Vous êtes sur la page 1sur 24

MAKALAH CIVICS

(Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan)

OLEH :
Kelompok 1

Ari Andrian 7142142007


Citra Ayu Sasmitha 7141142006
Despri Candra 7143142007
Imam Chojali Manik 7141142011

Kelas A Regular 2014


PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat dan karunia-Nya,
sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah “Civics” ini dengan baik dan lancar.
Makalah ini merupakan bentuk tugas dari Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
sebagai salah satu penilaian terhadap proses pembelajaran di prodi Pendidikan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Medan .
Makalah ini tidak dapat tersususun dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh
karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan
tugas ini dengan baik, ucapan terima kasih juga diucapkan kepada rekan penyusun yang
mencari bahan dan membantu menyusun makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan
sesuai dengan yang diharapkan.
Meski dalam penyusunan makalah ini, penyusun telah berusaha dengan maksimal,
namun penyusun masih merasa memiliki kekurangan dalam makalah ini, maka dari itu
penyusun meminta kritik dan saran pembaca makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan bagi pembaca serta bisa memenuhi Tugas Mata
Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada umumnya.

Medan, 13 Februari 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 1
1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 1
BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................................................ 2
2.1. Pengetian Warga Negara dan Kewarganegaraan ............................................................ 2
2.2. Sejarah Kewarganegaraan ............................................................................................... 2
2.3. Asas-asas kewarganegaraan ............................................................................................ 3
2.4. Masalah Kewarganegaraan ............................................................................................. 7
2.5. Masalah kewarganegaraan di Indonesia ......................................................................... 8
2.6. Pendidikan Kewarganegaraan ....................................................................................... 11
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................................... 18
Kesimpulan........................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 20

ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Di era globalisasi ini masih banyak sekali pemuda-pemudi yang kurang memahami
makna dari seorang warga negara. Tidak hanya itu saja, bahkan tidak mengetahui apa saja hak
dan kewajiban yang dimilikinya sebagai warga negara. Hal tersebut dikarenakan masih
kurangnya kesadaran dari para generasi muda terhadap statusnya sebagai warga negara atau
kurangnya sikap nasionalisme terhadap negaranya.
Selain itu, banyak warga negara Indonesia yang tidak mengetahui atu masih
kebingungan bagaimana cara orang asing menjadi warga Indonesia, yang realitasnya itu
banyak sekali orang asing yang menjadi warga negara Indonesia, terlebih-lebih pada dunia
sepak bola. Banyak sekali orang asing yang bermain bola di Indonesia yang kemudian dapat
menjadi warga negara Indonesia.
Masyarakat itu bertanya memangnya menjadi warga negara Indonesia itu mudah. Apa
hanya dengan menetap atau berdomisili di Indonesia orang asing dapat menjadi warga negara
Indonesia ataukah ada tahap-tahap tertentu untuk menjadi warga negara Indonesia. Masyarakat
juga bertanya, apakah kami bisa berpindah kewarganegaraan dari kewarganegaraan Indonesia
ke kewarganegaraan asing, seperti halnya yang dilakukan oleh para pemain bola dari luar
negeri yang dapat berubah menjadi kewarganegaraan Indonesia.
Contohnya, beberapa tahun yang lalu di Indonesia sering sekali melakukan naturalisasi
pemain sepak bola. Sebenarnya apa devinisi naturalisasi itu? Apakah dengan naturalisasi itu
seseorang yang berkewarganegaraan asing bisa menjadi berkewarganegaraan Indonesia?

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam Makalah ini adalah :
a. Apa itu Warga Negara dan Kewarganegaraan ?
b. Bagaimana Sejarah Kewarganegaraan ?
c. Apa saja Asas-asas kewarganegaraan ?
d. Bagaimana Masalah Kewarganegaraan di dunia ?
e. Bagaimana Masalah kewarganegaraan di Indonesia ?
f. Apa itu Pendidikan Kewarganegaraan ?

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjawab rumusan malasah yang
dikemumukakan di atas, yakni :
a. Mengetahui dan memahami Warga Negara dan Kewarganegaraan
b. Mengetahui dan mampu menjelaskan Sejarah Kewarganegaraan
c. Mengetahui dan memahami Asas-asas kewarganegaraan
d. Mengetahui Masalah Kewarganegaraan
e. Mengetahui Masalah kewarganegaraan di Indonesia
f. Mengetahui dan memahamiPendidikan Kewarganegaraan

1
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1. Pengetian Warga Negara dan Kewarganegaraan
Didalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 26 ayat 1 tentang Warga Negara dan
Penduduk, “Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang –
orang bangsa lain yang disahkan dengan undang – undang sebagai warga negara”.

Meer (2010) dalam Meinarno dkk (2016:15) mendefinisikan kewarganegaraan sebagai


sebuah konsep yang digunakan untuk mewakili dua fungsi pemahaman, yaitu sebagai fungsi
hukum berkaitan dengan hak berkontribusi dalam kegiatan demokrasi dan sosial
(keseimbangan resiprokal antara hak dan kewajiban yang didapat akibat kepemilikan status
kependudukan). Sedangkan Kewarganegaraan (citizenship) menurut DerekHeater (2004)
dalam Winarno (2015:1) adalah suatu bentuk dari identitas sosial politik (a form of social
political identity) seseorang yang keberadaannya berkaitan dengan waktu yang berkembang.
Jadi kewarganegaraan adalah suatu bentuk identitas sosial politik sebagai keseimbangan
respirokal antara hak dan kewajiban yang didapat akibat kepemilikan status kependudukan
terkait dengan keberadaan dan waktu yang berkembang.

2.2. Sejarah Kewarganegaraan


Sejarah merupakan langkah awal yang telah terlewati dan berfungsi sebagai mata rantai
dalam menentukan tindakan di masa yang akan datang. Kewarganegaraan juga tidak dapat
dilepasakan dari sejarah. Sejarah kewarganegaraan bersumber dari peradaban Yunani kuno,
republik Romawi, sampai pada Modernitas Barat (Winarno, 2015:1). Satu dari sekian banyak
pemikiran Yunani Kuno yang memberi pijakan yang kuat bagi teorisasi kewarganegaraan
Modern adalah pemikiran Aristoteles (384 – 322 SM). Kemudian hal ini berkembang menjadi
civics Education atau yang sering dikenal pendidikan kewarganegaraan yang bertujuan untuk
menanamkan rasa cinta tanah air bagi setiap warga negara.

Di Indonesia, program studi (sekaligus Jurusan) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)


secara resmi diselenggarakan melalui SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No.
55 Tahun 1963, tanggal 22 Mei 1963, dengan nama program studi Civics-Hukum (CH),
sebagai bagian dari Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial (FKPS). Dalam iklim
digencarkannya semangat “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen” oleh pemerintahan Orde Baru, pada tahun 1970-an Program studi CH berganti
nama menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Terjadi perubahan nama lagi pada tahun 1980-an menjadi Pendidikan Moral Pancasila
dan Kewarganegaraan (PMPKn). Penambahan kembali kata kewarganegaraan menyiratkan
pentingnya kajian keilmuan dalam rangka penguatan warga negara. Pada tahun 1995, kata
“moral” dihilangkan dari nama Jurusan/Prodi. Nama Jurusan/Prodi berganti menjadi
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Lintasan sejarah tersebut menyiratkan mudahnya intervensi rezim dalam pendidikan


kewarganegaraan. Berpijak pada realitas tersebut, menguat hasrat untuk memperkuat keilmuan
dalam kajian kewarganegaraan pada umumnya, yang secara khusus tampak dari penamaan
Program Studi.

2
Seiring dengan perluasan mandat (wider mandate) IKIP Yogyakarta dari institut
menjadi Universitas pada tahun 1999, dibuka berbagai program non kependidikan untuk
menunjang program-program studi kependidikan. Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan
bermaksud membuka Program Studi baru, yaitu ilmu hukum. Sejak tahun 2005 nama jurusan
berganti menjadi Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum (PKnH), dengan
sementara satu Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Perubahan tersebut bersamaan dengan kegigihan masyarakat kampus (khususnya


Program Studi PKn UNY) untuk mewujudkan pendidikan kewarganegaraan dengan keilmuan
yang kokoh (established), sebagamana yang terjadi di berbagai negara yang dikenal
dengan civic education, citizenship, citizenship education, dan sebagainya. Oleh karena itu,
lahir apa yang kini disebut sebagai paradigma baru pendidikan kewarganegaraan (new
paradigm of civic education). Program Studi PKn UNY termasuk salah satu lembaga perintis
paradigma baru PKn.

2.3. Asas-asas kewarganegaraan


Seseorang dapat dinyatakan sebagai warga negara apabila memenuhi ketentuan -
ketentuan dari suatu negara. Ketentuan ini biasanya ini menjadi asas atau sebagai pedoman
untuk menentukan kewarganegaraan seseorang. Setiap negara memiliki kebebasan dan
kewenangan untuk menentukan asas kewarganegaraannya. Asas kewarganegaraan merupakan
dasar dalam berpikir menentukan masuk tidaknya seseorang dalam golongan warga negara dari
suatu negara..

Dalam penentuan kewarganegaraan ada 2 (dua) asas atau pedoman, yaitu asas
kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan.
Dalam asas kewarganegaraan yang berdasarkan kelahiran ada 2 (dua) asas kewarganegaraan
yang digunakan, yaitu ius soli (tempat kelahiran) ius sanguinis (keturunan). Sedangkan dari
asas kewarganegaraan yang berdasarkan perkawinan juga dibagi menjadi 2 (dua), yaitu asas
kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.

A. Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran


Penentuan kewarganegaraan berdasarkan kelahiran seseorang dikenal dengan dua asas
kewarganegaraan yaitu ius soli dan ius sanguinis. Kedua istilah tersebut berasal dari bahasa
Latin. Ius berarti hukum, dalil atau pedoman. Soli berasal dari kata solum yang berarti negeri,
tanah atau daerah, dan sanguinis berasal dari kata sanguis yang berarti darah. Dengan demikian
ius soli berarti pedoman kewarganegaraan yang berdasarkan tempat atau daerah kelahiran,
sedangkan ius sanguinis adalah pedoman kewarganegaraan berdasarkan darah atau keturunan
atau keibubapakan. Sebagai contoh, jika sebuah negara menganut ius soli, maka seorang yang
dilahirkan di negara tersebut mendapatkan hak sebagai warga negara. Begitu pula dengan asas
ius sanguinis, jika sebuah negara menganut ius sanguinis, maka seseorang yang lahir dari orang
tua yang memiliki kewarganegaraan suatu negara tertentu, Indonesia misalnya, maka anak
tersebut berhak mendapatkan status kewarganegaraan orang tuanya, yakni warga negara
Indonesia.

3
1. Asas Ius Sanguinis
Kewarganegaraan dari orang tua yang menurunkannya menentukan kewarganegaraan
seseorang, artinya kalau orang dilahirkan dari orang tua yang berwarganegara Indonesia, ia
dengan sendirinya juga warga negara Indonesia. Asas Ius sanguinis atau Hukum Darah (law
of the blood) atau asas genealogis (keturunan) atau asas keibubapakan, adalah asas yang
menetapkan seseorang mempunyai kewarganegaraan menurut kewarganegaraan orang tuanya,
tanpa melihat di mana ia dilahirkan. Misalkan seseorang yang lahir di Indonesia, namun orang
tuanya memiliki kewarganegaraan dari negara lain, maka ia mendapat kewarganegaraan dari
orang tuanya. Contoh negara yang menggunakan asas ini adalah negara China, Bulgaria,
Belgia, Replublik Ceko, Kroasia, Estonia, Finlandia, Jepang, Jerman, Yunani, Hongaria,
Islandia, India, Irlandia, Israel, Italia, Libanon, Filipina, Polandia, Portugal, Rumania, Rusia,
Rwanda, Serbia, Slovakia, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Turki, dan Ukraina. Asas Ius
Sanguinis mempunyai keuntungan, antara lain :

1) Akan memperkecil jumlah orang keturunan asing sebagai warga negara;


2) Tidak akan memutuskan hubungan antara negara dengan warga negara yang lahir;
3) Semakin menumbuhkan semangat nasionalisme;

2. Asas Ius Soli


Pada awalnya, asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran ini hanya satu, yakni ius
soli saja. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa karena seseorang lahir di suatu wilayah
negara, maka otomatis dan logis ia menjadi warga negara tersebut. Asas ius soli atau asas
tempat kelahiran atau hukum tempat kelahiran (law of the soil) atau asas teritorial adalah asas
yang menetapkan seseorang mempunyai kewarganegaraan menurut tempat di mana ia
dilahirkan. Jadi, seseorang dapat menjadi warga negara dimana dia dilahirkan. Contoh negara
yang menganut asas kewarganegaran ini, yaitu negara Amerika Serikat, Brazil, Argentina,
Bolivia, Kamboja, Kanada, Chili, Kolombia, Kosta Rika, Dominika, Ekuador, El Savador,
Grenada, Guatemala, Guyana, Honduras, Jamaika, Lesotho, Meksiko, Pakistan, Panama,
Paraguay, Peru, Uruguay, Venuzuela, dan lain-lain.
Tidak semua daerah tempat seseorang dilahirkan menentukan kewarganegaraan.
Misalnya, kalau orang dilahirkan di dalam daerah hukum Indonesia, ia dengan sendirinya
menjadi warga negara Indonesia. Terkecuali anggota-anggota korps diplomatik dan anggota
tentara asing yang masih dalam ikatan dinas. Di samping dan bersama-sama dengan prinsip ius
sanguinis, prinsip ius soli ini juga berlaku di Amerika, Inggris, Perancis, dan juga Indonesia.
Tetapi di Jepang, prinsip ius solis ini tidak berlaku. Karena seseorang yang tidak dapat
membuktikan bahwa orang tuanya berkebangsaan Jepang, ia tidak dapat diakui sebagai warga
negara Jepang. Untuk sementara waktu asas ius soli menguntungkan, yaitu dengan lahirnya
anak-anak dari para imigran di negara tersebut maka putuslah hubungan dengan negara asal.
Akan tetapi dengan semakin tingginya tingkat mobilitas manusia, diperlukan suatu asas lain
yang tidak hanya berpatokan pada tempat kelahiran saja. Selain itu, kebutuhan terhadap asas
lain ini juga berdasarkan realitas empirik bahwa ada orang tua yang memiliki status
kewarganegaraan yang berbeda. Hal ini akan bermasalah jika kemudian orang tua tersebut
melahirkan anak di tempat salah satu orang tuanya (misalnya di tempat ibunya). Jika tetap
menganut asas ius soli, maka si anak hanya akan mendapatkan status kewarganegaraan ibunya

4
saja, sementara ia tidak berhak atas status kewarganegaraan bapaknya. Atas dasar itulah, maka
asas ius sanguinis dimunculkan, sehingga si anak dapat memiliki status kewarga-negaraan
bapaknya. Dalam perjalanan banyak negara yang meninggalkan asas ius soli, seperti Belanda,
Belgia, dan lain-lain. Selain kedua asas tersebut, beberapa negara yang menggabungkan
keduanya misalnya Inggris dan Indonesia.

B. Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Perkawinan


Selain hukum kewarganegaraan dilihat dari sudut kelahiran, kewarganegaraan
seseorang juga dapat dilihat dari sistem perkawinan. Di dalam sistem perkawinan, terdapat dua
buah asas, yaitu asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.

1. Asas Kesatuan Hukum


Asas kesatuan hukum berdasarkan pada paradigma bahwa suami-istri ataupun ikatan
keluarga merupakan inti masyarakat yang meniscayakan suasana sejahtera, sehat dan tidak
berpecah. Dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, suami-istri ataupun ikatan
keluarga yang baik perlu mencerminkan adanya suatu kesatuan yang bulat. Untuk
merealisasikan terciptanya kesatuan dalam keluarga atau suami-istri, maka semuanya harus
tunduk pada hukum yang sama. Dengan adanya kesamaan pemahaman dan komitmen
menjalankan adanya kewarganegaraan yang sama, sehingga masing-masing tidak terdapat
perbedaan yang dapat mengganggu keutuhan dan kesejahteraan keluarga. Menurut asas
kesatuan hukum, sang istri akan mengikuti status suami baik pada waktu perkawinan
dilangsungkan maupun kemudian setelah perkawinan berjalan. Negara-negara yang masih
mengikuti asas ini antara lain: Belanda, Belgia, Perancis, Yunani, Italia, Libanon, dan lainnya.
Negara yang menganut asas ini menjamin kesejahteraan para mempelai. Hal ini akan
mempengaruhi kesejahteraan masyarakat, melalui proses hemogenitas dan asimilasi bangsa.
Proses ini akan dicapai apabila kewarganegaraan istri adalah sama dengan kewarganegaraan
suami. Lebih-lebih istri memiliki tugas memelihara anak yang dilahirkan dari perkawinan,
maka akan diragukan bahwa sang ibu akan dapat mendidik anak-anaknya menjadi warga
negara yang baik apabila kewarganegaraannya berbeda dengan sang ayah anak-anak.

2. Asas Persamaan Derajat


Dalam asas persamaan derajat, suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status
kewarganegaraan masing-masing pihak (suami atau istri). Baik suami ataupun istri tetap
berkewarganegaraan asal, atau dengan kata lain sekalipun sudah menjadi suami-istri, mereka
tetap memiliki status kewarganegaraan sendiri, sama halnya ketika mereka belum diikatkan
menjadi suami istri. Negara-negara yang menggunakan asas ini antara lain: Australia, Canada,
Denmark, Inggris, Jerman, Israel, Swedia, Myamnamar dan lainnya. Asas ini dapat
menghindari terjadinya penyelundupan hukum. Misalnya, seseorang yang
berkewarganegaraan asing ingin memperoleh status kewarganegaraan suatu negara dengan
cara atau berpura-pura melakukan pernikahan dengan perempuan di negara tersebut. Setelah
melalui perkawinan dan orang tersebut memperoleh kewarganegaraan yang diinginkannya,
maka selanjutnya ia menceraikan istrinya. Untuk menghindari penyelundupan hukum
semacam ini, banyak negara yang menggunakan asas persamaan derajat dalam peraturan
kewarganegaraannya.

5
Bagaimana dengan Indonesia? Dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia, asas-asas yang dipakai dalam kewarganegaraan
Indonesia terdiri dari asas-asas kewarganegaraan umum dan asas-asas kewarganegaraan
khusus.
A. Asas Kewarganegaraan Umum
Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2006 asas kewarganegaraan umum terdiri atas (4)
empat asas, yaitu asas kelahiran (ius soli), asas keturunan (ius sanguinis), asas
kewarganegaraan tunggal, dan asas kewarganegaraan ganda terbatas.

1) Asas ius sanguinis (law of the blood), yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan
seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
2) Asas ius soli (law of the soil), yaitu asas yang secara terbatas menentukan
kewarganegaraanseseorang berdasarkan negara tempat kelahiran yang diberlakukan
terbatas bagi anak-anaksesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU ini.
3) Asas kewarganegaraan tunggal, yaitu asas yang menentukan satu kewarganegaraan
bagi. setiap orang. Jadi, setiap warga negara hanya memiliki satu kewarganegaraan,
tidak bisa memiliki kewarganegaraan ganda atau lebih dari satu.
4) Asas kewarganegaraan ganda terbatas, yaitu asas yang menentukan
kewarganegaraanganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU
ini. Jadi, kewarganegraan ini hanya bisa dimiliki ketika masih anak-anak dan setelah
anak tersebut berumur 18 (delapan belas) tahun, maka ia harus memilih atau
menentukan salah satu kewarganegaraannya.
Jadi, sebagai seorang warga negara tidak boleh memiliki lebih dari satu kewarganegaraan
dan jika seseorang berhak mendapatkan status kewarganegaraan karena kelahiran dan
keturunan sekaligus, maka ia harus memilih salah satu diantaranya ketika ia sudah berumur 18
tahun.

2. Asas Kewarganegaraan Khusus


Asas ini terdiri atas beberapa macam asas atau pedoman kewarganegaraan, yaitu
1) Asas Kepentingan Nasional
Adalah asas yang menentukan bahwa peraturan kewarganegaraan mengutamakan
kepentingan nasional Indonesia, yang bertekad mempertahankan kedaulatannya
sebagai negara kesatuan yang memiliki cita-cita dan tujuan sendiri.
2) Asas Perlidungan Maksimum
Adalah asas yang menentukan bahwa pemerintah wajib memberikan perlindungan
penuh kepada setiap warga negara Indonesia dalam keadaan apapun, baik di dalam
maupun di luar negeri.
3) Asas Persamaan di dalam Hukum dan Pemerintahan
Adalah asas yang menentukan bahwa setiap warga negara Indonesia mendapatkan
perlakuan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan.
4) Asas Kebenaran Substantif
Adalah asas dimana prosedur kewarganegaraan seseorang tidak hanya bersifat
administratif, tetapi juga disertai substansi dan syarat-syarat permohonan yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.

6
5) Asas Non-Diskriminatif
Adalah asas yang tidak membedakan perlakuan dalam segala hal ihwal yang
berhubungan dengan warga negara atas dasar suku, ras, agama, golongan, jenis
kelamin, serta harus menjamin, melindungi, dan memuliakan HAM pada umumnya dan
hak warga negara pada khususnya.
6) Asas Pengakuan dan Penghormatan terhadap HAM
Adalah asas yang dalam segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara harus
menjamin, melindungi, dan memuliakan HAM pada umumnya, dan hak warga negara
pada khususnya.
7) Asas Keterbukaan
Adalah asas yang menetukan bahwa segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga
negara harus dilakukan secara terbuka.
8) Asas Publisitas
Adalah asas yang menentukan bahwa seseorang yang memperoleh dan atau kehilangan
kewarganegaraan RI akan diumumkan dalam berita negara RI agar masyarakat
mengetahuinya.
Jadi, pada asas kewarganegaraan khusus ini lebih membahas atau mengatur
berdasarkan hubungan timbal balik antara negara dan warga negaranya dalam hal hak dan
kewajiban diantara keduanya, seperti menjaga kedaulatan negara, menjamin hak asasi manusia,
dan sebagainya.

2.4. Masalah Kewarganegaraan

Dengan adanya perbedaan dalam menentukan kewarganegaran dibeberapa negara, baik


itu yang menerapkan asas ius soli ataupun ius sanguinis, dapat menimbulkan masalah
kewarganegaraan seorang penduduk yaitu, sebagai berikut:

A. Apatride (tidak berkewarganegaraan)

Apatride adalah tanpa kewarganegaraan, yaitu apabila seseorang tidak diakui sebagai
warga Negara dari Negara manapun menurut peraturan kewarganegaraan. Dengan keadaan
apatride ini mengakibatkan seseorang tidak akan mendapat perlindungan dari negara manapun
juga. Contoh : Seorang keturunan negara A (Ius Soli) lahir di negara B (Ius Sanguinis) Maka
orang tersebut bukan warga negara A maupun warga negara B.

B. Bipatride (berkewarganegaraan ganda)

Bipatride adalah dwi kewarganegaraan, yang timbul apabila menurut peraturan dari dua
negara terkait seorang dianggap sebagai warga negara kedua negara tersebut. Dengan demikian
mengakibatkan ketidakpastian status orang yang bersangkutan dan kerumitan administrasi
tentang kewarganegaraan tersebut.

Contoh : Seorang keturunan negara A (Ius Sanguinis) lahir di negara B (Ius Soli).
Sehingga karena ia keturunan negara A, maka dianggap warga negara A, tetapi negara B juga
menganggapnya sebagai warga negara, karena ia lahir di negara B.

7
C. Multipatride (lebih dari 2 berkewarganegaraan)

Multipatride adalah seseorang yang memiliki 2 (dua) kewarganegaraan atau lebih.


Contoh : Seorang yang bipatride juga menerima pemberian status kewarganegaraan lain ketika
dia telah dewasa, dimana saat menerima kewarganegaraan yang baru ia tidak melepaskan status
bipatride-nya.

Maka dari itu permasalah tersebut harus dihindarai dengan upaya-upaya sebagai
berikut;

1) Memberikan kepastian hukum yang jelas akan status kewarganegaraannya.


2) Menjamin hak-hak perlindungan hukum yang pasti bagi seseorang dalam kehidupan
bernegara.

Sistem yang sering digunakan untuk menentukan status kewarganegaraan adalah ;

A. Stelsel aktif

Seseorang akan menjadi warga negara suatu negara dengan melakukan tindakan-
tindakan hkum tertentu secara aktif. Dalam stelsel ini seorang wraga negara memiliki hak opsi,
yaitu hak untuk memilih suatu kewarganegaraan.

B. Stelsel pasif

Seseorang dengan sendirinya menjadi warga negara tanpa harus melakukan tindakan-
tindakan hukum tertentu. Dalam stelsel ini seorang warga negara memiliki hak repudiasi, yaitu
hak untuk menolak suatu kewarganegaraan.

Penyelesaian masalah kewarganegaraan menurut salah satu keputusan KMB


dipergunakan stelsel aktif dengan hak opsi untuk penduduk Indonesia keturunan Eropa. Dan
stelsel pasif dengan hak repudiasi untuk keturunan Timur Asing.

2.5. Masalah kewarganegaraan di Indonesia

Adapun masalah-dalam kewarganegaraan di Indonesia antara lain :

A. Perkawinan Campuran

Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam


Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 : ”yang dimaksud dengan
perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah
satu pihak berkewarganegaraan Indonesia”.

8
Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan
campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing, mengacu pada UU
Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak sanggup
lagi mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran, terutama
perlindungan untuk istri dan anak.

Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan
hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai
persoalan pendahuluan, apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki
hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap
sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya.

Barulah pada 11 Juli 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan


yang baru yang memperbolehkan dwi kewarganegaraan untuk memberikan pencerahan baru
dalam mengatasi persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran.

Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah masalah
kewarganegaraan anak.UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip kewarganegaraan
tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki satu
kewarganegaraan, yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang harus diikuti adalah
kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan persoalan apabila di kemudian hari
perkawinan orang tua pecah, tentu ibu akan kesulitan mendapat pengasuhan anaknya yang
warga negara asing.

Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, sangat menarik untuk dikaji


bagaimana pengaruh lahirnya UU ini terhadap status hukum anak dari perkawinan campuran.
Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah
:“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan”.

Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum
sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam
kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan
dilahirkan dalam keadaan hidup.Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak
dan kewajiban dalam lalu lintas hukum.Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak
dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk
melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain.

Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap
melakukan perbuatan hukum.Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh
orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum.Anak yang lahir dari perkawinan
campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang
berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU
Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun

9
berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan.
Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk
pada dua yurisdiksi hukum.

B. Kewarganegaraan Ganda

Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga
memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada
asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya.
Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak
ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan
yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana.
Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum pada ketentuan
negara yang lain.

Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat
syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi.Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun
hendak menikah maka harus memuhi kedua syarat tersebut.Syarat materil harus mengikuti
hukum Indonesia sedangkan syarat formil mengikuti hukum tempat perkawinan
dilangsungkan.Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah
garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8
UU No. 1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang
lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya.

Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, dikenal dengan adanya asas


kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewaraganegaraan berdasarkan
perkawinan.Dalam penentuan kewarganegaraan didasarkan kepada sisi kelahiran dikenal dua
asas yaitu asas ius soli dan ius sanguinis.Ius artinya hukum atau dalil.Soli berasal dari kata
solum yang artinya negari atau tanah.Sanguinis berasal dari kata sanguis yang artinya
darah.Asas Ius Soli; Asas yang menyatakan bahawa kewarganegaraan seseorang ditentukan
dari tempat dimana orang tersebut dilahirkan.Asas Ius Sanguinis; Asas yang menyatakan
bahwa kewarganegaraan sesorang ditentukan beradasarkan keturunan dari orang tersebut.

Selain dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek
perkawinan yang mencakupa asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.Asas persamaan
hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah suatu ikatan yang tidak terpecahkan
sebagai inti dari masyarakat.Dalam menyelenggarakan kehidupan bersama, suami istri perlu
mencerminkan suatu kesatuan yang bulat termasuk dalam masalah kewarganegaraan.
Berdasarkan asas ini diusahakan ststus kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan satu.

Penentuan kewarganegaraan yang berbeda-beda oleh setiap negara dapat menciptakan


problem kewarganegaraan bagi seorang warga.Secara ringkas problem kewarganegaraan
adalah munculnya apatride dan bipatride.Appatride adalah istilah untuk orang-orang yang tidak
memiliki kewarganegaraan.Bipatride adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki

10
kewarganegaraan ganda (rangkap dua).Bahkan dapat muncul multipatride yaitu istilah untuk
orang-orang yang memiliki kewarganegaraan yang banyak (lebih dari 2).

C. Hilangnya Kewarganegaraan Indonesia

Hilangnya Kewarganegaraan Indonesia diantaranya; memperoleh kewarganegaraan


lain atas kemauannya sendiri, tidak menolak atau melepaskan kewarganegaraan lain,
sedangkan orang yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu, dinyatakan hilang
kewarganegaraan oleh Presiden atas permohonannya sendiri, yang bersangkutan sudah berusia
18 tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal di luar negeri dan dengan dinyatakan hilang
kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan, masuk dalam
dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden, secara sukarela masuk dalam dinas
negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undngan hanya dapat dijabat oleh warga negara Indonesia, secara
sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari
negara asing tersebut, tidak diwajibkan tapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yangbersifat
ketatanegaraan untuk suatu negara asing, mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor
dari negara asing atau surat yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih
berlaku dari negara lain atas namanya, bertempat tinggal diluar wilayah negara republic
Indonesia selama 5 (lima tahun berturut-turut bukan dalam rangaka dinas negara, tanpa alas an
yang sah dan dengan sngaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga
Negara Indonedia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir dan setiap 5 (lima) tahun
berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernytaaan ingin tetap menjadi warga Negara
Indonesia kepada perwakilan RI yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang
bersangkutan padahal perwakilan RI tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada
yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

2.6. Pendidikan Kewarganegaraan


2.6.1. Pengertian Pendidikan Kewarganegaaan

Seperti yang kita ketahui, setiap suatu bangsa mempunyai sejarah perjuangan dari para
orang-orang terdahulu yang dinama terdapat banyak nilai-nilai nasionalis, patriolis dan lain
sebagainya yang pada saat itu menempel erat pada setiap jiwa warga negaranya. Seiring
perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang makin pesat, nilai-nilai tersebut makin
lama makin hilang dari diri seseorang di dalam suatu bangsa, oleh karena itu perlu adanya
pembelajaran untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut agar terus menyatu dalam setiap
warga negara agar setip warga negara tahu hak dan kewajiban dalam menjalankan kehidupan
berbangasa dan bernegara.

Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang mengingatkan kita akan


pentingnya nilai-nilai hak dan kewajinan suatu warga negara agar setiap hal yang di kerjakan
sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa dan tidak melenceng dari apa yang di harapkan.
Karena di nilai penting, pendidikan ini sudah di terapkan sejak usia dini di setiap jejang
pendidikan mulai dari yang paling dini hingga pada perguruan tinggi agar menghasikan

11
penerus –penerus bangsa yang berompeten dan siap menjalankan hidup berbangsa dan
bernegara.

- Tim ICCE UIN Jakarta: “Pendidikan kewarganegaraan adalah suatu proses yang
dilakukan oleh lembaga pendidikan di mana seseorang mempelajari orientasi, sikap dan
perilaku politik sehingga yang bersangkutan memiliki political knowledge, awareness,
attitude, political efficacy dan political participation serta kemampuan mengambil
keputusan politik secara rasional.
- Civitas Internasional: “Civic Education adalah pendidikan yang mencakup pemahaman
dasar tentang cara kerja demokrasi dan lembaga-lembaganya, pemahaman tentang rule
of law, HAM, penguatan ketrampilan partisipatif yang demokratis, pengembangan
budaya demokratis dan perdamaian.”

Jadi pendidikan kewarganegaraan (civic education) adalah program:

1. Memuat bahasan tentang: a. Masalah kebangsaan. b. Masalah kewarganegaraan.


2. Dalam hubungannya dengan: a. Negara b. Demokrasi c. HAM d. Masyarakat madani
3. Dalam implementasinya menerapkan prinsip-prinsip pendidikan demokratis dan
humanis.

2.6.2. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

Tujuan utama pendidikan kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan


kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang cinta tanah air dan bersendikan kebudayaan
bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam diri para calon-calon penerus
bangsa yang sedang dan mengkaji dan akan menguasai imu pengetahuaan dan teknologi serta
seni.

Selain itu juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia yang berbudi
luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, profesional, bertanggung jawab, dan produktif
serta sehat jasmani dan rohani.

Pendidikan kewarganegaraan yang berhasil akan membuahkan sikap mental yang cerdas,
penuh rasa tanggung jawab dari peserta didik. Sikap ini disertai perilaku yang:

1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa serta menghayati nilai-nilai
falsafah bangsa.
2. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam masnyarakat berbangsa dan bernegara.
3. Rasional, dinamis, dan sabar akan hak dan kewajiban warga negara.
4. Bersifat profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara.
5. Aktif memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk kepentingan
kemanusiaan, bangsa dan negara.

Melalui pendidikan Kewarganegaraan , warga negara Republik indonesia diharapkan


mampu “memahami”, menganalisa, dan menjawab masalah-masalah yang di hadapi oleh

12
masyarakat , bangsa dan negaranya secra konsisten dan berkesinambungan dalam cita-cita dan
tujuan nasional seperti yang di gariskan dalam pembukaan UUD 1945.

2.7. Negara dan Warganegara Indonesia


Pada waktu sebelum terbentuknya Negara, setiap individu mempunyai kebebasan
penuh utnuk melaksanakan keinginannya. Dalam keadaan dimana manusia di dunia masih
sedikit hal ini isa berlangsung tetapi dengan makin banyaknya manusia berarti akan semakin
sering terjadi persinggungan dan bentrokan antara individu satu dengan lainnya..
Akibatnya seperti kata Thomas Hobbes (1642) manusia seperti serigala terhadap
manusia lainnya (homo hominilopus) berlaku hokum rimba yaitu adanya penindasan yang kuat
terhadap yang lemah masing-masing merasa ketakutan dan merasa tidak aman di dalam
kehidupannya. Pada saat itulah manusia merasakan perlunya ada suatu
kekuasaan yang mengatur kehidupan individu-individu pada suatu Negara.
Masalah warganegara dan negara perlu dikaji lebih jauh, mengingat demokrasi yang
ingin ditegakkan adalah demokrasi berdasarkan Pancasila. Aspek yang terkandugn dalam
demokrasi Pancasila antara lain ialah adanya kaidah yang mengikat Negara dan warganegara
dalam bertindak dan menyelenggarakan hak dan kewajiban serta wewenangnya. Secara
material ialah mengakui harkat dan marabat manusia sebagai mahluk Tuhan, yang
menghendaki pemerintahan untuk membahagiakannya, dan memanusiakan waganegara dalam
masyarakat Negara dan masyarakat bangsa-bangsa.

Pengertian Negara dan Warga Negara


1. Negara
Negara merupakan alat (agency) atau wewenang (authory) yang mengatur atau mengendalikan
persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.
Menurut (Rober mac Iver) Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban
didalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan system hukum yang
diselenggarakan oleh suatu pemerintahan, dimana untuk maksud tersebut, diberikan kekuasaan
memaksa
Oleh karena itu Negara mempunyai dua tugas yaitu :
1. Mengatur dan mengendalikan gejala-gejala kekuasaan yang asosial, artinya yang
bertentangan satu sama lain supaya tidak menjadi antagonisme yang membahayakan
2. Mengorganisasi dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongan-golongan kearah
tercapainya tujuan-tujuan dari masyarakat seluruhnya atau tujuan sosial.
Pengendalian ini dilakukan berdasarkan hukum dan dengan peraturan pemerintah
beserta lembaga-lembaganya. Hukum yang mengatur kehidupan masyarakat dan nyata berlaku
dalam masyarakat disebut hukum positif. Istilah “hukum positif” dimaksudkan untuk menandai
diferensiasi, dan hukum terhadap kaidah-kaidah lain dalam masyarakat tampil lebih jelas,
tegas, dan didukung oleh perlengkapan yang cukup agar diikuti anggota masyarakat

2. Warganegara
Pasal 26 ayat (1) mengatur siapa saja yang termasuk warga negara Republik Indonesia.
Pasal ini dengan tegas menyatakan bahwa yang menjadi warga negara adalah orang-orang
bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain, misalnya peranakan Belanda, peranakan
Tionghoa, peranakan Arab yang bertempat tinggal di Indonesia, mengakui Indonesia sebagai
tanah airnya, bersikap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan disahkan oleh

13
undang-undang sebagai warga negara. Syarat-syarat menjadi warga negara juga ditetapkan
oleh undang-undang.
Warga Negara adalah penduduk sebuah Negara atau bangsa yang berdasarkan keturunan,
tempat kelahiran, dan sebagainya mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai seorang warga
dari Negara itu.
Lebih jelasnya lagi bahwa Warga Negara yaitu orang-orang sebagai bagian dari suatu
penduduk yang menjadi unsure negara,yang mempunyai hubungan yang tidak terputus dengan
tanah airnya, dengan UUD negaranya, sekalipun yang bersangkutan berada diluar negeri,
selama yang bersangkutan tidak memutuskan hubungannya atau terikat oleh ketentuan hukum
internasional.
 Asas Hukum (Penentuan) Kewarganegaraan
Warga Negara merupakan salah satu hal yang bersifat prinsipal dalam kehidupan
bernegara. Tidaklah mungkin suatu Negara dapat berdiri tanpa adanya warga Negara.
Setiap Negara mempunyai hak untuk menentukan siapa saja yang dapat menjadi warga
negaranya, dalam hal ini setiap Negara berdaulat, hampir tidak ada pembatasan. Namun
demikian, suatu Negara harus tetap menghormati prinsip-prinsip umum hukum
internasional. Atas dasar inilah diperlukan adanya pengaturan mengenai
kewarganegaraan.
Dalam pengaturan mengenai kewarganegaraan itu terdapat beberapa asas-asas yang
mendasari hukum kewarganegaraan sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang
no 12 tahun 2006. Asas kewarganegaraan itu merupakan perdoman dasar bagi suatu
Negara untuk menentukan siapakah yang menjadi warga negaranya. Asas
kewarganegaraan dapat dilihat dari dua segi yaitu dari segi kelahiran dan
Pewarganegaraan (Naturalisasi). Dari segi kelahiran terbagi lagi menjadi dua asas
yaitu ius soli dan ius sanguinis,
 Unsur Darah Keturunan (ius sanguinis, law of the blood) Kewarganegaraan dari
orang tua yang menurunkannya menentukan kewarganegaraan seseorang,
betapapun ia dilahirkan di luar negaranya.
 Unsur Daerah Tempat Kelahiran (ius soli, law of the soil) Kewarganegaraan
seseorang ditentukan dimana ia dilahirkan. Misalnya seseorang yang berasal dari
negara Indonesia melahirkan anaknya di negara yang menerapkan system ius soli,
maka sekalipun ia anak dari kedua orang tua yang berkewarganegaraan Indonesia
tetapi anak tersebut tetap diakui sebagai warganegara dari negara dimana ia
dilahirkan.
 Unsur Pewarganegaraan (naturalisasi) Seseorang berkewarganegaraan asing dapat
mengajukan permohonan untuk menjadi warganegara dari suatu negara tertentu
setelah dapat melengkapi beberapa syarat tertentu. Adapun aturan yang
berhubungan dengan syarat-syarat dan prosedur yang harus dipenuhi oleh
seseorang yang mengajukan naturalisasi antara satu negara dengan negara lainnya
tidaklah sama.
 Kehilangan Kewarganegaraan Indonesia

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 2007:

Pasal 31

14
1. Warga Negara Indonesia dengan sendirinya kehilangan kewarganegaraannya karena:
 Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri;
 Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang
yang bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu;
 Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden;
 Secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam
itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat
dijabat oleh Warga Negara Indonesia;
 Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara
asing atau bagian dari negara asing tersebut;
 Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat
ketatanegaraan untuk suatu negara asing;
 Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang
dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain
atas namanya; atau
 Bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selarna 5 (lima) tahun
terus menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan
sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara
Indonesia sebelum jangka waktu 5 (lima) tahun itu berakhir, dan setiap 5 (lima)
tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin tetap
menjadi Warga Negara Indonesia kepada Perwakilan Republik Indonesia yang
wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal Perwakilan
Republik Indonesia tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang
bersangkutan, sepanjang yang bersangkutan tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.
2. Warga Negara Indonesia dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas
permohonannya sendiri apabila yang bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas)
tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal di luar negeri, dan dengan dinyatakan hilang
Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa kewarganegaraan.

2.8. Hubungan Warga Negara dengan Negara


Hubungan antara negara dan warga negara identik dengan adanya hak dan kewajiban,
antara warga negara dengan negaranya ataupun sebaliknya. Negara memiliki kewajiban untuk
memberikan keamanan, kesejahteraan, perlindungan terhadap warga negaranya serta memiliki
hak untuk dipatuhi dan dihormati. Sebaliknya warga negara wajib membela negara dan berhak
mendapatkan perlindungan dari negara.
Dalam deretan pasal-pasal beserta ayat-ayatnya, UUD 1945 secara jelas mencantumkan
hak serta kewajiban negara atas rakyatnya yang secara jelas juga harus. Melalui tangan
Legislatif suara rakyat tersampaikan, melalui tangan eksekutif kewajiban negara, hak rakyat
dipenuhi, dan di tangan yudikatif aturan-aturan pelaksanaan hak dan kewajiban di jelaskan.

15
a. Hak dan Kewajiban Warganegara

Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia tercantum dalam pasal 27 sampai dengan pasal
34 UUD 1945.

 Hak Warga Negara Indonesia

1. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak : “Tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” (pasal 27 ayat 2).
2. Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan: “setiap orang berhak untuk hidup
serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”(pasal 28A).
3. Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah (pasal 28B ayat 1).
4. Hak atas kelangsungan hidup. “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh,
dan Berkembang”.
5. Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan
berhak mendapat pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi
meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan hidup manusia. (pasal 28C ayat1)
6. Hak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya. (pasal 28C ayat 2).
7. Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di depan hukum.(pasal 28D ayat 1).
8. Hak untuk mempunyai hak milik pribadi Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa,
hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak,
hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas
dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apapun. (pasal 28 ayat 1).
 Kewajiban Warganegara
1. Wajib menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 berbunyi:
segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
2. Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945
menyatakan : “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara”.
3. Wajib menghormati hak asasi manusia orang lain. Pasal 28J ayat 1 mengatakan:
“Setiap orang wajib menghormati hak asai manusia orang lain”
4. Wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 28J
ayat 2 menyatakan : “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib
tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud
untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan

16
untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai
agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.”
5. Wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 30 ayat (1)
UUD 1945. menyatakan: “tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam
usaha pertahanan dan keamanan negara

17
BAB 3 PENUTUP

Kesimpulan

 Didalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 26 ayat 1 tentang Warga Negara dan
Penduduk, “Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
orang – orang bangsa lain yang disahkan dengan undang – undang sebagai warga
negara”.
 Kewarganegaraan adalah suatu bentuk identitas sosial politik sebagai keseimbangan
respirokal antara hak dan kewajiban yang didapat akibat kepemilikan status
kependudukan terkait dengan keberadaan dan waktu yang berkembang.
 Sejarah kewarganegaraan bersumber dari peradaban Yunani kuno, republik Romawi,
sampai pada Modernitas Barat (Winarno, 2015:1). Satu dari sekian banyak pemikiran
Yunani Kuno yang memberi pijakan yang kuat bagi teorisasi kewarganegaraan Modern
adalah pemikiran Aristoteles (384 – 322 SM). Kemudian hal ini berkembang menjadi
civics Education atau yang sering dikenal pendidikan kewarganegaraan yang bertujuan
untuk menanamkan rasa cinta tanah air bagi setiap warga negara.
 Di Indonesia, program studi (sekaligus Jurusan) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
secara resmi diselenggarakan melalui SK Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu
Pengetahuan No. 55 Tahun 1963, tanggal 22 Mei 1963, dengan nama program studi
Civics-Hukum (CH), sebagai bagian dari Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial
(FKPS)
 Dalam penentuan kewarganegaraan ada 2 (dua) asas atau pedoman, yaitu asas
kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewarganegaraan berdasarkan
perkawinan. Dalam asas kewarganegaraan yang berdasarkan kelahiran ada 2 (dua) asas
kewarganegaraan yang digunakan, yaitu ius soli (tempat kelahiran) ius sanguinis
(keturunan). Sedangkan dari asas kewarganegaraan yang berdasarkan perkawinan juga
dibagi menjadi 2 (dua), yaitu asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.
 Dalam Undang-undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia, asas-asas yang dipakai dalam kewarganegaraan Indonesia terdiri dari asas-
asas kewarganegaraan umum dan asas-asas kewarganegaraan khusus.
 Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2006 asas kewarganegaraan umum terdiri atas (4)
empat asas, yaitu asas kelahiran (ius soli), asas keturunan (ius sanguinis), asas
kewarganegaraan tunggal, dan asas kewarganegaraan ganda terbatas.
 Asas kewarganegaraan khusus terdiri atas beberapa macam asas atau pedoman
kewarganegaraan, yaitu : Asas Kepentingan Nasional, Asas Perlidungan Maksimum,
Asas Persamaan di dalam Hukum dan Pemerintahan, Asas Kebenaran Substantif, Asas
Non-Diskriminatif, Asas Pengakuan dan Penghormatan terhadap HAM, Asas
Keterbukaan dan Asas Publisitas
 Dengan adanya perbedaan dalam menentukan kewarganegaran dibeberapa negara, baik
itu yang menerapkan asas ius soli ataupun ius sanguinis, dapat menimbulkan masalah
kewarganegaraan seorang penduduk yaitu, Apatride (tidak berkewarganegaraan),

18
Bipatride (berkewarganegaraan ganda) danMultipatride (lebih dari 2
berkewarganegaraan)
 Masalah kewarganegaraan di Indonesia terdiri dari Perkawinan Campuran,
Kewarganegaraan Ganda dan Hilangnya Kewarganegaraan Indonesia
 Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang mengingatkan kita akan
pentingnya nilai-nilai hak dan kewajinan suatu warga negara agar setiap hal yang di
kerjakan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa dan tidak melenceng dari apa yang
di harapkan.
 Tujuan utama pendidikan kewarganegaraan adalah untuk menumbuhkan wawasan dan
kesadaran bernegara, sikap serta perilaku yang cinta tanah air dan bersendikan
kebudayaan bangsa, wawasan nusantara, serta ketahanan nasional dalam diri para
calon-calon penerus bangsa yang sedang dan mengkaji dan akan menguasai imu
pengetahuaan dan teknologi serta seni.
 Negara merupakan alat (agency) atau wewenang (authory) yang mengatur atau
mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.
 Warga Negara adalah penduduk sebuah Negara atau bangsa yang berdasarkan
keturunan, tempat kelahiran, dan sebagainya mempunyai kewajiban dan hak penuh
sebagai seorang warga dari Negara itu.
 Hubungan antara negara dan warga negara identik dengan adanya hak dan kewajiban,
antara warga negara dengan negaranya ataupun sebaliknya. Negara memiliki kewajiban
untuk memberikan keamanan, kesejahteraan, perlindungan terhadap warga negaranya
serta memiliki hak untuk dipatuhi dan dihormati. Sebaliknya warga negara wajib
membela negara dan berhak mendapatkan perlindungan dari negara.

19
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. http://hitamandbiru.blogspot.com/2012/07/hubungan-warga-negara-dengan-
negara.html#ixzz4YlqWblTT. (diakses pada Kamis 16 Februari 2016 Pukul 01.00)
Anonim. 2007. Kehilangan Kewarganegaraan Indonesia. http://
Kehilangan%20Kewarganegaraan%20Indonesia%20_%20Embassy%20of%20Indone
sia%20_%20Washington%20D.C..html. (diakses Pada Kamis 16 Februari 2017 pukul
01.00)
Arif, Dikdik Baehaqi. 2012. Diktat Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraaan (Civic
Education). Universitas Ahmad Dahlan : Yogyakarta
Faiz, Pan Muhammad. 2006. Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campuran.
http://jurnalhukum.blogspot.co.id/2006/09/status-hukum-anak-hasil-perkawinan.html.
(diakses pada Kamis 16 Februari 01.00)
Ferraristalia,Ilham. 2014. Masalah Kewarganegaraan.
https://www.google.com/amp/s/ilhamsyahferraristalia.wordpress.com [tersedia :
online] Diakses 13 Februari 2017.
Kaelan, Ahmad zubaidi.2010,Pendidikan kewarganegaraan, Yogyakarta: Paradigma
Labut, Hipatios Wirawan. 2014. Hubungan Negara dan Negaranya. http://
Hubungan%20Negara%20dan%20Warga%20negaranya%20«%20Runtuhan%20Otak
.html. (diakses pada Kamis 16 februari 2016 pukul 01.00)
Mahyudin. Aliya. Status hukum kewarganegaraan anak dalam kelahiran campuran. Jurnal
dipublikasikan. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah. Jember
Meinarno, Eko A dkk. 2016. Jurnal Ilmiah Pendidian Pancasila dan
Kewarganegaraaan:Pembuktian Kekuatan Hubungan Antara Nilai-nilai Pancasila
dengan Kewarganegaraan. Jakarta: Universitas Indonesia.
Syahfitri, Atthiyyah Riri. 2012. Cara Memperoleh Kewarganegaraan. http://
Arisya%20Riri_%20Cara%20Memperoleh%20Kewarganegaraan%20dan%20Undang
-%20Undang%20yang%20Mengatur.html (diakses pada Kamis 16 Februari 2016
Pukul 01.00)
Ubaedillah,A,dkk.2003. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta:
Prenada Media.
Ubay. 2016. Pengertian Asas Kewarganegaraan Secara Umum Beserta Contohnya.
http://www.seputarpendidikan.com/2016/04/pengertian-asas-kewarganegaraan-
secara-umum-beserta-contonya.html [tersedia : online] Diakses 13 Februari 2017.
Undang – Undang Dasar 1945
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sekretariat Jendral MPR-RI.
Jakarta
Undang-undang Republik Indonesia No 12 tahun 2016 tentang kewarganegaraan Republik
Indonesia

20
Wiherun. 2011. Makalah tentang Hubungan Warga Indonesia dengan Negara Indonesia. http://
Makalah%20Tentang%20Hubungan%20Warga%20Indonesia%20dengan%20Negara
%20Indonesia%20_%20WIHERUN%20_BLOGGER%20LIVE%20SHOW_.html.
(diakses Pada Kamis 16 Februari Pukul 01.00)
Winarno. 2015. Jurnal HUMANIKA Vol. 21, No.1 : Pemikiran Aristoteles tentang
Kewarganegaraan dan Konstitusi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret

21