Vous êtes sur la page 1sur 3

PEMIMPIN KOK BINATANG ?

ANIMAL FARM (LADANG BINATANG) merupakan pentas teater yang


digelar oleh Teater Lakon. Ladang Binatang sendiri merupakan adaptasi dari novel
Animal Farm karya George Orwell hasil saduran Kamil Mubarok. Pementasan ini
disutradarai oleh Chandra Kudapawana, seorang sutradara dan aktor hebat yang
pernah pentas di beberapa negara. Pementasan Ladang Binatang dilaksanakan pada
Jum’at, 11 November 2016 lalu pukul 14.00 dan 19.00 WIB di Gedung Amphiteater
Kebudayaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr. Setiabudhi No. 229
Bandung. Pementasan itu, alhasil masih membuahkan buntut berupa pesan moral.
Lakon yang dimainkan oleh babi, sapi, kambing, bebek, ayam, keledai, kuda dan
anjing. Pementasan ini di saksikan kurang lebih oleh 150 orang.

Suasana ramai disertai gemercik air hujan yang deras menemani


pertunjukan, suasana panggung yang didesain sedemikian rupa mengibaratkan
seperti kandang hewan ternak, dengan banyak jerami bertebaran, kotak-kotak kayu,
dan karung-karung yang berisi persediaan makanan. Lakon yang dibuka mulai
dengan penataan musik yang baik dengan ritme yang menarik, nyanyian dan tarian
para aktor yang memukau, membantu memudahkan memahami beberapa
pemahaman sisi-sisi adegan yang sulit dicerna. Kesan pembukaan alur yang
langsung naik tinggi, membawa emosional para penonton untuk larut dalam setiap
adegan.

Terdapat beberapa pesan moral yang hendak disampaikan, walaupun


sedikitnya mereka menyindir manusia. Dalam cerita itu binatang ternak yang
memberontak, menuntut kemerdekaan, menuntut kebebasannya. Binatang dalam
cerita Ladang Binatang bukanlah sekadar binatang, mereka adalah binatang yang
tahu pentingnya berdemokrasi, berserikat, berkumpul, musyawarah,
mengoorganisir kelompoknya. Mereka ada di sekitar kita, secara tidak langsung
menyampaikan kisah yang kita alami saat ini, lewat binatang yang terus dalam tiap
adegan, menunjukkan itu hanyalah sebuah sindiran untuk manusia.
Jika di telaah binatang yang ada dalam kisah tersebut adalah manusia-
manusia yang sebenarnya. Pada saat kemerdekaan sudah didepan mata dan berhasil
diraih, terjadilah perebutan kekuasaan untuk memegang kepemimpinan, yang bisa
berkuasa mengendalikan siapapun yang ada di dalam pengaruhnya. Seperti
penggambaran tokoh Napoleon yang merebut kekuasaan dari Snowball bertebaran
di sekitar kita, ada didalam kehidupan kita, bahkan mungkin orang-orang terdekat
kita. Tidak ada usaha bekerja keras tapi bisa seenaknya teriak lantang ketika
berhasil meraih sesuatu. “Akulah pemimpin kalian, karena aku kalian bisa
merdeka”. Adapun peran anjing yang perannya dalam cerita itu dan kehidupan
manusia pada umumnya akan selalu melindungi majikannya. Anjing dipelihara
untuk menjaga kekuasaan. Siapapun yang mencoba mendekati akan dilawan dan
digonggongnya sampai ketakutan.
Napoleon, Squiller, dan anjing ternyata bukanlah dalang dari semuanya,
tapi si keledai dan burung gagak, merekalah dalang yang mengendalikan semuanya.
Dengan memecah belahkan kedua pihak yang diinginkan agar terjadi adanya
kekacauan.
Keledai tua itu ada di lingkungan terdekat kita, ada disela-sela kehidupan
kita. Adapun burung gagak yang terus mengawasi dan memantau setiap saat.
Mereka yang mengendalikan kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri. “Saat
kau berada di depan, yang di belakangmu akan mengikutimu kemanapun kau pergi,
tapi jika sesuatu yang buruk terjadi, kau yang pertama yang akan merasakan
dampaknya. Saat kau berada di belakang, kemungkinanmu untuk menyelamatkan
diri jauh lebih besar jika sesuatu yang buruk terjadi, tapi selama kau berada di
belakang hidupmu akan tersiksa karena kau harus selalu mengikuti yang berada di
barisan terdepan.”

“Jadilah yang berada diantara mereka, jadikan yang di depanmu sebagai


tameng dan yang di belakangmu sebagai senjata. Buatlah dirimu tak terlihat maka
kau tak akan tersentuh.”
Tidak ada pilihan dalam kehidupan ini selain berada di depan atau berada di
belakang. Menjadi pemimpin yang siap dijatuhkan atau menjadi pengikut yang
tidak bisa apa-apa selain patuh kepada pemimpinnya. Nafsu kekuasaan sangat sulit
dikendalikan dalam kehidupan nyata tapi itulah kenyataan yang terjadi. Kekuasaan
dapat menjatuhkan siapapun yang berniat buruk, yang terjun dalam lingkaran setan.
Perebutan kekuasaan ini sangatlah nampak jelas dalam kehidupan kita,
memang sama persis dengan maksud pesan moral pementasan ini, keserakahan,
keegoisan para pemimpin kita memberikan efek buruk bagi masyarakat nya. Para
pemimpin yang mengutamakan kepentingan dirinya sendiri, yang mengutamakan
kepuasan nya, tidaklah bisa dianggap sebagai pemimpin. Pemimpin yang
seharusnya bisa mensejahterakan rakyat nya tidak pernah nampak dalam kehidupan
nyata, kemanakah para pemimpin kita yang sesungguh nya? Andaikan pementasan
teater ini bisa dipentaskan lebih luas, agar para pemimpin tau pesan moral yang
terdapat pada pementasan ini ditunjukan kepada siapa, barulah akan ada yang
namanya pemimpin yang sesungguh nya.