan belum siap untuk menerima makanan semipadat sebelum berusia 6 bulan,

adapun resiko yang mungkin dihadapi akibat MP-ASI terlalu dini pada bayi kurang

dari 6 bulan yaitu :

a. Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan saat ini. Makanan

tersebut dapat menggantikan ASI, jika makanan diberikan maka anak akan

minum ASI lebih sedikit dan ibu pun akan memproduksi ASInya lebih

sedikit sehingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi


12

bayi.faktor pelindung dari ASI lebih sedikit sehingga resiko infeksi

meningkat.

b. Resiko diare juga meningkat karena makanan timbagan tidak sebersih ASI.

c. Makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI sering encer, buburnya

berkuah ataupun berupa sup karena mudah dimakan bayi, makanan ini

memang membuat lambung penuh tetapi memberikan nutrisi yang sedikit.

2.2. Konsep Penyakit Diare

2.2.1. Pengertian Penyakit Diare

Diare adalah perubahan frekuensi dan kosistensi tinja. WHO pada

mendefiniskan bahwa diare sebagai berak cair tiga kali atau lebih dalam sehari

semalam (24 jam). Para ibu mungkin mempunyai istilah tersendiri untuk diare

seperti berak lembek, cair, berdarah, berlendir atau dengan muntah (muntaber)

(Widoyono, 2009).

Menurut Hannemann (2005) diare terjadi saat dinding bagian dalam dari usus

terbuka. Tinja menjadi lunak karena zat-zat gizi yang dimakan dan diminum oleh

anak anda tidak dicerna dengan baik atau tidak diserap oleh usus. Juga, lapisan

dinding yang terluka cendrung untuk membocorkan cairannya.

Widoyono (2009) mengemukakan bahwa Diare dapat dibedakan menjadi dua

berdasarkan waktu serangan (onset) yaitu :

a. Diare akut

Diare akut adalah buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya

(pada umumnya 3 kali atau lebih) perhari dengan konsistensi cair dan berlangsung

kurang dari 7 hari. Khusus pada neonatus yang mendapat ASI, biasanya buang air
13

besar dengan frekuensi lebih sering (biasanya 5-6 kali perhari) tetapi konsistensi

tinjanya baik, ini bukan diare (Kemenkes RI, 2010).

b. Diare kronik (patologi)

Menurut Kemenkes RI (2010) diare patologi dibagi menjadi :

1. Diare sekretorik

Diare ini disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang

terjadi akibat gangguan absorpsi natrium oleh villus saluran cerna, sedangkan

sekresi klorida tetap berlangsung atau meningakt. Kedaan ini menyebabkan air dan

elektrolit keluar dari tubuh ssebagai tinja cair.

2. Diare osmotik

Yaitu mukosa usus halus adalah epitel berpori yang dapat dilalui oleh air dan

elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus

dan cairan ekstrasel, oleh karena itu bila di lumen usus terdapat bahan yang secara

osmotik aktif dan sulit diserap akan menyebabkan diare.

2.2.2. Penyebab diare

Menurut Mansjoer (2008) diare disebabkan oleh :

a. Infeksi : virus (Rotavirus, adenovirus, Norwalk), bakteri (Shigella,

Salmonella, E.Coli Vibrio), Parasit (protozoa : E. Histolytica, G. Lamblia,

balantidium coli, cacing perut, askariasis, trikuris, strongiloideus dan jamur :

kandida).

b. Mallabsorpsi : karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak atau protein.


14

c. Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

d. Imunodefisiensi.

e. Psikologis : rasa takut dan cemas.

Mansjoer (2008) juga mengemukakan berdasarkan patofisiologinya,maka

penyebab diare dibagi menjadi :

a. Diare sekresi, yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, kuman patogen dan

apatogen, hiperperistaltik usus halus akibat bahan kimia atau makanan,

gangguan psikis, gangguan saraf, hawa dingin, alergi, dan defisiensi imun

terutama IgA sekretorik.

b. Diare osmotik, yang dapat disebabkan oleh malabsorpsi makanan,

kekurangan kalori protein (KKP), atau bayi berat badan lahir rendah dan

bayi baru lahir. Pada diare akan terjadi kekurangan air (dehidrasi), gangguan

keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik) yang secara klinis berupa

pernafasan Kussmaul, hipoglikemia, gangguan gizi dan gangguan sirkulsi.

2.2.3. Tanda dan Gejala Diare

Widoyono (2009) mengemukakan beberapa tanda dan gejala diare antara

lain :

a. Gejala umum

1. Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare

2. Muntah, biasanya menyertai diare ada gastroenteritis akut

3. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare


15

4. Gejala dehidrasi yaitu mata cekung, ketengangan kulit menurun, apatis

bahkan gelisah.

b. Gejala spesifik

1. Vibrio cholera : diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan berbau

amis.

2. Disenteriform : tinja berlendir dan berdarah.

Widoyono (2009) juga mengemukakan, diare yang berkepanjangan dapat

menyebabkan:

1. Dehidrasi (kekurangan cairan), tergantung dari persentase cairan tubuh yang

hilang, dehidrasi dapat terjadi ringan, sedang atau berat.

2. Gangguan sirkulasi, pada diare akut kehilangan cairan dapat terjadi dalam

waktu yang singkat, bila kehilangan cairan ini lebih dari 10% berat badan,

pasien dapat mengalami syok atau presyok yang disebabkan oleh

berkurangnya volume darah (hipovolemia)

3. Gangguan gizi, hal ini terjadi karena asupan makanan yang kurang dan

output yang berlebihan, hal ini akan bertambah berat bila emberian makanan

dihentikan, serta sebelumnya penderita sudah mengalami kekurangan gizi

(malnutrisi).

Widoyono (2009) juga mengemukakan derajat dehidrasi akibat diare dapat

dibedakan menjadi tiga, yaitu :


16

1. Tanpa dehidrasi, biasanya anak merasa normal, tidak rewel, masih bisa

berteman seperti biasa. Umumnya karena diarenya tidak berat, anak masih

mau makan dan minum seperti biasa.

2. Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan anak rewel atau gelisah, mata

sedikit cekung, tugor kulit masih kembali dengan cepat jika dicubit.

3. Dehidrasi cekung, anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung, pada

cubitan kulit tugor kembali lambat, nafas cepat, anak terlihat lemah.

Kementrian Kesehatan Rakyat Indonesia (2010) mengemukakan prinsip

tatalaksama diare adalah LINTAS diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang

terdiri atas :

a. Oralit osmolaritas Rendah

Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan

memberikan oralit, bila tidak tersedia berikan lebih banyak cairan rumah tangga

yang mempunyai osmolaritas rendah yang dianjurkan seperti air tajin, kuah sayur

dan air matang. Bila terjadi dehidrasi terutama pada anak, penderita harus segera

dibawa ke petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan

yang cepat dan tepat dengan oralit.

Widoyono (2009) menyatakan bahwa pengobatan diare berdasarkan

dehidrasinya dibagi menjadi :

1. Tanpa dehidrasi, dapat dilakukan di rumah oleh ibu atau anggota keluarga

lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang ada di rumah

seerti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajin, air teh, maupun oralit.
17

Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan dirumah yaitu

memberikan anak lebih banyak cairan, memberikan makanan terus menerus,

membawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari.

2. Dehidrasi ringan atau sedang, diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan

hilangnya cairan sampai 5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang

terjadi kehilangan cairan 6-10% dari berat badan. Untuk mengobatinya

diperlukan oralit yang disesuaikan dengan umur anak.

3. Dehidrasi berat, diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret yang

terus menerus, biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan

lebih dari 10% berat badan, perawatan yang dilakukan adalah pengobatan di

Puskesmas atau Rumah Sakit untuk di infus RL (ringer laktat).

4. Teruskan emberiana makan. Untuk bayi ASI tetap diberikan bila

sebelumnya mendapatkan ASI, namun bila sebelumnya tidak mendapatkan

ASI dapat diteruskan dengan memberikan susu formula.

5. Antiboitik bila perlu, sebagian besar penyebab diare adalah rotavirus yang

tidak memerlukan antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak

bermanfaat dan efek sampingnya bahkan merugikan penderita.

b. Zinc

Dinegara berkembang, umumnya anak sudah mulai mengalami defisiensi zinc,

bila anak diare, kehilangan zinc bersama tinja, menyebakan defisiensi menjadi lebih

berat. Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat

keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja,

sertamenurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Zinc


18

diberikan pada setia diare dengan dosis, untuk anak berumur kurang dari 6 bulan

diberi 10 mg (1/2 tablet) zinc perhari, sedangkan untuk anak berumur lebih dari 6

bulan diberi 1 tablet zinc 20 mg, pemberian zinc diteruskan sampai 10 hari

walaupun diare sudah membaik (Kemenkes RI, 2010).

3. Pemberian ASI

Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada

penderita terutama pada anak agar tetap tumbuh kuat serta mencegah berkurangnya

berat badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi ASI. Anak yang

minum susu formula diberika lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau

lebih termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat harus diberikan makanan

yang mudah dicerna sedikit demi sedikit tetapi sering.

4. Pemberian Antibiotik hanya atas indikasi

Antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare

yang memerlukan antibiotik (8,4%). Antibiotik hanya bermanfaat pada anak dengan

diare berdarah, suspek kolera, dan infeksi di luar saluran pencernaan yang berat

seperti pneumonia.
19

2.3. Landasan Teori

Menurut Depkes RI (2007) :

Usia pemberian MP-ASI

Kejadian Diare Pada Bayi Usia


Resiko Pemberian MP-ASI 6-12 Bulan

Cara Pemberian MP-ASI

Frekuansi pemberian MP-ASI

Porsi Pemberian MP-ASI

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang todak diteliti


BAB III

KERANGKA KONSEP

3.1. Kerangka Konsep

Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) RI (2007), bertambahnya usia bayi

mengakibatkan bertambah pula kebutuhan gizinya. Ketika bayi memasuki usia 6

bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi seperti karbohidrat, protein dan beberapa

vitamin serta mineral yang terkandung di dalam ASI atau susu formula tidak lagi

mencukupi, oleh sebab itu setelah usia 6 bulan, bayi perlu mulai diberi MP-ASI

agar kebutuhan anak terpenuhi. Berdasarkan teori tersebut, maka secara skematis

kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada bagian di bawah ini.

Variabel Independen Variabel Dependen

Usia pemberian MP- ASI

Kejadian Diare Pada Bayi Usia 6-12


Resiko pemberian MP-ASI
Bulan

Cara pemberian MP-ASI

Gambar 3. 1 Kerangka Konsep Penelitian

20
21

3.2. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Defenisi operasional Cara ukur Alat ukur Skala ukur Hasil ukur

1 Dependen

Kejadiandiare Suatu keadaan Kuesioner Kuesioner -Diare Nominal


dimana terjadinya sebanyak 1
buang air besar pertanyaan, –Tidak
cair, berlendir dengan diare
dengan frekuensi kriteria :
lebih dari 3x/hari
- Diare bila
Ya
- Tidak
diare bila
Tidak

2 Independen

Usia Usia bayi saat Kuesioner Kuesioner -Tepat Nominal


pemberian MP- mendapatkan MP- sebanyak 1
ASI ASI pertama kali pertanyaan, -Tidak
nya dengan tepat
kriteria :
Tepat bila
pemberian
ASI
diberikan
pada usia 6
bulan keatas
-Tidak tepat
bila
pemberian
ASI
diberikan
pada usia
kurang dari
6 bulan
22

Resiko Dampak yang Kuesioner Kuesioner -Beresiko Ordinal


pemberian MP- terjadi dalam sebanyak 7
ASI pemberian MP-ASI pertanyaan, -Tidak
dengan beresiko
kriteria :
-Beresiko
bila x ≥
-Tidak
beresiko
Bila x < ̅

Cara pemberian Tata cara dalam Kuesioner Kuesioner -Tepat Nominal


MP-ASI memberikan MP- sebanyak 7
ASI pada bayi pertanyaan, -Tidak
dengan Tepat

kriteria
- Tepat bila
x≥ ̅
- Tidak tepat
bila
x < ̅

3.3. Hipotesa

Ha : Ada hubungan usia pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi

usia 6-12 bulan dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma Banda

Aceh tahun 2013.


23

Ha : Ada hubungan resiko pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada

bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma

Banda Aceh tahun 2013.

Ha : Ada hubungan cara pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi

usia 6-12 bulan dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma Kota

Banda Aceh tahun 2013.


BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat survey analitik dengan pendekatan cross sectional untuk

mengetahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada anak

usia 6-12 bulan dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma

Darussalam Banda Aceh tahun 2013.

4.2. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Menurut Notoatmodjo (2010) populasi adalah keseluruhan objek penelitian

atau objek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang

memiliki bayi usia 6-12 bulan dan tinggal Wilayah Kerja Puskesmas Kopelma

Darussalam Banda Aceh tahun 2013, berjumlah 218 orang.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruh dari populasi (Notoatmodjo, 2010). dengan

penetapan jumlah sampel minimum menggunakan rumus Slovin

(Notoatmodjo, 2010), sebagai berikut :

n= N
1+N(d2)
Keterangan :
N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : Tingkat kepercayaan (ketepatan yang diinginkan) sebesar 90%

24
25

4.3. Instrumen penelitian

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

menggunakan kuesioner yang berbentuk pilihan dhichotomous choise untuk

mengukur hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada anak

usia 6-12 bulan dengan kejadian diare. Dimana kuesioner berisikan pertanyaan

tentang variabel penelitian yang terdiri dari 1 soal untuk pemberian MP-ASI, 1 soal

untuk usia,6 soal untuk resiko pemberian MP-ASI, 7 soal untuk cara pemberian

MP-ASI, untuk jawaban benar diberi skor 1 dan salah diberi skor 0.

4.4. Cara Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data yang langsung diperoleh dari lapangan dengan cara menyebarkan

kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mendapatkan data mengenai variabel

penelitian.

2. Data Skunder

Didapat dari bagian KIA Puskesmas serta referensi buku-buku perpustakaan

yang berhubungan dengan penelitian serta pendukung lainnya.

4.5. Pengolahan dan Analisa Data

1. Pengolahan Data

Proses pengolahan data dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Menurut

Budiarto (2001) tahap pengolahan data meliputi :


26

a. Editting, adalah melakukan pemeriksaan data yang telah dikumpulkan baik

berupa daftar pertanyaan, kartu ataupun buku register, yang dilakukan pada

kegiatan pemeriksaan data adalah menjumlahkan data dan melakukan

pengkoreksian, dengan memeriksa apakah semua pertanyaan telah diisi dan

apakah jawaban sesuai dengan pertanyaan.

b. Coding, adalah memberikan kode untuk semua variabel berupa nomor pada

setiap kuesioner yang di isi oleh responden pda saat penelitian.

c. Transfering, adalah memindahan data dari kuesioner kedalam tabel

pengolahan data secara berurutan sesuai dengan variabel penelitian

d. Tabulating, adalah pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan

mudah dapat dijumlahkan, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisa.

2. Analisa Data

a. Analisa Univariat

Analisis data yang digunakan untuk melihat distribusi frekuensi variabel-

variabel yang diteliti, baik variabel independen maupun variabel dependen. dengan

kriteria untuk penilaian masing-masing variabel penelitian adalah sebagai berikut :

1. Kejadian diare, dengan kriteria :

a. Diare bila x > 3

b. Tidak diare bila x < 3

2. Resiko pemberian MP-ASI, dengan kriteria :

a. Bersiko apabila ada gejala suatu penyakit

b. Tidak beresiko bila tidak ada gejala suatu penyakit


27

3. Usia pemberian MP-ASI, dengan kriteria :

a. Tepat bila pemberian ASI diberikan pada usia 6 bulan keatas

b. Tidak tepat bila pemberian ASI diberikan pada usia kurang 6 bulan

4. Cara pemberian MP-ASI, dengan kriteria :

a. Tepat bila x ≥ 5,33

b. Tidak tepat bila x ≤ 5,33

Selanjutnya data dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi, menurut Sudjana

(2005) analisis ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dari masing-

masing variabel dengan rumus sebagai berikut :

P = f1 x 100 %

Keterangan

P : Persentase

f1 : Frekuensi teramati

n : Jumlah responden menjadi sampel

b. Analisis data bivariat

Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis, yang diolah dengan

komputer menggunakan SPSS versi 16, untuk menentukan hubungan antara

variabel independen dengan variabel dependen melalui uji Chi-Square Tes (x2 ),

Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara 2 variabel digunakan

batas kemaknaan (CI) 0,05 (95%) (Arikunto, 2006), dengan ketentuan bila nilai p <

0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang menunjukkan ada hubungan bermakna
28

antara variabel terikat dengan variabel bebas. Untuk menentukan nilai p-value pada

Chi-Square Tes (x2 ) tabel, memiliki ketentuan sebagai berikut :

1. Bila pada tabel 2x2 dijumpai nilai Expected (harapan) kurang dari 5, maka

yang digunakan adalah “Fisher’s Excact test”.

2. Bila pada tabel 2x2 dan tidak dijumpai nilai Expected (harapan)kurang dari

5, maka nilai yang digunakan adalah “Countinuity Correction”.

c. Pembahasan

1. Hubungan usia pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-12 bulan dengan

kejadian diare Berdasarkan hasil penelitian responden yang tepat pada usia

pemberian MP_ASI ternyata sebanyak (63,2%) yang tidak mengalami

kejadian diare, Sedangkan dari 31 responden yang tidak tepat pada usia

pemberian MP-ASI ternyata mayoritas (71%) yang mengalami kejadian

diare.

Menurut toeri Arif (2009) mengemukakan bahwa MP-ASI dapat

diberikan saat usia bayi mencapai 6 bulan. Ukuran kecukupan produksi

ASI bagi bayi dapat dilihat dari kenaikan berat badan dan kesehatan bayi.

Bila

diberikan saat usia dibawah 6 bulan, sistem pencernaannya belum memiliki

41 enzim untuk mencerna makanan, sehingga memberatkan kerja

pencernaan dan

ginjal bayi. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang di sampaikan oleh

Departemen Kesehatan (Depkes) RI (2007), bahwa usia pada saat pertama

kali
29

pemberian makanan pendamping ASI pada anak yang tepat dan benar adalah

setelah usia anak 6 bulan, dengan tujuan agar anak tidak mengalami infeksi

atau

gangguan pencernaan akibat virus atau bakteri. Menurut peneliti, usia yang

tepat saat mulai memberikan MP-ASI akan sangat mempengaruhi kesehatan

bayi. Bila MP-ASI diberikan ketika usia bayi dibawah 6 bulan, maka sistem

pencernaan bayi belum siap untuk menerima makanan tersebut sehingga

akan rentang terjadi gangguan pencernaan yang salah satunya seperti diare.

Selain itu, MP-ASI juga harus diberikan pada bayi yang berusia diatas 6

bulan dikarenakan oleh ketika usia 6 bulan kebutuhan nutrisi bayi sudah

tidak bisa dipenuhi hanya oleh ASI.

2. Hubungan resiko pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-12 bulan dengan

kejadian diare

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan dari 37

responden yang beresiko dalam pemberian MP-ASI ternyata sebanyak

(67,6%)

yang tidak mengalami kejadian diare, Sedangkan dari 32 responden yang

tidak

beresiko dalam pemberian MP-ASI ternyata mayoritas (65,6%) yang tidak

mengalami kejadian diare. 42 Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-

square didapatkan nilai p value = 0,006. Sehingga didapat kesimpulan

bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau terdapat hubungan resiko

pemberian MP-ASI pada bayi usia


30

6-12 bulan dengan kejadian diare.

3. Hubungan cara pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-12 bulan dengan

kejadian diare

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan dari 34

responden yang tepat dengan cara pemberian MP-ASI ternyata sebanyak

(64,7%) yang tidak mengalami kejadian diare, Sedangkan dari 35 responden

yang tidak tepat dengan cara pemberian MP-ASI ternyata mayoritas (68,6%)

yang ada mengalami kejadian diare.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian dan uji statistik tentang hubungan

pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi usia 6-12 bulan

dengan kejadian diare :

1. Ada hubungan usia pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada

bayi

usia 6-12 bulan dengan kejadian diare.

2. Ada hubungan resiko pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada

bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare

3. Ada hubungan cara pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada

bayi

usia 6-12 bulan dengan kejadian diare

5.2. Saran

1. Bagi Peneliti

Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat menambah

pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam bidang penelitian, khususnya

penelitian tentang hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-

ASI) pada bayi usia 6-12 bulan dengan kejadian diare sehingga dapat

menambah ilmu yang dimiliki peneliti.

31
32

2. Institusi Pendidikan

Diharapkan bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan U’Budiyah

khususnya Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, agar hasil makalah ini

dapat dimanfaatkan

untuk menambah khasanah ilmu kesehatan terutama tentang hubungan

pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi usia 6-12 bulan

dengan kejadian diare serta dapat dijadikan bahan bacaan untuk

meningkatkan

pengetahuan mahasiswa/i.