Vous êtes sur la page 1sur 3

CERAMAH PERINGATAN ISRA MI’RAJ

TENTANG SHOLAT RAGA JIWA


(OLEH: USTADZ FAUZAN)
ALAMAT TANAH BUMBU KEC. SATUI DS. SINAR BULAN RT.06
MATA KULIAH:
SEJARAH ISLAM
Dosen:
SALAPUDDIN NOOR, SHI, MH

OLEH:
Ahmad Rapianor
17810648

UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD


ARSYAD AL-BANJARY
FAKULTAS ILMU HUKUM
TAHUN 2018
Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdu lillahi rabbil a’lamiin. Washolaatu wasalaamu a’la
asrofil anbiyaa-i wal mursaliin. Sayyidinaa wamaulana Muhammadin. Wa ‘ala ash-haabi
ajmain.

Yang kami muliakan para a’lim… Bapak, Ibu serta hadirin sekalian yang saya hormati. Tiada
yang lebih pantas untuk disampaikan, kecuali rasa syukur kita ke hadirat Allah SWT atas
kemurahan-Nya, hingga saat ini kita semua masih mendapatkan nikmat iman dan Islam.
Semoga kedua nikmat terbesar ini dapat kita raih hingga akhir hayat kita. Amin, ya robbal
alamin.

Shalawat dan salam semoga tetap atas Rasul Muhammad SAW, manusia tersibuk yang tak
pernah meninggalkan kebiasaan shalat berjamaah di masjid. Teriring doa semoga kita selalu
dapat meneladaninya. Amin.

Hadirin yang dirahmati Allah…


Tema ceramah Isra Mi’raj malam ini adalah: “Dengan peringatan Isra Miraj, shalat raga
jiwa.”

Manusia terdiri atas raga, nyawa dan jiwa. Istilah dalam bahasa Arabnya jazad, ruh dan nafs.
Ruh, jamaknya arwah dan nafs jamaknya anfus.

Nafs, jiwa atau disebut juga batin terdiri atas akal dan qalb. Orang yang sedang tidur tidak
bisa melihat dan tidak bisa mendengar. Hal ini karena jiwanya sedang tidak ada (tidak aktif).

Raga seseorang hanya bertahan hingga kurang lebih 70 tahun, sedangkan jiwanya tetap ada
selamanya. Ketika seseorang meninggal, maka yang masuk alam barzakh itu bukan raganya,
tapi jiwanya.

Raga perlu makan dan minum, dalam jumlah yang terbatas. Sedangkan yang dibutuhkan jiwa
adalah pahala, dalam jumlah tanpa batas. Sebagai renungan, kita ini lebih suka
mengumpulkan harta atau pahala?
Memang manusia banyak kena tipu daya dunia, sehingga manusia lebih suka mengumpulkan
harta untuk kebutuhan jazad yang hanya sebentar. Sementara untuk kebutuhan jiwa yang
langgeng, kita hanya mencari sekedarnya saja.

Semestinya adalah, kita harus memberi kebutuhan jiwa (pahala) sebanyak-banyaknya. Semua
aktivitas kita harus menjadi pahala. Harta kita juga harus dikonversikan agar menjadi pahala.
Jangan disimpan saja!
Kalau kita shalat, yang shalat itu raganya atau jiwanya? Yang benar harus dua-duanya! Jadi,
jiwa dan raga kita harus shalat. Jika hanya raganya saja yang shalat, ini yang disebut dengan
shalat yang tidak dijiwai sehingga tidak bisa shalat khusyu.

Konsep shalat khusyu adalah shalat yang dilaksanakan dengan jiwa-raga. Untuk membantu
menghadirkan jiwa, maka penting sekali memahami arti bacaan shalat.

Cara menghadirkan jiwa dalam shalat:


Saat mengucapkan “Allahu Akbar” maka jiwa kita harus ikut menyatakan bahwa “Allah
Maha Besar” yang lain kecil, dan ini akan melahirkan jiwa yang tidak sombong. Saat
membaca tahmid, “wal hamdu lillah” jiwa kita juga harus ikut menyatakan bahwa “Segala
puji hanya bagi Allah.” Sikap ini akan melahirkan jiwa yang tidak ingin dipuji.
Begitu seterusnya hingga akhir shalat.

Dengan shalat khusyu, shalat yang dilakukan oleh raga dan jiwa (shalat yang dijiwai) akan
bisa membentuk karakter jiwa yang baik. Makanya Allah menjamin bahwa:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar” (Al Ankabut).