Vous êtes sur la page 1sur 16

Struktur dan Mekanisme Mata serta Kelainan Refraksi

Amarce Estevina Yoteni


102013328
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl. Arjuna Utara No.6, 11510 Jakarta.
Amarce_estevina@yahoo.com

Pendahuluan

Agar dapat melihat, mata harus menangkap pola pencahayaan di lingkungan


sebagai “ gambar/bayangan optis” di situ lapusan sel peka sinar, retina, seperti kamera
nondogital menangkap bayangan pada film. Seperti film yang dapat di proses menjadi
salinan visual dari bayangan asli, citra tersandi di retina disalurkan melalui serangkaian
tahap pemrosesan visual yang semakin rumit hingga akhirnya secara sadar dipresepsikan
sebagai kemiripan visual dari bayangan asli. Sebelum membahas tahap-tahap yang
berperan dalam pemrosesan penglihatan, kita mula-mula akan meneliti bagai mana mata
dilindungi dari cedera.1
Pada dasarnya mata adalah sebuah kamera yang canggih. Karenanya kita akan
dapat memahami bagaimana kita bisa melihat dunia dengan ukuran mata yang relatif
kecil jika kita memahami konsep dasarnya, yaitu cahaya. Chaya merupakan media
tranmisi. Semua cahaya memantul pada benda yang di kenainya. Hal ini lah yang
memungkinkan kita melihat suatu benda. Hal penting lain yang harus di fahami adalah
bahwa meskipun cahaya bergeraksecara lurus, cahaya dapat di belokan dengan di
lewatkan pada substansi tertentu sperti lensa kaca, kamera, atau lensa yang ada pada
mata kita.
Pembahasan
Makro dari Mata
Terdapat beberapa mekanisme yang membantu melindungi mata dari cedera.
Kecuali di bagian ateriornya ( depan), bola mata di lindungi oleh kantung tulang tempat
mata berada. Kelopak mata berkerja sebagai penutup untuk melindungi bagian anterior
mata dari gangguan lingkungan. Kelopak mata menutup secara refleks untuk melindungi
mata dalam keadaan yang mengancam misalnya benda yang datang cepat, sinar yang
menyilaukan, dan situasi di mana bagian mata terpajan atau buku mata tersentuh.
Kedipan mata yang berulang membantu menyebarkan air mata yang berfungsi sebagai
pelumas, pembersih, dan bahan bakterisidal (mematikan kuman). Air mata di produksi
secara terus menerus oleh kelenjar lakrimal di sudut lateral atas di bawah kelopak mata.
Cairan pencuci mata ini mengalir di atas anterior mata dan keluar dari saluran halus di
sudut mata untuk akhirnya sampai ke bagian belakang saluran hidung. 2
Isi orbita
Dalam orbita terdapat bulbus okuli, nervus opticus, musculli bulbi, vacia, saraf,
pembuluh, lemak, dan glandula lakrimalis serta sacus lakrimalis. Bulbus oculi terdiri
dari 3 lapis.3
 Lapisan jaringan ikat eksternal yang berfungsi sebagai penyangga, terdiri dari
sklera dan kornea.
 Lapis tengah yang berpembukuh darah dan berpigmen, terdiri dari koroidean,
korpus siliaris dan iris.
 Lapis neurol internal terdiri dari retina
 Kornea
Adalah bagian terluar mata yang pertama kali terkena cahaya. Kornea merupakan
“jendela” bulat transfaran dan merupakan lensa mata yang pertama. Kornea memiliki
fokus tetap dengan kekuatan optik 2/3 dari total kekuatan optik mata. Tenal bagian
pusatnya adalah 0,5 mm dan pada sisinya 1mm. Bagian sisi kornea trhubung dengan
sklera ( bagian putih mata)4
Kornea tersusun atas 5 lapis.
 Epitelium merupakan lapisan setebal 5 cel dan bersentuhan langsung dengan
kulit. Terdapat air mata yang terus menerus membasahi lapisan ini.
 Lapisan bowman‘s merupakan lapisan serabut yang elastis
 Stroma/Subtansia propria tersusun dari kolagen dan merpakan lapisan
paling tebal. Lapisan ini berguna untuk mencegang infeksi. Di dalam terdapat
bayank anti gen anti infeksi yang membantu mencegah peradangan pada
kornea
 Endotelium setebal 1 sell, berguna untuk menjaga kejernihan dan mengatur
keseimbangan aliran air dari mata ke kornea.
 Membran descemen merupakan membran elastis.4

 Lapis Tengah Vaskular


Setelah melewati kornea, cahaya akan mencapai ruang depan mata ( anterior
chamber). Rongga ini terisi oleh cairan aqueus humor yang secara konstan di buang
dan di ganti. Uveal meruapakan bagian ruang depan mata yang memuat struktur
koroid, korpus siliaris,dan selaput pelangi ( iris) ketiganya di sebut dengan lintasan
uveal.4
 Koroid adalah lembaran selaput tipis yang terletak antara sklera dan retina
mata. Koroid mengandung bayak pembuluh darah yang menyuplai retina.
Selaput ini membentuk jalur-jalur yang rumit pada seluruh mata dan memiliki
jaringan pendukung yang mengandung pigmen. Pingmen ini mencegah cahaya
memantul pada bagian belakang mata yang dapat meghasilkan gambar yang
membingungkan.
 Korpus siliaris bertugas mempertebal dan mempertipis bentuk selaput pelangi
untuk memfokuskan cahaya pada dengan menggerakan otot siliaris hal ini
memungkinkan kita melihat yang dekat.
 Selaput pelangi melekat pada korpus siliaris warna selaput pelangi inilah
yang memberi warna pada mata fungsinya adalah seperti diafragma pada
kamera, membesar untuk memeperbayak jumlah cahaya yang masuk dan
mengecil untuk menguraninya hal ini agar tidak terjadin cahaya yang
berlebihan yang dapat merusak retina dan agar menghasilkan gambar yang
paling tajam.4
 Lapisan neural interna / retina
Terdiri dari dua lembar ; lembar satu lembar sel pigmewn dan satunya lagi lembar
neuron. Pada fundus, bagian posterior retina, terdapat titik bundar sirkular yang
melesak, ( discus nerfi optoc atau papil optik) yakni tempat nerfus optikus memasuki
bulbus oculi. Karena pada discus nerfi optici hanya trdapat serabut saraf dan tidak
terdapat reseptor cahaya, daerah ini tidak peka terhadap cahaya. Sedikit lateral dari
bintik buta ini terdapat bintik yang berwarna kuning, yakni macula lutea, di
tengahnya terdapat bagian yang lebih dalam ( fovea sentralis) daerah penglihatan
tertajam. Retina memperoleh darah dari arteria sentralis retinae cabang arteria
optalmica. Sistem vena retina yang sesuai bersatu untuk memebntuk vena sentralis
retinae.3

Media – media Pembias Mata


Sewaktu menuju retina gelombang cahaya melewati media pembias mata
yaitu; cornea, humor aqueus, lensa, dan humor vitreus.
 Kornea adalah daerah sirkular pada bagian anterior lapis eksternal jaringan
ikat bulbus okuli, pembiasan cahaya yang memasuki mata terutama terjadi
pada kornea. Kornea bersifat tembus cahaya, tidak berpembuluh darah dan
sensitif terhadap sentuhan. Kornea di persyarafi oleh nerfus optalmikus (
nervus kranialis V.1 ) dan memperoleh nutrisi dari humor aquosus, air mata
dan oksigen yang di serap dari udara.3
 Humor aquosus di dalam kamera naterior bulbi dan kamera posterior bulibi di
hasilkan oleh procesus siliaris larutan yang jernih dan menyerupai air ini
menyediakan zat gizi bagi kornea dan lensa yang tidak berpembuluh darah.
 Lensa adalah sebuah struktur yang tembus cahaya, cembung pada kedua
permukaan dan terselubung dalam sebuah kapsula lentis. Kapsula lentis
tertambat pada korpus siliare dan retina melalui ligamentum suspensorium
lensa. Lensa yang di kelilingi prosesus siliaris terletak di belakang iris dan di
depan humor vitreus. Kecembungan permukaan lensa terutama permukaan
depan, terus menerus berubah untuk menjatuhkan bayangan benda yang dekat
atau yang jauh tepat pada retina. Bentuk lensa di ubah noleh muskulus siliaris
dan korpus siliris.
 Humor vitreus adalah selai yang tembus cahaya yang terdapat di dalam
corpus vitreum di bagian 4/5 posterior bylbus okuli, antara lensa dan retina.
Selain menyalurkan cahaya, humor vitreus menahan retina pada tempatnya
dan berfungsi sebagai penyangga untuk lensa.3
Otot – otot mata
Mata di gerakan dalam orbital di lakukan oleh 6 pasang otot mata .Otot-otot
ini dipersarafi oleh n.okulomotorius, Troklearis, dan abdusens. Nama otot dan arah
gerakan bola mata.5

Otot-otot tersebut adalah:

1. medial rectus
2. lateral rectus
3. superior rectus
4. inferior rectus
5. superior oblique
6. inferior oblique

 medial rectus; menggerakkan mata ke arah dalam atau mendekati hidung


(adduction)
 lateral rectus; menggerakan mata ke arah luar atau menjauhi hidung
(abduction)
 superior rectus; menggerakkan mata ke atas (elevation)
membantu otot superior oblique memutarkan bagian atas mata
kearah mendekati hidung (intorsion)
membantu otot medial rectus melakukan gerakan adduction
 inferior rectus; menggerakkan mata ke bawah (depression)
membantu otot inferior oblique memutarkan bagian tas mata ke
arah menjauhi hidung (extorsion)
membantu oto lateral rectus melakukan gerakan abduction.
 superior oblique ; memutarkan bagian atas mata mendekati
hidung (intorsion)
membantu gerakan depression dan abduction
 inferior oblique ; memutarkan bagian atas mata menjauhi hidung
(extorsion)
membantu gerakan elevation dan abduction.5
Persarafan otot mata

 superior oblique; oleh nervus ke IV (Trochlear)


 inferior oblique ; oleh nervus ke III (Oculomotor)
 superior rectus ; oleh nervus ke III (Oculomotor)
 inferior rectus ;oleh nervus ke III (Oculomotor)
 medial rectus ;oleh nervus ke III (Oculomotor)
 lateral rectus ; oleh nervus ke VI (Abducens)

Mekanisme saraf

Warna di hantarkan oleh sel-sel ganglion yang mengurangi atau menambahkan


masukan dari satu jenis sel krucut ke masukan jenis lainya. Pemrosesan informasi
di sel ganglion dan nukleus genikulatum lateral menimbulkan implus yang melalui
tiga jenis jaras saraf yang menuju V1 : yaitu jaras merah hijauyang menandai.5
perbedaan antara jawaban krucut L&M, jaras biru dan kuning yang menandai
perbedaan antara jawaban krucut S dan gabungan jawaban krucut L dan M, dan
jaras penerangan yang menandai gabungan jawaban kerucut L dan M. Jaras –
juras ini akan menuju blob dan bagian dalam lapisan 4C di V1 dari blob dan
lapisa 4, informasi warna di proyeksikan menuju V8. Namun, tidak di ketahui
bagai mana V8 mengubah masukan warna menjadi masukan warna.5

Struktur Mikroskopis Mata


Palpebra (kelopak mata)
Lapisan terluar palpebra adalah kulit tipis. Terdapat epidermis yang terdiri atas epitel
berlapis gepeng dengan papila. Di dalam dermis terdapat folikel-folikel rambut dengan
kelenjar sebasea dan juga kelenjar keringat. Lapisan terdalam palpebra adalah membrane
mukosa yang disebut konjungtiva palpebrae, lapisan ini terletak bersebelahan dengan bola
mata. Epitel pelapis konjungtiva palpebrae adalah epitel berlapis silindris rendah dengan
sedikit sel goblet. Ujung bebas palpebra mengandung bulu mata yang muncul dari folikel
rambut, dan di antara folikel rambut bulu mata terdapat kelenjar keringat Moll. Palpebra
mengandung tiga set otot, yaitu m.orbicularis occuli, m.siliaris, dan m.tarsalis superior.6
Kelenjar Lakrimal
Kelenjar lakrimal menyekresi air mata dan disusun oleh beberapa kelenjar
tubuloasinar. Asini seretorisnya bervariasi dalam hal bentuk maupun ukurannya dan mirip
jenis serosa, tetapi lumennya lebih besar. Sejumlah asini menampakkan kantung-kantung tak
teratur sel di dalam lumennya. Sel-sel asinar lebih silindris daripada pyramidal, mengandung
granul sekresi dan tetes lipid besar dan terpulas lemah. Terdapat juga sel-sel mioepitel yang
mengelilingi tiap-tiap asini. Duktus ekskretorius intralobular yang lebih kecil dilapisi epitel
selapis kuboid atau silindris. Duktus intralobular yang lebih besar dan duktus interlobular
dilapisi dua lapis sel silindris rendah atau epitel bertingkat semu. Jaringan ikat interlobular
lebih banyak daripada jaringan ikat intralobular dan dapat mengandung sel-sel lemak.,6
Bola mata dikelilingi oleh tiga lapisan konsentris utama yaitu jaringan ikat fibrosa
kuat di luar, terdiri atas skelra dan kornea, lapisan tengah terdiri dari koroid berpigmen yang
sangat vaskular, korpus siliaris (terdiri atas prosesus siliaris dan muskulus siliaris) dan iris,
serta lapisan terdalam terdiri atas jaringan saraf fotosensitif, yaitu retina.6
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, dan
secara histology terdiri atas lima lapisan:6
1. Epitel: terdiri atas sel epitel berlapis gepeng tidak bertanduk dan berasal dari ectoderm
permukaan.
2. Membrane bowman: terletak di bawah membrane basal epitel kornea yang
merupakankolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian
depan stroma. Terdiri dari fibril kolagen yang halus.
3. Stroma: merupakan lapisan yang paling tebal, dan tidak mengandung pembuluh darah.
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen. Terdapat keratosit yang merupakan
fibroblast dan terletak di antara serat kolagen stroma.
4. Membran descementi: merupakan membrane aselular dan merupakan batas belakang
dari stroma. Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup, terdiri atas serat
kolagen yang tersusun rapi seperti jala.
5. Endotel: berasal dari mesotelium, tersusun atas sel epitel selapis gepeng, berbentuk
heksagonal.
Sklera adalah lapisan jaringan ikat kuat, opak putih, terdiri atas anyaman padat serat
kolagen, dimana stromanya berjalan paralel terhadap permukaan bola mata. Di antara berkas
kolagen, terdapat anyaman serat elastin halus. Fibroblas gepeng atau memanjang terdapat di
seluruh sklera dan melanosit terdapat di lapisan paling dalam. Sklera mempertahankan
kekakuan bola mata dan tampak sebagai bagian “putih” mata. Batas antara sklera dan kornea
terdapat pada daerah peralihan yang disebut limbus yang terletak di bagian anterior mata. Di
bagian posterior mata, tempat nervus optikus muncul dari kapsul okular, adalah tempat
peralihan antara sklera bola mata dan duramater jaringan ikat susunan saraf pusat.6
Koroid merupakan bagian mata yang sangat vaskuler dan memiliki aliran darah yang
deras.3 Koroid ini juga berperan memberi nutrisi pada bagian luar dari retina dan mungkin
ikut berperan dalam pengaturan temperature homeostasis dari retina. Koroid ini dibagi
menjadi empat lapisan, yaitu:
1. Lamina suprakoroid: terdiri atas lamela serat-serat kolagen halus, anyaman serat
elastin luas, fibroblast, dan banyak sel melanosit besar.
2. Lapisan vaskulosa: sesuai namanya, lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah,
berukuran sedang dan besar. Di lapisan jaringan ikat longgar antar pembuluh darah
terdapat banyak melanosit gepeng dan besar yang memberi warna gelap khas pada
lapisan ini.
3. Lapisan koriokapilar: mengandung anyaman kapiler dengan lumen besar di dalam
stroma serat kolagen dan elastin halus.
4. Membrane vitrea (Membran Bruch): merupakan lapisan terdalam koroid, dan terdapat
bersebelahan dengan sel-sel pigmen retina.
Pada potongan sagital bola mata, korpus siliaris tampak berbentuk segitiga, terdiri
atas muskulus siliaris dan prosesus siliaris. Muskulus siliaris adalah otot polos, seratnya
tersusun memanjang, melingkar, dan radial. Perluasan korpus siliaris yang berlipat dan sangat
vaskular membentuk prosesus siliaris. Prosesus ini melekat pada ekuator lensa melalui
ligamentum suspensorium bulbi dan memungkinkan lensa mengambil bentuk konveks.
Iris menutupi sebagian lensa dan merupakan bagian berwarna mata. Penyebaran
secara melingkar dan radial iris membentuk sebuah lubang bulat disebut pupil. Bagian dalam
mata yang terdapat di depan lensa dibagi menjadi dua kompartemen. Kamera okuli anterior
terdapat di antara iris dan kornea, dan kamera okuli posterior terdapat di antara iris dan lensa.
Kedua kamera itu berisi cairan encer, yaitu aqueous humor. Kompartemen besar di belakang
lensa adalah vitreus humor yang terisi materi gelatinosa, yaitu vitreus humor yang
transparan.6

Lapisan dalam atau retina bola mata adalah daerah fotosensitif mata, namun tidak
seluruh retina itu fotosensitif. Di belakang korpus siliaris terdapat ora serata yang merupakan
batas tajam paling anterior bagian retina yang fotosensitif, di antara ora serata terdapat bagian
retina yang nonfotosensitif, yang berlanjut ke depan bola mata membentuk lapisan dalam
korpus siliaris dan bagian posterior iris. Di posterior ora serata, terdapat retina optik
fotosensitif yang terdiri atas banyak lapisan sel, salah satunya mengandung sel-sel sensitif-
cahaya, yaitu sel batang dan sel kerucut.6
Lapisan terluar retina adalah epitel pigmen; membran basalnya membentuk lapisan
terdalam membran vitrea koroid. Sel pigmen kuboid mengandung granul (pigmen) melanin di
bagian apeks sitoplasma, sementara prosesus dengan granul pigmen terjulur di antara sel
kerucut dan sel batang retina. Di sebelah sel-sel pigmen terdapat lapisan fotosensitif yang
terdiri atas sel batang langsing dan sel kerucut yang lebih tebal. Kedua jenis sel ini terdapat di
sebelah membran limitans eksterna yang dibentuk oleh cabang-cabang sel neuroglia, yaitu
sel-sel Muller.
Lapisan inti luar mengandung inti sel batang dan sel kerucut dan batang cabang luar
sel Muller. Di dalam lapisan pleksiform luar, akson sel kerucut dan batang bersinaps dengan
dendrit sel-sel bipolar dan sel horizontal. Lapisan inti dalam mengandung inti sel-sel bipolar,
horizontal dan amakrin, dan sel neuroglia Muller. Sel-sel horizontal dan amakrin adalah sel
asosiasi. Di dalam lapisan pleksiform dalam, akson-akson sel bipolar bersinaps dengan
dendrit sel ganglion dan sel amakrin. Lihat gambar 2 dan 3.6

Lapisan sel ganglion mengandung badan sel-sel ganglion dan sel neuroglia. Dendrit
dari sel ganglion bersinaps pada lapisan pleksiform dalam.
Dinding posterior mata mengandung makula lutea dan papila optikus atau diskus
optikus. Lapisan serat nervus optikus mengandung akson sel ganglion dan anyaman serat
dalam sel Muller. Akson sel ganglion berkumpul pada diskus optikus. Ujung dalam serat sel
Muller memancar membentuk membran limitans interna retina. Pembuluh darah retina
berjalan di dalam lapisan serat nervus optikus dan masuk sampai ke lapisan inti dalam.
Makula lutea adalah bercak berpigmen kuning kecil, yang di pusatnya terdapat
lekukan dangkal disebut fovea. Daerah ini merupakan daerah penglihatan paling tajam pada
mata. Pusat fovea bebas sel batang dan pembuluh darah. Daerah ini hanya memiliki sel
kerucut. Papila optikus adalah daerah tempat nervus optikus meninggalkan bola mata. Papila
optikus tidak memiliki sel kerucut maupun sel batang sehingga merupakan “bintik buta”
mata. Sklera luar bersebelahan dengan jaringan orbital, yang mengandung jaringan ikat
longgar, sel-sel lemak jaringan lemak orbita, serat saraf, pembuluh darah, pembuluh limfatik,
dan kelenjar.
Fungsi Refraksi

Mata memiliki berbagai mekanisme kerja agar dapat menghasilkan bayangan yang
baik pada pandangan kita. Salah satu kemampuannya adalah kemampuan refraksi. Refraksi
ini adalah kemampuan mata untuk membiaskan cahaya pada saat mata tidak dalam keadaan
akomodasi.,7 Kegiatan refraksi ini bertujuan agar kornea dapat memfokuskan bayangan.
Ukuran daya bias/ daya fokus lensa yang digunakan adalah dioptri, yang dinyatakan dalam
meter. Secara numeric, dioptri adalah satu meter dibagi jarak fokus yang diukur dalam
satuan meter à D = 1/f.7 Orang yang memiliki kemampuan refraksi mata dengan normal
disebut emetrop, sedangkan orang dengan gangguan fungsi refraksi disebut ametrop.7
Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi ketika berkas berpindah dari satu
medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium dengan kepadatan yang berbeda.
Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lain, misalnya
air dan kaca. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih
tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya mengubah arah
perjalannya jika mengenai permukaan medium baru pada setiap sudut selain tegak lurus.
Dua faktor berperan dalam derajat refraksi: densitas komparatif antara dua media
(semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya
berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan).
Pada permukaan yang melengkung seperti lensa, semakin besar kelengkungan,
semakin besar derajat kelengkungan, semakin besar derajat pembiasan dan semakin kuat
lensa. Ketika suatu berkas cahaya mengenai permukaan yang melengkung dengan densitas
lebih besar, arah refraksi bergantung pada sudut kelengkungan. Suatu lensa dengan
permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi (penyatuan) berkas-berkas
cahaya, yaitu persyarafan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan semikian,
permukaan refraktif mata bersifat konveks. Lensa dengan permukaan konkaf (cekung)
menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas-berkas cahaya; suatu lensa konkaf berguna
untuk memperbaiki kesalahan refraktif mata tertentu, misalnya berpenglihatan dekat.7
Dua struktur yang paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan
lensa. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang
melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total mata karena perbedaan
densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar daripada perbedaan densitas antara lensa
dan cairan yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan
karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa
dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya sesuai keperluan untuk melihat dekat
atau jauh.
Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus di
retina agar penglihatan jelas. Jika suatu bayangan sudah terfokus sebelum mencapai retina
atau belum terfokus sewaktu mencapai retina, bayangan tersebut tampak kabur. Berkas-
berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai mata daripada
berkas-berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih dari 6 meter
dianggap sejajar saat mencapai mata. Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya
dekat memerlukan jarak yang lebih besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan
daripada sumber cahaya jauh, karena berkas dari sumber cahaya dekat masih berdivergensi
sewaktu mencapai mata.7

Untuk mata tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. Untuk membawa sumber
cahaya jauh dan dekat terfokus di retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan lensa
yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan dengan proses
akomodasi.

Akomodasi meningkatkan kekuatan lensa untuk penglihatan dekat


Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat
maupun jauh dapat difokuskan di retina sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada
bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris.
Ketika otot siliaris melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa,
sehingga lensa berbentuk gepeng dengan kekuatan refraksi minimal. Ketika berkontraksi,
garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur.
Sewaktu lensa kurang mendapat tarikan dari ligamentum suspensorium, lensa mengambil
bentuk yang lebih sferis (bulat) karena elastisitas inherennya. Semakin besar kelengkungan
lensa (karena semakin bulat), semakin besar kekuatannya, sehingga berkas-berkas cahaya
lebih dibelokkan.
Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh,
tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih
kuat untuk penglihatan dekat. Otot siliaris dikontrol oleh sistem saraf otonom. Serat-serat
saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem
saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat.8

Kelainan refraksi

 Pada astignatisme, kelengkungan kornea tidak rata sehingga berkas sinar mengalami
refraksi yang tidak sama.
 Pengurangan kemampuan akomondasi terkait usia ini, presbiopia mengenai sebagian
besar pada orang pada usia pertengahan (45-50), sehingga mereka perlu mengenakan
lensa korektif untuk melihat dekat ( membaca).
 Dalam keadaan normal, serat –serat elastik di lensa bersifat transparan. Serat – serat
ini kadang menjadi keruh (opak) sehingga berkas sinar tidak dapat menembusnya,
suatu kondisi yang di kenal sebagai katarak. Lensa yang cacat ini biasanya dapat di
keluarkan secara bedah dan penglihatan di pulihkan dengan pemasangan lensa
artifisial atau dengan kacamata kompensasi.1
 Gangguan penglihatan lain yang umum di jumpai adalah berpenglihatan dekat
(miopia) dan berpenglihatan jauh ( hipertropia).
 Pada mata normal (emetropi) sumber cahaya jauh di fokuskan di retina tanpa
akomondasi, sementara dengan akomondasi kekuatan lensa di tingkatkan untuk
membawa cahaya dekat fokus.
 Pada miopi karena bola mata terlalu panjang atau lensa terlalu kuat, maka sumber
cahaya dekat di bawa ke fokus di retina tanpa akomondasi ( meskipun akomondasi
dalam keadaan normal di gunakan untuk melihat benda dekat), sementara sumber
cahaya jauh terfokus didepan retina dan tampak kabur.
 Pada hiperopia bola mata terlalu pendek atau lensa terlalu lemah. Benda jauh
difokuskan di retina hanya dengan akomondasi, sedangkan modasindan, karenanya,,
tampak kabur. Karena itu, orang dengan hiperopia memiliki penglihatan jauh lebih
baik dari pada penglihatan dekat, suatu keadaan yang dapat di koreksi dengan lensa
konveks.1
Mekanisme Penglihatan
Manusia dapat melihat benda karena adanya cahaya. Cahaya yang ditangkap mata
berturut-turut akan melalui kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreus humor, dan retina.
Lensa mata berfungsi memfokuskan cahaya yang terpantul dari benda-benda yang terlihat
sehingga menjadi bayangan yang jelas pada retina. Cahaya ini akan merangsang fotoreseptor
untuk menyampaikan impuls ke saraf penglihat dan berlanjut sampai lobus oksipitalis pada
otak besar.7
Cahaya yang masuk melalui kornea diteruskan ke pupil. Pupil merupakan lubang
bundar anterior di bagian tengah iris yang mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata.
Pupil membesar bila intensitas cahaya kecil (bila berada di tempat gelap), dan apabila berada
di tempat terang atau intensitas cahayanya besar, maka pupil akan mengecil. Yang mengatur
perubahan pupil tersebut adalah iris. Iris merupakan cincin otot yang berpigmen dan tampak
di dalam aqueous humor, karena iris merupakan cincin otot yang berpigmen, maka iris juga
berperan dalam menentukan warna mata. Setelah melalui pupil dan iris, maka cahaya sampai
ke lensa. Lensa ini berada diantara aqueous humor dan vitreous humor, melekat ke otot–otot
siliaris melalui ligamentum suspensorium. Fungsi lensa selain menghasilkan kemampuan
refraktif yang bervariasi selama berakomodasi, juga berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke
retina. Apabila mata memfokuskan pada objek yang dekat, maka otot–otot siliaris akan
berkontraksi, sehingga lensa menjadi lebih tebal dan lebih kuat. Dan apabila mata
memfokuskan objek yang jauh, maka otot–otot siliaris akan mengendur dan lensa menjadi
lebih tipis dan lebih lemah. Bila cahaya sampai ke retina, maka sel–sel batang dan sel–sel
kerucut yang merupakan sel–sel yang sensitif terhadap cahaya akan meneruskan sinyal–
sinyal cahaya tersebut ke otak melalui saraf optik. Bayangan atau cahaya yang tertangkap
oleh retina adalah terbalik, nyata, lebih kecil, tetapi persepsi pada otak terhadap benda tetap
tegak, karena otak sudah dilatih menangkap bayangan yang terbalik itu sebagai keadaan
normal.8
Jaras Penglihatan
Prinsip jaras penglihatan yaitu dari kedua retina ke korteks penglihatan. Sinyal saraf
penglihatan meninggalkan retina melalui nervus optikus. Di chiasma opticum, serabut nervus
optikus dari bagian nasal retina menyeberangi garis tengah, tempat serabut nervus optikus
bergabung dengan serabut-serabut yang berasal dari bagian temporal retina mata yang lain
sehingga terbentuklah traktus optikus. Serabut-serabut dari setiap traktus optikus bersinaps di
nukleus genikulatum lateralis dorsalis pada thalamus, dan dari sini, serabut-serabut
genikulokalkarina berjalan melalui radiasi optikus menuju korteks penglihatan primer yang
terletak di fisura kalkarina lobus oksipitalis.8
Serabut penglihatan juga melalui beberapa daerah yang lebih primitive di otak, yaitu :
1. Dari traktus optikus menuju nukleus suprachiasmatik di hipotalamus, untuk pengaturan
irama sirkadian yang menyinkronisasikan berbagai perubahan fisiologi tubuh dengan siang
dan malam.
2. Menuju nuklei pretektalis di otak tengah, untuk mendatangkan gerakan reflex mata agar
mata dapat difokuskan ke arah objek yang penting dan untuk mengaktifkan reflex pupil
terhadap cahaya.

3. Menuju kolikulus superior, untuk mengatur pergerakan arah kedua mata yang cepat.
4. Menuju nukleus genikulatum lateralis ventralis pada thalamus dan daerah basal otak
sekitarnya, untuk membantu mengendalikan beberapa fungsi sikap tubuh.8
Jadi jaras penglihatan secara kasar dapat dibagi menjadi sistem primitif untuk otak tengah
dan dasar otak depan, serta sistem baru untuk penjalaran sinyal penglihatan secara langsung
ke dalam korteks penglihatan yang terletak di lobus occipitalis. Pada manusia, sistem baru
bertanggung jawab untuk persepsi seluruh aspek bentuk penglihatan, warna, dan penglihatan
sadar lainnya. Sebaliknya pada banyak hewan primitif, bentuk penglihatan bahkan dideteksi
oleh sistem yang lebih primitif, yaitu dengan menggunakan kolikulus superior dengan cara
yang sama seperti hewan mamalia menggunakan korteks penglihatan.8
Kesimpulan

Mata menangkap pola iluminasi dalam lingkungan sebagai suatu “gambaran optik”
pada sebuah lapisan sel-sel peka cahaya yaitu retina. Citra yang disalurkan melalui
serangkaian pengolahan visual yang semakin kompleks setiap langkahnya sampai akhirnya
secara sadar dipersepsikan sebagai gambar yang mirip dengan gambar asli. Ketidak jelasan
penglihatan mungkin dapat terjadi saat dimana cahaya direfraksikan dan diakomodasi,
.Otot-otot yang bekerja pada mata antara lain 4 otot rektus dan 2 otot yang
menyilang. Kelenturan lensa berkurang sehingga jumlah sinar yang jatuh pada retina tidak
sepenuhnya jatuh tepat di retina.melainkan sinar datang, lewati kornea, vitreus lalu jatuh di
belakang organ retina. Organ lain seperti nervus opticus dan lobus occipitalis dapat
memperngaruhi penurunan penglihatan. Kerusakan pada organ- organ dibelakang bola mata
seperti saraf-saraf dan area cingula di lobus occipitasis mempengaruhi perjalanan di jaras-
jaras penglihatan. Kelainan pada mata Miopi harus ditangani dengan lensa yang sesuai.
Tujuan mengkoreksi pada kelainan ini supaya sinar jatuh tepat di makula lutea retina. Koreksi
terbaik adalah dengan memakai lensa konkaf ( lensa cembung).
Daftar Pustaka
1. Sherwood L.Fisiologi Manusia Ed 6.Jakarta:EGC,2011. hal 211-18,
2. Ganong .W.F.Buku ajar Fisiologi Kedokteran Ed 22.Jakarta:EGC,2011.hal
155-56
3. Moore.K.L,Agur A.M.R.Klinis Dasar anatomi.Jakarta:Hipokrates,2002.hal
370-372
4. Weston , trevor ,MD, dkk. Anatomi manusia bagaimana tubuh kita bekerja.
Surabaya: Jakarta, PT. Karya Pembina Swajaya, hal:34-35
5. Diunduh dari http://klikharry.com/2012/08/27/otot-penggerak-bola-mata/ ,23
April 2015
6. Gunawijaya F.A., Kartawiguna E. Penuntun Praktikum Kumpulan Foto
mikroskopik Histologi. Jakarta : Universitas Trisakti, 2007. Hal 198-205
7. Doctorology . Mekanisme melihat Post at 2009. Di unduh dari
http://doctofplogy.net/wp-content/uploads/2009/03/mekanisme-
penglihatan.pdf,23 April 2015
8. Guyton Arthur C, Hall John E. Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed ke- 11.
Jakarta : EGC; 2007.hal.669-670