Vous êtes sur la page 1sur 23

Laporan Kasus

Miopia Simpleks

Oleh :
Suhaidir Laomo
17014101157

ResidenPembimbing
dr. Calvin W. Nugraha

Supervisor Pembimbing
Dr. Yamin Tongku, Sp.M

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus dengan judul “Miopia Simpleks” telah dikoreksi, disetujui dan
dibacakan pada Maret 2018 di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUD Prof. Dr. R.
D. Kandou Manado.

Residen Pembimbing

dr. Calvin W. Nugraha

Supervisor Pembimbing

dr. Yamin Tongku, Sp.M


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..............................................................................................................................1
BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................................................2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................4
2.1. Kelainan Refraksi............................................................................................................4
2.2. Miopia.............................................................................................................................4
A. Definisi........................................................................................................................4
B. Klasifikasi....................................................................................................................5
C. Gejala Klinis................................................................................................................8
D. Pemeriksaan Penunjang...............................................................................................9
E. Penatalaksanaan.........................................................................................................10
F. Komplikasi.................................................................................................................11
G. Prognosis...................................................................................................................12
BAB III. LAPORAN KASUS..................................................................................................13
3.1. Identitas Pasien..............................................................................................................13
3.2. Anamnesis.....................................................................................................................13
3.3. Pemeriksaan Fisik.........................................................................................................14
3.4. Diagnosa Banding.........................................................................................................17
3.5. Diagnosa Kerja..............................................................................................................17
3.6. Usul Pemeriksaan..........................................................................................................17
3.7. Penatalaksanaan............................................................................................................17
3.8. Prognosis.......................................................................................................................17
BAB IV. PEMBAHASAN.......................................................................................................19
BAB V. PENUTUP..................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................21
BAB I
PENDAHULUAN

Miopia dari bahasa Yunani yaitu μυωπία myopia "penglihatan-dekat"1


atau rabun jauh adalah sebuah kerusakan refraktif mata dimana bayangan yang
dihasilkan berada di depan retina ketika mata tidak berakomodasi. Miopia dapat
terjadi karena bola mata yang terlalu panjang atau karena
kelengkungan kornea yang terlalu besar sehingga cahaya yang masuk tidak
difokuskan secara baik dan objek jauh tampak buram. 2 Gejala lain yakni nyeri
kepala dan mata tegang. Pada keadaan yang parah dapat menyebabkan ablasio
retina, katarak, dan glaukoma.3

Penyebab yang mendasari diyakini sebagai kombinasi dari faktor genetik


dan lingkungan. Faktor risiko meliputi melakukan pekerjaan yang banyak
melibatkan fokus pada objek dekat, lebih banyak beraktifitas dalam ruangan, dan
adanya riwayat keluarga dengan kondisi yang sama. Ada bukti tentatif bahwa
rabun dekat dapat dicegah dengan membuat anak menghabiskan lebih banyak
waktu di luar ruangan. Hal ini mungkin terkait dengan paparan cahaya alami.4,5

Miopia dapat dikoreksi dengan kacamata, lensa kontak, atau operasi.


Kacamata adalah metode koreksi yang mudah dan paling aman. Lensa kontak
dapat memberikan bidang pandang yang lebih luas namun dikaitkan dengan risiko
terjadinya infeksi. Sedangkan operasi refrakter secara permanen akan mengubah
bentuk kornea.1

Rabun jauh adalah masalah mata yang paling sering dan diperkirakan
mempengaruhi 1,5 miliar orang (22% dari populasi). Angka ini bervariasi secara
signifikan di berbagai wilayah di dunia. Pada orang dewasa berkisar antara 15
sampai 49%. Pria dan wanita sama. Sedangkan pada anak-anak, 1% pada
penduduk pedesaan Nepal, 4% orang Afrika Selatan, 12% orang Amerika, dan
37% di beberapa kota besar di China. Jumlah ini terus meningkat sejak tahun
1950an.5-8
Di Indonesia, dilaporkan prevalensi miopia sebesar 48,1% (2002) .
Sedangkan Hasil survei Riskesdas 2013 melaporkan proporsi ketersediaan koreksi
refraksi (kacamata atau lensa kontak) sebesar 4,6% dan prevalensi low vision
0,9% (Kemenkes RI, 2013).9

Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus dengan diagnosis Miopia pada
pasien yang datang berobat ke Poliklinik Mata RSU Prof. dr. R. D. Kandou.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KELAINAN REFRAKSI

Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk


pada retina. Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik mata
sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Pada mata normal kornea dan lensa
membelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini
memerlukan susunan kornea dan lensa yang sesuai dengan panjangnya bola mata.
Pada orang normal daya bias media penglihatan dan panjangnya bola mata
seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refraksi dibiaskan tepat
di daerah makula lutea.10

Secara keseluruhan status refraksi dipengaruhi oleh:


1. Kekuatan kornea (rata-rata 43 D)
2. Kekuatan lensa (rata-rata 21 D)
3. Panjang aksial (rata-rata 24 cm)

Dikenal beberapa titik di dalam bidang refraksi, seperti Punctum


Proksimum merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat
dengan jelas. Punctum Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih
dapat melihat dengan jelas. Titik ini merupakan titik di dalam ruang yang
berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat.10

Emetropia adalah keadaan tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar


mata dan mata berfungsi normal. Ametropia adalah keadaan pembiasan mata
dengan panjang bola mata yang tidak seimbang. Terdapat beberapa kelainan
refraksi antara lain miopia, hipermetropia, presbiopia, dan astigmat.10,11

2.2 MIOPIA

A. DEFINISI
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang
memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina.
Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara jelas karena sinar
yang datang saling bersilangan pada badan kaca, ketika sinar tersebut sampai di
retina sinar-sinar ini menjadi divergen, membentuk lingkaran yang difus dengan
akibat bayangan yang kabur.10,11

Gambar 1. Miopia

Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering


disertai dengan juling dan celah kelopak mata yang sempit. Seseorang dengan
miopia mempunyai kebiasaan mengernyitkan matanya untuk mencegah aberasi
sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pasien myopia
mempunyai punctum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau
berkedudukan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita
akan terlihat juling ke dalam atau esotropia.11

B. KLASIFIKASI
Dikenal beberapa tipe dari miopia:10-12
1. Miopia Aksial
Bertambah panjangnya diameter anteroposterior bola mata dari normal.
pada orang dewasa panjang aksial bola mata 22,6 mm. perubahan diameter
anteroposterior bola mata 1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi
sebesar 3 dioptri.
2. Miopia Refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan sepeti yang terjadi pada
katarak intumesen dimana lensa menjadi cembung sehingga pembiasan
lebih kuat.

Menurut derajat beratnya, miopia dibagi dalam:


1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 D
2. Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3-6 D

3. Miopia berat atau tinggi dimana miopia lebih besar dari 6 D

Menurut perjalanannya, miopia dikenal dengan bentuk:


1. Miopia stasioner, miopia yang menetap
2. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat
bertambah panjangnya bola mata
3. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat
mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan. Miopia maligna biasanyan bila
miopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan pada
panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum yang terletak
pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.

Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli
seperti miopik kresen yaitu bercak atrofi koroid yang berbentuk bulan sabit pada
bagian temporal yang berwarna putih keabu-abuan kadang-kadang bercak atrofi
ini mengelilingi papil yang disebut annular patch. Dijumpai degenerasi dari retina
berupa kelompok pigmen yang tidak merata menyerupai kulit harimau yang
disebut fundus tigroid, degenerasi makula, degenerasi retina bagian perifer
(degenerasi latis).11,12

Degenerasi latis adalah degenerasi vitroretina herediter yang paling sering


dijumpai, berupa penipisan retina berbentuk bundar, oval, atau linear, disertai
pigmentasi, garis putih bercabang-cabang dan bintik kuning keputihan.
Degenarasi latis lebih sering dijumpai pada mata miopia dan sering disertai
ablasio retina, yang terjadi hampir 1/3 pasien dengan ablasio retina.11,12
Gambar 2. Degenerasi Latis

Berdasarkan gambaran klinisnya, miopia dibagi menjadi:11-14


1. Miopia simpleks
ini lebih sering daripada tipe lainnya dan dicirikan dengan mata yang
terlalu panjang untuk tenaga optiknya (yang ditentukan dengan kornea
dan lensa) atau optik yang terlalu kuat dibandingkan dengan panjang
aksialnya.
2. Miopia nocturnal
Ini merupakan keadaan dimana mata mempunyai kesulitan untuk
melihat pada area dengan cahaya kurang, namun penglihatan pada
siang hari normal.
3. Pseudomiopia
Terganggunya penglihatan jauh yang diakibatkan oleh spasme otot
siliar.
4. Miopia yang didapat
Terjadi karena terkena bahan farmasi, peningkatan level pada gula
darah, sklerosis nukleus atau kondisi anomali lainnya.

C. GEJALA KLINIS
Gejala subjektif miopia antara lain:
1. Kabur bila melihat jauh
2. Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat

3. Lekas lelah bila membaca (karena konvergensi yang tidak sesuai dengan
akomodasi).
Gejala objektif miopia antara lain:
1. Miopia Simpleks:
a. Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang
relatif lebar. Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol
b. Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau
dapat disertai kresen miopia (myopic cresent) yang ringan di sekitar
papil saraf optik. 11,13-15

2. Miopia patologik:
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks.
Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-
kelainan pada:
a. Badan kaca: dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau
degenerasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang
mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan
kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan miopia
b. Papil saraf optik: terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil
terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen
miopia dapat ke seleruh lingkaran papil sehingga seluruh papil di
kelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang tidak
teratur.

Gambar 3. Myopic crescent

c. Makula: berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan


perdarahan subretina pada daerah makula.
d. Retina bagian perifer: berupa degenerasi kista retina bagian
e. Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan
retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas
dan disebut sebagai fundus tigroid.11,12
Gambar 4. Fundus Tigroid

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk mendiagnosis myopia dapat dilakukan dengan beberapa
pemeriksaan pada mata, pemeriksaan tersebut adalah:
1. Refraksi Subjektif
Diagnosis miopia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan refraksi
subjektif, metode yang digunakan adalah dengan metode “trial and
error”. Jarak pemeriksaan 6 meter dengan menggunakan kartu Snellen.
2. Refraksi Objektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2.00 D
pemeriksa mengamati reflex fundus yang bergerak berlawanan arah
dengan arah pergerakan retinoskop (against movement).
3. Autorefraktometer
Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan
menggunakan komputer. 11,13,14

E. PENATALAKSANAAN
a. Lensa Kacamata
Kacamata masih merupakan yang paling aman untuk memperbaiki
refraksi. Untuk mengurangi aberasi nonkromatik, lensa dibuat dalam bentuk
meniscus (kurva terkoreksi) dan dimiringkan ke depan (pantascopic tilt).10-13

b. Lensa Kontak

Lensa kontak pertama merupakan lensa sklera kaca yang berisi


cairan. Lensi ini sulit dipakai untuk jangka panjang serta menyebabkan
edema kornea dan rasa tidak nyaman pada mata. Lensa kornea keras, yang
terbuat dari polimetilmetakrilat, merupakan lensa kontak pertama yang
benar-benar berhasil dan diterima secara luas sebagai pengganti kacamata.
Pengembangan selanjutnya antara lain adalah lensa kaku yang permeable
udara, yang terbuat dari asetat butirat selulosa, silicon atau berbagai polimer
plastic dan silicon, dan lensa kontak lunak, yang terbuat dari beragam
plastic hydrogel, semuanya memberikan kenyamanan yang lebih baik, tetapi
risiko terjadinya komplikasi serius lebih besar.11-13
Lensa keras dan lensa yang permeabel udara mengoreksi kesalahan
refraksi dengan mengubah kelengkungan permukaan anterior mata. Daya
refraksi total merupakan daya yang ditimbulkan oleh kelengkukan belekang
lensa (kelengkungan dasar) bersama dengan daya lensa sebenarnya yang
disebabkan oleh perbedaan kelengkungan antara depan dan belakang. Hanya
yang kedua yang bergantung pada indeks refraksi bahan lensa kontak. Lensa
keras dan lensa permeabel udara mengatasi astigmatisme korne dengan
memodifikasi permukaan anterior mata menjadi bentuk yang benar-benar
sferis.11-14
Lensa kontak lunak, terutama bentuk-bentuk yang lebih lentur,
mengadopsi bentuk kornea pasien. Dengan demikian, daya refraksinya
hanya terdapat pada perbedaan antara kelengkungan depan dan belakang,
dan lensa ini hanya sedikit mengoreksi astigmatisme kornea, kecuali bila
disertai koreksi silindris untuk membuat suatu lensa torus.11-14
c. Bedah keratorefraktif
Bedah keratorefraktif mencakup serangkaian metode untuk
mengubah kelengkungan permukaan anterior mata. Efek refraktif yang
diinginkan secara umum diperoleh dari hasil empiris tindakan-tindakan
serupa pada pasien lain dan bukan didasarkan pada perhitungan optis
maternatis.3-6
d. Lensa Intraokular
Penanaman lensa intraocular (IOL) telah menjadi metode pilihan
untuk koreksi kelainan refraksi pada afakia. Tersedia sejumlah rancangan,
termasuk lensa lipat, yang terbuat dari plastik hydrogel, yang dapat
disisipkan ke dalam mata melalui suatu insisi kecil, dan lensa kaku, yang
paling sering terdiri atas suatu optik yang terbuat dari polimetilmetakrilat
dan lengkungan (haptik) yang terbuat dari bahan yang sama atau
polipropilen. Posisi paling aman bagi lensa intraocular adalah di dalam
kantung kapsul yang utuh setelah pembedahan ekstrakapsular.13,14
e. Ekstraksi Lensa Jernih Untuk Miopia
Ekstraksi lensa non-katarak telah dianjurkan untuk koreksi refraktif
myopia sedang sampai tinggi, hasil tindakan ini tidak kalah memuaskan
dengan yang dicapai oleh bedah keratorefraktif menggunakan laser. Namun,
perlu dipikirkan komplikasi operasi dan pascaoperasi bedah intraokular,
khususnya pada miopia tinggi.12-14

F. KOMPLIKASI
Komplikasi lebih sering terjadi pada miopia tinggi. Komplikasi yang dapat
terjadi berupa:11
1. Dinding mata yang lebih lemah, karena sklera lebih tipis
2. Degenerasi miopik pada retina dan koroid. Retina lebih tipis sehingga
terdapat risiko tinggi terjadinya robekan pada retina
3. Ablasi retina
4. Orang dengan myopia mempunyai kemungkinan lebih tinggi terjadi
glaukoma

G. PROGNOSIS
Prognosis miopia simpleks adalah sangat baik. Pasien myopia simpleks
yang telah dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik.
Prognosis yang di dapat sesuai dengan derajat keparahannya. Penyulit yang dapat
timbul pada pasien dengan miopia adalah terjadinya ablasi retina dan juling.
Juling biasanya esotropia akibat mata berkonvergensi terus-menerus. Bila terdapat
juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia. 10-
12
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn. JW
Umur : 37 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Banjer, Manado
Pekerjaan : PNS
Pendidikan : S1
3.2 ANAMNESIS
Keluhan utama : Penglihatan kedua mata kabur
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak ± 2 tahun terakhir penderita merasakan pandangan kabur pada kedua
mata dengan ukuran kacamata lamanya. Pandangan kabur apabila melihat jarak
jauh dan huruf terlihat membayang tetapi membaik jika jaraknya menjadi dekat.
Pandangan kabur terjadi perlahan dan makin lama makin kabur, pasien juga
mengeluh harus mengernyitkan mata untuk melihat fokus pada suatu benda.
Keluhan ini menjadi lebih berat bila pasien melepas kacamatanya.
Keluhan mata merah (-), nyeri (-), silau (-), kotoran mata (-), riwayat di depan
komputer dalam jangka waktu lama (+).
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat menggunakan kacamata sejak SMA, Riwayat kencing manis
disangkal. Riwayat trauma pada daerah mata disangkal. Riwayat minum obat-
obatan dalam jangka waktu lama disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal.
Riwayat Gizi
Baik
Riwayat Sosial Ekonomi
Baik

3.3 PEMERIKSAAN FISIK


3.3.1 Status Oftalmologikus
PEMERIKSAAN VISUS
DAN REFRAKSI
VISUS OD OS
2/60 2/60
Pemeriksaan dilakukan Pemeriksaan dilakukan
dengan cara: dengan cara:
- pasien menutup mata - pasien menutup
kirinya dengan mata kirinya dengan
menggunakan telapak menggunakan
tangan telapak tangan
- Pasien diminta untuk - Pasien diminta
membaca angka untuk membaca
terbesar pada kartu angka terbesar pada
Snellen. kartu Snellen.
- Pasien tidak mampu - Pasien tidak mampu
membaca huruf membaca huruf
terbesar pada kartu terbesar pada kartu
Snellen sehingga Snellen sehingga
dilakukan hitung jari. dilakukan hitung
- Pasien mampu jari.
menghitung jari pada - Pasien mampu
jarak 2 meter. menghitung jari
pada jarak 2 meter.

KOREKSI Visus 2/60 6/6 Visus 2/60 6/6


Dengan langkah: - Dilakukan koreksi - Dilakukan koreksi
- Pasien diminta untuk dengan menggunakan dengan
memakai trial frame sferis -/+ dengan menggunakan sferis
- Mata kanan diperiksa ukuran kecil terlebih -/+ dengan ukuran
terlebih dahulu dan dahulu sampai kecil terlebih dahulu
mata kiri ditutup menemukan ukuran sampai menemukan
dengan occlude yang sesuai. ukuran yang sesuai.
- Pasien diminta untuk - Pasien merasa lebih - Pasien merasa lebih
mengidentifikasi angka terang dengan terang dengan
terbesar pada kartu menggunakan lensa menggunakan lensa
Snellen sferis -5,00 sferis -5,00
- Setelah mata kanan - Pasien diberi sferis - Pasien diberi sferis
diperiksa dilanjutkan -5,50 didapakan visus -5,50 didapakan
pada mata kiri dan 6/6 visus 6/6
mata kanan ditutup - Didapatkan koreksi - Didapatkan koreksi
dengan menggunakan dengan
sferis yang lebih menggunakan sferis
rendah dengan visus yang lebih rendah
maksimal yakni sferis dengan visus
-5,00 maksimal yakni
- Pasien hanya mampu sferis -5,00
membaca angka pada - Pasien hanya
kartu Snellen sampai mampu membaca
visus 6/6 angka pada kartu
Snellen sampai visus
6/6
MUSCLE BALANCE OD OS
Tekanan Intra Okuler n/ palpasi n/ palpasi
Visual Field dbn Dbn
Kedudukan bola mata
Ortoforia

Ortoforia
PERGERAKAN BOLA Versi baik, duksi baik
MATA

Versi baik, duksi baik

PEMERIKSAAN OD OS
EKSTERNAL
SUPERSILIA Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
PELPEBRA SUPERIOR Edema (-), hiperemis (-) Edema (-), hiperemis
(-)
PALPEBRA INFERIOR Edema (-), hiperemis (-) Edema (-), hiperemis
(-)
MARGO PALPEBRA Entropion (-), ektropion (-) Entropion (-), ektropion
DAN SILIA Sekret (-), trikiasis (-) (-)
Sekret (-), trikiasis (-)
APPARATUS Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
LAKRIMALIS
KONJUNGTIVA Folikel (-), papil (-) Folikel (-), papil (-)
TARSALIS SUPERIOR
KONJUNGTIVA Folikel (-), papil (-) Folikel (-), papil (-)
TARSALIS INFERIOR
KONJUNGTIVA BULBI Injeksi siliaris (-), injeksi Injeksi siliaris (-),
konjungtiva (-) injeksi konjungtiva (-)
KORNEA Jernih Jernih
COA Sedang Sedang
PUPIL
- DIAMETER 3 MM 3 MM
- REFLEKS CAHAYA
- Direct + +
- Konsekuil + +

IRIS Warna coklat, kripte (+) Warna coklat, kripte (+)


LENSA Keruh (-) Keruh (-)
FUNDUSKOPI - Diskus optikus: tepi - Diskus optikus: tepi
tegas, bulat, CDR 0.5, tegas, bulat, CDR 0.5,
warna kuning-oranye warna kuning-oranye
atau krem-merah muda atau krem-merah
- Pembuluh darah: rasio muda
AV: 2/3, AV crossing: - Pembuluh darah:
tidak ada indentasi, tidak rasio AV: 2/3, AV
ada reflex cahaya arteri crossing: tidak ada
- Fundus: tidak ada indentasi, tidak ada
eksudat atau hemoragik, reflex cahaya arteri
warna kemerahan - Fundus: tidak ada
- Makula: terletak 2 diskus eksudat atau
ke temporal, tidak ada hemoragik, warna
pembuluh darah di kemerahan
sekitar makula. - Makula: terletak 2
diskus ke temporal,
tidak ada pembuluh
darah di sekitar
makula.

3.3.3 Pemeriksaan Umum


- Keadaan umum : Compos mentis
- Tekanan darah : 118/80 mm Hg
- Nadi : 84 x/menit
- Suhu : Afebris
- Pernafasan : 20 x/menit
- Berat badan : 78 Kg
3.4 DIAGNOSIS BANDING
Astigmatisme
Hipermetropia
3.5 DIAGNOSA KERJA
ODS Miopia Simpleks
3.6 USUL PEMERIKSAAN
- Streak Retinoscopy
- Autorefraktometri
3.7 PENATALAKSANAAN
Umum :
- Membaca dengan pencahayaan yang cukup
- Menghindari membaca sambal tiduran
- Kacamata harus terus dipakai

- Beristirahat jika mata mulai terasa lelah


- Perbanyak waktu di luar ruangan dan melihat jauh
- Kurangi melihat dekat, seperti bermain handphone, menonton tv,
membaca buku, atau menggunakan komputer.
Khusus :
Kacamata lensa sferis konkaf sesuai dengan koreksi :
OD S -5,00 D 6/6
OS S -5,00 D 6/6
PD 64/62

3.8 PROGNOSIS
Quo ad vitam: ad bonam
Quo ad functionam: dubia ad bonam
Quo ad Sanationam: dubia ad bonam

BAB IV

PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan keluhan :


- Pandangan kedua mata kabur yang timbul secara perlahan, pertama kali 2
tahun yang lalu.
- Riwayat meggunakan kacamata sejak SMA
- Pandangan kabur saat melihat jauh dan huruf terlihat berbayang tetapi
membaik jika melihat dalam jarak dekat
- Mata cepat terasa lelah saat membaca
- Keluhan memburuk jika pasien melepas kacamatanya
Dari pemeriksaan fisik didapatkan :
- VOD 2/60 S -5.00 D 6/6
- VOS 2/60 S -5.00 D 6/6
- PD 64/62
- ODS : Kornea jernih, COA sedang, lensa jernih
- Dari pemeriksaan Funduskopi tidak ditemukan kelainan
Pasien didiagnosa dengan Miopia Simpleks dd Astigmatisme, Hipermetropia
Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan
refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam
keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan
lingkaran difus dan bayangan kabur.
Pasien ini diterapi dengan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan
adalah yang terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan
koreksi. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada
penderita miopia diberikan lensa sferis negatif yang terkecil yang memberiksan
visus maksimal.
Pasien di edukasi, untuk mecegah terjadinya progresifitas dari miopia, yakni
dengan selalu menggunakan kacamata ketika membaca maupun saat berakitivitas
biasa. Hindari membaca tiduran, gunakan pencahayaan yang baik ketika membaca
guna mengurangi akomodasi mata sehingga mata tidak cepat lelah, perbanyak
aktifitas di luar ruangan dan perbanyak melihat jauh agar mata rileks dan tidak
berakomodasi dan menjaga kelenturan otot siliaris. Istirahatkan mata bila terasa
lelah dengan cara melihat benda yang berjarak jauh.
Prognosis quo ad vitam pada kasus ini adalah ad bonam, quo ad fungtionam
dan qua ad sanationam pada kasus ini dubia ad bonam. Prognosis miopia simpleks
adalah baik. Pasien miopia simpleks yang telah dikoreksi miopianya dapat melihat
objek jauh dengan lebih baik. Prognosis yang didapat sesuai dengan derajat
keparahannya.
BAB V

PENUTUP

Pada kasus ini didiagnosa dengan Miopia Simpleks ODS, ditegakkan


berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan oftalmikus.
Penatalaksaanaan pada pasien ini yakni dengan koreksi lensa sferis konkaf.
Prognosis miopia simpleks adalah bonam. Pasien miopia simpleks yang telah
dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik. Prognosis yang
didapat sesuai dengan derajat keparahannya.

Demikianlah telah dilaporkan suatu kasus dengan judul ”Miopia Simpleks”


pada pasien laki-laki, usia 37 tahun yang datang ke Poliklinik Mata RSUP. Prof.
dr. R. D. Kandou, Malalayang, Manado.
DAFTAR PUSTAKA

1. Myopia. Online Etymology Dictionary. Diakses dari:


https://www.etymonline.com/word/myopia [27.2.2018]

2. Myopia (Nearsightedness). American Optometric Association. Diakses dari:


https://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-problems/glossary-
of-eye-and-vision-conditions/myopia [27.2.2018]

3. Facts About Refractive Errors. NEI. October 2010. Archived from the
original on 28 July 2016. Retrieved 30 July 2016. https://nei.nih.gov/health

4. Ramamurthy D, Lin Chua SY, Saw SM (2015). "A review of environmental


risk factors for myopia during early life, childhood and
adolescence". Clinical & Experimental Optometry(Review). 98 (6): 497–506.
5. Xiong, S; Sankaridurg, P; Naduvilath, T; Zang, J; Zou, H; Zhu, J; Lv, M; He,
X; Xu, X (September 2017). "Time spent in outdoor activities in relation to
myopia prevention and control: a meta-analysis and systematic review". Acta
Ophthalmologica. 95 (6): 551–566.

6. Pan, CW; Ramamurthy, D; Saw, SM (January 2012). "Worldwide prevalence


and risk factors for myopia". Ophthalmic & physiological optics : the journal
of the British College of Ophthalmic Opticians (Optometrists). 32 (1): 3–16

7. Holden, B; Sankaridurg, P; Smith, E; Aller, T; Jong, M; He, M (February


2014). "Myopia, an underrated global challenge to vision: where the current
data takes us on myopia control". Eye (London, England). 28 (2): 142–46.

8. Pan, CW; Dirani, M; Cheng, CY; Wong, TY; Saw, SM (March 2015). "The
age-specific prevalence of myopia in Asia: a meta-analysis". Optometry and
vision science : official publication of the American Academy of
Optometry. 92 (3): 258–66.

9. Miopia. UGM. Diakses dari: etd.repository.ugm.ac.id. [28.02.2018]

10. Ilyas, HS. 2006. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Cetakan I. Balai Penerbit
FKUI, Jakarta

11. Vaughan A, Riordan E. 2000. Ofthalmologi Umum. Ed 17. Cetakan I. Widya


Medika, Jakarta.

12. Nana Wijana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Jakarta. Abadi Tegal.
1993

13. Ilyas S, Tanzil M, Salamun dkk. Sari Imlu Penyakit Mata. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2003:5

14. Hartono, Yudono RH, Utomo PT. Hernowo AS. Refraksi dalam: Ilmu
Penyakit mata. Suhardjo, Hartono. Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata
FK UGM, 2007; 185-7
15. Ilyas S, Yulianti S. Ilmu Penyakit Mata. Ed 5. Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
2015