Vous êtes sur la page 1sur 4

REKAYASA IDE

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU SITI MAHARANI SIMBOLON, S.Pd.,M.Pd

Disusun Oleh :

AYU ULINA SILABAN

4173311015

MATEMATIKA DIK E 2017

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
PENDAHULUAN

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas rekayasa ide yang merupakan tugas mata kuliah
Psikologi Pendidikan.

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Pendidikan dan untuk menambah wawasan dan kemampuan mahasiswa dalam hal membuat
ide atau menuangkan ide-ide yang ada di dalam pemikirannya mengenai materi ini. Membuat
ide-ide baru dan gemilang merupakan salah satu tuntutan untuk para pada zaman sekarang
ini. Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis
memohon kritik dan saran yang membangun guna memperbaiki dan menyempurnakan
makalah ini serta pembuatan tugas project ini.

Akhir kata, penulis ucapkan terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat dan
dapat menambah wawasan bagi pembaca.

Medan, 29 Maret 2018

AYU ULINA SILABAN


A Beautiful Mind: Sebuah Kisah Tentang Skizofrenia

A Beautiful Mind

Penanganan Skizofrenia yang tidak tepat, misalnya lewat pemasungan, justru menimbulkan
dampak yang lebih buruk. Walaupun menurut kedokteran medis, penanganan skizofrenia
adalah melalui obat-obatan tetapi penanganan aspek psikologis dan spiritual (psikospiritual)
adalah aspek yang paling penting untuk membebaskan atau mengurangi dampak dari
skizofrenia.
Sinopsis Film A Beautiful Mind

Untuk memahami tentang Skizofrenia maka anda dapat menonton film A Beautiful
Mind. Saya menyaksikan film ini sekitar setahun lalu. Mengisahkan seorang matematikawan
peraih nobel dibidang ekonomi, bernama John Nash.

Film diawali saat John Nash masih menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi ternama,
Princeton. Sebagai mahasiswa, John termasuk unik. Dia tak suka belajar dikelas. Lebih suka
belajar secara otodidak. Mencari dan mengamati sekitar demi mendapatkan ide kreativitasnya
secara alami, untuk meraih gelar doktornya.

Namun tak banyak menyadari, John juga merupakan penderita skizofrenia. Suatu penyakit
mental yang gejalanya antara lain, tak dapat membedakan antara halusinasi dan kenyataan,
memiliki keyakinan yang salah/delusi, menarik diri dari pergaulan, serta kemampuan
bersosialisasinya menghilang. Penyakit John ini semakin parah mulai ia bekerja di Wheller
Defence Lab di MIT, sebuah pusat penelitian bergengsi.

Perubahan besar muali terjadi saat John ditugaskan sebagai mata-mata oleh pentagon.
Dimana ia mulai terobsesi dan hidup jauh diambang normal alias hanya dalam dunianya
sendiri. Hal ini membuat sang istri menjadi nervous dan dilanda kecemasan. Adegan demi
adeganpun bergulir cukup menegangkan. Namun alur cerita berjalan apik dan cukup
menguras emosi. Terutama saat sosok sang istri berada dibatas keputusannya saat mengetahui
kondisi jiwa sang suami. Ternyata pekerjaan sebagai mata-mata pentagon adalah sebagai ilusi
dan bukan realitas sebenarnya. Inilah masalah terberat yang dialami para skizofrenia, karena
beberapa realitas yang mereka alami adalah sebuah ilusi. Diperankan dengan sangat baik oleh
aktor papan atas Russel Crowe sebagai John Nash, Jennifer Conelli sebagai istrinya. Film ini
patut ditonton karena menambah pengetahuan kita, bagaimana perjuangan seorang
skizofrenia dalam mengatasi situasi dirinya. Terutama efek penyakit yang diderita terhadap
orang-orang disekelilingnya. Penderita skizof sebenarnya menyadari keganjilan-keganjilan
dirinya, meski tak mampu memahami apa nyang sebenarnya terjadi. Digambarkan pula
bagaimana orang-orang terdekatlah yang diharapkan mampu menjadi pilar utama
kesembuhannya. Karena seorang skizof pada dasarnya sangat membutuhkan pengertian
mendalam orang-orang terdekatnya agar mampu meyakini dirinya bahwa bisa sembuh.
Namun, terapi medis juga tetap diperlukan agar kesembuhannya mencapai tarafnya kearah
yang lebih baik.

Meskipun tak semua penyakit skizofrenia mudah disembuhkan dalam hitungan setahun dua
tahun, melainkan bertahun-tahun lamanya, namun lewat film ini kita sebagai manusia normal
sepatutnya tak langsung menganggap bahwa penderita skizofrenia adalah penyakit gila
turunan atau penyakit yang hanya diderita oleh orang-orang tertentu saja . karena dengan
situasi mental yang rapuh dan stimulan otak alam bawa sadar yang tidak singkronisasi dalam
aliran energinya, penyakit ini bisa menyerang siapapun. Film produksi tahun 2001 ini dengan
snagat jelas menggambarkan semua itu. Film ini diakhiri dengan adegan John Nash ketika
menerima hadiah Nobel di Swedia pada tahun 1994 untuk teori ekuilibriumnya yang banyak
pada teori-teori ekonomi.

KESIMPULAN

Ide yang muncul dari film tersebut ialah, bahwa setiap orang yang memiliki penyakit
skizofrenia adalah orang yang sangat membutuhkan semangat dari orang-orang yang ada
disekelilingnya. Karena dengan semangat yang cukup kuat, akan bisa membantu kesembuhan
penyakit itu, ya walaupun kesembuhan itu tidaklah seutuhnya diperoleh. Kita sebagai orang
yang bisa dikatakan sempurna tanpa memiliki penyakit seperti John, kita patutlah selalu
bersyukur atas setiap kesehatan yang Maha Kuasa berikan.